Minggu, 29 Juli 2018

Jalan Kaki Menyusuri Setiap Sudut Floating Market Lembang

Lembang merupakan sebuah kota kecil yang terletak di Kabupaten Bandung Barat, provinsi Jawa Barat. Sudah lama sekali Ane memimpikan untuk dapat mengunjunginya walaupun dalam waktu yang cukup singkat. Mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan. Pada tanggal 12 Oktober 2017 akhirnya Ane menginjakkan kaki disini. Ada banyak tempat obyek wisata yang dapat Ane kunjungi, salah satunya Floating Market Lembang (FML). Sehabis mengunjungi De Ranch, Ane arahkan kendaraan roda dua menuju kesini.



Tak butuh waktu lama untuk sampai sini, hanya sekitar 15 menit saja. Seharusnya bisa lebih cepat, tapi karena kondisi lalu lintas yang cukup padat sehingga agak sedikit lebih lama. Sesampainya di pintu masuk, Ane dikenakan tiket masuk sebesar 20k dan karcis parkir 5k. Cuman untuk karcis parkirnya dibayarkan setelah mau pulang. Berbeda dengan letak parkir mobil yang berada dekat dengan penarikan retribusi, letak parkir motor justru berada agak diujung. Petugas parkir pun memberitahukan kepada Ane bahwa setelah mentok kemudian belok kanan hingga mentok.


Tiket masuk dan karcis parkir Floating Market Lembang

Ane ikuti petunjuk tersebut, benar saja letaknya memang ada diujung. Begitu masuk kedalam ternyata Ane langsung dihadapkan pada lokasi inti Floating Marketnya itu sendiri. Ya kalau boleh Ane bilang area ini adalah area paling belakang dari Kawasan Floating Market Lembang. Dari sinilah Ane memulai penjelajahan, kenapa? karena Kawasan Floating Market Lembang itu luasnya pakai kebangetan. Misalkan jalan kaki ya cukuplah bisa membuat kaki ini pegal-pegal dan linu-linu.




Oke, area pertama yang Ane jelajahi adalah penyewaan perahu. Ada beragam macam perahu yang tersedia mulai dari mendayung perahu dengan cara mengayuhnya, hingga pilihan naik kereta air yang ditarik dengan perahu mesin. Ane mah hanya jalan-jalan saja lawong Ane sendirian doank, pingin sieh menyewa perahu dan kemudian naik bersama gebetan, pacar atau orang yang Ane kasihi. Tapi sepertinya untuk sekarang tidak mungkin. Alamak nasib seorang jomblowan, hahaha.


Masih dalam satu kawasan, berbagi tempat dengan area penyewaan perahu adalah area inti yaitu Floating Market itu sendiri. Biasanya Ane kalau membeli makanan itu di kios-kios, foodcourt ataupun sejenisnya. Tapi disini Ane merasakan pengalaman yang berbeda yakni membeli makanan langsung dari penjual yang semuanya berada diatas perahu meskipun semua perahunya berada di tepi. So, kalau sobat nggak bisa berenang dan takut ntar bisa tenggelam, tidak usah khawatir. Ane skip dahulu tentang makanan yang Ane beli disini soalnya belum lapar dan juga belum lelah. Ane memutuskan untuk membelinya saat mau pulang nanti saja.



So, lanjut. Eow iya, disini uang yang ada di dompet Ane tidak berfungsi karena Floating Market Lembang memiliki mata uang khusus berupa koin warna-warni untuk bertransaksi. Maka sebelum melangkah lebih jauh Ane tukarkan terlebih dahulu uang yang Ane punya dengan koin-koin tersebut. Siapa tahu nanti pas jalan-jalan tertarik oleh sesuatu jadi tinggal beli saja. Besaran nilainya sama, misal menukarkan 5 ribuan uang kertas dengan koin warna-warni maka koin warna-warni yang akan Ane dapatkan pun bernilai 5 ribu. Begitupula dengan uang kertas 20 ribuan, maka koin yang akan Ane dapatkan pun sama yakni bernilai 20 ribu. Seperti ini penampakannya.



Awalnya Ane berfikir kalau menukarkan uang kertas 20 ribuan itu bisa dapat 2 biji koin 5 ribuan dan sebiji 10 ribuan. Ternyata tidak, ya kalau 20 ribuan uang kertas dapatnya ya 20 ribuan koin warna-warni dan begitu seterusnya. Ane hanya menukarkan sebiji 20 ribuan uang kertas, kini Ane dapat membeli apa yang ingin Ane beli. Bergerak kearah utara ternyata Ane disuguhkan dengan sebuah pemandangan yang cukup menawan. Rumah dengan bentuk yang kecil seolah-olah mengapung di tengah danau. Seperti berpenghuni, pemilik rumah tersebut juga berternak beberapa ekor angsa. Waow! keren





Tak hanya itu, ditengah-tengah danau terpajang pemandangan cantik beberapa buah bangunan bertemakan Jepang. "Kyotoku" begitulah sebuah tulisan bergaya Jepang tertulis di pintu masuk kawasan. Melewati jalan yang semuanya terbuat dari bambu membuat Ane semakin jatuh cinta pada kawasan ini. Sudah suasananya sejuk, udaranya cukup dingin, ditambah jalannya cukup nyaman pula. Lengkap deh tentang kebaikan yang ada disini.







Rupanya bangunan ini bukan sekedar mempercantik pemandangan saja. Didalam bangunan tersebut terdapat penyewaan busana pakaian tradisional dan pernak-pernik bercirikan Negeri Sakura. Lengkap sudah suasana Jepangnya dengan hadirnya Para pelayan yang juga memakai busana ala Jepang. Ada sejumlah tata tertib yang harus ditaati oleh penyewa bila ingin menyewanya. Mayoritas penyewanya adalah para ibu-ibu dan tak jarang penampilan mereka berhasil menarik perhatian pengunjung lainnya. Mereka dapat berfoto sepuasnya disini asalkan tidak keluar dari Kawasan Floating Market.





Melewati sebuah restoran dan persawahan yang sedang ditanami tanaman padi, Ane baru ngeh kalau disinilah pintu masuk pengunjung yang seharusnya. Hal ini ditandai dengan patung koin warna-warni khas Floating Market dan papan petunjuk berjumlah cukup banyak yang mengarahkan ke berbagai area. Asyik, sekarang Ane bisa mengetahui tempat-tempat mana lagi yang akan dikunjungi. Rata-rata pengunjung yang datang dari luar menyempatkan diri untuk berfoto disini tak terkecuali Ane sehingga membuat Ane harus menunggu gilirannya.


Patung koin warna-warni khas Floating Market Lembang
Papan petunjuk yang mengarahkan ke berbagai area
Area selanjutnya adalah mengunjungi miniatur kereta. Tapi rencana ini gagal lantaran ada seekor domba yang ingin dirinya untuk di ambil gambarnya. Lucunya domba-domba ini. Tak hanya difoto, mereka juga jinak dan mau disentuh oleh tangan-tangan para pengunjung. Tak jauh dari sini ada juga lokasi mengamati angsa. Lokasi ini agak tersembunyi karena berada diantara rerimbunan pohon. Khasnya angsa ya selalu mengeluarkan bunyi-bunyian dari dalam mulutnya.



Pintu masuk Miniatur Kereta Api 
Doma-domba yang lucu
Angsa-angsa yang berisik
Sebelah selatan lokasi Miniatur Kereta Api, ada sebuah taman yang cocok buat penyayang binatang kelinci. Apalagi kalau bukan Taman Kelinci. Taman ini terpagar dengan rapat mungkin maksudnya agar kelinci-kelinci yang ada didalam tersebut tidak kabur. Tempat ini cukup sepi, hanya ada seorang anak bersama bapaknya saja yang terlihat. Coba kalau gratis pasti banyak yang masuk, hehehe.



Lokasi terakhir yang Ane tapaki adalah Kampung Leuit. Apakah yang dimaksud dengan Kampung Leuit itu? Setelah masuk kedalam barulah tahu kalau Leuit itu adalah sebuah sanggar/musholla yang digunakan sebagai tempat beribadah bagi umat muslim. Hal ini berdasarkan sebuah tulisan yang terpampang dibagian depan musholla. Tapi kok yang Ane temui tidak berhubungan ya. Malah lahan tanaman padi yang baru saja ditanam dan lumbung padi. Ah, ntahlah yang jelas dengan berjalan-jalan disekitar area ini cukup mampu membuat Ane bahagia.





Setelah puas menjelajah Kawasan Floating Market Ane kembali ke titik awal yakni Floating Marketnya. Berbagai macam makanan dijual disini diantaranya lumpia, bandrek, bajigur khas sunda, lotek, cakwe, kupat tahu, tahu susu crispy, bala-bala, dan lain sebagainya. sempat mondar-mandir kesana-kemari dengan fikiran yang agak bingung akhirnya Ane memutuskan untuk membeli makanan yang dinamakan dengan bala-bala. Selain harganya murah juga masih terdengar asing di telinga Ane. Seperti apakah bentuknya? owalah begini tow bentuknya. Ya sama persis dengan namanya "bakwan".



Ewo iya, Ane masih punya tiket yang belum Ane tukarkan dengan minuman. Ane bisa menukarkannya dimana saja asalkan tempat tersebut merupakan tempat penukaran voucher minuman. Ane lebih memilih menukarkan voucher ini didekat dimana Ane membeli makanan yang bernama bala-bala. Setiap pengunjung diberi kebebasan memilih jenis minuman apa yang hendak akan dinikmati.




Terjawab sudah rasa penasaran Ane terhadap Obyek Wisata Floating Market. Meskipun obyek wisata ini merupakan buatan manusia tapi masalah keindahan tidak kalah dengan yang alami. Buat sobat yang ingin datang kesini berikut jam bukanya.
Floating Market Lembang buka setiap hari:
Senin - Kamis dari jam 9 pagi hingga jam 7 malam,
Jumat - Sabtu dari jam 9 pagi hingga jam 8 malam, dan
Minggu buka dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam.
Sampai jumpa!
Let's Go

Selasa, 26 Juni 2018

De Ranch Lembang Bandung, Ternyata Tak Hanya Ada Kuda Saja

Selepas mengunjungi Gedung Sate dan berkeliling-keliling Lapangan Gasibu, Ane arahkan kendaraan motor yang Ane sewa menuju Kawasan Lembang. Ya, Kawasan Lembang adalah tujuan utama Ane karena selain dekat dengan Kota Bandung juga terdapat banyak obyek wisata yang dapat dikunjungi. Sebenarnya sieh Ane pinginnya ke Kawah Putih, Situ Patenggang maupun Tangkuban Perahu. Namun berhubung jaraknya yang cukup jauh dari Kota Bandung serta Ane belum begitu mengenal Kota ini lebih dekat maka Ane putuskan untuk jalan-jalan di Kawasan Lembang saja.


Destinasi pertama yang akan Ane kunjungi kali ini adalah De Ranch. Memang dari awal Ane berniat untuk mengunjungi tempat ini karena Ane ingin sekali merasakan suasana yang berbeda yakni melihat kuda-kuda yang dilepas begitu saja. Diperlukan waktu sekitar 3/4 jam dari Gedung Sate, tetapi karena dari pagi Ane belum makan sesuap nasipun maka Ane putuskan untuk mampir sebentar di warung makan.
Perjalanan menuju Kawasan Lembang itu mirip dengan perjalanan menuju Kawasan Wisata Kaliurang di Yogyakarta maupun Bedugul di Bali. Semakin lama cuaca yang terasa semakin dingin dan bahkan tak jarang pula turun kabut. Ane sempat salah jalan saat memasuki Kawasan Lembang, seharusnya lurus saja kearah timur melalui jalan yang cukup sempit dan tidak terlalu ramai, eh Ane malah lurus saja mengikuti jalan yang ada. Ternyata jalan ini mengarah ke obyek wisata Tangkuban Perahu. Disini insting Ane mengatakan kalau jalan yang Ane lewati salah. Untuk itu Ane menepikan kendaraan roda dua Ane dan kemudian bertanya kepada salah seorang warga. Rupanya dugaan Ane benar, Ane disuruh balik lagi dan mengambil jalan kearah kiri. Benar saja, tak lama kemudian sampailah Ane di lokasi yang Ane maksud.


Peta cara menuju Obyek Wisata De Ranch
Setelah memarkirkan kendaraan roda dua, Ane menuju ke pintu masuk De Ranch. Ternyata hasilnya zonk alis belum buka dan salah seorang pegawainya memberitahukan kepada Ane bahwa De Ranch mulai buka pada jam 9 pagi, sementara sekarang masih jam 9 kurang 10 menit. Itu artinya 10 menit lagi De Ranch ini akan buka. Tentu donk sob Ane tak mau menyia-nyiakan waktu yang ada, Ane gunakan waktu ini untuk mengambil gambar dan selfie seperlunya. Siapa coba yang tahan tidak foto bersama kedua patung ini? selama pengamatan Ane setiap pengunjung yang datang pasti foto disini.

Gimana, sudah keren belum?
Disini, De Ranch seolah-olah menegaskan kepada siapa saja yang ingin menunggang kuda atau beraktifitas yang berkaitan dengan kuda. Hal ini terlihat dari semua poster yang terpampang di bagian depan pintu masuk. Mulai dari kursus keterampilan khusus kusir kereta kuda dengan tarif 50k/orang selama 30 menit dengan maksimal 2 orang/kereta. Tapi dalam aktifitas ini ada syaratnya yakni peserta minimal harus sudah berusia 7 tahun. Jadwalnya dibuka dari jam 1 siang hingga ditutup pada jam 4 sore. Setelah selesai peserta akan mendapatkan Crtificate of Attendance dari pihak De Ranch.



Aktifitas lain yang dapat dilakukan disini yaitu:
  • Naik kuda perputar
  • Naik kuda pony
  • Naik delman
  • Jalan-jalan berkuda untuk penunggang non pengalaman didampingi oleh pemandu
  • Pelajaran tunggang
  • dan lain sebagainya
Supaya lebih jelas, sobat bisa melihat poster berikut ini



Atau sobat ingin segera menikah dan foto Pra Weddingnya dilakukan di De Ranch ini? bisa, bisa. Apasieh yang tidak bisa buat sobat. Bahkan untuk lokasi pemotretan modelling atau yang lainnya juga bisa. Tapi untuk semua aktifitas tersebut pengunjung harus membayar dengan tarif yang lumayan cukup mahal yakni 2 juta/6 jam. Sobat tidak percaya? okelah Ane kasih liat posternya.



Seusai membaca sudah ada beberapa pengunjung yang datang dan loket sudah mulai dibuka. Untuk masuk kedalam Ane dikenai tiket masuk sebesar 10k. Selain sebagai tiket untuk masuk juga dapat ditukarkan dengan segelas air susu. Mantab! Begitu masuk kedalam Ane dihadapkan oleh area foodcourt dengan beberapa jajanan. Nah, dibagian depan dari area inilah yang cocok buat pengunjung duduk-duduk santai sambil menikmati pemandangan yang ada. Padang rumput hijau luas dengan dibelakangnya nampak sebuah bukit menjulang. Padang rumput ini rata-rata dihuni oleh kuda-kuda yang dibiarkan bebas. Namun kuda-kuda tersebut ditempatkan di area khusus yang dipagari oleh pagar kayu disekelilingnya. Tak di pungkiri hewan lain yang dibiarkan bebas pun ada seperti segerombolan kambing berjenis gembel.


Tiket masuk De Ranch


Belum banyak pengunjung yang datang, sesampainya didalam hanya Ane dan beberapa pengunjung saja yang ada. Ane langsung bergerak menuju loket pembelian tiket berkuda keliling padang rumput karena memang setiap aktifitas yang dilakukan disini tiketnya dibeli secara terpisah. Sesampainya di tempatnya, apa yang terjadi sob? Ternyata loketnya belum buka dan salah satu pemandu yang kebetulah masih memandikan kuda-kuda mengatakan kalau loket ini bukanya jam 10. Yasudah, akhirnya Ane memutuskan untuk berkeliling-keling padang rumput dengan berjalan kaki saja.





Berbeda dengan kuda-kuda yang menarik delman di jalan-jalan, kuda-kuda yang ada disini mempunyai perawakan yang cukup besar. Bulunya bagus dan warnanya cukup bisa membuat adem ayem mata. Tapi tetap ingat ya sob, kalau sobat datang kesini harus patuh terhadap papan informasi yang terpasang seperti "jaga jarak aman dari pagar karena kuda bisa menggigit dan menendang". Kan nggak lucu kalau nanti sobat ketendang jauh dan bisa menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan. Bukannya senang-senang malah senep-senep, hehehe.




Saat berada di area kuda-kuda pony, tiba-tiba ada kejadian yang tak terduga-duga oleh Ane sebelumnya dan bisa membuat Ane tertawa terbahak-bahak sekaligus diliputi oleh rasa ketakutan. Mungkin lupa atau gimana sebuah pintu pagar kayu dibiarkan terbuka sehingga ada seekor kuda yang berlarian kesana-kemari dengan bebas bahkan bisa mendekati setiap para pengunjung. Sepertinya tak hanya Ane yang terhibur tetapi juga seluruh pengunjung yang kebetulan menyaksikkannya. Why? karena kuda yang Ane maksud ini adalah kuda pony. Seorang anak kecil saja di kejar sehingga disini kita semua benar-benar merasa sangat, sangat, sangatlah terhibur.


Lariii
Tak kejar kamu
Secara semuanya adem ayem tentrem makan rumput, lakok ini malah berlarian kesana-kemari ngejar-negjar pengunjung. Efeknya, saat anak-anak TK bersama gurunya baru saja datang dan melihat kejadian ini sontak tidak jadi berkeliling-keliling padang rumput lebih jauh lagi dan mereka lebih memilih untuk putar balik. Beruntung, tak lama kemudian datanglah seorang pemandu dan menggiring kuda yang berkeliaran tersebut masuk kedalam pagar sehingga pengunjung bisa berjalan-jalan lagi mengelilingi padang rumput ini dengan nyaman, Lega!



Awalnya Ane kira selain kuda-kuda hanya ada segerombolan kambing saja yang ada disini. Ternyata tidak, dibagian sisi barat dari De Ranch ini ada berbagai macam jenis ekor yang sangat terpelihara. Beberapa ekor sapi sedang memakan rumput. Eh diantara sapi-sapi tersebut, ada seekor sapi yang membuat Ane cukup terhibur. Dia melihat Ane dengan penuh kecurigaan. Mungkin dalam hatinya dia berkata:


Apa lho lihat-lihat gue, emang gue tontonan
Hahaha, selain hanya melihat-lihat saja. Aktifitas yang dapat dilakukan disini yaitu kegiatan menyusui pedet (anak sapi yang masih kecil) dengan tarif 15k/200 mL. Tepat sedang melihat-lihat pedet, para petugas kebetulan sedang memberi susu kepada mereka. Ada pedet yang hanya diam saja menyusu, ada juga yang terlalu rakus, bahkan adapula yang disusui itu berlarian kesana-kemari tidak jelas.


Tarif menyusui pedet
Pedet putih, salah satu pedet yang berlarian kesana-kemari
Didepan dari area menyusui pedet ini ada area yang juga cukup menghibur lho sob, yakni area menyusui anak kambing atau kalau orang jawa menyebutnya dengan cempe, sedangkan disebelah barat area menyusui pedet ada area Taman Kelinci. Sayang beribu sayang, kedua area ini belum ada petugas yang melayaninya sehingga loket masih dalam keadaan tertutup. Ane hanya bisa melihat-lihat secara visualnya saja. Nampaknya berbagai macam area yang ada di sisi barat ini memang didesain agar kita selalu menyayangi hewan. Coba saja kita menyusui pedet maupun cempe tentu rasa sayang kita terhadap hewan akan meningkat. Ya nggak sob?




Kembali lagi ke titik awal, ternyata pengunjung yang datang semakin ramai. Dari semua aktifitas yang ada, aktifitas berkuda keliling padang rumputlah yang paling banyak digemari oleh para pengunjung baik orang dewasa maupun anak-anak. Untuk 1 X putaran dikenakan biaya sebesar 25k/orang. Khusus buat anak yang ketakutan naik kuda cukup besar, ada kuda pony yang memang cocok sesuai dengan ukuran tubuhnya dengan tarif yang sama. Tarif tersebut sudah termasuk peminjaman vest dan topi ala cowboy, keren kan?




Selain aktifitas yang berhubungan dengan hewan, di De Ranch ini juga masih ada banyak wahana permainan yang dapat dilakukan diantaranya flying fox, delman, the gold hunter, fun boat, trampolin, kuda ayun, balon air, riding out, dan masih banyak lagi lainnya. Pokoknya lengkap deh. Niat awal Ane kesini ya hanya nyobain kuda tunggangnya saja, tapi pas setelah puas jalan-jalan dengan berjalan kaki tiba-tiba langit mulai mendung dan rintik-rintik hujan mulai jatuh. So, Ane urungkan niatan Ane tersebut.



Ane teringat dengan voucher minuman yang Ane punya. Sembari menunggu cuaca reda Ane tukarkan voucher tersebut dengan segelas susu segar. Layaknya sebuah tempat obyek wisata yang sudah terkelola dengan baik, fasilitas yang ada di De Ranch ini sudah sangat komplit mulai dari tempat parkir, foodcourt yang menjual beraneka ragam makanan dan minuman, hingga kamar kecil dengan kebersihannya yang terjaga.




Pokoke cukup wuoke dah!
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me