Sabtu, 13 Mei 2017

Puja Mandala, Simbol Kerukunan Antar Umat Beragama di Bali

Selepas dari Pantai Balangan, obyek wisata selanjutnya yang akan Ane kunjungi adalah Pantai Nusa Dua. Awalnya Ane kira jalan menuju kesini lewat Jl. Nusa Dua Selatan, secara dari namanya saja sudah kelihatan kalau jalan ini bakalan menuntun Ane sampai di lokasi yang Ane maksud. Itu artinya setelah bertemu perempatan jalan bila lurus kearah Pantai Pandawa, itu Ane berbelok kearah kiri. Jalannya cukup lebar dengan disamping kanan dan kirinya masih jarang rumah-rumah penduduk yang berdiri. Sepanjang perjalanan Ane melihat proses pembangunan jalan yang masih berlangsung. Ah, setelah melewati jalan yang mengarah ke Pantai Gunung Payung ternyata jalan ini tidak tembus dengan lokasi yang Ane maksud. Jalannya yang berupa jalan aspal, kini berubah menjadi jalan tanah yang sangat jelek sekali untuk dilalui.



Jalan aspalnya hanya sampai disini saja, ntah kalau satu tahun lagi mungkin sudah tembus sampai pantai sana itu
Inilah makna dari sebuah perjalanan, walaupun nyasar salah jalan justru membuat Ane senang. Ane berhenti cukup lama disini sambil minum air putih ditempat yang teduh dan melihat beberapa pengendara yang berlalu-lalang kesana-kemari. Tak lama berselang tampak sepasang bule dari arah kejauhan sedang menuju kemari. Rupanya tak hanya Ane saja yang terjebak, mereka juga pun mengalami demikian. Hal ini ditandai dengan sesampainya disini mereka putar balik menuju tempat semula. Dalam hati Ane tertawa terbahak-bahak, ah untung ada temannya. Jadi malunya nggak ditanggung sendiri, hehehe.
Setelah selesai minum dan istirahat sejenak, Ane kembali lagi melanjutkan perjalanan Ane ketempat semula. Sesampainya di perempatan jalan bila kearah kiri menuju Pantai Pandawa, Ane belok kearah kanan. Setelah ketemu jalan aspal yang cukup halus dan ramai, Ane belok kearah kanan. Kali ini jalan yang Ane lewati adalah Jl. Dharmawangsa. Jalan Dharmawangsa habis bersambung ke Jl. Kuruksetra. Syukur jalan yang Ane lewati sudah benar, tapi bukanlah Pantai Nusa Dua yang Ane dapati melainkan Puja Mandala. Sebuah dinding marmer penanda kawasan ini berdiri tegak di tepi jalan sebelah kiri. Didalam batu tersebut tertulis 5 buah tempat ibadah bagi 5 penganut agama yang berbeda diantaranya Masjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa, Vihara Buddha Guna, Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Dua dan Pura Jagatnatha. Berhubung tempat ini juga masuk dalam daftar kunjungan Ane di Bali maka Ane sempatkan mampir sebentar disini.



Parkirannya cukup luas dengan beberapa mobil pariwisata dan kendaraan pribadi yang sudah memadatinya. Diantara semua tempat ibadah tersebut, Masjid Ibnu Batutahlah yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung. Why? karena memang waktu shalat dzuhur sebentar lagi tiba dan kebanyakan pengunjungnya adalah beragama islam. Sambil menunggu waktu shalat dzuhur tiba, Ane berkeliling-keliling terlebih dahulu untuk melihat satu-persatu tempat ibadah yang ada.
Ane mulai dari yang terjauh dari masjid dahulu, yakni Pura Jagatnatha. Dibagian depan samping pintu gerbang terdapat sebuah prasasti yang menandakan kalau pura ini diresmikan pada tanggal 30 Agustus 2004 oleh Gubernur Bali "Dewa Beratha". Pintunya dibiarkan terbuka tak terkunci sehingga Ane bisa masuk kedalamnya. Sudah ada seorang pengunjung yang masuk kedalam. Namun sayang, Ane tak melihat pengempon (pemangku) puranya yang sedang berjaga. Ane ragu apakah Ane boleh masuk atau tidak. Ditengah keragu-raguan ini, Ane diberi saran oleh pengunjung yang sudah ada didalam tersebut kalau Ane sebaiknya masuk saja bila menginginkannya. Dia memperkenalkan diri bernama Irwan dan dia merupakan penduduk asli Bali. Timbang-menimbang akhirnya Ane masuk juga.


Prasasti Pura Jagatnatha Nusa Dua
Sebelum masuk, ya narsis dulu di depan Puranya, :-)
Sama seperti pura pada umumnya, pura ini terbuat dari batu berwarna hitam dan terdapat gapura pintu masuk berupa candi bentar. Terdapat dua buah bale yang berdiri disamping kanan dan kirinya. Memasuki area utamaning mandala Ane disuguhkan dengan sebuah hal yang menarik yaitu terdapatnya sebuah menara yang cukup tinggi dengan dilengkapi anak tangga menuju keatas. Menara tersebut adalah sebuah pelinggih bernama Padmasana. Dibagian puncak Padmasana terdapat gambar Acintya yang merupakan simbol atau perwujudan dari Kemahakuasaan Tuhan.



Menara yang Ane maksud: sebuah pelinggih bernama Padmasana
Melihat bangunan ini mengingatkan Ane kepada sebuah pura juga yang bernama Pura Agung Jagatnatha yang terletak di tengah Kota Denpasar. Bedanya pura tersebut berwarna putih, mempunyai lokasi yang lebih luas dan terdapat kolam dibagian bawah Padmasana yang mengelilinginya. Sementara ini tidak, bangunan padmasananya berwarna hitam dan terdapat 2 patung naga yang sedang berjalan kebawah. Mungkin pelinggih Padmasana inilah yang menjadi ciri khas dari Pura Jagatnatha tersebut.



Puas menjelajahi tempat ini, masih saja pengemponnya belum datang. Ane bergerak ke bangunan ibadah selanjutnya yaitu Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Dua. Walau pintunya dibiarkan terbuka, namun Ane tak memasukinya dikarenakan takut mengganggu orang yang sedang melaksanakan ibadah. Terlihat dari luar bangunan ini terdiri dari dua lantai yang terbuat dari batuan marmer. Dibagian depannya terdapat sebuah menara lonceng dan menara pandang.





Bergeser kearah selatan ada sebuah tempat ibadah yang cukup menarik bagi Ane yaitu Vihara Buddha Guna. Vihara ini memiliki ornamen cantik berwarna putih keemasan sehingga terkesan anggun dan mewah. Dua buah patung gajah berdiri dibagian samping kanan dan kiri pintu gerbang, sedangkan sepasang patung ksatria dan naga indah berdiri disamping kanan dan kiri relief Buddha. Lalu bagaimanakah dengan yang ada dibagian dalamnya? Ntahlah karena tak seperti Pura Jagatnatha, tempat ini tak dibuka untuk umum sehingga Ane tak bisa memasukinya. Wokelah, nggak apa-apa!





Lanjut ke bagian selatannya lagi, Ane melihat rumah ibadah bagi Umat Katolik. Ya, bangunan tersebut bernama Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa. Bangunan ini memiliki menara tunggal yang ada dibagian depan samping kirinya. Selama ini Ane berfikir kalau Umat Katolik itu beribadah hanya dihari minggu saja, ternyata dugaan Ane ini salah. Dibagian depan gereja terpasang jadwal misa mulai dari Misa minggu, Misa harian, hingga Misa hari jumat adorasi.


Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa dilihat dari depan

Jadwal Misa Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa
Tepat setelah berfoto-foto dibagian depan bangunan gereja, tiba-tiba suara adzan berkumandang nyaring ditelinga. Dengan segera Ane langkahkan kaki menuju Masjid Agung Ibnu Batutah yang ada disamping kirinya. Ya, inilah masjid yang ada di Kompleks Puja Mandala itu. Sesuai dengan agama dan keyakinan Ane, maka Ane harus masuk kedalam. Selain melihat-lihat interior yang ada didalamnya juga untuk melaksanakan ibadah Shalat Dzuhur.

Masjid Agung Ibnu Batutah tetap di hati

Bangunan masjid ini memiliki 2 lantai dengan interior yang ada didalamnya sama seperti masjid-masjid pada umumnya. Warna kuning mendominasi masjid ini. Dilantai ataslah merupakan ruang utama dimana kegiatan shalat dilaksanakan. Ane segera mengambil air wudhu dan selanjutnya masuk kedalam ruang utama untuk melaksanakan ibadah.


Ane sungguh salut sekaligus kagum dengan Umat Hindu yang ada di Bali ini. Walau mayoritas masyarakatnya beragama Hindu namun mereka tetap saja menghormati yang beragama minoritas diwilayahnya. Hal ini tercermin dari bangunan-bangunan ibadah yang berdiri di Puja Mandala ini. Ane bisa membayangkan betapa damainya hidup disini, semua umat melaksanakan ibadah ditempatnya masing-masing tanpa ada rasa terganggu sedikitpun. Semua umat beribadah, dunia ini menjadi damai dan indah. Semoga rasa damai ini tetap terjaga hingga dunia yang fana ini berakhir. Amiiieeen
Let's Go

Selasa, 02 Mei 2017

Cantiknya Pantai Balangan dengan Pemandangan Khas Pohon Kelapa

Setelah sarapan pagi di Warung Nasi Ayam Bu Oki, Ane kembali melanjutkan perjalanan lagi sob menuju ke sebuah tempat dimana tempat ini mungkin tak seramai di Pantai Kuta maupun Sanur, ya tempat tersebut bernama Pantai Balangan. Dari Warung Nasi Ayam Bu Oki Ane pacu kuda hijau Ane menuju Jl. Uluwatu II kearah timur, sesampainya dibundaran Ane belok kearah kiri (selatan) menuju kearah Pura Luhur Uluwatu. Lurus terus hingga melewati GWK dan 2 Km dari sini Ane bertemu dengan lampu merah perempatan jalan. Bila kearah kiri (timur) menuju ke Pantai Pandawa, lurus (selatan) menuju ke Pura Luhur Uluwatu, dan bila kearah kanan (barat) menuju ke Pantai Balangan. Beloklah Ane kearah kanan. Jalannya cukup sempit, sepi, tetapi beraspal mulus. Di sepanjang perjalanan disamping kanan dan kirinya Ane dapat melihat berbagai macam variasi pemandangan. Terkadang berdiri rumah-rumah penduduk, tak jarang pula masih berupa lahan kosong tanpa penghuni.



jalannya yang terbilang cukup sepi ini, tak banyak kendaraan bermotor yang berlalu-lalang kesana-kemari sehingga suasana yang Ane rasakan begitu nyaman dan damai. Tak ada rasa khawatir tersesat ataupun salah jalan karena disetiap persimpangan jalan sudah ada papan petunjuk yang mengarah ke pantai ini. Lama-kelamaan hembusan angin yang menyentuh indra peraba semakin kuat. Hal ini pertanda bahwa tak lama lagi Ane bakalan sampai di lokasi yang Ane maksud. Benar saja tak sampai 5 menit berkendara, sampai juga Ane dilokasi parkirnya. Tak ada tiket masuk yang dikenakan, yang ada hanyalah tiket parkir saja sebesar 2k.



Setelah memarkirkan kuda hijau Ane, Ane langsung menuju ke pantainya. Jalan setapak yang Ane lewati awalnya landai, namun beberapa langkah kemudian jalan berubah menjadi jalan bertangga banyak namun cukup lebar. Nampaknya jalan ini sudah menjadi ciri khas bagi pantai-pantai yang ada dibagian selatan Pulau Dewata ini.
Berbeda dengan Pantai Suluban yang tak bisa melihat birunya air laut dari jalan bertangga, jalan bertangga yang ada di Pantai Balangan ini justru sebaliknya. Birunya air laut yang begitu luas terhampar didepan sana. Tak sabar rasanya untuk segera ke garis pantainya.



Hal yang dapat Ane katakan pertama kali tentang pantai ini adalah pemandangan pantai yang sangat khas dengan tanaman pohon-pohon kelapa yang berdiri begitu rapi dengan daun-daun kelapa nyiur melambai karena angin laut yang berhembus cukup kencang.
Pantai ini memiliki garis pantai yang nggak cukup panjang tetapi juga nggak terlalu pendek. Disamping kanan dan kiri pantai dibatasi oleh tebing bukit. Tampak di tebing bukit sebelah kanan sedang ada orang yang mencari ikan dengan cara memancing. Sedangkan dibagian kirinya Ane nggak ngerti ada apa gerangan diujung sana.


Beginilah pemandangan yang ada disebelah kanan pantai
Tebing bukit yang sedang digunakan pemancing untuk mencari ikan
Pemandangan yang ada disebelah kiri pantai, lalu ada apa ya disana? Hmmm
Pasirnya berwarna putih bersih dengan air lautnya yang sangat jernih. Selain itu juga memiliki gelombang laut yang cukup besar. Tak heran bila banyak wisatawan mancanegara yang sedang melakukan atifitas surfing. Pengunjung yang ada disini terbilang sepi, tak seramai Pantai Labuan sait maupun Pantai Pandawa. Selain surfing, hanya ada beberapa wisatawan lain yang sedang berjemur.


Seorang bule yang sedang bermain pasir di pinggir pantai pertanda ragu-ragu apakah Ia mau menceburkan diri ke laut atau tidak, :-)
Tapi kalau sudah di laut, jangan tanya betapa lihainya Ia memainkan papan surfingnya
Tapi tetep, sebelumnya Ia pasti sudah melalui tahapan belajar lebih dahulu
Sekarang Ane mau menuju ke bagian ujung kiri sana. Tampak disana sebuah tebing yang menjorok ke laut. Baru berjalan beberapa langkah, Ane melihat sebuah pura yang cukup cantik. Pura ini berdiri tepat di pantai dengan keadaan pintu terkunci. Melangkah dengan memakai alas kaki rasanya berat di kaki, Ane copot alas kaki tersebut dan kemudian Ane tenteng.



Oke, lanjut! berkenaan dengan fasilitas yang ada, nampaknya pantai ini tak perlu diragukan lagi sob, Disepanjang bibir pantai terdapat payung-payung pantai berwarna putih, pondok-pondok yang difungsikan sebagai cafe maupun restoran, penginapan, dan juga guesthouse yang siap disewa oleh para pengunjungnya. Secara pribadi Ane sangat menyayangkan dengan adanya bangunan-bangunan tersebut dimana bangunannya memakan bibir pantai sehingga pemandangan yang ada terlihat tidak alami dan kurang menarik.





Tapi wokelah! sesampainya di ujung, inilah lukisan alam yang ada. Tebing karang yang cukup jauh menjorok ke laut. Diatasnya terdapat sebuah patung memakai udeng, sarung khas Bali, dan selendang berwarna pink. Nampaknya dia sedang bermain golf, setelah Ane perbesar fotonya memang begitu adanya. Dia sedang berpose bermain golf.






Selama Ane berada disini, beberapa kali Ane melihat pesawat terbang datang dan pergi silih berganti. Terbangnya terlihat begitu dekat, maklum pantai ini sendiri menghadap kearah utara sehingga wajar bila pemandangan itu Ane saksikan. Tak terasa 1 jam sudah Ane mengeksplorer pantai ini dan jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Saatnya Ane meninggalkan lokasi dan menuju destinasi selanjutnya, tempat apakah itu? tempat yang selanjutnya Ane kunjungi yaitu Puja Mandala. Selain berwisata juga bisa beribadah sesuai dengan keyakinan kita. Seperti apakah ceritanya? ikuti terus cerita yang ada di blog ini ya sob, Sampai Jumpa!
Let's Go

Minggu, 23 April 2017

Sarapan Pagi di Warung Nasi Ayam Bu Oki

Setelah kemarin Ane hanya mengunjungi Kebun Raya Bedugul yang terjebak oleh derasnya air hujan, kali ini sob dihari yang ke-13 ini Ane berencana menjelajah Pulau Bali bagian selatan. Sebenarnya sieh beberapa hari yang lalu Ane sudah menjelajahinya tetapi berhubung obyek wisata yang ada di Bali bagian selatan ini sangatlah banyak, maka dalam satu hari Ane nggak kelar untuk menjelajahinya.
Seperti biasa, tujuan pertama yang akan Ane kunjungi adalah warung makan. Iya warung makan, kalau nggak makan pastilah badan ini lemas. Ada sebuah warung makan yang sangat rekomended bagi para pecinta kuliner di Bali bagian selatan ini, namanya Warung Makan Bu Oki yang terletak di Jl. Celagi Basur No. 3Y, Jimbaran, Kuta Selatan, Kabupaten Badung.


Berdasarkan informasi yang Ane dapatkan sebelumnya bahwa warung ini buka dari jam 7 pagi hingga jam 6 sore. Maka dipagi hari ini segera Ane pacu kuda hijau Ane menuju tempat tersebut. Sudah 2 minggu Ane menjelajahi pulau yang sangat eksotis ini, Ane sudah sedikit hafal jalan-jalan yang ada disini. Dari Kota Denpasar Ane arahkan kuda hijau menuju selatan searah dengan jalan menuju Uluwatu. Sesampainya di bundaran yang ntah apa nama dari bundaran tersebut, Ane belok kearah kiri melalui Jl. Uluwatu II. Ane lirihkan laju kuda hijau Ane, Ane tengok kekanan dan kekiri dan syukur warung makan yang Ane cari ini bakal ketemu. Disebuah pertigaan jalan yang mirip dengan jalan disebuah gang, Ane membaca sebuah plank yang menunjukkan kearah kekiri dan bertuliskan "Warung Makan Bu Oki". Tanpa banyak berfikir, Ane ikuti arah papan plank tersebut dan tak lama kemudian sampai juga Ane di TeKaPe.


Ane parkir kuda hijau Ane di bagian depan warungnya. Ane hanya menggunakan kendaraan roda dua, jadi tak masalah karena tak memakan banyak tempat. Bagi pengunjung yang menggunakan kendaraan roda empat sudah disediakan lahan parkirnya. Warungnya cukup sederhana dengan meja dan kursi terpasang dengan rapi, tanpa pendingin ruangan dan hanya menggunakan kipas angin saja.


Walau sederhana dan terletak bukanlah di jalan utama, warung ini terbilang ramai. Saat Ane datang hingga Ane akan pulang, Ane melihat pengunjung yang datang silih berganti. Saat Ane baru saja sampai, salah satu dari pelayannya pun bertanya kepada Ane hendak pesan berapa porsi dan minumannya apa, karena memang disini hanya menyediakan satu jenis menu makanan saja yaitu Nasi Campur Ayam Betutu sehingga untuk menu makanannya tak perlu dipertanyakan lagi. Ane hanya seorang diri tentu Ane hanya pesan satu porsi saja dan untuk minumannya segelas teh hangat siap menemani Ane di pagi ini.


Pelayanannya pun terbilang cukup cepat, tak sampai 5 menit pesanan yang Ane pesan sudah datang. Seporsi Nasi Campur Ayam Betutu ini terdiri dari nasi putih, ayam bumbu khas Bu Oki, sate lilit, pepes ikan, sayur lawar kacang, kacang goreng, sambal, dan tentunya suwiran daging ayam betutu itu sendiri. Lalu bagaimanakah dengan rasanya?




Satu sendokan mendarat di mulut Ane, rasanya hmmm khas Bali. Enak, pedas, dan daging ayamnya terasa lembut dimulut. Bumbu yang digunakan pun terasa banget. Lengkap sudah dengan adanya kacang tanah goreng dan sayur lawar kacang, kacang gorengnya krenyes-krenyes dan sayur lawar kacangnya pun cukup segar.
Selesai makan, kemudian minum. segelas teh hangat sangat cocok untuk menghilangkan rasa pedas dan menghangatkan badan setelah berkendara naik kendaraan. Satu kata deh sob untuk semuanya, "Wuenak tenan". Untuk itu:

Tak habiskan semuanya
Ntah berapa harga masing-masing item tersebut, yang jelas seporsi Nasi Campur Ayam Betutu dan segelas teh hangat hanya dibanderol dengan harga 25k saja. Gimana sob, cukup bersahabat bukan? Pokoknya kalau sobat datang ke Bali jangan lupa deh sob makan disini. Sampai Jumpa!
Let's Go

Kamis, 13 April 2017

Lengkapnya Koleksi Tumbuh-Tumbuhan di Kebun Raya Bali

Pagi hari yang sejuk di Kota Denpasar. Setelah kemarin berkunjung ke Obyek Wisata Pura Besakih dan menjelajah Kabupaten Klungkung, kini dihari yang ke-12 ini Ane berencana menjelajah kembali daerah Bedugul? Ya, sebelumnya Ane sudah menginjakkan kaki disini saat mengunjungi Pura Ulun Danu Beratan sepulang dari Kota Singaraja yang ada dibagian utara Pulau Bali.
Waktu itu sebenarnya sieh kunjungan ke Pura Ulun Danu Beratan terbilang tak sengaja karena sebelumnya kunjungan ke pura tersebut Ane masukkan kedalam satu list kunjungan khusus menjelajah kawasan Bedugul bersama kunjungan ke Kebun Raya Bedugul, Danau Buyan dan Tamblingan, akan tetapi sepulang dari Kota Singaraja hari masih siang dan memungkinkan untuk berkunjung ke obyek wisata lagi maka jadilah Ane mengunjunginya pura tersebut. Sedangkan Kebun Raya Bedugul, Danau Buyan dan Tamblingan tak bisa sekalian Ane kunjungi karena hari sudah mulai petang.


Nah, kini dihari ini Ane bertekad untuk kembali lagi ke Bedugul dan menyelesaikan misi mengunjungi 3 tempat tersebut. Tanpa fikir panjang setelah Ane bersiap-siap langsung capcus menuju kesana dengan mengendarai kuda hijau Ane. Ane sengaja berangkat pagi-pagi sekali karena selain Ane memang suka memulai petualangan di pagi hari juga menghindari padatnya aktifitas lalu lintas yang ada di Kota Denpasar. Maklumlah sudah beberapa hari Ane berada di kota ini dan mengamatinya sehingga kini Ane sudah sedikit mulai paham akan keadaan kota yang sesungguhnya.
Karena sebelumnya Ane sudah pernah menginjakkan kaki disini sehingga Ane sudah tak bingung lagi dengan jalan yang ada. Jalan searah menuju Pelabuhan Gilimanuk, ketika sesampainya di bundaran Ane belok kearah kanan searah dengan jalan menuju Kota Singaraja. Sepanjang perjalanan yang Ane rasakan adalah hawa sejuk nan segar karena memang menuju ke kawasan Bedugul itu sama saja dengan menuju kearah dataran tinggi, mirip menuju ke kawasan wisata Kaliurang kalau di Yogyakarta. Hingga akhirnya sampailah Ane di persimpangan jalan yang ditengahnya terdapat patung jagung.



Dari patung ini, bila belok kearah kiri maka Ane akan sampai di Kebun Raya Bedugul dan bila lurus kearah kanan maka akan sampai di Danau Buyan dan Tamblingan. Disini Ane sempat bingung apakah Ane mau berkunjung ke Kebun Raya Bedugul terlebih dahulu atau lurus ke Danau Buyan dan Tamblingan. Pikir punya pikir akhirnya jatuhlah pilihan Ane untuk melanjutkan perjalanan lagi mengunjungi Danau Buyan dan Tamblingan. Namun apa yang terjadi sob? ternyata Ane gagal menuju kesana karena Ane tak tahu persis jalan menuju ke tepi danaunya, Ane hanya bisa menyaksikkan keindahan danaunya dari jalan raya saja. Wokelah nggak apa-apa, setelah kurang lebih selama satu jam menyusuri jalan raya ini Ane memutuskan untuk kembali lagi ke patung jagung tadi dan belok kearah Kebun Raya Bedugul yang mempunyai nama asli Kebun Raya "Eka Karya" Bali.



Sebuah pintu gerbang berupa gapura harus Ane lewati sebelum memasuki Kebun Raya ini. Sama seperti obyek wisata kebanyakan, disepanjang jalan menuju lokasinya banyak terdapat warung-warung makan yang berdiri menjual berbagai macam jenis makanan. Setibanya diujung jalan, Ah inikah yang dinamakan dengan kebun Raya Bedugul itu? Sebuah candi bentar tampak gagah berdiri ditengah jalan dengan disamping kirinya terdapat sebuah pos jaga.



"Lalu ada apa gerangan dengan pos jaga tersebut?", Hmmm setelah Ane mendekatinya, Ane distop oleh salah seorang petugas yang sedang berjaga-jaga. Ane dilarang memasuki kebun raya ini dengan menggunakan kuda hijau Ane. Ane diharuskan memarkir kuda hijau Ane terlebih dahulu dan membeli karcis bila ingin memasukinya. "Kalau menggunakan mobil sieh bisa lanjut, tapi ya tetap wajib beli karcis", begitulah kata Sang Petugas tersebut.



Dengan mematuhi tata aturan tersebut setelah memarkir kuda hijau Ane, Ane langsung membeli tiket diloketnya. Total semua uang yang harus Ane keluarkan sebesar 12k, jumlah tersebut untuk tiket masuknya sebesar 9k dan karcis parkirnya sebesar 3k. Sebelum memulai penjelajahan, terlebih dahulu Ane keluarkan seperangkat kamera dan narsis-narsis cantik disekitaran candi bentar.



Bila diperhatikan dengan seksama candi bentar tersebut, ternyata candi tersebut mempunyai relief yang sungguh menarik. Berbagai macam jenis tumbuhan dan hewan terpahat disitu. Ada pohon kelapa, benalu, burung, kera, kuda, dan lain sebagainya.





Puas bernarsis-narsis ria disini, kini Ane memulai penjelajahan. Selangkah demi selangkah Ane meniti jalan yang ada. Disamping kanan dan kiri jalan banyak terdapat berbagai macam jenis tumbuhan yang hidup mulai dari ukuran yang cukup kecil seperti rerumputan hingga ukuran yang cukup besar seperti pepohonan.



Ane sedang foto didepan Patung Rahwana-Jatayu

Nampaknya keberadaan berbagai macam patung di Bali sudah menjadi hal yang biasa, tak terkecuali dengan yang ada disini. Salah duanya Patung Rahwana-Jatayu dan Patung Kumbakarna Laga. Dengan hadirnya patung-patung tersebut lantas tidak membuat suasana kebun raya ini semakin jelek, justru semakin cantik karena suasana Bali banget akan terasa.




Ane sedang foto bersama Patung Kumbakarna Laga
Sebenarnya ada banyak kegiatan yang dapat Ane lakukan disini, tapi berhubung Ane hanya sendirian maka Ane hanya melihat-lihat saja seluruh isi didalam kebun raya ini. Nampaknya disini pengunjung tak hanya dimanjakan oleh berbagai macam jenis tumbuhan saja tetapi juga pengunjung dapat melakukan kegiatan outbond. Hal ini terlihat dari sebuah spot yang terdapat disekitaran Patung Kumbakarna Laga, tepatnya disebelah kiri jalan. Spot tersebut bernama Bali Treetop Adventure Park, pengunjung dapat melakukan berbagai macam kegiatan outdoor seperti Birma Crosser, Flying fox, dan lain sebagainya.


Bali Treetop Adventure Park





Kebetulan pas Ane sampai disini sudah ada banyak pengunjung yang datang sehingga Ane bisa mengamati aktifitas didalamnya. Dari kesemua pengunjung tersebut yang paling banyak datang berasal dari Mancanegara. Dalam melakukan kegiatan ini, peserta pun tak boleh asal-asalan. Mereka semua harus mentaati aturan main yang ada, tampak para pemandu menjelaskan kepada semua peserta tentang bagaimana cara melakukannya dan peralatan apa yang hendak dipakainya. Tak hanya itu para Pemandu pun siap sedia memasangkan peralatan yang mesti dipasang kepada setiap peserta.



Taman Rhododendron
Bergerak kearah utara, Ane menemukan sebuah spot tanaman yang membuat Ane merasa tak pernah mendengarnya. Spot tersebut bernama Taman Rhododendron. Berdasarkan sebuah tulisan yang ada disekitar lokasi bahwa Rhododendron dan Azalea termasuk dalam genus Rhododendron dari suku Ericaceae. Terdapat lebih dari seribu spesies dalam marga Rhododendron. Jenis-jenis Rhododendron tersebar secara liar dari kawasan artik sampai tropika, dengan cakupan iklim yang lebar. Antara lain Asia yang tumbuh di kaki bukit pegunungan Himalaya, China Barat, Utara India, Burma dan Assam, termasuk juga dari Jepang, Eropa dan Timur serta Barat Amerika Utara.



Sebagai jenis tanaman hias, Rhododendron dan Azalea bisa menjadi bagian dari taman/landscape yang terlihat bagus bila ditanam secara berkelompok. Mereka sangat populer saat bunga yang berwarna-warni bermekaran. Nah, di Kawasan Asia Tenggara sendiri sebagian masyarakatnya memanfaatkan sebagai obat-obatan tradisional.
Di Kebun Raya Bali saat ini sudah memiliki koleksi sebanyak 59 nomor koleksi, 20 jenis dan 155 spesimen yang berasal dari Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Papua serta hasil seed exchange dari Taiwan, Jerman, USA dan Jepang.



Di spot lain, Ane dapat dengan mudah menjumpai koleksi tanaman anggrek. Ya, sebuah taman yang cukup cantik dengan dibagian depannya terdapat kolam kecil yang dilengkapi dengan air mancur menyambut kedatangan Ane. Seperti biasa, sebelum memasukinya Ane sempatkan diri untuk membaca sebentar sebuah tulisan yang tertempel dibagian depan.


Koleksi Anggrek




Berikut penjelasannya: Suku anggrek-anggrekkan atau orchidaceae merupakan suatu suku tumbuhan berbunga dengan anggota jenis terbanyak. Jenis-jenisnya tersebar luas dari daerah tropika basah hingga wilayah sirkumpolar, meskipun sebagian besar anggotanya ditemukan didaerah tropika. Kebanyakan anggota suku ini hidup sebagai epifit, terutama yang berasal dari daerah tropika. Anggrek epifit dapat hidup dari embun dan udara lembap.



Buah anggrek berbentuk kapsul yang berwarna hijau dan jika masak mengering serta terbuka dari samping. Bijinya sangat kecil dan ringan, sehingga mudah terbawa angin. Biji anggrek tidak memiliki jaringan penyimpan cadangan makanan, bahkan embrionya belum mencapai kematangan sempurna. Perkecambahan baru terjadi jika biji jatuh pada medium yang sesuai dan melanjutkan perkembangannya hingga kemasakan. Contoh anggrek ada Coelogyne pandurata Lindl., Paphiopedilum javanicum (Reinw. ex Lindl.) Pfitzer, Dendrobium macrophyllum A.Rich.
Ah, sekarang masuklah dan ini anggrek-anggrek yang Ane ceritakan tadi.




Keluar dari spot koleksi tanaman anggrek, Ane melompat ke seberang jalan yang ada didepannya. Ya, spot yang Ane kunjungi selanjutnya adalah Rumah Kaca Kaktus. Dari depannya saja sudah terlihat kalau spot ini adalah tempat koleksi tanaman kaktus, bagaimana tidak disamping kanan dan kiri pintu masuk berdiri masing-masing sebuah tanaman kaktus yang diberi pot. Hmmm, yuk masuk yuk!

Rumah Kaca Kaktus



Oh iya bentar, berbeda dengan spot-spot yang sudah Ane masuki, tulisan yang ada disini bukanlah tulisan yang bersifat sangat serius tetapi tulisan disini malah bercerita tentang "cerita dibalik kaktus". Berikut ceritanya: Jadi kaktus ini sudah dibudidayakan di Indonesia sejak sekitar akhir abad ke-19 dengan bibit yang didatangkan oleh pemerintah Hindia-Belanda. Maksud dari pembudidayaan pada masa itu adalah sebagai makanan ternak sapi, terutama pada daerah-daerah sentra produksi ternak yang dilanda musim kering.



Kalau sekarang mah tumbuhan kaktus ini bukan hanya sekedar sebagai makanan ternak saja, tetapi sudah dijadikan sebagai tanaman hias. Beberapa jenis kaktus (seperti Opuntia ficusindica) mempunyai buah dan daun yang dapat dimakan. Buah naga (Hylocereus sp. dan selenicerius sp.) yang sedang naik daun sejak beberapa tahun terakhir juga termasuk kelompok tumbuhan kaktus.



Sekarang saatnya masuk. Pada awalnya Ane hanya mengira kalau tumbuhan kaktus itu jenisnya tak banyak. Selain buah naga dan biasa Ane menyebutnya dengan bunga ririan, eh ternyata banyak juga tow, ada yang unik pula. Seperti Echinocactus grusonii Hildm., bunga ini memiliki bentuk bulat dan beruas-ruas serta disekelilingnya banyak durinya.


Kalau ini Ane sering melihatnya, Ane menyebutnya dengan bunga ririan
Echinocactus grusonii Hildm
Sobat pernah bermain lompat tali yang talinya sendiri terbuat dari karet gelang yang dirangkai? nah, ternyata ada lho tumbuhan kaktus yang menyerupai rangkaian tersebut. Sedum Acre L. (Crass.), itulah namanya. Saat pertama kali Ane melihatnya, fikiran Ane langsung tertuju pada sebuah karet gelang yang dirangkai dan pernah Ane memainkannya saat masih kecil.



Berbeda jauh dengan tumbuhan kaktus yang dapat hidup di cuaca panas dan kekeringan, spot selanjutnya yang Ane kunjungi justru tanamannya harus terus berada di air. Ya, spot tersebut bernama Taman Aquatik. Spot ini tergolong indah karena di tepi kolam agak menengah terdapat sebuah bangunan mirip gazebo, sehingga setiap para pengunjung yang datang bisa beristirahat sejenak sambil melihat koleksi-koleksi tanaman air yang ada.

Taman Aquatik



Sebenarnya Ane ingin kesitu sob, tapi apa boleh buat terdapatnya 2 orang laki-laki yang dari awal hingga Ane puas mengelilingi kolam tak pergi-pergi maka membuat Ane mengurungkan keinginan Ane tersebut. Yasudah, Ane naik lagi keatas. FYI, Disini tanaman air ditata dalam sebuah kolam bertingkat enam. Lumayan, mirip dengan gazebo yang ada dibawah disini pun dapat digunakan sebagai tempat beristirahat sejenak. Untuk dapat sampai gazebo tersebut Ane harus berjalan diatas jembatan penghubung terlebih dahulu.



Banyak tanaman-tanaman menarik yang dapat dijumpai di Taman Aquatik ini, antara lain Equisetum debile, Nymphaea pubescens Willd. (Teratai), Canna sp. (Kana air), Cyperus papyrus L. (Rumput kertas), dan Cyperus flabelliformis Rottb. (Teki payung ND.).
Dari sekian koleksi yang ada, teratailah yang sering Ane jumpai. Daunnya lebar berbentuk bundar/oval dan bunganya berada di permukaan air, sedangkan tangkai terendam dalam air. Permukaan daun tidak mengandung lapisan lilin sehingga air yang jatuh ke permukaan daun tidak membentuk butiran air.





Bergerak kearah utara, Ane menjumpai sebuah taman yang namanya masih asing ditelinga Ane. Taman tersebut bernama Taman Usada. Ane kira awalnya taman ini adalah tempat untuk menanam koleksi tanaman yang berkaitan dengan kegiatan upacara keagamaan di Bali, secara dari namanya saja sudah kelihatan "Usada" biasa orang bali melafalkannya dengan kata Usade. Eh, ternyata bukan! koleksi-koleksi yang ada disini sieh masih berkaitan dengan Bali, cuman fungsinya saja yang berbeda yakni tanaman yang dapat digunakan sebagai obat.

Taman Usada



Ada banyak tanaman yang terdapat disini, cuman kurang begitu menarik atau gimanalah jadi Ane tak berlama-lma disini. Contohnya saja Psidium guajava L. (Myrt.)/jambu biji atau jambu klutuk, Alpinia galanga Swartz (Zing.)/lengkuas, Scutellaria sp. (Lamp.), dan Rubus rosaefollus J.E. Smith (Ros.).


Psidium guajava L. (Myrt.)
Alpinia galanga Swartz (Zing.)
Scutellaria sp. (Lamp.)
Keluar dari Taman Usada, Ane melanjutkan penjelajahan lagi. Perburuan Ane selanjutnya yaitu melihat "Pohon Ficus Raksasa". Meski jalan yang yang ada sudah sangat baik, namun untuk mencapai ke spot ini dibutuhkan tenaga ekstra. La gimana tidak, berbeda dengan spot-spot sebelumnya yang saling berdekatan letaknya, letak Pohon Ficus ini dari Taman Usada agak jauh. Selain itu jalan yang ada semakin naik, padahal Ane sendiri hanya berjalan kaki. Yasudah, lengkaplah penderitaan Ane ini. Tapi ada yang membuat Ane senang sob, yaitu hadirnya banyak pohon yang berdiri disamping kanan dan kiri jalan sehingga Ane merasa jalan ditengah hutan.

Pohon Ficus Raksasa
Yang nulis ini katrok
Agak parno juga sieh sob, karena selain Ane tak ada lagi pengunjung yang sedang berada disini jadi ya bisa dibayangkan sendiri kan sob mistisnya seperti apa? Hiii atuttt. Ditengah jalan ini Ane sambil berfikir dimana letak pohon ficus itu berada, pasalnya pohon yang berdiri Ane rasa besar-besar semua. Tapi, bararada inilah pohon yang Ane cari-cari itu. Dibandingkan dengan pohon-pohon yang ada disekitarnya, memang pohon ini paling menonjol keberadaannya. Pohon ini terletak disebelah kiri jalan. Pohonnya sungguh membuat Ane kagum, kok masih ada ya pohon sebesar ini yang masih tumbuh? Hmmm kerenlah. Tanpa berlama-lama lagi langsung saja Ane foto bersamanya, kapan lagi coba Ane foto bersamanya.




Setelah cekrak-cekrek sekedarnya, Ane melanjutkan lagi perjalanan menuju spot berikutnya. Kalau dari tadi trek yang Ane lewati cenderung naik, kini berubah trek selanjutnya berupa turunan. Hal ini lantas serta-merta membuat Ane senang, ditengah melewati turunnya jalan tiba-tiba langit tampak menghitam dan dengan cepatnya hujan turun rintik-rintik. Namanya saja di dataran tinggi, jadi ya cuaca begitu cepat berubah dan sulit untuk diprediksi. Alhasil ketika melewati pertigaan jalan, bila lurus akan sampai di Taman Cyathea atau kembali ke spot awal dan bila kearah kiri akan sampai di spot selanjutnya, maka Ane mengambil jalan kearah kiri saja. Ngapain coba masih siang kok buru-buru pulang. Ane berjalan dengan cepat, hingga tak lama kemudian Ane bertemu lagi dengan pertigaan jalan. Bila lurus maka akan sampai di pemandangan danau dan bila kearah kanan maka akan membawa ke beberapa tempat termasuk keluar.



Pemandangan Danau
Merasa penasaran dengan pemandangan danau maka Ane memutuskan untuk mengambil kearah lurus saja. Dan tiba-tiba bresss, bresss, bresss, hujan datang begitu deras. Beruntung, tak jauh dari spot pemandangan danau terdapat sebuah bangunan yang berdiri yakni Guesthouse "Etnobotani". Tanpa berfikir panjang, langsung saja Ane berlari menuju bangunan tersebut untuk berteduh. Cukup lama juga Ane menunggu hujan reda, hingga akhirnya kurang lebih setengah jam hujan pun mulai reda. Ane nekat saja untuk segera menuju ke Pemandangan Danaunya. "Seperti apa sieh pemandangan yang ditawarkannya?", pertanyaan itulah yang selalu muncul didalam hati kecil Ane ini. Tak lama berselang, taratata inilah pemandangan danau yang ditawarkan itu.



Sayang, cuacanya kurang mendukung hanya berupa kabut putih samar-samar saja yang terlihat. Namun begitu Ane masih bisa mengetahui kalau danau yang terlihat dari sini adalah Danau Beratan, karena tampak adanya meru-meru yang menjulang tinggi khas dari Pura Ulun Danu Beratan.



Kalau pas cuacanya sangat cerah, nggak kebayang deh sob cantiknya seperti apa. Sumpah! Pantas saja dari sekian spot-spot yang ada di kebun raya ini, di spot inilah yang paling ramai pengunjungnya. Bagaimana tidak, lawong disini saja segala hal yang diperlukan pengunjung sudah tersedia seperti kamar kecil dan gazebo untuk beristirahat. Jangankan itu, lawong ada hal-hal lain yang membahayakan pengunjung pun diberi perhatian, seperti pohon yang sudah mulai lapuk diberi tanda khusus sebagai peringatan untuk para pengunjungnya.



Kalau sobat melihat tanda ini, please jangan deh sob berada dibawahnya
Sambil menunggu hujan rintik-rintik berhenti, Ane memperhatikan aktifitas pengunjung. Kebanyakan pengunjung yang datang kesini berombongan atau berpasangan, lha kalau Ane sendiri? hmmm. Mereka ada yang nekat duduk-duduk di kursi sambil menghadap ke danau, ada yang sedang duduk-duduk berdua dibawah pohon, bahkan ada yang sedang merayakan ulang tahun salah satu anggota keluarganya. Cuaca sepertinya bukanlah suatu hambatan bagi mereka, mereka tampak senang menikmatinya.
Tak lama Ane berada disini, kurang lebih seperempat jam Ane bergerak ke spot selanjutnya. Ane kembali ke pertigaan tadi dan mengikuti arah papan petunjuk. Benar saja, di tengah hujan rintik-rintik Ane melihat sebuah taman yang berdiri di kanan jalan. Ane sudah tak asing lagi dengan namanya. Taman tersebut adalah Taman Bambu.

Taman Bambu



Sebelum memasukinya tampak batang-batang bambu melengkung ke berbagai arah dan Ane menduga kalau bambu-bambu tersebut adalah bambu-bambu yang biasa Ane jumpai disekitar pemukiman Ane. Benar saja setelah masuk mendekati pohonnya, pohon-pohon bambu yang ada disini memang jenis-jenis bambu yang biasa Ane temui dalam kehidupan sehari-hari.
Cuman bedanya kalau di pemukiman Ane sana, Ane hanya tahu kalau bambu ya bambu. Disini, Ane bisa belajar banyak tentang bambu. Eh tahu nggak sob kalau bambu itu termasuk tanaman yang unik lho. Ingin tahu? berikut penjelasan yang Ane peroleh dari tulisan yang ada disini. 
Bambu adalah penyerap karbon yang baik. Bambu menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen 30 % lebih banyak ke atmosfer dibandingkan dengan pohon-pohon pada umumnya. Hal ini membuat bambu sangat baik untuk menyerap gas rumah kaca dan memproduksi lebih banyak oksigen bersih dan segar.
Bambu tumbuh sangat cepat. Beberapa spesies bambu tercatat dapat tumbuh setinggi lebih dari 90 cm dalam sehari. Sekitar 3,8 dalam satu jam. Tidak ada tanaman lain di bumi bisa melakukan ini. Bambu dapat mencapai kedewasaan penuh dalam 1 sampai 5 tahun (bergantung dari spesies). Pohon kayu keras membutuhkan waktu 30 sampai 40 tahun untuk dewasa. Hal ini menjadikan bambu sebagai satu-satunya tanaman berkayu yang dapat mengimbangi tingkat konsumsi manusia dan deforestasi.
Regenerasi bambu yang cepat. Ketika bambu dipanen, maka akan terus tumbuh tunas-tunas baru dari sistem perakarannya yang menakjubkan. Bambu tidak memerlukan bahan kimia, pestisida atau pupuk untuk tumbuh dan berkembang. Daun-daun yang terjatuh memberikan nutrisi yang diperlukan agar bisa didaur ulang kembali kedalam tanah.



Keunikan bambu yang lain yaitu bambu mencegah erosi. Setelah hutan kayu keras habis ditebangi, humus dibagian tanah atas akan mudah terkikis dan akhirnya ikut hanyut terbawa aliran air. Namun hal ini tidak berlaku bagi bambu, karena sistem perakaran bambu akan terus tumbuh bahkan setelah pemanenan. Tunas baru akan muncul dan akar bambu masih mampu menjaga kestabilan tanah dan mempertahankan nutrisi yang ada.
Disamping keunikan-keunikan bambu tersebut, ternyata ada hal lain lho sob yang berkenaan dengan bambu yakni tentang penebangannya. Nenek moyang kita menjalankan banyak syarat yang harus dilakukan dalam menebang atau memanen bambu. Empat diantaranya adalah tidak menebang bambu pada saat terang bulan, pada pagi hari, saat muncul rebung, dan saat rumpun bambu mulai berbunga. Ritual penebangan ini ternyata dapat dibuktikan secara ilmiah. Berikut penjelasannya.
  1. Bambu tak bisa ditebang saat terang bulan karena kadar airnya sedang tinggi. Kadar air yang tinggi menimbulkan kadar gula yang tinggi. Kadar gula yang tinggi pada bambu akan mudah dimakan rayap.
  2. Di pagi hari bambu biasanya sedang mengisap makanan yang mengandung banyak gula. Bambu seperti itu tidak bisa tahan lama karena mudah dimakan rayap.
  3. Saat bambu sedang memiliki rebung, sesungguhnya berat batang bambu berkurang setengahnya karena bambu yang lebih tua sedang mengalihkan zat kalk pada anak bambu atau rebung.
  4. Bambu yang berbunga menandakan bambu sudah akan mati karena stres dengan keadaan disekitarnya. Stres pada bambu bisa disebabkan oleh banyaknya zat kimia beracun disekitar rumpun bambu atau terpaan angin besar.

Sekarang tahu kan sob keunikan-keunikan dari bambu itu? Lagi-lagi sungguh disayangkan dengan cuaca saat ini. Hujan lagi-lagi turun dengan deras. Ane berlarian mencari tempat berteduh, syukur Ane melihat dua buah bangunan gedung yang cukup besar, tapi apa boleh buat saat hendak mau kesitu sudah tak ada waktu lagi. Akhirnya Ane berteduh di sebuah gazebo yang berada tak jauh dari gedung-gedung tersebut. Dibutuhkan waktu 1 Jam untuk menunggu redanya hujan, ya sebenarnya masih rintik-rintik sieh. Tak ingin berlama-lama lagi disini Ane segera meninggalkan gazebo. Tak lama kemudian Ane baru mengetahui kalau dua buah gedung yang sempat Ane incar untuk berteduh tadi ternyata gedung Wisma Wijahloka dan Gedung Pertemuan Nayakaloka. Woke, untuk apa lagi kalau sudah reda seperti ini. Lanjut lagi, niatnya ingin segera pulang tapi ah apa daya tubuh ini tergoda. Sebuah gedung cukup besar terlihat dari jalan. Merasa penasaran, Anepun mendekatinya dan ternyata setelah Ane dekati gedung ini adalah tempat menaruhnya koleksi tanaman Begonia.

Taman Begonia





Sebelumnya Ane sendiri tak tahu tanaman Begonia itu jenis tanaman apa sob, maka dari itu sebelum masuk kedalam dan melihat-lihat, Ane sempatkan diri sebentar untuk membaca-baca tulisan yang tertempel disini. Berikut penjelasannya. Tanaman Begonia mempunyai ciri umum memiliki helaian daun yang asimetris dimana satu belahan helaian daunnya lebih besar dari yang lainnya. Kini telah banyak jenis-jenis Begonia hibrida yang merupakan hasil silangan. Bentuk dan warna daun yang indah, didapat dari perkawinan dua jenis Begonia yang berbeda, tidak hanya daunnya yang cantik, beberapa jenis Begonia juga memiliki bunga yang indah.





Selain dengan biji, Begonia juga dapat diperbanyak dengan cara memisahkan rumpun dan umbinya, juga dengan stek pucuk, batang dan daun.
Kini Ane mulai melihat-lihat koleksi bunganya. Memang benar hampir semua tanaman Begonia sangatlah cantik dan berwarna-warni. Ada tanaman Begonia yang memiliki nama Begonia bowerae Ziesenh. "Bethlehem star", Begonia manicata "Fairyland", Begonia dregei Otto dan Dietr, dan masih banyak lagi lainnya.


Begonia bowerae Ziesenh. "Bethlehem star"
Begonia manicata "Fairyland"
Begonia dregei Otto dan Dietr
Masih dalam satu atap tapi di tempat terpisah, ada koleksi tanaman lain yang sering Ane lihat. Ya, tanaman tersebut adalah tanaman talas-talasan atau dalam bahasa biologinya Araceae. Tumbuhan ini mempunyai karakteristik utamanya adalah perbungaan yang tersusun dalam bentuk tongkol (spadix) yang dikelilingi oleh seludang (spathe). Tanaman ini biasanya tumbuh pada tempat yang terlindung dan lembab baik di tanah, merambat, mengapung di air atau hidup pada bebatuan di pinggir sungai.



Saat ini Kebun Raya Bedugul telah mengoleksi sebanyak 33 marga, 100 jenis dan 1.488 spesimen Araceae. Salah tiga contoh tumbuhan Araceae diantaranya Dieffenbachia sp., Alocasia longiloba Miq., Homalomena sp., dan Schismatoglottis calyptrata (Roxb.) Zoll. dan Moritzi.


Alocasia longiloba Miq.
Homalomena sp.
Schismatoglottis calyptrata (Roxb.) Zoll. dan Moritzi
Weladalah ada tanaman jenis lain yang berada masih dalam satu gedung dengan tanaman Begonia tow. Apakah masih dalam satu marga dengan Araceae? ternyata tidak, tanaman tersebut bernama Nepenthes. Tumbuhan ini memiliki kantong. Kantong pada tumbuhan ini bukanlah sebuah bunga, melainkan modifikasi daun dibagian ujung yang membentuk kantong dan berfungsi untuk menangkap makanan. Karena itu, Nepenthes sering disebut "Kantong Semar".
Uniknya lagi, Nepenthes merupakan tumbuhan karnivora. Ia memperoleh makanan dari serangga yang berhasil ditangkapnya. Nepenthes sengaja mengundang serangga melalui aroma yang dikeluarkan dari kelenjar dikantongnya. Aroma ini akan mengundang semut, nyamuk, kumbang, lalat, kecoak, tawon, dan serangga kecil lainnya untuk datang. Setelah menempel di bibir kantong, serangga tersebut akan tergelincir dan terjebak didalamnya. Kantong akan mengeluarkan cairan asam untuk melumatkan serangga menjadi protein. Protein tersebut diuraikan menjadi nitrogen, fosfor, kalium dan garam mineral. Zat inilah yang diserap dan diolah menjadi makanan di daun. Menarik bukan?





Syukur, keluar dari Taman Begonia hujan sudah reda. Tepat didepan taman ini ada sebuah tanah lapang yang cukup luas. Ntah apa yang ada diseberang, Ane bergerak kesana. Ternyata masih ada sebuah taman yang dapat Ane kunjungi. Taman tersebut adalah Taman Mawar. Berbeda dengan Taman Begonia yang berupa sebuah gedung, di Taman Mawar ini justru berupa taman terbuka. Jadi kalau hujan lagi ya badan ini pasti basah semua. Tak ingin hal itu terjadi, segera Ane langkahkan kaki masuk kedalam dan inilah salah dua koleksinya.


Pintu masuk Taman Mawar

Mawar merah merona, ada yang mau? :-)
Tak lama Ane berada disini, ya sekitar 3 menitan. Setelah itu keluar. Saat mendekati pintu masuk kebun raya, Ane sadar kalau Ane belum menjamah semuanya. Tak jauh dari Gerbang Utama Candi Bentar, ada jalan yang mengarah kekiri. Masuklah Ane kesitu. Nah, disini Ane sempat terheran-heran dengan tanaman yang ada di sepanjang jalan yakni tanaman pohon yang menyerupai pohon pisang. Tapi buahnya itu sendiri Ane rasa bukan buah pisang. Sempat bingung juga sieh Ane disini. Ini lho sob pohon yang Ane maksud.


Secara sekilas pohon ini tampak seperti pohon pisang pada umumnya
Tapi kok jantungnya malah mirip seperti bunga ya dan ruasnya agak jauh?
Ah, Ane foto tulisan yang ada dibawahnya untuk selanjutnya Ane cari di internet
Setelah tak cek di internet memang benar tanaman tersebut adalah tanaman pisang. Nama tanaman tersebut yang Ane cek adalah Musa Velutina H. Wendl. dan Drude. Sebenarnya ada yang meyakinkan Ane sieh sob, karena diantara rerumpunan tersebut terdapat juga tumbuhan yang berbuah layaknya pohon pisang. Kalau tadi jantungnya agak berjauhan ruasnya, nah kalau yang ini ruasnya cukup dekat.





So, Ane yakin kalau kesemuanya tersebut adalah pohon pisang. Kalau sobat sendiri menganggap tanaman itu tanaman apa sob? apakah pisang atau tetap bunga? Ya terserahlah, yang penting kita tetap bersahabat ya? hehehe. Yuk, daripada kita bingung kita lanjutkan petualangan kita yuk sob. Sebenarnya ada apa aja sieh yang berada disepanjang jalur ini? dengan mengabaikan jalur hutan tropis, spot yang Ane temui pertama adalah Taman "Panca Yadnya".

Taman Panca Yadnya



Di taman ini terdapat berbagai macam koleksi tanaman yang dapat digunakan untuk upacara adat Hindu Bali seperti salah satu contohnya tanaman Cordyline sp. (Asparagaceae). Masyarakat Bali percaya bahwa tumbuhan menjamin upacara tetap berlangsung. Masyarakat Bali mencari kebahagiaan dengan menjaga keseimbangan antara kehidupan material dan spiritual.



Sesaji dibuat dari bagian tanaman. Setiap bagian sesaji memiliki arti yang melambangkan kebesaran Tuhan. Sesaji dipersembahkan untuk memohon berkah-Nya. Beberapa upacara dilakukan secara pribadi dengan sesaji sederhana, tiap hari. Upacara yang dilakukan masyarakat secara bersama umumnya besar dan artistik.
Tak hanya tempat untuk menanam tanaman upacara adat, di taman ini juga terdapat sebuah gedung persegi lima. Dibagian depan setiap sisinya juga dibangun bale bengong. Ntah apa muatan filosofi yang tersemat didalam gedung ini, Ane kurang begitu mengerti yang jelas begitu Ane masuk kedalam gedung tersebut Ane tak menemukan apa-apa yang ada hanyalah sebuah lukisan mirip gaya kamasan. Kalau sobat belum tahu apa itu Kamasan, sobat bisa deh berkunjung ke Taman Gili Kerthagosa. Nggak hanya ke Taman Gilinya saja, sobat bisa juga datang langsung ke Desa Kamasan yang terletak tidak jauh dari Taman Gili tersebut.







Tak banyak yang dapat Ane nikmati di jalur yang mengarah ke barat ini. Spot terakhir yang Ane masuki adalah sebuah pura yang cukup unik dan menarik. Pura tersebut bernama Pura Batu Meringgit. Dari semua spot yang ada di kebun raya ini, spot inilah yang paling sepi pengunjungnya. Mungkin, pengunjung sudah tak asing lagi dengan yang namanya pura sehingga wajar saja kalau pura ini sepi pengunjung.


Pura Batu Meringgit





Sebenarnya agak horor juga sieh sob sendirian, dari namanya saja sudah mampu mendirikan bulu kuduk Ane. Tapi sebagai anak yang suka jalan-jalan nggak jelas ya Ane tetap memasukinya. Apa sieh yang unik dari pura ini? Nah, yang unik dari pura ini adalah selain terdapatnya pelinggih-pelinggih yang biasa ditemukan di bagian utamaning mandala pura juga terdapat dua buah bangunan seperti yang terdapat di klenteng.


Kalau bangunan seperti ini, sudah biasa kita temukan di Pura
Lha kalau bangunan yang seperti ini?
Hmmm, unik bukan?
Tak ada penjelasan mengenai pura ini. Ane hanya menduga-duga bahwa ada kaitannya antara Agama Hindu dengan Tionghoa. Ah, ntahlah yang jelas dengan mengunjungi spot-spot yang ada di Kebun Raya Bedugul ini maka menambah wawasan dan pengetahuan Ane. Tadinya tidak tahu, sekarang jadi tahu dan yang tadinya sudah tahu menjadi semakin tahu.




Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 Wita, itu artinya sudah saatnya Ane menyudahi kunjungan Ane disini agar tidak kemalaman sampai di penginapan Kota Denpasar. Itulah sob cerita petualangan Ane disini. Bila sobat ingin melihat koleksi-koleksi yang ada disini, jangan ragu-ragu datang langsung kesini. Tak usah khawatir kesasar atau bingung karena begitu sobat membayar tiket, sobat langsung mendapatkan sebuah tiket dan peta wilayah yang ada di Kebun Raya ini. So, sudah tak ada masalah lagi bukan?






* Sebagian besar tulisan yang Ane tulis disini adalah bersumber dari tulisan yang terpajang di tiap spot-spot Kebun Raya Bedugul*
Daaah, Sampai Jumpa!
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me