Kamis, 28 Mei 2020

Nasi Uduk Toha Bandar Lampung, Pulen dan Lezat

Hay, hay, hay, Apa kabar? gimana nieh sob kabarnya? semoga baik-baik saja ya walau saat ini kita masih diuji oleh Sang Maha Kuasa karena adanya Covid-19 ini. Mudah-mudahan keadaan ini segera berakhir dan kita bisa menjalani kehidupan seperti sediakala, Amiiieeen. Kali ini Ane mau menceritakan perjalanan kuliner Ane nieh sob di salah satu Kota di negara tercinta kita ini yakni Bandar Lampung.
Apa yang terlintas pertama kali di benak sobat ketika mendengar kata nasi uduk? nasi yang di masak dengan santan kelapa, daun salam, dan serai, ataukah sobat langsung beranggapan kalau nasi uduk tersebut cocok bila disantap dengan menggunakan sambal. Oke, Kalau begitu anggapan kita sama sob. Nah, Di Kota Bandar Lampung ini (kebetulan Ane sedang berkunjung kesini) konon katanya ada sebuah rumah makan yang cukup terkenal karena masakannya yang lezat. Rumah Makan tersebut bernama Nasi Uduk Toha.


Setidaknya ada tiga buah tempat yang tersebar di Kota Bandar Lampung yang bisa dikunjungi oleh para pengunjung untuk bisa merasakan kelezatan dari nasi uduk ini, yaitu:
1. Jl. Kartini No. 156 Tanjung Karang;
2. Jl. Pangeran Antasari No. 96 Tanjung Karang; dan
3. Jl. Diponegoro No. 98 Teluk Betung
Dari ketiga buah tempat tersebut, Nasi Uduk Toha yang beralamatkan di Jl. Kartinilah yang menjadi pilihan Ane. Mungkin karena tempat ini yang menjadi cikal bakal berdirinya rumah makan ini sehingga menarik perhatian Ane untuk berkunjung.
Rumah makan ini terletak di pinggir jalan utama sehingga mudah untuk ditemukan. Bila dari Terminal Rajabasa, lurus terus kearah selatan sejauh kurang lebih 7 Km. Berhubung terletak di jalan searah menuju utara, maka sesampainya di Tugu Juang tidak serta merta bisa langsung menuju ke arah selatan akan tetapi harus putar dahulu melalui Jl. Kota Raja, Jl. Radin Intan, dan Jl. Jenderal Ahmad Yani. Kalau sobat bingung, dari Terminal Rajabasa naik bus kearah selatan, sesampainya di Tugu Juang mintalah untuk berhenti.

Suasana Tugu Juang Bandar Lampung saat sore menjelang malam hari
Selanjutnya sobat bisa meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki kearah selatan kurang lebih sejauh 350 meter. Sampai dah, Nasi Uduk Toha ini terletak di sebelah kiri jalan jadi tak perlu lagi menyeberang jalan. Kalau mau lebih praktis lagi, silahkan sobat naik saja ojek online yang seperti Ane lakukan ini. Sudah banyak kok ojek online yang bertebaran di Kota Bandar Lampung mulai dari Gojek, Grab, hingga maxim. Berhubung saat Ane berkunjung, ojek online maxim lebih murah dibandingkan dengan keduanya jadi ya Ane menggunakan maxim saja. Selisih 2 ribu, 3 ribu lumayan kan sob bisa buat beli es teh :-)
Rumah makannya cukup besar, Ane perkirakan dapat menampung sekitar 70 orang dengan meja dan kursi yang tersusun cukup rapi. Terlihat para pelayannya yang didominasi oleh kaum pria sedang sibuk melayani para tamunya yang datang, ntah itu untuk dimakan di tempat atau di bawa pulang. Pelayannya terbilang cukup rapi dan ramah, memakai seragam warna oranye. Di sela - sela kesibukannya, mereka menyapa kepada setiap pengunjung yang datang tak terkecuali dengan Ane bahkan masih sempat-sempatnya mengajak Ane untuk bercanda.

Suasana Rumah Makan Nasi Uduk Toha saat itu
Suasana tempat duduk yang ada di bagian sisi belakang
Gayanya boleh juga mang, narsis abisss!
"Mau makan pakai apa mas?", tanya salah seorang pelayannya kepada Ane. Tentu kalau sudah masuk kesini tanpa ditanya mau makan apa jawabannya pastilah nasi uduk. Pertanyaan ini langsung to the point kepada lauk-pauknyanya. Ane cukup bingung karena ada banyak pilihan lauk-pauk yang dapat Ane pilih diantaranya ada tahu tempe, telur ayam, ayam, ati ampela, bahkan petai. Kalau mau diapakan tergantung Ane maunya seperti apa. fikir punya fikir akhirnya pilihan Ane jatuh pada ati ampela serta petai goreng.


Setelah pesan, Ane langsung mengambil salah satu tempat duduk. Tak ada tempat duduk berupa lesehan, yang ada hanyalah sistem meja kursi saja. Begitu duduk, salah satu pelayannya menghampiri Ane dengan membawakan menu pendamping diantaranya emping melinjo; lalapan berupa potongan buah mentimun, sawi selada, dan potongan buah tomat; air untuk mencuci tangan; serta segelas teh hangat. Awalnya Ane kira kalau yang dibawa ya nasi uduknya, eh ternyata bukan.


Baru kemudian menu utamanya yang datang yakni sepiring nasi uduk yang diatasnya bertaburkan bawang goreng bersamaan dengan semangkok kecil sambal dan ati ampela beserta petai yang digoreng. Lengkap sudah semuanya. Hulala, dari tampilan dan aromanya cukup menggoda apalagi perut Ane dalam keadaan keroncongan. Lalu bagaimana dengan rasanya? apakah biasa-biasa saja ataukah ada sesuatu rasa yang istimewa? sepertinya Ane sudah tak sabar lagi untuk segera mencicipinya. Yuk Sob kita rasakan bersama-sama.

Menu komplit Nasi Uduk Toha
Tampilan Sepiring Nasi Uduk Toha di lihat dari sisi atas
Tampilan Sepiring Nasi Uduk Toha di lihat dari sisi samping
Nyammm, wow ternyata pada kecapan pertama memang ada sesuatu yang berbeda bila dibandingkan dengan nasi uduk pada umumnya. Hmmm, rasanya cukup pulen dan gurih serta nasinya ituloh cukup terasa lembut di mulut, bah pokoknya lezat sekali deh sob apalagi dicocol dengan sambal berbarengan dengan menyantap emping melinjo serta berlalapkan dengan lalapan yang ada. Pokoke "Wuenak Tenan, Le Leduk". Tak henti-hentinya Ane dalam mengecap. Kecapan demi kecapan Ane lakukan hingga pada akhirnya sepiring nasi uduk yang tersaji:

Tak habiskan semuanya, tinggal menu-menu pendamping saja yang masih tersisa
Urusan makan selesai, kini saatnya Ane membayarnya. Ane cukup kaget ketika menerima struknya, seporsi nasi uduk hanya dibanderol 8k saja. Cuman yang lain-lainnya ituloh malahan lebih mahal yakni ati ampela dan petai goreng masing-masing dibanderol dengan harga 10k. Total uang yang harus Ane keluarkan adalah 31k karena ditambah pajak sebesar 10%. Untuk lalapan, emping melinjo dan segelas teh hangat tak dihitung disini mungkin hitungannya sudah masuk dalam paket sepiring nasi uduk.

Daftar harga menu Nasi Uduk Toha ada di dalam struk pembayaran
Yang Mpunya blog Pengen ngeksis dulu biar tidak dianggap hoax, :-)
Gimana cukup ekonomis dan tidak merogoh kocek terlalu dalam bukan? Apakah disini hanya menjual menu nasi uduk saja? oh tidak, selain nasi uduk yang memang menjadi menu andalan disini juga menjual nasi goreng, mie goreng/rebus, dan nasi putih dengan pilihan lauk yang ada sesuka hati pelanggan.
Sesuka hati tidak berlaku untuk jam bukanya, karena Rumah Makan Nasi Uduk Toha ini buka mulai pada sore hari yakni Pukul 16.00 WIB hingga pagi hari yakni Pukul 02.00 WIB. So, jangan salah waktu ya sob biar tidak kecewa. Sampai Jumpa!

Catatan: Kunjungan ke Rumah Makan Nasi Uduk Toha Ane lakukan 
         sebelum adanya Covid-19
Let's Go

Kamis, 16 April 2020

Menuju Bunker Kaliadem Dengan Jalan Kaki, Bisa!

Jarum jam masih menunjukkan pukul 15.30 WIB. Buat Ane waktu tersebut masih tergolong siang apalagi Ane masih dalam sebuah perjalanan, tentu Ane tak mau melewatkan begitu saja sinar matahari yang masih menerangi bumi walau tinggal sebentar. Dengan sisa-sisa waktu yang ada setidaknya Ane masih bisa berkunjung ke sebuah tempat lagi, apalagi tempat yang akan Ane kunjungi selanjutnya sudah sangat populer di kalangan para wisatawan dan terletak tidak jauh dari Petilasan Mbah Maridjan yang sudah Ane kunjungi sebelumnya, jelas ini menambah keyakinan Ane untuk mengunjunginya. Obyek wisata yang Ane maksud disini adalah Bunker Kaliadem yang terletak di Dusun Kinahrejo, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.



Lalu bagaimanakah cara menuju Obyek Wisata Bunker Kaliadem ini?
Untuk mencapai Obyek Wisata Bunker Kaliadem pada umumnya dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Jalannya sudah lumayan bagus, namun naik-turun khas jalanan yang ada di dataran tinggi. Sejauh pengamatan Ane rata-rata wisatawan yang berkunjung ke Obyek Wisata Bunker Kaliadem ini menggunakan kendaraan mobil jeep. Wajar saja karena Obyek Wisata Bunker Kaliadem ini terletak di Kaliadem yang merupakan sebuah kawasan wisata. Selain obyek wisata ini, ada The Lost World Castle, 2 museum yang membahas tentang erupsi merapi, dan bahkan ada Stonehenge yang mirip dengan Stonehenge yang ada di Inggris. Jadi lebih efektif dan efisien bukan?
Sekarang bagaimanakah dengan Ane dalam menuju kesana? Apakah dengan menggunakan kendaraan bermotor roda dua atau menyewa mobil jeep? Jawabannya adalah Ane tak memilih salah satunya. Sudah Ane katakan sebelumnya bahwa Bunker Kaliadem ini terletak tidak jauh dari Petilasan Mbah Maridjan. Bahkan saking dekatnya perjalanan menuju kesana Ane tempuh hanya menggunakan kedua kaki Ane alias jalan kaki. Loh kok bisa Nis? Bisa saja sob.
Begini caranya:
Berdasarkan informasi yang Ane dapatkan dari google maps, Obyek Wisata Bunker Kaliadem terletak sekitar 700 meter dari Petilasan Mbah Maridjan, itupun kalau lewat jalur yang semestinya (Jalur motor/mobil). Kalau tidak melalui jalur yang semestinya, apakah ada jalur lain yang bisa dilalui? ternyata ada dan jalur ini lebih pendek yakni hanya berjarak sekitar 450 meter. Namun jalur ini hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki dan tak bisa dilalui menggunakan kendaraan bermotor.
Perjalanan Ane mulai dari Petilasan Mbah Maridjan, jalurnya ada di sebelah timur laut pendopo yang besar/timur rumahnya Almarhum mbah Maridjan/utara menara atau gardu pandang.


Seperti ini penampakannya!
Ane ikuti jalan setapak ini kebawah. Hawanya cukup sejuk selain karena memang terletak di dataran tinggi, juga karena di samping kanan dan kiri jalur tumbuh berbagai macam jenis pohon dan tumbuhan.



Tak lama kemudian Ane menemukan sebuah sungai yang mati, Ane katakan demikian karena tak ada sedikitpun air yang mengalir sehingga nampak dengan jelas pasir khas lereng merapi. Lalu Ane menyeberanginya. Setelah menyeberang, Ane melihat hamparan lahan berpasir dan berbatu cukup luas seukuran lapangan bola kaki.

Seperti ini pemandangannya!
dan seperti ini
Kalau yang hobi adventure trek, bisa main disini. Di tanah ini juga terlihat bekas roda kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat. Ada sebuah jalan yang sangat terjal terpampang dengan jelas jauh disana. Disini Ane mulai bimbang dan ragu, apakah Ane harus mengikuti jalan itu ataukah mencari jalan lain yang lebih landai?. Akhirnya Ane memutuskan untuk mengikuti terlebih dahulu jalan tersebut. Sesampainya di jalan ini, eh ternyata saking terjalnya yang Ane kirakan mempunyai sudut kemiringan diatas 50 derajat Ane tak sanggup untuk melaluinya. Nyerah!!!



Walaupun Ane menyerah, namun setidaknya pernah mencoba. Ya nggak sob? diiyain ajalah ya biar cepat beres urusannya :-). Ane berfikir sejenak, dengan insting dan hati yang Ane punya akhirnya Ane memutuskan untuk bergerak kembali ke titik semula (titik dimana baru saja Ane menyeberangi sebuah sungai yang mati) dan kemudian melangkah berbelok kearah kiri (utara). Dari dahulu Ane meyakini bahwa Allah bersama dengan seorang pejalan/petualang. Benar dugaan Ane, jalan yang Ane pilih ini membawa Ane ke jalan yang benar. Ane menemukan sebuah percabangan jalan.



Dari posisi Ane memfoto ini, Ane muncul dari jalan yang ada di sisi kanan. Sekarang Ane harus berjalan melalui jalan yang ada di sisi kiri dan menanjak. 4 menit kemudian sampailah Ane diatas dan bertemu dengan sebuah batu yang cukup besar berbentuk menyerupai seekor gajah. Batu ini bernama Watu Gajah, diletakan didalam pembatas yang terbuat dari rantai besi.



Sampai sini hati Ane terasa lega karena Obyek Wisata Bunker Kaliadem sudah terlihat, hal ini ditandai dengan adanya bangunan yang berdiri dan pengunjung yang berseliweran kesana-kemari. Kalau jalan kaki dari sini, dibutuhkan waktu sekitar 1-2 menit lagi.


Tangga utama bunker
Ane muncul bukan dari tangga yang utama, melainkan dari tangga yang letaknya dari samping kiri bunker dan jumlah anak tangganya tak seberapa.


Tangga yang ada di samping kiri bunker
Memasuki area utama bunker, sebelum masuk Ane melihat sebuah banner yang menggambarkan keadaan bunker sebelum erupsi dan bunker setelah erupsi tahun 2010. Bunker sebelum erupsi to penampilannya cukup bagus dibandingkan setelah erupsi yang penampilannya cenderung kumuh. Maklum, bunker ini pernah tertimbun material vulkanik selama 3 tahun. Padahal fungsi utama dari bunker ini adalah sebagai tempat berlindung dari bencana gunung merapi bila meletus, tapi karena pemandangan yang dimilikinya cukup menakjubkan tak heran bila banyak wisatawan yang berkunjung memadati tempat ini.



Banyak wisatawan keluar masuk bunker, ada apakah gerangan didalam? Merasa penasaran, Ane pun masuk kedalam bunker dengan menuruni anak tangga terlebih dahulu. Owalah seperti ini tow kondisinya. Sebuah ruangan yang cukup lapang seukuran ruang kelas berbentuk setengah lingkaran. tepat ditengah-tengahnya terdapat material vulkanik yang telah membatu. Selain ruangan utama, ada dua buah ruangan yang lain yang cukup kecil. Sebuah ruangan difungsikan sebagai kamar kecil ditandai dengan adanya penampungan air dan kloset dan ruangan yang lainnya ntah untuk apa kalau dugaan Ane mungkin untuk tempat beribadah.





Gambar material vulkanik yang telah membatu
Ini jelas untuk kamar mandi
Kalau yang ini untuk apa ya? Ada yang tahu sob?
Gelap dan tak ada alat penerangan, Ane fikir itulah sebuah kata yang pas untuk menggambarkan dalamnya bunker ini. jadi, satu-satunya sumber penerangan hanyalah dari pintu masuk bunker. Suasananya cukup sunyi dan mistis, bulu kuduk Ane berdiri seketika saat tak sengaja mendengar sebuah cerita dari salah seorang pemandu yang sedang menjelaskan kepada kliennya. Konon katanya didalam bunker ini pernah ditemukan dua jenazah relawan yang terkena lahar panas. Kalau cerita ini diceritakan ditempat lain mungkin bulu kuduk Ane tidak berdiri, la ini masih di TeKaPe lo, Hiii atut! Kaburrr.
Perjalanan Ane lanjutkan, diatas bunker terlihat hamparan luas lahan berpasir dan berbatu. Nampak dikejauhan sana Gunung Merapi berdiri dengan gagah ditumbuhi pepohonan hijau mengalur dengan jelas. Indah memang sekaligus mistis, apalagi sesekali kabut menyelimuti permukaan gunung tersebut. Tak puas memandangnya dari jauh, Ane pun bergerak mendekatinya. Kelihatannya cukup dekat, ternyata setelah dijalani lumayan juga jauhnya hingga langkah Ane terhenti saat menemui sungai yang tak berair. Masya Allah pemandangannya sungguh menakjubkan seolah tak pernah ada masalah dengannya.


Romantis juga ya tempat ini

Sambil menikmati pemandangan yang ada, Ane beristirahat sejenak meskipun hanya meminum seteguk air bening. Dirasa cukup puas Ane kembali lagi ke Petilasan Mbah Maridjan tempat dimana motor Ane terparkir dan meneruskan perjalanan pulang menuju rumah.
Jam buka Bunker Kaliadem: Setiap hari 24 Jam
Tak ada tiket masuk yang dikenakan pengunjung alias gratis.
Gimana sob tertarik buat mengunjunginya? Kalau tertarik, bersabar sedikit ya sob dan sementara simpan dahulu keinginan sobat karena sedang ada virus korona sehingga sobat lebih baik berdiam diri di rumah untuk sementara waktu. Ane sendiri melakukan perjalanan ini sebelum adanya virus korona, sehingga tak perlu ada yang dikhawatirkan. Sampai jumpa!
Let's Go

Sabtu, 14 Maret 2020

Mengenang Mbah Maridjan Sang Juru Kunci Merapi di Petilasannya

Selepas mengunjungi Stonehenge, Ane pacu kendaraan roda dua Ane menuju obyek wisata selanjutnya yang juga masuk dalam daftar kunjungan Ane di Kawasan Cangkringan ini yaitu Petilasan Mbah Maridjan. Tak butuh waktu lama untuk sampai sini karena hanya berjarak kurang lebih 3 Km saja. Ini bukanlah kali pertama Ane mengunjunginya. Ya, saat itu petilasan ini masih berstatus sebagai rumah karena masih dihuni. Tapi kini cerita itu berbeda, rumah yang dahulu ditinggali berubah menjadi sebuah petilasan.



Ane sengaja datang kesini lagi karena Ane penasaran dengan kondisi setelah erupsi merapi yang terjadi 8 tahun silam. Sesampainya di lokasi ternyata beginilah keadaannya. Di sisi kanan sebelum memasuki area utama petilasan terdapat lahan parkir kendaraan bermotor yang tak begitu luas namun bisa digunakan oleh para pengunjungnya.
Beranjak dari lahan parkir, Ane berjalan kaki memasuki lokasi utamanya. Tak ada biaya tiket masuk yang harus Ane bayar alias gratis dan inilah penampilan Petilasan Mbah Maridjan seutuhnya. Disebelah kiri dekat pintu masuk terdapat sebuah bangunan masjid bertingkat bernama Masjid "Al-Amin" Syariah Mandiri (Masjid diatas Pasir). Dari namanya saja dapat kita duga bahwa ada kerjasama antara bank syariah mandiri dengan pengelola petilasan ini. Sedangkan disebelah kanan dekat pintu masuk kearah timur terdapat warung yang menjual berbagai macam makanan dan minuman serta souvernir yang berkaitan dengan Mbah Maridjan dan Gunung Merapi. Eow iya berhubung Ane belum shalat Dzuhur, naiklah Ane ke lantai atas masjid tersebut. Saat mengambil air wudhu, cesss cesss cesss, airnya itu loh sob terasa banget dinginnya. Suasananya pun bengitu nyaman dan damai. Ingin rasanya berlama-lama berada disini.


Suasana Petilasan Mbah Maridjan kala itu
Sebuah bangunan Joglo bernama Hargo Merapi 
Selepas shalat dzuhur, bergegas Ane kembali melihat-lihat petilasan Mbah Maridjan secara keseluruhan. Tampak dikejauhan sana (sisi timur) ada dua buah bangunan berbentuk joglo. Kedua joglo tersebut berbeda ukuran, joglo yang besar bernama Hargo Merapi sedangkan joglo yang lebih kecil ntah namanya apa yang jelas disini tertulis di papan nama yang terbuat dari kayu "Tempat Berdo'a, Omahe Mbah Maridjan". Seinget Ane memang posisi tepat rumah milik Mbah Maridjan ya disini, Jadi sesuai jika kata "Omahe" tersemat didalamnya yang bila diartikan ke dalam Bahasa Indonesia mempunyai arti "Rumahnya".
Setiap pengunjung boleh naik keatas dengan syarat alas kaki harus dilepas. Didalam Joglo ini terdapat sebuah petilasan dan beberapa foto berbagai macam ukuran dan kesemuanya itu tentang Mbah Maridjan. Inilah poin utama mengapa tempat ini dinamakan petilasan. Ane hanya berdo'a mendoakan beliau agar beliau diatas sana mendapatkan tempat yang terbaik disisiNya. Ane hanya bisa berpesan kepada sobat kalau kesini jangan berdo'a meminta sesuatu ya sob, nanti jatuhnya malah syirik/musyrik. Padahal kan Syirik/musyrik ini dalam agama dilarang, jadi sepatutnya/sewajarnya saja.


Omahe Mbah Maridjan tampak depan
Sebuah petilasan yang ada didalam Omahe Mbah Maridjan
Melangkah kearah barat, tepat disebelahnya terpampang sebuah banner yang menginformasikan saat erupsi terjadi. Setidaknya ada 3 nama korban yang meninggal di kediaman Mbah Maridjan ini yakni Mbah Maridjan Sang Juru Kunci Merapi sendiri, Tutur Priyanto (relawan PMI), dan Yuniawan Wahyu Nugroho (Wartawan Viva News). Memasuki ruangan, ada satu set peralatan gamelan Mbah Maridjan yang masih tersimpan dengan baik meskipun sebagian sudah dalam keadaan peok. Betapa dahsyatnya kekuatan erupsi merapi saat itu sampai-sampai bisa memeokkan perlatan ini.



Apalagi peralatan yang terbuat selain dari bahan besi seperti yang tersimpan di ruangan bangunan lainnya seperti barang pecah belah dan peralatan rumah tangga diantaranya ada panci, nampan, wadah nasi, teko, ceret dan lainnya tentu rusak tak berbentuk. Maka tak heran dibagian depan ruangan ini terdapat sebuah papan plank yang terbuat dari kayu bertuliskan "Omahku Tinggal Kenangan", dalam bahasa Indonesia berarti "Rumahku Tinggal Kenangan".






Lava yang dimuntahkan oleh erupsi merapi menerjang apa saja yang ada didepannya, tak pandang bulu apakah manusia, hewan, ataukah barang ntah itu murah atau mahal, sederhana atau mewah. Hal ini terlihat dari duah buah sepeda motor dan sebuah mobil evakuasi jenis APV yang hanya tinggal kerangkanya saja dalam keadaan berkarat terpampang secara jelas di salah satu ruangan.




Setelah mengunjungi 3 tempat yang ada di kawasan wisata Cangkringan ini, diantaranya:




Ane dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa kita harus selalu waspada dan berhati-hati terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh gunung berapi, karena aktivitas alam itu terjadi secara alami dan kita hanya bisa menerima saja tanpa bisa mengendalikannya. Yang terpenting sekarang adalah kita harus selalu menyayangi alam dan menjaganya tanpa merusaknya serta berdoa kepada Sang Maha Pencipta agar kita selalu berada di bawah lindungannya.
Hmmm, cukup lelah juga ternyata. Sambil beristirahat di Joglo yang besar Ane melihat kearah timur, eh ternyata ada bagian yang terlewatkan yaitu keberadaan sebuah gardu pandang yang bisa digunakan oleh para pengunjung yang ingin mengamati pemandangan gunung merapi lebih jelas. Apakah dahulu gardu pandang ini digunakan oleh Sang Juru Kunci untuk melihat aktivitas vulkanik Gunung Merapi? Ntahlah. Ane mah habis ini langsung tancap gas menuju Bunker Kaliadem agar Gunung Merapi terlihat lebih jelas lagi.
Jam buka Petilasan Mbah Maridjan:
Setiap hari Jam 8 Pagi hingga Jam 6 Sore.
Let's Go

Kamis, 20 Februari 2020

Stonehenge Jogja, Replika Stonehenge di Inggris

Pada awalnya Ane hanya ingin berkunjung ke The Last World Castle, museum-museum yang ada di sekitarnya serta napak tilas Mbah Maridjan saja. Namun, ditengah perjalanan dari Museum Mini Sisa Hartaku ke napak tilas Mbah Maridjan, Ane tak sengaja melihat sebuah obyek wisata yang Ane belum ketahui sebelumnya. Letaknya ada disebelah kanan (utara) jalan. Mungkin obyek wisata ini sudah cukup hits dan terkenal karena menurut Ane sangat instagramable. Ane fikir jaman sekarang kalau ada obyek wisata yang mengusung konsep kekinian, pastilah langsung menjadi sasaran empuk bagi millenial untuk berkunjung. Obyek wisata apakah itu? yakni Stonehenge Merapi atau kalau Ane lebih suka menyebutnya dengan Stonehenge Jogja dan daripada penasaran serta terbayang-bayang dalam fikiran langsung saja Ane belokkan kendaraan bermotor roda dua Ane kedalam parkiran.



Lahan parkirnya terbilang sangat luas, namun hanya ada beberapa kendaraan saja yang terparkir. Untuk memasuki lokasi obyek utamanya Ane diharuskan membayar biaya sebesar 12k saja dengan rincian 10k untuk tiket masuk dan 2k untuk parkir motor. Pantas saja saat parkir motor tak ada petugas yang langsung menariki, ternyata jadi satu tho. Jadi sebelum Ane memberitahu alamat Stonehenge kepada sobat, Ane yakin sobat pasti sudah tahu dimana Stonehenge ini berada. Ya, nggak sob? Ya Stonehenge ini ada di Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.



Tempat pembelian tiket masuk Stonehenge
Tiket masuk dan retribusi kendaraan bermotor
Sesampainya di lokasi utama obyek, hanya ada beberapa pengunjung saja yang sedang berkunjung tak seramai The Lost World Castle. Berbagai aktifitas foto-mefoto mereka lakukan dengan berbagai macam pose tapi satu yakni hanya berlatar belakang bebatuan. Bagaimana tidak Ane sebagai orang awam melihat Stonehenge ini ya hanya melihat sebuah tumpukan batu raksasa setinggi kurang lebih 4 meter yang di susun menyerupai gawang dengan formasi melingkar namun tetap memperhatikan nilai seni dan estetika, tak lebih. Maka dari itu Ane ingin mengetahui lebih lanjut sebenarnya Stonehenge ini apa sieh? Barangkali ada informasi penting yang dapat menambah wawasan Ane.





Gayung bak bersambut, di bagian sisi depan ada sebuah papan pengumuman penjelasan mengenai tempat ini. Eh By The Way, sobat sendiri sudah tahu belum tentang Stonehenge itu apa? Kalau belum tahu yuk kita belajar bersama-sama. Pada intinya itu begini:
Poin pertama, Stonehenge merupakan situs prasejarah peninggalan manusia purba pada zaman Neolitikum dan perunggu. Proses pembangunannya dilakukan secara bertahap.
Poin kedua, Stonehenge dan lingkungan sekitarnya ditambahkan kedalam situs warisan dunia UNESCO pada tahun 1986.



Stonehenge yang ada di Cangkringan ini merupakan replika dari Stonehenge yang ada di Inggris. Stonehenge ini sangat terkenal di Inggris, jadi kalau sobat menginginkan pergi ke stonehenge tak perlu jauh-jauh ke Inggris cukup pergi ke Kota Jogja saja.
Walaupun hanya sebuah replika dan buatan tangan, namun strukturnya menyerupai batu sungguhan yang disusun semirip mungkin dengan Stonehenge yang ada di Inggris. Sebelum membaca informasi yang ada di papan informasi, Ane pun sempat tertipu kalau batuan yang disusun rapi ini benar-benar batu alami sisa batuan erupsi merapi tahun 2010. Habis mirip sekali sih!




Sudah sampai situ saja ya sob informasinya, Kalau ingin informasi lebih lengkap silahkan sobat langsung saja datang ke lokasi.
Jam buka Stonehenge Jogja:
Setiap hari dari Jam 7 Pagi hingga Jam 5 Sore.
Habis membaca informasi mengenai Stonehenge, Ane lanjutkan untuk hunting foto dan setelah itu ada dua buah obyek wisata lagi yang akan Ane kunjungi. Obyek wisata apakah itu? Kan sudah Ane ceritakan diatas dan satunya lagi Ane rahasiakan ya sob, pokoknya ikuti cerita Ane selanjutnya.



Sampai Jumpa!
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me