Kamis, 15 Juli 2021

Patung Rato Nago Besanding dan Monumen Megou Pak, Ikon Wisata Baru Tubaba

Selepas mengunjungi Taman Seribu Batu Las Sengok, Ane bersama adik Ane melanjutkan perjalanan kembali menuju Patung Rato Nago Besanding. Penamaan ini menggunakan Bahasa Lampung dan bila diartikan kedalam Bahasa Indonesia mempunyai arti "Patung Tugu Kereta Sepasang Ular Naga". Dalam menuju kesini, Ane mengambil jalan yang tak biasa. Jalannya memang cukup bagus walau tak lebar, melewati perladangan karet yang cukup panjang sekitar 3 Km. Mendebarkan hati memang karena Ane belum tahu sama sekali dengan daerah ini dan apalagi daerah Lampung terkenal akan daerah yang rawan begal. Mau gimana lagi ini harus Ane lalui karena jalan ini merupakan jalan yang paling dekat menuju Patung Rato Nago Besanding. Tak mungkin Ane balik badan dan mengambil rute yang lain karena itu akan sedikit memutar jauh dan memakan banyak waktu.


Rute Termudah dan Aman Menuju Patung Rato Nago Besanding
Dari Jalan Raya Lintas Sumatera (tepatnya di Pertigaan Desa Gunung Batin Ilir), belok kearah barat (Kiri dari arah Kota Bandar Lampung atau kanan dari arah Kota Palembang) melalui Jl. Way Abung lurus terus hingga kurang lebih 12,4 Km menemukan Pertigaan Simpang PU Tiyuh Murni Jaya (Pertigaan ini cukup ramai dan besar).

Beloklah kearah kanan (utara), maju sedikit di sebelah kanan terdapat SPBU Pertamina. Berarti sobat sudah berada di jalan yang benar. Lurus terus ikuti jalan ini hingga mentok sejauh 10,8 Km. Sebelum menemukan Patung Rato Nago Besanding ini, sobat akan menemukan Islamic Center dahulu yang ada di sisi kiri jalan. Silahkan sobat mau mampir dahulu ke Islamic Center atau langsung menuju ke TeKaPe. Jujur, sebenarnya Ane ingin sekali mampir ke Islamic Center terlebih dahulu namun apalah daya dikarenakan masih lockdown karena Covid 19 jadi ya mampir sebatas nampang saja di area pelataran paling depan saja.

Ada sebuah keyakinan yang tertanam didalam hati Ane yaitu "Tuhan bersama dengan seorang pejalan", maka dari itu secara mantap Ane mengambil rute jalan ini apapun resikonya sekaligus mencoba apakah Tulang Bawang Barat ini tergolong aman ataukah memang benar apa yang Ane khawatirkan itu terjadi. Roda motor terus berputar, jengkal demi jengkal Ane lalui, dengan perasaan was-was dan khawatir akhirnya Ane dapat bernafas lega daerah perladangan sukses Ane lewati dan tidak terjadi apa-apa. Kini Ane memasuki daerah pedesaan, Kagungan Ratu namanya. Perasaan semakin lega apalagi saat menemui jalan yang cukup lebar seperti jalan pada umumnya menuju pusat kota. Ternyata dugaan Ane benar, jalan ini memang menuju Pusat Kota dimana Patung Rato Nago Besanding berada.



Patung Rato Nago Besanding terletak tepat di pertigaan jalan Kelurahan Panaragan Jaya, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung. Tak jauh dari Islamic Center yang memang sangat ikonik di Kabupaten Tubaba, sekitar 0,5 Km kearah barat. Patung Rato Nago Besanding cukup indah berwarna putih bercorak kuning keemasan terletak diatas batu yang cukup besar dan di setiap sisi batu tersebut terdapat pancuran buatan menyerupai mini air terjun berjumlah 8. Patung ini melambangkan dua ekor naga yang sedang menarik sebuah kereta yang dikendarai oleh kusir yang dinaiki oleh sepasang pengantin mengenakan pakaian adat Lampung. Sepasang pengantin tersebut dipayungi oleh payung bertingkat tiga dengan warna yang berbeda yakni merah, kuning, dan putih.



Bila di Pulau Bali, pemandangan patung sudah menjadi hal yang biasa. Tak ada yang istimewa karena hampir di persimpangan jalan penting biasanaya ada. Tapi ini di Lampung, bukan di Bali. Patung yang berukuran cukup besar jarang ada sehingga kalaupun ada akan menjadi hal yang sangat luar biasa dan biasanya banyak yang mengambil foto sebagai background. Pun demikian di Patung Rato Nago Besanding ini, saat Ane datang tampak ada satu dua pengendara baik mobil maupun motor berhenti di pinggir jalan. Tak lain dan tak bukan hanya untuk mampir sebentar sekedar mengambil gambar dan mengabadikan foto mereka bersamanya.



Selain indah, di sekitaran patung ini juga bersih. Dibagian sisi depan (timur) terdapat sebuah monumen bertuliskan "Tugu Rato Nago Besanding, karya ini dibuat sebagai salah satu tanda keagungan dan keluhuran budaya masyarakat Lampung. Tanda yang menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan. Bertanda tangan oleh Bupati Tulang Bawang Barat bernama Umar Ahmad". Ane hanya bisa menerka, maksud dalam monumen tersebut adalah sebuah makna mengapa patung ini dibuat. Semoga tetap lestari dan terjaga.

Monumen Megou Pak (Patung Empat Marga)
Puas menikmati Patung Rato Nago Besanding, Ane melanjutkan perjalanan ke arah Patung Megou Pak atau masyarakat biasa menyebutnya dengan nama Monumen. Berbeda saat menuju Patung Rato Nago Besanding dari Taman Seribu Batu Las Sengok yang diliputi rasa khawatir, perjalanan menuju ke Monumen Megou Pak ini tak sedikitpun Ane merasa khawatir. Mungkin karena kondisi jalan yang sudah bagus dan lebar, ramainya kendaraan berlalu-lalang kesana- kemari, serta berada di tempat pusat keramaian sehingga hati Ane merasa aman dan nyaman.


Jarak Monumen Megou Pak dari Patung Rato Nago Besanding tidaklah jauh, hanya sekitar 7,5 Km saja. Rutenya pun sangat mudah, dari Patung Rato Nago Besanding tinggal menuju kearah utara melalui Jl. Raya Panaragan Jaya - Pulung Kencana hingga mentok. Kemudian belok kearah kanan hingga menemukan Monumen Megou Pak ini yang berada di sebelah kiri jalan tepat di Tikungan S, Tiyuh (desa) Panaragan, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung.


Sesampainya disini Ane dapat merasakan betapa megahnya Monumen Megou Pak ini, kalau Ane perkirakan monumen ini mempunyai tinggi sekitar 15 meter dan panjang sekitar 40 meter serta lebar sekitar 6 meter. Terletak disisi tebing dengan diatasnya ladang karet dan dibawahnya lantai bertingkat 3. Di lantai pertama tepat di sebelah jalan raya digunakan sebagai lahan parkir pengunjung dan juga tempat jualan bagi abang - abang dengan menggunakan kendaraan roda dua, sementara di lantai yang kedua hanya lantai biasa namun ada yang spesial yaitu terdapatnya dua buah patung meriam yang terletak di samping kanan dan kiri tangga.


Tak berlama-lama di lantai yang kedua ini, Ane bergegas menuju ke lantai yang ketiga. Lantai yang ketiga adalah lantai yang utama karena disini terdapat bangunan pokok monumen itu sendiri. Setiap pengunjung yang datang pastilah akan menginjakkan kakinya disini. Ntah itu hanya sekedar santai saja sambil memandangi pemandangan yang sangat eksotis melihat lekukan jalan berbentuk leter S dengan pepohonan hijau yang menghiasinya, melihat lekukan tubuh naga yang divisualisasikan melalui bangunan patung, serta mengagumi monumen Megou Pak yang mempresentasikan tentang keberadaan marga atau suku asli Lampung  yakni Marga Tegamoan, Marga Boay Bolan di wilayah Bolan Udik dan Bolan Ilir, Marga Suay Umpu di wilayah Sungai Umpu, Mesuji dan Marga Buay Aji di wilayah Aji.


Selain itu pengunjung juga bisa berkeliling - keliling menjelajah setiap titik di area monumen ini sambil berfoto-foto ria. Ini yang Ane lakukan. Di salah satu sisi bagian bawah patung terpahat nama Si Pembuat monumen dan kapan monumen ini di buat. Dari pahatan ini dapat Ane ketahui bahwa Pembuat monumen adalah Pengrajin langsung dari Bali yakni I Wayan Winten dan monumen ini dibuat mulai tahun 2016 hingga 2017.


Lalu bagaimanakah dengan kondisi yang ada didalam monumen? Sebelum Ane masuk kedalam, dari luar Ane kira kalau monumen ini dibuat dengan bahan padat tanpa menyisakan ruang sedikitpun. Ternyata dugaan Ane salah, Monumen Megou Pak ini dibuat dengan didalamnya terdapat ruang kosong tempat dimana diletakkan meteran listrik dan juga menurut Ane bisa digunakan sebagai tempat berteduh oleh para pengunjungnya dari terik matahari maupun guyuran air hujan.

Kondisi ruang yang ada di dalam bangunan monumen
Terpasang sebuah meteran listrik

Mau buang air kecil ataupun besar? tenang saja sob, disini sudah tersedia kamar kecil yang terletak di sisi kiri monumen.
Let's Go

Minggu, 30 Agustus 2020

Blusukan ke Taman Seribu Batu Las Sengok Tulang Bawang Barat

Selepas mengunjungi Taman Faiz Way Sido, petualangan Ane lanjutkan kembali menuju obyek wisata selanjutnya. Tujuan selanjutnya yaitu Taman Seribu Batu, ada juga yang menyebutnya dengan Taman Batu Megalitikum atau bahkan hanya disebut dengan Las Sengok saja. Apapun itu namanya yang paling penting bagi Ane adalah bagaimana caranya Ane bisa sampai disana. Dengan mengandalkan google maps, sampai juga Ane di tempat ini walau sempat terjadi drama salah jalan sebanyak 2 kali. Jalannya terbilang cukup sempit namun sudah sangat baik bila dibandingkan dengan jalan-jalan yang ada di kabupaten tetangganya seperti Mesuji dan Tulang Bawang.


Disini Ane mulai mengerti mengapa Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) ini mulai ramai dikunjungi oleh para wisatawan, selain telah berdirinya beberapa obyek wisata yang cukup menarik juga dikarenakan faktor infrastruktur seperti jalan menuju obyek wisata yang sudah cukup baik. Lengkap sudah di tambah dengan keramahan warga sekitar. Dengan adanya 3 hal ini tentu kedepannya Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) akan semakin ramai dan maju. Ane yakin sebagus apapun obyek wisata itu bila kondisi jalan yang buruk dan keamanan yang buruk pula pasti tak ada wisatawan yang mau berkunjung.


Dari Taman Faiz Way Sido, waktu yang Ane perlukan untuk sampai sini tak banyak, hanya sekitar 25 menitan saja. Taman Seribu Batu Las Sengok terletak di Tiyuh (Desa) Karta, Kecamatan Tulang Bawang Udik, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung. Tak ada tiket masuk yang dikenakan begitu juga dengan parkir kendaraan alias free. Ane sempat bingung kenapa tidak ada tiket masuk, padahal obyek wisata ini sudah diresmikan. Tapi Ane bisa memakluminya karena memang Taman Seribu Batu ini sepenuhnya belum jadi 100%. Hal ini terlihat dari masih berlangsungnya proses pengerjaan.

Calon jalan berlorong yang sekarang dijadikan sebagai tempat parkir untuk sementara
Para pekerja yang sedang meratakan tanah sebagai tempat untuk meletakkan batu-batu nantinya
Juga masih terdapat alat berat yang sedang mengerjakan pekerjaannya
Ane yakin suatu saat nanti setelah proses pengerjaan selesai, bakal banyak wisatawan yang datang. Belum jadi saja sudah berhasil menarik perhatian Ane, apalagi nanti kalau sudah jadi? Hamparan batu dengan berbagai macam bentuk dan ukuran berdiri kokoh tersusun melingkar terlihat cukup eksotis. Jumlahnya tak ada seribu, bahkan seratus saja tidak ada. Kenapa disebut Taman Seribu Batu? Mungkin hanya untuk sebutan saja biar banyak orang yang penasaran sehingga menariknya untuk berkunjung. Okelah!



Selain bebatuan ada sisi lain yang dapat Ane nikmati, yaitu betapa indahnya di sekeliling lokasi. Dua buah sungai mengapit tempat ini dan pemandangan pepohonan kayu alam yang masih alami memberikan kesegaran bagi indra penglihatan. Tak banyak yang dapat Ane harapkan dari tempat ini, berbagai macam fasilitas belum tersedia mulai dari tempat pembuangan sampah, kamar kecil, hingga warung makan. Karena memang belum selesai proses pembangunannya.




Ane benar-benar kagum akan konsep wisata yang ada disini, kawasan rawa (lebung) saja bisa disulap menjadi lokasi yang bernilai. Tentu ini akan berdampak baik bagi perekonomian warga sekitar.

Cara Menuju ke Taman Seribu Batu Las Sengok Tubaba

Dari Jalan Lintas Sumatera (tepatnya di Pertigaan Desa Gunung Batin Ilir), belok kearah barat (Kiri dari arah Kota Bandar Lampung atau kanan dari arah Kota Palembang) melalui Jl. Way Abung lurus terus hingga kurang lebih 16,3 Km menemukan Pasar Daya Murni. Maju sedikit ada perempatan.

Tepat di pojok barat laut perempatan tersebut terdapat sebuah masjid bernama Masjid Agung Al-Mustaqim. Beloklah kearah kanan (utara), maju sedikit di sebelah kanan terdapat Kantor Polsek Tulang Bawang Udik. Berarti sobat sudah berada di jalan yang benar. Lurus terus ikuti jalan ini sejauh 12 Km hingga mentok sampai di Tiyuh (Desa) Karta. Kemudian belok kanan sejauh 100 meter hingga mentok. Lalu belok kiri dan ikuti jalan ini hingga sejauh kurang lebih 1 Km. Setelah melewati jembatan, cermatilah area sekitar tanah rawa-rawa ini terutama di sisi kiri jalan. Taman Seribu Batu Las Sengok Sudah dapat terlihat dari kejauhan.

Baca juga:  Stonehenge Jogja, apakah ada yang beda???
Let's Go

Sabtu, 25 Juli 2020

Taman Faiz Way Sido, Sensasi Menikmati Flying Bike di Tulang Bawang Barat

"Seorang anak yang tumbuh mulai menginjak remaja namun cukup mempesona", Ane fikir itulah sebuah kalimat yang pantas disematkan kepada salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Lampung ini. Ya kabupaten tersebut bernama Tulang Bawang Barat atau biasa di singkat dengan Tubaba. Bagaimana tidak, kabupaten yang baru berumur 12 tahun ini dan merupakan pemekaran dari Kabupaten Tulang Bawang telah berhasil mencuri perhatian baik dari warga kabupaten itu sendiri maupun luar kabupaten, tak terkecuali dengan Ane.

Mungkin belum banyak orang yang mengenal tentang kabupaten ini. Kabupaten yang dahulu di pandang sebelah mata, kini mulai diperhitungkan di Provinsi Lampung terutama di kawasan bagian utara. Bahkan kabupaten yang sebelumnya telah ada saja terbilang kalah dengan pamornya. Dalam catatan ini, Ane ingin berbagi pengalaman tentang kunjungan Ane di Tubaba bersama Sang Adik.

Kita asli putra daerah, lahir di bumi yang berjuluk "Sang Bumi Rua Jurai". Namun begitu sebelum berkunjung ke Kabupaten Tubaba ini, Kita tetap mempersiapkan segalanya termasuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang keamanan disana. Kita sadar betul bahwa bumi kelahiran kita ini dikenal luas akan keamanannya yang terbilang buruk, berita kasus pembegalan seolah-olah tak bisa lepas dari bumi ini. Ini sepenuhnya tidak salah, tapi juga sepenuhnya tidak benar. Ada wilayah Lampung yang memang benar-benar aman, tetapi ada juga wilayah Lampung yang memang sangat rawan akan kejahatan. Tapi khusus untuk wilayah Tulang Bawang Barat ini tergolong aman dan terkendali, walaupun begitu persiapan yang matang adalah hal yang tetap wajib kita lakukan.

Kita mengawali rencana perjalanan ini dengan membuat list tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi, kemudian membuat rutenya agar efektif dan efisien dalam memanfaatkan waktu, memperhitungkan waktu yang kita punya, hingga biaya yang kita perlukan. Berhubung rumah kita dengan Kabupaten Tubaba yang akan kita kunjungi tidak terlalu jauh sekitar 95 Km, maka kendaraan yang kita pakai adalah sepeda motor roda dua. Ya punyanya kita ya hanya itu, coba kalau punya kendaraan roda 4 pasti ya Ane gunakan, hehehe. Sepeda motor roda dua yang Ane punya ini berumur cukup tua sekitar 11 tahun namun soal kemampuan Ane tak perlu meragukannya lagi. Rekor tertinggi sudah dua kali Ane gunakan dalam perjalanan Mesuji - Wonosobo, Kota Agung (PP) yang berjarak kurang lebih 275 Km dan sampai sekarang tak ada masalah dengannya.

Kita sengaja melakukan perjalanan sepagi mungkin, ini biasa Ane lakukan saat akan menempuh perjalanan yang cukup jauh. Udara masih segar walau terasa dingin, badan dalam kondisi prima, fikiran jernih sehingga bisa berkonsentrasi selama dalam perjalanan. Rencana awal Ane berangkat pukul 05.15 setelah melakukan ibadah shalat subuh, Tapi apalah daya waktu menjadi ngaret karena Ane harus menunggu adik Ane terlebih dahulu untuk bersiap-siap, maklum cewek jadi persiapannya ya cukup ribet. Hingga akhirnya tepat pukul 05.49 WIB setelah berpamitan kepada kedua orang tua, kita berangkat menuju TeKaPe.

Perjalanan ini memakan waktu sekitar 3 jam (termasuk beli batu kamera dan sarapan pagi). Kita tiba pukul 08.55 WIB, adapun obyek wisata yang pertama kita datangi adalah Taman Faiz yang beralamatkan di Tiyuh (desa) Way Sido, Kecamatan Tulang Bawang Udik, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung. Kita sempat ragu apakah benar tempat yang kita datangi ini benar-benar sebuah tempat yang kita maksud? Pasalnya secara penampilan terlihat dari depan hanya berupa sebuah toko yang cukup sederhana. Tapi kita yakin bahwa disinilah tempat yang kita maksud, karena di bagian depan samping kiri toko tersebut terdapat sebuah tulisan penjelasan berbunyi "Taman-Faiz Way Sido Kalipengacaran". Kalau begitu

Sebuah toko yang menjadi pemandangan pertama yang kita lihat
 
Pintu masuk Taman Fiz Way Sido, ada di sebelah kanan toko
 
"Lalu dimanakah letak pintu masuknya?", tanya Ane dalam hati.

Setelah memperhatikan dengan seksama ternyata pintu masuknya ada di sebelah kanan toko tersebut. Tepat sebelum pintu masuk terdapat loket pembayaran, terpampang dengan jelas tarif tiket masuknya. 

Harga tiket masuk Taman Faiz:

Hari Senin - Jumat   : 10k/orang

Hari Sabtu dan Minggu: 15k/orang

Sepertinya tarif ini belum lama berubah karena dalam tiket tersebut tarif lama diganti dengan tarif yang baru hanya menggunakan sebuah pulpen. Pintar juga ini pengelolanya, apalagi moment ini bertepatan dengan hari libur sekolah jadi ya tepat. Untuk 2 orang dan sebuah sepeda motor, uang yang harus kita keluarkan sebesar 33k.

Tiket sudah ada di tangan. Motor sudah kita parkir, kini saatnya Ane bersama adik Ane menjelajah taman ini hingga ke sudut-sudutnya. Kesan pertama Ane saat melihat taman ini adalah tempat yang cukup rapi dan bersih. Gazebo - gazebo dengan berbagai macam bentuk berdiri menyapa setiap pengunjung yang datang. Namun sayang, belum ada pengunjung yang datang sama sekali, sepertinya Ane bersama adik Ane merupakan pengunjung yang datang pertama kali. Maklum, menurut informasi yang Ane dapat Taman Faiz ini buka dari pukul 09.00 WIB hingga 17.00 WIB. Sementara Ane bersama adik Ane masuk kesini tepat pukul 09.00 WIB.

Konsep Jalan setapak yang terbuat dari paving block bercatkan warna biru muda bercorak bunga menemani setiap langkah para pengunjungnya. Ane cukup kagum dibuatnya, pengelolaan Taman Faiz ini benar-benar serius dan tak main-main. Konsep pembangunannya patut diacungi jempol, berusaha memanjakan setiap pengunjung yang datang. Setiap spot cocok untuk berfoto bersama keluarga. Ane fikir cukup instagramable.

Ada patung spot gajah

Konon kata adik Ane, ini namanya spot love love. Ane hanya manggut - manggut saja. Repot urusannya kalau cewek berbicara itu di bantah,😆😆😆

Berbagai fasilitas permainan anak-anak tersedia disini mulai dari kincir angin bertarifkan 10k/10 menit, kereta mini, kolam pemandian bola bertarifkan 5k/anak, kolam renang untuk anak SD bertarifkan 10k/anak, ayunan, perosotan dan lain sebagainya. Lalu untuk orang dewasa? Tak perlu khawatir karena Taman Faiz ini sudah lumayan lengkap fasilitas permainannya, untuk orang dewasa bahkan bisa juga untuk anak-anak bisa menyewa perahu bebek dan sejenisnya jika ingin sekedar keliling-keliling di sekitaran kolam. Biaya sewanya 20k/perahu selama 20 menit. 1 perahu bisa diisi maksimal 6 orang.

Ane tertarik untuk mencoba salah satu permainan yang tersedia yaitu Flying Bike (sepeda terbang). Dengan membayar 10k, Ane sudah bisa menikmati fasilitas permainan ini. Tak ada durasi waktu yang di patok, namun cukuplah waktu 10 menit bagi Ane untuk menikmatinya. Awalnya sempat ragu-ragu, walau dalam tubuh Ane sudah terpasang sabuk pengaman.

Yang penting bergaya dulu, urusan berani tidak berani itu belakangan!

"Tenang mas tidak apa-apa, tidak kalau jatuh", suara seorang petugas berusaha meyakinkan Ane. 

"Ah, toh kalau jatuh kan di air, bukan di tanah. jadi tak jadi masalah", fikirku.

Penyeberangan dimulai. Dikit demi sedikit sepeda Ane kayuh hingga di tengah-tengah. Tapi tetap saja saat berusaha keras untuk sampai ke ujung ada perasaan ragu-ragu, rasanya ituloh mantul-mantul. Yasudahlah sampai ditengah-tengah saja. Begitu juga dengan adik Ane rasa ragu-ragu dan khawatir menyelimutinya, tak bisa Ia sembunyikan. Terlihat dari mimik mukanya yang kelihatan gelisah tapi gembira. Maklum, Ia tak bisa berenang, jadi Ane harus siap siaga juga kalau - kalau dia jatuh ke bawah. Dia juga hanya sampai ditengah saja tanpa melanjutkan sampai di ujung.


Kalau kesini hanya jalan-jalan saja tak jadi masalah. Melihat-lihat seluruh area taman, ada berbagai macam bunga yang diletakkan didalam terowongan, beberapa hewan seperti monyet yang ditempatkan di dalam kotak yang menyerupai bentuk rumah, atau hanya sekedar duduk-duduk saja diatas kursi terbuat dari betonan di pinggiran kolam. Rindangnya pepohonan membuat suasana di Taman Faiz ini begitu teduh. Terlebih gazebo-gazebo tersebar hampir di semua bagian taman, cocok bila untuk bersantai sejenak kabur dari rutinitas sehari - hari cukup membosankan.

Kira - kira kapan ya bisa berkeliling indonesia?

Duh mumete!

Tak perlu khawatir perut akan keroncongan, karena terdapat beberapa kafe dan warung makan yang menjajakan makanan. Tinggal siapkan saja uangnya. Namun sayang, saat ini hanya beberapa saja yang buka, hal ini mungkin karena Taman Faiz ini belum lama buka pasca Pandemi Korona Covid-19 atau memang belum sepenuhnya warung dan kafe tersebut beroperasi. Ah, ntahlah. Selain itu beragam fasilitas pendukung terbilang cukup lengkap diantaranya ada tong sampah, kamar kecil yang ditempatkan di setiap pojokan taman dan sisi kanan (barat) tempat parkir, bahkan terdapat live song music yang dibawakan oleh penyanyi lokal.

Hari sudah semakin siang, Ane putuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke obyek wisata selanjutnya.

Cara Menuju ke Taman Faiz Way Sido Tubaba:

Tugu Selamat datang ini akan sobat lewati sebelum sampai di Taman Faiz nya

Dari Jalan Lintas Sumatera (tepatnya di Pertigaan Desa Gunung Batin Ilir), belok kearah barat (Kiri dari arah Kota Bandar Lampung atau kanan dari arah Kota Palembang) melalui Jl. Way Abung lurus terus hingga kurang lebih 16,3 Km menemukan Pasar Daya Murni. Maju sedikit ada perempatan.

Tepat di pojok barat laut perempatan tersebut terdapat sebuah masjid bernama Masjid Agung Al-Mustaqim. Beloklah kearah kanan (utara), maju sedikit di sebelah kanan terdapat Kantor Polsek Tulang Bawang Udik. Berarti sobat sudah berada di jalan yang benar. Lurus terus ikuti jalan ini sejauh 4,8 Km hingga menemukan Alfa***t Kartaraharja yang berada di pojok utara pertigaan. 

Sampai disini, beloklah kearah kiri (selatan) sejauh kurang lebih 3 Km hingga sobat membaca papan nama bertuliskan Taman Faiz yang sobat maksud. Letaknya ada di sisi kanan (barat) jalan.

Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me