Selasa, 24 April 2018

Santai Sejenak di Taman Tugu Tani Mesuji

Kabupaten Mesuji merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Lampung yang minim akan obyek wisata. Satu-satunya obyek wisata yang sangat terkenal di Kabupaten Mesuji adalah Taman Kehati, itupun baru seumur jagung. Tapi hal itu lantas tidak membuat warga sekitar putus asa untuk berbahagia. Ya, untuk sekedar refreshing warga Kabupaten Mesuji punya cara tersendiri yaitu dengan cara mengunjungi Taman Tugu Tani yang terletak tepat di pertigaan Simpang Asahan, Kecamatan Way Serdang, Kabupaten Mesuji, Lampung.


Letak Taman Tugu Tani ini sangatlah strategis karena selain terletak di pertigaan juga terletak di pintu gerbang "Selamat Datang Kabupaten Mesuji". Ane sendiri bila datang dari Yogyakarta atau sebaliknya selalu saja melewati tempat ini. Pasalnya untuk sampai kerumah Ane, dari Jalan Lintas Timur (Jalintim) harus masuk kedalam melalui pertigaan ini. Tadinya Taman Tugu Tani ini belum ada karena belum dibangun, barulah pada tahun 2015 Tugu Tani ini selesai dibangun. Ketika pembangunannya selesai tempat ini selalu saja ramai dikunjungi oleh warga sekitar terutama pada saat sore hari. Ya walaupun kebanyakan dari mereka adalah kawula muda.



Pintu gerbang "Selamat Datang Kabupaten Mesuji"
Dari dahulu rasanya ingin sekali Ane mampir ke tempat ini, tetapi tidak jadi-jadi terus. Nah, barulah pada tanggal 23 Agustus 2017 kemarin akhirnya Ane bisa menyempatkan diri mampir sebentar disini. Itupun sehabis mengurus sesuatu di DISDUKCAPIL. Lalu ada apa saja ya yang ada disini? berikut ulasannya.
Taman Tugu Tani, bila seseorang melewati Jalintim dari Kota Bandar Lampung ke Kota Palembang atau sebaliknya pasti melewati tempat ini. Meskipun dibangun tidak terlalu besar dan tinggi namun cukup menarik perhatian. Tugu dibangun dengan corak khas Mesuji. Dua buah patung terletak diatasnya. Sebuah patung merupakan patung Pak Tani dan satu lainnya merupakan patung Bu Tani. Patung Pak Tani mempunyai karakteristik mengenakan celana panjang dan baju berlengan panjang serta mempunyai ciri khas menaruh cangkul dipundaknya. Sedangkan patung Bu Tani mempunyai karakteristik yang berbeda yakni mengenakan pakaian kemben kebaya dengan ciri khas membawa rinjing bambu di pinggangnya. Meskipun terdapat perbedaan, tapi kedua patung tersebut mempunyai persamaan diantaranya sama-sama memakai capil gunung dan sama-sama melambaikan tangan.


Kalau boleh Ane mempresentasikan bahwa patung-patung inilah merupakan lambang dari kemakmuran. Tujuan awal dibangunnya Taman Tugu Tani ini sebenarnya untuk rest area tapi berhubung tempatnya yang cukup apik maka tak hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan saja tetapi juga sebagai tempat rekreasi. Sebagai tempat rest area tentu tempat ini memiliki beberapa fasilitas penunjang diantaranya mushalla, kios-kios penjual makanan serta kamar kecil. Namun ada yang sangat disayangkan dari tempat ini, yakni fasilitas-fasilitas penunjang tersebut tidak berfungsi secara optimal. Contohnya saja kamar kecil dengan kondisi yang kotor serta kran macet tidak ada air yang keluar. Bahkan untuk mencegah kamar kecil tersebut tetap digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab maka didepan pintunya diberi suatu penghalang. Luar biasa!!!


Kamar kecil yang diberi penghalang
Ane berharap kepada pemerintah setempat agar selalu memperhatikan keamanan dan kenyamanan tempat ini karena kini Taman Tugu Tani ini tidak hanya berfungsi sebagai rest area saja tetapi juga sudah menjadi salah satu icon Kabupaten Mesuji yang menjadi kebanggaan warga mesuji. Memang merawat itu lebih sulit dibandingkan dengan membangun, tapi bila ada kemauan yang keras maka sesulit apapun itu pasti ada jalannya (pesan untuk pemerintah setempat).
Let's Go

Sabtu, 31 Maret 2018

Bakso Son Haji Sony Lampung, Lezatnya Nomor Satu

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.15 WIB, sementara perjalanan masih panjang untuk sampai ke rumah Ane. Dari Gapura Bambu Pringsewu Ane pacu kembali kendaraan motor Ane bersama bapak menuju Kota Bandar Lampung. Iya, perjalanan pulang menuju rumah kita sejalan dengan perjalanan menuju Ibukota Lampung yakni Bandar Lampung. Dibutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk sampai di kota ini.
Benar saja satu jam kemudian sampailah kita di Kota Bandar Lampung. Sambil berkendara, Ane berbincang-bincang dengan bapak, apakah beliau setuju untuk mampir sebentar buat makan di salah satu kedai makan. Syukur, bapak setuju dengan pendapat Ane tersebut. Selanjutnya Ane menyampaikan pendapat lagi, "Apakah setuju kalau kita makan bakso saja?". Bapak orangnya manutan jadi dia setuju-setuju aja mau makan dimana dan makan apa. Wokelah kalau begitu, kebetulan Ane pernah membaca sebuah artikel bahwa ada sebuah tempat makan bakso terkenal di Kota Bandar Lampung ini yakni Bakso Son Hajisony. Tanpa basa-basi meluncurlah kita menuju kesana.



Berdasarkan informasi yang Ane terima bahwa ada banyak cabang Bakso Son Hajisony yang tersebar di Kota Bandar Lampung ini, walaupun demikian Ane tetap ingin makan di pusatnya saja yang terletak di Jl. Wolter Monginsidi no. 42, Durian Payung, Tanjung Karang Pusat. Tidak susah buat Ane untuk mencarinya karena jalan yang ada di Bandar Lampung ini memang cukup mudah untuk di hapal. 15 menit dalam masa pencarian dan tepat pukul 12.30 WIB sampailah Ane di TeKaPe.


Sebelumnya Ane sempat bingung saat akan memarkir motor, bagaimana tidak lahan parkir yang tersedia cukup sempit sementara pengunjungnya ramai sekali. Alhasil Ane terpaksa harus menunggu beberapa saat dan syukur tak sampai 5 menit Ane mendapatkan lahan parkir yang kosong.
Tidak seperti kondisi lahan parkirnya, susana beda justru kita temui saat memasuki warungnya. Walaupun warungnya terbilang tidak terlalu luas namun Kita tak perlu repot-repot menunggu meja makan yang kosong, kita langsung bisa menempati salah satunya. Sebenarnya ada 2 jenis meja makan yang dapat kita tempati dalam menikmati baksonya, yakni didalam ruangan yang tertutup dan yang satunya lagi di ruangan yang terbuka. Kita memilih di ruangan yang terbuka saja. Setelah meletakkan jaket, bapak menunggu di tempat duduk, sementara Ane pergi mendatangi salah satu pelayannya.


Ane pesan 2 buah mangkok bakso dan untuk minumannya cukup 2 aqua gelas saja. Pelayannya pun memberi pilihan kepada Ane apakah mau pakai mie atau tidak dan Ane menjawabnya pakai saja. Tujuan Ane tak lain dan tak bukan adalah ingin tahu seperti apa Bakso Sony dengan menu komplit itu. Tanpa menunggu lama datanglah pesanan Ane tersebut. Semangkok bakso Sony berisikan 6 buah bakso dilengkapi dengan mie kuning, bihun dan daun sledri. Kuahnya pun cukup bening seperti kuah khas Jawa.


Pertama-tama Ane cicipi dahulu kuahnya, hulala nikmat sekali sangat gurih dan khas. Saking nikmatnya tidak Ane kasih apa-apa kedalam semangkok bakso ini, tadinya akan Ane kasih kerupuk dan semacamnya, tapi Ane urungkan niatan Ane tersebut cuman sedikit kecap dan sambal saja. Dilihat dari teksturnya bakso ini benar-benar menggoda, berwarna agak cokelat bila dibandingkan dengan bakso-bakso pada umumnya.


Lalu bagaimanakah dengan rasanya? Setelah Ane belah guratan dagingnya terlihat jelas berserat dan ternyata rasa baksonya itu "wuenak tenan", cukup kenyal, empuk, dan dagingnya cukup terasa lembut di mulut seperti bakso buatan ibu Ane saat lebaran lalu. Ya kalau boleh Ane perkirakan perbandingannya sekitar 1:1,5, artinya setiap 1 Kg daging sapi itu dicampur dengan 1,5 Kg Tepung tapioka. Tentu, rasa bakso ini tidak akan mudah kita temukan di warung-warung bakso lainnya.
Di benak sobat mungkin ada sebuah pertanyaan seperti ini,"bagaimana jika bakso itu dibuat hanya dicampuri bumbu saja tanpa campuran tepung tapioka?".
Berdasarkan pengalaman yang sudah Ane dapat sebelumnya, yakni sudah pernah menggilingkan bakso sebanyak 2 kali bahwa bakso tidak mungkin bisa dibentuk tanpa campuran tepung tapioka. Dahulu Ane pernah menggilingkan bakso 1:1, tapi apa yang terjadi? Ibu Ane susah membentuknya menjadi bulat saat perebusan. So, semua bakso itu sudah pasti ada campurannya cuman yang membedakan adalah seberapa banyak perbandingan antara daging bakso dengan campurannya tersebut.
Back to topik, tak lupa Ane bertanya kepada bapak bagaimana dengan rasa baksonya? Dia bilang bakso ini memang berbeda dengan bakso-bakso pada umumnya dijual. Rasanya gurih dan sangat khas serta sepertinya campurannya tidak banyak. Secara keseluruhan Bakso Son Hajisony ini rasanya "Wuenak tenan, Le Leduk". Untuk itu

Tak habiskan, begitu juga dengan bapak
Puas makan, kini saatnya Ane membayarnya. Tapi sebelumnya menunggu bapak dahulu untuk pergi ke kamar kecil. Seporsi Bakso Son Hajisony ini dibanderol dengan harga 15k, sementara segelas aqua kecil hanya dihargai 0,5k saja. Total uang yang harus kita keluarkan secara keseluruhan adalah 31k saja. Gimana cukup ekonomis dan tidak merogoh kocek terlalu dalam bukan? Eow iya bakso yang kita pesan ini adalah bakso mie. Sobat bisa memilih jenis-jenis bakso lainnya seperti bakso polos dan mie ayam bakso. Bahkan selain bakso, sobat juga bisa memesan jenis makanan lainnya seperti mie ayam, rolade sapi, dan rolade ayam. Tidak mau dimakan di tempat dan ingin di bawa pulang? juga bisa. Lebih dari itu sobat pun bisa hanya beli baksonya saja yang tersedia dalam kemasan. Untuk 50 biji bakso dibanderol dengan harga 120k. untuk lebih jelasnya silahkan sobat lihat sendiri daftar menu makanannya berikut ini.


Jam buka warungnya dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB
catatan:
Mungkin sobat pernah menjumpai warung makan bakso dengan membawa brand "Bakso Sony". Anepun sering mengalami demikian seperti di Jl. Lintas Timur Unit 2 Tulang Bawang dan di Desa Brabasan Kabupaten Mesuji. Mungkin saking terkenalnya nama tersebut mulai dipakai oleh warung-warung bakso lainnya. Ane pernah mencobanya di unit 2 tersebut dan ternyata rasanya tetap kalah enaknya dibandingkan dengan Bakso Son Hajisony. Jadi sobat harus jeli dalam melihatnya jika ingin merasakan nikmatnya Bakso Son Hajisony tersebut.
Let's Go

Sabtu, 24 Februari 2018

Gapura Bambu Pringsewu Lampung, Unik dan Tak Biasa

Kembali dari Kota Yogyakarta dimana sudah 10 tahun Ane berada disana dalam menuntut ilmu, Ane pulang ke kampung halaman di Lampung. Ya, Ane dilahirkan di Lampung dimana banyak berita buruk yang disematkan kepadanya mulai dari kasus register 45 yang ada di Kabupaten Mesuji, pembegalan hingga berujung pembunuhan, dan lain sebagainya. Pokoknya tidak ada bagus-bagusnya. Banyak orang luar daerah yang takut bila datang ke Lampung karena alasan tersebut. Jangankan orang luar daerah, Ane sendiri pun terkadang merasa takut bila keluar rumah dan pergi ke tempat baru. Hal ini sempat Ane alami saat mengantarkan ayah Ane ke tempat kakak kandungnya yang tak lain dan tak bukan adalah Pak De Ane.



Rumah Pak De tersebut ada di Tulang Majak, Kabupaten Tanggamus. Banyak berita yang beredar mengenai tempat itu, mulai dari pemalakan, pembegalan hingga bisa berujung kematian. Sebagai seseorang yang pernah mengenyam pendidikan di ilmu sains, lantas Ane tak mempercayainya begitu saja. Ane searching sana, searching sini di internet mencari sebuah informasi tentang kebenaran berita tersebut, dan bila memang benar, tempat mana lagi yang perlu diwaspadai?. Ternyata benar kabar yang beredar di masyarakat bukan isapan jempol semata. Berdasarkan informasi yang berhasil Ane dapatkan bahwa titik rawan kejahatan itu mulai dari Kawasan Batu Keramat hingga Kota Agung (Ibukota Tanggamus). Kejahatan disini tidak mengenal waktu, ntah pagi, siang, sore atau malam hari kejahatan itu bisa saja terjadi. Tapi ada saat waktu yang perlu diwaspadai bagi siapapun yang ingin melewati jalan ini yakni sore hari. Jangan sampai melewati jalan ini diatas jam 4 sore. Ane yang tak mengenal kawasan tersebut dengan baik hanya manggut-manggut saja dan mematuhinya.



Awalnya Ane sempat ragu-ragu mengantarkan ayah Ane dengan menggunakan kendaraan sepeda motor, secara jarak rumah Pak De Ane dengan rumah Ane terbilang cukup jauh yakni sekitar 300 Km. Ibarat di Pulau Jawa jaraknya antara Kota Jogja dengan Surabaya. Pernah terlintas dalam benak Ane sebaiknya kita menggunakan jasa travel atau bus saja. Tapi yang jadi masalah adalah tidak adanya bus maupun travel yang sampai di tempat tujuan kita. Disinilah Ane mengalami dilema, apakah Ane mengantarkan ayah menggunakan sepeda motor dengan resiko yang cukup besar ataukah dengan menggunakan jasa travel atau bus yang resikonya lebih kecil namun tidak sampai di tempat tujuan. Timbang-menimbang dengan tekad kuat akhirnya Ane memutuskan untuk mengantarkan ayah menggunakan sepeda motor.



Salah satu keuntungan bepergian menggunakan kendaraan pribadi adalah bisa mampir dimana saja dan kapan saja sesuai dengan kehendak hati kita. Tentu, siapa saja pasti suka dengan tempat-tempat yang menarik. Tak terkecuali dengan kita. Salah satu tempat menarik yang kita lewati saat menuju Tanggamus adalah Kawasan Gapura Bambu Pringsewu. Tapi Ane memutuskan untuk lanjut saja dan berencana mampir setelah pulang dari sana karena kita tak mau kesorean sampai di Kawasan Batu Keramat.
Syukur kekhawatiran kita tak terjadi, berangkat aman, pulang pun aman. Kini, sesampainya di Kawasan Pringsewu akhirnya kita benar-benar menyempatkan diri di tempat dimana Ane selalu menantikannya yakni Kawasan Gapura Bambu pringsewu yang terletak sekitar 37 Km sebelah barat dari Kota Bandar Lampung.
"Sambil menyelam minum air", mungkin itulah sebuah pribahasa yang tepat untuk menggambarkan kegiatan kita ini. Selain beristirahat sejenak juga kita dapat menikmati segala pemandangan yang ada. Gapura Bambu yang memukau ini memang dibangun sebagai tempat peristirahatan sejenak (rest area) sekaligus menjadi ikon bagi Kabupaten Pringsewu itu sendiri. Siapapun yang pernah melakukan perjalanan menuju Pringsewu dari Kota Bandar Lampung pasti pernah melihat gapura ini.



Ya, Gapura Bambu yang bertuliskan "Selamat Datang di Ibukota Kabupaten Pringsewu" bila datang dari arah Kota Bandar Lampung dan bertuliskan "Selamat Jalan Dari Ibukota Kabupaten Pringsewu" bila datang dari arah Kota Pringsewu ini rupanya telah berhasil menarik perhatian Ane. Bagaimana tidak sebuah gapura yang pada umumnya dibangun seperti itu-itu saja, tidak dengan yang satu ini. Gapura ini dibangun menyerupai bahkan sama persisnya dengan bentuk bambu berwarna kuning yang melengkung dimana kedua ujungnya ada dikedua sisi jalan. Ada 8 buah bambu yang melengkung dan terbagi menjadi 2 buah ikatan. Ikatan pertama terdiri dari 4 buah bambu yang ada disebelah kanan jalan dan ikatan yang kedua juga terdiri dari 4 buah bambu yang ada disebelah kiri jalan. Kedua ikatan tersebut melengkung dan bertemu tepat ditengah-tengah jalan dengan diatasnya terdapat sebuah mahkota Siger yang merupakan simbol kebanggan bagi Provinsi Lampung.




Nama "pringsewu" sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti "Bambu Seribu" sehingga tak heran bila gapura bambu ini dibangun. Sebenarnya tak hanya berupa bangunan gapuranya saja yang membuat kita memutuskan untuk mampir, tetapi juga suasananya. Di samping kanan dan kiri kawasan gapura bambu terdapat hamparan sawah yang cukup luas dengan tanaman padi yang menghijau. Tampak dikejauhan sana deretan perbukitan yang cukup oke. Jadi pas bila beristirahat sejenak sambil melihat semua pemandangan yang ada.
Sebagai rest area tentu beragam fasilitas sudah tersedia, mulai dari toilet, musholla kecil, tempat parkir, rumah makan, hingga ada juga lho rumah adat yang pastinya rumah adat tersebut adalah rumah adat Kabupaten Pringsewu.



Saat pertama kali mampir kesini Ane bingung dengan letak toiletnya, dimanakah toilet itu berada? kebetulan Ane sedang kebelet. Jadi, setelah memarkirkan kendaraan motor di tempat parkir yang cukup luas, Ane mencarinya. Ew ternyata letak toiletnya itu agak tersembunyi berada di sebelah kiri Dewan Kerajinan Nasional (DKN), sebelah rumah makan. Dari Musholla, Ane berjalan kearah kiri (barat) hingga menemui DKN. Setelah itu belok kearah kanan hingga mentok, nah toilet ini berada persis sebelum lahan sawah.



Selepas dari toilet lantas kita tak begitu saja meninggalkan lokasi ini, melainkan kita mampir sebentar di sebuah kedai. Dari sederetan kedai yang menawarkan beragam jenis makanan ringan dan minuman, Ane lebih memilih sebuah kedai yang berada tepat didepan rumah adat. Kan, selain meminum kopi juga dapat melihat dengan jelas rumah adat khas dari Kabupaten Pringsewu ini. Rumah berbentuk panggung dengan warna cokelat yang mendominasinya.



Ane rasa bukan hanya orang yang sedang melakukan perjalanan jauh di jalur lintas barat saja yang mampir kesini, tetapi juga penduduk sekitar. Hal ini terlihat dari semua pengunjung yang datang, ada orang tua bersama anaknya duduk-duduk di pinggir sawah, anak sekolah, hingga muda-mudi yang asyik nongkrong-nongkrong disekitar gapura. Semuanya tanpa mengenakan helm dikepalanya.
Puas beristirahat, Ane bersama bapak melanjutkan kembali perjalanan kita menuju Kota Bandar Lampung sebelum pulang ke rumah. Kira-kira ngapain aja ya sob kita di Kota bandar Lampung? tunggu cerita Ane selanjutnya ya, Sampai Jumpa!
Let's Go

Kamis, 15 Februari 2018

Taman Kehati, Objek Wisata Kebanggaan Masyarakat Mesuji Lampung

Asyik juga ternyata renang di Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) yang merupakan salah satu obyek wisata yang ada di Kabupaten Mesuji Lampung tepatnya berada di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Tanjung Raya. Tak banyak memang tempat-tempat menarik yang ada di tempat kelahiran Ane ini, namun dengan hadirnya obyek wisata ini setidaknya bisa mengobati kangen Ane terhadap dunia jalan-jalan. Ane kira tak hanya Ane saja yang senang, melainkan seluruh warga masyarakat Mesuji. Sebenarnya nggak ada niat sieh sob Ane mengunjungi tempat ini, karena berhubung ibu Ane yang ngajak jadilah Ane menuju kesini.


Hari Sabtu 20 Mei 2017 Akhirnya Ane benar-benar meluncur kesini. Kali ini Ane tak sendiri sob selain dengan Ibu Ane, Ane juga bersama dengan murid-murid TK Ibu Ane berserta orang tuanya. Perjalanan ini sungguh bisa membuat Ane bahagia, bagaimana tidak dengan banyaknya sahabat yang ada, kita bisa bergurau bersama. Dan yang paling penting nantinya bisa minta bekal siang kepada mereka, hahaha.
Inilah Mesuji dengan segala keadaannya. Berbeda dengan pemandangan alam yang ada di Pulau Jawa pada umumnya, di Mesuji ini tak banyak yang dapat Ane saksikan. Sepanjang perjalanan pemandangan yang dapat Ane lihat hanyalah tanaman pohon karet dan sawit saja. Tak hanya itu kondisi jalanpun masih banyak yang berlubang parah, sehingga dengan menaiki kendaraan bermotor maka serasa menaiki kendaraan hewan berkaki empat khususnya kuda. Hanya beberapa kilo saja kita melalui jalan beraspal mulus itupun jalan lintas timur yang merupakan jalan nasional, tapi setelah itu kembali lagi kita harus melalui jalan beraspal dan berlubang.
Tak perlu kehilangan sepeserpun untuk sampai sini, cukup dengan duduk manis saja Ane sudah sampai di TeKaPe. Ya, inilah kali pertama Ane menginjakkan kaki disini. Obyek Wisata Taman Kehati ini terbilang baru, karena baru diresmikan sebulan yang lalu tepatnya tanggal 12 April 2017. Walau demikian berkaitan dengan jumlah pengunjungnya, obyek wisata ini tak bisa dianggap remeh karena Ane melihat dengan mata kepala Ane sendiri pengunjungnya itu sungguh bejibun.


Untuk dapat memasuki obyek wisata ini, setiap pengunjung hanya perlu membayar tiket sebesar 12k saja dengan rincian 10k untuk tiket masuknya dan 2k untuk parkirnya. Tempat parkirnya sangat luas sekali sehingga hal ini sangat memudahkan pengunjung untuk dapat memarkirkan kendaraannya. Dari tempat parkir Ane memilih untuk melihat-lihat sekitar dahulu sebelum masuk kedalam. Dibagian depan terdapat sebuah Tugu Kalpataru yang dicat berwarna-warni. Bagian bawah dari tugu tersebut dibangun menyerupai balok-balok yang disusun mengerucut keatas, sedangkan dibagian atasnya terdapat tangan yang sedang membawa bulatan bergambarkan akar pohon.



"Oke sekarang saatnya menuju kedalam, fikirku". Meskipun baru dibuka, Ane sungguh kagum dengan obyek wisata ini lho sob. Fasilitasnya terbilang cukup komplit, mulai dari lapak para pedagang yang tersusun rapi, kamar kecil dengan airnya yang cukup lancar, serta tempat duduk ada dimana-mana. Selain itu fasilitas pokoknya cukup banyak diantaranya fasilitas bermain anak, kolam pemancingan, kolam renang, jogging track, taman bunga, hingga taman burung.




Rasanya Ane tak sabar ingin segera menceburkan diri saat melihat kolam renang. Ada sekitar 5 buah kolam renang dengan kedalaman berbeda yang dapat Ane nikmati. Ada kolam renang yang bisa digunakan oleh anak-anak yang dilengkapi dengan fasilitas permainannya seperti ember tumpah, prosotan, dan berjalan diatas air. Ada kolam renang yang bisa digunakan oleh siapa saja dengan kedalaman yang sedang, bahkan ada kolam renang yang hanya dikhususkan untuk orang yang bisa berenang saja.




Lalu dimanakah Ane harus menceburkan diri? tentu di kolam renang yang paling dalam tow sob, masa iya dikolam yang dangkal berenang bersama adik-adik kecil, kan malu :-). Berhubung Ane kesininya bersama Ibu Ane maka urusan pakaian tak jadi masalah. Ane titipkan kepada beliau, soalnya beliau sendiri tak mau Ane ajak mandi walaupun sudah berulang kali Ane membujuknya. Yasudahlah!
Byurrrrr, masuklah Ane kedalam kolam tersebut. Berbagai macam aktifitas Ane lakukan, selain berenang kesana-kemari juga melakukan jumping dari atas dengan ketinggian sekitar 3 meter. Awalnya sempat ragu-ragu juga apakah bisa Ane melompat dari atas ketinggian tersebut, eh ternyata setelah mencobanya malah membuat Ane ketagihan untuk mengulanginya. Hulala, sensasinya sungguh luar biasa dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.




Tidak terasa sudah 2 jam Ane berenang disini, rasanya sudah cukup puas hingga lapar menghampiri perut. Berbagai macam gaya sudah Ane lakukan mulai dari gaya punggung hingga gaya batu, hahaha. Yang jelas minum juga puas. Setelah bersih-bersih diri, kemudian Ane makan. Setelah itu Ane melanjutkan lagi penjelajahan Ane.
Diantara semua fasilitas yang ada yang paling banyak dikunjungi selain di kolam renang yaitu Taman Burung. Ada banyak jenis unggas berada di dalamnya. Pokoknya kalau kesini dijamin tidak rugi deh sob, selain bermain kita juga dapat belajar.




Mantab!!!
Untuk dapat sampai disini, berikut arahan jalannya:
Dari Kota Bandar Lampung Obyek Wisata Taman Kehati ini dapat ditempuh selama 5 (lima) jam perjalanan darat melalui jalan lintas timur. Saat memasuki Kabupaten Mesuji dan bertemu dengan Kantor POLRES Mesuji, ada 2 jalan yang dapat digunakan untuk sampai kesini. Pertama, sobat bisa belok kearah kanan (timur) karena tepat sebelum Kantor POLRES ada belokan jalan yang mengarah kekanan. Ikuti jalan ini dengan kondisi jalan yang awalnya baik kemudian berangsur menjadi rusak parah hingga sejauh kurang lebih 11 Km. Setelah bertemu dengan kantor pos dan maju sedikit ada sebuah pertigaan. Beloklah kearah kiri. Ikutilah jalan ini dengan kondisi jalan yang cukup baik hingga kira-kira sekitar 3 Km, sobat akan bertemu dengan perempatan jalan. Jangan belok-belok, masih lurus lagi dan tak lama kemudian sampailah sobat di tempat yang sobat maksud.
Dan yang kedua, sobat bisa belok kearah kanan (timur) setelah bertemu SMAN 1 Simpang Pematang. Caranya, dari POLRES Mesuji maju sedikit sobat akan bertemu dengan pertigaan jalan, bila kearah kiri maka akan sampai di Palembang dan Kota-kota besar di Pulau Sumatera dan bila lurus akan sampai di SMAN 1 Simpang Pematang. Nah, lurus saja hingga sejauh kurang lebih 3 Km. Setelah bertemu dengan SMAN 1 Simpang Pematang yang ada di kiri jalan, tepat setelahnya ada perempatan jalan. Beloklah kearah kanan (timur). Mula-mula kondisi jalannya cukup bagus, tetapi lama-kelamaan kondisi jalannya berubah menjadi cukup parah. Dari SMAN 1 Simpang Pematang tersebut, sejauh kira-kira 11 Km sobat akan bertemu dengan perempatan jalan. Beloklah kearah kiri dan tak lama kemudian sampailah sobat di tempat yang sobat maksud.
Let's Go

Selasa, 16 Januari 2018

Menyantap Ingkung Ayam Mbah Cempluk Bersama Keluarga

Hai, hai, hai, gimana nieh sob kabarnya? semoga baik-baik saja ya. Nah, kali ini Ane mau bercerita tentang petualangan Ane mencari kuliner di salah satu warung yang ada di Yogyakarta yakni Warung Ingkung Ayam Mbah Cempluk. Alamatnya ada di Dusun Santan, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Sudah lama sieh sob Ane mengetahui keberadaan warung ini, namun karena dalam otak Ane sudah terlanjur menjustifikasi kalau kuliner yang berkaitan dengan ingkung itu masaknya harus utuh maka Ane urungkan niatan Ane tersebut. Baru setelah ada waktu dan moment yang pas jadilah Ane mengunjunginya.
Dikalangan masyarakat Jawa tentu sudah tak asing lagi dengan yang namanya "ingkung". Mendengar kata "ingkung", pasti fikiran kita langsung pada sebuah acara maupun ritual tertentu. Jadi ingkung ini tidak untuk dikonsumsi sehari-hari. Dimana didalam acara tersebut harus ada ingkung, yakni ayam yang dimasak dan disuguhkan secara utuh walaupun pada akhirnya ya dipotong-potong juga. Kini anggapan tersebut dipatahkan oleh warung ini dimana ingkung tak hanya dikonsumsi saat ada acara saja melainkan bisa dijadikan santapan sehari-hari.



Inilah moment yang Ane rasa tepat buat mengunjunginya. Kenapa begitu? karena Ane baru saja diwisuda dari kampus Ane dan dihadiri oleh keluarga. Berita ini adalah berita bahagia bukan? maka dari itu rasa bahagia dan syukur ini Ane rayakan bersama keluarga dengan menikmati olahan berupa ingkung.
Awalnya ide ini muncul dari dalam otak Ane, saat itu Ibu Ane bertanya kepada Ane hendak mau makan apa dan dimana? tanpa fikir panjang Anepun langsung menjawabnya di Warung Makan Ingkung Ayam Mbah Cempluk. Syukur Ibu Anepun langsung menyetujuinya, jadilah kita capcus menuju kesana.
Sesampainya di Perempatan Klodran Bantul, kendaraan kita arahkan kearah kanan hingga sejauh kurang lebih 5 kilometer sampailah kita di TeKaPe. Awalnya Ane mengira kalau disini hanya terdapat satu warung ingkung saja, ew nggak tahunya ada beberapa. Dari kesemua warung ingkung yang ada, justru warung Ingkung Ayam Mbah Cempluk inilah yang menurut Ane paling tersembunyi. Dari jalan beraspal harus masuk lagi melalui jalan berupa blok yang disamping kanan dan kirinya terdapat areal persawahan. So, kalau sobat datang kesini jangan salah ya dan harus cermat. Woke???



Mungkin lagi sepi, sesampainya disini tak ada kendaraan yang sedang parkir padahal tempat parkirnya cukup luas. Tapi sesaat kita masuk, ada dua buah mobil yang berdatangan. Kalau dilihat yang datang adalah rombongan keluarga besar. Ane fikir memang cocok kalau datang kesini bersama keluarga, selain ingkung memang cocok dinikmati lebih dari dua orang juga bisa mempererat tali keluarga.



Ada beberapa tempat yang bisa digunakan oleh para pengunjungnya untuk menikmati menunya sob. Mau dibagian depan, bisa! dan mau dibagian belakang pun sangat bisa karena tempatnya sangat luas sekali. Tempat duduknya berupa lesehan dan struktur bangunannya semua terbuat dari bambu kecuali atapnya yang terbuat dari rumput alang-alang. Sesaat setelah memilih posisi tempat duduk, seorang pelayan pun datang menghampiri kita. Beliau menyodorkan daftar menu yang tersedia. Kita berdelapan sehingga kita memesan dengan sistem paket saja. Satu paket lengkap untuk 6 orang seharga 240k dan ditambah 1 paket murah perorangan seharga 30k. Nah lo, kalau ada paket murah perorangan, kenapa Ane nggak dari dulu saja ya berkunjung kesini?, ah tak apa-apalah. Jadi disini itu kita disuruh memilih mulai dari jenis makanan, minuman hingga nasinya. Mau ingkung ayam goreng atau ayam areh, minumannya apa dan nasinya mau nasi putih atau nasi gurih. Setelah rembukan akhirnya kita sepakat pesan ingkung ayam areh, minumannya es teh dan nasinya nasi gurih. Masa lauknya sudah ingkung tapi nasinya nasi putih, kan kurang afdol, ya nggak sob?.
Cukup lama kita menunggu, ya sekitar 30 menitan lah dan semua pesanan yang kita pesan sudah datang. Awalnya Ane mengira kalau satu paket menu lengkap itu hanya terdiri dari ingkug ayam utuh, nasi gurih dan segelas teh saja. Ternyata tidak, masih ada menu tambahan lainnya yakni sepiring wader krispi, sepiring wader lombok ijo, sepiring tahu dan tempe, lalapan buah mentimun serta urap. Namanya saja ingkung ayam areh, jadi ya ada putih-putihnya gitu.




Seporsi ingkung ayam siap dieksekusi, mantab surantab
Lalu sekarang bagaimanakah dengan rasanya? setelah Ane coba ternyata hulala ingkungnya sangat empuk, mungkin sudah dimasak dalam tempo yang cukup lama. Bumbu arehnya pun terasa gurih di mulut. Sekarang berpindah ke wader krispinya, ternyata rasanya nggak kalah gurih dibandingkan ingkung ayamnya terasa kriuk-kriuk. Tak kalah lezatnya lagi rasa yang ditawarkan oleh wader lombok ijonya, semua urat dalam lidah saya bisa merasakan betapa ndesonya menu ini. Gurih berpadu dengan pedas. Semua pas disajikan bersama nasi gurih yang dimasak secara tepat sehingga pulen. Secara keseluruhan, Ingkung Ayam Mbah Cempluk ini rasanya "Wuenak tenan, Le leduk". Untuk itu tak kasih jempol.




Semuanya ada sisa sedikit. Maklum ibu-ibu, tanpa malu-malu ibu Ane meminta kepada salah satu pelayannya untuk membungkus sisa makanan yang ada dan pelayan tersebutpun dengan senang hati meladeninya. Mantabe'. Berhubung Ane kulineran bersama keluarga, maka semuanya sudah ditanggung oleh orang tua, hehehe.
Jam buka warungnya: 09.00 WIB hingga 21.00 WIB.
Let's Go

Senin, 01 Januari 2018

Perjalanan Pulang dari Bali Menuju Kota Jogja

Sudah 2 minggu lebih Ane menjelajah Pulau Dewata. Banyak suka maupun duka yang Ane alami disini. Sukanya Ane bisa pergi kapan dan kemanapun yang Ane mau karena Ane membawa sepeda motor sendiri dan dukanya karena Ane hanya seorang diri maka terkadang Ane merasa bosan dan jenuh saat berada di perjalanan, tak ada yang bisa Ane ajak untuk bercakap-cakap. Tapi tak apa-apa dengan berpergian seorang diri, Ane bisa mengambil banyak pelajaran hidup diantaranya masih banyak orang-orang yang baik di negara tercinta ini dan Ane semakin mengenal diri Ane sendiri.
Perjalanan ini sepertinya harus Ane akhiri sampai disini. Ya, pada tanggal 9 Oktober 2016 akhirnya Ane benar-benar mengakhiri penjelajahan Ane di Pulau Dewata yang indah nan cantik ini. Selain obyek-obyek wisata yang masuk dalam daftar kunjungan Ane sudah Ane jelajahi semua juga karena uang yang ada didalam kantong sudah mulai menipis, :-)



Sehari sebelumnya Ane berpamitan dengan mas Wahyu seorang pemilik penginapan dimana tempat Ane menginap dan bersiap-siap mengemas semua barang-barang pribadi Ane mulai dari barang-barang yang Ane bawa dari Jogja hingga barang-barang yang Ane beli saat berada di pulau ini. Semua barang Ane kemas dalam 2 tas, tas carrier Ane isi dengan semua jenis pakaian dan peralatan mandi. Sedangkan tas ransel Ane isi dengan seperangkat kamera dan alatnya serta barang-barang yang Ane anggap sangat penting sekali.
Agar tak kesiangan bangun pagi, setelah makan sore di Warung Makan khas Surabaya yang beralamatkan di Jl. Nangka Utara Ane bergegas masuk kedalam kamar. Sebelum tidur Ane atur alarm di HP Ane pukul 3 pagi Wita. Memang jam-jam segitu kebanyakan orang masih tertidur dengan pulas, ada yang masih mengorok, mendengkur hingga bermimpi. Tapi karena Ane suka bepergian sepagi mungkin, maka hal itu Ane rasa tak jadi masalah.
Kukuruyuk, kukuruyuk, kok...
Beruntung hari ini sesuai dengan rencana, Ane bangun tepat jam 3 pagi. Tanpa bermalas-malasan segera Ane turunkan kaki Ane dari tempat tidur. Ane mandi, beberes dan setelah itu mengangkat semua barang-barang pribadi Ane ke kuda hijau. Kini dengan tekad kuat meluncurlah Ane pulang menuju ke Kota Yogyakarta.
Perjalanan pagi sungguh menyenangkan, walaupun terbilang ramai Jl. Raya Denpasar-Gilimanuk ini masih dalam keadaan fresh dan segar. Belum banyak kendaraan yang melintas sehingga Ane bisa ngebut semau Ane. Berhubung Ane bertemu dengan POM Bensin yang terletak disebelah kiri (selatan) jalan maka Ane mampir sebentar untuk mengisi bahan bakar. ya, tanda bensin yang ada di kuda hijau Ane sudah menunjukkan kearah warna merah dan nggak lucu kan kalau nantinya motor ini kehabisan bensin di jalan? Setelah mengisi bensin Ane lanjutkan lagi perjalanan menuju Pelabuhan Gilimanuk. Kurang lebih 4 jam perjalanan kini Ane sampai di pelabuhan tersebut.
Sebelum melalui pemeriksaan petugas, Ane disuruh membayar dahulu retribusi terminal manuver Gilimanuk sebesar 1k. Hal ini berbeda saat menyeberang dari Pelabuhn Ketapang Banyuwangi ke Pelabuhan Gilimanuk, Ane tak disuruh bayar seperti ini. Hanya saja setelah melewati pemeriksaan para petugas Ane disuruh membayar tiket penyeberangan sebesar 22k. Besarannya pun sama saat dari Pelabuhan Ketapang ke pelabuhan ini. Namun sebelumnya Ane harus mengisi sejumlah data informasi tentang Ane dan kuda hijau Ane.



Saat mengisi, ada seorang laki-laki setengah baya sedang membawa barang dagangannya mendekati Ane. Ia menawarkan bantuan kepada Ane untuk mengisi data, tapi Ane tolak karena ada udang dibalik bakwan. Apalagi kalau bukan mengharapkan uang ataupun agar Ane membeli barang dagangannya. Nampaknya Ia tak menyerah begitu saja, Ia tetap ada disamping Ane. Lama-kelamaan Ane kok nggak tega terhadapnya, yasudahlah akhirnya Ane sekedar tanya-tanya dan setelah itu Ane beli sebotol aqua darinya.
Setelah semuanya beres, Ane segera menuju ke kapalnya. Beruntung saat Ane sampai, kapal yang akan Ane naiki sedang melakukan pengeluaran kendaraan yang menuju ke daratan Pulau Dewata sehingga tak lama lagi Ane segera menaikinya. Kapal-kapal yang ada disini rata-rata memiliki badan yang cukup kecil tak terkecuali dengan kapal yang akan Ane naiki ini, mungkin hal ini menyesuaikan dengan padat atau tidaknya angkutan penyeberangan. Ketika kendaraan yang ada didalam kapal sudah keluar semua, Ane disuruh oleh petugs untuk sesegera mungkin masuk kedalam kapal. Ane kendarai kuda hijau Ane dengan hati-hati masuk kedalam kapal tersebut.
Sebagai pengendara motor Ane diarahkan untuk menempati bagian terdepan kapal. Lalu Ane standarkan kuda hijau Ane dengan 2 kaki. Setelah itu Ane kunci stang dan kemudian Ane bawa semua barang bawaan keatas kapal. Penumpangnya cukup sedikit sieh tapi Ane harus tetap waspada dengan kondisi sekarang ini.
Selama diatas kapal tak banyak aktifitas yang Ane lakukan. Ane hanya mengamati birunya air laut dan gunung-gunung berdiri megah jauh disana. Satu jam berlalu, syukur kapal yang Ane naiki akhirnya bersandar. Ane segera turun kebawah dan siap-siap untuk melakukan perjalanan yang lebih jauh lagi menjelajah jalanan di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ini bukan hal yang baru lagi bagi Ane, tentu sebelumnya Ane sudah melewati jalan ini saat berangkat. Bedanya saat berangkat Ane sampai di Jawa Timur khususnya di Kabupaten Banyuwangi hari sudah petang dan kini saat pulang hari masih pagi.



Keluar dari kapal segera Ane pacu kuda hijau Ane kembali melintasi jalanan yang ada. Ditengah jalan Ane menemukan POM Bensin, Ane lihat penanda bahan bakar ternyata sudah menunjukkan ke angka merah. Tak mau mengambil resiko, Ane mampir sebentar buat mengisi bahan bakar tersebut dan beristirahat sejenak. Tak seperti POM Bensin yang ada di Bali yang rata-rata tidak memiliki kamar kecil maupun tempat ibadah bagi umat islam, di POM ini memiliki keduanya sehingga Ane dengan leluasanya menggunakan fasilitas tersebut.
Tak lama Ane berada disini, ya sekitar 20 menitan lah. Sesegera mungkin Ane pacu kuda hijau kembali untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju pulang ini terbilang cukup berat. Tak berapa lama berkendara langit tampak menghitam dengan angin berhembus tak terlalu kencang. Bagaimanapun Ane tak bisa melawan takdir, hujan pun akhirnya turun. Sebenarnya sieh Ane bisa melanjutkan perjalanan menggunakan mantol, tapi Ane tidak melakukannya. Iya kalau Ane lakukan ada hal yang Ane korbankan, Ane tidak basah tapi tas karrier Ane basah dan begitupula sebaliknya. Bagaimana tidak tas karrier Ane sendiri tingginya lumayan sehingga mantol yang Ane punya tidak bisa mencakupnya. Ane lebih memilih menepi sebentar, juga karena Ane belum memasuki sebuah hutan yang cukup luas dengan disamping kanan dan kiri jalan tak ada bangunan yang berdiri. Hutan yang Ane maksud ini adalah Taman Nasional Baluran.
Setelah hujan reda, Ane lanjutkan lagi perjalanan Ane. Suasana yang berbeda saat memasuki Taman Nasional Baluran. Saat berangkat Ane tak dapat menatap indahnya pemandangan ini karena sampai disini hari itu sudah petang dan kini Ane bisa menatapnya. Selama perjalanan yang Ane lihat hanyalah pepohonan jati yang memiliki daun tak lebat, tak ada bangunan yang berdiri kecuali gubuk-gubuk kecil yang memang sengaja disediakan bagi pengendara untuk beristirahat sejenak dan nampak satu dua kali binatang-binatang kera berkeliaran turun ke jalan meminta upeti kepada setiap pengendara.



Disini Ane merasa khawatir dengan kuda hijau Ane. Ane tak bisa membayangkan betapa sulitnya kalau kuda hijau Ane tiba-tiba rusak ditengah jalan, distarter nggak mau hidup, di oglek juga nggak mau, busi apinya sudah habis, ban bocor, atau kerusakan lainnya yang nggak bisa Ane atasi sekarang. Pasalnya tak sedikit kendaraan yang Ane temui mengalami hal demikian terutama pada kendaraan roda empat. Hmmmm, Ane hanya bisa berdo'a dan berdo'a.
Alkhamdulillah, walsyukurillah, walnikmatillah, hati terasa lega ketika Ane sudah menemukan bangunan-bangunan rumah lagi yang berdiri disepanjang sisi jalan. Ane pun berhenti saat Ane melihat sebuah monumen yang bertuliskan 1000 Km Anyer Panarukan yang berada di kiri jalan. Sebenarnya saat berangkat Ane pun melihatnya, tapi berhubung hari itu sudah sore jadinya ya lanjut terus. Kini Ane bisa foto bersama sepuas-puasnya karena tak ada seorangpun yang sedang mengunjunginya.



Setelah puas, Ane melanjutkan lagi perjalanan Ane menuju kearah barat. Banyak obyek-obyek wisata yang sebenarnya Ane ingin singgahi, salah satunya Pantai Pasir Putih Situbondo. Tapi karena penyakit malas yang Ane derita saat di perjalanan ditambah tidak ingin kelamaan sampai di tempat tujuan, jadi ya Ane hanya melewatinya saja. Begitupula saat melewati SPBU Utama Raya Paiton, tetap saja lanjut terus hingga sampai di Kabupaten Probolinggo.



Drama terjadi saat keluar dari Kota Pasuruan. Ane kurang begitu paham dengan papan petunjuk jalan yang ada. Bila kearah kanan (utara) maka akan sampai di Kota Surabaya, bila kearah kiri (selatan) akan sampai di Kota Malang dan bila kearah lurus (barat) maka akan sampai di Kota Mojokerto. Nah ini dia yang sempat membuat Ane kebingungan. Kalau kearah kanan jalannya cukup lebar dan meyakinkan pasti sampailah ke Kota Surabaya, hal sama terjadi kearah Kota Malang. Tapi kalau kearah Kota Mojokerto jalannya ituloh cukup sempit dan bisa dibilang tak bagus. Akhirnya Ane memutuskan untuk belok kearah kanan dan mencari jalan alternatif. Beberapa kali Ane harus bertanya kepada seseorang yang Ane temui di jalan apakah benar jalan ini menuju Kota Mojokerto. Tak terkecuali bertanya kepada beberapa anggota polisi yang sedang beristirahat disalah satu warung milik warga. 
Ane         : Permisi Pak, ma'af mengganggu. Saya mau tanya apakah 
              benar jalan ini menuju Kota Mojokerto via Mojosari?
Bapak Polisi: Ya, salah mas. Ini kalau lurus terus sampai di 
              Surabaya. Masnya darimana?
Ane         : Saya dari Bali Pak dan sekarang mau pulang ke Jogja!
Bapak Polisi: Eow, benar kalau lewat Mojosari mas. Ini aja mas, 
              masnya lurus lagi, nanti setelah ketemu lampu merah 
              masnya ambil saja kekiri. Nanti itu ke Mojokerto mas 
              lewat Mojosari!
Ane         : Eow gitu. Terimakasih ya Pak ya!
Bapak Polisi: Sama-sama mas dan selalu hati-hati dijalan.
Ane         : Baik Pak!
Benar saja, tak jauh dari tempat bertanya tersebut Ane bertemu dengan perempatan lampu merah. Langsung saja Ane mengikuti intruksi yang diberikan oleh Bapak Polisi itu yaitu belok kearah kiri. Sepanjang perjalanan ini Ane seperti berkendara searah mengikuti aliran sungai. Ya, disamping kiri jalan yang Ane lihat adalah sungai dan sungai. Pada awalnya jalan ini cukup bagus, tapi lama-kelamaan jalan berubah menjadi tak bagus lagi, aspal mengelupas sehingga menaiki kuda hijau Ane ini benar-benar serasa menaiki kuda beneran. Hingga akhirnya kurang lebih 20 Km berselang sampai juga Ane di Mojosari. Hati terasa lega karena jalan ini benar-benar yang Ane maksud. Cukup lama Ane berkendara dari Mojosari ini dan ntah bagaimana ceritanya akhirnya sampai juga Ane di Kota Mojokerto. Dari sini tow Ane sudah tak bingung lagi dengan jalan menuju pulang.



Perjalanan sungguh berat Ane rasakan dalam menuju pulang ini. Bagaimana tidak, setelah melewati Kota Jombang dan sampai di Kertosono Nganjuk Ane diguyur hujan yang sangat lebat. Terpaksa Ane harus menepi dulu menunggu hujan reda. Beruntung hujan turun tidak lama sehingga Ane bisa melanjutkan lagi perjalanan, lagi-lagi hujan turun saat memasuki Kabupaten Madiun dan Ngawi. Terpaksa di Kabupaten Ngawi Ane mampir sebentar disalah satu rumah warga. Karena hari sudah malam sekitar jam setengah 8, Ane memiminta izin untuk berteduh sebentar. Syukur, Ane pun diperbolehkan untuk berteduh. Bahkan Sang anak dari pemilik rumah tersebut mengajak Ane bicara panjang lebar. Intinya dia pernah ke Jogja beberapa bulan lalu bersama teman-temannya. Namun mereka hanya mengunjungi beberapa tempat saja seperti Malioboro dan Kawasan Nol Kilometer, Pantai Parangtritis, dan Candi Prambanan saja. Tak banyak yang mereka lakukan.
Hujan yang Ane tunggu tetap saja tak reda-reda. Anepun bertanya kepada dia apakah iya di lahan jati-jatian cukup rawan untuk perjalanan malam hari. Pasalnya posisi Ane sekarang masih berada di Kabupaten Ngawi bagian timur sedangkan hutan-hutan jati yang cukup luas ada dibagian barat. Mendengar jawaban dari dia bukannya membuat Ane semakin berani tetapi malah membuat Ane semakin takut, dia bilang "kalau di jati-jatian memang rawan untuk perjalanan malam hari, tapi kalau jam-jam segini masih banyak kendaraan yang melintasinya jadi ya nggak rawan-rawan banget", tukasnya.
Antara takut dan berani akhirnya Ane putuskan untuk menerjang hujan yang cukup lebat ini. Setelah memakai jas hujan, Anepun berpamitan kepada dia. Kini Ane melenggang melanjutkan perjalanan lagi. Awalnya pemandangan yang Ane lihat disamping kanan dan kiri jalan berupa rumah-rumah warga dengan situasi yang cukup sepi, tapi sesampianya di hutan-hutan jati pemandangan itupun berubah menjadi situasi yang cukup membuat Ane tenang. Benar apa yang dikatakan oleh seorang warga yang Ane tanyai sebelumnya, kendaraan bermotor masih ramai hingga akhirnya Ane keluar dari hutan dan segera memasuki Kabupaten Sragen. Perasaan lega muncul sesampainya disini. 
Tak ada kejadian berarti yang Ane alami termasuk saat melewati Kabupaten Karanganyar, Kota Solo, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Sleman hingga akhirnya sampai juga di Kota Yogyakarta tempat dimana Ane mengenyam pendidikan tinggi. Sebelum menuju ke kost, Ane sempatkan diri sebentar untuk makan terlebih dahulu disebuah warung makan. Ya, warung tersebut adalah warung burjo yang sudah menjadi langganan bagi mahasiswa apalagi mahasiswa yang sedang ngekost seperti Ane ini, :-)
Tepat pukul 00.30 WIB sampailah Ane di kost, itu artinya 20 hari sudah Ane melakukan perjalanan menjelajahi Pulau Bali yang cantik itu. Waktu tersebut sudah termasuk saat keberangkatan dan kepulangan Ane di Jogja ini. Banyak hal yang Ane peroleh dalam perjalanan tersebut, yang jelas rasa kepuasan dan kelegaan timbul dihati ini. Puas karena sudah menjelajah Pulau Bali tersebut seorang diri dan lega karena salah satu impian dalam hidup Ane sudah terlaksana.
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me