Rabu, 30 Januari 2019

Masjid Al-Imtizaj, Masjid Unik Ala Tionghoa

Setelah menelusuri Jalan Braga sampai mentok di utara, Ane balik lagi ke arah selatan. Begitu menemukan perempatan jalan, Ane belok kearah kanan. Tujuan kali ini adalah Pasar Baru Bandung. Melewati Jl. Naripan dan bersambung ke Jl. ABC. Sekitar 100 meter setelah melewati jembatan Ane diherankan oleh suara adzan yang berkumandang dari dalam sebuah bangunan. Kebetulan hari memang sudah siang dan sudah masuk waktu dzuhur.
Secara sekilas bangunan tersebut adalah bangunan klenteng. Pasalnya bangunan itu dibangun bergaya arsitektur Tiongkok dan warna yang mendominasinya adalah warna merah dan kuning ditambah hadirnya ornamen lampion terbang berwarna merah. Tapi apakah iya bangunan itu adalah bangunan masjid? untuk memastikan kebenarannya Ane mampir sebentar disini. Ternyata benar bangunan ini adalah sebuah bangunan masjid. Hal ini terlihat dari sebuah papan nama yang terletak persis diatas pintu masuk gerbang berbunyi "Masjid Al-Imtizaj". Papan nama tersebut tak hanya dituliskan dalam bentuk bahasa Indonesia saja tetapi juga dalam bentuk bahasa Arab dan Mandarin.



Mengetahui bangunan ini benar-benar masjid, Ane tak hanya mampir sebentar sesuai niatan awal tetapi juga masuk untuk mendirikan ibadah shalat Dzuhur sekaligus melihat-lihat arsitektur yang ada. Sebelumnya Ane melepas sepatu dan memasukkannya kedalam plastik yang selanjutnya Ane masukkan kedalam tas. Memang diatas pintu masjid sudah terpasang kamera CCTV, tak ada salahnya Ane juga lebih berhati-hati terhadap barang bawaan Ane sendiri.
Bangunan Masjid Al-Imtizaj yang terletak di Jl. ABC No.8 Banceuy Bandung ini memiliki gapura berbentuk oval, memiliki atap berbentuk melengkung yang dikenal dengan atap pelana sejajar gravel dan diatasnya bertengger kubah ciri khas dari bangunan suatu masjid. Setelah melewati gapura Ane dapat melihat sisi luar bangunan masjid secara keseluruhan. Masjidnya cukup kecil namun bertingkat. Ane hanya bisa menduga-duga mungkin diatasnya itu adalah pertokoan. Diantara keduanya dibedakan berdasarkan warna cat saja. Masjid berornamen unik ala tiongkok ini mempunyai warna kuning dan merah, sedangkan yang Ane duga pertokoan bercatkan warna putih.



Meskipun kecil, masjid ini didesain semenarik mungkin diantaranya terdapat selasar kecil, disamping kanan dan kirinya terdapat tempat duduk berupa gazebo kecil yang bisa ditempati oleh 4 orang, serta taman. Untuk masuk kedalam masjid Ane harus menuruni anak tangga terlebih dahulu karena posisi lantai 1 masjid lebih rendah dibadingkan dengan jalan ABC. Lantai 1 untuk jamaah laki-laki sedangkan lantai 2 untuk jamaah perempuan.



Tempat wudhu bagi jamaah laki-laki ada disebelah kiri masjid, setelah mengambil air wudhu Ane masuk kedalam. Tak hanya di sisi luarnya saja yang unik, didalamnya pun tak kalah uniknya. Masjid ini disangga oleh dua buah penyangga yang cukup besar. Di bagian lantainya digelari karpet berwarna hijau tua. Di bagian dalam dinding mihrab terdapat tulisan "Allah" berukuran cukup besar, sedangkan dibagian depan dinding samping kanan dan kiri mihrab terdapat tulisan "Allah" dan "Muhammad" dalam bahasa Arab. Seperti masjid pada umumnya, masjid ini mempunyai mimbar yang cukup cantik. Mimbar ini diletakkan didalam ruang mihrab samping kanan tempat imam memimpin ibadah shalat fardhu. Sama seperti diluar, didalam ruangan masjid pun didesain ala Tiongkok. Lampion terbang berwarna merah dan pada dindingnya juga masih didominasi warna kuning dan merah.



Mihrab Masjid Al-Imtizaj
Tempatnya yang bersih dan udara yang masuk cukup sejuk membuat para jamaah nyaman untuk melaksanakan ibadah shalat. Suara iqamat sudah tiba kini saatnya Ane bersama para jamaah lainnya mendirikan ibadah shalat dzuhur. Inilah pengalaman pertama Ane mendirikan ibadah shalat di bangunan masjid yang berasitektur Tiongkok dan bila dilihat secara sekilas merupakan sebuah bangunan klenteng. Suuuut, jangan ribut ya sob karena masih ada orang yang shalat.
Let's Go

Senin, 24 Desember 2018

Jalan Kaki Menyusuri Jalan Braga di Kota Bandung

Salah satu rencana yang akan Ane tunaikan saat berkunjung ke Kota Bandung adalah menyusuri Jalan Asia Afrika dan Jalan Braga. Iya, Ane ingin mengunjungi kedua jalan tersebut. Walau hanya sebuah jalan tetapi jalan yang dua ini terasa spesial dibandingkan dengan jalan-jalan lainnya. Ane beranggapan mungkin jalan ini sama seperti Jalan Malioboro yang ada di Yogyakarta atau ntahlah yang jelas Ane ingin menelusurinya.
Setelah tujuan utama terlaksana kemarin sore, hari ini Ane merasa sudah tidak ada lagi beban yang ada dipundak Ane. Ane merasa free dan bebas mau pergi kemana saja. Tapi hari ini adalah hari terakhir kunjungan Ane di Bandung. Rencananya adalah begitu mendapatkan tiket pulang Ane langsung capcus menuju pusat kotanya. Memang kemarin Ane sudah mengunjunginya, tapi sebatas mengunjungi Alun-alun dan Masjid Rayanya saja. Padahal masih banyak yang dapat Ane kunjungi disana seperti Jalan Asia dan Afrika dan Jalan Braga.


Agar tidak kesiangan dengan segera Ane meninggalkan tempat tidur dan segera mandi. Tak ada rencana hari ini untuk menyewa kendaraan bermotor yang sudah Ane lakukan pada hari kesatu, karena bila dihitung-hitung akan keluar kost lebih banyak dibandingkan dengan transportasi umum. Ya, di hari ketiga ini Ane benar-benar percaya diri untuk melangkahkan kaki keluar dengan menggunakan transportasi umum. Pasalnya Ane sudah tahu sedikit tentang Kota Bandung, jalannya cukup lebar tapi tetap saja macet, bujang - gadis Bandung tidak gengsi menggunakan angkot, orangnya ramah-ramah dan yang Ane suka adalah gaya bicaranya cukup lembut. Satu lagi yang cukup penting yaitu angkot beroperasi cukup banyak sehingga setiap penumpang dapat dengan mudah menjangkau daerah yang diinginkannya.
Keluar dari penginapan tepat pukul setengah 8 pagi. Ane harus berjalan kaki sejauh 300 meter untuk sampai di jalan utama. Maklum, penginapan yang Ane inapi posisinya ada didalam di tengah perkampungan. Tak lama menunggu datanglah sebuah angkot dari arah utara. Ane langsung menaikinya, ya tak sulit memang mencari angkot dengan tujuan Stasiun Kiaracondong. Walau tak begitu jauh tapi untuk sampai di stasiun memakan cukup banyak waktu karena dibagian bawah jembatan layang angkot hanya bisa berjalan merayap. Bahkan saking merayapnya sebelum pintu masuk stasiun Ane turun dari angkot. Ane lanjutkan berjalan kaki sedikit dan masuk kedalam. Inilah stasiun Kiaracondong, selama ini Ane hanya bisa menyaksikkan dari stasiun televisi saja namun kini Ane benar-benar menginjakkan kaki disini.


Belum banyak orang yang datang kesini mungkin karena hari masih pagi. Agar tidak kehabisan tiket Ane segera menuju kedalam. Ah rupanya kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Loket masih tutup, mesin nomor antrian dan monitor layar belum hidup. Dibagian bawah layar monitor terdapat jadwal perjalanan kereta api, awal keberangkatan darimana dan tujuan akhir dimana. Ane lihat dengan teliti, ada beberapa kereta api dari berbagai kelas yang berhenti di Jogja. Ada Pasundan, Kahuripan, Lodaya, Malabar, dan sebagainya. Ane langsung menjatuhkan pilihan kepada kereta Kahuripan dengan pertimbangan selain harganya yang cukup ekonomis juga waktu keberangkatan sesuai dengan pilihan hati.
Rupanya Ane harus menelan pil pahit, tak lama kemudian layar monitor yang awalnya mati kini hidup dan disitu ditampilkan bahwa sisa tempat duduk untuk kereta api Kahuripan adalah 0 (nol) baik untuk hari ini maupun besok. Memang keadaan tersebut masih bisa berubah karena pemesanan tiket bisa dengan menggunakan cara online. Tepat pukul 9 pagi loket pemesanan kereta api dibuka. Pengunjung yang datang bertambah ramai. Harap-harap cemas Ane menunggunya berharap ada sebuah tempat duduk yang masih kosong.

Loket Stasiun Kiaracondong
Monitor layar Stasiun Kiaracondong
Stasiun Kiaracondong ini terbilang canggih. Selain melalui loket pengunjung dapat membeli tiket melalui mesin e-Money. Pengunjung tidak perlu khawatir tentang bagaimana cara memanfaatkan mesin ini karena sudah ada salah satu pegawainya yang siap sedia membantu. Ane melihat cara pegawainya mengoperasikan mesin itu ternyata cukup simpel dan tidak ribet.
Cukup lama Ane memandangi layar monitor tersebut, ya sekitar 30 menitan. Tetapi keadaan masih tetap sama, tidak berubah. Sisa tempat duduk kereta Kahuripan tetap saja 0 (nol). Tak ingin lebih lama menunggu di stasiun, akhirnya Ane memutuskan untuk naik kereta lainnya. Ane meminta tolong kepada mbak pegawainya melalui mesin e-Money untuk mencarikan tiket dengan tujuan Yogyakarta.


Dari berbagai macam kereta akhirnya Ane memutuskan untuk naik kereta Lodaya dengan kelas bisnis. Berangkat dari sini jam 7 malam dan diperkirakan sampai di Jogja jam 3 pagi. Ane diminta memasukkan nomor identitas Ane dan setelah pencet-pencet Ane disuruh membayar uang sebesar 215k. Uang ini dimasukkan kedalam mesin e-Money selanjutnya keluar struk yang berisikan kode booking. Kode booking inilah yang selanjutnya Ane masukkan kedalam mesin cetak selambatnya 1 jam sebelum keberangkatan. Mesin cetak di stasiun Kiaracondong ditempatkan dibagian depan stasiun. Ane menuju keluar dan taratata tiket pulang sudah ada ditangan, ya walau harganya tidak sesuai dengan isi hati tapi tidak apa-apalah yang penting sampai dirumah.

Struk yang berisikan kode booking
Tiket kereta api dengan tujuan Yogyakarta
Jam masih menunjukkan pukul sepuluh kurang seperempat pagi. Sementara Ane berangkat dari sini jam 7 malam, itu artinya masih ada waktu yang cukup lama untuk mengeksplorer Kota Bandung. Rugi dong sob, kalau Ane langsung pulang ke Kota Jogja. Sesuai dengan rencana segera Ane langkahkan kaki menuju keluar area stasiun untuk mencari angkot. Tak sampai 1 menit datanglah angkot warna hijau ntah apa namanya yang jelas sat Ane bertanya kepada sopirnya apakah angkot ini melewati alun-alun, dia menjawab iya. Ah rupanya Ane salah milih angkot, angkot ini tidak melewati alun-alun melainkan hanya sampai di terminal Kebon Kalapa saja. Dari Stasiun Kiaracondong sampai ke Terminal Kebon Kalapa Ane hanya dikenai 5k saja. Harusnya Ane naik angkot warna merah bertuliskan Binong seperti yang Ane lakukan kemarin dengan ongkos yang sama pula. Alhasil Ane harus jalan kaki kearah utara, tapi beruntung Ane bisa memotret pemandangan sesuka Ane. orang-orang berjalan kesana-kesini, angkot-angkot berseliweran, pertokoan, restoran, hingga papan petunjuk jalan.


Melewati Alun-alun, Ane langsung menuju Jalan Asia Afrika dan Braga. Tepat di pertigaan jalan antara Jalan Asia Afrika dengan Jalan Alun-Alun Timur terdapat sebuah tugu yang seolah-olah menegaskan bahwa ini adalah kawasan Jalan Asia Afrika. Tugu tersebut bernama Tugu Asia Afrika. Tugu ini cukup unik, sebuah bola dunia yang menampilkan peta benua Asia dan Afrika dengan dibawahnya bertuliskan Asia Afrika.


Bergerak kearah barat Ane harus melewati sebuah lorong dan breng, breng, breng tercium bau tidak sedap. Ane harus menutup hidung erat-erat, tak hanya Ane setiap orang yang melewati jalan inipun melakukan hal yang sama. Sudah kondisinya kotor bau pesing pula. Hal ini sangat disayangkan karena cantiknya Kota Bandung harus tercemar dengan keadaan seperti ini. Kalau di fikir-fikir aneh juga, padahal lorong ini tidak pernah sepi pejalan kaki tapi kok ya bisa seperti ini. Apakah ulah orang-orang yang tidak bertanggungjawab ini dilakukan pada malam hari? ntahlah yang jelas perbuatan ini sungguh tidak baik.

Lorongnya ada di sisi kanan dan kiri jembatan 
Keluar dari lorong, kini Ane bisa bernapas lega. Jalan Asia Afrika ini sungguh cantik karena di sepanjang trotoar jalan terpasang kursi-kursi taman, Sehingga setiap pejalan kaki yang lelah dapat beristirahat disini. Selain itu di trotoar jalan terpasang ornamen-ornamen lampu bergaya klasik dan satu lagi yang menarik dari jalan ini yaitu terdapatnya bola-bola dunia yang ditempatkan setiap beberapa meter.
Melewati sebuah jembatan, terdapat sebuah jalan yang disamping kanan dan kirinya terpasang tiang-tiang bendera yang cukup banyak. Mungkin tiang-tiang inilah yang biasa digunakan untuk memasang berbagai macam bendera negara-negara di Benua Asia dan Afrika saat mengadakan pertemuan. Tapi saat ini masih ada acara yang berlangsung di jalan tersebut yakni bernama Bragaderen Festival.


Disebelah timurnya berdiri sebuah gedung yang sangat bersejarah yakni Gedung Merdeka. Gedung berwarna putih inilah yang menjadi simbol perjuangan bangsa-bangsa di benua Asia dan Afrika. Disinilah tercipta Dasa Sila Bandung yang menjadi pedoman bangsa-bangsa terjajah dalam berjuang memperoleh kemerdekaan. Tepat disebelah timur Gedung Merdeka berdiri sebuah bangunan lagi yang mempunyai nilai sejarah yaitu Museum Konperensi Asia Afrika. Lho kok tidak pakai huruf "f" pada kata konperensinya? nggak tahu sob, mungkin hal ini berkaitan dengan logat sunda kali yang tidak bisa mengatakan huruf "f", hehehe.



Sebenarnya Ane ingin masuk, tapi Ane di stop oleh salah seorang satpam. Sang satpam mengatakan bahwa gedung ini masih digunakan untuk suatu acara, museum ini dibuka mulai jam 1 siang nanti. Oke, kalau begitu lanjut. Tepat disamping kanan museum ada sebuah jalan yang sangat terkenal di kalangan para wisatawan. Apalagi kalau bukan Jalan Braga. Sudah lama Ane memendam rasa untuk berjalan-jalan menyusuri jalan ini. Kini kesampaian juga.


Lelah, Ah duduk dulu ah!
Penelusuran Jalan Braga Ane awali dari arah selatan. Pemandangan tak jauh berbeda dengan Jalan Asia Afrika. Di Jalan Braga juga masih terdapat bola-bola dunia yang terpasang di tortoar, selain itu kursi-kursi taman dan ornamen lampu bergaya klasik. Bedanya disini dapat banget suasana Bandungnya. Banyak bangunan-bangunan tua bergaya Eropa yang berdiri seperti pertokoan dan tempat hiburan. Tak hanya usianya saja yang tua tetapi bangunan-bangunan ini juga sarat akan nilai sejarah seperti Bank OCBC NISP, Apotek Kimia Farma, Gedung De Majestic, Gedung Dennis Bank BJB, dan lain sebagainya.

Peta yang memberitahukan kepada kita dimana posisi kita sekarang
Kondisi yang tampak disepanjang Jalan Braga
Ini juga
Disini pengunjung tidak perlu khawatir lapar karena di Jalan Braga ini banyak sekali terdapat tempat makan yang berdiri seperti cafe, restoran, rumah makan hingga warung makan. Atau kalau mau merasakan suasana yang berbeda pengunjung bisa menginap di sekitar kawasan ini karena banyak penginapan maupun hotel yang berdiri. Awalnya Ane kira peraturan disini sama dengan peraturan yang diterapkan di kawasan Jl. Malioboro, ternyata tidak pengunjung yang membawa kendaraan roda dua bisa parkir disepanjang jalan ini. Tarifnya 2k per dua jam pertama dan 2k untuk jam selanjutnya. Trtarik?



Tarif parkir di Jalan Braga
Pemandangan ujung utara Jalan Braga
Sampai dimanakah ujung dari Jalan Braga ini? ah ternyata sampai di perempatan. Jalan Braga hanya satu ruas yang membentang dari selatan ke utara. Tak sampai satu jam berjalan kaki dari ujung ke ujung. Nggak percaya? Silahkan datang dan buktikan sendiri ya sob. :-)
Let's Go

Jumat, 30 November 2018

Tiduran di Alun-alun Bandung, Kenapa tidak?

Setelah hari pertama kemarin Ane mengeksplorer kawasan wisata Lembang, di hari yang kedua ini Ane hanya mempunyai satu tujuan yaitu mengeksplorer pusat kota Bandung terutama Alun-alun dan sekitarnya. Sebenarnya Ane datang ke kota ini bukan untuk liburan sob, tapi ada hal yang lebih penting yaitu menghadiri seleksi tes kerja didekat pintu gerbang tol Pasteur. Seleksi kerja dilakukan pada sore hari maka dari itu di waktu pagi Ane nganggur. Sebagai seseorang yang mempunyai hobi travelling mempunyai fikiran bahwa waktu adalah uang dan berdiam diri di penginapan itu adalah sesuatu yang merugikan maka Ane berfikir hendak mau kemana lagi ini. Mau ke Ciwidey atau Kawah Putih tidak mungkin karena jauh. Fikir punya fikir akhirnya Ane memutuskan untuk mengunjungi pusat kotanya saja.


Kan kalau mau kemana-mana mudah terutama menuju tempat seleksi kerja. Maka Ane mengeksplorer sejauh yang Ane bisa. Hari ini pokoknya Ane benar-benar berpetualang karena hari ini Ane tidak menyewa kendaraan. Ane hanya mengandalkan angkot untuk menuju satu tempat ke tempat lainnya. Tak perlu khawatir angkot yang beroperasi sudah sangat memadai sehingga memudahkan bagi siapa saja yang menginginkannya.


Dari penginapan Ane bersama sahabat Ane naik angkot terlebih dahulu menuju Stasiun Kiaracondong. Tujuan sahabat Ane adalah beli tiket kereta api sedangkan Ane mau mengambil uang di ATM karena didalam dompet tinggal mata uang bergambar pahlawan Tuanku Imam Bondjol. Berhubung dia juga uangnya sudah menipis maka mengikuti Ane terlebih dahulu pergi ke ATM. Sesudah mengambil uang Ane langsung pamit kepada dia untuk pergi ke Alun-alun dan dia mempersilahkan. Dia bilang dia juga mau kesana setelah memperoleh tiket pulang. Ane mencari angkot ke Alun-alun dan sahabat Ane berjalan masuk stasiun. Ane naik angkot warna merah bertuliskan Cibinong. Tiga perempat jam kemudian karena kondisi jalan yang padat sampailah Ane ditempat yang Ane maksud. Sebenarnya kalau kondisi jalan tidak padat ya seperempat jam saja sampai. Dari Stasiun Kiaracondong ke Alun-alun Bandung ini Ane hanya dikenai ongkos angkot 6k saja.


Alun-alun Bandung, Ya baru pertama kali ini Ane menginjakkan kaki disini. Ane sungguh terpesona dengannya, areanya cukup luas dengan disekelilingnya terdapat kursi-kursi cantik yang dapat digunakan oleh para pengunjung. Tempatnya cukup teduh jadi pas bila untuk bersantai ria. Nampaknya alun-alun ini tertata dan terawat dengan baik, bagaimana tidak disebelah selatan terdapat sebuah taman bunga, disebelah utara terdapat tempat bermain bagi anak-anak sekaligus tempat pemberhentian bus semacam halte dengan bertuliskan Alun-alun Bandung.

Pemandangan sebelah timur Alun-alun Bandung
Tempat bermain anak-anak
Pemandangannya cukup teduh bukan?
Pemandangan sebelah utara Alun-alun Bandung
Halte tempat berhentinya bus TMB dan Damri
Ada 2 jenis bus yang dapat berhenti di halte ini yaitu bus Trans Metro Bandung (TMB) dan Bus Damri. Adapun sebelah timur terdapat sebuah gedung dibangun dengan gaya modern berbentuk persegi panjang. Tak ketinggalan dibagian temboknya tertulis kata "Bandung". Lalu bagaimanakah dengan bagian sebelah barat? Inilah sebuah bangunan yang cukup menonjol diantara bangunan-bangunan lainnya dan cukup ramai dipadati pengunjung yakni Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat.



Pemandangan sebelah timur Alun-alun Bandung
Masjid ini pertama kali yang Ane lihat saat menuju Alun-alun, selain besar masjid ini mempunyai dua menara kembar yang terletak disisi kanan dan kirinya. Ane sengaja tak memasuki masjid terlebih dahulu karena kumandang adzan dzuhur belum terdengar, masih ada waktu sekitar 30 menit lagi. Ane tergoda dengan luasnya lapangan ini, begitu menginjakkan kaki beberapa langkah terdengar suara peluit dari salah seorang petugas yang memakai baju berwarna hijau tua (mungkin satpol PP). Prit, prit, prit ternyata bunyi peluit itu untuk Ane. Ane tidak tahu apa kesalahan Ane, ternyata Ane diberi peringatan untuk melepas sepatu bila ingin menginjakkan kaki di tanah lapang.


Owalah Ane baru ngeh kalau rumput yang tumbuh disini bukan rumput alami melainkan rumput sintetis. Mungkin agar selalu tampak bersihlah peraturan ini diadakan. Ane mentaati peraturan tersebut, Ane melepas sepatu dan alas kaki. Kini Ane dapat bergaya semau Ane disini, mau guling-gulingan, tidur-tiduran, jungkir-balik, atau bahkan melakukan gerakan yang lainnya. Tak hanya Ane, tetapi juga para pengunjung yang lainnya baik itu anak-anak, orang dewasa, maupun lanjut usia.
Berhubung cuaca sangat panas dan gerah maka tak sampai 10 menit Ane berada disini. Ane sempat penasaran dengan jalan tangga yang menurun kebawah, jalan ini ada dibagian barat lapangan. Tapi karena tinggal sebentar lagi waktu shalat dzuhur tiba, maka Ane putuskan untuk masuk masjid terlebih dahulu. Sebelumnya Ane titipkan sepatu Ane ke bagian penitipan sepatu/sandal.

Kartu yang didapatkan setelah menitipkan sepatu/sandal
Tempat penitipan sepatu/sandal Masjid Raya Bandung
Begitu masuk Ane sangat suka dengan suasananya, masjidnya sangat luas mempunyai dua lantai, sejuk, dan adem. Ane perkirakan masjid ini bisa menampung ribuan jamaah bahkan puluhan ribu. Tempat wudhunya ada dilantai dasar. Setelah melaksanakan ibadah shalat Ane langsung mengambil sepatu dan memakainya serta mengulangi tempat yang membuat Ane penasaran tadi. Ternyata tempat ini adalah basemen areal parkir dan warung makan yang menjual beraneka macam makanan mulai dari soto, bakso, nasi goreng, dan lain sebagainya serta toko pakaian namun dalam jumlah yang sedikit. Sekarang Ane tahu kalau tanah lapang ini berada diatas basemen areal parkir dan warung makan yang menjual berbagai macam makanan. Luar biasa!

Salah satu komponen penyusun tanah lapang
Warung makan yang ada dibawah Alun-alun Bandung
Papan petunjuk parkir Basement Alun-alun Bandung
Pintu masuk Basement Alun-alun Bandung
Berhubung perut sudah keroncongan maka Ane mampir di salah satu warung makan. Pilihan Ane kali ini adalah nasi goreng. Saat selesai makan dan membayarnya waow harganya cukup mahal bila dibandingkan dengan makan diluar kawasan ini. Tidak apa-apalah nggak tiap hari juga. Selesai makan ndilalah ketemu sahabat Ane lagi, dia mencari sesuatu buat oleh-oleh keluarganya. Sementara Ane sebentar lagi ada kepentingan. Maka mau tidak mau kita harus berpisah lagi disini. Satu catatan untuk Alun-alun ini, yaitu sungguh bisa membuat Ane terhibur.
Tiket masuk Alun-alun Bandung: Gratis dan terbuka untuk umum.
Let's Go

Rabu, 31 Oktober 2018

Nasi Bancakan Mang Barna dan Bi O'om, Ambil Sendiri Sesukamu

Keluar dari Farmhouse Susu Lembang Ane langsung tancap gas pulang ke penginapan soalnya hari sudah semakin petang dan jam sudah menunjukkan pukul lima lebih seperempat menit. Sudah 2 kali Ane menginjakkan kaki di Bandung, ternyata sama saja. Tidak di wilayah selatan dan juga di utara, keadaannya sama-sama padat kendaraan dan macet. Alhasil Ane harus bersabar dan tetap mengendarai kendaraan bermotor dengan hati-hati. Perjalanan pulang itu berbeda dengan perjalanan saat berangkat. Ntah bagaimana caranya Ane melewati Teras Cikapundung dan Kawasan Kampus ITB. Ane bingung dan Ane ikuti saja jalan ini. Triknya Ane mengikuti petunjuk jalan yang mengarah ke Gedung Sate. Ternyata tidak lama Gedung Sate yang Ane tuju sudah ada didepan mata.


Nah, kebetulan sore ini Ane belum makan apa-apa dan hanya minum susu di Farmhouse tadi. Jadi cacing yang ada didalam perut sudah pada menari semua. Alhasil Ane memutuskan untuk segera mencari tempat makan soalnya kalau sudah di penginapan pastilah malas untuk keluar karena efek lelah. Konon tak jauh dari Gedung Sate ada tempat makan yang cukup terkenal namanya Nasi Bancakan Mang Barna dan Bi O'om dengan konsep ambil sendiri semaunya. Merasa cocok dihati langsung saja Ane cari tempat makan ini. Usaha Ane tak sia-sia tempat makan yang Ane cari ketemu juga.
Dibagian depan terpajang dua buah spanduk dengan tulisan yang berbeda. Sebuah spanduk berisi pemberitahuan dan spanduk lainnya berisi penegasan. Spanduk yang berisi pemberitahuan berbunyi "ini adalah Nasi Bancakan" dan spanduk yang berisi penegasan berbunyi "nasi bancakan hanya disini tidak buka cabang dimanapun". Nasi Bancakan terletak tidak jauh dari Gedung Sate hanya sekitar 300 meter tepatnya terletak di Jl. Trunojoyo No. 62 Bandung.


Cukup ramai pengunjung yang sudah memadati tempat ini. Tak perlu mencari tempat duduk terlebih dahulu begitu masuk Ane langsung diarahkan oleh salah seorang pelayan untuk mengambil menu makanan sendiri. Ane bebas mau mengambil apa saja yang Ane inginkan. Sempat bingung pasalnya beragam pilihan menu tersedia mulai dari sayurnya, lauk-pauknya, lalapannya, hingga sambalnya. Sepertinya menu-menu tersebut dimasak khas Bandung.




Disaat kebingungan ini akhirnya Ane mengambil nasi liwet, sayur tumis kangkung, jengkol dan berlaukkan telor balado. Untuk minumannya segelas es cincau cukup menghilangkan rasa dahaga Ane. Untuk semuanya Ane harus mengeluarkan uang sebesar 30,5k. Setelah membayarnya saya memilih tempat duduk yang masih kosong. Ada 2 jenis tempat duduk yang dapat Ane pilih yaitu sistem meja kursi dan lesehan. Ane memilih posisi tempat duduk sistem meja kursi dibagian belakang agar Ane bisa mengabadikan isi tempat ini dengan baik, hehehe.

Struk nasi bancakan yang harus Ane bayar
Sistem meja kursi Warung Nasi Bancakan
Tempat duduk sistem lesehan di Warung Nasi Bancakan
Oke, saatnya Ane mencicipinya. Dimulai dari nasi liwetnya, rasanya cukup gurih dan pulen. Berpindah ke tumis kangkungnya, rasanya standar saja sama seperti pada tumis-tumis umumnya dan begitu juga dengan telor baladonya. Lalu bagaimanakah dengan sayur jengkolnya? Ane memilih sayur ini lantaran Ane sangat menyukainya dan ternyata rasanya cukup enak dan lezat. Secara keseluruhan masakan ini "wuenak tenan".


Menunggu nasinya turun kebawah, Ane santai-santai terlebih dahulu sambil melihat-lihat area sekitar. Menurut Ane tempat ini dibuat semenarik mungkin dengan sentuhan tempo dulu. Dibagian atasnya terdapat lampu petromak yang berbahan bakar minyak tanah. Walaupun lampu ini hanya sebagai hiasan saja tapi suasananya dapat banget. Dibagian dindingnya terpasang berbagai macam lukisan dan tak ketinggalan pula foto-foto public figure seperti artis dan pejabat yang pernah datang kesini.


Jam buka: 10 pagi - 10 malam
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me