Kamis, 23 Maret 2017

Kreasi Unik Menu Makanan Warung Lesehan Mertha Sari

Bali memang selalu bisa membuat Ane tersenyum, selain mempunyai keindahan alam yang sangat mengagumkan, budaya yang masih kental, serta masyarakatnya yang ramah-ramah, Bali juga mempunyai rahasia kuliner yang kaya akan ragam dan rasa. Salah satunya olahan masakan ikan laut di Warung Lesehan Mertha Sari yang terletak di Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung.



Lokasinya yang tidak jauh dari Obyek Wisata Pura Goa Lawah membuat Ane mampir kesini. Ya, karena memang sebelumnya Ane telah mengunjungi pura tersebut dan hari sudah sore. Cocok bila mampir kesini dengan tujuan makan sore, sehingga sesampainya di Kota Denpasar nanti Ane sudah tidak perlu makan sore lagi.
Berangkat dari Pura Goa Lawah, Ane pacu kuda hijau Ane searah dengan jalan menuju pulang. Sekitar 600 meter Ane bertemu dengan pertigaan jalan yang mengarah kekanan. Dipertigaan tersebut berdiri sebuah plank yang mengarah ke lokasi. Ane ikuti plank tersebut hingga akhirnya, ah ternyata Ane salah jalan. Seharusnya Ane masih lurus lagi, ini Ane belok kearah kiri ketika menemui sebuah pertigaan lagi. Ane tak putus asa begitu saja, setelah lumayan jauh salah jalan Ane putar balik menuju pertigaan jalan yang terakhir. Syukur, jalan yang Ane temui kini sudah benar dan tak lama kemudian sampailah Ane didepan warungnya.



Warungnya cukup luas dengan lahan parkir yang juga cukup memadai. Bagian kiri warung digunakan sebagai dapur, sedangkan dibagian kanannya digunakan sebagai tempat makan utama para pengunjungnya. Jadi setiap pengunjung yang datang bisa melihat secara langsung pengolahan menu masakannya.



Awalnya Ane kira Warung Lesehan Mertha Sari ini mempunyai tempat duduk seperti warung-warung lesehan pada umumnya, tempat duduk dilantai dengan beralaskan tikar atau semacamnya. Ternyata tidak, tempat duduk yang ada disini berupa semacam meja yang cukup lebar dengan diatasnya tetap diberi alas semacam tikar.
Apakah semua tempat duduknya berupa lesehan semata? ternyata tidak, bagi yang tidak sedang mood duduk di lesehan, disini juga disediakan tempat duduk berupa meja dan kursi yang ada dibagian belakang warung. Disini Ane tidak ditanyai oleh salah satu pelayannya mau makan apa dan hendak dengan apa, karena tak banyak menu olahan yang tersedia. Yang ada hanyalah ditanyai berapa porsi yang akan dipesan dan minumannya apa.



Sambil menunggu pesanan, Ane duduk disalah satu tempat duduknya, karena Ane hanya sendiri maka Ane lebih memilih tempat duduk dengan sistem meja dan kursi saja. Walau letaknya terbilang cukup tersembunyi, nampaknya tak menyurutkan niat bagi para pembelinya untuk datang kesini. Hal ini tampak dari ramainya para pembeli yang datang.



Tak perlu menunggu lama, pesanan yang Ane pesan sudah ada diatas meja semua. Ane kaget dan terheran-heran dengan pesanan Ane ini, pasalnya banyak sekali menu makanannya yang Ane dapat. Tak hanya nasi putih dan sayurnya saja tetapi juga yang lainnya. Inilah pesanan yang Ane pesan, satu paket lengkap menu makanan Lesehan Mertha Sari terdiri dari 2 tusuk sate lilit ikan, 2 tusuk sate ikan, 2 pepes ikan, sop kuah ikan,  sambal matah, seporsi nasi putih, urap kacang panjang, dan kacang tanah goreng. Sementara untuk minumannya Ane memilih sebotol aqua saja.



Dalam hati Ane sempat bertanya-tanya apakah Ane bisa menghabiskan semua ini? Ah, ntahlah yang jelas sekarang saatnya Ane mengeksekusinya. Mulai dari sate lilitnya terlebih dahulu, rasanya hmmm sangatlah lezat sekali dagingnya terasa lembut dimulut, terasa gurih dan cukup spicy. Begitupula dengan pepes ikannya yang terasa gurih juga. Untuk sate ikannya terasa berbeda, ikan dipotong berbentuk kotak dan diberi bumbu kecap sehingga terasa manis dan gurih.


Salah satu menu makanan yang tersedia disini yaitu sop kuah ikan
Kalau yang ini baru bernama sambal matah
Sekarang berpindah ke sop kuah ikannya, tidak amis, segar, dan bumbu rempah-rempahnya terasa kuat dilidah. Semua masakan disini memang istimewa, walau urap kacang panjang tapi rasanya tak perlu diragukan lagi sangat nikmat sekali. Lengkap sudah dengan hadirnya kacang goreng dan sambal matahnya yang pedasnya memang juara. Dua kata untuk ini semua, "Wuenak tenan, Le leduk", untuk itu


Cuman tak sisakan sambal matah dan kacang gorengnya saja
Selesai makan, Ane pun pergi ke kasir untuk membayar. Sempat deg-degan juga jantung ini karena harga makanan yang ada di Bali bisa dibilang mahal bagi wisatawan lokal seperti Ane ini. Eh ternyata tidak, sepaket lengkap menu makanan beserta minumannya dibanderol dengan harga 35k saja.
Gimana, cukup menarik bukan? Buat sobat yang tertarik bisa datang kesini secara langsung. Warung buka setiap hari dari pukul 8 pagi hingga pukul 6 sore Wita. Kecuali Hari Raya Nyepi, pasti libur.
Let's Go

Kamis, 16 Maret 2017

Pura Goa Lawah, Ada Keunikan Dibalik Sifat Misterinya

Kunjungan Ane kesini sebenarnya tidak terencana dan tidak terdaftar untuk hari ini. Awalnya sieh Ane hanya merencanakan kunjungan ke Pura Besakih dan pusat Kota Semarapura saja. Tapi pas buka-buka daftar kunjungan Ane dihari berikutnya dengan sengaja Ane membaca tentang Obyek Wisata Pura Goa Lawah yang terletak masih dalam satu kabupaten dengan Monumen Puputan Klungkung, alhasil setelah beristirahat di salah satu Bale Bengong Monumen Puputan Klungkung jadilah Ane berkunjung kesini.
Inilah yang namanya sebuah perjalanan, saat pertama kali menginjakkan kaki ditempat baru pastilah tak tahu arah mana jalan yang harus Ane lewati. Pasalnya tak ada GPS, kompas, maupun alat teknologi lainnya yang menyediakan layanan map yang Ane gunakan, yang ada hanyalah nama sebuah tempat dan alamatnya saja.
Seperti perjalanan ke Pura Goa Lawah ini, hanya berbekal nama pura yang terletak di Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Ane nekat menyambanginya. Ane tidak tahu lewat jalan mana yang harus Ane lalui, yang Ane tahu hanyalah pura ini terletak persis di pinggir jalan raya dari Kota Denpasar menuju Pelabuhan Padang Bai.



Kalau dari Kota Denpasar menuju kesini, pastilah akan lebih mudah Ane dalam menemukannya. Dari Kota Denpasar, tinggal cari Jl. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra lalu jalan lurus kearah timur. Tapi ini dari Kota Semarapura, pastilah tak semudah itu. Alternatifnya Ane harus menuju jalan bypass terlebih dahulu barulah menuju kesini. Sempat beberapa kali Ane bertanya kepada warga masyarakat setempat, beruntung jalan yang Ane cari akhirnya ketemu juga. Tak lebih dari setengah jam tibalah Ane disebuah tempat yang Ane cari-cari sebelumnya. Tempat tersebut bernama Pura Goa Lawah.
Puranya ada disebelah kiri jalan, sesampainya Ane disini tampak banyak para pengunjung yang datang akan melaksanakan ibadah. Hal ini terlihat dari cara berpakaian mereka, memakai udeng di kepala (laki-laki), berpakaian rapi, dan memakai selendang di pinggangnya (perempuan). Selain itu hampir semua wanita membawa kotak berbentuk persegi yang diletakkan diatas kepalanya.
Untuk sampai di lokasi puranya, dari parkir kendaraan bermotor Ane harus bergerak kearah barat terlebih dahulu menuju loket pembayaran. Terlihat disebelah kiri loket berdiri dengan kokoh bangunan wantilan yang cukup besar bersanding dengan Pura Beji, sedangkan disebelah kanannya terdapat sebuah papan informasi yang tentunya memuat informasi tentang pura ini. Salah satunya mengenai masa konstruksi kegiatan renovasi tahun 2006.


Bangunan wantilannya
Sebuah informasi mengenai pura ini
Pura Bejinya
"Mau masuk kedalam mas?", tanya salah seorang petugas ketika Ane sampai di loket pembayarannya.
"Iya Pak", jawab Ane dengan singkat.
"Tapi harus pakai sarung dan selendang ya mas?", suruh beliau sambil menyodorkan perlengkapan pakaian yang tersedia.
"Baik Pak, saya sudah bawa sendiri kok Pak", jawab Ane sambil mengeluarkan selendang, sarung, dan udeng dari dalam tas.
"Baik mas", jawab Sang Petugas dengan singkat.



Setelah siap masuk kedalam, Ane diberi beberapa informasi oleh Sang Petugas tersebut bahwa Ane hanya diizinkan masuk sampai di madyaning mandala saja, selain itu Ane tak diperbolehkan masuk kedalam dengan membawa tas ransel Ane dan untuk tiketnya Ane hanya dikenai besaran uang 5k saja. Ane taati semua kata-kata petugas tersebut, sehabis membayar masuklah Ane ke dalam wilayah pura.




Sama seperti pura pada umumnya, pura ini terbagi menjadi 3 wilayah yaitu jaba luar, jaba tengah, dan jeroan (halaman utama). Di jaba luar yang Ane lihat hanyalah berupa tanah lapang yang cukup luas tanpa banyak bangunan bale maupun peliggih yang berdiri. Begitupula dengan jaba tengah, tak banyak yang Ane lihat yang ada hanyalah 2 buah bangunan bale yang berdiri di pojok sebelah kanan dan beberapa pelinggih sebagai tempat beribadah.




Tampak sudah ada beberapa pengunjung yang datang. Awalnya tempat ini cukup sepi, namun lama-kelamaan area jaba tengah ini semakin ramai bak lautan manusia. Mereka semua akan melakukan ibadah. Begitu datang mereka langsung mengambil posisi duduk didepan pelinggih, mereka satukan kedua telapak tangan tepat didepan kepalanya. Seketika itu nampak pengempon pura menyiprat-nyipratkan air suci kepada mereka. Begitu selesai mereka berkumpul didepan kori agung guna melaksanakan ibadah selanjutnya.


Kondisi awal wilayah jaba tengah yang masih sepi
Mereka yang akan melaksanakan ibadah disucikan terlebih dahulu disini
Kondisi akhir wilayah jaba tengah yang sudah ramai sekali
Meskipun Ane hanya diizinkan masuk sampai disini, tapi Ane cukup puas dengan apa yang Ane lihat sekarang. Banyak keunikan-keunikan yang terjadi disini diantaranya berkaitan dengan gamelan. Tak hanya bapak-bapak saja yang memainkan gamelan, tetapi juga ibu-ibu. Jari-jemari tangan mereka dengan lincah nan lihai memainkan alat musik tersebut. Suara yang dihasilkan pun cukup indah, tak berbeda jauh dengan bapak-bapak.


Kalau ini bapak-bapak yang sedang memainkan gamelannya
Sekarang giliran ibu-ibu yang mengambil alih semuanya, Ane pun sangat tertarik untuk mengabadikan foto bersama mereka 
Lihai bukan mereka semua ini?
Keunikan lainnya yaitu terdapatnya sebuah relief kelelawar berwarna keemasan sedang membentangkan kedua sayapnya disalah satu gerbang/candi gelung yang memisahkan halaman tengah (jaba tengah) dengan halaman dalam (jeroan). Sesuai dengan namanya Lawah yang berarti kelelawar maka tak heran bila relief tersebut ada disini.



Cukup lama Ane berada disini, melihat orang-orang yang akan melaksanakan ibadah, melihat bapak-bapak dan ibu-ibu memainkan seperangkat alat gamelan, serta berusaha mengamati lebih detail struktur bangunan pura. Tampak semua orang berdiri tanda gapura masuk akan segera dibuka. "Kalau masuk dari sini, lalu keluarnya lewat mana ya?", fikirku. Ternyata eh ternyata setelah keluar dari Jaba Tengah dan menuju pulang Ane melihat semua orang yang selesai beribadah di halaman tengah keluar lewat pintu samping kiri.




Ane kembali lagi ke loket guna mengambil tas yang Ane titipkan. Tadinya setelah mengambil tas, Ane langsung capcus menuju Kota Denpasar. Tapi apa daya tubuh ini, rasa penasaran membayangi fikiran Ane ketika membaca papan petunjuk mengarah keatas dengan nama "Pura Pucak Sari". Apalagi ketika Ane melihat beberapa orang yang telah beribadah juga menuju kesana, bertambah pula rasa penasaran Ane.



Dua buah patung naga memakai mahkota seolah-olah menyambut siapa saja yang datang. Tubuhnya lurus mengekor berada disamping kanan dan kiri anak tangga. Sementara pemandangan yang terlihat sejauh mata memandang adalah semak belukar yang cukup lebat nan hijau. Ane sempat syok ketika melihat banyak anjing yang sedang berkeliaran disepanjang jalan ini pasalnya Ane pernah mengalami kejadian yang tidak enak bersama anjing. Ane pernah dikejar anjing hingga ditabrak kendaraan sepeda dan hampir saja juga ditabrak kendaraan bermotor. Maka dari itu sampai sekarang Ane masih takut dengan yang namanya anjing.



Ane ikuti jalan setapak ini hingga akhirnya bertemulah dengan sebuah pura yang memang sengaja Ane tuju. Pura tersebut bernama Pura Pucak Sari. Puranya cukup kecil dan sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang sedang beribadah. Tak banyak yang dapat Ane lakukan disini selain melihat mereka dan berfoto-foto. Maka dari itu setelah mengambil foto seperlunya, lantas Ane turun menuju kebawah.






Langit tampak menghitam pertanda hujan akan segera turun. Lagi-lagi niatnya mau pulang tapi tidak jadi-jadi. Diseberang jalan tampak pantai yang menghadap laut lepas. Banyak para pedagang yang menjajakan barang dagangannya disana. Setelah melewati parkiran, Ane sempatkan diri sebentar menuju ke pantai tersebut. Garis pantainya cukup panjang, berpasir hitam bercampur dengan batu-batuan kecil. Diseberang sana tampak sebuah bukit yang cukup indah. Namun sayang beribu sayang indahnya bukit tersebut tidak dibarengi dengan indahnya pantai ini. Pantai ini keindahannya harus tercoreng karena banyak sampah yang berserakan di tepi pantai.





Hal inilah yang membuat selera makan Ane hilang seketika. Niatnya mau makan sambil menikmati indahnya pantai, akhirnya tidak jadi ketika melihat kondisi yang seperti ini disini. Kalau begitu Ane mau cari tempat makan ditempat yang lain dulu sebelum meninggalkan Kabupaten Klungkung ini. Kira-kira dimana ya? hmmm, ada deh. Pokoknya plototin terus aja ya sob blog ini. Sampai Jumpa!
Let's Go

Sabtu, 04 Maret 2017

Monumen Puputan Klungkung, Beginilah Isi Didalamnya

Inilah bangunan yang awalnya sempat menipu mata Ane. Dari kejauhan ketika memasuki Kota Klungkung, Ane kira bangunan ini adalah sebuah masjid eh setelah didekati ternyata bukan. Bangunan ini adalah sebuah bangunan yang cukup penting dalam mengenang dan menghargai jasa para pahlawan terutama di Kabupaten Klungkung bernama Monumen Puputan Klungkung.
Jauh-jauh hari sebelumnya Ane telah tahu kalau kata "puputan" sendiri mempunyai arti perang habis-habisan, sedangkan kata "monumen" mempunyai arti tugu peringatan. Jadi kalau diartikan secara utuh bangunan tersebut adalah sebuah tugu peringatan dalam mengingat perang habis-habisan yang terjadi di Kabupaten Klungkung. Ah belum jelas, untuk lebih jelasnya Ane akan mendekati monumen tersebut.



Setelah berkunjung ke Taman Gili Kertha Gosa yang didalamnya terdapat Museum Semarajaya, Ane langkahkan kaki Ane menyeberangi jalan menuju kearah utara. Ya, bangunan ini hanya diseberang jalan dari Taman tersebut sehingga tak perlu lelah-lelah Ane berjalan kaki. Terlihat dibagian terdepan bangunan terdapat sepasang arca raksasa yang seolah-olah menjadi penjaga bagi bangunan ini. Bangunan ini semuanya dibuat dari susunan batu berwarna hitam, berbentuk lingga yoni dengan disudut halamannya dilengkapi 4 buah balai bengong. Tampak disetiap bale terdapat pengunjung yang sedang nongkrong-nongkrong cantik, namun dari kesemuanya bale tersebut bale yang ada di bagian selatan monumenlah yang paling ramai dipadati.



Bangunan ini cukup unik membuat Ane tertarik untuk melihat lebih detail lagi strukturnya. Tinggi monumen dari dasar sampai puncak sekitar 28 meter. Dibagian atas terdapat lingga yang menjulang tinggi, sementara dibagian bawahnya terdapat sebuah kubah persegi delapan beralaskan kembang-kembang teratai sebanyak 19 buah. Sedangkan dibagian paling bawah terdapat ruangan yang sangat besar berupa gedung persegi empat dengan di keempat penjuru mata anginnya masing-masing terdapat 4 buah pintu masuk berupa gapura yakni di timur, barat, selatan, dan utara. Semua pintu tertutup dengan rapat, hanya pintu masuk yang ada disebelah selatanlah yang dibiarkan terbuka.




Semakin lama menatap, membuat Ane semakin penasaran saja dengan isi yang ada didalam monumen tersebut. Ada apakah gerangan disana? setelah melalui pintu masuk yang ada di sebelah selatan, kini Ane dapat melihat semua isi yang ada didalam monumen. Tak ada seorang penjaga pun yang sedang berjaga-jaga, sehingga tak ada tiket masuk yang dikenakan ke Ane.
Dibagian tengah ruangan terdapat 6 buah patung dengan berbagai macam posisi. Sebuah patung sedang duduk dikursi kebesaran, sedangkan 3 buah patung berdiri di samping kanan dan kirinya. Sementara 2 buah patung lainnya dengan posisi duduk ada dibagian depannya. Tak ada tulisan yang menjelaskan patung-patung tersebut. Ane hanya bisa berimajinasi bahwa patung-patung tersebut adalah patung seorang raja Klungkung bersama para pengikutnya yang setia.



Disini Ane milihat ada 2 buah prasati yang memuat informasi penting bagi Kabupaten ini. Pertama sebelum menjadi nama Kota Semarapura, Kota ini awalnya bernama Kota Klungkung. Kota ini resmi berubah nama menjadi Kota Semarapura berdasarkan PP. No. 18 Tahun 1992 pada tanggal 25 April 1992. Dan yang kedua peresmian Monumen Puputan Klungkung dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri saat itu Rudini pada tanggal yang sama. Bila menilik pada tanggal peresmiannya, monumen ini diresmikan bersamaan dengan Museum Semarajaya.




Inilah diorama-diorama yang ada didalam monumen. Diorama-diorama terpasang dibagian dinding melingkar mengikuti bentuk monumennya. Diorama-diorama ini menggambarkan kehidupan masyarakat Bali sebelumnya yang menyatu dengan alam lingkungan, hingga perang puputan Klungkung terjadi sampai akhirnya dibangunlah Monumen Puputan Klungkung ini.
Berikut diorama-diorama beserta penjelasannya yang terdapat didalam monumen ini (penjelasan ditulis dalam dua bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris).
Diorama I: Suasana kehidupan masyarakat Bali kuno dengan kekhasan
           arsitektur tradisional yang menyatu dengan alam lingku-
           ngan. Tampak mereka sedang sibuk menyiapkan sarana upa-
           cara. Binatang babi, sapi, anjing, ayam, kucing adalah
           sudah merupakan binatang piaraan mereka.

           This relief showed the situation of the old traditional
           architectures of Balinese people in the past time. They
           looked very busy to prepare all things they needed for
           carrying out a ceremony (Yadnya). The people generally
           liked to look after animals : pigs, cows, chicken, dogs,
           cats, etc.



Diorama II: Raja yang pertama memerintah Bali terkenal bengis karena
            menganggap dirinya adalah "Dewa" namanya Dalem Bedahulu.
            Pada waktu itu agama Hindu belum berkembang, kepercayaan
            mereka animisme dan percaya adanya roh nenek moyang yang
            telah meninggal.

            The first king who ruled Bali was Dalem Bedahulu. He was
            a very cruel king. The king thought that he himself was
            the god. At that time the Hindu religion had not influ-
            enced the Balinese people yet.



Diorama III: Bali mengalami zaman keemasan, dimana kehidupan seni
             budaya sangat berkembang pesat. Pertanian mengalami
             kemajuan pesat karena sistem pengairan "subak" sangat
             menunjang kesuksesan. Sistem subak tersebut hingga kini
             tetap menjadi warisan orang Bali dan dijadikan contoh
             oleh masyarakat diluar Bali. Tampak Raja Dalem Watu-
             renggong dengan semangat dan dedikasi tinggi dengan
             tekun meninjau perkembangan serta kehidupan masyarakat
             pulau tersebut.

             The Balinese people had a golden age in the rule of
             Dalem Waturenggong. The king led his people enegeticly
             and with a hight dedication. The king and his people
             built their country in all parts of the people lives.
             They built culture and civilization : farm, religion,
             art etc. Mainly they succeeded to develop the system of
             the farmers organization which is now called "Subak".
             At present not only the Balinese farmers still follow
             the system (subak) but the farmers out of Bali too.



Diorama IV: Kehidupan seni budaya sangat berkembang pesat dan menga-
            lami zaman keemasan pada abad ke-15 dibawah pemerintahan
            Dalem Waturenggong. Tidak saja berkembang pada bidang
            pertanian, tetapi juga pada bidang keagamaan, spiritual,
            dan material. Tampak disini kehidupan seni dan budaya
            sangat pesat, dimana para seniman sangat sibuk membangun
            rumah-rumah peribadatan, kekawain, tari-tarian dan lain
            sebagainya.
            
            In the 15 Th. century under the rule of king Dalem Watu-
            renggong culture and civilization had a fluent develop-
            ment. Beside farming architectures and arts also had
            high progress. Architects built temples, traditional
            architectures/buildings, the actors/actresses practised 
            "Drama" and the singers sang song (wirama) regulary. 



Diorama V: Pada abad XIX Bali mulai dijamah oleh Belanda. Sebenarnya
           sebelum itu sudah ada Belanda masuk yaitu pada abad ke-
           XVI namun belum menunjukkan kekuatannya. Nah baru abad
           ke XIX lah mereka mengadakan perlawanan yaitu "perang pu-
           putan di Buleleng". Dengan benteng Jagaraga.

           In the 19 Th. century the company had come to Bali. Actu-
           ally they had come to Bali in the 16 Th century, but they
           had not showed their strength yet Jagaraga, an area in
           easten part of Buleleng was attacked by the company in
           this 19 Th century. Of course the people defended their
           village to an end. From the attack of the company's sol-
           diers.



Diorama VI: Perang puputan Klungkung dibawah Raja Ida I Dewa Agung
            Jambe tahun 1908 dan dengan jatuhnya Klungkung, maka be-
            rakhirlah kerajaan Bali lalu dikuasai Belanda yang di-
            bantu oleh tentara dari pulau-pulau lain di nusantara
            menyerbu istana Semarapura dan seluruh Puri dibakar ha-
            bis.

            In the year 1908 the company's souldiers attacked Klung-
            kung kingdom. Ida I Dewa Agung Jambe the king of Klung-
            kung, led his people to devend his kingdom. During the
            battle was going on, the soldiers of the company who
            were stationed in other islands of nusantara came to
            Bali to help their friends. They entered the kingdom's
            palace and ruined the buildings/houses.



Diorama VII: Dengan jatuhnya Klungkung maka Bali dibawah pemerinta-
             han kompeni memanggil semua raja-raja dari setiap kabu-
             paten untuk mengadakan sidang raja-raja di Denpasar.
             Raja Klungkung diwakili oleh Ida I Dewa Agung Oka Geg.

             Since Klungkung lost the battle, company's colonized
             Bali. The company ordered the 8 king of Bali to have a
             meeting in Denpasar. Ida I Dewa Agung Oka Geg, the new
             king of Klungkung attended the meeting.



Diorama VIII: Perang di Margarana dibawah pimpinan I Gusti Ngurah
              Rai adalah merupakan rentetan dari perang kemerdekaan
              Republik Indonesia dibawah pimpinan Bung Karno dan
              Bung Hatta. Pasukan Ciung Wanara dibawah pimpinan
              I Gusti Ngurah Rai dengan sengit mempertahankan Bali
              dibawah serangan NICA/compeni.

              Margarana battle was one of the battles of the Indone-
              sian indepence which was led by Bung Karno and Bung
              Hatta. The unity of the soldiers which defended Marga-
              rana was named "Ciung Wanara". Ciung Wanara fought
              agaist NICA braverlly to devend their village under
              the leader of I Gusti Ngurah Rai.



Diorama IX: Setelah kemerdekaan pemerintah mengadakan pembangunan di
            berbagai bidang baik materril maupun spirituil. Pada
            masa pembangunan dewasa ini juga dibangun berbagai monu-
            men - monumen diberbagai daerah di Indonesia. Satu dian-
            taranya adalah Monumen Puputan Klungkung yang diresmikan
            oleh MENDAGRI Rudini.

            Later on the Indonesian government and it's people build
            Indonesia materially and spiritully since 1966 Indonesi-
            an government was led by president Suharto. The Indone-
            sian Government has built a lot of cenotaphs, one of
            them is the cenotaph of Klungkung battle which has been
            inaugurated by The Minister of Home Affair, Rudini.



Seperti itulah ceritanya. Kita sebagai generasi muda sudah seharusnya mengenal sejarah bangsa kita ini dan mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya. Setelah puas melihat-lihat diorama ini Ane keluar dari gedung dan beristirahat sebentar disalah satu balai bengongnya sebelum melanjutkan perjalanan lagi.
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me