Jumat, 16 September 2016

Soto Lamongan Hijroh, Kuliner Khas Lamongan yang Ada di Jogja

Dari dulu Ane kalau makan soto ya hanya makan soto khas Jogja dan Solo saja sob, eh nggak dink, bulan lalu Ane dah ngerasain yang namanya Coto Makassar dan cotonya itu cukup membuat Ane kurang menyukainya. Tiba - tiba ide Ane muncul lagi sob, "kalau ada semacam soto lagi yang bolak - balik Ane sering membacanya dan mungkin sobat juga". Ya, Soto tersebut adalah Soto Lamongan. Tapi sekarang permasalahannya adalah dimanakah Soto Lamongan yang enak di Yogyakarta ya? hmmm, setelah baca sana - baca sini akhirnya nemu juga tuh soto. Soto tersebut bernama Soto Lamongan Hijroh yang terletak di Jl. A. M. Sangaji, Yogyakarta.


Oke tanpa fikir panjang berangkatlah Ane menuju ke TeKaPe. Letaknya yang cukup dekat dengan kost Ane membuat perjalanan Ane tak membutuhkan waktu yang cukup banyak, hanya sekitar 8 - 9 menitan saja. Warungnya cukup sederhana dengan meja dan kursi terpasang memanjang dan membujur. Di bagian dindingnya juga terpasang tulisan dari beberapa koran seperti Merapi dan beberapa gambar dengan berbagai macam tema. Nampaknya warung ini cukup dikenal di kota ini dan tentu sangat direkomendasikan buat di coba.


Warung Soto Lamongan Hijroh tampak depan
Kondisi dalam ruangan Warung Soto Lamongan Hijroh
Mendekati Sang Penjualnya, Ane memesan seporsi soto lamongan dan sebagai minumannya Ane pesan segelas es teh manis saja. Dengan lihainya tangan terampil bapaknya meracik soto untuk Ane dan tanpa menunggu terlalu lama, kini pesanan yang Ane pesan sudah ada di atas meja.


Bapaknya yang sedang meracik soto untuk Ane
Ini dia hasil racikannya serta segelas es teh siap menemani Ane
Ada yang beda sob di soto ini, ada sesuatu yang membuat Ane terkejut yaitu terdapatnya semacam parutan kelapa yang biasa digunakan untuk campuran hidangan kalau dalam bahasa jawanya disebut dengan "Krawu". Setelah tanya bapaknya kalau bahan yang Ane maksud tersebut adalah koya yang biasa ada di Soto Lamongan dan berfungsi sebagai penyedap rasa. Apakah sama dengan bumbu penyedap rasa yang dijual di toko? nggak tahu deh, tak cobain dulu ya.



Selain koya, semangkok soto lamongan ini berisi nasi putih, sedikit bihun, kubis, potongan setengah telur, suwiran daging ayam, dan taburan seledri. Berbeda dengan soto khas Jogja dan Solo yang mempunyai kuah bening, soto Lamongan ini memiliki kuah yang sedikit keruh tapi tak sekeruh Coto Makassar yang ada di La Capila Jogja. Oke, langsung saja kita bahas rasanya ya sob.
Rasanya cukup gurih dan khas, sehubungan Ane senang dengan yang pedas - pedas, Ane tambahkan sedikit sambal kedalamnya, tak lupa juga kecapnya. Gurihnya kuah kini berpadu pas dengan pedasnya sambal dan juga sedikit manisnya kecap. Untuk koyanya, menurut Ane rasanya khas dan berbeda dengan bumbu penyedap rasa yang dijual di toko. Lengkap sudah daging ayam yang digunakan adalah ayam kampung serta hadirnya potongan setengah telur. Mantab rasanya, satu kata deh sob untuk soto ini," Wuenak tenan".



Soal harga masih cukup bersahabat kok sob, semangkok soto lamongan dan segelas es teh manis hanya dihargai sebesar 12k saja. Gimana, tertarikkah buat mencobanya?
Bagi sobat yang belum mengetahui lokasi persisnya, mungkin gambaran rute menuju kesininya ini akan sedikit membantu:
Dari Tugu Jogja, bergeraklah ke arah utara melalui Jl. Moh. A.M. Sangaji hingga bertemu perempatan lampu merah. Masih lurus lagi hingga sobat menjumpai sebuah bangunan hotel yang cukup besar dan bangunan tersebut bernama Hotel Tentrem. Nah, Warung Soto Lamongan Hijroh ini terletak persis di depan Hotel Tentrem tersebut.



Jam buka warung : Pukul 06.00 - 14.00 WIB
Tapi bapaknya bilang kalau hari minggu jam 11 pun sudah habis. So, sebaiknya kesini jangan terlalu siang ya sob, agar sobat tak kecewa karena kehabisan.
Sampai jumpa!
Let's Go

Jumat, 09 September 2016

Pagi - Pagi Menikmati Oseng - Oseng Mercon Bu Narmi

Awalnya pas malam - malam ntah kenapa Ane kepingin banget buat ngerasain yang namanya oseng - oseng mercon lagi sob, secara sudah lama Ane tak merasakannya. Saat itu yang Ane coba adalah Oseng - oseng Mercon Bu Narti dan mempunyai rasa yang kurang pedas, kalau masalah enak sieh enak. Nah, berhubung malam itu juga Ane malas untuk pergi keluar ya akhirnya Ane tunda dulu untuk besok aja carinya. Kebetulan ada sebuah warung makan yang bukanya bukan dari sore hingga malam hari, tapi justru dari pagi hingga sore hari. warung makan tersebut bernama Warung Makan Oseng - Oseng Mercon Bu Narmi yang terletak di Jl. Purwodiningratan, Yogyakarta.



Ingat ya sob, Oseng - oseng Mercon "Bu Narmi", bukan Oseng - oseng Mercon "Bu Narti" yang mungkin sebagian dari sobat sudah mengetahuinya, cuman beda huruf saja yakni M sama T. Memang ada hubungan persaudaraan diantara keduanya? ntahlah sob Ane tidak tahu.
Benar saja malam sudah berlalu dan kini pagi pun sudah datang, hal ini ditandai dengan adanya sang mentari yang sudah menampakkan diri di ufuk timur. Tepat pukul 8 pagi Ane arahkan kuda hijau Ane menuju ke TeKaPe.
Singkat cerita sampailah Ane disini, warungnya cukup sederhana bercat hijau dan hanya mempunyai dua buah meja saja yang terpasang. Warungnya tampak sepi hanya ada dua orang saja yang berada disini. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Sang Penjualnya yang sedang sibuk mempersiapkan apa yang harus mereka persiapkan. Sepertinya warungnya baru buka aja.



"Mau pesan apa mas? adanya oseng - oseng mercon saja yang baru matang, sayurnya belum matang", tanya salah satu pejualnya yang kebetulan seorang ibu - ibu sambil memberi tahu kalau baru oseng - oseng merconnya saja yang bisa di pesan.
"Yasudah Bu, oseng - oseng merconnya saja", timpal Ane karena memang itulah mengapa Ane kesini.
"Minumnya mas?", tanya beliau lagi kepada Ane.
"Selain teh dan jeruk apa lagi Bu?", tanya Ane lagi kepadanya.
"Nggak ada mas, adanya cuman teh dan jeruk saja", timpal beliau.
"Yasudah Bu, air putih saja kalau begitu", jawab Ane dengan cepatnya.
"Baik mas", timpal beliau.
Tak perlu menunggu lama kini pesanan Ane sudah ada dihadapan Ane. Nah, inilah sob yang dinamakan oseng - oseng mercon itu.



Secara penampilan oseng - oseng ini seperti daging koyor yang di sambal. Benar sob, oseng - oseng mercon ini memang terbuat dari koyoran daging sapi, kikil, kulit, dan sedikit daging sapi. Terlihat berminyak, hal ini dipengaruhi oleh adanya kandungan lemak yang tinggi. Oseng - oseng mercon ini disajikan dengan potongan buah mentimun. Bila masih kurang pedas lagi, Ane bisa menambahkan sambal kedalamnya. mantab!



Sekarang saatnya Ane melahap habis oseng - oseng mercon ini. Rasanya memang cukup pedas sob, tapi menurut Ane cenderung agak manis. Disinilah Ane semakin yakin kalau oseng - oseng ini memang terbuat dari banyak daging lemak, setelah lama - kelamaan dirasa - rasa ada yang menempel di bibir mirip kalau Ane makan daging sapi bagian gajihnya. Duh kolestrol jadi naik nieh kalau begini. Satu kata deh sob untuk ini,"wuenak tenan'.



Masalah kantong tenang saja sob, untuk seporsi oseng - oseng mercon dan segelas air putih hanya dibanderol dengan harga 15k saja. Cukup bersahabat bukan?
Gambaran rute menuju lokasi warungnya:
Warung ini terletak kurang lebih 600 meter dari titik nol kilometer Kota Jogja. Dari Titik Nol Kilometer tersebut bergeraklah ke arah barat (ke Kanan dari arah Malioboro) lurus melewati pertigaan lampu merah, masih lurus ke arah barat dan pelankan laju kendaraan sobat (bagi yang memakai kendaraan). Perhatikan dengan teliti sebuah plank yang bertuliskan SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta yang terletak di sebelah kanan (utara) jalan sebelum perempatan lampu merah. Plank ini menunjukkan ke arah Jl. Purwodiningratan. Nah, warung ini terletak persis di pintu masuk Jl. Purwodiningratan tersebut.



Jam buka: Pukul 08.00 - 16.00 WIB
Atau barangkali sobat tertarik untuk menikmati jenis koyoran yang lainnya? okelah, kalau begitu klik aja langsung di
Sego Koyor Bu Parman
Sampai Jumpa! 
Let's Go

Jumat, 02 September 2016

Enaknya Siomay Telkom Jogja

Siang - siang begini udah kepingin siomay aja nieh sob. Di Jogja ada siomay yang enak dimana ya? tahu nggak?, ya sudah deh kalau nggak tahu tak searching - searching dulu. Searching, searching, searching eh nemu nieh sob Siomay Telkom letaknya dekat dengan kost Ane yakni di Jl. Juwadi, Kotabaru, sebelah utara Kantor Telkom Yogyakarta. Inimah cuman sekitaran Stadion Kridosono.



Yasudah deh tak langsung ke TeKaPe. Singkat cerita, tak sampai 7 menit sampailah Ane di lokasi. Warungnya cukup sederhana hanya menggunakan sebuah tenda saja, Meja dan kursi tersusun secara rapi memanjang dari barat ke timur mengikuti arah jalan yang ada. Walaupun demikian pengunjungnya terbilang cukup banyak datang dan pergi silih berganti. Ada semacam tempat duduk saja yang bisa Ane tempati yakni berupa meja dan kursi. Tapi bila kehabisan tempat duduk, pegawainya akan sigap menyiapkan lesehan yang menggunakan alas tikar.



Memasuki warungnya Ane langsung diarahkan ke sebuah panci besar yang berisi siomay dan kawan-kawannya seperti kentang, kubis, tahu, telur, dan pare. Setelah Ane mengambilnya, Ane ditanyai oleh salah satu pelayannya apakah mau di goreng atau tidak. Ane pun hanya minta sebiji siomay dan kubis saja yang di goreng. Tak ada biaya tambahan untuk itu. Dengan sigapnya para pelayannya langsung menggorengnya. Eh bentar, itu bukan punya saya, tapi orang lain, maklum sob Ane harus rela mengantri terlebih dahulu. Untuk minumannya sehubungan yang tersedia hanya teh dan jeruk, maka Ane lebih memilih air esnya aja.



Ane lebih memilih menunggu di salah satu tempat duduk yang masih kosong. Beruntung masih ada sebuah tempat duduk yang kosong dan itupun berada di bagian paling belakang. Ane senang, karena bisa mengabadikan moment gambar yang ada sebaik mungkin. Perlu waktu sekitar 7 menit Ane menunggu pesanan yang datang. Kini pesanan Ane yang awalnya berbentuk besar - besar berubah menjadi potongan kecil - kecil berlumurkan bumbu kacang yang tentunya menggoda Ane untuk segera melahapnya.


Duh, jadi nggak konsen nieh!
Menggoda bukan?
Lahapan pertama yang Ane coba adalah siomaynya dan tahu tidak sob rasanya seperti apa? Rasanya hmmm gurih dan daging ikan tenggirinya terasa banget di mulut. Selain pada siomaynya, kelezatan rasa juga terjadi pada kentang, kobis, pare, dan tahu yang di potong - potong dengan lembut berlumurkan sambal kacang. Semuanya serba segar, baik pada kubis maupun parenya. Tapi rasa sedikit pahit mendominasi parenya, tak banyak yang berubah dari rasa bawaan parenya itu sendiri.


Masih penuh
Habis seketika
Soal harga masih cukup bersahabat, untuk semuanya 2 buah siomay, 2 buah kobis, sebuah kentang, tahu, dan pare dihargai sebesar 12k saja. Bila sobat mau kesini, udah tahu belum sob lokasi persisnya? kalau belum tahu tak kasih gambarannya aja deh.
Dari Tugu Jogja, bergeraklah ke arah timur melalui Jl. Jend. Sudirman hingga perempatan lampu merah yang di pojok sebelah kanan terdapat Toko Buku Gramedia. Beloklah ke arah kanan (selatan) melalui Jl. Suroto hingga sebelum mentok ada sebuah Kantor Telkom yang cukup besar. Tepat sebelum kantor tersebut ada sebuah jalan masuk ke arah kiri (timur). Masuklah kedalam jalan tersebut hingga sekitar 20 meter dari belokan ini sampailah sobat di tempat yang sobat maksud.



warungnya ada di sebelah kanan (selatan) jalan. Tenang saja nggak usah khwatir karena tulisan yang menandakan kalau ini Siomay Telkom tertulis dengan jelas di warungnya.
Jam buka: Pukul 09.00 - 18.00 WIB
Atau sobat mau coba siomay yang lain? bisa, silahkan aja klik:
Siomay Kang Cepot dengan sambal kacangnya yang enak sekali
Sampai Jumpa!
Let's Go

Selasa, 30 Agustus 2016

5 Tempat Makan yang Sangat Terkenal di Kota Medan

Sudah tak diragukan lagi ya sob bahwa negara kita tercinta ini dihuni oleh berbagai macam suku, diantaranya ada suku Jawa, Sunda, Batak, Madura, dan lain sebagainya. Dari berbagai macam suku tersebut tentu menghasilkan ragam budaya yang berbeda-beda tak terkecuali dengan masakannya. Berbicara tentang masakan, ntah mengapa sampai sekarang Ane kok masih penasaran dengan masakan-masakan yang ada di tanah Batak (khususnya Kota Medan). Bukannya menafikkan masakan-masakan yang ada didaerah lain, tetapi begitulah kenyataannya. Tak ada salahnya kan sob kalau Ane tulis di blog ini terlebih dahulu, siapa tahu suatu saat nanti kita bisa merasakannya sendiri. Lalu untuk merasakan masakan-masakan tersebut, tempat manakah yang dapat kita kunjungi? cekidot

1. Rumah Makan Sinar Pagi
Terletak di Jl. Sei Deli, Simpang Gatot Subroto. Ini kebiasaan Ane sob kalau pagi-pagi Ane sering menyantap makanan yang ringan-ringan saja. Salah satu makanan ringan yang biasa Ane santap adalah menu soto. Soto Medan yang paling terkenal di Kota Medan ini ada di Rumah Makan Sinar Pagi. Kuahnya yang kental dengan warna kuning kehijau-hijauan menjadikan soto ini khas dan menarik untuk dicoba. Disini sobat bisa memilih daging sapi atau daging ayam. Apapun pilihannya, ada dua kata deh sob yang menggambarkan akan citarasa dari soto ini yakni gurih dan pedas pas di mulut. Rumah Makan Sinar Pagi buka dari jam 07.00 - 15.00 WIB.

Sumber: www.makanmana.net
2. Rumah Makan Sipirok
Hal pertama yang akan Ane lakukan ketika mengunjungi rumah makan ini adalah memesan sop sumsum tulang sapi sipirok. Kenapa? karena cara memakannya terbilang cukup unik yakni menggunakan sedotan. Sudah terbayang kan sob empuk dan enaknya seperti apa. Tak heran bila rumah makan ini selalu dipadati oleh para pengunjung yang ingin menikmati sajian menu yang ditawarkannya. So, bila sobat ingin kesini dan tak ingin kecewa silahkan langsung saja datang lebih awal. Rumah Makan yang beralamat di Jl. Sunggal No.14 Medan ini buka dari jam 10.30 - 15.00 WIB.


Sumber: www.katalokal.com
3. Mie Aceh Titi Bobrok
Ada-ada saja ya sob makanan yang ada di Kota Medan ini, namanya Mie Aceh Titi Bobrok. Ane sebagai orang jawa langsung beranggapan kalau mie tersebut adalah mie yang berasal dari Aceh dan sudah rusak, karena kata "bobrok" sendiri dalam bahasa jawa mempunyai arti "rusak". Eow iya ini di Medan ya sob, bukan di Jawa. Mie Aceh ini cukup direkomendasikan lho di Kota Medan karena akan rasa dan kekhasannya. Mie Aceh terbilang khas karena didalamnya terdapat campuran kepiting. Sobat bisa memilih antara mie goreng, kuah atau basah. Rasanya cukup gurih dan kaya rasa rempah serta pedas sehingga dapat meningkatkan nafsu makan. Gimana tertarikkah untuk mencicipinya? Soal harga tak usah khawatir, untuk dapat menikmati seporsi mie ini hanya dibanderol dengan harga 10 - 40 ribu rupiah. Warung Mie Aceh Titi Bobrok yang terletak di Jl. Setia Budi No.17 D Medan ini buka dari jam 11.00 - 22.00 WIB.


Sumber: www.banyumurti.net
4. Kedai Durian Ucok
Masih teringat dalam ingatan Ane kalau Durian Ucok yang berada di Jl. KH. Wahid Hasyim No. 30-32 Medan ini pernah di syuting oleh salah satu stasiun televisi lho sob. Konon katanya tak lengkap rasanya bila bertandang ke Kota Medan tanpa membeli durian. Ane mah iya yain aja deh sob, usut punya usut memang benar kalau Durian Ucok ini sudah sangat populer di Kota Medan. Tak hanya disaat musim durian saja durian ini tersedia, tetapi juga tersedia saat durian tidak sedang pada musimnya. Soal harga sobat hanya perlu merogoh kocek antara 20k - 50k saja. Mau datang kapan saja bisa, karena kedai ini buka 24 jam non stop.


Sumber: www.tribunnews.com
5. Pusat Jajan Merdeka Walk
Ada sebuah tempat lagi yang sangat rekomended buat didatangi di Kota Medan ini lho sob, tempat tersebut bernama Merdeka Walk. Banyak yang dapat dilakukan disini diantaranya nongkrong-nongkrong cantik saat siang hari, menikmati aneka lampu warna-warni saat malam hari sekaligus menikmati berbagai macam aneka jajanan khas Medan, salah satunya pancake durian ala Medan. Sudah terbayang kan sob enaknya seperti apa?
So, kalau sobat datang ke Medan jangan lupa deh buat nyicipin semua kuliner-kuliner diatas.


Sumber: www.infomedan.net

Hotel Murah di Kota Medan



Puas berwisata kuliner di Kota Medan, kini saatnya pulang ke penginapan. Kenapa kok harus menginap, nggak langsung pulang saja? rugi dong sob kalau di Kota Medan hanya sehari saja, so besok pagi masih bisa kita lanjutkan ke tempat-tempat wisatanya atau langsung capcus ke Danau Toba yang tentu sudah tak asing lagi ditelinga kita. Tak usah khawatir kalau ingin sewa hotel murah di Medan yang nyaman, tahu tidak sob kalau di Kota Medan ini ada hotel yang cukup ekonomis tapi fasilitasnya oke lho, yakni Airy Rooms.



- Selain murah, Airy Rooms adalah jaringan hotel terbesar di 
  Indonesia dengan jumlah properti hotel terbanyak dibandingkan
  jaringan hotel lainnya.
- Fasilitasnya oke (memiliki 7 jaminan fasilitas di setiap kamar:
  AC, TV layar datar, perlengkapan mandi, tempat tidur bersih, 
  shower air hangat, air minum gratis, dan WiFi gratis). Pokoknya
  lengkap deh.



- Bisa dipesan melalui website, Android Apps, telepon ke Customer
  Service, dan juga melalui WhatsApp. Gimana mudah bukan?
Biar lebih jelas silahkan aja deh sob, sobat langsung saja meluncur ke websitenya di www.airyrooms.com
Selamat berlibur!
Let's Go

Jumat, 26 Agustus 2016

Gudeg Mbah Lindu, Cara Menikmati Gudeg Seperti Tempo Doeloe

Beberapa bulan lalu ada seorang nenek - nenek yang cukup tenar di kota ini sob, siapakah dia? Mbah Lindu lah namanya, seorang penjual gudeg sebelum Proklamasi kemerdekaan negara kita. waow sudah lama sekali ya! jadi ini simbah sudah hampir berumur 1 abad sob, tapi masih saja konsisten menjajakan barang dagangannya hingga sampai sekarang ini. Semisal kita asumsikan mbah ini jualan tepat tahun proklamasi 45, berarti kan udah sekitar 70 tahunan. Bukan waktu yang sebentar bukan? memang ya sob, bila ingin sukses butuh perjuangan dan kesabaran, buktinya simbah ini dia tidak berfikir untuk gudegnya cepat terkenal mungkin yang ada di fikiran dia jualan dan teruslah jualan sehingga sedemikian lamanya akhirnya simbah ini memetik hasilnya, gudegnya sudah terkenal dan kini sudah dikenal oleh penduduk Kota Jogja bahkan luar daerah Jogja.



Nah, kali ini giliran Ane yang mau menyambangi Gudeg Mbah Lindu ini sob letaknya ada di Jl. Sosrowijayan, Sosromenduran, Yogyakarta. Letaknya yang hanya berada di Kawasan Maliboro ini membuat tempat ini mudah untuk ditemukan. Tapi begitu memasuki Jalan Maliboro kuda hijau Ane mendadak tak bisa melaju kencang karena pas pagi itu jam 9 ada demo Buruh yang di gelar disini, maklum saat itu pas buruh merayakan Hari Buruhnya tanggal 1 Mei 2016.
Semeter demi semeter jalan yang Ane tempuh, untung saja Jl. Sosrowijayan ini masih berada di gang pertama ke arah barat dari Jl. Malioboro sehingga tak perlu menunggu kemacetan ini mereda. Sesudah ketemu gangnya, Ane belok kedalam gang tersebut. Sambil melaju dengan kecepatan rendah, Ane tengok ke kanan, tengok ke kiri ternyata Warung Gudeg Mbah Lindu ini menempati sebuah pos ronda dan tentunya bangunannya cukup kecil.



Dengan bahasa jawa Ane bercakap - cakap dengan beliau.
Ane        : Taseh tow mbah gudeg ipun?
             Masih kan mbah gudegnya?
Mbah Lindu : Taseh mas, Ajeng ngangge nopo, telur, ayam, nopo tahu?
             Masih mas, mau pakai apa, telur, ayam, apa tahu?
Ane        : Nasi gudeg ngagem telur mawon.
             Nasi gudeg pakai telur saja.
Untuk minumannya ada sebotol teh tapi apa boleh buat sob Ane nggak jadi ambil soalnya sedotannya tak tersedia. Ane di suruh cari sendiri sedotannya di tenggok, tapi tetap saja setelah tak cari - cari nggak nemu - nemu juga. Yasudah nggak apa - apa.


Krecek
Daging ayam
Telur
Tahu
Mbah Lindu ini sudah berusia cukup tua dengan tangannya yang sudah tidak cepat lagi melayani para pembelinya, tapi beliau cukup terampil dalam meracik dagangannya. Gudeg di racik menggunakan tangan telanjang tanpa menggunakan alat bantu seperti centong, sendok atau sejenisnya. Mungkin sebagian orang akan sangat risih atau jijik melihat cara Mbah Lindu ini meracik gudegnya, tapi disinilah letak keunikannya.



Tapi sob, Ane sangat heran dengan Mbah ini, walaupun dia sudah cukup tua tetapi pendengarannya masih cukup bagus. Beberapa kali Ane mengobrol dengan beliau dengan nada yang sangat rendah sekalipun beliau masih tajam pendengarannya. Wah keren! So, jangan berbicara sembarangan ya sob bila kesini, apalagi yang menyinggung beliau. Bisa - bisa mbahnya ngambek, terus nggak mau ngelayani dan sobat di usir dari tempatnya,"Kono lungo (sana pergi), kono (sana) (hehehe, just kidding).



Hasil racikan beliau sudah jadi dan kini sudah ada dihadapan Ane. Memakan gudeg hasil racikan beliau ini benar - benar bisa membawa suasana tempo doeloe lho sob, bagaimana tidak gudeg ini disajikan menggunakan wadah pincuk daun pisang tanpa lapis wadah apapaun seperti piring dan sejenisnya. Nggak percaya? nieh buktinya



Sepincuk nasi gudeg ini berisikan nasi putih, gudeg, krecek, suwiran tahu, areh, dan telur. Lalu bagaimanakah dengan rasanya? ternyata rasanya sudah tidak perlu diragukan lagi sob, secara jualannya aja sudah lebih dari 70 tahun jadi ya enak. Rasa gudegnya cukup khas manis, gurih nan lezat, begitu pula dengan arehnya yang berwarna cokelat kehitaman. Ini dia yang Ane suka dari gudeg Mbah Lindu ini yakni ada petainya, selain membawa suasana tempo doeloe juga mengingatkanku pada saat di kampung halaman. Petai banyak apalagi jengkol, hehehe. Dua kata untuk ini deh sob,"Wuenak tenan, Le leduk".



Soal harga untuk sekelas gudeg telur cukup mahal sieh sob. Biasanya nasi gudeg krecek telur harganya 12 - 16k saja itupun sudah dengan minuman teh, sebagai Contoh Gudeg Bu Niek. Eh disini dibanderol dengan harga 20k, tanpa air minum pula. Sambil membayar Ane sambil berbincang - bincang dengan simbahnya. Konon katanya, beliau banyak didatangi para turis yang mampir ke lapaknya dan minta dibungkuskan untuk di bawa pulang, tak terkecuali dengan host di salah satu acara televisi "Hitam Putih". Lalu Ane pun langsung bertanya,"niku (itu) Deddy Corbuzier mbah?", dan mbahnya hanya bilang,"Yo kui seng dadi host nang Hitam Putih tiap sore tampil kae mas (Ya itu yang jadi host di Hitam Putih tiap sore tampil itu mas)".
Yaudah deh sob, bila sobat penasaran dengan gudeg Mbah Lindu ini atau malah penasaran dengan Mbah Lindunya?


Ingin foto bersamanya
Langsung saja menuju ke TeKaPe. Berikut tak kasih gambaran rutenya bila sobat belum tahu lokasi persisnya.
Dari perempatan dekat Stasiun Tugu Jogja (yang ada tulisannya "Jl. Malioboro" dan sering digunakan untuk foto - foto oleh wisatawan), bergeraklah ke arah selatan melalui Jl. Malioboro searah menuju ke Titik Nol Kilometer Jogja, Lihatlah ke arah kanan (barat), bila sobat menemukan jalan masuk pertama ke arah tersebut, masuklah. Nah, Gudeg Mbah Lindu ini terletak di sebelah kiri (selatan) jalan tepatnya di depan Hotel Grage Ramayana.



Jam buka: Pukul 05.00 WIB - 10.00 WIB
Sebaiknya bawa minum sendiri deh sob kalau mau makan disini, soalnya tuh ya simbahnya tidak melayani pembelian es teh, es jeruk atau es - es yang lainnya.
Let's Go

Jumat, 19 Agustus 2016

Sego Koyor Bu Parman, Enak Tapi

Hai sob, gimana nieh kabarnya? semoga baik-baik saja ya. Dah satu minggu aja nieh sob blog ini Ane anggurin, lagian yang mpunya blog lagi disibukkan masalah yang lain sieh jadi ya terpaksa deh Ane anggurin sebentar. Nah, kali ini Ane mau cerita tentang perjalanan Ane di Sego Koyor Bu Parman sob. "Krucuk, krucuk, krucuk", begitulah kira-kira suara yang ada didalam perut Ane. Sepertinya cacing - cacing dalam perut sedang pada konser semua. Saat itu hari sudah mulai malam sekitar jam 10 an, Mau makan nasi sayur sudah tak mungkin karena warung sudah pada tutup semua, mau makan di burjo (hmmm, masa burjo lagi?), mau nongkrong tapi nggak ada sahabat yang bisa Ane ajak, tiba - tiba terlintas di benak Ane kalau di Jogja itu ada warung yang sangat direkomendasikan untuk dicoba, bukanya bukan dari pagi sampai sore hari, tapi justru dari malam sampai pagi hari. Warung yang Ane maksud adalah Sego Koyor Bu Parman yang terletak di Jl Brigjend. Katamso Yogyakarta.



Berbekal dari nama alamat berangkatlah Ane langsung menuju TeKaPe menyusuri Jl. Brigjend. Katamso tersebut. Toko demi toko Ane lihat, hingga akhirnya setelah melewati Jogjatronik ketemu juga warung Sego Koyor Bu Parman ini. Warungnya sangat sederhana hanya menempati sebuah emperan toko, jadi kalau pagi sampai sore digunakan untuk aktifitas toko, sedangkan malam sampai pagi harinya digunakan untuk berjualan sego koyor ini. Pada awalnya Ane kira kalau disini ada semacam tempat lesehannya sob, tapi apa yang terjadi? ternyata tak ada dan yang ada hanyalah dua buah kursi panjang saja yang terpasang mengelilingi mejanya. Alhasil Ane harus sedikit menggeser pengunjung yang lain yang sedang ngobrol asyik bersama para sahabatnya.



"Mau makan apa mas?", tanya Sang Penjualnya kepada Ane saat Ane baru saja duduk di kursi.
"Sego koyor Bu", balas Ane dengan cepat. "Ini petainya juga di jual kan Bu?", tanya Ane karena tanpa sengaja Ane melihatnya.
"Iya mas", jawab Sang Ibu.
"Petainya satu aja", timpal Ane.
"Baik mas, lalu minumannya mas?", tanya Sang Ibu kembali
"Teh hangat saja", jawab Ane.
Kini, menu yang hendak Ane santap sudah ada di depan mata Ane.



Eow iya sob, daritadi Ane ngomongin soal sego koyor ini, sobat sudah tahu belum apa itu sego koyor? taaaauuu? atau tidak tahu? okelah kalau begitu, jadi yang dinamakan sego koyor itu adalah makanan berupa urat sapi yang disajikan dengan nasi putih (nasi putih dalam bahasa jawanya adalah sego). Beginilah penampilan sego koyor Bu Parman itu.



Sudah tak tahan lagi rasanya Ane ingin segera mencicipinya. sepotong koyor kini mendarat di indera pengecap Ane, rasanya cukup gurih, empuk dan tak sedikitpun Ane merasakan kealotan darinya. Saking empuknya Ane dengan mudah memotongnya menjadi bagian - bagian kecil dengan sendok. Agar lebih nikmat dan seru, Ane lantas mengambil seplastik kecil kerupuk yang ada dihadapan Ane. Sebenarnya ada beberapa pilihan lauk yang dapat Ane pilih sob, diantaranya ada jeroan, gorengan, maupun babat.



Lengkap sudah di tengah udara malam ini mengletus lalapan petai yang ada dan ditemani segelas teh hangat. Dua kata untuk ini semua,"Wuenak tenan, le leduk". Biarlah orang berkata apa kalau petai itu bau, de el el. Tak ada gengsi sob, Ane benar - benar menyukainya, yang penting enak ya masuk mulut, hehehe.



Soal harga masih cukup bersahabat kok sob untuk semuanya hanya dibanderol dengan harga 20k saja dengan rincian sego koyor 15k, teh hangat 2k, seplastik kerupuk kecil 1k, dan satu biji petai 2k. Gimana tertarikkah untuk mencicipinya?
Kalau tertarik langsung aja sob menuju ke TeKaPe:



Dari Titik Nol Kilometer Kota Jogja, bergeraklah ke arah timur (belok kiri bila dari arah Malioboro) melalui Jl. Panembahan Senopati hingga perempatan lampu merah. Kemudian beloklah ke arah kanan (selatan) melalui Jl. Brigjend. Katamso melewati pertigaan lampu merah dan Jogjatronik, lambatkan laju kendaraan sobat bila menggunakannya dan lihatlah ke arah kiri (timur) tak lama lagi sampailah sobat di tempat yang sobat maksud.
Warungnya terletak di sebelah kiri (timur) jalan.
Jam Buka : Pukul 21.30 - 04.00 WIB.
Enak sieh enak sob, Eitz tapi ingat: kalau sobat mau makan ya jangan sering-sering ya, ntar ndak kolestrolnya naik. Woke! hehehe
Sampai Jumpa!!!
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me