Kamis, 20 Februari 2020

Stonehenge Jogja, Replika Stonehenge di Inggris

Pada awalnya Ane hanya ingin berkunjung ke The Last World Castle, museum-museum yang ada di sekitarnya serta napak tilas Mbah Maridjan saja. Namun, ditengah perjalanan dari Museum Mini Sisa Hartaku ke napak tilas Mbah Maridjan, Ane tak sengaja melihat sebuah obyek wisata yang Ane belum ketahui sebelumnya. Letaknya ada disebelah kanan (utara) jalan. Mungkin obyek wisata ini sudah cukup hits dan terkenal karena menurut Ane sangat instagramable. Ane fikir jaman sekarang kalau ada obyek wisata yang mengusung konsep kekinian, pastilah langsung menjadi sasaran empuk bagi millenial untuk berkunjung. Obyek wisata apakah itu? yakni Stonehenge Merapi atau kalau Ane lebih suka menyebutnya dengan Stonehenge Jogja dan daripada penasaran serta terbayang-bayang dalam fikiran langsung saja Ane belokkan kendaraan bermotor roda dua Ane kedalam parkiran.



Lahan parkirnya terbilang sangat luas, namun hanya ada beberapa kendaraan saja yang terparkir. Untuk memasuki lokasi obyek utamanya Ane diharuskan membayar biaya sebesar 12k saja dengan rincian 10k untuk tiket masuk dan 2k untuk parkir motor. Pantas saja saat parkir motor tak ada petugas yang langsung menariki, ternyata jadi satu tho. Jadi sebelum Ane memberitahu alamat Stonehenge kepada sobat, Ane yakin sobat pasti sudah tahu dimana Stonehenge ini berada. Ya, nggak sob? Ya Stonehenge ini ada di Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.



Tempat pembelian tiket masuk Stonehenge
Tiket masuk dan retribusi kendaraan bermotor
Sesampainya di lokasi utama obyek, hanya ada beberapa pengunjung saja yang sedang berkunjung tak seramai The Lost World Castle. Berbagai aktifitas foto-mefoto mereka lakukan dengan berbagai macam pose tapi satu yakni hanya berlatar belakang bebatuan. Bagaimana tidak Ane sebagai orang awam melihat Stonehenge ini ya hanya melihat sebuah tumpukan batu raksasa setinggi kurang lebih 4 meter yang di susun menyerupai gawang dengan formasi melingkar namun tetap memperhatikan nilai seni dan estetika, tak lebih. Maka dari itu Ane ingin mengetahui lebih lanjut sebenarnya Stonehenge ini apa sieh? Barangkali ada informasi penting yang dapat menambah wawasan Ane.





Gayung bak bersambut, di bagian sisi depan ada sebuah papan pengumuman penjelasan mengenai tempat ini. Eh By The Way, sobat sendiri sudah tahu belum tentang Stonehenge itu apa? Kalau belum tahu yuk kita belajar bersama-sama. Pada intinya itu begini:
Poin pertama, Stonehenge merupakan situs prasejarah peninggalan manusia purba pada zaman Neolitikum dan perunggu. Proses pembangunannya dilakukan secara bertahap.
Poin kedua, Stonehenge dan lingkungan sekitarnya ditambahkan kedalam situs warisan dunia UNESCO pada tahun 1986.



Stonehenge yang ada di Cangkringan ini merupakan replika dari Stonehenge yang ada di Inggris. Stonehenge ini sangat terkenal di Inggris, jadi kalau sobat menginginkan pergi ke stonehenge tak perlu jauh-jauh ke Inggris cukup pergi ke Kota Jogja saja.
Walaupun hanya sebuah replika dan buatan tangan, namun strukturnya menyerupai batu sungguhan yang disusun semirip mungkin dengan Stonehenge yang ada di Inggris. Sebelum membaca informasi yang ada di papan informasi, Ane pun sempat tertipu kalau batuan yang disusun rapi ini benar-benar batu alami sisa batuan erupsi merapi tahun 2010. Habis mirip sekali sih!




Sudah sampai situ saja ya sob informasinya, Kalau ingin informasi lebih lengkap silahkan sobat langsung saja datang ke lokasi.
Jam buka Stonehenge Jogja:
Setiap hari dari Jam 7 Pagi hingga Jam 5 Sore.
Habis membaca informasi mengenai Stonehenge, Ane lanjutkan untuk hunting foto dan setelah itu ada dua buah obyek wisata lagi yang akan Ane kunjungi. Obyek wisata apakah itu? Kan sudah Ane ceritakan diatas dan satunya lagi Ane rahasiakan ya sob, pokoknya ikuti cerita Ane selanjutnya.



Sampai Jumpa!
Let's Go

Sabtu, 25 Januari 2020

Menelusuri Jejak-jejak Keganasan Merapi di Museum Mini Sisa Hartaku

Pantas memang paket wisata Lava Tour Merapi ada di kawasan ini. Sebuah kawasan yang menawarkan beberapa obyek wisata bertemakan erupsi merapi. Sebut saja The Lost World Castle, Museum Omahku Memoriku, dan kini Museum Mini Sisa Hartaku yang terletak di Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Masih dengan mengendarai sepeda motor, Ane arahkan motor Ane kearah barat kurang lebih 100 meter dari Museum Omahku Memoriku. Ane menemukan sebuah pertigaan, bila lurus maka akan sampai ke Stonehenge dan bisa juga kearah Petilasan Mbah Maridjan serta Bunker Kaliadem, bila belok kearah kanan (utara) maka akan sampai ke Museum Mini Sisa Hartaku yang memang menjadi tujuan Ane selanjutnya selepas mengunjungi Museum Omahku Memoriku. Beloklah Ane kearah kanan (utara) dan ternyata tidaklah jauh, hanya sekitar 300 meter sampailah Ane di lokasi.



Melewati sebuah gerbang berpenyangga bambu beratapkan asbes, Ane parkir kendaraan Ane tak jauh dari sini. Untuk biaya parkir, Ane dikenakan tarif 2k saja. Tak ada tiket masuk yang dikenakan oleh pengunjung alias gratis, hanya saja bagi pengunjung yang mau menyumbang seikhlasnya untuk biaya perawatan sudah disediakan sebuah kotak. Sesuai dengan namanya "Museum Mini" museum ini berukuran cukup kecil, tak sebesar Museum Omahku Memoriku namun cukup memukau. Sebelum memasuki ruangan museum, Ane sudah dapat merasakan betapa dahsyatnya suasana saat itu. Hal ini terlihat dari dua buah kerangka sapi yang terpajang di teras museum, juga tampak dua buah kerangka sepeda motor berkarat sehingga tampak dekil dan usang.






Disini, Ane menangkap sebuah pesan apa yang ingin disampaikan kepada setiap para pengunjungnya. Fikiran Ane mulai liar saat melihat sebuah tulisan berukuran cukup besar nan jelas untuk dibaca yang terpatri di dinding yang sudah tidak utuh lagi. Tulisan tersebut mempunyai judul PESAN MERAPI: 
"Aku ora ngalahan tur yo ora pengen dikalahke. Nanging mesti tekan janjine, mung nyuwun pangapuro nek ono seng ketabrak, keseret, kenter, kebanjiran lan klelep. Mergo ngalang-ngalangi dalan seng bakal tak liwati" (Bahasa Jawa).
"Saya tidak mengalah dan juga tidak ingin dikalahkan. Tetapi pasti sampai janjinya, hanya minta ma'af seumpama ada yang ketabrak, keseret, terlarut, kebanjiran dan tenggelam. Karena menghalang-halangi jalan yang bakal saya liwati" (Bahasa Indonesia).




Ane semakin penasaran saja dengan apa yang ada didalam. Ada apa saja sieh yang ada didalam itu? Menurut Ane Museum Mini Sisa Hartaku ini berbeda dengan museum-museum pada umumnya. Layaknya sebuah rumah yang telah usang museum ini terbagi menjadi beberapa ruangan diantaranya ada ruang tamu, ruang tempat tidur, ruang tengah, bahkan ruang tempat memasak. Satu persatu Ane memasuki ruang - ruang tersebut. Memasuki ruang tamu, mata Ane langsung tertuju pada sebuah jam dinding dengan keadaan sudah rusak berkarat. Diatasnya terdapat dua buah plank kayu bertuliskan "Bukti Jam Erupsi Merapi", dan di bawahnya bertuliskan Hari:Jumat 5 November 2010 serta jarum jam menunjukkan pukul 12.05 WIB. Ane membayangkan betapa dahsayatnya erupsi merapi saat itu.



Di ruangan selanjutnya terpajang berbagai macam peralatan rumah tangga yang terkena dampak awan panas. senter, gelas, piring, teko, panci, TV, compact disk, kaset, botol kaca, bahkan tabung gas dan peralatan gamelan yang terbuat dari bahan besi dan terkenal akan kekokohannya pun dibuat peok. Apalagi barang pecah belah yang terbuat dari plastik seperti ember dan bak mandi serta spring bed? pastilah meleleh rusak tak berbentuk. Habis sudah semua.

Peralatan rumah tangga yang sudah tak jelas bentuknya
Tabung gas yang kokoh pun bisa dibuat peok
Apalagi spring bed, jelas tinggal kerangka besinya saja
Begitupula dengan sepeda motor, juga hanya tinggal kerangkanya saja 

Bisa dibayangkan, sebuah material gunung dengan suhu yang sangat panas saat itu menghantam tubuh seseorang. Ngeri, tak ayal bila banyak korban yang berjatuhan dan dikubur secara massal. Bagi korban yang ditinggalkan keluarga tentu meninggalkan kesan yang begitu mendalam.
Dengan semua benda - benda yang ada serta diperkuat dengan beberapa tulisan yang tertempel di dinding, Ane benar - benar dapat merasakan apa yang dirasakan masyarakat korban erupsi merapi kala itu. Ane hanya bisa berdo'a "Semoga semua amal ibadah mereka diterima di sisi Yang Maha Kuasa serta dima'afkan segala dosa - dosanya.
Tak butuh waktu lama Ane untuk mengelilingi Museum Mini Sisa Hartaku ini, namun ada sebuah hikmah yang Ane dapatkan. Bahwa semua yang kita miliki didunia ini tidak ada yang hakiki, harta, keluarga, jabatan bahkan nyawa sekalipun, itu semua hanya titipan dan milik Sang Maha Pencipta serta akan pulang kepadanya.



Kapan Tuhan menghendaki, saat itulah pasti terjadi.
Jam buka Museum Mini Sisa Hartaku: 
Setiap hari dari Jam 6 Pagi hingga Jam 6 Sore.
Let's Go

Minggu, 29 Desember 2019

Museum Omahku Memoriku, Saksi Bisu Keganasan Erupsi Merapi Kala Itu

Inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa Ane datang berkunjung ke kawasan Kaliadem ini. Disini menawarkan banyak sekali obyek wisata yang letaknya cukup berdekatan. Sebut saja The Lost World Castle, Rumah Hobbit, dan ada satu lagi yakni Museum Omahku Memoriku. Apakah masih ada obyek wisata lainnya? Jawabannya masih, tapi sabar ya sob kita kupas tempat yang satu ini terlebih dahulu.



Museum Omahku Memoriku ini letaknya sangat dekat dengan The Lost World Castle dan Rumah Hobbit yang sudah Ane kunjungi terlebih dahulu, ya sekitar 500 meter kearah barat. Hal inilah yang menggoda Ane untuk mengunjunginya. Kebanyakan yang berkunjung kesini menggunakan jasa Merapi Lava Tour dengan cara menaiki kendaraan mobil jeep, tapi Ane tidak menggunakan fasilitas tersebut melainkan dengan cara menaiki kendaraan bermotor roda dua. Bagaimana dengan jalannya? Memang sieh jalannya kurang bersahabat dengan kendaraan bermotor roda dua, tapi apa dayalah Ane ingin mengunjungi tempat ini sehemat mungkin, :-).



Singkat cerita, sesampainya di Museum Omahku Memoriku Ane kebingungan masalah lahan parkir. Pasalnya tak ada tempat khusus untuk kendaraan bermotor roda dua, yang ada hanyalah mobil jeep terparkir cukup banyak. Alhasil Ane parkirkan kendaraan Ane begitu saja di pinggir jalan. Inilah Museum Omahku Memoriku yang menjadi saksi bisu keganasan erupsi Gunung Merapi Tahun 2010. Terletak di Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta, museum ini terlihat cukup sederhana dengan beratapkan asbes.


Museum Omahku Memoriku tampak depan
Begitu masuk dan melihat kedalam museum tiba-tiba Ane merasakan sesuatu yang berbeda. Fikiran dan bayangan Ane seolah-olah terbawa oleh suasana yang terjadi saat itu. Dibagian luar bangunan dinding sebelah kanan tertempel sebuah penjelasan tetang museum ini mulai dari asal mula, proses terjadinya, hingga terbentuknya museum ini. Ane mau cerita sedikit berdasarkan tulisan yang tertempel tersebut. Pendiri dan sekaligus pengelola Museum Omahku Memoriku ini adalah Pustopo. Lokasi ini berjarak 7 Km dari Puncak Merapi. Dahulu sebelum erupsi merapi tahun 2010 museum ini merupakan sebuah rumah milik almarhum ayahnya bernama Sarsuwadji dan rumah miliknya.


Sebelum erupsi, rumah ini sering digunakan untuk berbagai kegiatan kemasyarakatan seperti pengembangan seni budaya Jawa Karawitan (seni musik Jawa) dan pentas kesenian seperti Kethoprak dan wayang kulit yang dihadiri oleh warga sekitar. Selain itu, rumah ini juga dahulu sering digunakan untuk Tempat Pemungutan Suara (TPS) dalam penyelenggaraan Pemilihan Umum pada dekade tahun 1990-an. Satu lagi, rumah ini juga pernah sebagai tempat ajang penyelenggaraan prosesi acara ritual dandan kali yang dipusatkan di Umbul Batur dan Umbul Ringin. Museum Omahku Memoriku didirikan pada tanggal 22 Oktober 2013 dengan tujuan sebagai representasi korban fisik bangunan dan material akibat erupsi Merapi tahun 2010 (Sumber: Tulisan yang tertempel di dinding di Museum Omahku Memoriku).

Kondisi ruangan utama Museum Omahku Memoriku

Memasuki ruangan yang utama, penglihatan Ane langsung tertuju pada sebuah jam dinding bekas yang hangus terbakar bertuliskan "The Moment Time of Eruption 5 Nov 2010". Itu artinya erupsi terjadi pada tanggal 5 November 2010, dipertegas lagi dalam jam tersebut "jam/Clock Erupsi". Berbagai macam dokumentasi foto, barang asli masih terpajang dengan baik. Ane tak bisa membayangkan betapa dahsyatnya erupsi yang terjadi saat itu. Berbagai macam peralatan rumah tangga seperti gelas, piring pecah tak beraturan. Peralatan gamelan rusak, kendaraan bermotor roda dua hanya menyisakan kerangkanya saja itupun dalam kondisi sudah tak utuh lagi.


Gelas / piring pecah tak beraturan
Peralatan gamelan rusak
Kendaraan bermotor roda dua rusak hanya menyisakan kerangkanya saja
Bahkan peralatan rumah tangga yang terbuat dari bahan besi seperti tabung gas konon cukup kuat pun bengkok. Apalagi peralatan rumah tangga berbahan selain besi berubah bentuk menjadi tak beraturan sehingga tidak bisa lagi dikenali. Berbicara masalah kerugian, ntah berapa ribu triliun bahkan tak terhitung lagi jumlahnya karena tak hanya perlatan rumah tangga, hewan ternak yang mati, tetapi juga nyawa seseorang yang harus hilang ditelan bumi. Salah satu contohnya  yang menjadi korban keganasan erupsi merapi adalah Mbah Maridjan seorang juru kunci Gunung Merapi.

Berbagai macam peralatan rumah tangga yang rusak akibat erupsi merapi
Kendaraan mobil rusak
Hewan ternah mati
Di ruangan selanjutnya Ane melihat berbagai macam jenis batuan yang dikeluarkan oleh merapi saat erupsi diantaranya Lava Boom, fosil kayu, badar besi, dan lain sebagainya. Coba bayangkan sob semisal saat erupsi kita berada di lokasi dan tiba-tiba ada sebuah material lava sebesar lava boom menghantam kita secara terus-menerus ditambah lagi material tersebut bersuhu tinggi, apa yang terjadi? pastilah kemungkinan nyawa kita tak terselamatkan. Dari sini kita bisa mengambil sebuah pelajaran bahwa kemalangan maupun kematian tak dapat kita hindari. Ya nggak sob?



Museum Omahku Memoriku ini adalah salah satu contoh gambaran rumah yang terkena erupsi merapi Tahun 2010. Tak jauh dari museum, ada sebuah rumah lagi yang Ane kunjungi. Kondisinya pun cenderung sama dan tak berbeda jauh. Bangunan luluh lantak, kendaraan bermotor roda dua rusak hanya menyisakan kerangkanya saja, dan hewan peliharaan mati hanya tersisa tulang dan belulangnya saja.

Kondisi alam disekitar Museum Omahku Memoriku
Bangunan lain yang ada di sekitar Museum Omahku Memoriku
Kendaraan bermotor roda dua rusak hanya menyisakan kerangkanya saja
Hewan peliharaan mati hanya tersisa tulang dan belulangnya saja
Sungguh menyedihkan!
Jam buka: 07.00 WIB - 16.00 WIB
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me