Minggu, 08 Oktober 2017

Jukut Undis Sanur, Masakan Bali Khas Buleleng

Selepas mengunjungi Pura Langgar, Ane bingung mau kemana lagi. Pasalnya sebagian besar obyek wisata yang ada didekat Pura Langgar tepatnya di Kabupaten Bangli ini sudah Ane kunjungi. Misalnya saja Desa Penglipuran maupun Pura Kehen. Setelah berfikir agak lama akhirnya Ane memutuskan untuk kembali saja ke Kota Denpasar. Tapi, rugi donk sob kalau pulang ke Kota Denpasar langsung menuju penginapan. Secara, hari belumlah siang dan obyek wisata yang ada di Kota Denpasar sendiri belum semua terjelajahi, maka dari itu disini Ane menuju Kota Denpasar untuk melanjutkan petualangan Ane menjelajahi tempat-tempat yang belum Ane jelajahi.
Petualangan selanjutnya yang akan Ane lakukan adalah mencari masakan khas Bali yang khas banget tetapi tetap saja halal karenakan Ane ini muslim jadi ya tetap ingat sama apa yang diperbolehkan atau tak diperbolehkan untuk dimakan menurut agama Ane. Salah satunya Jukut Undis, masakan yang satu ini memang agak sulit untuk ditemukan. Menurut informasi yang beredar bahwa warung yang menyajikan masakan ini ada disekitaran sanur, maka menujulah Ane kesana. Apa yang terjadi saudara-saudara? ternyata zonk. Jangankan Ane, lawong tanya sama petugas parkir Pantai Sanur saja tidak tahu. Yasudah akhirnya Ane cari sendiri tuh warung.


Cukup lama sudah Ane menelusuri Kota Denpasar bagian timur ini. Kurang lebih sekitar 3/4 jam dan syukur, usaha Ane rupanya tak sia-sia. Secara tak sengaja Ane membaca sebuah spanduk yang bertuliskan "Warung Jukut Undis masakan Bali khas Buleleng spesial ayam" disebelah kanan jalan (dari pusat Kota). Mungkin warung ini pindahan dari Sanur yang beralamat di Jl. Hangtuah, karena dalam spanduk tersebut tertera demikian. Sementara warung yang Ane coba sekarang beralamatkan di Jl. Danau Buyan 42 A-Sanur.
Warungnya cukup bersih namun sepi, hanya ada beberapa tempat duduk saja yang tersedia. Terlihat seorang pengunjung sedang menikmati menu masakannya. Dibagian depan warung terlihat sebuah patung ganesha kecil sedang duduk diatas gemerciknya air berhiaskan bunga seolah-olah menyapa setiap para pengunjung yang datang. Setelah memarkirkan kuda hijau Ane, lantas Ane masuk kedalam. Tanpa berfikir panjang langsung saja Ane memesan satu porsi masakan Jukut Undis.


Dengan gesitnya Sang Pelayan pun melayani Ane. Tak sampai 10 menit makanan yang Ane pesan sudah ada dihadapan Ane. Sementara untuk minumannya, sebotol aqua kecil sudah cukup untuk menghilangkan rasa dahaga. Disini Ane bingung, la mana yang dinamakan dengan Jukut Undis? lawong menu yang tersedia hanya berupa nasi campur saja dan semangkok kecil berisi makanan menyerupai kacang tenggelam dalam kuah berwarna kecokelatan.



Ane hanya menduga mungkin semangkok kecil inilah mengapa makanan ini dinamakan dengan Jukut Undis. Tapi sob, Ane tetap saja tidak plong kalau belum tanya kepada pelayannya mengenai mana yang dinamakan dengan Jukut Undis. Ternyata dugaan Ane benar, Sang Pelayan tersebut mengatakan kalau dalam semangkok kecil inilah mengapa makanan ini dinamakan dengan Jukut Undis. "Ini mas yang dinamakan Jukut Undis, kacang undis yang diolah menjadi sup dan diberi bumbu-bumbu", timpalnya.


Tampilannya itu mirip dengan "kacang tholo (dalam bahasa Jawa)", cuman bentuknya saja agak bulat dan besar. Disinilah rasa penasaran Ane muncul, lalu bagaimanakah dengan rasanya ya? ternyata rasanya enak dan lembut dimulut. Pada kuahnya rasanya itu sedikit asin, gurih, dan sedikit asam. Bila dibandingkan dengan kacang tholo maupun kacang tanah, kacang undis ini terasa lebih lembut.


Semakin nikmat lagi semangkuk kecil Jukut Undis ini Ane santap bersamaan dengan nasi campur khas Bali. Untuk nasi campurnya, seporsi nasi camupur ini terdiri dari sambal bongkot, abon ayam, sayur tempe, ayam suwir, ayam bumbu merah, sayur urap, dan bayam. Rasanya hmmm sangat enak sekali. Sambalnya cukup pedas, begitupula daging ayamnya yang cukup lunak. Tak berlebihan bila Ane memberi dua jempol karena ini semua "Wuenak Tenan, Le Leduk".




Selain makanannya yang lezat, juga harganya sangat bersahabat dengan kantong. Seporsi Jukut Undis tentu dengan nasi campur dan sebotol air aqua hanya dibanderol dengan harga 20k saja. Dengan rincian jukut undis dan nasi campurnya seharga 15k dan sebotol aqua seharga 5k.


Gimana sob, tertarikkah buat mencicipinya? hmmm kalau tertarik, sobat bisa langsung capcus menuju kesini. Agar tak kecewa ketika sampai disini mungkin dikarenakan warungnya belum buka atau sudah tutup, sobat bisa menghubunginya terlebih dahulu. Berikut No. Telpnya: 081 239 402 29
Jam Buka : 09.00 - 16.00 Wita
Let's Go

Selasa, 19 September 2017

Yuk, Liburan ke Kota Malang dan Sekitarnya

Sebagai seseorang yang sudah lama tinggal di Pulau Jawa dan mempunyai hobi jalan-jalan, Ane sudah tak asing lagi dengan yang namanya Kota Malang. Tercatat sudah dua kali Ane datang kesini. Pertama pada tahun 2011, saat itu Ane bersama dengan 4 orang sahabat Ane main-main ke Jatim Park 1. Berhubung kita hanya memiliki waktu libur satu hari saja maka tak ada rencana untuk menginap disini. Dan yang kedua saat Ane bersama dengan tiga orang sahabat Ane lainnya, saat itu kita hanya melintasi saja karena hari sudah semakin sore dan tujuan kita hanyalah satu tempat yakni melakukan pendakian ke Gunung Semeru.
Jujur, saat berada di Kota Malang ini suasana menjadi begitu berbeda. Kotanya cukup luas, bersih dengan hawa udara yang cukup fresh. Ane sempat tergoda dengan semua apa yang dimiliki oleh kota ini, tempat-tempat wisatanya yang cukup menarik serta infrastruktur jalannya pun sudah teraspal dengan baik. Tapi apa boleh buat, di dua kali kedatangan ini tak memungkinkan bagi Ane untuk mengeksplorer lebih jauh. So, Ane hanya bisa bermimpi dan berencana agar suatu saat nanti Ane bisa mengunjungi lagi kota ini.
Awalnya Ane berencana hanya mengunjungi beberapa tempat saja yang cukup terkenal dan menarik, tapi niatan Ane tersebut sepertinya pupus karena semakin kesini Kota Malang semakin bersolek dan menampilkan lebih banyak tempat-tempat wisata baru yang tak kalah pamornya dengan tempat-tempat wisata yang sudah mempunyai nama sebelumnya. Berikut tempat-tempat wisata menarik yang ada di Kota Malang dan sekitarnya yang sudah masuk dalam daftar rencana kunjungan wisata Ane.

Jatim Park 1 dan 2

Walaupun Ane sudah pernah datang kesini sebelumnya tetapi Ane masih merasa penasaran dengan tempat yang satu ini. Banyak wahana wisata yang belum Ane coba sehingga tak salah bila Ane memasukkan lagi tempat ini sebagai destinasi yang akan Ane kunjungi lagi. Apalagi datang kesini bersama keluarga tentu akan lebih mengasyikkan lagi karena sepertinya tempat wisata ini memang didesain sebagai tempat berlibur bersama keluarga.

Museum Angkut
Sumber: https://jtp.id/museumangkut/
Saat mencari-cari informasi tentang museum angkut ini ingin rasanya Ane segera menginjakkan kaki disini. Bagaimana tidak, sebagai seseorang yang dilahirkan didaratan Asia tentu ingin rasanya merasakan suasana yang berbeda. Ane sendiri ingin rasanya berada seperti di Eropa maupun di Inggris. Nah, untuk mencapai cita-cita Ane tersebut Ane tak perlu benar-benar pergi ke Benua Eropa maupun negara Inggris tapi cukup mengunjungi Museum Angkut yang ada di Kota Batu ini. Menarik bukan?

Pantai Balekambang
Sumber: www.ombonejagad.com
Tempat-tempat wisata lainnya yang telah berhasil membuat Ane penasaran adalah pesona Pantai Balekambang. Konon katanya pantai ini mirip dengan Tanah Lot yang memiliki pura diatas pulau karang. Apakah benar begitu? ntahlah, yang jelas Ane sudah pernah berkunjung ke Tanah Lot dan ingin rasanya juga berkunjung ke Pantai Balekambang ini.

Taman Rekreasi Selecta
Sumber: www.malang-guidance.com
Taman Rekreasi Selecta terkenal dengan taman bunganya. Disini terdapat banyak sekali bunga-bunga yang beraneka ragam dan macam-macam jenisnya yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Walaupun Ane seorang laki-laki tapi Ane mempunyai sifat penyayang sehingga pas bila datang kesini bersama kekasih. Eh emang ada hubungannya? Enggak juga, hehehe.

Kampung Jodipan
Sumber: www.deska.id
Tempat terbaru yang juga lagi ngehitz sekarang-sekarang ini adalah Pesona Kampung Jodipan. Kampung ini awalnya dikenal sebagai kampung yang kumuh, kini dengan sentuhan seni dari Komunitas Guyspro kampung ini menjadi kampung yang menarik untuk dikunjungi. Warna-warni cat mendominasi kampung ini mulai dari tembok hingga atapnya. Ada banyak spot yang menarik wisatawan untuk mengabadikan momennya mulai dari Jembatan Embong Brantas, Lorong Payung, tangga warna-warni dan lain sebagainya.
Didalam merencanakan liburan, tentu Ane tak hanya fokus pada tempat-tempat wisatanya saja tetapi juga fokus pada akomodasinya. Rugi donk sob kalau berkunjung ke Kota Malang hanya dalam satu hari saja. Untuk itu mulailah Ane hunting tiket pesawat dan hotel. Selama ini kan biasanya terpisah antara memesan tiket pesawat dengan booking hotel sehingga cukup menghabiskan banyak waktu. Setelah cek harga tiket dan hotel sana-sini, ternyata ada lho sob perusahaan yang menyediakan layanan pemesanan tiket dan hotel dalam satu paket yakni Traveloka. Lalu Ane mencoba untuk menggunakan layanan ini, setelah Ane coba ternyata layanan ini cukup mudah digunakan dan menghemat banyak waktu. Tak hanya itu, dalam pembayaran pun harganya lebih murah dibandingkan dengan memesan tiket dan hotel secara terpisah (Kan lumayan sisa uangnya bisa Ane gunakan untuk kulineran atau ditabung buat merencanakan liburan selanjutnya), serta cara pembayarannya pun terbilang cukup mudah karena sudah tersedia banyak metode pembayarannya.


Tidak percaya? sobat bisa buktikan sendiri benefitnya dan untuk lebih jelasnya bisa dilihat disini.
Sampai Jumpa!
Let's Go

Rabu, 30 Agustus 2017

Pura Langgar Bangli, Pura Unik yang Ada Bangunan Mushollanya

Hari masih pagi didukung dengan cuaca yang sangat cerah, Selepas mengunjungi Pura Kehen Ane lanjutkan lagi perjalanan Ane menuju ke sebuah obyek wisata lainnya. Masih berkaitan dengan pura, ada sebuah pura lagi yang cukup unik kedengarannya bagi Ane, mungkin tak hanya Ane tetapi juga bagi siapa saja yang mendengarnya. Pura tersebut bernama Pura Langgar yang terletak di Desa Bunutin, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali.



Sebenarnya sieh ini bukanlah kali pertama Ane mengunjungi pura ini, melainkan sudah kedua kalinya. Saat itu pulang dari Desa Penglipuran Ane mampir sebentar, tapi apa boleh buat Ane tak berhasil memasukinya dikarenakan pemangku yang ada di pura ini sedang tidak berada ditempat. Saking penasaran dengan pura tersebut akhirnya Ane mendatanginya lagi dilain hari dan hari inilah rencana Ane tersebut terlaksana.
Dari Pura Kehen Ane pacu kembali kuda hijau Ane kearah selatan menuju Pura Langgar. Tentulah saat menuju pura tersebut Ane melintasi Kota Bangli. Kesempatan inipun lantas tidak mau Ane lewatkan begitu saja. Ane menyempatkan diri sebentar untuk mengelilingi kota ini. Ya, Kota Bangli ini tidaklah begitu luas, saking tidak luasnya dengan mudah Ane dapat menemukan pusat kotanya. Sebuah lapangan yang cukup luas dengan disamping sisinya berdiri gedung-gedung perkantoran. Selain itu sebuah patung dan monumen berdiri disini. Hari masih pagi sehingga banyak para penduduk yang sedang melakukan aktifitasnya terutama anak sekolah yang sedang berolahraga. Puas bersantai-santai disini, Ane kendarai kuda hijau Ane kembali ke tujuan utama Ane.


Patung yang ada disekitar lapangan
Monumen perjuangan Kapten TNI Anak Agung Gede Anom Mudita

"Pura Dalem Jawa (Langgar)", begitulah sebuah tulisan yang tertera pada papan nama yang Ane baca ketika mendekati lokasi puranya. Dari jalan utama letak pura ini tidaklah jauh, Hanya sekitar 75 meter saja. Melewati perkampungan penduduk akhirnya sampailah Ane dilokasi puranya.
Sama seperti kemarin, pura ini terlihat sepi tanpa penjaga seorang pun. Ane bingung dengan keadaan ini, dijalan utama terlihat dengan jelas kalau pura ini selain sebagai tempat sembahyang juga sebagai obyek wisata. Bukankah setiap obyek wisata itu ada penjaganya? ntahlah yang jelas beginilah suasana yang ada disini. Sepi, tak terlihat seorang penjaga maupun pengunjung pun yang datang, dan terkesan horor.



Tanpa ingin memasuki puranya terlebih dahulu, Ane mencari pengempon/pemangku yang memangku pura ini. Beruntung ditengah jalan Ane bertemu dengan seorang warga sekitar bersama seorang anak sedang mengendarai sepeda motor. Ane bertanya kepada beliau dan tanpa diduga serta dinyana bukanlah sebuah jawaban yang Ane terima tetapi bantuan yang sangat, sangat, sangatlah Ane perlukan untuk saat ini. Beliau parkirkan sepeda motornya dan seorang anak tersebut disuruh menjaganya. Kemudian Ane disuruh mengikuti beliau masuk gang-gang rumah yang cukup sempit, saking sempitnya Ane ragu-ragu memasuki gang-gang tersebut, pasalnya sepanjang gang-gang tersebut terdapat penduduk sekitar yang sedang melakukan aktivitasnya. Setiap kali berpapasan dengan warga sekitar, Bapak ini selalu mengatakan "Om Swastiastu". Mungkin kalau dalam islam sama dengan kata "Assalmu'alaikum Warrahmatullahi wabarakatuh". Hingga akhirnya beliau mengatakan Om Swastiastu tersebut didepan sebuah rumah dengan didepannya sedang ada beberapa orang mengerjakan sesuatu. "Inilah rumah pemangkunya", tukasnya.
Ane kira dari beberapa orang tadi salah satunya adalah seorang pemangkunya, ternyata tidak. Tak lama kemudian muncullah seorang wanita tengah baya dari dalam rumah dan beliau memperkenalkan diri kalau dialah pemangku Pura Langgar, namanya AA Biang Mangku. Sebelum kita menuju ke puranya Ane ditanyai terlebih dahulu beberapa pertanyaan mulai dari asal Ane hingga tujuan Ane mengunjungi Pura Langgar.



Ibunya : Masnya namanya siapa?
Ane    : Anis Hidayah Bu!
Ibunya : Asal dari?
Ane    : Jogja
Ibunya : Sudah berapa lama mas Anis tinggal di Bali?
Ane    : Tepat 2 minggu ini Bu
Ibunya : Eow sudah lama rupanya! Masnya tahu letak pura ini
         darimana?
Ane    : Dari internet Bu, sudah banyak kok Bu yang mengulas tentang
         pura ini.
Ibunya : Lalu tujuan masnya kesini untuk?
Ane    : Wisata saja Bu
Ibunya : Bukan karena tugas dari kampus atau tugas akhir?
Ane    : Bukan Bu, saya kesini murni hanya ingin lihat-lihat keadaan
         pura saja dan tak ada kaitannya dengan kampus.
Ibunya : Baiklah mas, nanti kita bincang-bincang tentang puranya di
         sana saja ya?
Ane    : Baik Bu.
Diapun meminta izin kepada Ane untuk masuk rumah sebentar dan berdandan. Setelah berdandan lantas kita menuju puranya bersama-sama. Ditengah jalan beliau bercerita banyak tentang pura ini. Kebanyakan para pengunjung yang datang kesini berasal dari luar Pulau Bali dan bertujuan ziarah. Selain itu tak jarang pula banyak para mahasiswa yang mendatangi pura ini hanya untuk melakukan penelitian.



Sesampainya di ujung jalan terdapat sebuah jembatan yang membujur melintasi sungai cukup kecil. Sang Ibupun mengatakan kepada Ane kalau kita sebaiknya lewat sini saja. Anepun mengikutinya, lantas setelah melewati sebuah pintu masuk sampailah kita dihalaman dalam pura. Ibunya dengan lincah menjelaskan kepada Ane setiap apa-apa yang ada didalam pura ini.
Bangunan pertama yang dikatakan kepada Ane adalah sebuah bangunan bale berlantai keramik dengan dipojoknya terdapat karpet berwarna hijau. Bangunan ini dapat digunakan oleh setiap para pengunjung yang datang khususnya beragama islam untuk sholat. Nah, inilah salah satu keunikan yang dimiliki pura ini. Biasanya yang namanya pura pastilah hanya diperuntukkan untuk sembahyang bagi pemeluk agama Hindu saja, tetapi disini tidak.



Memasuki area selanjutnya pandangan Ane langsung tertuju pada sebuah bangunan yang cukup besar berdiri ditengah-tengah. Inilah kenapa pura ini dinamakan Pura Langgar. Bentuk bangunannya persegi empat mirip dengan musholla/langgar tempat ibadahnya umat Muslim dan disetiap sisinya terdapat sebuah pintu masuk. Ketika Ane bertanya kepada AA Biang Mangku apakah Ane diperbolehkan untuk memasukinya? jawaban beliau tidak. "Jangankan pengunjung yang datang, seorang warga sekitar pun tak boleh memasukinya kecuali saya", katanya. Alasan mengapa hanya saya saja yang boleh memasukinya? lanjut dia bahwa dia sudah disucikan dengan melakukan serangkaian upacara agama terlebih dahulu.



Dia menjelaskan kalau dia sudah mengurusi pura ini sejak lama dan dia telah mengikuti segala peraturan yang berlaku secara turun-temurun. Salah satu aturan yang Ia lakukan adalah tidak pernah makan daging babi sekalipun karena Ia adalah seorang pemangku pura. "Tetapi kalau daging sapi, diperbolehkan", ucapnya.
Dia bercerita banyak tentang pura ini. Pura ini didirikan sekitar abad ke-16 pada saat itu Raja Bunutin yang bertahta bergelar Wong Agung Wilis. Kala itu pewaris Sang Raja, yakni Ida I Dewa Mas Blambangan mengalami sakit keras yang aneh. Tak ada satupun tabib maupun warga yang mampu mengobatinya. Bertapalah Sang Raja Wong Agung Wilis tersebut, dari hasil pertapaannya itu beliau mendapatkan bisikan berupa perintah untuk membangun pelinggih berbentuk langgar.



Awalnya rencana ini tidak berjalan dengan lancar karena keluarga dan saudara-saudara raja menolak dengan keras. Salah satunya Ibu kandung beliau. Maka dari itu disini dibangulah sebuah bangunan yang diletakkan ditengah kolam. Iya, pura ini dikeliling oleh sebuah kolam yang ditumbuhi banyak teratai. Namun karena Raja Wong Agung Wilis yakin dengan bisikan tersebut, akhirnya dia tetap membangun pelinggih tersebut dan saudara-saudaranya tersebutpun banyak yang meninggalkan Bunutin.



Setelah beliau membangung pelinggih berbentuk langgar, apakah yang selanjutnya terjadi? ternyata penyakit Ida I Dewa Blambangan sembuh. Raja Bunutin pun meyakini bahwa kesembuhannya Ida I Dewa Blambangan karena pelinggih ini. Sejak saat itu pura ini semakin dihormati oleh semua warga. Kendati demikian pelinggih ini tetaplah hanya digunakan untuk keperluan persembahyangan umat hindu saja. Sedangkan kalau umat muslim yang ingin melaksanakan shalat, kita sediakan tempat tadi juga tempat wudhu baginya.
Kalau ini merupakan utamaning mandala, nah yang ini merupakan madyaning mandala. Perbincangan kita semakin menarik, ada keunikan lainnya yang cukup menarik mengenai pura ini. Berbeda dengan pura-pura pada umumnya dalam pelaksanaan pemujaan menggunakan daging babi sebagai sesajennya, tetapi disini tidak. Sesajen yang digunakan di Pura Langgar ini adalah daging ayam dan itik. Selain itu, lanjut dia bahwa pura ini pun melaksanakan pemotongan hewan kurban layaknya pemotongan hewan kurban pada Hari Raya Idhul Adha bagi umat islam. Acara pemotongan ini disebut dengan Titi Mama. Hewan yang akan dikurbankan sebelum disembelih diputar-putarkan terlebih dahulu disekitar pelinggih, dan daging yang sudah disembelih dan dipotong-potong selanjutnya dibagikan kepada warga.



Pemandangan indah dapat Ane saksikan saat turun ke bagian terdepan pura/nistaning mandala. Sebuah bangunan wantilan berdiri kokoh cukup besar, sedangkan dibagian belakang bangunan tersebut terdapat kolam yang cukup luas ditumbuhi banyak tumbuhan teratai dengan ditengah dan diseberangnya ada pelinggih. Cantik bener pura ini.


Bangunan wantilan
Kolam yang ada dibelakang bangunan wantilan
Pelinggih yang ada ditengah kolam
Pelinggih yang ada diseberang kolam
Selama didalam tak satupun Ane melihat kotak amal dengan bertuliskan Dana Punia seperti yang pernah Ane lihat di Pura Agung Jagatnatha. Biang Mangku menjelaskan kepada Ane memang pura ini sengaja tidak dipasang kotak-kotak amal seperti yang ada di pura pada umumnya. "Disini tidak ingin pengunjung yang datang merasa terbebani dengan adanya dana punia tersebut, mau berkunjung saja sudah senang", timpalnya. "Toh misalnya para pengunjung tetap ingin memberi dana punia, saya tidak menolaknya", lanjut dia.
Ane merasa tidak enak hati bila tidak memberi dana punia karena sudah ditemani sekaligus mendapatkan banyak informasi darinya, maka dari itu Ane kasihkan dana punia seikhlasnya dan selanjutnya untuk berpamit pulang. Dia berterimakasih kepada Ane dan memberitahukan kepada Ane kalau ingin datang pada saat upacara, datang saja pas ada acara Titi Mama.
Ane hanya manggut-manggut saja, ntah ntar bisa kesini lagi atau tidak. Yang penting sekarang hanya mengiyakan saja apa yang dikatakannya.
Let's Go

Sabtu, 15 Juli 2017

Pura Kehen Bangli, Ada yang Unik Didalamnya

Tak terasa sudah 2 minggu ini Ane berada di Bali. Selama di Bali sudah banyak tempat-tempat wisata yang Ane kunjungi, mulai dari tempat-tempat wisata yang bertemakan budaya, pemandangan alam, hingga kulinernya. Berbicara mengenai budaya, Bali sudah tak perlu diragukan lagi akan eksistensinya. Salah satu contohnya adalah keberadaan Obyek Wisata Pura Kehen yang terletak di Banjar Pekuwon, Desa Adat Cempaga, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli.



Setelah kemarin menjelajah Bali bagian selatan, kini dihari yang ke-15 ini Ane menjelajah Bali bagian tengah agak ke timur mengunjungi tempat tersebut. Dari Kota Denpasar Ane pacu kuda hijau Ane menuju Pasar Seni Sukawati, kemudian berlanjut menuju Kota Gianyar dan saat memasuki Kota Bangli Ane ikuti papan plank yang menuju ke Danau Batur. Ya, jalan menuju Pura Kehen searah dengan jalan menuju Danau Batur. Dan setelah menemukan sebuah patung



Sebuah gapura yang Ane temukan setelah melewati Pasar Seni Sukawati 
Patungnya seperti ini
Ane belok kearah kanan. Hal ini berdasarkan pada sebuah papan plank dan spanduk yang juga mengarah kearah demikian. Tak lama kemudian sampailah Ane dilokasi puranya. Pura Kehen terletak disebelah kiri (utara) jalan dan menghadap kearah selatan. "Pura yang cukup unik dan menarik", itulah kesan pertama Ane ketika menginjakkan kaki disini. Disamping kanan pura terdapat kompleks pertokoan yang belum pada buka, maklum Ane datang kesini kepagian. Jangankan toko, sebuah loket informasi center yang terletak dibagian depan pura pun juga belum buka.




Candi Bentar Pura Kehen yang ada dibagian depan
Loket informasi Center yang terletak diseberang Pura Kehen
Mantab Sob
Terpaksa deh Ane menunggu buka pura ini. Cukup lama Ane menunggu didepan, hingga akhirnya ditengah-tengah Ane menunggu muncul seorang wanita paruh baya menyapa Ane.
Seorang wanita: Mau masuk mas?
Ane           : Iya Bu, tapi belum buka puranya. Kira-kira bukanya
                jam berapa ya Bu?
Seorang wanita: Jam 9 nan mas
Ane           : Eow jam 9 tow Bu?
Seorang Wanita: Iya mas, tapi masuk aja nggak apa-apa mas!
Ane lihat HP Ane dan ternyata waktu baru menunjukkan jam setengah 8 pagi. "Lama juga kalau harus nunggu jam 9 pagi", fikirku.
Ane           : Memang benar-benar nggak apa-apa sekarang saya masuk
                kedalam?



Seorang wanita: Nggak apa-apa mas, masuk saja. Yang penting pakai
                selandang dan sarung ya mas.
Ane           : Baik Bu, sudah ada kok Bu selendang dan sarungnya.
                Ini (sambil menunjukkan kepunyaan Ane kepada ibunya)
Seorang Wanita: Kalau begitu langsung masuk aja mas, silahkan!
Ane           : Baik Bu, terimakasih!
Segera Ane pakai sarung dan selandang Ane, tak lupa juga sebuah udeng kesayangan Ane. Dengan menapaki anak tangga satu persatu, Ane masuk kedalam. Sama seperti pura pada umumnya, Pura Kehen ini terbagi menjadi 3 area yakni nistaning mandala, madyaning mandala, dan utamaning mandala. Hal ini terlihat dari sebuah gambar yang menggambarkan tentang denah pura ini.



Begitu Ane memasuki nistaning mandala, pandangan Ane langsung tertuju pada sebuah titik yang cukup unik. Sebuah pohon beringin yang cukup besar berdiri dengan kokoh dipojok sebelah kanan dengan diatasnya terdapat sebuah bangunan bale yang menempel. Konon katanya pohon ini sudah cukup tua berusia ratusan tahun.


Pohon beringin ini sekilas tampak sama dengan pohon-pohon beringin pada umumnya
Namun setelah melihat keatas
Ternyata ada yang unik yaitu terdapat sebuah bangunan bale yang menempel seperti ini
Berbeda dengan nistaning mandala yang terdapat berbagai macam bale dan palinggih, dibagian  madyaning mandala hanya terdapat 4 buah bangunan saja. Diantaranya Bale Gong Semar Pegulingan, Palinggih Bethara Sakti Mas Ayu Subahdar, Bale Pengungkepan dan Bale Wayang. Tak lama Ane berada disini. Dari sini tampak sebuah meru menjulang tinggi  keatas. Segera Ane langkahkan kaki mendekati meru tersebut, tapi sayang Ane tak bisa mendekatinya karena letaknya yang berada di utamaning mandala.





Sebenarnya sieh Ane bisa masuk kedalam utamaning mandala ini, karena belum ada orang sama sekali disini. Tapi, berhubung Ane tak mau berbuat kurang sopan maka dari pintu masuk inilah Ane melihat seluruh isi yang ada didalamnya. Disana terlihat beberapa meru dengan beragam macam tingkatan, ada yang beratap tumpang 3 dan bahkan ada juga yang beratap tumpang 11. Selain itu diantara semua wilayah yang ada di pura Kehen ini, di utamaning mandala inilah yang paling banyak terdapat bangunannya baik itu berupa bale maupun palinggih. Palinggih-palinggih tersusun secara rapi dari selatan ke utara, dan dari timur ke barat.






Saat menuju keluar pura, Ane melihat sebuah wilayah lagi yang ntah apa fungsi dari wilayah tersebut. Maklum tak ada orang yang bisa Ane tanyai karena yang jaga saja belum berada ditempat. Yang jelas wilayah ini juga terdapat berbagai macam bentuk bangunan, seperti bale, palinggih, dan wantilan.






Maksud hati ingin membayar, tapi apa daya yang jaga belum ada. Sesampainya diluar nampak masih saja loket informasi dalam keadaan kosong, maka dari itu Ane tak membayar tiket masuknya. Hal ini mengingatkan Ane pada kejadian di Pura Tirta Empul. Saat itu Ane tak membayar tiket masuknya. Dari sini Ane dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa berkunjung ke obyek wisata Bali pada pagi hari itu sungguh menyenangkan. Selain udaranya masih sejuk juga bisa gratis masuk obyek wisata.
Hahahaha
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me