Sabtu, 21 Januari 2017

Berkunjung ke Pantai Jimbaran Bali

Setelah puas menjelajahi Pantai Pandawa, Ane ingin kembali ke Penginapan karena hari sudah mulai petang. Tapi rencana itu berubah seketika ketika Ane membaca sebuah plank yang menunjukkan kearah Pantai Jimbaran. Ada 2 alasan mengapa akhirnya Ane memutuskan untuk mampir di pantai ini. Pertama pantai ini akan ramai saat hari mulai sore menjelang petang karena pantai ini terkenal dengan dinner romantis dikala sunset tiba, dan yang kedua jalan menuju Pantai Jimbaran searah dengan jalan menuju Kota Denpasar tempat dimana Ane bermalam (menginap).


Ane belokkan kuda hijau Ane kearah pantai tersebut. Tak lama kemudian sampailah Ane di TeKaPe. Ane parkir kuda hijau Ane didepan pagar pembatas antara jalan dan pantai. Terlihat ada beberapa petugas parkir yang sedang berjaga-jaga sehingga membuat perasaan Ane menjadi tenang.
Tak ada tiket masuk yang dikenakan alias free (gratis tis tis). Begitu sampai dilokasi pantainya, ternyata sudah ada banyak para pengunjung yang mulai memadatinya. Dilihat dari pemandangannya, menurut Ane pantai ini tampak biasa-biasa saja. Pantainya bersih, berpasir putih namun mempunyai struktur yang cukup lembut, dan bergelombang kecil sehingga aman untuk bermain air. By The Way, di Jogja sendiri sebenarnya ada pantai ala Jimbaran ini yaitu Pantai Depok. Bedanya kalau disana pantainya tidak bisa untuk berenang dan pasirnya berwarna hitam.



Bila Ane amati lebih jauh ada sebuah ciri khas yang dimiliki oleh pantai ini yaitu banyaknya cafe yang berdiri di tepi pantai. Ane hanya bisa menduga bahwa menu-menu yang ditawarkan disini semuanya berupa olahan ikan laut. Mungkin inilah daya tarik utama dari Pantai Jimbaran itu sendiri, sambil menikmati olahan masakan cafe sambil menunggu matahari terbenam di ufuk barat.





Semua cafe sudah mulai buka, terlihat para pelayannya sibuk menyiapkan tempat untuk para pengunjungnya. Selain itu tampak beberapa cafe memajang dibagian depan daftar menu yang dapat dipilih. Ane sendiri tak ada niatan untuk makan di cafe tersebut. Lha mau makan gimana lawong pasangannya sendiri belum ada, hehehe.


Nggak enak kan kalau duduk sendirian sambil cengar-cengir ngelihatin pasangan lain yang sedang dinner sambil melihat sunset ini? iya kan, maka dari itu Ane lebih tertarik untuk mengamati ulah setiap para pengunjung yang ada. Ada yang berjalan ditepi pantai, ada yang sedang berenang, memakan jagung bakar, bahkan ada juga wisatawan asing yang berlarian kesana-kemari mencari sesuatu. Ntah apa yang dicarinya, Ane kurang begitu mengerti.



Wisatawan asing yang sedang mencari sesuatu itu
Nampaknya semua pengunjung termasuk Ane kurang begitu beruntung dengan kondisi saat ini. Sunset yang kita nanti-nantikan sepertinya tidak akan terlihat saat sekarang. Tampak disana langit mulai menghitam menutupi sinar matahari yang terbenam. Alhasil yang dapat kita lihat hanyalah mega berwarna khas saja.


"Yaudah deh, kalau begini caranya segera Ane angkat kaki dari sini saja", fikirku.
Let's Go

Sabtu, 14 Januari 2017

Pantai Pandawa Dengan Segala Pesona Keindahannya

Selepas berkunjung di Pantai Labuan Sait dan mampir makan dahulu disebuah warung, Ane menuju ke Pantai Pandawa. Pasalnya setelah mengunjungi Pantai Labuan Sait Ane sudah tidak menemukan lagi sebuah pantai di deretan pantai-pantai selatan Pulau Bali. Ada sieh satu pantai lagi yang bernama Pantai Dreamland, namun Ane tak tahu dimanakah letak pantai tersebut. Yasudah akhirnya Ane menuju kesini saja.



Berawal dari sebuah papan petunjuk di persimpangan jalan yang Ane baca setelah melewati Garuda Wisnu Kencana (GWK), akhirnya Ane menginjakkan kaki disini. Ane ikuti arah papan petunjuk tersebut hingga akhirnya Ane menemukan sebuah persimpangan jalan yang cukup besar. Masih lurus lagi hingga tak lama kemudian sampailah Ane di Kawasan Pantai Pandawanya.




Sebelum memasuki pantainya, Ane diwajibkan membayar disebuah loket masuk Pantai Pandawa sebesar 10k dengan rincian 8k untuk tiket masuknya dan 2k untuk karcis masuk sepeda motor. Ane pacu lagi kuda hijau Ane menuju kedalam, nampaknya pantai ini masih dalam proses pembangunan. Hal ini terlihat disepanjang jalan tukang bangunan proyek sedang mengerjakan sesuatu.


Tiket masuk Pantai Pandawa
Penjelasan mengenai sejarah Pantai Pandawa

Melewati jalan ini Ane benar-benar merasa cukup terhibur dengan pemandangan yang ada. Disepanjang jalan Ane disuguhkan dengan pemandangan berupa tebing-tebing kapur yang cukup indah. Tebing-tebing tersebut berada disamping kanan dan kiri jalan sehingga lewat ditengahnya serasa melewati belahan bukit kapur. Amazing!!!Namun demikian masalah infrastruktur jalan tak perlu ditanyakan lagi, jalannya sudah sangat baik, beraspal, lebar, dan mulus.
Setelah melewati jalan yang menikung kekanan dan kemudian menikung lagi kekiri, barulah Ane membaca sebuah papan nama bertuliskan "Pantai Pandawa" yang terletak di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali dan dapat melihat pemandangan birunya air laut lepas. Pemandangan ini tentunya akan membuat siapa saja yang melihatnya pasti ingin segera sampai disana.






Tapi sepertinya tidak untuk pantai ini. Ada sebuah tempat berupa tanah lapang yang cukup luas berada disebelah kanan jalan. Disini banyak kendaraan yang terparkir. "Lalu apasih yang dilakukan pengendaranya disini?" ternyata ini tow yang dilakukannya. Berfoto dengan berlatarbelakangkan tulisan "Pantai Pandawa" berwarna putih. Tulisan ini berada ditebing bagian atas.



Patung tikus Pantai Pandawa
Ane bersama patung Dewi Kunti
Selain itu disebelah kiri jalan yang menurun mengarah ke pantai, mereka berfoto bersama dengan 7 buah pahatan patung dimulai dari patung tikus, patung Dewi Kunti, dan diikuti patung pandawa 5. Mungkin karena inilah mengapa pantai ini dinamakan dengan Pantai Pandawa 5. Apakah benar begitu?


Patung Dharma Wangsa
Patung Bima
Patung Arjuna
Ternyata tidak, bukan karena patung-patung tersebut pantai ini dinamakan dengan Pantai Pandawa dan Inilah cerita yang sebenarnya. Pantai Pandawa dahulu dikenal dengan Pantai "Penyekjekan". Perbuhan nama menjadi Pantai Pandawa dilandasi pada spirit dari kisah pengasingan Panca Pandawa selama 12 tahun ke hutan dan goa gala-gala. Kisah ini sejalan dengan perjuangan kehidupan masyarakat adat Kutuh yang selama kurun waktu 1997 sampai 2010 membelah tebing untuk melepaskan diri dari keterpinggiran dan keterasingan kehidupan. Mulai tahun 2012 kawasan ini dinyatakan sebagai kawasan wisata untuk dapat dikunjungi oleh masyarakat umum. Semoga spirit cahaya perjuangan Panca Pandawa yang telah menyinari kehidupan masyarakat Adat Kutuh dapat bermanfaat untuk dunia. Cahaya Pantai Pandawa dari Kutuh untuk dunia (Sumber: Tulisan yang ada di Tiket masuknya).


Patung Nakula
Patung Sahadewa

Mengamati ulah para pengendara tersebut, Anepun demikian sama dengan yang mereka lakukan. Setelah selesai, barulah Ane pacu kuda hijau Ane melaju kebawah. Tepat pukul 2 siang Ane sudah sampai ditempat parkir. Berhubung cuacananya masih terasa panas menyengat Ane memilih berteduh dahulu disebuah gazebo tak jauh dari tempat parkir tersebut.




Tulisan Pantai Pandawa dilihat dari tempat parkir kendaraan
30 menit berselang nampaknya intensitas matahari tetap saja terasa sama. Tentu Ane tidak mau kemalaman sampai di tempat penginapan Kota Denpasar. Ane segera melangkahkan kaki menuju lokasi pantainya, dan inilah pemandangan yang ada. Pantainya cukup luas memiliki garis pantai yang cukup panjang dengan disamping kanan dan kirinya dibatasi oleh tebing-tebing kapur yang cukup tinggi, birunya air laut dengan ombaknya yang cukup besar namun terpecah ditengah-tengah lautan, berpasir putih dengan bulir yang agak kasar serta banyak para pengunjung yang sudah memadati pantainya.






Ya, pengunjung yang ada disini terbilang sudah sangat ramai. Berbeda dengan obyek wisata lainnya yang ada di Bali, kebanyakan para pengunjung adalah wisatawan lokal. Banyak yang pengunjung lakukan disini, ada yang sedang berenang cantik di tepi laut, banyak bule berjemur menghitamkan kulit mereka (tidak disarankan bagi wisatawan lokal, karena bukannya kulit eksotis yang didapatkannya malah kulitnya ntar cenderung gosong menghitam, hehehe), ada yang bermain kano, bahkan ada juga yang hanya duduk-duduk saja ditepi pantai namun sambil berteduh melihat-lihat bule yang tidak memakai pakaian, eh.






Bagi wisatawan yang ingin berteduh didekat pinggir pantainya, bisa. Disepanjang garis pantai sudah ada banyak payung beserta kursinya yang berderet menunggu pengunjungnya untuk menyewa. Kalau lapar, tak perlu khawatir karena disekitar lokasi sudah banyak warung-warung kecil yang berdiri menjajakan berbagai macam menu makanan.






Ane sendiri tak banyak melakukan hal disini, Ane hanya berjalan-jalan menuju ujung tebing dan kemudian duduk-duduk saja. Setelah itu jalan lagi dekat dengan air lautnya sambil foto cekrak sana, cekrek sini, kemudian melihat-lihat aktifitas para wisatawan, dan terakhir duduk-duduk cukup lama disebuah gazebo yang ada disebelah kanan jalan menuju ujung timur pantai hingga sore hari.




Merdeka!
Eh nggak juga dink, yang jelas cuacan dalam keadaan sudah tak panas lagi.
Let's Go

Rabu, 11 Januari 2017

Pantai Labuan Sait (Padang-Padang Beach)

Belum lama melaju, tiba-tiba roda kuda hijau Ane terhenti ketika Ane membaca sebuah papan nama bertuliskan "Labuan Sait-Padang Padang Beach" yang ada disebelah kanan jalan. Dalam hati Ane berkata "Lho bukannya tadi itu Pantai Padang-padang ya, disini kok ada lagi ya nama pantai tersebut?", Ah bikin penasaran saja ini.





Untuk menjawab rasa penasaran Ane, mampirlah Ane ketempat tersebut. Ane parkirkan kuda hijau Ane terlebih dahulu diseberang jalan pintu masuk berupa candi bentar. Dari tempat parkir, segera Ane langkahkan kaki Ane masuk kedalam. Rupanya ada 2 orang petugas loket yang sedang bertugas. Di pos tersebut tertulis besaran harga tiket masuk Pantai Labuan Sait berbahasa inggris: 5k (Child) dan 10k (adult).



Candi bentar yang ada dipinggir jalan
Candi bentar setelah melewati loket tempat pembelian tiket masuk
Loket tempat pembelian tiket masuk
Namun kenyataannya tidak demikian, Ane diharuskan membayar hanya dengan uang 5k saja. Mungkin tarif yang dipasang tersebut berlaku untuk wisatawan mancanegara. Setelah mendapatkan selembar tiket, Ane pun menyempatkan diri untuk bertanya kepada salah seorang dari mereka,"apakah beda antara Pantai Labuan Sait-Padang Padang ini dengan Pantai Padang-padang yang ada disebelahnya?", dan beliau menjawab "keduanya sama, yang berbeda hanyalah dari segi jumlah pengunjung dan garis pantainya saja. Pengunjungnya lebih ramai dengan garis pantai yang lebih pendek". Beliau juga menambahkan bahwa tempat ini pernah juga dijadikan lokasi shooting film berjudul "Eat, Pray, Love" yang dibintangi oleh aktris Hollywood Julia Roberts.


Dari gambar selembar tiketnya saja sudah menggoda iman, apalagi kenyataannya ya? :-)


Wow, kalau begitu tak sabar rasanya untuk segera melangkahkan kaki ke pantainya. Setelah berterimakasih dan pamitan kepada mereka, Ane berjalan kaki turun kebawah. Jalannya berupa anak tangga yang sudah di semen. Disamping kiri Ane melihat sebuah pura yang tidak begitu luas namun bersih, beberapa langkah kemudian Ane sungguh terkejut dengan jalan yang ada.



Tak seperti pada Pantai Kuta maupun Sanur, untuk sampai dipantainya Ane harus melewati sebuah jalan yang cukup sempit menyerupai lorong diantara himpitan tebing batu. Saking sempitnya Ane harus memiringkan badan ketika berpapasan dengan wisatawan lainnya. Tak jarang pula Ane melihat kera-kera berseliweran kesana-kemari.

Jalan sempit yang menyerupai sebuah lorong
Mungkin dalam hati dia berkata, "Apa loe liat-liat? nggak bawa makanannya saja liat-liat", dasar pelit loe.

Sesampainya dibawah, barulah Ane dapat melihat betapa cantiknya pantai ini. Garis pantainya cukup pendek namun sangat menawan, birunya air lut dengan gelombang yang tidak begitu besar, putihnya pasir pantai dan tingginya tebing-tebing disekitarnya. Apalagi hadirnya batu-batuan karang di pinggir pantai menambah eksotisnya pantai ini. Pun dengan hadirnya banyak bule yang hanya memakai dalaman saja sedang berjemur membuat Ane betah berlama-lama disini, eh. Lumayan buat cuci mata, hahaha.




Dia berjemur, Ane melihat... Cukup adil bukan? :-)
Banyak aktifitas yang dapat mereka lakukan disini, diantaranya berjemur. Mereka tinggal menggelar kain dan merebahkan diri diatasnya. Ada yang surfing, berenang, bermain kayak, bahkan ada juga yang membaca buku dibawah teriknya matahari. Kalau wisatawan lokal? hmmm paling banter ya hanya berenang saja. Kebanyakan sieh foto-foto terus duduk-duduk santai di tepi pantai termasuk yang nulis ini, hehehe.


Bule-bule yang sedang berjemur di Pantai Labuan Sait
Ada yang sedang surfing
Josss!
Bermain kayak
Atau bahkan membaca buku dibawah teriknya matahari
Ditepi pantai sendiri banyak terdapat pedagang yang sedang memperdagangkan barang dagangannya. Ada yang menjual souvernir dan pernak-pernik khas Bali serta adapula yang menjual makanan dan minuman dengan harga yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan harga pasaran. Kalau sobat haus ataupun lapar dan ingin mendapatkan harga makanan dan minuman yang lebih murah tentu sobat harus membawa bekal sendiri sebelumnya.





Puas duduk-duduk didekat ujung tangga, Ane bergerak kearah kanan menjauhi tempat tersebut dan mendekati batu-batu karang yang ada ditepian. Bukannya pemandangan yang ada semakin jelek, justru semakin menawan. Pantas saja pantai ini sudah begitu terkenal dan banyak para wisatawan berbondong-bondong kesini, pemandangannya sungguh memanjakan mata sieh.





Ckckck. Sebenarnya sieh Ane masih ingin berlama-lama lagi disini, tapi apa boleh buat cacing yang ada didalam perut sudah pada konser semua. Ini pertanda bahwa keharusan Ane untuk segera meninggalkan lokasi pantainya dan kemudian mencari tempat makan terlebih dahulu. Nggak mau kan Ane makan disini tapi begitu totalan habisnya tak terkirakan, hehehe.
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me