Kamis, 01 Oktober 2015

Gowes Mengejar Sunrise di Pantai Samas


Hallo sob, bagaimana nieh kabarnya? semoga baik - baik saja yaw. Sebelumnya Ane mau mengucapkan selamat hari raya Idul Adha bagi yang merayakannya. Masih ada kan sisa - sisa daging kurban sobat? kalau masih ada dan butuh bantuan untuk menghabiskannya, sini Ane bersedia, hehe. Selain masak - masak daging kurban pada hari raya bersama teman, pacar, kerabat atau keluarga,

Te sate, gimana sudah professional kan tukang satenya???
apa yang dilakukan oleh sobat - sobat semua? travelling, touring, mountaineering, atau hanya mendekam di rumah saja? di rumah saja gak masalah yang penting sobat - sobat semua tetap bahagia. Nah Ane pada hari raya Idul Adha kemarin berpergian bersama adik kandung Ane sebut saja inisialnya Merna. Kita berangkat dari rumah bude di Kecamatan Kretek. Kukuruyuk kok, kukuruyuk kok, kukuruyuk kok", suara ayam berkokok saling bersahutan. Ane yang sedang tidur tiba - tiba harus terbangun lantaran Adik Ane yang sudah bangun terlebih dahulu membangunkan Ane. Ane lihat sebuah jam yang terpasang tepat di atas pintu dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Tanpa babibu lagi walaupun masih tetap ingin melanjutkan mimpi, kita langsung bersiap - siap dan kemudian meluncur ke lokasi. Adik Ane menggunakan sepeda kakak sepupu, sedangkan Ane sendiri yang rencananya mau lari namun tidak jadi karena bude Ane menyarankan untuk pinjam saja sepeda milik tetangga Ane Toni. Akhirnya Ane memilih menggunakan sepeda saja daripada harus berlari. Yaw lumayan juga seandainya jadi lari karena jarak yang harus Ane tempuh kurang lebih sejauh 5 km. Nah kalau pp, yaw berarti 10 km donk. Nggak mau sombong sob, sebenarnya kuat tapi kalau bisa dipermudah kenapa harus milih yang susah, yaw nggak? alah ngeles.
Keluar dari rumah kita menyusuri Jl. Samas yang belum terlalu ramai. Jl. Samas ini terletak di sebelah barat Jl. Parangtritis dan menjadi jalan yang sangat penting bagi masyarakat Kecamatan Sanden karena menguhungkan antara Kota Yogyakarta dan Kota Bantul dengan Kecamatan Sanden.


Tak lama kemudian berjumpalah kita pada sebuah gapura perbatasan antara Kecamatan Kretek dengan Kecamatan Sanden. Bila kita datang dari Kota Yogyakarta maka rute yang harus kita lalui yaitu dari perempatan pojok beteng kulon Kota Jogja, bergerak menuju ke arah selatan sampai menemukan sebuah gapura selamat datang Bantul Projotamansari. Lurus terus ke arah selatan hingga menemukan gapura perbatasan antara Kecamatan Kretek dengan Kecamatan Sanden ini.


Cukup mudah memang jalan yang kita lalui, selain itu jalannya pun terbilang mulus. Sepeda pun kita ayuh terus menuju ke arah selatan. Perjalanan keberangkatan inipun terbilang enak dan mudah karena cenderung turun. Berarti ini pertanda kalau kepulangan kita nanti justru memerlukan tenaga yang ekstra. Beberapa percabangan jalan pun kita temui, mulai dari pertigaan hingga perempatan. Percabangan pertama yang kita temui adalah pertigaan SMPN 2 Sanden, kemudian Perempatan Jembatan Merah (biasa warga sekitar menyebutnya dengan sebutan Kreteg Abang).

Pertigaan SMPN 2 Sanden
Perempatan Kreteg Abang
Namun kita tak menghiraukannya. Kita tetap saja lurus ke arah selatan hingga menjumpai TPR (Tempat Penarikan Retribusi). Ntah masih pagi atau memang hari libur ketika itu karena tak satupun petugas yang berjaga di TPR. Biasanya terdapat seorang petugas yang berjaga disini dan untuk memasukinya setiap pengunjung dikenakan tarif sebesar Rp. 2.750. Kok Ane tahu? yap karena pada bulan Juni 2014 kemarin Ane bersama dengan bibi kesini dan kebetulan pada waktu itu ada yang jaga dan sebesar itulah tiket masuk yang harus kita bayar. Asyik, dapat gratisan.


Dari TPR, pantai yang kita tuju sudah tak lama lagi yakni kurang lebih 800 meter lagi. Di tengah perjalanan kita menjumpai dua buah pertigaan, yakni sebelum dan sesudah jembatan pantai samas.

Pertigaan jalan sebelum Jembatan namun belum jadi
Setelah jembatan terdapat pertigaan jalan yang sudah jadi
Pertigaan sebelum jembatan merupakan jalan yang lagi proses pembuatan jalan lintas selatan pulau jawa. Sedangkan jalan setelah jembatan merupakan jalan lintas selatan yang sudah jadi namun baru sebatas sampai di Pantai Pandansimo. Tak heran bila jalan ini belum seramai jalan lintas Pantura.
Nah, untuk menuju Pantai Samas setelah jembatan tersebut beloklah kita ke arah kiri. Di samping kiri dan kanan terdapat beberapa tambak yang memang digunakan untuk pembudidayaan ikan.


Di sekitar pantai banyak terdapat tempat penitipan kendaraan bermotor. Sehubungan kita mengendarai sepeda maka kita tidak menitipkannya melainkan langsung membawanya ke tepi pantai. Kenapa harus di titipkan? la wong sepeda nggak menimbulkan polusi kok. Pantai yang sepi namun terbilang cukup bersih, itulah mungkin kata yang pas buat menggambarkan kondisi pantai saat ini. Bagaimana tidak ketika kita sampai di sini, tak seorangpun pengunjung yang datang kemari. Walaupun lambat laun ada juga pengunjung yang datang. Pantai Samas ini terletak kurang lebih 30 Km sebelah selatan Kota Yogyakarta, tepatnya di Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, DIY. Hari ini memang hari yang baik buat kita untuk menikmati Pantai Samas karena sang surya nampak malu - malu menampakkan pesonanya di ufuk timur. Wow indahnya!!!



Hamparan Pasir berwarna hitam di sepanjang tepi pantai dan luasnya laguna di sebelah timur menambah nilai tersendiri bagi pantai samas. Di Pantai Samas kita tidak mandi, karena memang tidak diperbolehkan untuk mandi di sini karena ombak yang ada di Pantai ini terbilang cukup besar dan ganas yang sudah menjadi khas dari karakter samudera hindia. Walaupun tidak mandi di laut, kita dapat menyaksikan warna - warni kapal laut milik para nelayan yang bersandar di tepi pantai. Nampaknya ganasnya ombak samudera hindia tak menghalangi para nelayan untuk tetap mencari ikan tangkapannya. Semangkat pak nelayan.


Nyeberang nggak yaw? kan lumayan kalau bisa selamat sampai Australia
Selain para nelayan mencari ikan di laut, nampaknya warga juga ada yang mencari ikan di sebuah laguna yaitu dengan cara memasang jaring. Inilah foto seorang warga yang sedang mengangkat jaringnya di laguna.


Ada cerita lucu sob di sini, ada seekor anjing berwarna hitam yang mengundang gelak tawa kita. Anjing tersebut tiba - tiba muncul dari arah timur dan lewat di depan kita nyelonong saja tanpa dosa. Nah setelah melewati kita tiba - tiba anjing itu berhenti. Kita fikir anjing itu mau mendekati kita tetapi hal itu tidak terjadi. Kalau jadi mendekati kita, tentu kita mengeluarkan langkah seribu, hehehe. Balik lagi ke anjing, entah apa yang ia fikirkan, nampaknya anjing tersebut kelihatan bingung mencari teman - temannya. Cukup lama juga anjing tersebut berhenti di situ. Nieh lo anjingnya!!!

Mana lagi teman - temanku, tadi disini kok sekarang udah nggak ada
Makanya njing jangan sok - sokan pisah dari teman - teman elu. Akhirnya bingung sendiri kan elu. Mungkin karena malu atau memang sudah menemukan teman - temannya, akhirnya anjing tersebut bergerak ke arah barat.
Bagi sobat yang datang kesini jangan takut akan kelaparan maupun kehausan, hanya perlu siapkan saja uang secukupnya karena di dekat pantai ini banyak para pedagang yang sedang menjajakan barang dagangannya.
Cerita ini Ane alami dengan menggunakan kendaraan pribadi yaitu sepeda dan rute yang Ane jelaskan di atas juga berlaku bagi yang menaiki kendaraan pribadi. Lalu bagaimana jika menggunakan kendaraan umum? berikut Ane akan mencoba menjelaskannya.
Bila sobat ingin berkunjung ke Pantai Samas saja dan menggunakan kendaraan umum, naiklah Bus yang berkode N. Bilang saja turun di Pantai Samas karena bus tersebut memang berhenti terakhir di Pantai Samas. Sobat bisa mulai naik dari Terminal Giwangan, Perempatan Pojok Beteng wetan atau kulon, ataupun dari Perempatan Dongkelan yang berada di Jalan Ringroad Selatan.
Bila sobat ingin berkunjung Pantai Samas dan sekitarnya, Ane saranin menyewa mobil atau motor dari Kota Yogyakarta. Waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama kok, hanya sekitar 1 jam. Pantai - pantai di sekitar Pantai Samas yakni Pantai Pandansari yang terkenal akan mercusuar dan buah naganya, Pantai Goa Cemara yang terkenal akan pohon - pohon cemaranya yang banyak, Pantai Baru yang masih fresh dan di situ banyak kincir anginnya loh, dan Pantai Pandansimo. Pantai - pantai tersebut bisa dijelajahi dalam satu waktu karena berada dalam garis pantai yang sama. Masalah jalan jangan khawatir karena calon jalan lintas selatan pulau jawa sudah jadi, di jamin sobat tergoda untuk tidur di tengah jalan, hehe.
Lalu bagaimana bila sobat datang dari arah Pantai Parangtritis? Nah begini arahannya: Keluar dari TPR Pantai Parangtritis sobat lurus saja ke arah utara seperti kalau mau pulang ke Kota Jogja - Melewati Jembatan kali opak yang sangat panjang - Terus hingga menemukan sebuah pertigaan yang mana ditandai dengan adanya sebuah pasar yang bernama Pasar Ngangkruk. Dari sini, beloklah ke arah barat/kiri kurang lebih 500 meter hingga menemukan sebuah pertigaan lagi yang di tandai dengan adanya lapangan sepak bola yang berada di sisi sebelah kanan jalan - Kemudian beloklah ke arah kiri - Ikuti jalan tersebut hingga menemukan perempatan Kreteg Abang. Setelah itu beloklah ke arah kiri lurus terus hingga menemukan sebuah TPR Pantai Samas. Dari sini sobat bisa bertanya - tanya pada petugas atau penduduk sekitar karena jarak TPR ini ke pantai tidaklah terlalu jauh.
Nah itulah sekelumit cerita petualangan kita di Pantai Samas ini. Mudah - mudahan sekelumit cerita tersebut dapat memberikan sedikit manfaat buat sobat - sobat yang membacanya. Tunggu Cerita Ane berikutnya yaw sob, sampai jumpa.
Let's Go

Jumat, 20 Februari 2015

Mengejar Sunset di Pantai Goa Cemara

Beranjak dari Pantai Pandansari Ane menuju ke Pantai Goa Cemara tujuannya hanya satu yaitu menikmati sunset sambil jungkir balik nyangkut di pohon cemara kemudian nggak sampai bawah lagi (lebay dikit). Ah tidak apa - apa yaw lebay dikit. Bagi yang belum membaca Pantai Pandansari, Pantai Dengan Mercusuar dan Buah Naganya silahkan membacanya terlebih dahulu yaw sob, supaya nyambung alur ceritanya.


Jarak antar dua pantai ini tidaklah terlalu jauh yakni hanya sekitar 800 meteran saja. Masih berada di lokasi yang sama Pantai Goa Cemara terletak di Dusun Patehan, Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Jalan menuju pantai ini sudah sangat bagus dan lebar sekali karena jalan ini merupakan jalan yang di gadang - gadang menjadi jalan lintas pantai selatan. Saking halusnya menggoda Ane untuk tidur di tengah jalan, tapi niat tersebut Ane urungkan soalnya Ane tidak mau terlindas oleh kendaraan yang sedang lewat. Tidak terasa sampailah Ane di pintu masuk pantai. Tidak ada penarikan retribusi untuk memasuki pantai, hal ini mungkin sudah sepaket dengan tiket masuk Pantai Pandansari dan sekitarnya dan hanya Sebuah daftar tarif parkir kendaraan saja yang terpampang di pintu masuk.

Tarif parkir kendaraan
Sepanjang perjalanan setelah melewati pintu masuk yang terlihat hanyalah hamparan pohon cemara yang sangat lebat sehingga bisa dikatakan sebagai hutan cemara. Saking lebatnya pohon yang tumbuh di sini sehingga membentuk menyerupai sebuah terowongan, maka tak heran bila pantai ini dinamakan Pantai Goa Cemara.
Di kiri jalan sebelum sampai di tempat parkir kendaraan bermotor roda dua terdapat sebuah tempat parkir kendaraan bermotor roda empat. Hal ini ditandai dengan luasnya lahan parkir yang ada. Tempat parkir kendaraan bermotor roda dua sendiri terletak di persimpangan jalan dan di sinilah Ane memarkir kuda hijau Ane.

Tampak sebuah persimpangan jalan
Kondisi tempat parkir kendaraan bermotor roda dua
Walaupun untuk memasuki pantai ini dikenakan tarif yang tidak mahal, namun bukan berarti pantai ini tidak dikelola dengan baik. Terdapatnya beberapa warung penjual makanan yang tertata apik, tersedianya kamar kecil, tempat ibadah berupa mushola, sebuah pendapa yang sepertinya biasa digunakan untuk tempat berlangsungnya acara, dan camping area sebagai bukti bahwa pengelolaan obyek wisata ini sudah baik.

Tampak sebuah pendapa
Memasuki bibir pantai, pohon cemara pun masih mendominasi disini. Hembusan angin yang begitu lembut terasa sejuk ketika mengenai indera peraba Ane. Lengkap rasanya ketika sambil menunggu sunset tiba istirahat terlebih dahulu di sebuah gubug yang memang sengaja di buat untuk para pengunjung.


Pantainya cukup bersih. Tampaknya kebersihan disini sangat diperhatikan karena di sela - sela pohon cemara terdapat tempat pembuangan sampah yang sengaja disediakan untuk para pengunjung agar pantai ini tetap bersih dan sedap di pandang mata. Ane sangat Setuju dengan pengelolaannya, keren.


Sejauh mata memandang yang terlihat adalah pemandangan laut lepas dengan gelombang laut yang besar karena berbatasan langsung dengan samudera hindia. Tak heran bila ketika memasuki bibir pantai terdapat larangan berenang di laut dan nama - nama korban yang sudah menjadi korban di laut selatan. Walaupun terdapat sebuah POS SAR yang terletak di pinggir pantai bukan berarti mempersilahkan kita untuk berenang di laut.

Sebuah POS SAR berada di pinggir pantai
Papan larangan berenang di laut
Banner yang berisi nama - nama korban laut selatan
Ane sungguh senang ketika melihat di sebelah barat pantai tampak sunset yang masih malu - malu memancarkan sinarnya. Itu artinya Ane belum terlambat untuk menyaksikan terbenamnya matahari yang mungkin akan sangat eksotis.


Tidak butuh waktu lama untuk menyaksikan sunset di ufuk barat. Memang waktu itu Ane sudah agak semakin sore ketika datang kesini. Banyak pengunjung tampak sibuk mengabadikan moment yang sangat indah ini begitu juga dengan Ane. Narsis sudah Ane lakukan tanpa rasa malu - malu lagi. Kenapa harus malu karena Ane tidak merugikan orang lain dan melanggar hukum, hehe.

Ketika Sunset berada di tangan Ane
Ketika sunset sedang Ane tendang
Cukup romantis sudah ketika sambil duduk di atas sebuah kapal sambil menikmati sunset di ufuk barat dan tampak beberapa pemancing sedang memancing ikan di laut lepas.
Disini Ane sempat berfikir bahwa kalau hidup masih sendiri itu janganlah sedih, ambillah sebuah contoh dari matahari walaupun sendiri tetap bersinar dan bermanfaat bagi banyak orang walaupun akan redup juga.

Duduk santai di sebuah kapal
Sungguh sempurna sunset kali ini walaupun masih dalam musim hujan. Hari sudah semakin gelap dan kini saatnya Ane harus beranjak meninggalkan pantai untuk pulang ke rumah.


Sampai jumpa hari terang dan selamat datang hari gelap.
Let's Go

Kamis, 19 Februari 2015

Pantai Pandansari, Pantai Dengan Mercusuar dan Buah Naganya

Pada Hari Senin tanggal 16 Februari lalu Ane menyempatkan diri mengunjungi salah satu deretan pantai selatan yang ada di kabupaten Bantul yaitu Pantai Pandansari karena memang ketika itu Ane pulang ke tempat budhe Ane di Bantul.


Waktu menunjukkan pukul satu siang, dari Kota Yogyakarta Ane arahkan kuda hijau menuju ke arah selatan. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Kota Bantul yakni sekitar 25 menit saja.

Gapura Kabupaten Bantul Yogyakarta
Dari Kota Bantul Ane masih menuju ke arah selatan lagi yaitu mengambil Jl. Samas hingga kurang lebih 12 Km yang pada akhirnya menemukan sebuah pos Tempat Penarikan Retribusi (TPR) untuk kawasan Pantai Samas. Pos ini lebih dikenal sebagai TPR Pantai Samas karena letak terdekat dari pos tersebut adalah Pantai Samas. Di depan TPR ini terdapat sebuah Plank yang menunjukkan lokasi beberapa pantai yang ada di pesisir selatan Bantul.

TPR Pantai Samas
Tiket masuk tidaklah terlalu mahal, Ane hanya perlu merogoh kocek 3K saja per orang. Berhubung Ane bersama adik Ane kala itu maka Ane hanya membayar 6K saja untuk memasuki kawasan Pantai Samas. Di belakang tiket masuk tertera sebuah peringatan yang berbunyi: Dilarang mandi di laut "Berbahaya".


Tulisan di belakang tiket masuk 
Tiket masuk sudah di tangan dan kini saatnya melanjutkan perjalanan menuju pantainya. Mula - mula Ane melintasi sebuah jembatan dan kemudian bertemu dengan sebuah pertigaan. Bila ke kiri/selatan maka akan sampai di Pantai Samas dan jika lurus ke arah barat maka akan sampai di beberapa pantai selatan lainnya termasuk pantai Pandansari dan Pantai Goa Cemara. Tentulah Ane mengambil arah lurus/barat saja dan tidak lama lagi sampailah di Pantai Pandansari. Jalan yang di lalui sudah sangat baik dan lebar sekali karena jalan sepanjang pantai selatan ini yang digadang - gadang menjadi jalan lintas pantai selatan.
Memang benar ombak yang ada di deretan pantai selatan ini cukup besar dan sangat berbahaya bila digunakan untuk mandi. Tak heran bila di tiket masuk tertera larangan untuk melakukan aktifitas mandi di laut.

Pemandangan alam di bibir Pantai Pandansari
Pantai Pandansari terletak di Dusun Patehan, Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul. Menikmati deburan ombak yang besar dan hembusan angin yang lembut dari bibir pantai adalah pilihan yang paling tepat. Selain itu aktifitas seperti memancing pun dapat dilakukan di sini.



Tidak seperti pantai selatan lainnya yang memiliki bibir pantai bersih dan rapi, di Pantai Pandansari sungguh disayangkan karena terdapat banyak sampah yang berserakan di area bibir pantai. Seharusnya pemerintah lebih serius memperhatikan kebersihan bibir pantai ini yang berpotensi sebagai tempat wisata bahari. Selain itu kita sebagai pengunjung seharusnya tetap menjaga lingkungan tetap bersih dan enak bila di pandang mata.
Puas menikmati suasana bibir pantai Ane melanjutkan petualangan ke sebuah menara mercusuar yang terletak di sebelah utara pantai. Tahu tidak sob, kalau menara inilah yang menjadi destinasi utama bagi para pengunjung bila datang kesini.

Menara Mercusuar Pantai Pandansari
Sesampainya di Menara Mercusuar, Muncullah seorang bapak paruh baya dari sebuah gedung yang terdapat di sekitar Menara Mercusuar. Gedung tersebut nampaknya memang diperuntukkan bagi petugas yang sedang menjaga mercusuar ini.

Gedung yang ditempati oleh petugas penjaga menara
Ane menduga seseorang tersebut adalah petugas yang sedang ditugaskan untuk menjaga Menara ini. Ternyata benar beliau seorang petugas yang ditugaskan di sini. Ane sempat berbincang - bincang dengan beliau, beginilah kira - kira perbincangan kita:
Ane     : Permisi bapak, apakah benar menara ini dibuka untuk
          untuk umum?
Petugas : Benar mas, apakah masnya mau naik?
Ane     : Benar Pak saya mau naik. Menara ini terdiri dari
          berapa lantai ya pak?
Petugas : 8 lantai mas dengan tinggi kurang lebih 40 meter.
          Masnya berasal darimana?
Ane     : Dari Kretek pak, dekat sini.
Petugas : Eow Kretek, iya berarti orang sini tow.
Ane     : Iya pak. 
Petugas : Silahkan mas kalau mau naik, 5K saja untuk dua orang.
Ane     : Baiklah pak kalau begitu.
Tidak sabar rasanya untuk segera naik ke atas dan menikmati pantai dari atas sana. Tangga demi tangga yang melingkar Ane lalui dan semakin ke atas ruang yang tersedia semakin sempit. Adrenalin pun semakin naik dan gemetarpun tak bisa terelakkan.

Penampakan tangga dilihat dari bawah
Bagi sobat yang takut akan ketinggian tidak usah khawatir karena setiap lantai terdapat jendela yang diberi kaca sehingga sobat bisa mengintip keindahan alam dari balik jendela tersebut. Jadi menyesuaikan kemampuan sobat sejauh mana akan melangkah.

Penampakan tangga dilihat dari atas
Akhirnya sampailah Ane di lantai 7. Hal ini berarti masih ada satu tangga lagi yang harus Ane lalui untuk sampai lantai teratas menara yaitu lantai 8. Berbeda dengan bentuk tangga lainnya yang semuanya melingkar, pada tangga lantai 7 ke lantai 8 ini sempat membuat Ane syok yaitu bentuk tangganya vertikal ke atas dengan derajat kemiringannya 180 derajat.
Ane sempat berfikir mau balik ke bawah, tapi Ane rasa tanggung, mau ke atas ragu - ragu. Itulah yang Ane rasakan ketika itu. Setelah berfikir - fikir lagi Akhirnya Ane memberanikan diri untuk naik ke atas. Semangat

Tangga terakhir berupa tangga vertikal
Rasa lelah akhirnya terbayar semua ketika sudah berada di puncak menara. Hamparan laut lepas dan luasnya hamparan perkebunan berupa tanaman buah naga, pohon cemara, dan pohon pandan terlihat dari sini. Tidak hanya itu saja tebing - tebing yang terdapat di timur Pantai Parangtritis pun terlihat juga. Pemandangan yang sangat menakjubkan.

Pemandangan alam dilihat dari puncak menara
Tebing Pantai Parangtritis tampak dari menara
Tidak terasa cukup lama sudah Ane berada di atas, rasa lapar dan lelah pun Ane rasakan. Kini saatnya turun ke bawah dan masih ada satu lagi yang dapat Ane lakukan disini yaitu menikmati buah naga yang terletak tidak jauh dari bibir pantai.
Setibanya di sebuah rumah yang dugaan Ane tempat membeli buah naga tersebut terasa sepi, sambil clingak - clinguk seperti gaya seorang maling tetap saja sepertinya tidak seorangpun yang tampak di rumah tersebut. Akhirnya Ane memanggil - manggil orang yang ada di dalam rumah dan berharap seseorang muncul dari rumah tersebut. Hasilnya tetap nihil, maka dari itu Ane memutuskan untuk bernarsis ria dahulu di sebuah banner yang bertuliskan "Kebun Buah Naga Merah".


Tak di sangka - sangka, seseorang yang masih tergolong muda muncul dari Kebun Buah Naga Merah. Ane langsung berbincang - bincang dengan beliau:
Ane          : Ma'af mas, apakah buah naganya di jual?
Penjaga Buah : Iya, di jual mas
Ane          : Berapa per Kg nya mas?
Penjaga Buah : 20K per Kg
Ane          : Baik mas kalau begitu saya mau beli
Penjaga Buah : Baik mas (sambil membukakan pintu masuk buat Ane).
               Langsung memetik sendiri dari pohonnya saja atau 
               yang sudah saya petikkan mas?
Ane          : Langsung memetik sendiri saja mas.
Lalu Penjaga buah tersebut masuk ke dalam rumah dan mengambilkan Ane sebuah alat pemotong buah yang kurang lebih seperti gunting dan sebuah wadah untuk buahnya yang terbuat dari wadah cat yang berwarna putih.
Inilah salah satu yang menjadi daya tarik yang dimiliki perkebunan buah naga ini yaitu kita bisa menikmati buah naganya dengan cara memilih dan memetik sendiri langsung dari pohonnya.

Ane sedang memetik Buah Naga Merah
Ternyata susah juga ya memetik sendiri buah naga yang masih terdapat di pohon. Tak hayal berulangkali Ane gagal dalam memetiknya. Ane Tidak mau menyerah begitu saja sampai pada akhirnya Ane berhasil memetik buahnya sendiri secara langsung dari pohonnya. Hore (sambil jingkrak - jingkrak)

Ane berhasil memetik Buah Naga Merah
Selain buah naga merah, disini juga terdapat Buah Naga Putih yang memiliki harga lebih ekonomis yaitu 15K per Kg. Kali ini Ane mau mencoba Buah Naga Merah dan mungkin lain kali tidak menutup kemungkinan Ane datang kesini lagi dan mencoba buah naga yang putih. Inilah buah naganya, ada yang mau?

Isi Buah Naga Merah
Di dalam daging Buah Naga Merah terdapat biji yang imut nan lembut berwarna hitam. Setelah Ane merasakan sendiri buahnya cukup manis dan lezat. Hari sudah semakin sore, beranjak dari Pantai Pandansari Ane bergerak ke Pantai Goa Cemara Untuk menyaksikkan sunset yang segera tiba.
Bagaimana sob, menarik bukan? Ayok segera angkat ransel anda dan datang kesini. Sampai jumpa.
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me