Kamis, 15 Februari 2018

Taman Kehati, Objek Wisata Kebanggaan Masyarakat Mesuji Lampung

Asyik juga ternyata renang di Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) yang merupakan salah satu obyek wisata yang ada di Kabupaten Mesuji Lampung tepatnya berada di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Tanjung Raya. Tak banyak memang tempat-tempat menarik yang ada di tempat kelahiran Ane ini, namun dengan hadirnya obyek wisata ini setidaknya bisa mengobati kangen Ane terhadap dunia jalan-jalan. Ane kira tak hanya Ane saja yang senang, melainkan seluruh warga masyarakat Mesuji. Sebenarnya nggak ada niat sieh sob Ane mengunjungi tempat ini, karena berhubung ibu Ane yang ngajak jadilah Ane menuju kesini.


Hari Sabtu 20 Mei 2017 Akhirnya Ane benar-benar meluncur kesini. Kali ini Ane tak sendiri sob selain dengan Ibu Ane, Ane juga bersama dengan murid-murid TK Ibu Ane berserta orang tuanya. Perjalanan ini sungguh bisa membuat Ane bahagia, bagaimana tidak dengan banyaknya sahabat yang ada, kita bisa bergurau bersama. Dan yang paling penting nantinya bisa minta bekal siang kepada mereka, hahaha.
Inilah Mesuji dengan segala keadaannya. Berbeda dengan pemandangan alam yang ada di Pulau Jawa pada umumnya, di Mesuji ini tak banyak yang dapat Ane saksikan. Sepanjang perjalanan pemandangan yang dapat Ane lihat hanyalah tanaman pohon karet dan sawit saja. Tak hanya itu kondisi jalanpun masih banyak yang berlubang parah, sehingga dengan menaiki kendaraan bermotor maka serasa menaiki kendaraan hewan berkaki empat khususnya kuda. Hanya beberapa kilo saja kita melalui jalan beraspal mulus itupun jalan lintas timur yang merupakan jalan nasional, tapi setelah itu kembali lagi kita harus melalui jalan beraspal dan berlubang.
Tak perlu kehilangan sepeserpun untuk sampai sini, cukup dengan duduk manis saja Ane sudah sampai di TeKaPe. Ya, inilah kali pertama Ane menginjakkan kaki disini. Obyek Wisata Taman Kehati ini terbilang baru, karena baru diresmikan sebulan yang lalu tepatnya tanggal 12 April 2017. Walau demikian berkaitan dengan jumlah pengunjungnya, obyek wisata ini tak bisa dianggap remeh karena Ane melihat dengan mata kepala Ane sendiri pengunjungnya itu sungguh bejibun.


Untuk dapat memasuki obyek wisata ini, setiap pengunjung hanya perlu membayar tiket sebesar 12k saja dengan rincian 10k untuk tiket masuknya dan 2k untuk parkirnya. Tempat parkirnya sangat luas sekali sehingga hal ini sangat memudahkan pengunjung untuk dapat memarkirkan kendaraannya. Dari tempat parkir Ane memilih untuk melihat-lihat sekitar dahulu sebelum masuk kedalam. Dibagian depan terdapat sebuah Tugu Kalpataru yang dicat berwarna-warni. Bagian bawah dari tugu tersebut dibangun menyerupai balok-balok yang disusun mengerucut keatas, sedangkan dibagian atasnya terdapat tangan yang sedang membawa bulatan bergambarkan akar pohon.



"Oke sekarang saatnya menuju kedalam, fikirku". Meskipun baru dibuka, Ane sungguh kagum dengan obyek wisata ini lho sob. Fasilitasnya terbilang cukup komplit, mulai dari lapak para pedagang yang tersusun rapi, kamar kecil dengan airnya yang cukup lancar, serta tempat duduk ada dimana-mana. Selain itu fasilitas pokoknya cukup banyak diantaranya fasilitas bermain anak, kolam pemancingan, kolam renang, jogging track, taman bunga, hingga taman burung.




Rasanya Ane tak sabar ingin segera menceburkan diri saat melihat kolam renang. Ada sekitar 5 buah kolam renang dengan kedalaman berbeda yang dapat Ane nikmati. Ada kolam renang yang bisa digunakan oleh anak-anak yang dilengkapi dengan fasilitas permainannya seperti ember tumpah, prosotan, dan berjalan diatas air. Ada kolam renang yang bisa digunakan oleh siapa saja dengan kedalaman yang sedang, bahkan ada kolam renang yang hanya dikhususkan untuk orang yang bisa berenang saja.




Lalu dimanakah Ane harus menceburkan diri? tentu di kolam renang yang paling dalam tow sob, masa iya dikolam yang dangkal berenang bersama adik-adik kecil, kan malu :-). Berhubung Ane kesininya bersama Ibu Ane maka urusan pakaian tak jadi masalah. Ane titipkan kepada beliau, soalnya beliau sendiri tak mau Ane ajak mandi walaupun sudah berulang kali Ane membujuknya. Yasudahlah!
Byurrrrr, masuklah Ane kedalam kolam tersebut. Berbagai macam aktifitas Ane lakukan, selain berenang kesana-kemari juga melakukan jumping dari atas dengan ketinggian sekitar 3 meter. Awalnya sempat ragu-ragu juga apakah bisa Ane melompat dari atas ketinggian tersebut, eh ternyata setelah mencobanya malah membuat Ane ketagihan untuk mengulanginya. Hulala, sensasinya sungguh luar biasa dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.




Tidak terasa sudah 2 jam Ane berenang disini, rasanya sudah cukup puas hingga lapar menghampiri perut. Berbagai macam gaya sudah Ane lakukan mulai dari gaya punggung hingga gaya batu, hahaha. Yang jelas minum juga puas. Setelah bersih-bersih diri, kemudian Ane makan. Setelah itu Ane melanjutkan lagi penjelajahan Ane.
Diantara semua fasilitas yang ada yang paling banyak dikunjungi selain di kolam renang yaitu Taman Burung. Ada banyak jenis unggas berada di dalamnya. Pokoknya kalau kesini dijamin tidak rugi deh sob, selain bermain kita juga dapat belajar.




Mantab!!!
Untuk dapat sampai disini, berikut arahan jalannya:
Dari Kota Bandar Lampung Obyek Wisata Taman Kehati ini dapat ditempuh selama 5 (lima) jam perjalanan darat melalui jalan lintas timur. Saat memasuki Kabupaten Mesuji dan bertemu dengan Kantor POLRES Mesuji, ada 2 jalan yang dapat digunakan untuk sampai kesini. Pertama, sobat bisa belok kearah kanan (timur) karena tepat sebelum Kantor POLRES ada belokan jalan yang mengarah kekanan. Ikuti jalan ini dengan kondisi jalan yang awalnya baik kemudian berangsur menjadi rusak parah hingga sejauh kurang lebih 11 Km. Setelah bertemu dengan kantor pos dan maju sedikit ada sebuah pertigaan. Beloklah kearah kiri. Ikutilah jalan ini dengan kondisi jalan yang cukup baik hingga kira-kira sekitar 3 Km, sobat akan bertemu dengan perempatan jalan. Jangan belok-belok, masih lurus lagi dan tak lama kemudian sampailah sobat di tempat yang sobat maksud.
Dan yang kedua, sobat bisa belok kearah kanan (timur) setelah bertemu SMAN 1 Simpang Pematang. Caranya, dari POLRES Mesuji maju sedikit sobat akan bertemu dengan pertigaan jalan, bila kearah kiri maka akan sampai di Palembang dan Kota-kota besar di Pulau Sumatera dan bila lurus akan sampai di SMAN 1 Simpang Pematang. Nah, lurus saja hingga sejauh kurang lebih 3 Km. Setelah bertemu dengan SMAN 1 Simpang Pematang yang ada di kiri jalan, tepat setelahnya ada perempatan jalan. Beloklah kearah kanan (timur). Mula-mula kondisi jalannya cukup bagus, tetapi lama-kelamaan kondisi jalannya berubah menjadi cukup parah. Dari SMAN 1 Simpang Pematang tersebut, sejauh kira-kira 11 Km sobat akan bertemu dengan perempatan jalan. Beloklah kearah kiri dan tak lama kemudian sampailah sobat di tempat yang sobat maksud.
Let's Go

Selasa, 16 Januari 2018

Menyantap Ingkung Ayam Mbah Cempluk Bersama Keluarga

Hai, hai, hai, gimana nieh sob kabarnya? semoga baik-baik saja ya. Nah, kali ini Ane mau bercerita tentang petualangan Ane mencari kuliner di salah satu warung yang ada di Yogyakarta yakni Warung Ingkung Ayam Mbah Cempluk. Alamatnya ada di Dusun Santan, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Sudah lama sieh sob Ane mengetahui keberadaan warung ini, namun karena dalam otak Ane sudah terlanjur menjustifikasi kalau kuliner yang berkaitan dengan ingkung itu masaknya harus utuh maka Ane urungkan niatan Ane tersebut. Baru setelah ada waktu dan moment yang pas jadilah Ane mengunjunginya.
Dikalangan masyarakat Jawa tentu sudah tak asing lagi dengan yang namanya "ingkung". Mendengar kata "ingkung", pasti fikiran kita langsung pada sebuah acara maupun ritual tertentu. Jadi ingkung ini tidak untuk dikonsumsi sehari-hari. Dimana didalam acara tersebut harus ada ingkung, yakni ayam yang dimasak dan disuguhkan secara utuh walaupun pada akhirnya ya dipotong-potong juga. Kini anggapan tersebut dipatahkan oleh warung ini dimana ingkung tak hanya dikonsumsi saat ada acara saja melainkan bisa dijadikan santapan sehari-hari.



Inilah moment yang Ane rasa tepat buat mengunjunginya. Kenapa begitu? karena Ane baru saja diwisuda dari kampus Ane dan dihadiri oleh keluarga. Berita ini adalah berita bahagia bukan? maka dari itu rasa bahagia dan syukur ini Ane rayakan bersama keluarga dengan menikmati olahan berupa ingkung.
Awalnya ide ini muncul dari dalam otak Ane, saat itu Ibu Ane bertanya kepada Ane hendak mau makan apa dan dimana? tanpa fikir panjang Anepun langsung menjawabnya di Warung Makan Ingkung Ayam Mbah Cempluk. Syukur Ibu Anepun langsung menyetujuinya, jadilah kita capcus menuju kesana.
Sesampainya di Perempatan Klodran Bantul, kendaraan kita arahkan kearah kanan hingga sejauh kurang lebih 5 kilometer sampailah kita di TeKaPe. Awalnya Ane mengira kalau disini hanya terdapat satu warung ingkung saja, ew nggak tahunya ada beberapa. Dari kesemua warung ingkung yang ada, justru warung Ingkung Ayam Mbah Cempluk inilah yang menurut Ane paling tersembunyi. Dari jalan beraspal harus masuk lagi melalui jalan berupa blok yang disamping kanan dan kirinya terdapat areal persawahan. So, kalau sobat datang kesini jangan salah ya dan harus cermat. Woke???



Mungkin lagi sepi, sesampainya disini tak ada kendaraan yang sedang parkir padahal tempat parkirnya cukup luas. Tapi sesaat kita masuk, ada dua buah mobil yang berdatangan. Kalau dilihat yang datang adalah rombongan keluarga besar. Ane fikir memang cocok kalau datang kesini bersama keluarga, selain ingkung memang cocok dinikmati lebih dari dua orang juga bisa mempererat tali keluarga.



Ada beberapa tempat yang bisa digunakan oleh para pengunjungnya untuk menikmati menunya sob. Mau dibagian depan, bisa! dan mau dibagian belakang pun sangat bisa karena tempatnya sangat luas sekali. Tempat duduknya berupa lesehan dan struktur bangunannya semua terbuat dari bambu kecuali atapnya yang terbuat dari rumput alang-alang. Sesaat setelah memilih posisi tempat duduk, seorang pelayan pun datang menghampiri kita. Beliau menyodorkan daftar menu yang tersedia. Kita berdelapan sehingga kita memesan dengan sistem paket saja. Satu paket lengkap untuk 6 orang seharga 240k dan ditambah 1 paket murah perorangan seharga 30k. Nah lo, kalau ada paket murah perorangan, kenapa Ane nggak dari dulu saja ya berkunjung kesini?, ah tak apa-apalah. Jadi disini itu kita disuruh memilih mulai dari jenis makanan, minuman hingga nasinya. Mau ingkung ayam goreng atau ayam areh, minumannya apa dan nasinya mau nasi putih atau nasi gurih. Setelah rembukan akhirnya kita sepakat pesan ingkung ayam areh, minumannya es teh dan nasinya nasi gurih. Masa lauknya sudah ingkung tapi nasinya nasi putih, kan kurang afdol, ya nggak sob?.
Cukup lama kita menunggu, ya sekitar 30 menitan lah dan semua pesanan yang kita pesan sudah datang. Awalnya Ane mengira kalau satu paket menu lengkap itu hanya terdiri dari ingkug ayam utuh, nasi gurih dan segelas teh saja. Ternyata tidak, masih ada menu tambahan lainnya yakni sepiring wader krispi, sepiring wader lombok ijo, sepiring tahu dan tempe, lalapan buah mentimun serta urap. Namanya saja ingkung ayam areh, jadi ya ada putih-putihnya gitu.




Seporsi ingkung ayam siap dieksekusi, mantab surantab
Lalu sekarang bagaimanakah dengan rasanya? setelah Ane coba ternyata hulala ingkungnya sangat empuk, mungkin sudah dimasak dalam tempo yang cukup lama. Bumbu arehnya pun terasa gurih di mulut. Sekarang berpindah ke wader krispinya, ternyata rasanya nggak kalah gurih dibandingkan ingkung ayamnya terasa kriuk-kriuk. Tak kalah lezatnya lagi rasa yang ditawarkan oleh wader lombok ijonya, semua urat dalam lidah saya bisa merasakan betapa ndesonya menu ini. Gurih berpadu dengan pedas. Semua pas disajikan bersama nasi gurih yang dimasak secara tepat sehingga pulen. Secara keseluruhan, Ingkung Ayam Mbah Cempluk ini rasanya "Wuenak tenan, Le leduk". Untuk itu tak kasih jempol.




Semuanya ada sisa sedikit. Maklum ibu-ibu, tanpa malu-malu ibu Ane meminta kepada salah satu pelayannya untuk membungkus sisa makanan yang ada dan pelayan tersebutpun dengan senang hati meladeninya. Mantabe'. Berhubung Ane kulineran bersama keluarga, maka semuanya sudah ditanggung oleh orang tua, hehehe.
Jam buka warungnya: 09.00 WIB hingga 21.00 WIB.
Let's Go

Senin, 01 Januari 2018

Perjalanan Pulang dari Bali Menuju Kota Jogja

Sudah 2 minggu lebih Ane menjelajah Pulau Dewata. Banyak suka maupun duka yang Ane alami disini. Sukanya Ane bisa pergi kapan dan kemanapun yang Ane mau karena Ane membawa sepeda motor sendiri dan dukanya karena Ane hanya seorang diri maka terkadang Ane merasa bosan dan jenuh saat berada di perjalanan, tak ada yang bisa Ane ajak untuk bercakap-cakap. Tapi tak apa-apa dengan berpergian seorang diri, Ane bisa mengambil banyak pelajaran hidup diantaranya masih banyak orang-orang yang baik di negara tercinta ini dan Ane semakin mengenal diri Ane sendiri.
Perjalanan ini sepertinya harus Ane akhiri sampai disini. Ya, pada tanggal 9 Oktober 2016 akhirnya Ane benar-benar mengakhiri penjelajahan Ane di Pulau Dewata yang indah nan cantik ini. Selain obyek-obyek wisata yang masuk dalam daftar kunjungan Ane sudah Ane jelajahi semua juga karena uang yang ada didalam kantong sudah mulai menipis, :-)



Sehari sebelumnya Ane berpamitan dengan mas Wahyu seorang pemilik penginapan dimana tempat Ane menginap dan bersiap-siap mengemas semua barang-barang pribadi Ane mulai dari barang-barang yang Ane bawa dari Jogja hingga barang-barang yang Ane beli saat berada di pulau ini. Semua barang Ane kemas dalam 2 tas, tas carrier Ane isi dengan semua jenis pakaian dan peralatan mandi. Sedangkan tas ransel Ane isi dengan seperangkat kamera dan alatnya serta barang-barang yang Ane anggap sangat penting sekali.
Agar tak kesiangan bangun pagi, setelah makan sore di Warung Makan khas Surabaya yang beralamatkan di Jl. Nangka Utara Ane bergegas masuk kedalam kamar. Sebelum tidur Ane atur alarm di HP Ane pukul 3 pagi Wita. Memang jam-jam segitu kebanyakan orang masih tertidur dengan pulas, ada yang masih mengorok, mendengkur hingga bermimpi. Tapi karena Ane suka bepergian sepagi mungkin, maka hal itu Ane rasa tak jadi masalah.
Kukuruyuk, kukuruyuk, kok...
Beruntung hari ini sesuai dengan rencana, Ane bangun tepat jam 3 pagi. Tanpa bermalas-malasan segera Ane turunkan kaki Ane dari tempat tidur. Ane mandi, beberes dan setelah itu mengangkat semua barang-barang pribadi Ane ke kuda hijau. Kini dengan tekad kuat meluncurlah Ane pulang menuju ke Kota Yogyakarta.
Perjalanan pagi sungguh menyenangkan, walaupun terbilang ramai Jl. Raya Denpasar-Gilimanuk ini masih dalam keadaan fresh dan segar. Belum banyak kendaraan yang melintas sehingga Ane bisa ngebut semau Ane. Berhubung Ane bertemu dengan POM Bensin yang terletak disebelah kiri (selatan) jalan maka Ane mampir sebentar untuk mengisi bahan bakar. ya, tanda bensin yang ada di kuda hijau Ane sudah menunjukkan kearah warna merah dan nggak lucu kan kalau nantinya motor ini kehabisan bensin di jalan? Setelah mengisi bensin Ane lanjutkan lagi perjalanan menuju Pelabuhan Gilimanuk. Kurang lebih 4 jam perjalanan kini Ane sampai di pelabuhan tersebut.
Sebelum melalui pemeriksaan petugas, Ane disuruh membayar dahulu retribusi terminal manuver Gilimanuk sebesar 1k. Hal ini berbeda saat menyeberang dari Pelabuhn Ketapang Banyuwangi ke Pelabuhan Gilimanuk, Ane tak disuruh bayar seperti ini. Hanya saja setelah melewati pemeriksaan para petugas Ane disuruh membayar tiket penyeberangan sebesar 22k. Besarannya pun sama saat dari Pelabuhan Ketapang ke pelabuhan ini. Namun sebelumnya Ane harus mengisi sejumlah data informasi tentang Ane dan kuda hijau Ane.



Saat mengisi, ada seorang laki-laki setengah baya sedang membawa barang dagangannya mendekati Ane. Ia menawarkan bantuan kepada Ane untuk mengisi data, tapi Ane tolak karena ada udang dibalik bakwan. Apalagi kalau bukan mengharapkan uang ataupun agar Ane membeli barang dagangannya. Nampaknya Ia tak menyerah begitu saja, Ia tetap ada disamping Ane. Lama-kelamaan Ane kok nggak tega terhadapnya, yasudahlah akhirnya Ane sekedar tanya-tanya dan setelah itu Ane beli sebotol aqua darinya.
Setelah semuanya beres, Ane segera menuju ke kapalnya. Beruntung saat Ane sampai, kapal yang akan Ane naiki sedang melakukan pengeluaran kendaraan yang menuju ke daratan Pulau Dewata sehingga tak lama lagi Ane segera menaikinya. Kapal-kapal yang ada disini rata-rata memiliki badan yang cukup kecil tak terkecuali dengan kapal yang akan Ane naiki ini, mungkin hal ini menyesuaikan dengan padat atau tidaknya angkutan penyeberangan. Ketika kendaraan yang ada didalam kapal sudah keluar semua, Ane disuruh oleh petugs untuk sesegera mungkin masuk kedalam kapal. Ane kendarai kuda hijau Ane dengan hati-hati masuk kedalam kapal tersebut.
Sebagai pengendara motor Ane diarahkan untuk menempati bagian terdepan kapal. Lalu Ane standarkan kuda hijau Ane dengan 2 kaki. Setelah itu Ane kunci stang dan kemudian Ane bawa semua barang bawaan keatas kapal. Penumpangnya cukup sedikit sieh tapi Ane harus tetap waspada dengan kondisi sekarang ini.
Selama diatas kapal tak banyak aktifitas yang Ane lakukan. Ane hanya mengamati birunya air laut dan gunung-gunung berdiri megah jauh disana. Satu jam berlalu, syukur kapal yang Ane naiki akhirnya bersandar. Ane segera turun kebawah dan siap-siap untuk melakukan perjalanan yang lebih jauh lagi menjelajah jalanan di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ini bukan hal yang baru lagi bagi Ane, tentu sebelumnya Ane sudah melewati jalan ini saat berangkat. Bedanya saat berangkat Ane sampai di Jawa Timur khususnya di Kabupaten Banyuwangi hari sudah petang dan kini saat pulang hari masih pagi.



Keluar dari kapal segera Ane pacu kuda hijau Ane kembali melintasi jalanan yang ada. Ditengah jalan Ane menemukan POM Bensin, Ane lihat penanda bahan bakar ternyata sudah menunjukkan ke angka merah. Tak mau mengambil resiko, Ane mampir sebentar buat mengisi bahan bakar tersebut dan beristirahat sejenak. Tak seperti POM Bensin yang ada di Bali yang rata-rata tidak memiliki kamar kecil maupun tempat ibadah bagi umat islam, di POM ini memiliki keduanya sehingga Ane dengan leluasanya menggunakan fasilitas tersebut.
Tak lama Ane berada disini, ya sekitar 20 menitan lah. Sesegera mungkin Ane pacu kuda hijau kembali untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju pulang ini terbilang cukup berat. Tak berapa lama berkendara langit tampak menghitam dengan angin berhembus tak terlalu kencang. Bagaimanapun Ane tak bisa melawan takdir, hujan pun akhirnya turun. Sebenarnya sieh Ane bisa melanjutkan perjalanan menggunakan mantol, tapi Ane tidak melakukannya. Iya kalau Ane lakukan ada hal yang Ane korbankan, Ane tidak basah tapi tas karrier Ane basah dan begitupula sebaliknya. Bagaimana tidak tas karrier Ane sendiri tingginya lumayan sehingga mantol yang Ane punya tidak bisa mencakupnya. Ane lebih memilih menepi sebentar, juga karena Ane belum memasuki sebuah hutan yang cukup luas dengan disamping kanan dan kiri jalan tak ada bangunan yang berdiri. Hutan yang Ane maksud ini adalah Taman Nasional Baluran.
Setelah hujan reda, Ane lanjutkan lagi perjalanan Ane. Suasana yang berbeda saat memasuki Taman Nasional Baluran. Saat berangkat Ane tak dapat menatap indahnya pemandangan ini karena sampai disini hari itu sudah petang dan kini Ane bisa menatapnya. Selama perjalanan yang Ane lihat hanyalah pepohonan jati yang memiliki daun tak lebat, tak ada bangunan yang berdiri kecuali gubuk-gubuk kecil yang memang sengaja disediakan bagi pengendara untuk beristirahat sejenak dan nampak satu dua kali binatang-binatang kera berkeliaran turun ke jalan meminta upeti kepada setiap pengendara.



Disini Ane merasa khawatir dengan kuda hijau Ane. Ane tak bisa membayangkan betapa sulitnya kalau kuda hijau Ane tiba-tiba rusak ditengah jalan, distarter nggak mau hidup, di oglek juga nggak mau, busi apinya sudah habis, ban bocor, atau kerusakan lainnya yang nggak bisa Ane atasi sekarang. Pasalnya tak sedikit kendaraan yang Ane temui mengalami hal demikian terutama pada kendaraan roda empat. Hmmmm, Ane hanya bisa berdo'a dan berdo'a.
Alkhamdulillah, walsyukurillah, walnikmatillah, hati terasa lega ketika Ane sudah menemukan bangunan-bangunan rumah lagi yang berdiri disepanjang sisi jalan. Ane pun berhenti saat Ane melihat sebuah monumen yang bertuliskan 1000 Km Anyer Panarukan yang berada di kiri jalan. Sebenarnya saat berangkat Ane pun melihatnya, tapi berhubung hari itu sudah sore jadinya ya lanjut terus. Kini Ane bisa foto bersama sepuas-puasnya karena tak ada seorangpun yang sedang mengunjunginya.



Setelah puas, Ane melanjutkan lagi perjalanan Ane menuju kearah barat. Banyak obyek-obyek wisata yang sebenarnya Ane ingin singgahi, salah satunya Pantai Pasir Putih Situbondo. Tapi karena penyakit malas yang Ane derita saat di perjalanan ditambah tidak ingin kelamaan sampai di tempat tujuan, jadi ya Ane hanya melewatinya saja. Begitupula saat melewati SPBU Utama Raya Paiton, tetap saja lanjut terus hingga sampai di Kabupaten Probolinggo.



Drama terjadi saat keluar dari Kota Pasuruan. Ane kurang begitu paham dengan papan petunjuk jalan yang ada. Bila kearah kanan (utara) maka akan sampai di Kota Surabaya, bila kearah kiri (selatan) akan sampai di Kota Malang dan bila kearah lurus (barat) maka akan sampai di Kota Mojokerto. Nah ini dia yang sempat membuat Ane kebingungan. Kalau kearah kanan jalannya cukup lebar dan meyakinkan pasti sampailah ke Kota Surabaya, hal sama terjadi kearah Kota Malang. Tapi kalau kearah Kota Mojokerto jalannya ituloh cukup sempit dan bisa dibilang tak bagus. Akhirnya Ane memutuskan untuk belok kearah kanan dan mencari jalan alternatif. Beberapa kali Ane harus bertanya kepada seseorang yang Ane temui di jalan apakah benar jalan ini menuju Kota Mojokerto. Tak terkecuali bertanya kepada beberapa anggota polisi yang sedang beristirahat disalah satu warung milik warga. 
Ane         : Permisi Pak, ma'af mengganggu. Saya mau tanya apakah 
              benar jalan ini menuju Kota Mojokerto via Mojosari?
Bapak Polisi: Ya, salah mas. Ini kalau lurus terus sampai di 
              Surabaya. Masnya darimana?
Ane         : Saya dari Bali Pak dan sekarang mau pulang ke Jogja!
Bapak Polisi: Eow, benar kalau lewat Mojosari mas. Ini aja mas, 
              masnya lurus lagi, nanti setelah ketemu lampu merah 
              masnya ambil saja kekiri. Nanti itu ke Mojokerto mas 
              lewat Mojosari!
Ane         : Eow gitu. Terimakasih ya Pak ya!
Bapak Polisi: Sama-sama mas dan selalu hati-hati dijalan.
Ane         : Baik Pak!
Benar saja, tak jauh dari tempat bertanya tersebut Ane bertemu dengan perempatan lampu merah. Langsung saja Ane mengikuti intruksi yang diberikan oleh Bapak Polisi itu yaitu belok kearah kiri. Sepanjang perjalanan ini Ane seperti berkendara searah mengikuti aliran sungai. Ya, disamping kiri jalan yang Ane lihat adalah sungai dan sungai. Pada awalnya jalan ini cukup bagus, tapi lama-kelamaan jalan berubah menjadi tak bagus lagi, aspal mengelupas sehingga menaiki kuda hijau Ane ini benar-benar serasa menaiki kuda beneran. Hingga akhirnya kurang lebih 20 Km berselang sampai juga Ane di Mojosari. Hati terasa lega karena jalan ini benar-benar yang Ane maksud. Cukup lama Ane berkendara dari Mojosari ini dan ntah bagaimana ceritanya akhirnya sampai juga Ane di Kota Mojokerto. Dari sini tow Ane sudah tak bingung lagi dengan jalan menuju pulang.



Perjalanan sungguh berat Ane rasakan dalam menuju pulang ini. Bagaimana tidak, setelah melewati Kota Jombang dan sampai di Kertosono Nganjuk Ane diguyur hujan yang sangat lebat. Terpaksa Ane harus menepi dulu menunggu hujan reda. Beruntung hujan turun tidak lama sehingga Ane bisa melanjutkan lagi perjalanan, lagi-lagi hujan turun saat memasuki Kabupaten Madiun dan Ngawi. Terpaksa di Kabupaten Ngawi Ane mampir sebentar disalah satu rumah warga. Karena hari sudah malam sekitar jam setengah 8, Ane memiminta izin untuk berteduh sebentar. Syukur, Ane pun diperbolehkan untuk berteduh. Bahkan Sang anak dari pemilik rumah tersebut mengajak Ane bicara panjang lebar. Intinya dia pernah ke Jogja beberapa bulan lalu bersama teman-temannya. Namun mereka hanya mengunjungi beberapa tempat saja seperti Malioboro dan Kawasan Nol Kilometer, Pantai Parangtritis, dan Candi Prambanan saja. Tak banyak yang mereka lakukan.
Hujan yang Ane tunggu tetap saja tak reda-reda. Anepun bertanya kepada dia apakah iya di lahan jati-jatian cukup rawan untuk perjalanan malam hari. Pasalnya posisi Ane sekarang masih berada di Kabupaten Ngawi bagian timur sedangkan hutan-hutan jati yang cukup luas ada dibagian barat. Mendengar jawaban dari dia bukannya membuat Ane semakin berani tetapi malah membuat Ane semakin takut, dia bilang "kalau di jati-jatian memang rawan untuk perjalanan malam hari, tapi kalau jam-jam segini masih banyak kendaraan yang melintasinya jadi ya nggak rawan-rawan banget", tukasnya.
Antara takut dan berani akhirnya Ane putuskan untuk menerjang hujan yang cukup lebat ini. Setelah memakai jas hujan, Anepun berpamitan kepada dia. Kini Ane melenggang melanjutkan perjalanan lagi. Awalnya pemandangan yang Ane lihat disamping kanan dan kiri jalan berupa rumah-rumah warga dengan situasi yang cukup sepi, tapi sesampianya di hutan-hutan jati pemandangan itupun berubah menjadi situasi yang cukup membuat Ane tenang. Benar apa yang dikatakan oleh seorang warga yang Ane tanyai sebelumnya, kendaraan bermotor masih ramai hingga akhirnya Ane keluar dari hutan dan segera memasuki Kabupaten Sragen. Perasaan lega muncul sesampainya disini. 
Tak ada kejadian berarti yang Ane alami termasuk saat melewati Kabupaten Karanganyar, Kota Solo, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Sleman hingga akhirnya sampai juga di Kota Yogyakarta tempat dimana Ane mengenyam pendidikan tinggi. Sebelum menuju ke kost, Ane sempatkan diri sebentar untuk makan terlebih dahulu disebuah warung makan. Ya, warung tersebut adalah warung burjo yang sudah menjadi langganan bagi mahasiswa apalagi mahasiswa yang sedang ngekost seperti Ane ini, :-)
Tepat pukul 00.30 WIB sampailah Ane di kost, itu artinya 20 hari sudah Ane melakukan perjalanan menjelajahi Pulau Bali yang cantik itu. Waktu tersebut sudah termasuk saat keberangkatan dan kepulangan Ane di Jogja ini. Banyak hal yang Ane peroleh dalam perjalanan tersebut, yang jelas rasa kepuasan dan kelegaan timbul dihati ini. Puas karena sudah menjelajah Pulau Bali tersebut seorang diri dan lega karena salah satu impian dalam hidup Ane sudah terlaksana.
Let's Go

Sabtu, 23 Desember 2017

Menikmati Nasi Campur Khas Bali di Warung Wardani

Hari ke-18 merupakan hari terakhir Ane di Bali. Ya, besok Ane berencana untuk pulang ke Jogja. Maka dari itu pumpung masih disini Ane puaskan untuk wisata kuliner mengunjungi beberapa tempat yang sudah Ane rencanakan sebelumnya. Salah satunya kulineran di Warung Wardani yang terletak di Jl. Yudistira No.2, Denpasar.
Dari sekian tempat kuliner yang sudah Ane coba di Bali, tempat inilah yang menurut Ane paling dekat dari tempat dimana Ane menginap. Ane sendiri menginap didekat perempatan jalan antara Jl. Nangka Selatan, Jl. Nangka Utara, dan Jl. Gatot Subroto. Sehingga dengan mudah dan cepatnya Ane sampai disini.



Warungnya ada disebelah kiri (timur) jalan searah, cukup sederhana namun bersih dan kenyamanannya juga begitu terjaga. Meja dan kursi terpasang dengan rapi. Dibagian dinding telah terpasang daftar menu yang dapat dipesan oleh setiap para pengunjung yang datang. Baik menu makanan maupun minuman. Setidaknya ada 5 macam menu makanan yang tertulis disitu diantaranya nasi campur, soto babad, gado-gado, nasi kare, dan soto ayam. Sedangkan untuk menu minumannya setidaknya ada 8 macam yang tertulis diantaranya es campur, es dawet, es jeruk, es teh manis, es sirup, es daluman, es buah, dan es kelapa muda.


Penampakan papan nama yang terpasang dibagian depan warung 
Kondisi warung yang ada dibagian dalam
Sebenarnya Ane ingin mencoba semua menu tersebut, tapi apa boleh buat tentu kapasitas perut Ane tak akan dapat menampungnya. Maka dari itu setelah berfikir sejenak akhirnya Ane memutuskan untuk memilih salah satunya saja, dan menu tersebut adalah Nasi Campur masakan khas Bali. Adapun untuk minumannya, seperti biasa sebotol air minum cukup menghilangkan rasa dahaga Ane ini.



Pelayanannya terbilang sangat cepat, tak sampai 10 menit semua pesanan yang Ane pesan sudah ada dihadapan Ane yakni sepiring nasi campur dan sebotol air minum. Diatas sepiring nasi ini sudah diselipkan nota harga yang harus Ane bayar. "42.500, begitulah tulisan yang ada dinota tersebut". Sepiring nasi campur tersebut berisi nasi putih, setusuk sate lilit, setusuk sate sapi, sebutir telur bumbu Bali, udang goreng, ayam suwir pedas, sayur tumis kacang panjang, dendeng, 2 potong sayur kentang, dan tak ketinggalan juga sambalnya.




Lalu, bagaimanakah dengan rasanya? Kini saatnya Ane mengeksekusinya. Pada sate lilitnya, sama seperti sate lilit pada umumnya rasanya itu empuk dan cukup enak. Sedangkan untuk sate sapinya, bumbunya lebih terasa dan agak pedas. Sekarang pindah pada ayam suwirnya, dagingnya cukup empuk, dan juga nikmat.
Ini nieh yang membedakan nasi campur ini dengan yang lainnya, adanya dendeng yang terasa maknyus, renyah, manis dan agak pedas; serta udang gorengnya yang juga terasa renyah dan gurih. Lengkap sudah dengan hadirnya sayur tumis kacang yang cukup segar dan pedasnya sambal menambah kenikmatan Ane dalam menyantapnya.



Dua kata deh sob untuk ini semua,"Wuenak tenan, Le leduk". Untuk itu tak habiskan semuanya. Soal harga, memang sieh agak mahalan nasi campur ini bila dibandingkan dengan harga nasi campur pada umumnya seperti nasi campur Ibu Oki maupun nasi campur ayam kedewatan Ibu Mangku yakni sebesar 49,5k dengan rincian 42,5k untuk nasi campurnya dan 7k untuk sebotol air minumnya. Namun hal itu sebanding dengan isi porsi dan rasanya.




Jam buka: 8 pagi hingga 4 sore.
Let's Go

Senin, 11 Desember 2017

Nasi Pecel Bu Tinuk Kuta, Konon Katanya Terenak di Bali

Dari awal, Ane berencana menjelajah Pulau Bali ini selama 3 minggu (21 hari). Ane catat semua obyek wisata yang hendak Ane kunjungi kedalam sebuah buku. Rupanya jadwal perjalanan Ane, Ane percepat satu hari dari jadwal sebelumnya yakni menjadi 20 hari. Itupun sudah termasuk hari keberangkatan dari Jogja ke Bali dan kepulangan dari Bali ke Jogja. Percepatan ini bukan tanpa alasan, karena obyek-obyek wisata yang masuk dalam daftar kunjungan Ane sudah Ane jelajahi semua. Walaupun hanya ada satu atau beberapa tempat saja yang tidak berhasil Ane jelajahi. Namun begitu, hal ini tetap tidak mengurangi rasa kepuasan Ane.
Dihari-hari terakhir di Bali ini tak banyak yang Ane lakukan, Ane hanya berencana wisata kuliner saja mengunjungi beberapa warung makan. Warung makan satu-satunya yang akan Ane cicipi dihari yang ke-17 ini adalah sebuah warung makan yang terletak tidak jauh dari Warung Nasi Pedas Ibu Andika, Toko Joger, maupun Bandara Internasional Ngurah Rai. Ya, warung makan tersebut bernama Warung Nasi Pecel Bu Tinuk yang terletak di Jl. Raya Tuban, Kuta, Kabupaten Badung. Ada sebuah alasan kuat mengapa Ane mendatangi tempat ini, selain harganya cukup murah, konon katanya nasi pecel yang ada disini merupakan yang terenak di Pulau Bali. Apakah benar begitu? ntahlah... 



Berhubung sebelumnya Ane telah bolak-balik melewati jalan ini, maka Ane sudah tidak dipusingkan lagi dengan jalan yang ada. Seperti biasa, berbekal sebuah alamat dan peta Ane pacu kuda hijau Ane menuju bagian selatan Pulau Bali. Selepas melewati Toko Joger, Ane lambatkan laju roda kuda hijau Ane sambil menengok kekanan dan kekiri. Maklum Ane belum tahu lokasi persisnya.
Tak lama kemudian, beruntung warung yang Ane cari akhirnya ketemu juga. Sebuah papan nama berbentuk persegi panjang berwarna kuning bertuliskan "Nasi Pecel Bu Tinuk" dengan dibagian belakang tulisan tersebut terdapat label "Halal" yang ditulis dalam bahasa arab. Warungnya terletak di sebelah kiri (timur) jalan.



Tanpa basa-basi langsung Ane belokkan kuda hijau Ane ke tempat tersebut. Setelah memarkir kuda hijau Ane, lantas Ane masuk kedalam. Beginilah kondisi warungnya, ruangannya tak begitu luas dengan sebuah etalase makan terpasang memanjang. Pun demikian juga dengan suasananya, suasananya cukup sepi hanya ada bebarapa orang saja yang sedang berkunjung.



Tanpa mengambil tempat duduk terlebih dahulu, Ane langsung menuju kedepan dan memesan apa yang hendak Ane santap. Awalnya Ane kira warung ini hanya menjual nasi pecel saja, ternyata tidak. Ada banyak pilihan menu yang tersedia diantaranya nasi rames, rawon, sop buntut, dan beraneka macam lauk. Agak bingung juga sieh Ane dalam memilihnya, tapi berhubung disini adalah tempat dijualnya nasi pecel tentu pilihan Ane langsung jatuh pada menu tersebut. Sebagai tambahan lauknya Ane memilih paruh sapi, sedangkan untuk minumannya sebotol air minum cukup menghilangkan rasa dahaga Ane hari ini. Semua makanannya disajikan di piring rotan beralaskan kertas minyak dan langsung diberi kartu harga makanan. Dikartu tersebut tertulis harga sebesar 32k, Ane tidak tahu apakah harga ini sudah termasuk minumannya atau belum.



Setelah mendapatkan seporsi nasi pecel bersama lauknya serta air minum, barulah Ane mengambil tempat duduk. Ada banyak pilihan posisi tempat duduk yang dapat Ane pilih, karena masih banyak tempat duduk dalam keadaan kosong. Tempat duduk di pojok bagian depanlah yang akhirnya Ane pilih. Soal isinya, sepiring nasi pecel ini terdiri dari tauge/kecambah, daun kenikir, daun kemangi, 2 biji peyek, nasi, dan tentunya sambal kacang. Untuk sambal kacangnya cukup kental dan tak terlalu encer.




Lalu bagaimanakah dengan rasanya? hmmm cukup lezat, sambal kacangnya cukup kental dan tak terlalu encer walaupun tidak terasa pedas. Sayur yang digunakan pun masih fresh, peyeknya juga renyah. Lengkap sudah dengan hadirnya paruh sapi yang digoreng menambah kenikmatan Ane dalam menyantapnya. Dua kata deh sob untuk semuanya,"Wuenak tenan".




Untuk itu tak habiskan
Soal harga, ternyata harga yang tertera di kartu ini belum termasuk dengan sebotol air minum. buktinya ketika Ane membayarnya uang yang harus Ane keluarkan sebesar 39k. Itu artinya sebotol air minumnya sendiri dibanderol dengan harga 7k saja.
Let's Go

Minggu, 03 Desember 2017

Ngerujak di Warung Men Runtu

Setelah membeli beberapa biji kaos dan sepasang sandal buat oleh-oleh di Pasar Seni Sukawati, perut Ane merasa keroncongan. Maklum sekarang sudah menunjukkan pukul 2 siang sehingga sudah saatnya untuk makan siang. Disekitar Pasar Seni Sukawati sieh katanya ada sate lilit yang rekomended sekali buat dicoba, namanya Sate Lilit Ikan Tenggiri Pak Komang. Tapi, ketika Ane cari-cari tuh tempat ternyata hasilnya nihil alias tidak ketemu. Yasudah akhirnya Ane memutuskan untuk pulang saja ke Kota Denpasar.


Dalam perjalanan pulang menuju Kota Denpasar Ane tak sengaja membaca sebuah tulisan di papan gapura yang sangat menggelitik. Tulisan tersebut bunyinya seperti ini "Br. Tempek. Taman Palekan". Br jelas kependekan dari kata "Banjar" setara dengan dusun atau kampung, kalau Taman Pelakan tow tentu hanya sebuah taman. Nah ituloh tulisan "Tempek" nya, bagi Ane cukup menggelitik karena dalam bahasa jawa mengandung arti yang agak kurang pantas untuk diucapkan karena mengandung arti "alat kelamin wanita". Mungkin artinya akan berbeda bila diucapkan dalam bahasa Bali, mungkin dalam bahasa Bali kata ini merupakan sebuah kata yang biasa dan tidak mengandung arti yang kurang pantas untuk diucapkan. Entahlah!


Jarak Kota Denpasar dari Pasar Seni Sukawati tidaklah jauh yakni sekitar 10 Km saja melalui Jl. Raya Celuk dan Jl. Raya Batubulan, sehingga tak sampai 30 menit Ane sudah memasuki Kota Denpasar. Saat memasuki Kota Denpasar, tiba-tiba Ane kepikiran untuk kulineran lagi. Biasanya sieh kalau tidak ada rencana buat kulineran, begitu perut sudah keroncongan Ane langsung saja mampir di warung makan pinggir jalan dengan catatan warung tersebut halal. Tapi kali ini tidak, di kota ini ada sebuah warung makan yang belum Ane cicipi, warung makan tersebut bernama Warung Men Runtu yang terletak di Jl. Sekuta No. 32C, Sanur. Berdasarkan beberapa informasi yang Ane dapatkan kalau warung ini buka dari jam 12 siang hingga 7 malam. Klop bila sekarang saatnya Ane menuju kesana. Sebenarnya ada yang membuat Ane malas sob, letaknya ituloh berada agak dalam jauh dari jalan raya. Tapi apa boleh buat, pumpung masih di Bali akhirnya Ane mengunjungi tempat tersebut.
Bagi Ane warung ini cukup rumit untuk ditemukan, maklum baru kali ini Ane menginjakkan kaki di gang-gang kecil Pulau Bali. Sudah setengah jam Ane mencarinya, beruntung warung yang Ane cari akhirnya ketemu juga. "Warung Men Runtu", itulah sebuah tulisan yang yang ada di sebuah plank berwarna hitam terletak di kanan (barat) jalan.


Tak ada lahan parkir yang memadai, semua kendaraan terparkir dipinggir jalan sehingga memakan sebagian badan jalan. Setelah memarkirkan kuda hijau Ane, lantas Ane masuk kedalam. Warungnya cukup sederhana dengan meja dan kursi terpasang dengan rapi. Meja kursi yang memiliki desain biasa terpasang didalam ruangan, sedangkan meja kursi yang memiliki desain yang tak cukup biasa terbuat dari batuan keramik terpasang diluar ruangan.


Awalnya memang Ane sudah penasaran dengan tempat yang satu ini, tapi rasa penasaran itu bertambah saat Ane datang langsung kesini dan melihat begitu banyaknya pengunjung yang datang memadati tempat ini, hampir semuanya berasal dari kalangan anak muda. Padahal warung ini belum lama berdiri yakni tahun 2015, lalu apa sih yang istimewa dari menu-menu yang ditawarkan oleh tempat ini? dan seberapa enak menu-menu tersebut? Tentu rasa penasaran ini dapat Ane jawab setelah Ane merasakan sendiri menu-menu yang ada. Karena Ane hanyalah seorang diri maka sebenarnya Ane ingin sekali duduk didalam. Tapi apa boleh buat, semua tempat sudah diduduki dan yang tersisa tinggal sebuah kursi yang ada di sebelah kanan warung, itupun diluar ruangan. Okelah, kalau begitu duduk saja Ane disini.


Diatas meja sudah ada sebuah kertas pemesanan yang dapat Ane gunakan, selain itu daftar menu yang dapat Ane baca. Ada banyak menu yang tersedia, semua menunya benar-benar khas dan jarang ditemukan di luar Pulau bali. Rujak kuah pindang, rujak colek, bulung boni, sayur cantok, tipat cantok, tipat plecing, dan lain sebagainya. Setelah membaca-baca, akhirnya Ane memutuskan untuk makanannya Ane pesan rujak kuah pindang gula Bali dan bulung boni campur. Sedangkan untuk minumannya Ane pesan es cincau saja.

Daftar menu makanannya
Daftar menu minumannya
Saat sampai didepan, Ane dikasih tahu kalau menu bulung boninya sudah habis dan tinggal rujak kuah pindangnya saja. "Atau mau ganti menu lainnya?", begitulah timpal salah satu pelayannya kepada Ane. Tanpa fikir panjang Ane tetap memesannya yaitu seporsi rujak kuah pindang saja. Rupanya disini kesabaran Ane benar-benar diuji. Untuk menunggunya saja waktu yang Ane perlukan sekitar 3/4 jam. Tapi nggak apa, karena sepulangnya dari sini sudah tak ada jadwal untuk ngelayap lagi. Dan sekarang semua pesanan sudah ada dihadapan Ane, sepiring rujak kuah pindang dan segelas es cincau.


Secara penampilan, rujak ini terbilang unik. Seporsi rujak berisi irisan dari berbagai macam buah segar yang diberi sedikit kuah berwarna kecokelatan. Buah apa saja ya ini? setelah Ane cicipi dan rasakan ternyata buah-buah tersebut diantaranya ada buah mangga, bengkuang, kedondong, timun, dan nanas. Tak hanya pada buahnya saja yang terasa segar, tetapi kesegaran juga terjadi pada kuahnya. Kuahnya ituloh gurih dan pedas banget. Tak heran bila Warung Men Runtu ini selalu dipadati oleh para pengunjung. Selain pecinta rujak, Ane rasa juga penyuka rasa pedas wajib pokoknya datang kesini. Pas bila rasa pedas dipadu dengan rasa dingin. Segelas es cincau sudah cukup mampu meredamkan rasa yang amat pedas ini dan juga menghilangkan rasa dahaga Ane. Dua kata untuk ini semuanya "Wuenak tenan, Le leduk".




Untuk itu tak habiskan semuanya
Soal harga tak perlu membuat Ane khawatir. Dari awal Ane sudah tahu kalau semuanya uang yang harus Ane bayarkan hanya sebesar 14k saja, dengan rincian sepiring rujak kuah pindang gula bali 8k dan segelas es cincau 6k. Gimana, tertarikkah sobat buat mencicipinya? kalau tertarik bisa deh sob langsung meluncur ke tempatnya. Sampai Jumpa!
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me