Jumat, 27 Mei 2016

Cilok Gajahan, Menguji Kesabaran Untuk Mendapatkannya

Tak berlebihan jika Ane katakan demikian sob, soalnya memang untuk mendapatkannya sendiri para pengunjung termasuk Ane harus rela mengantri hingga berpuluh - puluh menit bahkan bisa saja 1 sampai 2 jam. Cilok Gajahan ini terletak di salah satu sudut Kawasan Alun - alun Selatan Yogyakarta.
Jangan bayangkan kalau Cilok ini di jual oleh sang penjualnya semacam di warung, restoran, atau bahkan di cafe ya sob tetapi Sang Penjual hanya menjualnya menggunakan gerobak dorong. Beruntung Ane tak perlu mengantri dalam waktu yang cukup lama karena sebelum penjualnya datang, Ane pun sudah datang duluan. Sobat sangka berarti Ane langsung dapat antrian pertama? Eits, no no no, karena sebelum Ane datang sudah ada beberapa calon pembeli yang sedang menunggu.



Antrian seperti ini mengingatkanku ketika Ane membeli Gudeg Permata Bu Pujo. Bedanya, kalau di Gudeg Permata Bu Pujo di kasih nomor antrian, disini tidak. Secara penampilan bentuk ciloknya sama seperti cilok pada umumnya. Bentuknya bulat - bulat menyerupai bentuk bakso namun lebih kecil. Cilok di bungkus satu - persatu menggunakan plastik sesuai dengan permintaan para pembelinya, ada yang minta 5 ribuan adapula yang minta 10 ribuan.



Awalnya yang mengantri cuman sedikit, tapi lama - kelamaan banyak juga. Sebenarnya antrian yang panjang tak masalah bila setiap orangnya beli satu atau dua bungkus. Tapi yang menjadi masalah adalah per orangnya tak hanya beli satu atau dua bungkus saja namun lebih dari itu bahkan ada yang pesan sampai 7 bungkus, Gilaaakkk. Ane sendiri hanya beli 3 bungkus saja, dan setiap bungkusnya di hargai 5k saja.
Ada sebuah cerita nieh sob, cerita lucu sekaligus menjengkelkan bagi kita sebagai pembeli yang sudah lama nunggu antrian. Ada seorang ibu - ibu yang langsung aja "ngesuk - ngesuk" di tengah - tengah kerumunan para pengunjung yang lain. Ibu ini bawa seorang anak yang masih kecil, ew dengan PeDenya minta didahulukan daripada pengunjung yang lainnya. Alasannya tahu tidak sob, apa? karena anaknya menangis. Lho setahu kita sebelum datang tuh anak sudah menangis, lakok disini dijadikan modus. Ah nggak bener ini, tapi bapaknya cukup adil dengan entengnya bapaknya bilang kalau kita yang sedang mengantri juga inginnya cepat - cepat dan minta didahulukan. Ane salut dengan bapaknya, prinsipnya siapa yang datang duluan, dialah yang akan segera mendapatkannya. Ane mah hanya tersenyum kecil saja, soalnya tuh pengunjung ibu - ibu reseh sieh, hahaha.


Walaupun pembelinya banyak, hanya seorang dirilah bapaknya melayani para pembelinya. Tampak cucuran keringat membasahi wajahnya. Dengan lihainya beliau membungkusnya satu - persatu, Sebelum dimasukkan kedalam plastik, cilok yang ada di wadah direbus dulu sekitar 5 menit. Bangga rasanya bisa mendapatkan cilok yang Ane inginkan, seperti menjadi pemenang. bagaimana tidak bangga, lawong diantara berpuluh - puluh orang, Ane termasuk salah satu yang mendapatkannya dan tak perlu mengantri lama pula hanya sekitar 30 menitan saja.


Kayak antri sembako
Setelah mendapatkannya, selanjutnya Ane rasakan donk. Bagaimanakah dengan rasanya? hmmm, menurut Ane biasa aja sob sama seperti rasa cilok kebanyakan. Tapi ada rasa yang membuat Ane berbeda yakni rasa pedas sambalnya yang cukup mantab. Mungkin bumbu dari cilok inilah para pembeli rela untuk mengantri.


Ada yang mau?
Jam buka Cilok Gajahan ini dari jam 3 hingga 6 sore. Tutupnya bukan karena apa - apa ya sob, tetapi karena dalam waktu 3 jam biasanya cilok ini sudah ludes habis terjual, padahal bapaknya bawa banyak. Bila sobat penasaran dengan cilok ini, sobat bisa langsung menuju ke Alun - alun Selatan Kota Jogja dan biasanya cilok ini mangkal di salah satu sudut kawasan Alun - alun dekat dengan gapura. Saking enaknya untuk menemukan cilok ini, untuk kali ini Ane tak menyertakan gambaran rutenya ya sob.



Kalau sudah ketemu, selamat mengantri. Sampai jumpa!
Let's Go

Kamis, 26 Mei 2016

Warung Tongseng Ayam Kampung Moro Seneng Bantul

Biasanya kan yang namanya tongseng berasal dari daging kambing ya sob, tapi bagaiamana jikalau tongseng tersebut berasal dari daging ayam kampung? Nah, inilah sob yang membuat Ane penasaran dengan adanya tongseng ayam kampung. Warung yang menjual tongseng ayam kampung tersebut bernama Warung Gule/Tongseng Ayam Kampung Moro Seneng yang terletak di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Jujur sob, sebenarnya yang namanya tongseng Ane kurang suka, yang membuat Ane kurang suka itu karena rasa kuahnya kaya akan rempah tetapi manis. Maka dari itulah Ane mencoba sajian masakan tongseng ini siapa tahu berbeda dengan masakan tongseng dari daging kambing dan Ane menyukainya.



Pada tanggal 8 Mei 2016 kemarin akhirnya Ane jadi juga menyambanginya. Berikut rute menuju kesana, Dari Kota Yogyakarta tepatnya di perempatan lampu merah Plengkung Gading, Ane arahkan kuda hijau Ane menuju ke arah barat (belok kanan bila dari Alun - alun Selatan) melalui Jl. MT. Haryono hingga perempatan lampu merah Pojok Beteng Kulon. Beloklah Ane ke kiri (selatan) melalui Jl. Bantul hingga bertemu perempatan lampu merah Dongkelan. Masih lurus lagi ke arah selatan melewati sebuah perempatan lampu merah dan pertigaan lampu merah hingga memasuki Gapura "Selamat Datang di Kabupaten Bantul". Lurus sedikit ketemu Perempatan Lampu Merah Klodran. Masih lurus lagi melewati Masjid Agung Manunggal Bantul dan Pasar Bantul hingga menemukan perempatan lampu merah. Kemudian beloklah Ane ke kanan (barat) searah dengan menuju Kantor Bupati Bantul. Di sebelah kanan (timur) Kantor ini ada jalan yang mengarah ke utara/ke belakang (Jl. Wolter Monginsidi). Ane ikuti jalan tersebut hingga sejauh kurang lebih 100 meter sampailah Ane di tempat yang Ane maksud. Warungnya terletak di sebelah kanan (timur) jalan.


Warung Gule / Tongseng Ayam Kampung Moro Seneng tampak dari depan
Gambaran rute menuju lokasi
Warungnya cukup sederhana dengan sebagian dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Beberapa meja dan kursi juga telah terpasang dengan rapi. Bagi yang mau lesehan, juga ada tempat untuk itu.
"Mau makan apa mas?", tanya Sang Penjual kepada Ane begitu memasuki warungnya.
"Tongseng ayam kampung aja bu, 1 porsi", jawab Ane dengan singkat.
"Minumnya?", tanya beliau kembali.
"Selain teh dan jeruk, ada apalagi Bu?", tanya Ane kembali
"Adanya ya cuman itu ew mas!", timpal beliau dengan nada yang merendah.
"Yasudah Bu, es jeruk saja", jawab Ane karena malas ribet mikir lagi.
"Baik mas!", balas beliau.
Begitu Ane memesannya, Sang Penjual pun segera memasaknya untuk Ane. Kebetulan pas Ane kesana warungnya cukup sepi sob sehingga tak perlu nunggu terlalu lama pesanan yang Ane pesan.


Foto bagian dalam warung
Menu hari ini yang siap Ane sikat habis
Sekilas tak ada bedanya tongseng ayam kampung ini dengan tongseng kambing. Sepiring tongseng berisi potongan daging ayam kampung, irisan tomat, cincangan cabai segar, dan kuah yang berwarna cokelat muda. Rasanya? hemmm ternyata cocok di lidah sob, kuahnya cukup gurih dan tak begitu manis, dagingnya juga terasa lembut di mulut dan bahkan tak pernah sekalipun Ane merasakan alotnya daging ayam tersebut. Lengkap sudah dengan adanya cincangan cabai rawit yang membuat tongsengnya sedikit pedas. Pokoknya dua kata deh sob untuk tongseng ayam kampung ini,"Wuenak tenan, Le leduk". Saking enaknya juga berhubung lapar Ane memutuskan untuk menambah seporsi nasi lagi.


Kondisi tongseng yang masih belum di makan
Kondisi tongseng yang sudah di makan, begitupula sepiring nasi dan segelas es jeruk
Soal harga ternyata masih sangat bersahabat kok sob, untuk semuanya hanya dibanderol dengan harga 14k saja dengan rincian seporsi tongseng 8k, nasi putih 2 porsi 4k, dan segelas es jeruk 2k.
Berdasarkan informasi yang Ane dapatkan dari Sang Penjual, Warung Tongseng/Gule Ayam Kampung Moro Seneng ini buka dari jam 8 pagi hingga 4 sore.
Let's Go

Rabu, 25 Mei 2016

Warung Makan Mbah Juri Kulonprogo Yogyakarta

Tempatnya yang cukup jauh dari Kota Jogja membuat Ane tak menyerah begitu saja sob. Ya, pagi ini warung makan yang Ane datangi adalah Warung Makan Mbah Juri yang terletak di Dusun Slanden, Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Menurut kabar yang beredar menu makanan yang tersedia disini semuanya enak - enak, baik itu ikan wadernya maupun beongnya.


Untuk sampai sini, perjalanan Ane terbilang lancar namun sesekali Ane tersesat dan beberapa kali bertanya. Untung saja orang - orang yang Ane tanyai semuanya ramah - ramah dan atas bantuan mereka sampailah Ane di Warung Makan mBah Juri ini.



Warungnya cukup sederhana dan menempel dengan rumahnya. Tak banyak meja dan kursi yang terpasang, hanya ada 3 buah meja saja. Di bagian sisi dindingnya terpasang berbagai macam tulisan koran, nampaknya warung ini sudah berulang kali di muat di media. Tak bisa dipungkiri lagi sob, kalau Ane sendiri tahu tempat ini juga dari situs online. Eow iya sob buat sobat yang bawa mobil pribadi, jangan khawatir warung ini bisa menampungnya. Jangankan mobil pribadi, mobil antar kota antar provinsi aja bisa masuk karena Warung Makan Mbah Juri ini memiliki lahan parkir yang cukup luas.



Dengan senyum ramahnya Mbah Juri menyapa Ane, beliau bertanya kepada Ane hendak mau makan dan minum apa. Ane yang dari kost - kostan sudah berencana makan ikan wadernya saja, langsung saja Ane menjawabnya dengan "ikan wader". Sedangkan untuk minumannya Ane lebih memilih es susu.
Untuk makanannya, Ane di suruh oleh Mbah Juri untuk mengambilnya sendiri. Nasi dan sayur - mayur diletakkan di bagian depan, ada sayur lompong, kering tempe, sayur tahu dan telor, serta mie. Katanya Ane kesini masih termasuk kepagian jadi ada sebagian sayur yang belum matang.



Ane pun balik bertanya apakah ikan wadernya sudah matang? dan beliau menjawab kalau masalah ikannya tow sudah siap untuk dinikmati. Olahan ikannya tak diletakkan di bagian depan bersama nasi dan sayurnya sob, melainkan di tempatkan di belakang bagian dapur. Ada mangut ikan beong, mangut ikan wader, dan sayur daging ayam. Selain itu ada juga sayur tahu - kentang. Beliau menjelaskan kalau biasanya pengunjung yang datang lebih suka menyantapnya di belakang ketimbang di depan, so mengapa olahan ikan tersebut diletakkan di belakang. Jangankan pengunjung ya sob, Ane sendiri pun sebenarnya lebih suka menyantapnya di belakang ketimbang di depan. Jadi Serasa makan di rumah sendiri. Tapi apa boleh buat, dapurnya masih digunakan jadi ya di depan saja Ane memakannya.


Mangut ikan beong
Sayur daging ayam
Mangut ikan wader
Sepiring nasi dan segelas es susu sudah ada di hadapan Ane, tak sabar rasanya untuk segera menyikatnya. Hmmm, rasanya tahu tidak sob apa? lezat dan enak banget. Tidak amis dan semuanya serba lunak mulai dari tubuhnya, kepalanya, ekornya bahkan duri yang biasa Ane sisakan karena nggak mungkin Ane makan, disini jadi mungkin Ane makan karena saking lunaknya. Nggak percaya?


Sepiring mangut ikan wader dan segelas es susu siap di sikat habis

Nieh buktinya
Soal harga masih sangat bersahabat kok sob, seporsi ikan wader tentunya sudah dengan nasinya semau Ane mengambilnya dan segelas es susu hanya dibanderol 20k saja.
Sehabis makan, Ane tak langsung pulang sob tetapi izin ngambil gambar dan sedikit berbincang - bincang dengan Mbah Juri tentang warung yang dikelolanya.
Ane       : Wiwit tahun pinten mbah warung ipun berdiri?
            Sejak tahun berapa Mbah warungnya berdiri?
Mbah Juri : 2008 mas
            2008 mas
Ane       : Wau kan kulo sampun maem ikan wader ipun. Kok saged
            lunak niku pripun?
            Tadi kan saya sudah makan ikan wadernya. Kok bisa
            lunak itu gimana?
Mbah Juri : Masake mas sek sui. Butuh waktu sekitar 6 jam ngge
            ngungkepe, pokoke alami mas nggak nggo opo - opo koyo
            bahan kimia.
            Masaknya mas yang lama. Perlu waktu sekitar 6 jam untuk
            ngungkepnya, pokoknya alami mas tidak pakai apa - apa
            seperti bahan kimia.
Ane       : Eow. Lajeng masak ipun ngangge kompor nopo tungku mbah?
            Eow. Kemudian masaknya dengan kompor apa tungku mbah?
Mbah Juri : Nganggo tungku mas, la niko saged di tingal ten dapur.
            Dengan tungku mas, la itu bisa di lihat di dapur.
Ternyata benar sob, setelah Ane ke belakang ternyata tak hanya satu dapur saja yang ada tetapi dua dapur. Dapur yang satu digunakan untuk meletakkan berbagai macam olahan menunya dan dimana orang bisa menyantapnya disini tapi tadi pas Ane masuk kesini masih digunakan untuk beberes dan dapur yang satunya lagi digunakan untuk proses masak - memasak. Di dalam proses masak - memasak inilah pengolahan ikan wadernya masih menggunakan tungku sebagai kompornya dan batang kayu sebagai bahan bakarnya.



Ane       : Diantara niki sedanten, ulam nopo mbah ingkan paling
            inggil regi nipun?
            Diantara ini semua, ikan apa mbah yang paling mahal
            harganya?
Mbah Juri : Iwak Beong. Bagian kepala mawon dugi 40 ribu, Soale mas
            stoke yo angel.
            Ikan Beong. Bagian kepala saja sampai 40 ribu, soalnya
            mas stoknya ya sulit.
Ane       : Eow. Bikak warung ipun saking jam pinten dugi jam
            pinten?
            Eow. Buka warungnya dari jam berapa sampai jam berapa?
Mbah Juri : saking jam 6 isuk dugi jam 6 sore.
            Dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore.
Ane       : Sampun nggeh mbah, kulo ajeng pamit wangsul.
            Sudah ya mbah, saya mau pamit pulang.
Mbah Juri : Nggeh mas, monggo! Ojo kapok yow mas, kapan - kapan rene
            meneh.
            Iya mas, silahkan! jangan kapok ya mas, kapan - kapan
            kesini lagi.
Ane       : Nggeh boten mbah, Kapan - kapan Insya Allah saged meriki
            maleh.
            Ya tidak mbah, kapan - kapan Insya Allah bisa kesini
            lagi.
Gimana sob, tertarikkah untuk mencobanya?
Bagi yang tertarik dan belum tahu lokasi persisnya, berikut gambaran rutenya.



Dari Tugu Jogja, bergeraklah ke arah barat melalui Jl. Pangeran Diponegoro, Jl. Kyai Mojo, dan Jl. Godean hingga perempatan besar lampu merah (pertemuan antara Jl. Ringroad Barat dengan Jl. Godean). Masih lurus lagi ke arah barat melewati Pasar Godean dan Sungai Progo hingga menemukan perempatan lampu merah Kenteng. Beloklah ke arah kanan (utara) dan ikuti jalan ini hingga menemukan perempatan lampu merah lagi yakni perempatan lampu merah Dekso. Dari sini masih lurus lagi hingga kurang lebih 9 Km lagi sobat akan menjumpai Kantor Desa Banjaroya yang terletak di sebelah kanan (utara) jalan. Tepat di seberangnya terdapat pertigaan jalan yang mengarah ke kiri. Tenang saja sob, disini sudah ada papan petunjuknya.


Nieh papan petunjuknya
Beloklah ke arah kiri dan kurang lebih 200 meter sampailah sobat di Warung Makan Mbah Juri ini. Warungnya terletak di sebelah kanan jalan.
Let's Go

Selasa, 24 Mei 2016

Soto Babat Bu Mulyono, Kuliner Soto Babat di Selatan Kota Jogja

Sudah tak terhitung berapa kali Ane lewat Jalan Bantul ini sob. Setiap kali Ane pulang ke Bantul karena posisi saya sekarang ada di kost - kostan Kota Jogja, Ane selalu saja melewatinya. Banyak berjajar warung makan yang berdiri disini, namun ada sebuah tempat yang berhasil menarik perhatian Ane yakni Warung Soto Babat Bu Mulyono yang terletak di Jl. Bantul Km. 9, Piringan, Pendowo Harjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.



Saat Ane lewat ada saja motor dan mobil pribadi yang terparkir di depan warungnya. Lama - kelamaan Ane semakin penasaran saja, Nah barulah pada tanggal 10 Mei 2016 kemarin Ane berhasil menyambanginya. Letaknya yang cukup jauh dari kost Ane menyebabkan waktu yang Ane perlukan cukup banyak sekitar 35 menitan.



Sama seperti sebelumnya sob, terlihat sudah ada banyak pengunjung saja yang datang memadatinya. Warungnya cukup sederhana namun bersih dan rapi. Meja dan kursi terpasang membujur dari timur ke barat. Sebuah backdrop berisi daftar harga menu terpasang di bagian depan ruangan.



Ada beragam menu makanan yang dapat Ane pilih diantaranya ada soto kuah, soto pisah, dan soto campur. Kalau soto kuah disajikan tanpa nasi, soto pisah disajikan terpisah antara soto dengan nasinya, sedangkan soto campur baik nasi maupun sotonya di campur. Sedangkan minumannya pun cukup beragam ada jeruk dan teh yang biasa Ane jumpai, kopi, minuman botolan, dan es tape. Bila Ane menginginkan gorengan, babat maupun iso juga tersedia.


Daftar harga Menu Soto Babat Bu Mulyono
"Mau pesan apa mas?', tanya salah seorang pegawai begitu Ane baru saja masuk kedalamnya.
"Soto campur aja bu", balas Ane dengan cepat.
"Minumannya mas?", jawab Sang penjual lagi.
"Es tape saja Bu", timpal Ane karena sudah lama juga Ane tak menikmati yang namanya es tape.
Begitu Sang Penjual masuk, tak lama kemudian datanglah semua pesanan yang Ane pesan.


Semangkok soto babat dan segelas es tape hijau siap di sikat habis
Mantabbb!
Seporsi soto babat campur ini berisi nasi putih, irisan buah tomat, potongan daging babat, kol/kobis, tauge (kecambah), taburan daun seledri dan bawang goreng, serta mempunyai kuah bening khas soto Yogyakarta. Agar lebih mantab Ane tambahkan sedikit kecap, perasan buah jeruk, dan sambal. Tak hanya itu dua biji bakwan goreng pun Ane tambahkan kedalamnya.



Rasanya gurih dan terasa segar, namun menurut Ane sedikit mengandung gajih (lemak) sob pada kuahnya. Dagingnya terasa lembut sehingga ramah di mulut. Satu kata untuk soto ini deh sob,"Wuenak tenan".
Soal harga masih bersahabat dengan kantong kok sob untuk semuanya uang yang harus Ane keluarkan sebesar 15k saja dengan rincian semangkok soto babat campur 10k, segelas es tape hijau 3k, dan dua biji bakwan goreng 2k.



Gambaran menuju lokasinya:
Dari Alun - alun Selatan Kota Jogja, bergeraklah ke arah barat melalui Jl. MT. Haryono hingga menemukan perempatan lampu merah Pojok Beteng Kulon. Beloklah ke arah kiri (selatan) melalui Jl. Bantul lurus terus hingga menemukan perempatan lampu merah yang kedua di Perempatan Dongkelan. Masih lurus lagi ke selatan melewati Pasar Niten Bantul dan sebuah jembatan hingga menemukan perempatan lampu merah Desa Wisata Kasongan. Masih lurus lagi ke arah selatan melewati dua buah POM Bensin hingga bertemu pertigaan lampu merah Cepit. Lurus lagi sedikit sekitar 125 meter dan sampailah sobat di Warung Soto Babat Bu Mulyono ini.



Bila naik bus, bisa. Naiklah bus dari Perempatan Pojok Beteng Kulon maupun Wetan, Perempatan Dongkelan maupun Terminal Bus Giwangan. Cari bus jurusan Bantul (Kode N untuk jurusan Samas dan Kode B untuk jurusan Srandakan). Bilang saja turun 100 meter setelah pertigaan lampu merah Cepit, Bantul. Sampai dah.
Warungnya terletak di sebelah kiri (timur) jalan.
Jam buka: Setiap hari pukul 06.30 - 15.30 WIB. 
Let's Go

Jumat, 20 Mei 2016

Lezatnya Bebek Goreng Umar Plenteng

Sudah lama banget Ane tak makan yang namanya daging bebek sob, sudah tak ingat lagi kapan terakhir kali Ane menyantapnya. Tapi yang jelas sudah lebih dari setahun. Bulan Februari lalu Ane sempat diajakin sahabat Ane untuk makan bebek tapi Ane menolaknya. Begitu sampai kost dia menceritakan kalau bebek yang ia santap barusan memang enak dan bisa bikin nagih. Ane yang diajak berbicara tentu sempat ngences donk membayangkan betapa enaknya daging bebek tersebut. Eh nggak tahunya lama - kelamaan kata "enak dan bisa bikin nagih" tersebut selalu saja terniang - niang di dalam benak Ane. Rasa penasaran yang begitu besar membuat Ane ingin membuktikannya secara langsung dan akhirnya rencana tersebut baru terlaksana pada tanggal 9 Mei 2016 kemarin.



Letaknya yang cukup jauh dari kost - kostan Ane karena berada di dekat Pantai Samas tepatnya di Dusun Baran, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Yogyakarta membuat waktu perjalanan Ane agak lama sedikit. Menyusuri Jalan Bantul dan Samas akhirnya sampai juga Ane disini. Sesampainya disini sudah ada 3 mobil pribadi yang terparkir sementara untuk kendaraan motornya tidak ada, jadi dengan datangnya Ane kesini barulah motor Ane yang ada disini.



Warungnya cukup luas berlantai keramik, bersih, dan rapi. Nampaknya selain digunakan untuk warung, tempat ini juga berfungsi sebagai rumah. Ada dua cara pengunjung dalam menikmati menu makanannya yakni sistem meja - kursi dan sistem lesehan. Meja dan kursi yang terpasang memiliki bentuk panjang, sementara untuk lesehannya sudah ada tikar yang siap digunakan siapa saja tamu yang datang. Di bagian teras samping warung digunakan untuk memasak menu olahannya, so bila mau kitapun bisa melihat cara pengolahannya secara langsung sob.


Teras bagian depan rumah
Ruang bagian depan rumah
Teras bagian samping rumah
Tak ada daftar menu plus harga yang tersedia, yang ada hanyalah sebuah backdrop yang hanya tertulis daftar menu saja yang dapat di pesan. Ada bebek goreng bagian dada dan paha, selain itu ada juga daging ayam dan entok. Untuk minumannya ada teh, jeruk dan beraneka macam jus. Sehubungan yang terkenal dari warung ini adalah bebek gorengnya, maka tanpa fikir panjang pesanlah Ane seporsi bebek goreng bagian dada. Sedangkan untuk minumannya pilihan Ane jatuh pada jus sirsak.



Cukup lama juga Ane menunggu pesanan yang datang. Walaupun menunggu, tapi tak terasa lama. Suasananya itu lho sob khas pedesaan, adem, ayem kayak kampung halaman Ane. Duh jadi keinget kampung halaman. Woke pesanan yang Ane tunggu akhirnya datang juga. Seporsi bebek goreng yang dihidangkan bersamaan dengan 2 macam sambal yaitu sambal terasi dan sambal bawang, daun kemangi, dan potongan buah mentimun; seporsi nasi putih, dan segelas jus sirsak.



Jangan kira daging bebeknya itu kecil ya sob, ternyata sepotong daging bebek cukup besar sekali dan kalau Ane perkirakan sieh bobotnya hampir 250 gram. Besarnya daging bebek goreng ini mengingatkanku pada Ayam Goreng Mbah Cemplung yang kurang lebih sama besarannya. Mantab!



Rasanya, hmmm lezat banget sob, gurih dan terasa lembut di mulut, bahkan Ane tak merasakan alot sedikitpun. Sekarang Ane merasakan sambal bawang dan sambal terasinya, ternyata sobat - sobat semua sambal bawangnya pedasnya minta ampun, bikin huha huha huha. Tapi untuk sambal terasinya tak terasa pedas dan Ane kira ini cocok buat yang tidak suka pedas dan yang hobi makan sambal terasi. Lengkap sudah hadirnya jus sirsak yang begitu nikmat sekaligus pelepas dahaga Ane. Saking enaknya dan Ane merasa masih lapar karena dari pagi belum makan, maka pesanlah seporsi nasi putih lagi. Dua kata deh sob untuk semua makanan yang Ane santap ini,"Wuenak tenan, Le leduk".



Soal harga, nggak usah khawatir sob bikin kantong jebol. Seporsi bebek goreng bagian dada, dua porsi nasi putih, dan segelas jus sirsak hanya dihargai sebesar 33k saja. Gimana, tertarikkah sobat untuk mencobanya? kalau tertarik dan belum tahu lokasi persisnya, berikut gambaran rutenya:



Dari perempatan lampu merah Plengkung Gading (selatannya Alun - alun Kota Jogja), bergeraklah ke arah barat melalui Jl. MT Haryono hingga menemukan perempatan lampu merah Pojok Beteng Kulon. Beloklah ke kiri (selatan) melaui Jl. Bantul hingga sobat menemukan perempatan lampu merah Dongkelan (petemuan antara Jl. Ringroad Selatan dengan Jl. Bantul). Masih lurus lagi ke selatan hingga sobat memasuki Kota Bantul yang ditandai dengan adanya sebuah gapura masuk. Dari gapura ini masih lurus lagi hingga menemukan perempatan lampu merah yang ke-4 yaitu perempatan lampu merah Palbapang. Kemudian masih lurus lagi ke arah selatan melalui Jl. Samas hingga kira - kira 10 Km sobat akan menemukan perempatan "Kretek Abang" (Bahasa Indonesianya: Jembatan merah). Lurus lagi sedikit kira - kira 200 meteran ada sebuah masjid bernama "Masjid Albarokah" yang berdiri di sebelah kiri (timur) jalan. Samping masjid ada jalan masuk, masuklah sobat kedalam jalan tersebut hingga mentok. Warungnya ada di sebelah kiri (utara) jalan tepat sebelum pentokan tersebut. Sampai deh!
Bila naik bus, bisa. Naiklah bus dari Perempatan Pojok Beteng Kulon maupun wetan, perempatan Dongkelan maupun Terminal Bus Giwangan. Cari bus jurusan Samas yang berkode N. Bilang saja turun 200 meter setelah perempatan kretek Abang, tepat di depan masjid. Kemudian sobat tinggal jalan aja ke arah kiri (timur) dan tak lama lagi sampai deh di warungnya.
Jam buka berdasarkan informasi yang Ane dapatkan dari Sang Penjual:
Dari jam 10 pagi hingga maksimal 10 malam (katanya biasanya jam 8 malam pun sudah habis).
Let's Go

Kamis, 19 Mei 2016

Angkringan Gareng Petruk, Beragam Menu Nasi Kucing Ada Disini

Yogyakarta selain terkenal dengan Kota Budaya, Kota Pendidikan, Kota Gudeg, juga kota angkringan lho sob. Pasalnya banyak angkringan yang dapat kita temui dengan mudah disini dan tersebar hampir di sudut kota. By the way tahu tidak sob, apa itu angkringan? Menurut Wikipedia.org, yang dimaksud dengan Angkringan adalah sebuah gerobak dorong yang menjual berbagai makanan dan minuman yang biasa terdapat di pinggir jalan. Di Solo di sebut juga dengan Hik. Gerobak ini biasa ditutupi dengan kain terpal plastik dan bisa memuat sekitar 8 orang pembeli. Beroperasi mulai sore hari, mengandalkan lampu senthir dan juga di bantu oleh penerangan lampu jalan.



Sekarang mah sudah ada modifikasi sob, tak harus mengikuti aturan yang baku. Angkringane JAC misalnya, angkringan ini menempati sebuah pendopo nDalem, Angkringan Nganggo Suwe Lek Adi yang menempati sebuah bangunan mirip dengan warung burjo, dan masih banyak lagi lainnya. Nah kali ini angkringan yang Ane datangi adalah Angkringan Gareng Petruk yang terletak di Jl. Margo Utomo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.



Sudah beberapa kali sieh sob Ane nongkrong disini, namun ketika itu tak pernah mengambil gambar sekalipun dan kali ini Ane sempatkan untuk memfotonya agar bisa menjadi bahan buat ngeblog dan arsip pribadi, hehehe. Setiap kali Ane kesini maupun sekedar lewat didepannya saja, tak pernah sekalipun angkringan ini sepi dari pengunjung. Secara geografis tempatnya memang sangatlah strategis sob karena dekat dengan Tugu Kota Jogja. Dari Tugu Kota Jogja, tinggal jalan kaki ke selatan (ke arah Malioboro) kurang lebih 260 meter, atau dari Stasiun Tugu Jogja tinggal jalan kaki ke arah utara kurang lebih 450 meter dan tak lama lagi sampai dah.



Angkringannya terletak di teras depan Kantor Kedaulatan Rakyat, bila dari Tugu Jogja angkringannya ada di sebelah kiri (timur) jalan. Sedangkan kalau dari Stasiun Tugu, angkringannya terletak di sebelah kanan.
Selepas dari Sellie Coffee, kita langsung menuju kesini sob, tapi di tengah jalan kita harus mengalami adegan hujan rintik - rintik dan lama - kelamaan menjadi besar - besar. Kita menepi dulu dong buat memakai jas hujan. Begitu jas sudah dipakai dan jalan lagi, ew lama - kelamaan hujan pun reda. Tepat di perempatan lampu merah Ane buka tuh jas, habis menitannya lama banget sekitar 2 menit ya Ane manfaatkan dengan sebaik - baiknya.



Singkat cerita sampailah kita di TeKaPe. Sama seperti sebelum - sebelumnya, angkringannya tetap ramai dan penuh. Kebanyakan pengunjung yang datang dari anak muda. Beruntung masih ada tempat yang kosong buat kita duduki. Seperti pada umumnya sebuah angkringan pastilah menjual yang namanya nasi kucing, Namun Angkringan Gareng Petruk ini bisa di bilang berbeda sob karena banyak beragam menu yang tersedia yang dapat kita pilih. Ada nasi rica - rica ayam, nasi oseng ati rempela, nasi ayam bumbu bali, nasi tongseng ikan pedas, nasi megono plus teri khas Pekalongan, dll.


Beragam sate tersedia
Begitupula dengan nasi kucingnya
Beragam Sate dan juga lauk - pauk tersedia disini sob mulai dari menu yang kebanyakan di jual di angkringan pada umumnya atau tidak diantaranya ada sate telur puyuh, sate keong, sate usus, sate rempela, kepala ayam, baceman ceker, udang, lumpia, tahu, dan masih banyak lagi lainnya. Sedangkan untuk minumannya ada teh dan jeruk.



Konsep yang ada di angkringan ini begitu datang langsung ambil, kemudian bayar langsung makan. Setelah bingung hendak mau makan apa kita ini, akhirnya Ane putuskan untuk makan nasi kucing 3 buah, sate 3 biji dan ceker sebiji, serta minumannya es jeruk. Sedangkan sahabat Ane nasi 2 buah, sate 4 biji, jajanan 2 biji, serta minumannya sama dengan Ane sob yakni es jeruk. Untuk semuanya dihargai sebesar 38,5k saja. Menurut Ane harga tersebut terbilang mahal bila dibandingkan dengan angkringan - angkringan pada umumnya.



Kalau mau menikmati dalam bentuk pemanggangan, setiap pembeli disuruh memanggangnya sendiri. Tapi sayang, api yang digunakan bukan berasal dari arang melainkan dari gas. Ane berfikir kalau pemanggangan berasal dari tabung gas, citarasa yang dihasilkan akan berkurang. Tak hanya itu proses pemanggangannya pun terbilang lama karena api yang dihasilkannya terbilang kecil, begitu baru sebentar memanggangnya Ane mulai putus asa sob dan akhirnya Ane langsung saja menuju tempat duduk yang masih kosong menyusul sahabat Ane, Hanna.



Hanya ada tempat duduk berupa lesehan saja yang bisa kita duduki. Banyak orang berseliweran sana - sini mulai dari pengemis, peminta sumbangan, menawarkan jasa gambar foto, hingga seniman jalanan. Bahkan sebelumnya Ane pernah menemui mbak - mbak waria yang sempat membuat Ane kaget karena kedatangannya secara tiba - tiba. Pokoknya kalau kesini siapin aja uang receh deh sob. Terserah sobat!


Menu makanan malam ini yang siap untuk dihabisin
Ada yang mau?
Oke saatnya Ane menyikatnya, mulai dari nasi kucingnya. Hmmm menurut Ane citarasa yang ditawarkan biasa - biasa aja sob. Lanjut ke sate - satenya, ah sama saja dengan nasi kucingnya yang terasa biasa - biasa aja. Mungkin tempat ini ramai karena tempatnya yang cukup tepat dan cocok buat nongkrong ya sob dan banyak varian menu yang dapat di pilih oleh pengunjung. 40 menit kemudian


Habis sudah semuanya
Lama ya sob? ya iyalah lawong makannya saja sambil berbincang - bincang dengan sahabat Ane, hahaha.
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me