Rabu, 17 Juli 2019

Belajar Budaya dan Aksara di Museum Lampung

Saat pulang dari kerja tiba-tiba adik Ane mendekati Ane dan bilang:
Adik Ane : Kang besok tanggal 3 disuruh membimbing anak SMP
           jalan-jalan lo Kang!
Ane      : Hah, dimana itu?
Adik Ane : Rencana ke Museum Lampung, Pantai Sari Ringgung, dan
           Transmart.
Jadi begini sob, selain bekerja menjadi seorang guru di SMP PGRI 1 Way Serdang Ane juga bekerja menjadi PPK Way Serdang dan kebetulan saat itu sedang padat-padatnya mengurusi masalah PEMILU. Tapi Ane cukup beruntung karena pas selesai mengikuti rapat rekapitulasi di tingkat kabupaten, kabar ini Ane terima.  
Berhubung pada tanggal itu Ane tidak ada kegiatan, juga karena hobi, serta tempat-tempat tersebut belum pernah Ane sambangi kecuali Museum Lampung maka saat itu juga Ane langsung menyetujuinya dengan mengatakan OK.
Ya, walaupun Ane lahir di Lampung namun belum banyak tempat-tempat wisata yang Ane kunjungi. Ane lebih banyak menghabiskan waktu di Kota Jogja dan sesekali main ke Lombok dan Bali. Ingin sekali sieh mengeksplorer banyak tempat di tanah kelahiran sendiri, namun dikarenakan keadaan sekarang yang sudah tidak seperti dahulu yang mempunyai banyak waktu maka Ane menyiasatinya dengan cara mengeksplorernya secara bertahap.
Berselang dua hari waktu yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Keberangkatan kita direncanakan jam 12 malam dengan perkiraan waktu sampai di Museum Lampung tiba pada pagi hari. Maklum, museum ini terletak di Ibukota Provinsi Lampung yakni Bandar Lampung, sementara rumah Ane berada di Kabupaten Mesuji. Perjalanan dari rumah Ane hingga Bandar Lampung memakan waktu sekitar 4-5 Jam. Cukup lumayan bukan :-)


Selepas shalat Isya, Ane bersama adik Ane (Ia pun ingin ikut) mulai mempersiapkan diri. Tak ada persiapan khusus karena cuman satu hari saja kita berwisata. Tepat jam setengah 12 malam Ane bersama adik Ane menuju ke titik awal pemberangkatan. Sesampainya disana ternyata baru ada beberapa anak murid saja yang kumpul, sedangkan Bapak/Ibu gurunya pun belum ada yang kumpul. Jangankan itu lawong mobilnya saja yang mau kita naiki belum juga datang. Yasudahlah Ane pulang dulu dan adik Ane, Ane tinggal di lokasi. Sudah satu jam ku menunggu di rumah, tapi tak ada kabar. Alhasil pada jam setengah 1 pagi Ane menuju ke lokasi pemberangkatan. Tapi apa sob? mobilnya belum juga datang, namun peserta jalan-jalan sudah hampir semua kumpul. Syukur tepat pada pukul setengah 2 pagi mobilnya datang dan semua peserta juga sudah pada kumpul. Jadi tak butuh waktu lama kita menata diri dalam bus, habis itu wussss perjalanan dimulai.
Awalnya kita melewati jalan berbatu dan bergelombang kurang lebih sekitar 20 Km, didalam mobil bisa dibayangkan rasanya seperti apa. Kalau sobat pernah naik kuda ya mungkin seperti itulah dan itulah kondisi pada umumnya infrastruktur jalan di desa-desa Provinsi Lampung. Sebenarnya tak jauh dari titik pemberangkatan itu ada jalan tol, tapi jalannya belum diresmikan dan belum sepenuhnya terhubung satu sama lain. So, mau tidak mau mobil yang kita naiki ini harus melewati jalan biasa dan jalan nasional.


Keluar dari jalan pedesaan, kini masuk jalan nasional tepatnya Jalan Raya Lintas Timur. Jalannya cukup mulus dan jalan inilah yang akan kita lewati hingga ke Bandar Lampung. Awalnya Ane berfikir kalau mobil ini bakalan lewat jalan tol Terbanggi Besar - Bakauheni, karena memang jalan tol Terbanggi Besar - Bakauheni sudah bisa digunakan sepenuhnya. Ternyata tidak, nyatanya sesampainya di depan gerbang pintu tol bus ini tetap melaju kencang tanpa memperdulikannya. Tarik terus mang!
Ku lirik sebuah jam di HP dan waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi, itu artinya sudah memasuki waktu shalat subuh. Sesuai dengan dugaan Ane ditengah perjalanan kita mampir dahulu di sebuah tempat untuk beristirahat dan tempat yang kita singgahi bernama Masjid Istiqlal. Namanya memang sama dengan Masjid Istiqlal di Jakarta, namun Masjid Istiqlal ini berada di Bandar Jaya, Terbanggi Besar, Lampung Tengah.


Beragam aktivitas mulai dari shalat, makan, mandi kita lakukan disini. Ane memilih untuk tidak mandi, selain cuaca masih dingin juga berencana sekalian mandi di Pantai Sari Ringgung saja karena cuma membawa pakaian ganti satu pasang saja. Memasuki masjidnya ternyata cukup besar juga dan Ane perkirakan masjid ini dapat menampung ribuan jamaah.
Habis shalat dan makan, kita lanjutkan lagi perjalanan kita. Sekitar 1,5 jam sampailah kita di tempat yang kita maksud yakni Museum Negeri Lampung atau warga masyarakat biasa menyebutnya dengan Museum Lampung yang beralamatkan di Jl. ZA Pagar Alam No. 64, Gedong Meneng, Kecamatan Kedaton, Kota Bandar Lampung. Terhitung sudah dua kali ini Ane mengunjunginya, pertama saat Ane masih duduk di bangku SMP dan kedua saat inilah dimana Ane bukan lagi menjadi seorang siswa namun sudah menjadi seorang guru.


Kalau lewat mah sering. Saat memasuki halaman museum, kita sudah disuguhi beberapa macam koleksi diantaranya disisi kanan museum terdapat rumah khas budaya Lampung yaitu rumah panggung kayu. Sedangkan disisi kanan dan kiri sebelum pintu masuk terdapat meriam kuno yang syarat akan nilai sejarah. Tak ingin berlama-lama diluar, langsung saja kita masuk kedalam. Kali ini Ane tak membayar tiket masuk alias gratis karena ikut rombongan :-).


Pertama kali koleksi Museum Lampung yang Ane lihat adalah Alpabet/aksara Lampung bertuliskan: 
Ka Ga Nga Pa Ba Ma Ta Da Na Ca Ja Nya Ya A La Ra Sa Wa Ha Gha. Beserta angka Lampungnya dan sebuah foto Pahlawan Nasional bernama R.Mohamad Mangoendiprodjo yang lahir pada tanggal 5 Januari 1905 dan wafat pada tanggal 13 Desember 1988 dimakamkan di TMP-Lampung.

Alpabet/Aksara Lampung beserta Angka Lampungnya

Ada 2 lantai didalam museum ini, kita bisa memulai mengeksplorer dari lantai satu terlebih dahulu atau lantai dua karena tangga naik maupun turun berada tepat setelah pintu masuk. Ane memilih untuk mengeksplorer lantai 1 terlebih dahulu. Pemandangan yang paling mencolok di ruang pameran ini adalah sebuah diorama meletusnya Gunung Krakatau. Penampakan fisik gunung lengkap dengan nyala lava yang yang membara serta kepulan asap putih keabu-abuan jelas tergambar. Bisa dibayangkan betapa ngerinya suasana saat itu.


Koleksi-koleksi lainnya yang dapat Ane temui di lantai satu yaitu berbagai macam benda peninggalan prasejarah, zaman kedatangan islam, masa penjajahan, pasca kemerdekaan bangsa Indonesia dan ada juga benda-benda peninggalan Raden Intan II, berbagai macam jenis batuan dan mineral serta beberapa prasasti seperti Prasasti Bungkuk, Prasasti Batu Bedil, dan Prasasti Bawang.

Aaamieeen!


Naik ke lantai dua, setidaknya ada dua buah koleksi yang menarik perhatian Ane yakni keberadaan tempayan (paseu) lengkap dengan sebuah gambar yang menerangkan akan tempayan ini. Paseu digunakan sebagai bak mandi/berendam oleh gadis (Lampung: Mulei) sebelum upacara akad nikah. Keramik Dinasti Ching bermotif burung, tumbuh-tumbuhan dan bunga. Berasal dari Kedondong, Pesawaran.


Selanjutnya koleksi beragam aksesori yang berkaitan dengan adat-istiadat Lampung. Mulai dari aksesori yang berkaitan dengan upacara kehamilan, kelahiran, masa anak-anak, masa remaja, masa dewasa, perkawinan hingga kematian. Salah satu contohnya kain tapis. Kain tapis adalah tenunan yang berbentuk kain sarung, dipakai oleh wanita suku Lampung pada saat upacara adat, terbuat dari benang kapas, bermotif dasar horizontal, pada bidang tertentu diberi hiasan sulaman benang emas, benang perak, atau sutera, benang sugi dengan menggunakan sistem sulam (Lampung: Cucuk/Nyucuk).

Siger, simbol khas budaya Lampung

Narsis dulu sob, biar tidak dituduh hoax :-)
Itulah sob sedikit pelajaran yang Ane dapatkan dari museum ini dan kalau sobat ingin melihat-lihat lebih detail lagi tentang koleksi-koleksi yang ada di Museum Lampung, silahkan sobat datang langsung kesini. Museum Lampung ini mudah ditemukan kok sob, hanya berjarak sekitar 700 meter kearah selatan Terminal Rajabasa. Dari terminal ini, Museum Lampung ada sebelah kiri (timur) jalan.
Let's Go

Senin, 24 Juni 2019

Wisata Cakat Raya, Cantik Tapi Tak Terawat

Sebuah plank bertuliskan "Wisata Cakat Raya (dengan tanda panah mengarah kekanan)", kerap Ane baca saat Ane bertandang ke Kota Bandar Lampung maupun ke daerah-daerah yang ada di sebelah selatan Kabupaten Tulang Bawang. Bagaimana tidak, plank ini terpasang cukup strategis di pinggir Jl. Raya Lintas Timur berjarak beberapa kilometer dari jembatan Sungai Tulang Bawang (FYI: Sungai (Way) Tulang Bawang adalah sungai terbesar di provinsi Lampung). Ane kira tak hanya Ane saja yang kerap membacanya tetapi juga setiap pengendara yang melintasi jalan ini.
Sebagai seseorang yang hobinya travelling tentu dengan kerapnya membaca plank tersebut lama-kelamaan akan dapat mempengaruhi hati dan fikiran Ane untuk mendatanginya. Benar saja pada tanggal 13 Desember 2017 niatan tersebut akhirnya terlaksana. Sebenarnya tujuan utama Ane bukanlah mengunjungi tempat ini, melainkan mengurus sesuatu di Unit 2 Tulang Bawang. Berhubung jaraknya yang hanya sekitar 17 Km maka tak ada salahnya Ane sekalian mengunjunginya



Dari Unit 2 Tulang Bawang Ane arahkan motor Ane menuju selatan melalui Jl. Raya Lintas Timur. Jalan ini searah menuju Kota Bandar Lampung (Ibukota Provinsi Lampung). Sebagai jalan nasional yang berperan penting menghubungkan antar provinsi di Pulau Sumatera, Ane tak heran dengan segala kondisi jalan yang ada. Jalannya terbilang mulus walau tak semulus jalan tol. Banyak kendaraan yang melintas berasal dari berbagai jenis mulai dari kendaraan roda dua, kendaraan mobil pribadi, angkot, bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi), truk biasa, hingga truk gandeng yang memiliki badan cukup besar dan beroda banyak serta variasi pemandangan yang cukup indah.
Ane kendarai motor Ane dengan hati-hati hingga sesampainya di Kantor Samsat Tulang Bawang Ane lambatkan laju motor Ane sambil menengok kearah kiri (timur) jalan untuk melihat plank. Beruntung, plank yang Ane maksud sudah ketemu dan tepat diseberangnya terdapat sebuah jalan masuk cukup kecil. Jalan ini ditandai dengan adanya sebuah gapura berwarna merah jambu cukup tinggi dengan diatasnya terdapat siger khas Lampung berwarna kuning.


Plank sebelah kiri jalan, sedangkan gapuranya ada di sebelah kanan jalan

Sebenarnya ada dua buah gapura yang berdiri berdekatan, yang satu beberapa meter sebelum plank petunjuk dan satunya lagi tepat setelah plank petunjuk. Disini Ane sempat bingung apakah yang ini atau yang itu. Timbang-menimbang akhirnya Ane memutuskan untuk masuk ke jalan tersebut tepat setelah plank petunjuk. Jalannya berupa jalan tanah dan kurang lebih sekitar 200 meter kemudian sampailah Ane di tempat yang Ane maksud.
Nampaknya tempat ini sedang digunakan untuk sebuah acara tampak beberapa petugas sedang berjaga-jaga. Ane ragu apakah Ane boleh masuk atau tidak. Ternyata Ane diperbolehkan untuk masuk dan tak ada pembayaran tiket yang dikenakan kepada Ane. Kesan pertama saat datang kesini adalah area Wisata Cakat Raya ini terbilang cukup luas dengan beberapa rumah adat yang berdiri seolah-olah menyambut setiap para pengunjung yang datang. Setidaknya ada 4 buah bangunan yang berdiri diantaranya bangunan bercirikan khas Bali yang ditandai dengan ornamen khas Bali, rumah adat berbentuk joglo khas Jawa Tengah, Rumah Gadang khas Sumatera Barat, dan sebuah bangunan lagi bukan berbentuk rumah adat melainkan sebuah bangunan yang cukup terkenal di negara tercinta ini yakni miniatur Candi Prambanan. Uhuy, kalau begitu warga Lampung yang ingin melihat Candi Prambanan tak perlu jauh-jauh datang ke Pulau Jawa tetapi cukup datang langsung kesini saja.


Rumah adat berbentuk Joglo khas Jawa Tengah

Rumah Gadang khas Sumatera Barat
Tak ada tempat khusus untuk parkir, terlihat beberapa kendaraan terparkir sembarangan. Walau demikian Ane berusaha parkir di pinggir kawasan supaya terlihat rapi. Setelah memarkirkan motor Ane, kini Ane dapat menikmati kawasan wisata ini dengan sepuas-puasnya. Sangat disayangkan obyek wisata seluas ini tak terawat dengan baik, rumput-rumput hijau liar cukup tinggi dan tak hanya tumbuh di pelataran saja tetapi juga sudah memakan sebagian tubuh bangunan.
Ow, acara TNI tow yang sedang berlangsung disini. Hal ini terlihat dari beberapa tanda yang ada. Prajurit berpakaian dinas TNI berwarna hijau loreng-loreng yang sedang berdiri dan ada juga yang berjalan kesana-kemari, kendaraan mobil-mobil TNI terparkir disekitar kawasan, serta tas-tas berwarna hijau tergeletak cukup rapi di halaman rumah adat. Bangunan bercirikan khas Bali yang paling besar di bangun, sehingga tempat ini yang paling memungkinkan untuk diselenggarakannya suatu acara.



Kebetulan ada beberapa orang petugas yang sepertinya menjaga kawasan wisata ini, tapi Ane lupa namanya. Ane berbincang-bincang dengan mereka cukup banyak. Dari sekian perbincangan yang kita lakukan setidaknya ada beberapa informasi yang Ane dapatkan. Pertama, latar belakang didirikannya Wisata Cakat Raya ini bukan tanpa alasan yaitu dikarenakan Kabupaten Tulang Bawang tak hanya didiami oleh suku Lampung saja tetapi juga merupakan tempat tinggal bagi suku-suku lainnya diantaranya suku Jawa, Bali, Batak, Minangkabau, Sunda, dan lain sebagainya. Kedua, bangunan-bangunan disini sudah tidak lagi komplit. Ada 2 buah bangunan yang sudah roboh, pertama bangunan suku Batak yang terbakar dilalap api beberapa tahun yang lalu dan sebuah bangunan lagi yang tak diingat bapaknya apakah nama bangunan rumah adat tersebut. Terakhir, bangunan-bangunan yang tampak rusak akan segera diperbaiki dan rumput-rumput yang tumbuh secara liar akan dibasmi sehingga diharapkan nantinya kawasan wisata ini akan terlihat cukup cantik dan banyak para pengunjung yang datang.






Ane berpamitan kepada mereka dan meminta izin untuk mengeksplorer sekitar kawasan. Inilah bangunan yang menyerupai Candi Prambanan itu, apakah mirip? sebagai seseorang yang pernah berkunjung kesana, menurut Ane sieh tidak mirip-mirip amat. Tapi, ya cukuplah kalau hanya untuk berselfi ria saja. Apalagi ditambah dengan latar belakang pemandangannya yang cukup cantik, tentu para pengunjung akan betah berlama-lama disini.





Pemandangannya cukup cantik bukan? Tuh, jembatan Kali Cakat terlihat juga
Tak jauh dari keberadaan bangunan menyerupai Candi Prambanan, ada sebuah bangunan yang cukup disayangkan yang sudah Ane ketahui informasi sebelumnya, sebuah bangunan rumah adat suku Batak habis terbakar. Hal ini ditandai dengan adanya sisa-sisa kayu reruntuhan berwarna hitam. Kawasan Wisata Cakat Raya ini memang cukup luas, bergerak kearah barat masih terdapat beberapa bangunan rumah adat dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Rumah adat Krong Bade yang berasal dari Nangroe Aceh Darussalam, Rumah adat Banjar dari Kalimantan Selatan, dan lain sebagainya.


Bangunan rumah adat suku Batak yang habis terbakar
Rumah Adat Krong Bade
Rumah Adat Banjar
Lagi-lagi sungguh sangat disayangkan kondisi bangunan-bangunan yang ada disini. Selain tumbuh rumput-rumput liar juga kotor dan tampak di beberapa bagian bangunan itu rusak serta inilah sebuah bangunan yang bapaknya maksud tadi yakni roboh dan yang tersisa hanyalah sedikit reruntuhan kayu yang rapuh dimakan usia. Hmmm!







Bangunan wisatanya saja tidak terurus, apalagi bangunan kantinnya? Tak ada warung makan atau toko oleh-oleh yang berdiri sehingga setiap para pengunjung yang datang saat lapar bisa keluar dari kawasan Wisata Cakat Raya dan mencarinya di sepanjang Jl. Raya Lintas Timur Sumatera.
Let's Go

Jumat, 31 Mei 2019

Masjid Agung Baiturrahman dan Islamic Center Menggala Tulang Bawang

Sama seperti Museum Tulang Bawang yang berhasil menarik perhatian Ane, kini masjid inipun demikian. Bagaimana tidak, bangunan masjidnya cukup megah dengan pelataran depannya yang cukup luas serta mempunyai sebuah menara yang cukup tinggi. Mungkin kalau di jawa bangunan seperti ini bisa dijumpai dengan mudah, tetapi kalau di Kabupaten Tulang Bawang ini untuk menemukan bangunan megah seperti ini agak sulit untuk di jumpai. Setelah urusan di rumah sakit beres, selanjutnya kita pulang ke rumah. Kebetulan baru saja sampai di depan Terminal Menggala Ane mendengar suara adzan dzuhur berkumandang, suara tersebut berasal dari masjid ini. Tanpa banyak berfikir langsung saja Ane arahkan motor Ane menuju ke tempat tersebut.


Sebenarnya tempat ini bukan hanya bernama Islamic Center saja tetapi ada tambahannya yakni Masjid Agung Baiturrahman, sehingga nama resminya adalah Masjid Agung Baiturrahman dan Islamic Center Menggala, Kabupaten Tulang Bawang Lampung. Lokasi ini terbilang cukup strategis karena terletak di pinggir Jalan Lintas Timur yang merupakan jalan nasional dan berseberangan dengan beberapa gedung pemerintahan seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Gedung Kesenian R.A. Kartini dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah.


Gedung Kesenian R.A. Kartini Kabupaten Tulang Bawang, unik karena diatasnya tertulis aksara Lampung 
Gedung Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kabupaten Tulang Bawang
Bangunan masjid ini terdiri dari 2 lantai, lantai dasar digunakan untuk fungsi-fungsi umum dan lantai 2 digunakan sebagai ruang utama untuk shalat yang dapat diakses melalui anak tangga pelataran alun-alun depan masjid. Sayang Ane tak bisa bercerita banyak tentang bangunan masjid ini dikarenakan ruang utama masjid untuk sementara tidak digunakan sebagai tempat beribadah karena baru dilakukan perbaikan dan sebagai gantinya untuk sementara para jama'ah yang ingin mendirikan shalat menggunakan serambi masjid.

Anak tangga menuju lantai 2 ruangan masjid 
Tampak beberapa jamaah sedang mendirikan shalat sunnah di serambi masjid
Agar tak ketinggalan, dengan segera Ane mengambil air wudhu. Tempat wudhunya ada di lantai 2 dan terletak di sisi kiri dan kanan masjid. Tempatnya cukup bersih dan aliran airnya pun cukup lancar serta dilengkapi dengan kamar kecil sehingga tak ada alasan lagi untuk tidak datang ke masjid.

Pintu masuk kawasan Islamic Center Menggala
Menara masjid Baiturrahman 
Lalu bagaimanakah dengan menaranya? apakah bisa dinaiki seperti yang ada di menara Masjid Agung Jawa Tengah? sepertinya tidak bisa, menara ini hanya berfungsi sebagai hiasan saja agar masjid ini terlihat lebih cantik. Walaupun bisa tentu tak akan beroperasi karena masjid ini masih dalam tahap renovasi.
Catatan:
Foto/Gambar yang ada di artikel ini, Ane ambil pada tahun 2017. Di tahun 2019 ini mungkin tempat ini sudah bisa di fungsikan secara penuh karena tahap renovasi sudah selesai.
Let's Go

Minggu, 28 April 2019

Museum Tulang Bawang dan Kampus Megow Pak, Sungguh Memprihatinkan

Museum Tulang Bawang sudah bukan lagi tempat yang asing bagi Ane. Bagaimana tidak setiap kali pergi ke Jogja maupun pulang dari Jogja atau pergi ke Bandar Lampung maupun pulang dari Bandar Lampung Ane selalu saja melewati tempat ini karena letaknya yang berada persis di Jl. Lintas Timur Sumatera tepatnya di Kelurahan Menggala Tengah, Kecamatan Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Sementara rumah Ane ada di Kabupaten Mesuji dan satu-satunya jalan yang mulus dan enak untuk dilalui adalah melalui jalan ini.



Saat melintasi bangunan ini, bangunan ini tak pernah luput sekalipun dari penglihatan Ane. Mungkin hal ini dikarenakan letaknya yang berada tepat di tikungan jalan ataukah timbulnya keinginan yang kuat dari dalam hati Ane bahwa suatu saat nanti Ane harus mengunjunginya. Rumput tetangga lebih hijau, mungkin itulah sebuah ungkapan peribahasa yang tepat untuk menggambarkan perilaku Ane sekarang. Obyek wisata yang dekat dengan rumah tempat kelahiran malah belum pernah Ane sambangi, sementara yang agak jauh malah sudah pernah. "Ya sudah, suatu saat nanti pasti akan ku kunjungi", bisik Ane dalam hati.



Tak lama setelah pulang dari Jogja, rupanya niatan Ane tersebut akan terlaksana lantaran Ane disuruh oleh Ibu Ane untuk mengantarkan beliau periksa ke RSUD Menggala. Kalau sakit parah tentu Ane tak bisa meninggalkan beliau sendiri begitu saja, tapi karena sakit yang dideritanya tidak begitu parah dan dalam batas aman maka sesampainya di RSUD Menggala Ane berencana langsung capcus menuju ke Museum Tulang Bawang.



Pada tanggal 22 November 2017 Ane benar-benar mengantarkan ibu Ane periksa ke RSUD Menggala. Dari rumah, kita berangkat pagi-pagi sekali sekitar pukul 06.15. Sudah menjadi rahasia umum kalau jalan-jalan yang ada ditengah pedesaan yang menghubungkan antar desa satu dengan yang lainnya di Provinsi Lampung itu sebagian besar rusak. Sebenarnya sieh kondisi jalan yang sekarang itu sudah lebih baik bila dibandingkan dengan dahulu. Dahulu jalan masih berupa jalan tanah, sekarang sebagian besar jalan sudah berbatu; Dahulu saat musim hujan tiba jalanan dipenuhi oleh genangan air dan licin saat dilalui, sekarang sudah tidak lagi. Namun, walaupun begitu masih tetap saja kurang nyaman untuk dilalui karena sepanjang perjalanan tubuh ini akan terus bergetar hingga saatnya menemukan jalanan yang terbilang mulus diaspal dengan baik.



Ada 2 cara kita menuju RSUD Menggala, pertama melalui Simpang Asahan Kecamatan Way Serdang. Disini jalannya terbilang luas namun cukup rusak, 20 Km kita harus melewatinya. Sedangkan yang kedua lewat jalan tengah pedesaan di Kabupaten Tulang Bawang Barat. Setelah melewati jalan yang rusak sejauh kurang lebih 5 Km, kita baru bisa melalui jalan yang cukup baik namun sempit. Timbang menimbang akhirnya pilihan kita jatuh pada jalan tengah pedesaan Tulang Bawang Barat.
Sebagai warga lokal tentu kita sudah tahu jalan untuk menuju ke suatu tempat yang kita inginkan, meskipun melewati jalan-jalan yang ada ditengah pedesaan. Tapi kalau bukan warga lokal tentu akan kebingungan soalnya pemandangan yang ada disini rata-rata sama yakni disepanjang perjalanan yang ada hanyalah tanaman pohon karet maupun sawit. Setelah melewati Kecamatan Gunung Agung dan Way Kenanga sampailah Ane di Pasar Unit 2 Tulang Bawang. Dari sini masih ada sekitar 30 Km lagi untuk sampai di RSUD Menggala. Jalan yang Ane lalui berubah menjadi lebih mulus dan cukup lebar karena jalan ini merupakan jalan nasional. Pun demikian dengan pemandangannya yang tergolong cukup bervariasi mulai dari perumahan, pertokoan, perkantoran, hingga bentangan sungai dan rawa-rawa yang cukup luas. Nah, di rawa-rawa ini cukup bisa membuat hati Ane adem. Deretan rumah panggung berdiri di pinggir jalan raya diatas rawa.



3/4 jam dari Pasar Unit 2 atau 2 jam dari rumah, sampailah kita di RSUD Menggala. Ya, rumah sakit ini adalah rumah sakit daerah yang dimiliki Tulang Bawang tapi tidak membawa nama kabupaten melainkan nama ibukota dari kabupaten Tulang Bawang itu sendiri yaitu Menggala. Rupanya sudah banyak pasien yang datang mengantri sehingga ibu Ane pun harus bersabar sedikit dalam hal mengantri baik itu saat pendaftaran pasien hingga proses tahapan selanjutnya. Disini Ane agak jenuh juga, akhirnya Ane berpamitan kepada ibu Ane untuk pergi keluar dan Ane menitip pesan kepada beliau bila sudah selesai urusannya segera menelpon Ane. Beliau pun mengijinkan dan mengiyakan pesan Ane tersebut.
Rencananya, ketika tiba di rumah sakit, Ane langsung capcus menuju Museum. Tapi apa boleh buat begitu keluar dari rumah sakit Ane langsung tergoda oleh sebuah bangunan yang cukup modern dan bangunan apakah itu? Cukup berjalan kaki saja sampailah Ane disini. Ya, bangunan tersebut adalah bangunan Kampus Megow Pak. Bangunan ini cukup unik dan modern, kebanyakan komponen bangunannya terbuat dari kaca seperti kebanyakan bangunan yang terdapat di ibukota Jakarta. Kalau di Jakarta mah bangunan seperti ini sudah biasa tapi kalau di Tulang Bawang ya luar biasa.



Tapi, dibalik ke modernannya itu ada banyak hal yang sangat disayangkan dari kampus ini. Rumput liar tumbuh dimana-mana mulai dari bagian depan hingga belakang kampus dan areal taman hingga parkir tampak tak terwujud karena timbunan rumput liar ini. padahal di beberapa sudut kampus telah terpasang sebuah plank yang bertuliskan "Bersih itu Indah". Hmmmm.




Ane sungguh leluasa melihat-lihat dan mengambil gambar bangunan ini tanpa ada merasa yang terganggu, pasalnya tak ada seorang pun yang sedang berada disini. "Sebenarnya ada mahasiswanya tidak sieh kampus ini?", begitulah fikiran yang terlintas dibenak Ane saat itu. Semisal tidak ada kok dibagian depan terpasang berbagai macam pengumuman tentang perkuliahan dan kalau semisal ada kok tak ada seorang pun yang terlihat? Ah, ntahlah yang jelas kampus ini tidak terawat dengan baik sehingga suasana menjadi horor.



Puas menjelajahi kampus Megowpak, Ane niatkan hati untuk berkunjung ke Museum Tulang Bawang. Awalnya Ane ragu-ragu apakah jadi kesana atau tidak. Masa iya, Ane harus meninggalkan Ibu Ane sendirian di Rumah Sakit gara-gara mengikuti keinginan Ane ini. Tapi berhubung museum ini tidak terlalu jauh dari rumah sakit, hanya sekitar 10 Km saja maka Ane bulatkan tekad untuk tetap mengunjunginya.
Ane kesini tidak mengendarai sepeda motor, tetapi menaiki bus karena kebanyakan bus yang lewat pasti melewati museum ini. Tak lama berselang, sebuah bus datang dari arah selatan (arah Kota Bandar Lampung), naiklah Ane kedalam bus tersebut. 15 menit kemudian sampai juga Ane di tempat yang Ane tuju. Dari RSUD Menggala kesini Ane hanya dikenai tarif sebesar 5k saja.
Sama seperti kondisi sebelumnya, kondisi Museum Tulang Bawang inipun tak kalah horornya. Rumput liar tumbuh hampir di semua tempat dan saat memasuki ruangannya sreng, sreng, sreng, tercium bau kotoran kelelawar. Baunya sangat menyengat sehingga mengganggu kenyamanan bagi para pengunjung. Toh bila museum ini menyimpan barang-barang koleksi yang sangat lengkap tentu akan merasa kapok untuk datang lagi. Ealah, sudah rungkut, bau, tak ada barang koleksi yang di pajang pula alias kosong. Ini museum apa museum? Ane hanya geleng-geleng kepala atas apa yang Ane temui saat ini.



Dilihat dari usianya, Museum Tulang Bawang ini tergolong masih muda karena baru genap berusia 7 tahun pada tanggal 13 Desember 2017 nanti. Hal ini terlihat dari sebuah prasasti yang ada dibagian depan gedung. Tapi kok sudah seperti ini ya? hmmm. Kondisi ini sama seperti gedung yang ada disebelah kanan (timur)nya. Tak ada apa-apa sama sekali didalamnya, sedangkan yang ada hanyalah sebuah kereta kencana yang terparkir di bagian bawah ruangan.







Sebenarnya Museum Tulang Bawang merupakan bagian dari kawasan Sesat Agung dan Nuwo Adat Megou Pak, sehingga tak heran bila Ane menjumpai bangunan-bangunan lain yang berdiri. Kebetulan saat Ane sedang berkeliling-keling di sekitar kawasan, Ane melihat seorang bapak-bapak setengah baya sedang membersihkan ruangan. Tanpa ragu-ragu Ane banyak bertanya kepada beliau. Lupa namanya yang jelas Ane berhasil mendapatkan banyak informasi darinya.




Ada sebuah bangunan museum, nuwo adat (rumah adat), sesat agung, dan musholla, serta 4 buah bangunan cukup kecil yang mengandung makna tentang marga-marga yang mendiami kabupaten ini. Marga-marga tersebut diantaranya Tegamoan, Buai Bulan, Suwai Umpu, dan Buai Aji. Beliau mengatakan bahwa memang beginilah kondisi yang ada. Tak terawat dengan baik serta koleksi-koleksi yang dipajang sama sekali tidak ada, hal ini dikarenakan kurangnya perhatian dari pemerintah. Padahal inikan aset daerah serta kebanggan masyarakat peribumi, tapi ya begini adanya.


Tegamoan
Buai Bulan
Suwai Umpu
Buai Aji
Sebenarnya tempat ini sempat terawat dengan baik pada masa kepemimpinan sebelumnya, tapi setelah berganti kepemimpinan daerah justru keadaan tidak berubah menjadi lebih baik malah sebaliknya. Ane hanya mengangguk-ngangguk saja dan menampung semua informasi darinya. Ntah hanya angin segar atau benar-benar akan terwujud, konon katanya sekitar bulan Maret tahun depan (2018) kawasan ini akan dihidupkan kembali dan ditambah dengan berbagai macam permainan untuk anak-anak. Semoga!



Bila rencana itu benar-benar terwujud, bukan tidak mungkin kawasan ini akan ramai dikunjungi oleh para wisatawan.
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me