Selasa, 27 Agustus 2019

Menjelajah Pantai Sari Ringgung, Sensasi Shalat di Masjid Terapung

Salah satu alasan kuat mengapa Ane langsung mengatakan OK ikut tur wisata ini ialah selain karena kewajiban Ane mendampingi anak-anak juga karena obyek wisata yang dituju cukup menarik dan Ane sendiri pun belum pernah mengunjunginya. Ya, obyek wisata tersebut bernama Pantai Sari Ringgung yang terletak di Desa Sidodadi Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran. Kalau masalah tempat wisata yang ada di Provinsi Lampung, Ane banyak yang tahu sob secara inikan tanah kelahiran Ane dan juga hobi namun selama ini Ane banyak menghabiskan waktu di kota Yogyakarta sehingga banyak tempat-tempat wisata yang belum Ane jamah.



Selain Pantai Sari Ringgung, Provinsi Lampung memiliki banyak obyek wisata yang sangat menarik diantaranya Pulau Pahawang, Pulau Kelagian, Teluk Kilauan, Way Kambas, Gunung Krakatau dan sebagainya. Sebenarnya Ane ingin mengunjungi semua itu, tapi berhubung temanya One Day Tour maka Pantai Sari Ringgunglah yang dipilih mengingat jarak tempuh dari Kota Bandar Lampung tidaklah jauh. Ada apa saja ya yang tersuguh disana?
Selepas mengunjungi Museum Negeri Lampung "Ruwa Jurai", bus yang kita tumpangi melesat menuju ke Pantai Sari Ringgung. Hari masih pagi sekitar pukul 09.15 dan hari ini juga adalah hari Jum'at, itu artinya kita bakalan mendirikan shalat Jum'at disana. Iyes, konon katanya di Pantai Sari Ringgung ini ada Masjid Terapungnya dan jamaahnya itu ada yang pernah datang dari luar negeri, dalam hati berkata "Kayaknya asyik tuh kalau nanti pas Shalat Jumat ada di Masjid Terapung tersebut".



Dalam perjalanan menuju lokasi dan dibarengi oleh rasa penasaran yang ada, dalam hati bertanya-tanya,"seperti apakah pantai ini, apa seperti pantai-pantai kebanyakan di Jawa bagian Selatan, di Jawa bagian Utara, ataukah seperti pantai-pantai yang ada di Pulau Bali? Ada apa saja disana dan daya tarik apa yang ditawarkan olehnya?". Tepat pukul 10.15 WIB sampailah kita di obyek wisata yang kita maksud yakni Pantai Sari Ringgung. Jadi, dari Museum Lampung menuju Pantai Sari Ringgung dibutuhkan waktu sekitar 1 Jam saja. Sebelum benar-benar memasuki area utama Pantai Sari Ringgung, kita diharuskan untuk membayar tiket masuk terlebih dahulu di Tempat Penarikan Retribusi (TPR). Untuk besarannya Ane kurang mengetahui secara pasti karena semua biaya akomodasi dan masuk obyek wisata sudah ditanggung oleh EO. Tak lama kemudian, kini rasa penasaran itu akhirnya terjawab sudah. Owalah seperti ini tow pemandangannya.



Turun dari bus, namanya juga peserta orang banyak jadi mulai berpencar. Ada sebagian orang langsung menuju ke kamar kecil untuk mandi dan beberes diri, ada sebagian lagi yang langsung menuju ke pantai, dan bahkan ada juga sebagian lainnya yang lebih memilih berada disekitar bus saja. Lalu Ane? Rugi dong sob kalau jauh-jauh dari Kabupaten Mesuji kesini cuman duduk-duduk manis saja disekitaran bus yang Ane tumpangi. Ane bersama adik Ane jalan-jalan menuju pantai dan mengeksplorer semua sudut yang ada disini.



Pantainya berpasir putih, cukup bersih dengan garis pantai yang cukup panjang. Meskipun hari ini adalah hari Jum'at tetapi wisatawan yang datang sangatlah ramai bak seperti cendol. Wajar saja, pantai ini cukup epik dan memiliki pemandangan yang sangat menarik. Pemandangan pertama yang cukup membuat Ane kagum adalah keberadaan sebuah Masjid Terapung di tengah laut, sekarang Ane percaya kalau Masjid Terapung itu memang benar-benar ada dan tidak berdasarkan katanya.



Tak kalah menarik, ditengah-tengah laut terlihat disana sebuah pulau yang ntah apa namanya tetapi ku ingin menginjakkan kaki disana. Lengkap sudah pemandangan yang ada, keberadaan bukit-bukit yang mengalur menjadi background daripada pantai Sari Ringgung ini. Tiba-tiba "Ayok mas nyeberang naik perahu 250 ribu saja", terdengar suara seseorang menawarkan jasa penyeberangan. "Nanti dulu Pak, kita ingin jalan-jalan saja di sekitar pantai", balasku. Jujur saja, ingin sekali rasanya Ane menyeberang ke pulau itu menggunakan perahu tapi nanti dulu kita kan rombongan siapa tahu diantara sahabat-sahabat rombongan ada juga yang mau menyeberang kesana. "Yasudah mas 200 saja", ucap bapaknya kembali. Nampaknya bapak ini gigih banget ingin Ane dan Adik Ane menggunakan jasanya.



Merasa harga yang ditawarkan oleh bapaknya cukup murah, Ane tergoda untuk menyeberang kesana namun Ane menjelaskan kepada beliau bahwa Ane memberitahu dulu kepada sahabat-sahabat rombongan tentang ini dan jika jadi Ane bisa menghubunginya kembali. Mulailah Ane bersama adik Ane mencari sahabat-sahabat kita. Ternyata sahabat-sahabat kita ada di sebuah pondokan pinggir pantai, letaknya berada tepat didepan prosotan tong air tumpah. Ya, Pantai Sari Ringgung ini memiliki fasilitas bermain yang cukup lengkap sob diantaranya banana boat, kano, JetSki, dan peralatan snorkling. Terlihat kebanyakan yang bermain air adalah anak-anak, kalaupun orang dewasa ya yang sedang mendampingi anak-anak mereka bermain.



Ane masih keukeuh ingin menyeberang ke pulau seberang dan sepulang dari sana nanti jum'atan di Masjid Terapung. Awalnya sahabat-sahabat rombongan tak ada yang mau menyeberang, yasudah Ane ikut mereka bersantai-santai di pondokan. Sekitar 10 menit kemudian, datanglah seorang laki-laki yang terbilang masih muda menawarkan jasa penyeberangan ke pulau seberang. Awalnya meminta 250 ribu, tapi Ane berbisik-bisik kepada Pak Dwi selaku Kepala Sekolah bahwa dengan 200 ribu pun kita sudah bisa menyeberang. Alhasil terjadi kesepakatan harga antara kita dengan mas tersebut yakni 200 ribu. Pak Dwi menawarkan kepada kita semua apakah mau menyeberang atau tidak dengan harga tersebut. Bak Gayung Bersambut, Ane langsung menyetujuinya dan satu dua sahabat-sahabat lainnya Ok. Alhasil Pak Dwi memerintahkan kepada Ane untuk mengakomodirnya.



Mas nya mengatakan kepada kita kalau muatan perahunya maksimal 12 penumpang dan tidak lebih. Oke, dengan cepat Ane mengakomodirnya ternyata yang ikut dalam perahu tersebut pas 12 orang sudah termasuk Ane, Pak Dwi dan adik Ane. Selain itu Pak Likin, Bu Yani beserta suaminya, Bu Reky beserta suaminya, Bu Eni beserta temannya, dan Pak Marijan beserta isterinya. Sebenarnya ada dua lagi yakni anaknya Ibu Yani dan Ibu Reky, tapi oleh supirnya tidak masuk dalam hitungan. Iyalah, lawong anak masih berusia dibawah 7 tahun masa masuk hitungan.



Setelah membayar sejumlah uang sesuai dengan kesepakatan kita, kita berdua belas naik perahu. Kata masnya pulau seberang yang akan kita tuju adalah Pulau Tegal Mas. Saat menuju kesana, kami melewati Masjid Terapung. Mula-mula ombaknya tidak terlalu besar, namun lama-kelamaan ombaknya menjadi tambah besar. Didalam perahu kita bergurau dan bercanda dengan berbagai macam candaan. Dilihat dari garis pantai, Pulau Tegal Mas ini cukup dekat tetapi pada kenyataannya ketika kita sambangi ternyata cukup jauh juga. sesampainya di Pulau tersebut apa sahabat-sahabat yang terjadi? kita tak bisa menginjakkan kaki disana dan hanya melihat dari dekat saja.



Bergaya dulu biar kekinian
"Kalau kita ingin menginjakkan kaki disana, kita harus membayar terlebih dahulu dengan besaran biaya masuk 40 ribu perorang", celetuk mas supir. Kita rombongan rembukan dan akhirnya kita memutuskan untuk tidak masuk ke Pulau Tegal Mas tersebut. Ane mah oke-oke saja, tapi kalau sahabat-sahabat yang lain bilang tidak mau lantas mau bagaimana lagi? Ibarat kata nieh ya sob ada seorang gadis cantik di Kafe sendirian, namun tak bisa diajak kenalan rasanya itukan kecewa. Tapi tak apa-apalah, kalau begitu Ane mau bercerita sedikit tentang pulau ini berdasarkan apa yang Ane lihat.


Pulau Tegal Mas


Pulau Tegal Mas tidaklah terlalu besar namun mempunyai pemandangan yang cukup eksotis, dua buah bukit menjulang keatas dengan di garis pantainya berdiri cottage-cottage cantik. Seru sepertinya kalau main kesitu, tapi apa boleh buat. Mungkin nanti kalau datang kesini lagi, bisa menginjakkan kaki di situ. Waktu menunjukkan pukul 11.40 dan hari ini adalah hari Jum'at, untuk itu tak lama kita memandangi Pulau Tegal Mas tersebut dan segera kembali ke pantai namun shalat Jum'at terlebih dahulu di Masjid Terapung.


Ini nieh penampakan masjid terapungnya

20 menit kemudian sampailah kita di Masjid Terapung ini, yang laki-laki masuk kedalam masjid sedangkan yang perempuan menunggu di teras. Setidaknya rasa kecewa kita terobati karena bisa menginjakkan kaki disini. Masjid Terapung ini benar-benar terapung namanya Masjid Terapung Al-Aminah. Merasakan Shalat Jum'at di masjid ini menjadikan pengalaman Ane yang tak terlupakan. Namanya saja terapung, selama berada didalam masjid yang Ane rasakan adalah mak yut, yut, yut, yut seperti terbawa oleh gelombang laut serta terdengar suara mak kretek, kretek, kretek, kretek. Pokoknya asyik deh sob. Nah, kalau sobat penasaran dengan apa yang Ane rasakan sobat bisa datang langsung kesini.




Kondisi didalam masjid
Shalat jum'at sudah usai, setelah mengambil gambar dan mengabadikan moment seperlunya kita menaiki perahu lagi guna menuju pantai kembali. Sesampainya di pantai, jarum jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB, Segera kita makan, beberes, dan sebagainya selanjutnya kita melanjutkan perjalanan berikutnya. Merasa penasaran dengan murid-murid Ane, Ane bertanya kepada salah satu dari mereka. Ternyata mereka menikmati Pantai Sari Ringgung ini dengan cara menaiki sebuah bukit "Krakatau View".



Tidak apa-apalah yang paling penting mereka senang. Sebenarnya Ane juga ingin menuju kesana, tapi apa boleh buat waktu yang tidak memungkinkan sehingga setelah makan dan beberes kita go ke tempat berikutnya. Tempat apakah itu? yakni Transmart Lampung yang konon katanya ada sebuah menara eiffel mini.
Let's Go

Rabu, 17 Juli 2019

Belajar Budaya dan Aksara di Museum Lampung

Saat pulang dari kerja tiba-tiba adik Ane mendekati Ane dan bilang:
Adik Ane : Kang besok tanggal 3 disuruh membimbing anak SMP
           jalan-jalan lo Kang!
Ane      : Hah, dimana itu?
Adik Ane : Rencana ke Museum Lampung, Pantai Sari Ringgung, dan
           Transmart.
Jadi begini sob, selain bekerja menjadi seorang guru di SMP PGRI 1 Way Serdang Ane juga bekerja menjadi PPK Way Serdang dan kebetulan saat itu sedang padat-padatnya mengurusi masalah PEMILU. Tapi Ane cukup beruntung karena pas selesai mengikuti rapat rekapitulasi di tingkat kabupaten, kabar ini Ane terima.  
Berhubung pada tanggal itu Ane tidak ada kegiatan, juga karena hobi, serta tempat-tempat tersebut belum pernah Ane sambangi kecuali Museum Lampung maka saat itu juga Ane langsung menyetujuinya dengan mengatakan OK.
Ya, walaupun Ane lahir di Lampung namun belum banyak tempat-tempat wisata yang Ane kunjungi. Ane lebih banyak menghabiskan waktu di Kota Jogja dan sesekali main ke Lombok dan Bali. Ingin sekali sieh mengeksplorer banyak tempat di tanah kelahiran sendiri, namun dikarenakan keadaan sekarang yang sudah tidak seperti dahulu yang mempunyai banyak waktu maka Ane menyiasatinya dengan cara mengeksplorernya secara bertahap.
Berselang dua hari waktu yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Keberangkatan kita direncanakan jam 12 malam dengan perkiraan waktu sampai di Museum Lampung tiba pada pagi hari. Maklum, museum ini terletak di Ibukota Provinsi Lampung yakni Bandar Lampung, sementara rumah Ane berada di Kabupaten Mesuji. Perjalanan dari rumah Ane hingga Bandar Lampung memakan waktu sekitar 4-5 Jam. Cukup lumayan bukan :-)


Selepas shalat Isya, Ane bersama adik Ane (Ia pun ingin ikut) mulai mempersiapkan diri. Tak ada persiapan khusus karena cuman satu hari saja kita berwisata. Tepat jam setengah 12 malam Ane bersama adik Ane menuju ke titik awal pemberangkatan. Sesampainya disana ternyata baru ada beberapa anak murid saja yang kumpul, sedangkan Bapak/Ibu gurunya pun belum ada yang kumpul. Jangankan itu lawong mobilnya saja yang mau kita naiki belum juga datang. Yasudahlah Ane pulang dulu dan adik Ane, Ane tinggal di lokasi. Sudah satu jam ku menunggu di rumah, tapi tak ada kabar. Alhasil pada jam setengah 1 pagi Ane menuju ke lokasi pemberangkatan. Tapi apa sob? mobilnya belum juga datang, namun peserta jalan-jalan sudah hampir semua kumpul. Syukur tepat pada pukul setengah 2 pagi mobilnya datang dan semua peserta juga sudah pada kumpul. Jadi tak butuh waktu lama kita menata diri dalam bus, habis itu wussss perjalanan dimulai.
Awalnya kita melewati jalan berbatu dan bergelombang kurang lebih sekitar 20 Km, didalam mobil bisa dibayangkan rasanya seperti apa. Kalau sobat pernah naik kuda ya mungkin seperti itulah dan itulah kondisi pada umumnya infrastruktur jalan di desa-desa Provinsi Lampung. Sebenarnya tak jauh dari titik pemberangkatan itu ada jalan tol, tapi jalannya belum diresmikan dan belum sepenuhnya terhubung satu sama lain. So, mau tidak mau mobil yang kita naiki ini harus melewati jalan biasa dan jalan nasional.


Keluar dari jalan pedesaan, kini masuk jalan nasional tepatnya Jalan Raya Lintas Timur. Jalannya cukup mulus dan jalan inilah yang akan kita lewati hingga ke Bandar Lampung. Awalnya Ane berfikir kalau mobil ini bakalan lewat jalan tol Terbanggi Besar - Bakauheni, karena memang jalan tol Terbanggi Besar - Bakauheni sudah bisa digunakan sepenuhnya. Ternyata tidak, nyatanya sesampainya di depan gerbang pintu tol bus ini tetap melaju kencang tanpa memperdulikannya. Tarik terus mang!
Ku lirik sebuah jam di HP dan waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi, itu artinya sudah memasuki waktu shalat subuh. Sesuai dengan dugaan Ane ditengah perjalanan kita mampir dahulu di sebuah tempat untuk beristirahat dan tempat yang kita singgahi bernama Masjid Istiqlal. Namanya memang sama dengan Masjid Istiqlal di Jakarta, namun Masjid Istiqlal ini berada di Bandar Jaya, Terbanggi Besar, Lampung Tengah.


Beragam aktivitas mulai dari shalat, makan, mandi kita lakukan disini. Ane memilih untuk tidak mandi, selain cuaca masih dingin juga berencana sekalian mandi di Pantai Sari Ringgung saja karena cuma membawa pakaian ganti satu pasang saja. Memasuki masjidnya ternyata cukup besar juga dan Ane perkirakan masjid ini dapat menampung ribuan jamaah.
Habis shalat dan makan, kita lanjutkan lagi perjalanan kita. Sekitar 1,5 jam sampailah kita di tempat yang kita maksud yakni Museum Negeri Lampung atau warga masyarakat biasa menyebutnya dengan Museum Lampung yang beralamatkan di Jl. ZA Pagar Alam No. 64, Gedong Meneng, Kecamatan Kedaton, Kota Bandar Lampung. Terhitung sudah dua kali ini Ane mengunjunginya, pertama saat Ane masih duduk di bangku SMP dan kedua saat inilah dimana Ane bukan lagi menjadi seorang siswa namun sudah menjadi seorang guru.


Kalau lewat mah sering. Saat memasuki halaman museum, kita sudah disuguhi beberapa macam koleksi diantaranya disisi kanan museum terdapat rumah khas budaya Lampung yaitu rumah panggung kayu. Sedangkan disisi kanan dan kiri sebelum pintu masuk terdapat meriam kuno yang syarat akan nilai sejarah. Tak ingin berlama-lama diluar, langsung saja kita masuk kedalam. Kali ini Ane tak membayar tiket masuk alias gratis karena ikut rombongan :-).


Pertama kali koleksi Museum Lampung yang Ane lihat adalah Alpabet/aksara Lampung bertuliskan: 
Ka Ga Nga Pa Ba Ma Ta Da Na Ca Ja Nya Ya A La Ra Sa Wa Ha Gha. Beserta angka Lampungnya dan sebuah foto Pahlawan Nasional bernama R.Mohamad Mangoendiprodjo yang lahir pada tanggal 5 Januari 1905 dan wafat pada tanggal 13 Desember 1988 dimakamkan di TMP-Lampung.

Alpabet/Aksara Lampung beserta Angka Lampungnya

Ada 2 lantai didalam museum ini, kita bisa memulai mengeksplorer dari lantai satu terlebih dahulu atau lantai dua karena tangga naik maupun turun berada tepat setelah pintu masuk. Ane memilih untuk mengeksplorer lantai 1 terlebih dahulu. Pemandangan yang paling mencolok di ruang pameran ini adalah sebuah diorama meletusnya Gunung Krakatau. Penampakan fisik gunung lengkap dengan nyala lava yang yang membara serta kepulan asap putih keabu-abuan jelas tergambar. Bisa dibayangkan betapa ngerinya suasana saat itu.


Koleksi-koleksi lainnya yang dapat Ane temui di lantai satu yaitu berbagai macam benda peninggalan prasejarah, zaman kedatangan islam, masa penjajahan, pasca kemerdekaan bangsa Indonesia dan ada juga benda-benda peninggalan Raden Intan II, berbagai macam jenis batuan dan mineral serta beberapa prasasti seperti Prasasti Bungkuk, Prasasti Batu Bedil, dan Prasasti Bawang.

Aaamieeen!


Naik ke lantai dua, setidaknya ada dua buah koleksi yang menarik perhatian Ane yakni keberadaan tempayan (paseu) lengkap dengan sebuah gambar yang menerangkan akan tempayan ini. Paseu digunakan sebagai bak mandi/berendam oleh gadis (Lampung: Mulei) sebelum upacara akad nikah. Keramik Dinasti Ching bermotif burung, tumbuh-tumbuhan dan bunga. Berasal dari Kedondong, Pesawaran.


Selanjutnya koleksi beragam aksesori yang berkaitan dengan adat-istiadat Lampung. Mulai dari aksesori yang berkaitan dengan upacara kehamilan, kelahiran, masa anak-anak, masa remaja, masa dewasa, perkawinan hingga kematian. Salah satu contohnya kain tapis. Kain tapis adalah tenunan yang berbentuk kain sarung, dipakai oleh wanita suku Lampung pada saat upacara adat, terbuat dari benang kapas, bermotif dasar horizontal, pada bidang tertentu diberi hiasan sulaman benang emas, benang perak, atau sutera, benang sugi dengan menggunakan sistem sulam (Lampung: Cucuk/Nyucuk).

Siger, simbol khas budaya Lampung

Narsis dulu sob, biar tidak dituduh hoax :-)
Itulah sob sedikit pelajaran yang Ane dapatkan dari museum ini dan kalau sobat ingin melihat-lihat lebih detail lagi tentang koleksi-koleksi yang ada di Museum Lampung, silahkan sobat datang langsung kesini. Museum Lampung ini mudah ditemukan kok sob, hanya berjarak sekitar 700 meter kearah selatan Terminal Rajabasa. Dari terminal ini, Museum Lampung ada sebelah kiri (timur) jalan.
Let's Go

Senin, 24 Juni 2019

Wisata Cakat Raya, Cantik Tapi Tak Terawat

Sebuah plank bertuliskan "Wisata Cakat Raya (dengan tanda panah mengarah kekanan)", kerap Ane baca saat Ane bertandang ke Kota Bandar Lampung maupun ke daerah-daerah yang ada di sebelah selatan Kabupaten Tulang Bawang. Bagaimana tidak, plank ini terpasang cukup strategis di pinggir Jl. Raya Lintas Timur berjarak beberapa kilometer dari jembatan Sungai Tulang Bawang (FYI: Sungai (Way) Tulang Bawang adalah sungai terbesar di provinsi Lampung). Ane kira tak hanya Ane saja yang kerap membacanya tetapi juga setiap pengendara yang melintasi jalan ini.
Sebagai seseorang yang hobinya travelling tentu dengan kerapnya membaca plank tersebut lama-kelamaan akan dapat mempengaruhi hati dan fikiran Ane untuk mendatanginya. Benar saja pada tanggal 13 Desember 2017 niatan tersebut akhirnya terlaksana. Sebenarnya tujuan utama Ane bukanlah mengunjungi tempat ini, melainkan mengurus sesuatu di Unit 2 Tulang Bawang. Berhubung jaraknya yang hanya sekitar 17 Km maka tak ada salahnya Ane sekalian mengunjunginya



Dari Unit 2 Tulang Bawang Ane arahkan motor Ane menuju selatan melalui Jl. Raya Lintas Timur. Jalan ini searah menuju Kota Bandar Lampung (Ibukota Provinsi Lampung). Sebagai jalan nasional yang berperan penting menghubungkan antar provinsi di Pulau Sumatera, Ane tak heran dengan segala kondisi jalan yang ada. Jalannya terbilang mulus walau tak semulus jalan tol. Banyak kendaraan yang melintas berasal dari berbagai jenis mulai dari kendaraan roda dua, kendaraan mobil pribadi, angkot, bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi), truk biasa, hingga truk gandeng yang memiliki badan cukup besar dan beroda banyak serta variasi pemandangan yang cukup indah.
Ane kendarai motor Ane dengan hati-hati hingga sesampainya di Kantor Samsat Tulang Bawang Ane lambatkan laju motor Ane sambil menengok kearah kiri (timur) jalan untuk melihat plank. Beruntung, plank yang Ane maksud sudah ketemu dan tepat diseberangnya terdapat sebuah jalan masuk cukup kecil. Jalan ini ditandai dengan adanya sebuah gapura berwarna merah jambu cukup tinggi dengan diatasnya terdapat siger khas Lampung berwarna kuning.


Plank sebelah kiri jalan, sedangkan gapuranya ada di sebelah kanan jalan

Sebenarnya ada dua buah gapura yang berdiri berdekatan, yang satu beberapa meter sebelum plank petunjuk dan satunya lagi tepat setelah plank petunjuk. Disini Ane sempat bingung apakah yang ini atau yang itu. Timbang-menimbang akhirnya Ane memutuskan untuk masuk ke jalan tersebut tepat setelah plank petunjuk. Jalannya berupa jalan tanah dan kurang lebih sekitar 200 meter kemudian sampailah Ane di tempat yang Ane maksud.
Nampaknya tempat ini sedang digunakan untuk sebuah acara tampak beberapa petugas sedang berjaga-jaga. Ane ragu apakah Ane boleh masuk atau tidak. Ternyata Ane diperbolehkan untuk masuk dan tak ada pembayaran tiket yang dikenakan kepada Ane. Kesan pertama saat datang kesini adalah area Wisata Cakat Raya ini terbilang cukup luas dengan beberapa rumah adat yang berdiri seolah-olah menyambut setiap para pengunjung yang datang. Setidaknya ada 4 buah bangunan yang berdiri diantaranya bangunan bercirikan khas Bali yang ditandai dengan ornamen khas Bali, rumah adat berbentuk joglo khas Jawa Tengah, Rumah Gadang khas Sumatera Barat, dan sebuah bangunan lagi bukan berbentuk rumah adat melainkan sebuah bangunan yang cukup terkenal di negara tercinta ini yakni miniatur Candi Prambanan. Uhuy, kalau begitu warga Lampung yang ingin melihat Candi Prambanan tak perlu jauh-jauh datang ke Pulau Jawa tetapi cukup datang langsung kesini saja.


Rumah adat berbentuk Joglo khas Jawa Tengah

Rumah Gadang khas Sumatera Barat
Tak ada tempat khusus untuk parkir, terlihat beberapa kendaraan terparkir sembarangan. Walau demikian Ane berusaha parkir di pinggir kawasan supaya terlihat rapi. Setelah memarkirkan motor Ane, kini Ane dapat menikmati kawasan wisata ini dengan sepuas-puasnya. Sangat disayangkan obyek wisata seluas ini tak terawat dengan baik, rumput-rumput hijau liar cukup tinggi dan tak hanya tumbuh di pelataran saja tetapi juga sudah memakan sebagian tubuh bangunan.
Ow, acara TNI tow yang sedang berlangsung disini. Hal ini terlihat dari beberapa tanda yang ada. Prajurit berpakaian dinas TNI berwarna hijau loreng-loreng yang sedang berdiri dan ada juga yang berjalan kesana-kemari, kendaraan mobil-mobil TNI terparkir disekitar kawasan, serta tas-tas berwarna hijau tergeletak cukup rapi di halaman rumah adat. Bangunan bercirikan khas Bali yang paling besar di bangun, sehingga tempat ini yang paling memungkinkan untuk diselenggarakannya suatu acara.



Kebetulan ada beberapa orang petugas yang sepertinya menjaga kawasan wisata ini, tapi Ane lupa namanya. Ane berbincang-bincang dengan mereka cukup banyak. Dari sekian perbincangan yang kita lakukan setidaknya ada beberapa informasi yang Ane dapatkan. Pertama, latar belakang didirikannya Wisata Cakat Raya ini bukan tanpa alasan yaitu dikarenakan Kabupaten Tulang Bawang tak hanya didiami oleh suku Lampung saja tetapi juga merupakan tempat tinggal bagi suku-suku lainnya diantaranya suku Jawa, Bali, Batak, Minangkabau, Sunda, dan lain sebagainya. Kedua, bangunan-bangunan disini sudah tidak lagi komplit. Ada 2 buah bangunan yang sudah roboh, pertama bangunan suku Batak yang terbakar dilalap api beberapa tahun yang lalu dan sebuah bangunan lagi yang tak diingat bapaknya apakah nama bangunan rumah adat tersebut. Terakhir, bangunan-bangunan yang tampak rusak akan segera diperbaiki dan rumput-rumput yang tumbuh secara liar akan dibasmi sehingga diharapkan nantinya kawasan wisata ini akan terlihat cukup cantik dan banyak para pengunjung yang datang.






Ane berpamitan kepada mereka dan meminta izin untuk mengeksplorer sekitar kawasan. Inilah bangunan yang menyerupai Candi Prambanan itu, apakah mirip? sebagai seseorang yang pernah berkunjung kesana, menurut Ane sieh tidak mirip-mirip amat. Tapi, ya cukuplah kalau hanya untuk berselfi ria saja. Apalagi ditambah dengan latar belakang pemandangannya yang cukup cantik, tentu para pengunjung akan betah berlama-lama disini.





Pemandangannya cukup cantik bukan? Tuh, jembatan Kali Cakat terlihat juga
Tak jauh dari keberadaan bangunan menyerupai Candi Prambanan, ada sebuah bangunan yang cukup disayangkan yang sudah Ane ketahui informasi sebelumnya, sebuah bangunan rumah adat suku Batak habis terbakar. Hal ini ditandai dengan adanya sisa-sisa kayu reruntuhan berwarna hitam. Kawasan Wisata Cakat Raya ini memang cukup luas, bergerak kearah barat masih terdapat beberapa bangunan rumah adat dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Rumah adat Krong Bade yang berasal dari Nangroe Aceh Darussalam, Rumah adat Banjar dari Kalimantan Selatan, dan lain sebagainya.


Bangunan rumah adat suku Batak yang habis terbakar
Rumah Adat Krong Bade
Rumah Adat Banjar
Lagi-lagi sungguh sangat disayangkan kondisi bangunan-bangunan yang ada disini. Selain tumbuh rumput-rumput liar juga kotor dan tampak di beberapa bagian bangunan itu rusak serta inilah sebuah bangunan yang bapaknya maksud tadi yakni roboh dan yang tersisa hanyalah sedikit reruntuhan kayu yang rapuh dimakan usia. Hmmm!







Bangunan wisatanya saja tidak terurus, apalagi bangunan kantinnya? Tak ada warung makan atau toko oleh-oleh yang berdiri sehingga setiap para pengunjung yang datang saat lapar bisa keluar dari kawasan Wisata Cakat Raya dan mencarinya di sepanjang Jl. Raya Lintas Timur Sumatera.
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me