Selasa, 08 Mei 2018

Ceritanya Backpacker ke Bandung

Terhitung, sudah dua kali Ane menginjakkan kaki di Kota Kembang. Ya, pertama saat Ane pulang ke kampung halaman Ane di Lampung dengan menggunakan kuda hijau dan mampir disini dan yang kedua belum lama ini Ane laksanakan karena ada suatu kepentingan yang harus Ane kerjakan. Ya namanya saja anak yang suka travelling, walaupun ada hal penting yang harus dikerjakan didaerah baru, tetap saja meluangkan waktunya buat keliling-keliling didaerah tersebut.
Kebetulan hal penting yang harus Ane kerjakan itu ada di Kota Kembang, Bandung. Jadi, selain mengerjakan hal penting tersebut juga ada waktu yang Ane gunakan khusus untuk mengeksplorer lebih jauh tentang kota ini. Nggak usah Ane ceritakan ya sob tentang hal penting apa yang harus Ane kerjakan itu, soalnya terlalu pribadi sieh, hehehe. Sekarang Ane ceritakan saja tentang pengalaman Ane menjelajah kota ini.



Waktu sudah Ane tentukan kira-kira tanggal berapa Ane harus pergi kesana. Ya, tanggal 13 Oktober 2017 Ane harus sudah ada di Kota Bandung. Awalnya Ane sempat bingung hendak naik apaan untuk sampai sana. Pasalnya selain kereta api, juga ada bus, travel, dan pesawat terbang yang bisa Ane gunakan. Satu demi satu Ane lakukan analisis terhadapnya. Pertama, Ane langsung mengeliminasi pesawat terbang dan travel karena harganya yang terbilang cukup mahal. Nah, sekarang tinggal kereta api dan bus. Disini cukup membingungkan Ane karena harga tiket kereta api kelas bisnis dengan tiket bus eksekutif berbeda tidak jauh bahkan hampir sama. Keduanya sama-sama enak dan nyaman, setelah mempertimbangkan berbagai hal akhirnya jatuhlah pilihan hati Ane pada kamu, iya kamu. Eh maksudnya kereta api tapi dengan kelas ekonomi, why? tak lain dan tak bukan karena harganya yang terbilang cukup ekonomis.
Masalah tiket Ane tangguhkan terlebih dahulu. Berhubung sudah ada kepastian hari apa Ane hendak kesana maka dari itu Ane searching-searching dahulu tentang penginapan mana yang akan Ane singgahi. Mulai dari berbagai situs booking online hingga cerita-cerita sahabat blog yang sudah pernah kesana. Dari sini Ane dapatkan sebuah informasi kalau ada sebuah penginapan yang cukup ekonomis dan terletak tidak jauh dari Stasiun Kiaracondong. Tak hanya berupa alamat dan harganya saja yang Ane dapatkan, tetapi juga nomor teleponnya. Untuk mematiskan kebenaran informasi tersebut langsung saja Ane hubungi nomor tersebut. Jreng, jreng, jreng, ternyata benar tentang apa semua yang tertera didalam internet tersebut. Nama penginapan itu bernama "Paksoma Homestay", letaknya sekitar 1,3 Km dari Stasiun Kiaracondong. Mengetahui kebenaran dari informasi tersebut, Ane langsung membookingnya untuk 2 hari. Check in tanggal 12 dan check out tanggal 14.



Masalah penginapan sudah selesai. Sekarang tinggal beli tiket di Stasiun Lempuyangan. Loh kenapa harus di stasiun nis beli tiketnya? kan secara online bisa dan bayarnya di indomaret, alfamart, kantor pos atau bank. Iya, semua itu memang benar Sob. Berhubung Ane sering wara-wiri kesana-kemari melewati stasiun ini jadi ya sekalian mampir dan beli disini. Enaknya setelah beli tiket bisa langsung mencetaknya. Alhasil mampirlah Ane disini. Tapi apa sob yang terjadi? ternyata Ane harus gigit jari lantaran loket yang melayani pembelian tiket jarak jauh sudah tutup, yang buka hanya loket yang melayani pembatalan tiket saja. Ane kira pelayanan tiket tutupnya sampai malam, ternyata tidak. Pelayanan tiket jarak jauh di Stasiun Lempuyangan ini mulai di buka pada jam 9 pagi hingga tutupnya jam 4 sore. Informasi ini Ane peroleh dari Cutomer Service (CS). Ane pun disarankan oleh pegawai CS tersebut untuk datang besok pagi atau tidak beli saja secara online. Sebagai seseorang yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung, Weeeeek, manutlah Ane.
Pada keesokan harinya walaupun pada kenyataannya siang hari, berangkat lagi Ane menuju stasiun. Kali ini Ane bisa bernapas lega, loketnya sudah buka dan sebelum membelinya Ane diharuskan mengambil nomor antrian terlebih dahulu dan mengisi formulir yang sudah disediakan. Hulala, ternyata Ane mendapatkan nomor antrian yang cukup besar sehingga Ane harus menunggu dalam waktu yang cukup lama. Satu jam sudah Ane menunggu dan akhirnya nama Ane dipanggil. Ane serahkan saja KTP Ane dan formulir yang sudah Ane isi. Tak lama kemudian Ane mendapatkan selembar kertas putih yang berisi kode booking. Beranjak dari loket ini kemudian Ane menuju tempat pencetakan tiket. Seperti inilah alat pencetakan tiket tersebut.


Sekarang mah canggih dan lebih ketat lagi, tidak seperti dulu. Dulu begitu beli langsung mendapatkan tiket dan tanpa menggunakan nomor identitas, sekarang mah harus mencetak sendiri dan membelinya harus menggunakan nomor identitas. So, okelah. Setelah Ane masukkan kode booking, keluarlah sebuah tiket yang sesuai dengan nama dan identitas Ane.


Mantab, tiket sudah ada di genggaman. Sehari menjelang keberangkatan, sesampainya di rumah, Ane mempersiapkan segalanya mulai dari pakaian, dokumen apa yang harus dibawa hingga berbagai macam peralatan yang penting untuk nantinya.
Hari yang Ane tunggu-tunggu sudah tiba, 11 Oktober 2017. Ane berangkat dari Jogja pada sore hari menjelang petang pukul 18.15. Ane sengaja memilih waktu ini dikarenakan dengan kunjungan yang singkat tapi bisa mengeksplorer banyak tempat serta hal yang paling penting yaitu hemat, hehehe. Dengan melakukan perjalanan malam hari, tentu Ane sudah tak dipusingkan lagi dengan biaya penginapan, ya nggak sob? Sesampainya disana Ane berencana langsung keliling seharian full mengelilingi Kawasan Wisata Lembang dengan cara menyewa sepeda motor.
Dari rumah bude Ane, Ane menuju ke tempat kost adik Ane terlebih dahulu sebelum menuju Stasiun Lempuyangan. Hari itu kebetulan jam kuliah adik Ane cukup padat sampai sore hari jam setengah lima. Tapi okelah, itu tak masalah bila Ane harus menunggu. Setelah dia menyelesaikan urusan kuliahnya barulah dia mengantarkan Ane ke stasiun.
Jarak dari kost adik hingga stasiun tidak terlalu jauh hanya memakan waktu sekitar 20 menit saja dalam keadaan normal. Sesampainya disana Ane menyarankan kepada adik Ane untuk langsung pulang saja karena takut kemalaman. Diapun menuruti perkataan Ane tersebut dan kini petualangan siap dimulai. Dengan niat baik, Ane langkahkan kaki untuk check in.


Pintu masuk pemeriksaan tiket Stasiun Lempuyangan Yogyakarta

Disini dilakukan pemeriksaan oleh petugas, apakah tiket sudah sesuai dengan identitas atau tidak? setelah clear sesuai, Ane diperbolehkan untuk masuk. Masih ada waktu sekitar tiga perempat jam lagi Ane menunggu kereta datang. Ane gunakan waktu ini sebaik mungkin untuk melihat-lihat apa yang ada didalam. Maklum, walaupun dekat dengan kediaman Ane tapi Ane sangat jarang sekali pergi-pergi menggunakan kereta. Pernah sieh Ane pergi menggunakan kereta, tapi itu dulu sekitar tahun 2011-an. Dahulu stasiun ini cukup sederhana dan terkesan jauh dari kata nyaman, kini stasiun ini berubah menjadi begitu bagus dan nyaman. Ada banyak kursi yang dapat digunakan oleh penumpang sembari menunggu kereta datang, selain itu para pedagang asongan yang dahulu terkesan bebas dan semrawut, kini sudah tidak ada lagi dan sekarang digantikan dengan kios-kios penjual makanan dan minuman yang sudah tertata dengan rapi. Cukup baguslah kemajuannya.



Tiga perempat jam sudah berlalu, berdecak kagum Ane dibuatnya dengan kedatangan kereta yang dahulu in time sekarang menjadi on time. Sesuai jadwal, tepat pukul 18.15 kereta yang Ane tunggu sudah tiba. Begitu tiba para penumpang mulai memasuki gerbong kereta sesuai dengan nomor tempat duduk. Lagi-lagi Ane dibuatnya terpesona, dahulu yang namanya kelas ekonomi itu tidak ada AC nya serta penumpang belum tentu kebagian tempat duduk. Eh lakok sekarang biar dikata kereta api kelas ekonomi tapi ada AC nya dan tak ada seorang penumpang pun yang harus berdiri alias tidak kebagian tempat duduk.



Berarti perubahan ini sungguh sangat luar biasa. Satu lagi dahulu para pedagang asongan bebas kesana-kemari berjualan didalam kereta sekarang sudah tidak ada lagi. Sekarang digantikan oleh penjual tetapi penjual tersebut memakai seragam dan tidak memaksa. Top markotop. Kereta berjalan mulai meninggalkan stasiun, di Stasiun Tugu kereta ini tidak berhenti melainkan lanjut lagi. Tidak berapa lama, seorang pedagang datang menghampiri para penumpang. Dia menawarkan bantalnya yang bisa disewa dengan harga 7k saja. Didalam perjalanan ini Ane sehemat mungkin dalam mengeluarkan duit, maka Ane tak mau menyewanya. Coba, penyewaan bantal ini sudah termasuk didalam tiket tentu akan beda ceritanya, hehehe.
Agar tak bosan, didalam kereta ini Ane gunakan untuk mengobrol dengan penumpang lain disebelah kursi Ane. Pria lanjut usia, berambut putih dan berpakaian agak luset. Namun begitu, dia sungguh teman yang menyenangkan untuk di ajak bicara. Ada banyak hal yang kita obrolkan hingga tak terasa Ane terlelap ketiduran. Ya, namanya tidur didalam kendaraan pasti tidak selelap tidur dirumah sendiri atau hotel. Beberapa kali kereta yang Ane naiki ini berhenti sebentar di stasiun-stasiun. Walaupun demikian tepat pukul 3 pagi kereta ini berhenti di Stasiun Kiaracondong.



Sesuai dengan tujuan Ane, turunlah Ane dari kereta. Ane sempat bingung, apakah Ane langsung menuju penginapan atau berhenti dahulu sembari menunggu pagi. Ane duduk sebentar sebelum keluar dari stasiun. Tak sengaja, saat duduk-duduk santai Ane bertemu dengan adik angkatan Ane saat mengenyam di bangku kuliah namanya Ardi. Kita sempat ngobrol-ngobrol sebentar, diujung cerita Ane mengajak dia untuk menginap di penginapan yang sudah Ane booking sebelumnya. Apakah dia mau atau tidak? ternyata dia tidak menolaknya.



Sebagai konsekuensinya kita langsung menuju keluar dan berjalan kaki menuju tempat penginapan, karena letak penginapan sendiri tidak terlalu jauh dari stasiun jadi tidak masalah. Begitu keluar, kita langsung belok kanan menelusuri jalan Jend. Ibrahim Adjie hingga sejauh kira-kira 900 meter. Begitu menemukan Jl. Soma yang mengarah kearah kanan, kita belok kearah kanan. Kurang lebih 300 meter setelah melewati sebuah jembatan kecil, ada belokan jalan yang mengarah kearah kanan. Disamping itu, terpasang sebuah plank tepat di sisi kiri jalan yang menunjukkan letak Masjid Al Multazam. Beloklah kita kearah jalan tersebut. Setelah melewati masjid, ada 2 gang yang kita temui, gang yang kedualah penginapan yang akan kita inapi itu berada. Namanya "Paksoma Homestay".
Gang yang kedua ini ada pintu gerbangnya. Namun sayang beribu sayang pintu gerbangnya masih dalam keadaan terkunci. Maklum, jam masih menunjukkan pukul 4 pagi dan adzan subuh pun belum berkumandang. Jadi mau tidak mau kita harus menunggu sampai pagi hari tiba. Sembari menunggu, kita pergi ke masjid terlebih dahulu buat mendirikan shalat subuh. Tak sengaja seusai shalat subuh kita bertemu dengan sang pemilik homestay. Jadi setelah sampai di penginapan, kita langsung dibukakan ruang kamar yang masih kosong.
Ada 2 kamar yang masih kosong, 1 kamar berada di lantai bawah dan 1-nya lagi berada di lantai yang ke-2. Kita disuruh memilih dan akhirnya kita putuskan untuk menempati kamar yang berada di lantai yang kedua saja. Seharusnya kita check in minimal jam 12 siang, tetapi kita check in jam 5 pagi. Kita kira tidak ada biaya tambahannya. Eh ternyata tidak, kita dikenakan biaya tambahan sebesar 50 persen. Kalau sendiri tarifnya 80k per malam, berhubung berdua jadi 100k per malam. So, uang yang harus kita bayarkan sebesar 150k saja.



Penginapan ini cukup sederhana. Didalam ruangan hanya terdapat beberapa fasilitas saja yang tersedia seperti meja dan kursi, spring bed yang dilengkapi dengan 2 buah bantal, kamar mandi dalam, dan sebuah televisi dengan model lama. Selain sebagai tempat penginapan, Paksoma Homestay ini juga menyediakan menu makanan yang dapat dipesan oleh penghuni penginapan. Tapi dengan menu yang terbatas seperti sarden dan telur dadar. Serta setiap penghuni dapat menyewa kendaraan baik mobil ataupun motor disini. Nah inilah sob alasan mengapa Ane menginap disini, selain letaknya yang dekat dengan Stasiun Kiaracondong juga menyediakan alat transportasi yang dapat disewa oleh penghuni.
Pagi itu sebenarnya mata masih sayup-sayup efek tidak nyenyaknya tidur di perjalanan. Disini Ane bingung antara tidur sebentar atau mau jalan. Kalau tidur sebentar tentu Ane tidak bisa mengeksplorer banyak tempat, sementara kalau langsung jalan mata masih terasa sayup-sayup. Rencana dari awal memang begitu sampai di Bandung, Ane menyewa motor dan langsung berkeliling-keliling Kota Bandung. Timbang-menimbang akhirnya sesuai dengan rencana awal yakni langsung berkeliling-keliling Kota Bandung.
Ane turun tangga dan langsung menemui Sang Pemilik penginapan, apakah masih ada motor yang dapat Ane pakai? syukur, ternyata masih ada sisa 1 motor yang dapat Ane pakai walaupun motor ini terbilang boros yakni motor yamaha mio model lama. Untuk biaya sewanya per hari sebesar 70k. Ane harus meninggalkan identitas diri Ane seperti KTP elektronik dan kartu alumni. Ane tak masalah, karena disini waktu adalah uang juga tak ada niatan Ane untuk berbuat jahat. Semakin lama di Kota Bandung tentu akan semakin besar pula kost yang akan Ane keluarkan. Begitu Ane membayarnya, Ane langsung dikasih kunci motor, STNK dan jas hujan berbahan plastik sangat tipis.



Begitu mendapatkan sepeda motor, Ane dan sahabat Ane langsung menuju ke sebuah mesin ATM BRI karena nasib kita sama yakni uang yang ada di dompet sudah menipis. Setelah mencarinya, ternyata mesin ATM yang terdekat ada didekat Pasar Kiaracondong tepatnya ada didepannya. Uang sudah diambil dan kita sepakat untuk kembali ke penginapan. Awalnya sieh mampir ke warung makan, tapi karena belum ada yang buka jadi ya langsung pulang saja. Sebelumnya tentu Ane mengisi bahan bakar bensin terlebih dahulu karena bensin yang ada didalam tank motor sudah mulai habis berada di garis merah.
Sahabat Ane ini menanyakan apakah iya Ane akan langsung jalan-jalan sementara kondisi masih dalam keadaan demikian? tanpa ragu-ragu Ane langsung menjawab,"iya, saya akan langsung saja jalan-jalan dengan tujuan mengeksplorer Lembang". Mendengar jawaban Ane tersebut dia langsung terdiam dan berpesan agar selalu hati-hati. Badan masih lengket, sebelum pergi Ane mandi terlebih dahulu. Langsung nyesss, ternyata beginilah kondisi air bandung sedikit lebih dingin dibandingkan Jogja.
Seusai mandi, langsung memakai pakaian dan langsung capcus memulai petualangan menjelajah Kota Bandung. Yeah, tujuan pertama Ane adalah Gedung Sate. Dari dahulu Ane sangat, sangat ingin sekali menginjakkan kaki disini, ntah apa yang merasuki fikiran Ane yang jelas sangat ingin sekali menginjakkan kaki disini. Permasalahannya adalah, dimanakah letak Gedung Sate itu? ternyata ada dibagian utara Kota Bandung tepatnya di Jl. Diponegoro No.22 Citarum, Bandung. Dengan berbekal hardcopy, memperhatikan plank jalan dan menggunakan insting akhirnya ketemu juga tempat yang Ane cari walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa Ane juga harus blusukan kesana-kemari seperti orang linglung.



"Gedung Sate", begitulah papan nama yang terpasang dibagian gedung tersebut. Gedung ini cukup luas dengan arsitektur bangunan yang cukup menarik bergaya Indo-Eropa. Bangunan ini cukup unik dan khas karena dibagian menara gedung tersebut terdapat ornamen yang mirip tusuk sate pada menara gedung sentral. Dibagian depan terdapat air mancur buatan yang cukup indah. Beberapa pohon terawat dengan rapi disini. Sebenarnya Ane ingin segera memasukinya, tapi apa boleh buat Ane tidak diperkenankan untuk memasukinya. Salah seorang satpam yang sedang berjaga-jaga didepan berucap bahwa tak sembarangan orang boleh memasukinya. Pupus sudah harapan untuk masuk dan akhirnya Ane hanya mengambil gambar sekedarnya saja di bagian depan.



Berkenaan dengan satpam, Ane sungguh mengapresiasi kinerja dari satpam ini sob. Tak henti-hentinya mereka bekerja, bahkan setiap  penyeberang jalan dia siap sedia membantu menyeberangkannya tanpa diminta. Disini Ane sempat bercakap-cakap sebentar dengan salah seorang satpam. Dari keterangan beliau Ane mendapatkan sebuah informasi kalau Gedung Sate ini adalah sebuah landmark Kota Bandung, ibaratnya white housenya Kota Bandung. Diseberang jalan bagian depan Gedung Sate terdapat tanah lapang yang cukup luas dengan nama Lapangan Gasibu. Apakah kata "Gasibu" itu sebuah akronim/singkatan kata? ternyata tidak, Gasibu ya Gasibu. Ibaratnya sebuah altar Provinsi Jawa Barat.



Lapangan ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan yang cukup tinggi, warna putih mendominasinya. Disebelah utara berdiri sebuah tiang, nampaknya tiang ini berfungsi untuk mengibarkan bendera Sang Saka Merah Putih bilamana ada acara upacara yang digelar disini. Sementara di sebelah barat laut berdiri sebuah perpustakaan cukup kecil yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang menginginkannya. Rupanya tak banyak yang memanfaatkan akan keberadaan perpustakaan ini, hal ini terlihat dari bagian depan hanya ada beberapa pemuda saja yang sedang duduk-duduk santai membelakanginya. Hmmm



Beragam aktiftas yang sedang dilakukan oleh para pengunjung disini, mulai dari lari-lari kecil mengitari Lapangan Gasibu, duduk-duduk santai dipinggir lapangan, hingga jepret sana-jepret sini selfie seorang diri yang juga sedang Ane lakukan ini, hehehe. Dari sekian banyak aktiftas tersebut Ane kira pas bila lapangan ini digunakan untuk berlari-lari kecil mengelilinginya. Alasannya cuman satu yakni Lapangan Gasibu ini sudah dilengkapi dengan jalur lintasan untuk para pelari. Sehingga setiap pelari bisa merasa nyaman dan tubuh menjadi bugar kembali.




Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Dihari ini tak hanya di Gedung Sate dan Lapangan Gasibu saja tujuan Ane, tapi ada tujuan utama yang lebih hot yang akan Ane tuju. Tujuan tersebut adalah mengeksplorer Lembang lebih jauh. Seperti apa ceritanya? tunggu saja ya sob cerita Ane selanjutnya. Sampai Jumpa!
Let's Go

Selasa, 24 April 2018

Santai Sejenak di Taman Tugu Tani Mesuji

Kabupaten Mesuji merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Lampung yang minim akan obyek wisata. Satu-satunya obyek wisata yang sangat terkenal di Kabupaten Mesuji adalah Taman Kehati, itupun baru seumur jagung. Tapi hal itu lantas tidak membuat warga sekitar putus asa untuk berbahagia. Ya, untuk sekedar refreshing warga Kabupaten Mesuji punya cara tersendiri yaitu dengan cara mengunjungi Taman Tugu Tani yang terletak tepat di pertigaan Simpang Asahan, Kecamatan Way Serdang, Kabupaten Mesuji, Lampung.


Letak Taman Tugu Tani ini sangatlah strategis karena selain terletak di pertigaan juga terletak di pintu gerbang "Selamat Datang Kabupaten Mesuji". Ane sendiri bila datang dari Yogyakarta atau sebaliknya selalu saja melewati tempat ini. Pasalnya untuk sampai kerumah Ane, dari Jalan Lintas Timur (Jalintim) harus masuk kedalam melalui pertigaan ini. Tadinya Taman Tugu Tani ini belum ada karena belum dibangun, barulah pada tahun 2015 Tugu Tani ini selesai dibangun. Ketika pembangunannya selesai tempat ini selalu saja ramai dikunjungi oleh warga sekitar terutama pada saat sore hari. Ya walaupun kebanyakan dari mereka adalah kawula muda.



Pintu gerbang "Selamat Datang Kabupaten Mesuji"
Dari dahulu rasanya ingin sekali Ane mampir ke tempat ini, tetapi tidak jadi-jadi terus. Nah, barulah pada tanggal 23 Agustus 2017 kemarin akhirnya Ane bisa menyempatkan diri mampir sebentar disini. Itupun sehabis mengurus sesuatu di DISDUKCAPIL. Lalu ada apa saja ya yang ada disini? berikut ulasannya.
Taman Tugu Tani, bila seseorang melewati Jalintim dari Kota Bandar Lampung ke Kota Palembang atau sebaliknya pasti melewati tempat ini. Meskipun dibangun tidak terlalu besar dan tinggi namun cukup menarik perhatian. Tugu dibangun dengan corak khas Mesuji. Dua buah patung terletak diatasnya. Sebuah patung merupakan patung Pak Tani dan satu lainnya merupakan patung Bu Tani. Patung Pak Tani mempunyai karakteristik mengenakan celana panjang dan baju berlengan panjang serta mempunyai ciri khas menaruh cangkul dipundaknya. Sedangkan patung Bu Tani mempunyai karakteristik yang berbeda yakni mengenakan pakaian kemben kebaya dengan ciri khas membawa rinjing bambu di pinggangnya. Meskipun terdapat perbedaan, tapi kedua patung tersebut mempunyai persamaan diantaranya sama-sama memakai capil gunung dan sama-sama melambaikan tangan.


Kalau boleh Ane mempresentasikan bahwa patung-patung inilah merupakan lambang dari kemakmuran. Tujuan awal dibangunnya Taman Tugu Tani ini sebenarnya untuk rest area tapi berhubung tempatnya yang cukup apik maka tak hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan saja tetapi juga sebagai tempat rekreasi. Sebagai tempat rest area tentu tempat ini memiliki beberapa fasilitas penunjang diantaranya mushalla, kios-kios penjual makanan serta kamar kecil. Namun ada yang sangat disayangkan dari tempat ini, yakni fasilitas-fasilitas penunjang tersebut tidak berfungsi secara optimal. Contohnya saja kamar kecil dengan kondisi yang kotor serta kran macet tidak ada air yang keluar. Bahkan untuk mencegah kamar kecil tersebut tetap digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab maka didepan pintunya diberi suatu penghalang. Luar biasa!!!


Kamar kecil yang diberi penghalang
Ane berharap kepada pemerintah setempat agar selalu memperhatikan keamanan dan kenyamanan tempat ini karena kini Taman Tugu Tani ini tidak hanya berfungsi sebagai rest area saja tetapi juga sudah menjadi salah satu icon Kabupaten Mesuji yang menjadi kebanggaan warga mesuji. Memang merawat itu lebih sulit dibandingkan dengan membangun, tapi bila ada kemauan yang keras maka sesulit apapun itu pasti ada jalannya (pesan untuk pemerintah setempat).
Let's Go

Sabtu, 31 Maret 2018

Bakso Son Haji Sony Lampung, Lezatnya Nomor Satu

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.15 WIB, sementara perjalanan masih panjang untuk sampai ke rumah Ane. Dari Gapura Bambu Pringsewu Ane pacu kembali kendaraan motor Ane bersama bapak menuju Kota Bandar Lampung. Iya, perjalanan pulang menuju rumah kita sejalan dengan perjalanan menuju Ibukota Lampung yakni Bandar Lampung. Dibutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk sampai di kota ini.
Benar saja satu jam kemudian sampailah kita di Kota Bandar Lampung. Sambil berkendara, Ane berbincang-bincang dengan bapak, apakah beliau setuju untuk mampir sebentar buat makan di salah satu kedai makan. Syukur, bapak setuju dengan pendapat Ane tersebut. Selanjutnya Ane menyampaikan pendapat lagi, "Apakah setuju kalau kita makan bakso saja?". Bapak orangnya manutan jadi dia setuju-setuju aja mau makan dimana dan makan apa. Wokelah kalau begitu, kebetulan Ane pernah membaca sebuah artikel bahwa ada sebuah tempat makan bakso terkenal di Kota Bandar Lampung ini yakni Bakso Son Hajisony. Tanpa basa-basi meluncurlah kita menuju kesana.



Berdasarkan informasi yang Ane terima bahwa ada banyak cabang Bakso Son Hajisony yang tersebar di Kota Bandar Lampung ini, walaupun demikian Ane tetap ingin makan di pusatnya saja yang terletak di Jl. Wolter Monginsidi no. 42, Durian Payung, Tanjung Karang Pusat. Tidak susah buat Ane untuk mencarinya karena jalan yang ada di Bandar Lampung ini memang cukup mudah untuk di hapal. 15 menit dalam masa pencarian dan tepat pukul 12.30 WIB sampailah Ane di TeKaPe.


Sebelumnya Ane sempat bingung saat akan memarkir motor, bagaimana tidak lahan parkir yang tersedia cukup sempit sementara pengunjungnya ramai sekali. Alhasil Ane terpaksa harus menunggu beberapa saat dan syukur tak sampai 5 menit Ane mendapatkan lahan parkir yang kosong.
Tidak seperti kondisi lahan parkirnya, susana beda justru kita temui saat memasuki warungnya. Walaupun warungnya terbilang tidak terlalu luas namun Kita tak perlu repot-repot menunggu meja makan yang kosong, kita langsung bisa menempati salah satunya. Sebenarnya ada 2 jenis meja makan yang dapat kita tempati dalam menikmati baksonya, yakni didalam ruangan yang tertutup dan yang satunya lagi di ruangan yang terbuka. Kita memilih di ruangan yang terbuka saja. Setelah meletakkan jaket, bapak menunggu di tempat duduk, sementara Ane pergi mendatangi salah satu pelayannya.


Ane pesan 2 buah mangkok bakso dan untuk minumannya cukup 2 aqua gelas saja. Pelayannya pun memberi pilihan kepada Ane apakah mau pakai mie atau tidak dan Ane menjawabnya pakai saja. Tujuan Ane tak lain dan tak bukan adalah ingin tahu seperti apa Bakso Sony dengan menu komplit itu. Tanpa menunggu lama datanglah pesanan Ane tersebut. Semangkok bakso Sony berisikan 6 buah bakso dilengkapi dengan mie kuning, bihun dan daun sledri. Kuahnya pun cukup bening seperti kuah khas Jawa.


Pertama-tama Ane cicipi dahulu kuahnya, hulala nikmat sekali sangat gurih dan khas. Saking nikmatnya tidak Ane kasih apa-apa kedalam semangkok bakso ini, tadinya akan Ane kasih kerupuk dan semacamnya, tapi Ane urungkan niatan Ane tersebut cuman sedikit kecap dan sambal saja. Dilihat dari teksturnya bakso ini benar-benar menggoda, berwarna agak cokelat bila dibandingkan dengan bakso-bakso pada umumnya.


Lalu bagaimanakah dengan rasanya? Setelah Ane belah guratan dagingnya terlihat jelas berserat dan ternyata rasa baksonya itu "wuenak tenan", cukup kenyal, empuk, dan dagingnya cukup terasa lembut di mulut seperti bakso buatan ibu Ane saat lebaran lalu. Ya kalau boleh Ane perkirakan perbandingannya sekitar 1:1,5, artinya setiap 1 Kg daging sapi itu dicampur dengan 1,5 Kg Tepung tapioka. Tentu, rasa bakso ini tidak akan mudah kita temukan di warung-warung bakso lainnya.
Di benak sobat mungkin ada sebuah pertanyaan seperti ini,"bagaimana jika bakso itu dibuat hanya dicampuri bumbu saja tanpa campuran tepung tapioka?".
Berdasarkan pengalaman yang sudah Ane dapat sebelumnya, yakni sudah pernah menggilingkan bakso sebanyak 2 kali bahwa bakso tidak mungkin bisa dibentuk tanpa campuran tepung tapioka. Dahulu Ane pernah menggilingkan bakso 1:1, tapi apa yang terjadi? Ibu Ane susah membentuknya menjadi bulat saat perebusan. So, semua bakso itu sudah pasti ada campurannya cuman yang membedakan adalah seberapa banyak perbandingan antara daging bakso dengan campurannya tersebut.
Back to topik, tak lupa Ane bertanya kepada bapak bagaimana dengan rasa baksonya? Dia bilang bakso ini memang berbeda dengan bakso-bakso pada umumnya dijual. Rasanya gurih dan sangat khas serta sepertinya campurannya tidak banyak. Secara keseluruhan Bakso Son Hajisony ini rasanya "Wuenak tenan, Le Leduk". Untuk itu

Tak habiskan, begitu juga dengan bapak
Puas makan, kini saatnya Ane membayarnya. Tapi sebelumnya menunggu bapak dahulu untuk pergi ke kamar kecil. Seporsi Bakso Son Hajisony ini dibanderol dengan harga 15k, sementara segelas aqua kecil hanya dihargai 0,5k saja. Total uang yang harus kita keluarkan secara keseluruhan adalah 31k saja. Gimana cukup ekonomis dan tidak merogoh kocek terlalu dalam bukan? Eow iya bakso yang kita pesan ini adalah bakso mie. Sobat bisa memilih jenis-jenis bakso lainnya seperti bakso polos dan mie ayam bakso. Bahkan selain bakso, sobat juga bisa memesan jenis makanan lainnya seperti mie ayam, rolade sapi, dan rolade ayam. Tidak mau dimakan di tempat dan ingin di bawa pulang? juga bisa. Lebih dari itu sobat pun bisa hanya beli baksonya saja yang tersedia dalam kemasan. Untuk 50 biji bakso dibanderol dengan harga 120k. untuk lebih jelasnya silahkan sobat lihat sendiri daftar menu makanannya berikut ini.


Jam buka warungnya dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB
catatan:
Mungkin sobat pernah menjumpai warung makan bakso dengan membawa brand "Bakso Sony". Anepun sering mengalami demikian seperti di Jl. Lintas Timur Unit 2 Tulang Bawang dan di Desa Brabasan Kabupaten Mesuji. Mungkin saking terkenalnya nama tersebut mulai dipakai oleh warung-warung bakso lainnya. Ane pernah mencobanya di unit 2 tersebut dan ternyata rasanya tetap kalah enaknya dibandingkan dengan Bakso Son Hajisony. Jadi sobat harus jeli dalam melihatnya jika ingin merasakan nikmatnya Bakso Son Hajisony tersebut.
Let's Go

Sabtu, 24 Februari 2018

Gapura Bambu Pringsewu Lampung, Unik dan Tak Biasa

Kembali dari Kota Yogyakarta dimana sudah 10 tahun Ane berada disana dalam menuntut ilmu, Ane pulang ke kampung halaman di Lampung. Ya, Ane dilahirkan di Lampung dimana banyak berita buruk yang disematkan kepadanya mulai dari kasus register 45 yang ada di Kabupaten Mesuji, pembegalan hingga berujung pembunuhan, dan lain sebagainya. Pokoknya tidak ada bagus-bagusnya. Banyak orang luar daerah yang takut bila datang ke Lampung karena alasan tersebut. Jangankan orang luar daerah, Ane sendiri pun terkadang merasa takut bila keluar rumah dan pergi ke tempat baru. Hal ini sempat Ane alami saat mengantarkan ayah Ane ke tempat kakak kandungnya yang tak lain dan tak bukan adalah Pak De Ane.



Rumah Pak De tersebut ada di Tulang Majak, Kabupaten Tanggamus. Banyak berita yang beredar mengenai tempat itu, mulai dari pemalakan, pembegalan hingga bisa berujung kematian. Sebagai seseorang yang pernah mengenyam pendidikan di ilmu sains, lantas Ane tak mempercayainya begitu saja. Ane searching sana, searching sini di internet mencari sebuah informasi tentang kebenaran berita tersebut, dan bila memang benar, tempat mana lagi yang perlu diwaspadai?. Ternyata benar kabar yang beredar di masyarakat bukan isapan jempol semata. Berdasarkan informasi yang berhasil Ane dapatkan bahwa titik rawan kejahatan itu mulai dari Kawasan Batu Keramat hingga Kota Agung (Ibukota Tanggamus). Kejahatan disini tidak mengenal waktu, ntah pagi, siang, sore atau malam hari kejahatan itu bisa saja terjadi. Tapi ada saat waktu yang perlu diwaspadai bagi siapapun yang ingin melewati jalan ini yakni sore hari. Jangan sampai melewati jalan ini diatas jam 4 sore. Ane yang tak mengenal kawasan tersebut dengan baik hanya manggut-manggut saja dan mematuhinya.



Awalnya Ane sempat ragu-ragu mengantarkan ayah Ane dengan menggunakan kendaraan sepeda motor, secara jarak rumah Pak De Ane dengan rumah Ane terbilang cukup jauh yakni sekitar 300 Km. Ibarat di Pulau Jawa jaraknya antara Kota Jogja dengan Surabaya. Pernah terlintas dalam benak Ane sebaiknya kita menggunakan jasa travel atau bus saja. Tapi yang jadi masalah adalah tidak adanya bus maupun travel yang sampai di tempat tujuan kita. Disinilah Ane mengalami dilema, apakah Ane mengantarkan ayah menggunakan sepeda motor dengan resiko yang cukup besar ataukah dengan menggunakan jasa travel atau bus yang resikonya lebih kecil namun tidak sampai di tempat tujuan. Timbang-menimbang dengan tekad kuat akhirnya Ane memutuskan untuk mengantarkan ayah menggunakan sepeda motor.



Salah satu keuntungan bepergian menggunakan kendaraan pribadi adalah bisa mampir dimana saja dan kapan saja sesuai dengan kehendak hati kita. Tentu, siapa saja pasti suka dengan tempat-tempat yang menarik. Tak terkecuali dengan kita. Salah satu tempat menarik yang kita lewati saat menuju Tanggamus adalah Kawasan Gapura Bambu Pringsewu. Tapi Ane memutuskan untuk lanjut saja dan berencana mampir setelah pulang dari sana karena kita tak mau kesorean sampai di Kawasan Batu Keramat.
Syukur kekhawatiran kita tak terjadi, berangkat aman, pulang pun aman. Kini, sesampainya di Kawasan Pringsewu akhirnya kita benar-benar menyempatkan diri di tempat dimana Ane selalu menantikannya yakni Kawasan Gapura Bambu pringsewu yang terletak sekitar 37 Km sebelah barat dari Kota Bandar Lampung.
"Sambil menyelam minum air", mungkin itulah sebuah pribahasa yang tepat untuk menggambarkan kegiatan kita ini. Selain beristirahat sejenak juga kita dapat menikmati segala pemandangan yang ada. Gapura Bambu yang memukau ini memang dibangun sebagai tempat peristirahatan sejenak (rest area) sekaligus menjadi ikon bagi Kabupaten Pringsewu itu sendiri. Siapapun yang pernah melakukan perjalanan menuju Pringsewu dari Kota Bandar Lampung pasti pernah melihat gapura ini.



Ya, Gapura Bambu yang bertuliskan "Selamat Datang di Ibukota Kabupaten Pringsewu" bila datang dari arah Kota Bandar Lampung dan bertuliskan "Selamat Jalan Dari Ibukota Kabupaten Pringsewu" bila datang dari arah Kota Pringsewu ini rupanya telah berhasil menarik perhatian Ane. Bagaimana tidak sebuah gapura yang pada umumnya dibangun seperti itu-itu saja, tidak dengan yang satu ini. Gapura ini dibangun menyerupai bahkan sama persisnya dengan bentuk bambu berwarna kuning yang melengkung dimana kedua ujungnya ada dikedua sisi jalan. Ada 8 buah bambu yang melengkung dan terbagi menjadi 2 buah ikatan. Ikatan pertama terdiri dari 4 buah bambu yang ada disebelah kanan jalan dan ikatan yang kedua juga terdiri dari 4 buah bambu yang ada disebelah kiri jalan. Kedua ikatan tersebut melengkung dan bertemu tepat ditengah-tengah jalan dengan diatasnya terdapat sebuah mahkota Siger yang merupakan simbol kebanggan bagi Provinsi Lampung.




Nama "pringsewu" sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti "Bambu Seribu" sehingga tak heran bila gapura bambu ini dibangun. Sebenarnya tak hanya berupa bangunan gapuranya saja yang membuat kita memutuskan untuk mampir, tetapi juga suasananya. Di samping kanan dan kiri kawasan gapura bambu terdapat hamparan sawah yang cukup luas dengan tanaman padi yang menghijau. Tampak dikejauhan sana deretan perbukitan yang cukup oke. Jadi pas bila beristirahat sejenak sambil melihat semua pemandangan yang ada.
Sebagai rest area tentu beragam fasilitas sudah tersedia, mulai dari toilet, musholla kecil, tempat parkir, rumah makan, hingga ada juga lho rumah adat yang pastinya rumah adat tersebut adalah rumah adat Kabupaten Pringsewu.



Saat pertama kali mampir kesini Ane bingung dengan letak toiletnya, dimanakah toilet itu berada? kebetulan Ane sedang kebelet. Jadi, setelah memarkirkan kendaraan motor di tempat parkir yang cukup luas, Ane mencarinya. Ew ternyata letak toiletnya itu agak tersembunyi berada di sebelah kiri Dewan Kerajinan Nasional (DKN), sebelah rumah makan. Dari Musholla, Ane berjalan kearah kiri (barat) hingga menemui DKN. Setelah itu belok kearah kanan hingga mentok, nah toilet ini berada persis sebelum lahan sawah.



Selepas dari toilet lantas kita tak begitu saja meninggalkan lokasi ini, melainkan kita mampir sebentar di sebuah kedai. Dari sederetan kedai yang menawarkan beragam jenis makanan ringan dan minuman, Ane lebih memilih sebuah kedai yang berada tepat didepan rumah adat. Kan, selain meminum kopi juga dapat melihat dengan jelas rumah adat khas dari Kabupaten Pringsewu ini. Rumah berbentuk panggung dengan warna cokelat yang mendominasinya.



Ane rasa bukan hanya orang yang sedang melakukan perjalanan jauh di jalur lintas barat saja yang mampir kesini, tetapi juga penduduk sekitar. Hal ini terlihat dari semua pengunjung yang datang, ada orang tua bersama anaknya duduk-duduk di pinggir sawah, anak sekolah, hingga muda-mudi yang asyik nongkrong-nongkrong disekitar gapura. Semuanya tanpa mengenakan helm dikepalanya.
Puas beristirahat, Ane bersama bapak melanjutkan kembali perjalanan kita menuju Kota Bandar Lampung sebelum pulang ke rumah. Kira-kira ngapain aja ya sob kita di Kota bandar Lampung? tunggu cerita Ane selanjutnya ya, Sampai Jumpa!
Let's Go

Kamis, 15 Februari 2018

Taman Kehati, Objek Wisata Kebanggaan Masyarakat Mesuji Lampung

Asyik juga ternyata renang di Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) yang merupakan salah satu obyek wisata yang ada di Kabupaten Mesuji Lampung tepatnya berada di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Tanjung Raya. Tak banyak memang tempat-tempat menarik yang ada di tempat kelahiran Ane ini, namun dengan hadirnya obyek wisata ini setidaknya bisa mengobati kangen Ane terhadap dunia jalan-jalan. Ane kira tak hanya Ane saja yang senang, melainkan seluruh warga masyarakat Mesuji. Sebenarnya nggak ada niat sieh sob Ane mengunjungi tempat ini, karena berhubung ibu Ane yang ngajak jadilah Ane menuju kesini.


Hari Sabtu 20 Mei 2017 Akhirnya Ane benar-benar meluncur kesini. Kali ini Ane tak sendiri sob selain dengan Ibu Ane, Ane juga bersama dengan murid-murid TK Ibu Ane berserta orang tuanya. Perjalanan ini sungguh bisa membuat Ane bahagia, bagaimana tidak dengan banyaknya sahabat yang ada, kita bisa bergurau bersama. Dan yang paling penting nantinya bisa minta bekal siang kepada mereka, hahaha.
Inilah Mesuji dengan segala keadaannya. Berbeda dengan pemandangan alam yang ada di Pulau Jawa pada umumnya, di Mesuji ini tak banyak yang dapat Ane saksikan. Sepanjang perjalanan pemandangan yang dapat Ane lihat hanyalah tanaman pohon karet dan sawit saja. Tak hanya itu kondisi jalanpun masih banyak yang berlubang parah, sehingga dengan menaiki kendaraan bermotor maka serasa menaiki kendaraan hewan berkaki empat khususnya kuda. Hanya beberapa kilo saja kita melalui jalan beraspal mulus itupun jalan lintas timur yang merupakan jalan nasional, tapi setelah itu kembali lagi kita harus melalui jalan beraspal dan berlubang.
Tak perlu kehilangan sepeserpun untuk sampai sini, cukup dengan duduk manis saja Ane sudah sampai di TeKaPe. Ya, inilah kali pertama Ane menginjakkan kaki disini. Obyek Wisata Taman Kehati ini terbilang baru, karena baru diresmikan sebulan yang lalu tepatnya tanggal 12 April 2017. Walau demikian berkaitan dengan jumlah pengunjungnya, obyek wisata ini tak bisa dianggap remeh karena Ane melihat dengan mata kepala Ane sendiri pengunjungnya itu sungguh bejibun.


Untuk dapat memasuki obyek wisata ini, setiap pengunjung hanya perlu membayar tiket sebesar 12k saja dengan rincian 10k untuk tiket masuknya dan 2k untuk parkirnya. Tempat parkirnya sangat luas sekali sehingga hal ini sangat memudahkan pengunjung untuk dapat memarkirkan kendaraannya. Dari tempat parkir Ane memilih untuk melihat-lihat sekitar dahulu sebelum masuk kedalam. Dibagian depan terdapat sebuah Tugu Kalpataru yang dicat berwarna-warni. Bagian bawah dari tugu tersebut dibangun menyerupai balok-balok yang disusun mengerucut keatas, sedangkan dibagian atasnya terdapat tangan yang sedang membawa bulatan bergambarkan akar pohon.



"Oke sekarang saatnya menuju kedalam, fikirku". Meskipun baru dibuka, Ane sungguh kagum dengan obyek wisata ini lho sob. Fasilitasnya terbilang cukup komplit, mulai dari lapak para pedagang yang tersusun rapi, kamar kecil dengan airnya yang cukup lancar, serta tempat duduk ada dimana-mana. Selain itu fasilitas pokoknya cukup banyak diantaranya fasilitas bermain anak, kolam pemancingan, kolam renang, jogging track, taman bunga, hingga taman burung.




Rasanya Ane tak sabar ingin segera menceburkan diri saat melihat kolam renang. Ada sekitar 5 buah kolam renang dengan kedalaman berbeda yang dapat Ane nikmati. Ada kolam renang yang bisa digunakan oleh anak-anak yang dilengkapi dengan fasilitas permainannya seperti ember tumpah, prosotan, dan berjalan diatas air. Ada kolam renang yang bisa digunakan oleh siapa saja dengan kedalaman yang sedang, bahkan ada kolam renang yang hanya dikhususkan untuk orang yang bisa berenang saja.




Lalu dimanakah Ane harus menceburkan diri? tentu di kolam renang yang paling dalam tow sob, masa iya dikolam yang dangkal berenang bersama adik-adik kecil, kan malu :-). Berhubung Ane kesininya bersama Ibu Ane maka urusan pakaian tak jadi masalah. Ane titipkan kepada beliau, soalnya beliau sendiri tak mau Ane ajak mandi walaupun sudah berulang kali Ane membujuknya. Yasudahlah!
Byurrrrr, masuklah Ane kedalam kolam tersebut. Berbagai macam aktifitas Ane lakukan, selain berenang kesana-kemari juga melakukan jumping dari atas dengan ketinggian sekitar 3 meter. Awalnya sempat ragu-ragu juga apakah bisa Ane melompat dari atas ketinggian tersebut, eh ternyata setelah mencobanya malah membuat Ane ketagihan untuk mengulanginya. Hulala, sensasinya sungguh luar biasa dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.




Tidak terasa sudah 2 jam Ane berenang disini, rasanya sudah cukup puas hingga lapar menghampiri perut. Berbagai macam gaya sudah Ane lakukan mulai dari gaya punggung hingga gaya batu, hahaha. Yang jelas minum juga puas. Setelah bersih-bersih diri, kemudian Ane makan. Setelah itu Ane melanjutkan lagi penjelajahan Ane.
Diantara semua fasilitas yang ada yang paling banyak dikunjungi selain di kolam renang yaitu Taman Burung. Ada banyak jenis unggas berada di dalamnya. Pokoknya kalau kesini dijamin tidak rugi deh sob, selain bermain kita juga dapat belajar.




Mantab!!!
Untuk dapat sampai disini, berikut arahan jalannya:
Dari Kota Bandar Lampung Obyek Wisata Taman Kehati ini dapat ditempuh selama 5 (lima) jam perjalanan darat melalui jalan lintas timur. Saat memasuki Kabupaten Mesuji dan bertemu dengan Kantor POLRES Mesuji, ada 2 jalan yang dapat digunakan untuk sampai kesini. Pertama, sobat bisa belok kearah kanan (timur) karena tepat sebelum Kantor POLRES ada belokan jalan yang mengarah kekanan. Ikuti jalan ini dengan kondisi jalan yang awalnya baik kemudian berangsur menjadi rusak parah hingga sejauh kurang lebih 11 Km. Setelah bertemu dengan kantor pos dan maju sedikit ada sebuah pertigaan. Beloklah kearah kiri. Ikutilah jalan ini dengan kondisi jalan yang cukup baik hingga kira-kira sekitar 3 Km, sobat akan bertemu dengan perempatan jalan. Jangan belok-belok, masih lurus lagi dan tak lama kemudian sampailah sobat di tempat yang sobat maksud.
Dan yang kedua, sobat bisa belok kearah kanan (timur) setelah bertemu SMAN 1 Simpang Pematang. Caranya, dari POLRES Mesuji maju sedikit sobat akan bertemu dengan pertigaan jalan, bila kearah kiri maka akan sampai di Palembang dan Kota-kota besar di Pulau Sumatera dan bila lurus akan sampai di SMAN 1 Simpang Pematang. Nah, lurus saja hingga sejauh kurang lebih 3 Km. Setelah bertemu dengan SMAN 1 Simpang Pematang yang ada di kiri jalan, tepat setelahnya ada perempatan jalan. Beloklah kearah kanan (timur). Mula-mula kondisi jalannya cukup bagus, tetapi lama-kelamaan kondisi jalannya berubah menjadi cukup parah. Dari SMAN 1 Simpang Pematang tersebut, sejauh kira-kira 11 Km sobat akan bertemu dengan perempatan jalan. Beloklah kearah kiri dan tak lama kemudian sampailah sobat di tempat yang sobat maksud.
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me