Selasa, 16 Januari 2018

Menyantap Ingkung Ayam Mbah Cempluk Bersama Keluarga

Hai, hai, hai, gimana nieh sob kabarnya? semoga baik-baik saja ya. Nah, kali ini Ane mau bercerita tentang petualangan Ane mencari kuliner di salah satu warung yang ada di Yogyakarta yakni Warung Ingkung Ayam Mbah Cempluk. Alamatnya ada di Dusun Santan, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Sudah lama sieh sob Ane mengetahui keberadaan warung ini, namun karena dalam otak Ane sudah terlanjur menjustifikasi kalau kuliner yang berkaitan dengan ingkung itu masaknya harus utuh maka Ane urungkan niatan Ane tersebut. Baru setelah ada waktu dan moment yang pas jadilah Ane mengunjunginya.
Dikalangan masyarakat Jawa tentu sudah tak asing lagi dengan yang namanya "ingkung". Mendengar kata "ingkung", pasti fikiran kita langsung pada sebuah acara maupun ritual tertentu. Jadi ingkung ini tidak untuk dikonsumsi sehari-hari. Dimana didalam acara tersebut harus ada ingkung, yakni ayam yang dimasak dan disuguhkan secara utuh walaupun pada akhirnya ya dipotong-potong juga. Kini anggapan tersebut dipatahkan oleh warung ini dimana ingkung tak hanya dikonsumsi saat ada acara saja melainkan bisa dijadikan santapan sehari-hari.



Inilah moment yang Ane rasa tepat buat mengunjunginya. Kenapa begitu? karena Ane baru saja diwisuda dari kampus Ane dan dihadiri oleh keluarga. Berita ini adalah berita bahagia bukan? maka dari itu rasa bahagia dan syukur ini Ane rayakan bersama keluarga dengan menikmati olahan berupa ingkung.
Awalnya ide ini muncul dari dalam otak Ane, saat itu Ibu Ane bertanya kepada Ane hendak mau makan apa dan dimana? tanpa fikir panjang Anepun langsung menjawabnya di Warung Makan Ingkung Ayam Mbah Cempluk. Syukur Ibu Anepun langsung menyetujuinya, jadilah kita capcus menuju kesana.
Sesampainya di Perempatan Klodran Bantul, kendaraan kita arahkan kearah kanan hingga sejauh kurang lebih 5 kilometer sampailah kita di TeKaPe. Awalnya Ane mengira kalau disini hanya terdapat satu warung ingkung saja, ew nggak tahunya ada beberapa. Dari kesemua warung ingkung yang ada, justru warung Ingkung Ayam Mbah Cempluk inilah yang menurut Ane paling tersembunyi. Dari jalan beraspal harus masuk lagi melalui jalan berupa blok yang disamping kanan dan kirinya terdapat areal persawahan. So, kalau sobat datang kesini jangan salah ya dan harus cermat. Woke???



Mungkin lagi sepi, sesampainya disini tak ada kendaraan yang sedang parkir padahal tempat parkirnya cukup luas. Tapi sesaat kita masuk, ada dua buah mobil yang berdatangan. Kalau dilihat yang datang adalah rombongan keluarga besar. Ane fikir memang cocok kalau datang kesini bersama keluarga, selain ingkung memang cocok dinikmati lebih dari dua orang juga bisa mempererat tali keluarga.



Ada beberapa tempat yang bisa digunakan oleh para pengunjungnya untuk menikmati menunya sob. Mau dibagian depan, bisa! dan mau dibagian belakang pun sangat bisa karena tempatnya sangat luas sekali. Tempat duduknya berupa lesehan dan struktur bangunannya semua terbuat dari bambu kecuali atapnya yang terbuat dari rumput alang-alang. Sesaat setelah memilih posisi tempat duduk, seorang pelayan pun datang menghampiri kita. Beliau menyodorkan daftar menu yang tersedia. Kita berdelapan sehingga kita memesan dengan sistem paket saja. Satu paket lengkap untuk 6 orang seharga 240k dan ditambah 1 paket murah perorangan seharga 30k. Nah lo, kalau ada paket murah perorangan, kenapa Ane nggak dari dulu saja ya berkunjung kesini?, ah tak apa-apalah. Jadi disini itu kita disuruh memilih mulai dari jenis makanan, minuman hingga nasinya. Mau ingkung ayam goreng atau ayam areh, minumannya apa dan nasinya mau nasi putih atau nasi gurih. Setelah rembukan akhirnya kita sepakat pesan ingkung ayam areh, minumannya es teh dan nasinya nasi gurih. Masa lauknya sudah ingkung tapi nasinya nasi putih, kan kurang afdol, ya nggak sob?.
Cukup lama kita menunggu, ya sekitar 30 menitan lah dan semua pesanan yang kita pesan sudah datang. Awalnya Ane mengira kalau satu paket menu lengkap itu hanya terdiri dari ingkug ayam utuh, nasi gurih dan segelas teh saja. Ternyata tidak, masih ada menu tambahan lainnya yakni sepiring wader krispi, sepiring wader lombok ijo, sepiring tahu dan tempe, lalapan buah mentimun serta urap. Namanya saja ingkung ayam areh, jadi ya ada putih-putihnya gitu.




Seporsi ingkung ayam siap dieksekusi, mantab surantab
Lalu sekarang bagaimanakah dengan rasanya? setelah Ane coba ternyata hulala ingkungnya sangat empuk, mungkin sudah dimasak dalam tempo yang cukup lama. Bumbu arehnya pun terasa gurih di mulut. Sekarang berpindah ke wader krispinya, ternyata rasanya nggak kalah gurih dibandingkan ingkung ayamnya terasa kriuk-kriuk. Tak kalah lezatnya lagi rasa yang ditawarkan oleh wader lombok ijonya, semua urat dalam lidah saya bisa merasakan betapa ndesonya menu ini. Gurih berpadu dengan pedas. Semua pas disajikan bersama nasi gurih yang dimasak secara tepat sehingga pulen. Secara keseluruhan, Ingkung Ayam Mbah Cempluk ini rasanya "Wuenak tenan, Le leduk". Untuk itu tak kasih jempol.




Semuanya ada sisa sedikit. Maklum ibu-ibu, tanpa malu-malu ibu Ane meminta kepada salah satu pelayannya untuk membungkus sisa makanan yang ada dan pelayan tersebutpun dengan senang hati meladeninya. Mantabe'. Berhubung Ane kulineran bersama keluarga, maka semuanya sudah ditanggung oleh orang tua, hehehe.
Jam buka warungnya: 09.00 WIB hingga 21.00 WIB.
Let's Go

Senin, 01 Januari 2018

Perjalanan Pulang dari Bali Menuju Kota Jogja

Sudah 2 minggu lebih Ane menjelajah Pulau Dewata. Banyak suka maupun duka yang Ane alami disini. Sukanya Ane bisa pergi kapan dan kemanapun yang Ane mau karena Ane membawa sepeda motor sendiri dan dukanya karena Ane hanya seorang diri maka terkadang Ane merasa bosan dan jenuh saat berada di perjalanan, tak ada yang bisa Ane ajak untuk bercakap-cakap. Tapi tak apa-apa dengan berpergian seorang diri, Ane bisa mengambil banyak pelajaran hidup diantaranya masih banyak orang-orang yang baik di negara tercinta ini dan Ane semakin mengenal diri Ane sendiri.
Perjalanan ini sepertinya harus Ane akhiri sampai disini. Ya, pada tanggal 9 Oktober 2016 akhirnya Ane benar-benar mengakhiri penjelajahan Ane di Pulau Dewata yang indah nan cantik ini. Selain obyek-obyek wisata yang masuk dalam daftar kunjungan Ane sudah Ane jelajahi semua juga karena uang yang ada didalam kantong sudah mulai menipis, :-)



Sehari sebelumnya Ane berpamitan dengan mas Wahyu seorang pemilik penginapan dimana tempat Ane menginap dan bersiap-siap mengemas semua barang-barang pribadi Ane mulai dari barang-barang yang Ane bawa dari Jogja hingga barang-barang yang Ane beli saat berada di pulau ini. Semua barang Ane kemas dalam 2 tas, tas carrier Ane isi dengan semua jenis pakaian dan peralatan mandi. Sedangkan tas ransel Ane isi dengan seperangkat kamera dan alatnya serta barang-barang yang Ane anggap sangat penting sekali.
Agar tak kesiangan bangun pagi, setelah makan sore di Warung Makan khas Surabaya yang beralamatkan di Jl. Nangka Utara Ane bergegas masuk kedalam kamar. Sebelum tidur Ane atur alarm di HP Ane pukul 3 pagi Wita. Memang jam-jam segitu kebanyakan orang masih tertidur dengan pulas, ada yang masih mengorok, mendengkur hingga bermimpi. Tapi karena Ane suka bepergian sepagi mungkin, maka hal itu Ane rasa tak jadi masalah.
Kukuruyuk, kukuruyuk, kok...
Beruntung hari ini sesuai dengan rencana, Ane bangun tepat jam 3 pagi. Tanpa bermalas-malasan segera Ane turunkan kaki Ane dari tempat tidur. Ane mandi, beberes dan setelah itu mengangkat semua barang-barang pribadi Ane ke kuda hijau. Kini dengan tekad kuat meluncurlah Ane pulang menuju ke Kota Yogyakarta.
Perjalanan pagi sungguh menyenangkan, walaupun terbilang ramai Jl. Raya Denpasar-Gilimanuk ini masih dalam keadaan fresh dan segar. Belum banyak kendaraan yang melintas sehingga Ane bisa ngebut semau Ane. Berhubung Ane bertemu dengan POM Bensin yang terletak disebelah kiri (selatan) jalan maka Ane mampir sebentar untuk mengisi bahan bakar. ya, tanda bensin yang ada di kuda hijau Ane sudah menunjukkan kearah warna merah dan nggak lucu kan kalau nantinya motor ini kehabisan bensin di jalan? Setelah mengisi bensin Ane lanjutkan lagi perjalanan menuju Pelabuhan Gilimanuk. Kurang lebih 4 jam perjalanan kini Ane sampai di pelabuhan tersebut.
Sebelum melalui pemeriksaan petugas, Ane disuruh membayar dahulu retribusi terminal manuver Gilimanuk sebesar 1k. Hal ini berbeda saat menyeberang dari Pelabuhn Ketapang Banyuwangi ke Pelabuhan Gilimanuk, Ane tak disuruh bayar seperti ini. Hanya saja setelah melewati pemeriksaan para petugas Ane disuruh membayar tiket penyeberangan sebesar 22k. Besarannya pun sama saat dari Pelabuhan Ketapang ke pelabuhan ini. Namun sebelumnya Ane harus mengisi sejumlah data informasi tentang Ane dan kuda hijau Ane.



Saat mengisi, ada seorang laki-laki setengah baya sedang membawa barang dagangannya mendekati Ane. Ia menawarkan bantuan kepada Ane untuk mengisi data, tapi Ane tolak karena ada udang dibalik bakwan. Apalagi kalau bukan mengharapkan uang ataupun agar Ane membeli barang dagangannya. Nampaknya Ia tak menyerah begitu saja, Ia tetap ada disamping Ane. Lama-kelamaan Ane kok nggak tega terhadapnya, yasudahlah akhirnya Ane sekedar tanya-tanya dan setelah itu Ane beli sebotol aqua darinya.
Setelah semuanya beres, Ane segera menuju ke kapalnya. Beruntung saat Ane sampai, kapal yang akan Ane naiki sedang melakukan pengeluaran kendaraan yang menuju ke daratan Pulau Dewata sehingga tak lama lagi Ane segera menaikinya. Kapal-kapal yang ada disini rata-rata memiliki badan yang cukup kecil tak terkecuali dengan kapal yang akan Ane naiki ini, mungkin hal ini menyesuaikan dengan padat atau tidaknya angkutan penyeberangan. Ketika kendaraan yang ada didalam kapal sudah keluar semua, Ane disuruh oleh petugs untuk sesegera mungkin masuk kedalam kapal. Ane kendarai kuda hijau Ane dengan hati-hati masuk kedalam kapal tersebut.
Sebagai pengendara motor Ane diarahkan untuk menempati bagian terdepan kapal. Lalu Ane standarkan kuda hijau Ane dengan 2 kaki. Setelah itu Ane kunci stang dan kemudian Ane bawa semua barang bawaan keatas kapal. Penumpangnya cukup sedikit sieh tapi Ane harus tetap waspada dengan kondisi sekarang ini.
Selama diatas kapal tak banyak aktifitas yang Ane lakukan. Ane hanya mengamati birunya air laut dan gunung-gunung berdiri megah jauh disana. Satu jam berlalu, syukur kapal yang Ane naiki akhirnya bersandar. Ane segera turun kebawah dan siap-siap untuk melakukan perjalanan yang lebih jauh lagi menjelajah jalanan di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ini bukan hal yang baru lagi bagi Ane, tentu sebelumnya Ane sudah melewati jalan ini saat berangkat. Bedanya saat berangkat Ane sampai di Jawa Timur khususnya di Kabupaten Banyuwangi hari sudah petang dan kini saat pulang hari masih pagi.



Keluar dari kapal segera Ane pacu kuda hijau Ane kembali melintasi jalanan yang ada. Ditengah jalan Ane menemukan POM Bensin, Ane lihat penanda bahan bakar ternyata sudah menunjukkan ke angka merah. Tak mau mengambil resiko, Ane mampir sebentar buat mengisi bahan bakar tersebut dan beristirahat sejenak. Tak seperti POM Bensin yang ada di Bali yang rata-rata tidak memiliki kamar kecil maupun tempat ibadah bagi umat islam, di POM ini memiliki keduanya sehingga Ane dengan leluasanya menggunakan fasilitas tersebut.
Tak lama Ane berada disini, ya sekitar 20 menitan lah. Sesegera mungkin Ane pacu kuda hijau kembali untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju pulang ini terbilang cukup berat. Tak berapa lama berkendara langit tampak menghitam dengan angin berhembus tak terlalu kencang. Bagaimanapun Ane tak bisa melawan takdir, hujan pun akhirnya turun. Sebenarnya sieh Ane bisa melanjutkan perjalanan menggunakan mantol, tapi Ane tidak melakukannya. Iya kalau Ane lakukan ada hal yang Ane korbankan, Ane tidak basah tapi tas karrier Ane basah dan begitupula sebaliknya. Bagaimana tidak tas karrier Ane sendiri tingginya lumayan sehingga mantol yang Ane punya tidak bisa mencakupnya. Ane lebih memilih menepi sebentar, juga karena Ane belum memasuki sebuah hutan yang cukup luas dengan disamping kanan dan kiri jalan tak ada bangunan yang berdiri. Hutan yang Ane maksud ini adalah Taman Nasional Baluran.
Setelah hujan reda, Ane lanjutkan lagi perjalanan Ane. Suasana yang berbeda saat memasuki Taman Nasional Baluran. Saat berangkat Ane tak dapat menatap indahnya pemandangan ini karena sampai disini hari itu sudah petang dan kini Ane bisa menatapnya. Selama perjalanan yang Ane lihat hanyalah pepohonan jati yang memiliki daun tak lebat, tak ada bangunan yang berdiri kecuali gubuk-gubuk kecil yang memang sengaja disediakan bagi pengendara untuk beristirahat sejenak dan nampak satu dua kali binatang-binatang kera berkeliaran turun ke jalan meminta upeti kepada setiap pengendara.



Disini Ane merasa khawatir dengan kuda hijau Ane. Ane tak bisa membayangkan betapa sulitnya kalau kuda hijau Ane tiba-tiba rusak ditengah jalan, distarter nggak mau hidup, di oglek juga nggak mau, busi apinya sudah habis, ban bocor, atau kerusakan lainnya yang nggak bisa Ane atasi sekarang. Pasalnya tak sedikit kendaraan yang Ane temui mengalami hal demikian terutama pada kendaraan roda empat. Hmmmm, Ane hanya bisa berdo'a dan berdo'a.
Alkhamdulillah, walsyukurillah, walnikmatillah, hati terasa lega ketika Ane sudah menemukan bangunan-bangunan rumah lagi yang berdiri disepanjang sisi jalan. Ane pun berhenti saat Ane melihat sebuah monumen yang bertuliskan 1000 Km Anyer Panarukan yang berada di kiri jalan. Sebenarnya saat berangkat Ane pun melihatnya, tapi berhubung hari itu sudah sore jadinya ya lanjut terus. Kini Ane bisa foto bersama sepuas-puasnya karena tak ada seorangpun yang sedang mengunjunginya.



Setelah puas, Ane melanjutkan lagi perjalanan Ane menuju kearah barat. Banyak obyek-obyek wisata yang sebenarnya Ane ingin singgahi, salah satunya Pantai Pasir Putih Situbondo. Tapi karena penyakit malas yang Ane derita saat di perjalanan ditambah tidak ingin kelamaan sampai di tempat tujuan, jadi ya Ane hanya melewatinya saja. Begitupula saat melewati SPBU Utama Raya Paiton, tetap saja lanjut terus hingga sampai di Kabupaten Probolinggo.



Drama terjadi saat keluar dari Kota Pasuruan. Ane kurang begitu paham dengan papan petunjuk jalan yang ada. Bila kearah kanan (utara) maka akan sampai di Kota Surabaya, bila kearah kiri (selatan) akan sampai di Kota Malang dan bila kearah lurus (barat) maka akan sampai di Kota Mojokerto. Nah ini dia yang sempat membuat Ane kebingungan. Kalau kearah kanan jalannya cukup lebar dan meyakinkan pasti sampailah ke Kota Surabaya, hal sama terjadi kearah Kota Malang. Tapi kalau kearah Kota Mojokerto jalannya ituloh cukup sempit dan bisa dibilang tak bagus. Akhirnya Ane memutuskan untuk belok kearah kanan dan mencari jalan alternatif. Beberapa kali Ane harus bertanya kepada seseorang yang Ane temui di jalan apakah benar jalan ini menuju Kota Mojokerto. Tak terkecuali bertanya kepada beberapa anggota polisi yang sedang beristirahat disalah satu warung milik warga. 
Ane         : Permisi Pak, ma'af mengganggu. Saya mau tanya apakah 
              benar jalan ini menuju Kota Mojokerto via Mojosari?
Bapak Polisi: Ya, salah mas. Ini kalau lurus terus sampai di 
              Surabaya. Masnya darimana?
Ane         : Saya dari Bali Pak dan sekarang mau pulang ke Jogja!
Bapak Polisi: Eow, benar kalau lewat Mojosari mas. Ini aja mas, 
              masnya lurus lagi, nanti setelah ketemu lampu merah 
              masnya ambil saja kekiri. Nanti itu ke Mojokerto mas 
              lewat Mojosari!
Ane         : Eow gitu. Terimakasih ya Pak ya!
Bapak Polisi: Sama-sama mas dan selalu hati-hati dijalan.
Ane         : Baik Pak!
Benar saja, tak jauh dari tempat bertanya tersebut Ane bertemu dengan perempatan lampu merah. Langsung saja Ane mengikuti intruksi yang diberikan oleh Bapak Polisi itu yaitu belok kearah kiri. Sepanjang perjalanan ini Ane seperti berkendara searah mengikuti aliran sungai. Ya, disamping kiri jalan yang Ane lihat adalah sungai dan sungai. Pada awalnya jalan ini cukup bagus, tapi lama-kelamaan jalan berubah menjadi tak bagus lagi, aspal mengelupas sehingga menaiki kuda hijau Ane ini benar-benar serasa menaiki kuda beneran. Hingga akhirnya kurang lebih 20 Km berselang sampai juga Ane di Mojosari. Hati terasa lega karena jalan ini benar-benar yang Ane maksud. Cukup lama Ane berkendara dari Mojosari ini dan ntah bagaimana ceritanya akhirnya sampai juga Ane di Kota Mojokerto. Dari sini tow Ane sudah tak bingung lagi dengan jalan menuju pulang.



Perjalanan sungguh berat Ane rasakan dalam menuju pulang ini. Bagaimana tidak, setelah melewati Kota Jombang dan sampai di Kertosono Nganjuk Ane diguyur hujan yang sangat lebat. Terpaksa Ane harus menepi dulu menunggu hujan reda. Beruntung hujan turun tidak lama sehingga Ane bisa melanjutkan lagi perjalanan, lagi-lagi hujan turun saat memasuki Kabupaten Madiun dan Ngawi. Terpaksa di Kabupaten Ngawi Ane mampir sebentar disalah satu rumah warga. Karena hari sudah malam sekitar jam setengah 8, Ane memiminta izin untuk berteduh sebentar. Syukur, Ane pun diperbolehkan untuk berteduh. Bahkan Sang anak dari pemilik rumah tersebut mengajak Ane bicara panjang lebar. Intinya dia pernah ke Jogja beberapa bulan lalu bersama teman-temannya. Namun mereka hanya mengunjungi beberapa tempat saja seperti Malioboro dan Kawasan Nol Kilometer, Pantai Parangtritis, dan Candi Prambanan saja. Tak banyak yang mereka lakukan.
Hujan yang Ane tunggu tetap saja tak reda-reda. Anepun bertanya kepada dia apakah iya di lahan jati-jatian cukup rawan untuk perjalanan malam hari. Pasalnya posisi Ane sekarang masih berada di Kabupaten Ngawi bagian timur sedangkan hutan-hutan jati yang cukup luas ada dibagian barat. Mendengar jawaban dari dia bukannya membuat Ane semakin berani tetapi malah membuat Ane semakin takut, dia bilang "kalau di jati-jatian memang rawan untuk perjalanan malam hari, tapi kalau jam-jam segini masih banyak kendaraan yang melintasinya jadi ya nggak rawan-rawan banget", tukasnya.
Antara takut dan berani akhirnya Ane putuskan untuk menerjang hujan yang cukup lebat ini. Setelah memakai jas hujan, Anepun berpamitan kepada dia. Kini Ane melenggang melanjutkan perjalanan lagi. Awalnya pemandangan yang Ane lihat disamping kanan dan kiri jalan berupa rumah-rumah warga dengan situasi yang cukup sepi, tapi sesampianya di hutan-hutan jati pemandangan itupun berubah menjadi situasi yang cukup membuat Ane tenang. Benar apa yang dikatakan oleh seorang warga yang Ane tanyai sebelumnya, kendaraan bermotor masih ramai hingga akhirnya Ane keluar dari hutan dan segera memasuki Kabupaten Sragen. Perasaan lega muncul sesampainya disini. 
Tak ada kejadian berarti yang Ane alami termasuk saat melewati Kabupaten Karanganyar, Kota Solo, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Sleman hingga akhirnya sampai juga di Kota Yogyakarta tempat dimana Ane mengenyam pendidikan tinggi. Sebelum menuju ke kost, Ane sempatkan diri sebentar untuk makan terlebih dahulu disebuah warung makan. Ya, warung tersebut adalah warung burjo yang sudah menjadi langganan bagi mahasiswa apalagi mahasiswa yang sedang ngekost seperti Ane ini, :-)
Tepat pukul 00.30 WIB sampailah Ane di kost, itu artinya 20 hari sudah Ane melakukan perjalanan menjelajahi Pulau Bali yang cantik itu. Waktu tersebut sudah termasuk saat keberangkatan dan kepulangan Ane di Jogja ini. Banyak hal yang Ane peroleh dalam perjalanan tersebut, yang jelas rasa kepuasan dan kelegaan timbul dihati ini. Puas karena sudah menjelajah Pulau Bali tersebut seorang diri dan lega karena salah satu impian dalam hidup Ane sudah terlaksana.
Let's Go

Sabtu, 23 Desember 2017

Menikmati Nasi Campur Khas Bali di Warung Wardani

Hari ke-18 merupakan hari terakhir Ane di Bali. Ya, besok Ane berencana untuk pulang ke Jogja. Maka dari itu pumpung masih disini Ane puaskan untuk wisata kuliner mengunjungi beberapa tempat yang sudah Ane rencanakan sebelumnya. Salah satunya kulineran di Warung Wardani yang terletak di Jl. Yudistira No.2, Denpasar.
Dari sekian tempat kuliner yang sudah Ane coba di Bali, tempat inilah yang menurut Ane paling dekat dari tempat dimana Ane menginap. Ane sendiri menginap didekat perempatan jalan antara Jl. Nangka Selatan, Jl. Nangka Utara, dan Jl. Gatot Subroto. Sehingga dengan mudah dan cepatnya Ane sampai disini.



Warungnya ada disebelah kiri (timur) jalan searah, cukup sederhana namun bersih dan kenyamanannya juga begitu terjaga. Meja dan kursi terpasang dengan rapi. Dibagian dinding telah terpasang daftar menu yang dapat dipesan oleh setiap para pengunjung yang datang. Baik menu makanan maupun minuman. Setidaknya ada 5 macam menu makanan yang tertulis disitu diantaranya nasi campur, soto babad, gado-gado, nasi kare, dan soto ayam. Sedangkan untuk menu minumannya setidaknya ada 8 macam yang tertulis diantaranya es campur, es dawet, es jeruk, es teh manis, es sirup, es daluman, es buah, dan es kelapa muda.


Penampakan papan nama yang terpasang dibagian depan warung 
Kondisi warung yang ada dibagian dalam
Sebenarnya Ane ingin mencoba semua menu tersebut, tapi apa boleh buat tentu kapasitas perut Ane tak akan dapat menampungnya. Maka dari itu setelah berfikir sejenak akhirnya Ane memutuskan untuk memilih salah satunya saja, dan menu tersebut adalah Nasi Campur masakan khas Bali. Adapun untuk minumannya, seperti biasa sebotol air minum cukup menghilangkan rasa dahaga Ane ini.



Pelayanannya terbilang sangat cepat, tak sampai 10 menit semua pesanan yang Ane pesan sudah ada dihadapan Ane yakni sepiring nasi campur dan sebotol air minum. Diatas sepiring nasi ini sudah diselipkan nota harga yang harus Ane bayar. "42.500, begitulah tulisan yang ada dinota tersebut". Sepiring nasi campur tersebut berisi nasi putih, setusuk sate lilit, setusuk sate sapi, sebutir telur bumbu Bali, udang goreng, ayam suwir pedas, sayur tumis kacang panjang, dendeng, 2 potong sayur kentang, dan tak ketinggalan juga sambalnya.




Lalu, bagaimanakah dengan rasanya? Kini saatnya Ane mengeksekusinya. Pada sate lilitnya, sama seperti sate lilit pada umumnya rasanya itu empuk dan cukup enak. Sedangkan untuk sate sapinya, bumbunya lebih terasa dan agak pedas. Sekarang pindah pada ayam suwirnya, dagingnya cukup empuk, dan juga nikmat.
Ini nieh yang membedakan nasi campur ini dengan yang lainnya, adanya dendeng yang terasa maknyus, renyah, manis dan agak pedas; serta udang gorengnya yang juga terasa renyah dan gurih. Lengkap sudah dengan hadirnya sayur tumis kacang yang cukup segar dan pedasnya sambal menambah kenikmatan Ane dalam menyantapnya.



Dua kata deh sob untuk ini semua,"Wuenak tenan, Le leduk". Untuk itu tak habiskan semuanya. Soal harga, memang sieh agak mahalan nasi campur ini bila dibandingkan dengan harga nasi campur pada umumnya seperti nasi campur Ibu Oki maupun nasi campur ayam kedewatan Ibu Mangku yakni sebesar 49,5k dengan rincian 42,5k untuk nasi campurnya dan 7k untuk sebotol air minumnya. Namun hal itu sebanding dengan isi porsi dan rasanya.




Jam buka: 8 pagi hingga 4 sore.
Let's Go

Senin, 11 Desember 2017

Nasi Pecel Bu Tinuk Kuta, Konon Katanya Terenak di Bali

Dari awal, Ane berencana menjelajah Pulau Bali ini selama 3 minggu (21 hari). Ane catat semua obyek wisata yang hendak Ane kunjungi kedalam sebuah buku. Rupanya jadwal perjalanan Ane, Ane percepat satu hari dari jadwal sebelumnya yakni menjadi 20 hari. Itupun sudah termasuk hari keberangkatan dari Jogja ke Bali dan kepulangan dari Bali ke Jogja. Percepatan ini bukan tanpa alasan, karena obyek-obyek wisata yang masuk dalam daftar kunjungan Ane sudah Ane jelajahi semua. Walaupun hanya ada satu atau beberapa tempat saja yang tidak berhasil Ane jelajahi. Namun begitu, hal ini tetap tidak mengurangi rasa kepuasan Ane.
Dihari-hari terakhir di Bali ini tak banyak yang Ane lakukan, Ane hanya berencana wisata kuliner saja mengunjungi beberapa warung makan. Warung makan satu-satunya yang akan Ane cicipi dihari yang ke-17 ini adalah sebuah warung makan yang terletak tidak jauh dari Warung Nasi Pedas Ibu Andika, Toko Joger, maupun Bandara Internasional Ngurah Rai. Ya, warung makan tersebut bernama Warung Nasi Pecel Bu Tinuk yang terletak di Jl. Raya Tuban, Kuta, Kabupaten Badung. Ada sebuah alasan kuat mengapa Ane mendatangi tempat ini, selain harganya cukup murah, konon katanya nasi pecel yang ada disini merupakan yang terenak di Pulau Bali. Apakah benar begitu? ntahlah... 



Berhubung sebelumnya Ane telah bolak-balik melewati jalan ini, maka Ane sudah tidak dipusingkan lagi dengan jalan yang ada. Seperti biasa, berbekal sebuah alamat dan peta Ane pacu kuda hijau Ane menuju bagian selatan Pulau Bali. Selepas melewati Toko Joger, Ane lambatkan laju roda kuda hijau Ane sambil menengok kekanan dan kekiri. Maklum Ane belum tahu lokasi persisnya.
Tak lama kemudian, beruntung warung yang Ane cari akhirnya ketemu juga. Sebuah papan nama berbentuk persegi panjang berwarna kuning bertuliskan "Nasi Pecel Bu Tinuk" dengan dibagian belakang tulisan tersebut terdapat label "Halal" yang ditulis dalam bahasa arab. Warungnya terletak di sebelah kiri (timur) jalan.



Tanpa basa-basi langsung Ane belokkan kuda hijau Ane ke tempat tersebut. Setelah memarkir kuda hijau Ane, lantas Ane masuk kedalam. Beginilah kondisi warungnya, ruangannya tak begitu luas dengan sebuah etalase makan terpasang memanjang. Pun demikian juga dengan suasananya, suasananya cukup sepi hanya ada bebarapa orang saja yang sedang berkunjung.



Tanpa mengambil tempat duduk terlebih dahulu, Ane langsung menuju kedepan dan memesan apa yang hendak Ane santap. Awalnya Ane kira warung ini hanya menjual nasi pecel saja, ternyata tidak. Ada banyak pilihan menu yang tersedia diantaranya nasi rames, rawon, sop buntut, dan beraneka macam lauk. Agak bingung juga sieh Ane dalam memilihnya, tapi berhubung disini adalah tempat dijualnya nasi pecel tentu pilihan Ane langsung jatuh pada menu tersebut. Sebagai tambahan lauknya Ane memilih paruh sapi, sedangkan untuk minumannya sebotol air minum cukup menghilangkan rasa dahaga Ane hari ini. Semua makanannya disajikan di piring rotan beralaskan kertas minyak dan langsung diberi kartu harga makanan. Dikartu tersebut tertulis harga sebesar 32k, Ane tidak tahu apakah harga ini sudah termasuk minumannya atau belum.



Setelah mendapatkan seporsi nasi pecel bersama lauknya serta air minum, barulah Ane mengambil tempat duduk. Ada banyak pilihan posisi tempat duduk yang dapat Ane pilih, karena masih banyak tempat duduk dalam keadaan kosong. Tempat duduk di pojok bagian depanlah yang akhirnya Ane pilih. Soal isinya, sepiring nasi pecel ini terdiri dari tauge/kecambah, daun kenikir, daun kemangi, 2 biji peyek, nasi, dan tentunya sambal kacang. Untuk sambal kacangnya cukup kental dan tak terlalu encer.




Lalu bagaimanakah dengan rasanya? hmmm cukup lezat, sambal kacangnya cukup kental dan tak terlalu encer walaupun tidak terasa pedas. Sayur yang digunakan pun masih fresh, peyeknya juga renyah. Lengkap sudah dengan hadirnya paruh sapi yang digoreng menambah kenikmatan Ane dalam menyantapnya. Dua kata deh sob untuk semuanya,"Wuenak tenan".




Untuk itu tak habiskan
Soal harga, ternyata harga yang tertera di kartu ini belum termasuk dengan sebotol air minum. buktinya ketika Ane membayarnya uang yang harus Ane keluarkan sebesar 39k. Itu artinya sebotol air minumnya sendiri dibanderol dengan harga 7k saja.
Let's Go

Minggu, 03 Desember 2017

Ngerujak di Warung Men Runtu

Setelah membeli beberapa biji kaos dan sepasang sandal buat oleh-oleh di Pasar Seni Sukawati, perut Ane merasa keroncongan. Maklum sekarang sudah menunjukkan pukul 2 siang sehingga sudah saatnya untuk makan siang. Disekitar Pasar Seni Sukawati sieh katanya ada sate lilit yang rekomended sekali buat dicoba, namanya Sate Lilit Ikan Tenggiri Pak Komang. Tapi, ketika Ane cari-cari tuh tempat ternyata hasilnya nihil alias tidak ketemu. Yasudah akhirnya Ane memutuskan untuk pulang saja ke Kota Denpasar.


Dalam perjalanan pulang menuju Kota Denpasar Ane tak sengaja membaca sebuah tulisan di papan gapura yang sangat menggelitik. Tulisan tersebut bunyinya seperti ini "Br. Tempek. Taman Palekan". Br jelas kependekan dari kata "Banjar" setara dengan dusun atau kampung, kalau Taman Pelakan tow tentu hanya sebuah taman. Nah ituloh tulisan "Tempek" nya, bagi Ane cukup menggelitik karena dalam bahasa jawa mengandung arti yang agak kurang pantas untuk diucapkan karena mengandung arti "alat kelamin wanita". Mungkin artinya akan berbeda bila diucapkan dalam bahasa Bali, mungkin dalam bahasa Bali kata ini merupakan sebuah kata yang biasa dan tidak mengandung arti yang kurang pantas untuk diucapkan. Entahlah!


Jarak Kota Denpasar dari Pasar Seni Sukawati tidaklah jauh yakni sekitar 10 Km saja melalui Jl. Raya Celuk dan Jl. Raya Batubulan, sehingga tak sampai 30 menit Ane sudah memasuki Kota Denpasar. Saat memasuki Kota Denpasar, tiba-tiba Ane kepikiran untuk kulineran lagi. Biasanya sieh kalau tidak ada rencana buat kulineran, begitu perut sudah keroncongan Ane langsung saja mampir di warung makan pinggir jalan dengan catatan warung tersebut halal. Tapi kali ini tidak, di kota ini ada sebuah warung makan yang belum Ane cicipi, warung makan tersebut bernama Warung Men Runtu yang terletak di Jl. Sekuta No. 32C, Sanur. Berdasarkan beberapa informasi yang Ane dapatkan kalau warung ini buka dari jam 12 siang hingga 7 malam. Klop bila sekarang saatnya Ane menuju kesana. Sebenarnya ada yang membuat Ane malas sob, letaknya ituloh berada agak dalam jauh dari jalan raya. Tapi apa boleh buat, pumpung masih di Bali akhirnya Ane mengunjungi tempat tersebut.
Bagi Ane warung ini cukup rumit untuk ditemukan, maklum baru kali ini Ane menginjakkan kaki di gang-gang kecil Pulau Bali. Sudah setengah jam Ane mencarinya, beruntung warung yang Ane cari akhirnya ketemu juga. "Warung Men Runtu", itulah sebuah tulisan yang yang ada di sebuah plank berwarna hitam terletak di kanan (barat) jalan.


Tak ada lahan parkir yang memadai, semua kendaraan terparkir dipinggir jalan sehingga memakan sebagian badan jalan. Setelah memarkirkan kuda hijau Ane, lantas Ane masuk kedalam. Warungnya cukup sederhana dengan meja dan kursi terpasang dengan rapi. Meja kursi yang memiliki desain biasa terpasang didalam ruangan, sedangkan meja kursi yang memiliki desain yang tak cukup biasa terbuat dari batuan keramik terpasang diluar ruangan.


Awalnya memang Ane sudah penasaran dengan tempat yang satu ini, tapi rasa penasaran itu bertambah saat Ane datang langsung kesini dan melihat begitu banyaknya pengunjung yang datang memadati tempat ini, hampir semuanya berasal dari kalangan anak muda. Padahal warung ini belum lama berdiri yakni tahun 2015, lalu apa sih yang istimewa dari menu-menu yang ditawarkan oleh tempat ini? dan seberapa enak menu-menu tersebut? Tentu rasa penasaran ini dapat Ane jawab setelah Ane merasakan sendiri menu-menu yang ada. Karena Ane hanyalah seorang diri maka sebenarnya Ane ingin sekali duduk didalam. Tapi apa boleh buat, semua tempat sudah diduduki dan yang tersisa tinggal sebuah kursi yang ada di sebelah kanan warung, itupun diluar ruangan. Okelah, kalau begitu duduk saja Ane disini.


Diatas meja sudah ada sebuah kertas pemesanan yang dapat Ane gunakan, selain itu daftar menu yang dapat Ane baca. Ada banyak menu yang tersedia, semua menunya benar-benar khas dan jarang ditemukan di luar Pulau bali. Rujak kuah pindang, rujak colek, bulung boni, sayur cantok, tipat cantok, tipat plecing, dan lain sebagainya. Setelah membaca-baca, akhirnya Ane memutuskan untuk makanannya Ane pesan rujak kuah pindang gula Bali dan bulung boni campur. Sedangkan untuk minumannya Ane pesan es cincau saja.

Daftar menu makanannya
Daftar menu minumannya
Saat sampai didepan, Ane dikasih tahu kalau menu bulung boninya sudah habis dan tinggal rujak kuah pindangnya saja. "Atau mau ganti menu lainnya?", begitulah timpal salah satu pelayannya kepada Ane. Tanpa fikir panjang Ane tetap memesannya yaitu seporsi rujak kuah pindang saja. Rupanya disini kesabaran Ane benar-benar diuji. Untuk menunggunya saja waktu yang Ane perlukan sekitar 3/4 jam. Tapi nggak apa, karena sepulangnya dari sini sudah tak ada jadwal untuk ngelayap lagi. Dan sekarang semua pesanan sudah ada dihadapan Ane, sepiring rujak kuah pindang dan segelas es cincau.


Secara penampilan, rujak ini terbilang unik. Seporsi rujak berisi irisan dari berbagai macam buah segar yang diberi sedikit kuah berwarna kecokelatan. Buah apa saja ya ini? setelah Ane cicipi dan rasakan ternyata buah-buah tersebut diantaranya ada buah mangga, bengkuang, kedondong, timun, dan nanas. Tak hanya pada buahnya saja yang terasa segar, tetapi kesegaran juga terjadi pada kuahnya. Kuahnya ituloh gurih dan pedas banget. Tak heran bila Warung Men Runtu ini selalu dipadati oleh para pengunjung. Selain pecinta rujak, Ane rasa juga penyuka rasa pedas wajib pokoknya datang kesini. Pas bila rasa pedas dipadu dengan rasa dingin. Segelas es cincau sudah cukup mampu meredamkan rasa yang amat pedas ini dan juga menghilangkan rasa dahaga Ane. Dua kata untuk ini semuanya "Wuenak tenan, Le leduk".




Untuk itu tak habiskan semuanya
Soal harga tak perlu membuat Ane khawatir. Dari awal Ane sudah tahu kalau semuanya uang yang harus Ane bayarkan hanya sebesar 14k saja, dengan rincian sepiring rujak kuah pindang gula bali 8k dan segelas es cincau 6k. Gimana, tertarikkah sobat buat mencicipinya? kalau tertarik bisa deh sob langsung meluncur ke tempatnya. Sampai Jumpa!
Let's Go

Jumat, 24 November 2017

Belanja Oleh-oleh di Joger Bali dan Pasar Seni Sukawati

Setelah sarapan pagi di Warung Jerman, Ane galau hendak mau kemana lagi Ane ini. Ane lihat di buku daftar kunjungan Ane semua tempat wisata sudah Ane jelajahi, hanya menyisakan wisata kuliner saja. Kan nggak mungkin habis makan terus makan lagi, bisa-bisa perut ini meledak, :-). Ditengah kebimbangan itu tiba-tiba muncul ide Ane untuk wisata belanja saja. Seharusnya wisata belanja ini Ane rencanakan sehari sebelum kepulangan ke Jogja, tapi apa boleh buat selagi ada waktu yang kosong kenapa tidak? jugaan kalau lebih cepat kan lebih baik dan bisa menghemat pengeluaran.
Sebagai daerah pariwisata, tentu Bali mempunyai banyak tempat belanja yang dapat Ane singgahi. Tapi, diantara banyak tempat belanja tersebut ada beberapa tempat belanja yang cukup terkenal dan masuk dalam daftar kunjungan Ane diantaranya Krisna Oleh-oleh Khas Bali, Joger Pabrik kata-kata, dan Pasar Seni Sukawati. Berhubung Krisna Oleh-oleh Khas Bali sudah Ane sambangi saat baru saja tiba di Bali, maka kali ini Ane akan menyambangi yang duanya lagi.



Tempat belanja yang akan Ane tuju pertama kali adalah Joger yang terletak di Jl. Raya Kuta. Sudah beberapa kali Ane lewat didepannya, baik itu saat kulineran di Warung Nasi Pedas Ibu Andika maupun mengunjungi obyek wisata Pantai Legian. Sehingga tak perlu lagi Ane pusing-pusing mencari keberadaannya. Ada banyak alasan mengapa Ane mendatangi tempat ini, selain tempatnya yang unik dan berbeda juga produk-produknya yang nyeleneh dengan kata-kata yang aneh tur kualitas barangnya terbilang sangat bagus. Kedatangan kali ini sebenarnya bukanlah kali pertama bagi Ane. Iya, Dahulu Ane pernah datang kesini saat ikut study tour SMA dan Ane membeli sebuah kaos berwarna orange. Setelah sampai dirumah ternyata kaos yang Ane beli kebesaran dan yang memakainya sekarang adalah Ibu Ane. Saat dicuci sekian tahun kaos tersebut terlihat sama saja dengan kondisi awalnya, tidak luntur, tebal, dan enak dipakai. dari situ Ane berfikiran kalau suatu saat ke Bali lagi Ane mau beli lagi kaos produk dari Joger. Sekarang Ane keturutan, saat inilah waktu yang tepat buat membelinya.
Ane sudah tidak kaget lagi dengan tokonya. Dibagian depan, banyak terdapat kata-kata lucu dan unik namun mengandung pesan yang sangat berarti bagi setiap pengunjung yang datang. Ada kata "Ini tembok Joger bukan tembok berlin" tertulis ditembok sebelah selatan. Sedangkan dibagian bawahnya tertulis "Belanja tidak belanja tetap Thank You!".



Joger hanya ada di Bali saja, maka tak heran bila saat Ane mau masuk harus mengantri dulu bak seperti mengantri sembako murah apalagi gratis, :-). Ada tempat penitipan barang terletak persis didepan sebelah kanan pintu masuk. Setelah menitipkan tas dan jaket, lantas Ane bergegas masuk kedalam. Kini Ane dapat membeli apa yang perlu Ane beli. Didalam tidak diperkenankan foto-foto, selain itu di beberapa sisi dinding terpajang tulisan-tulisan mengenai toko ini. Ada yang menceritakan tentang sejarahnya hingga wawancara seorang pemilik Joger bernama Joseph Theodorus Wulianadi dengan beberapa media cetak.
Toko ini terdiri dari beberapa ruang, ada ruang khusus yang memajang berbagai macam souvernir seperti mug, gantungan kunci, tas, sandal, dan lain sebagainya; ruangan souvernir berupa guci dan pernak-pernik lainnya; dan juga ruangan khusus yang memajang koleksi T-shirt. Dari sekian ruangan yang ada, ruang pajang T-shirtlah yang paling ramai diserbu pembeli. Ada banyak pembeli sedang memilih-milih pakaian. Berbagai ukuran tersedia, mulai dari SS hingga Xl. Dahulu Ane memilih kaos berukuran M, tapi kebesaran. Agar tak terulang lagi bertanyalah Ane kepada salah satu pelayannya kira-kira ukuran apakah yang pas dan cocok dengan tubuh Ane ini. Sambil melihat tubuh Ane, beliau menjelaskan kepada Ane kalau ukuran kaos disini berbeda dengan ukuran kaos pada umumnya. "Kita naikkan satu ukuran", tukasnya. Artinya ukuran S disini sama dengan ukuran M kaos pada umumnya, sedangkan ukuran M sama dengan ukuran L. Beliau menyarankan kepada Ane kalau sebaiknya Ane membeli ukuran S saja. Ane terima saran beliau dan saatnya sekarang Ane menentukan kaos model dan jenis apa yang hendak Ane pilih.


Mobil Joger yang pas kebetulan lewat didepan Ane
Tak di tokonya, di mobilnya juga didesain seperti ini
Setelah memilih-milih baik dari segi warna maupun tulisannya, pilihan Ane jatuh pada kaos berwarna abu-abu dengan dibagian depan bertulisan "One spesial night in Bali", sex memang menyenangkan, tapi toh bukan hanya untuk bersenang2 saja dan bergambarkan 2 pasang telapak kaki yang sedang bersama sebanyak 6 kotak. Sedangkan dibagian belakang kaosnya bertuliskan tentang cinta. Begini bunyinya.
"Cinta eros tanpa sex sebenarnya sama saja dengan jika kita menyantap masakan sehat, tapi hambar karena tanpa bumbu. Tapi sebaliknya kalau sex saja tanpa cinta, sebenarnya sama saja dengan kita mengunyah bumbu-bumbu atau rempah-rempah yang pedas-pedas saja, tapi tanpa bahan masakan yang bergizi sama sekali". Inilah keunikan yang dimiliki oleh Joger, kata-kata lucunya ada disebagian besar produknya.



Dari segi harganya memang kaos-kaos ini terbilang agak mahal dibandingkan dengan kaos-kaos pada umumnya, namun tetap saja toko ini tak pernah sepi dari serbuan para pembeli. Sebenarnya sieh selain kaos, ada juga produk lain yang berada disini, diantaranya ada udeng, baju, jaket, celana, dan lain sebagainya. Setelah mendapatkan kaos yang Ane inginkan, lantas Ane berkeliling-keliling lagi. Tak lama kemudian ada sebuah benda yang berhasil menarik perhatian Ane untuk membelinya yaitu sebuah gantungan kunci bermerk Joger dengan kata-kata uniknya sebagai berikut. "Joger adalah pabrik kata-kata ketiga didunia, karena pertama tidak pernah ada, dan yang kedua juga tidak kecuali kalau sudah ada yang mulai mengada-ngada", hahaha.



Untuk dua produk ini Ane harus membayarnya 102k dengan rincian 92k untuk kaosnya dan 10k untuk gantungan kuncinya. Khusus untuk gantungan kuncinya, Ane meminta kepada kasirnya untuk tidak usah dibungkus. Tapi apa sob yang Ia bilang? dengan ramahnya Ia bilang barang sekecil apapun yang dibeli dari outlet ini harus dibungkus. Mantabe' betul!



Berhubung produk disini terbilang mahal bagi Ane yang hanya anak kost-kostan saja, Ane memikirkan untuk membawa oleh-oleh bagi adik-adik Ane tapi dengan harga yang cukup ekonomis. Sama halnya dengan Joger yang telah Ane sambangi beberapa tahun lalu, tempat inipun demikian. Ya, tempat tersebut bernama Pasar Seni Sukawati.

Pasar Seni Sukawati
Keluar dari Joger, Ane geber kuda hijau Ane menuju kesana. Pun demikian dengan tempat ini, Ane sudah tak dipusingkan lagi dengan jalan yang ada. Beberapa kali Ane telah melewatinya. Entah saat Ane menuju ke Ubud atau saat menuju ke bagian timur laut Bali baik itu ke Kabupaten Gianyar maupun ke Kabupaten Bangli.
Biasanya kalau pagi-pagi sekali Pasar Seni Sukawati yang menjual berbagai macam souvernir ini belum buka, yang buka hanya yang menjual berbagai macam jenis bahan sayur-mayur saja. Berhubung kali ini Ane kesini pas siang hari maka tak heran bila tempat parkir sudah dipenuhi oleh kendaraan bermotor.



Setelah memarkirkan kuda hijau Ane, Ane lihat-lihat dahulu dibagian depan pasar. Barangkali ada kaos yang cocok buat di beli. Ada sebuah syarat yang Ane berlakukan pada souvernir yang akan Ane beli nanti yaitu ada tulisan Bali Nya. Selain kaos tujuan Ane kesini adalah beli sepasang sandal buat adik kandung Ane. Dia berpesan kalau oleh-olehnya jangan kaos melulu, soalnya setiap pergi keman gitu Ane selalu membawakan untuknya sebuah kaos dengan bertuliskan nama daerah tersebut. kali ini Ane berencana membawakan sepasang sandal saja.
"Ini mas kaos 40 ribu saja, 100 ribu dapat 3", begitulah suara yang Ane dengar dari setiap penjual yang Ane lewati didepannya.
Satu dua kali Ane mengabaikannya hingga akhirnya Ane mencoba mampir sebentar disalah satu los dekat tempat parkir. Ane tawar-tawar akhirnya kena 40 ribu dapat 3 biji. Harga produk yang dipasarkan di Pasar Seni Sukawati ini memang terkenal akan harga murahnya bagi yang pintar nawar. Sebenarnya Ane sendiri sieh tidak pintar nawar, cuman ada barang Ane tawar sekian kalau tidak boleh ya langsung pergi ke tempat lain. Berbeda dengan kaos, dalam penawaran sandalnya terbilang tidak lancar. Sandal yang ditawarkan dengan harga 30 ribu Ane tawar 12 ribu, tak dikasih. Yasudah!



Pindah ke tempat lain, selain kaos dan sandal sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah berbagai macam souvernir dan barang-barang seni kerajinan khas Bali. Ada lukisan-lukisan cantik, gantungan kunci, wewangian, baju, hingga cemilan. Pokoknya komplit dah. Setelah agak lama berkeliling akhirnya Ane mampir lagi disalah satu los didalam pasar. Sama seperti saat awal menawar sandal, sandal dengan jenis dan motif yang sama tetap saja tak boleh Ane tawar dengan harga 12k dan setelah melalui proses tawar-menawar yang cukup alot akhirnya sandal tersebut boleh Ane bawa pulang dengan harga 15k. "Nggak apa-apalah yang penting dapat", fikirku.




Barang yang Ane cari sudah ada ditangan. Berhubung perut sudah mulai lapar maka setelah keluar dari sini segera Ane langkahkan kaki mencari sebuah warung. kira-kira warung mana lagi ya yang makanannya enak buat dicicipi?
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me