Selasa, 26 Juni 2018

De Ranch Lembang Bandung, Ternyata Tak Hanya Ada Kuda Saja

Selepas mengunjungi Gedung Sate dan berkeliling-keliling Lapangan Gasibu, Ane arahkan kendaraan motor yang Ane sewa menuju Kawasan Lembang. Ya, Kawasan Lembang adalah tujuan utama Ane karena selain dekat dengan Kota Bandung juga terdapat banyak obyek wisata yang dapat dikunjungi. Sebenarnya sieh Ane pinginnya ke Kawah Putih, Situ Patenggang maupun Tangkuban Perahu. Namun berhubung jaraknya yang cukup jauh dari Kota Bandung serta Ane belum begitu mengenal Kota ini lebih dekat maka Ane putuskan untuk jalan-jalan di Kawasan Lembang saja.


Destinasi pertama yang akan Ane kunjungi kali ini adalah De Ranch. Memang dari awal Ane berniat untuk mengunjungi tempat ini karena Ane ingin sekali merasakan suasana yang berbeda yakni melihat kuda-kuda yang dilepas begitu saja. Diperlukan waktu sekitar 3/4 jam dari Gedung Sate, tetapi karena dari pagi Ane belum makan sesuap nasipun maka Ane putuskan untuk mampir sebentar di warung makan.
Perjalanan menuju Kawasan Lembang itu mirip dengan perjalanan menuju Kawasan Wisata Kaliurang di Yogyakarta maupun Bedugul di Bali. Semakin lama cuaca yang terasa semakin dingin dan bahkan tak jarang pula turun kabut. Ane sempat salah jalan saat memasuki Kawasan Lembang, seharusnya lurus saja kearah timur melalui jalan yang cukup sempit dan tidak terlalu ramai, eh Ane malah lurus saja mengikuti jalan yang ada. Ternyata jalan ini mengarah ke obyek wisata Tangkuban Perahu. Disini insting Ane mengatakan kalau jalan yang Ane lewati salah. Untuk itu Ane menepikan kendaraan roda dua Ane dan kemudian bertanya kepada salah seorang warga. Rupanya dugaan Ane benar, Ane disuruh balik lagi dan mengambil jalan kearah kiri. Benar saja, tak lama kemudian sampailah Ane di lokasi yang Ane maksud.


Peta cara menuju Obyek Wisata De Ranch
Setelah memarkirkan kendaraan roda dua, Ane menuju ke pintu masuk De Ranch. Ternyata hasilnya zonk alis belum buka dan salah seorang pegawainya memberitahukan kepada Ane bahwa De Ranch mulai buka pada jam 9 pagi, sementara sekarang masih jam 9 kurang 10 menit. Itu artinya 10 menit lagi De Ranch ini akan buka. Tentu donk sob Ane tak mau menyia-nyiakan waktu yang ada, Ane gunakan waktu ini untuk mengambil gambar dan selfie seperlunya. Siapa coba yang tahan tidak foto bersama kedua patung ini? selama pengamatan Ane setiap pengunjung yang datang pasti foto disini.

Gimana, sudah keren belum?
Disini, De Ranch seolah-olah menegaskan kepada siapa saja yang ingin menunggang kuda atau beraktifitas yang berkaitan dengan kuda. Hal ini terlihat dari semua poster yang terpampang di bagian depan pintu masuk. Mulai dari kursus keterampilan khusus kusir kereta kuda dengan tarif 50k/orang selama 30 menit dengan maksimal 2 orang/kereta. Tapi dalam aktifitas ini ada syaratnya yakni peserta minimal harus sudah berusia 7 tahun. Jadwalnya dibuka dari jam 1 siang hingga ditutup pada jam 4 sore. Setelah selesai peserta akan mendapatkan Crtificate of Attendance dari pihak De Ranch.



Aktifitas lain yang dapat dilakukan disini yaitu:
  • Naik kuda perputar
  • Naik kuda pony
  • Naik delman
  • Jalan-jalan berkuda untuk penunggang non pengalaman didampingi oleh pemandu
  • Pelajaran tunggang
  • dan lain sebagainya
Supaya lebih jelas, sobat bisa melihat poster berikut ini



Atau sobat ingin segera menikah dan foto Pra Weddingnya dilakukan di De Ranch ini? bisa, bisa. Apasieh yang tidak bisa buat sobat. Bahkan untuk lokasi pemotretan modelling atau yang lainnya juga bisa. Tapi untuk semua aktifitas tersebut pengunjung harus membayar dengan tarif yang lumayan cukup mahal yakni 2 juta/6 jam. Sobat tidak percaya? okelah Ane kasih liat posternya.



Seusai membaca sudah ada beberapa pengunjung yang datang dan loket sudah mulai dibuka. Untuk masuk kedalam Ane dikenai tiket masuk sebesar 10k. Selain sebagai tiket untuk masuk juga dapat ditukarkan dengan segelas air susu. Mantab! Begitu masuk kedalam Ane dihadapkan oleh area foodcourt dengan beberapa jajanan. Nah, dibagian depan dari area inilah yang cocok buat pengunjung duduk-duduk santai sambil menikmati pemandangan yang ada. Padang rumput hijau luas dengan dibelakangnya nampak sebuah bukit menjulang. Padang rumput ini rata-rata dihuni oleh kuda-kuda yang dibiarkan bebas. Namun kuda-kuda tersebut ditempatkan di area khusus yang dipagari oleh pagar kayu disekelilingnya. Tak di pungkiri hewan lain yang dibiarkan bebas pun ada seperti segerombolan kambing berjenis gembel.


Tiket masuk De Ranch


Belum banyak pengunjung yang datang, sesampainya didalam hanya Ane dan beberapa pengunjung saja yang ada. Ane langsung bergerak menuju loket pembelian tiket berkuda keliling padang rumput karena memang setiap aktifitas yang dilakukan disini tiketnya dibeli secara terpisah. Sesampainya di tempatnya, apa yang terjadi sob? Ternyata loketnya belum buka dan salah satu pemandu yang kebetulah masih memandikan kuda-kuda mengatakan kalau loket ini bukanya jam 10. Yasudah, akhirnya Ane memutuskan untuk berkeliling-keling padang rumput dengan berjalan kaki saja.





Berbeda dengan kuda-kuda yang menarik delman di jalan-jalan, kuda-kuda yang ada disini mempunyai perawakan yang cukup besar. Bulunya bagus dan warnanya cukup bisa membuat adem ayem mata. Tapi tetap ingat ya sob, kalau sobat datang kesini harus patuh terhadap papan informasi yang terpasang seperti "jaga jarak aman dari pagar karena kuda bisa menggigit dan menendang". Kan nggak lucu kalau nanti sobat ketendang jauh dan bisa menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan. Bukannya senang-senang malah senep-senep, hehehe.




Saat berada di area kuda-kuda pony, tiba-tiba ada kejadian yang tak terduga-duga oleh Ane sebelumnya dan bisa membuat Ane tertawa terbahak-bahak sekaligus diliputi oleh rasa ketakutan. Mungkin lupa atau gimana sebuah pintu pagar kayu dibiarkan terbuka sehingga ada seekor kuda yang berlarian kesana-kemari dengan bebas bahkan bisa mendekati setiap para pengunjung. Sepertinya tak hanya Ane yang terhibur tetapi juga seluruh pengunjung yang kebetulan menyaksikkannya. Why? karena kuda yang Ane maksud ini adalah kuda pony. Seorang anak kecil saja di kejar sehingga disini kita semua benar-benar merasa sangat, sangat, sangatlah terhibur.


Lariii
Tak kejar kamu
Secara semuanya adem ayem tentrem makan rumput, lakok ini malah berlarian kesana-kemari ngejar-negjar pengunjung. Efeknya, saat anak-anak TK bersama gurunya baru saja datang dan melihat kejadian ini sontak tidak jadi berkeliling-keliling padang rumput lebih jauh lagi dan mereka lebih memilih untuk putar balik. Beruntung, tak lama kemudian datanglah seorang pemandu dan menggiring kuda yang berkeliaran tersebut masuk kedalam pagar sehingga pengunjung bisa berjalan-jalan lagi mengelilingi padang rumput ini dengan nyaman, Lega!



Awalnya Ane kira selain kuda-kuda hanya ada segerombolan kambing saja yang ada disini. Ternyata tidak, dibagian sisi barat dari De Ranch ini ada berbagai macam jenis ekor yang sangat terpelihara. Beberapa ekor sapi sedang memakan rumput. Eh diantara sapi-sapi tersebut, ada seekor sapi yang membuat Ane cukup terhibur. Dia melihat Ane dengan penuh kecurigaan. Mungkin dalam hatinya dia berkata:


Apa lho lihat-lihat gue, emang gue tontonan
Hahaha, selain hanya melihat-lihat saja. Aktifitas yang dapat dilakukan disini yaitu kegiatan menyusui pedet (anak sapi yang masih kecil) dengan tarif 15k/200 mL. Tepat sedang melihat-lihat pedet, para petugas kebetulan sedang memberi susu kepada mereka. Ada pedet yang hanya diam saja menyusu, ada juga yang terlalu rakus, bahkan adapula yang disusui itu berlarian kesana-kemari tidak jelas.


Tarif menyusui pedet
Pedet putih, salah satu pedet yang berlarian kesana-kemari
Didepan dari area menyusui pedet ini ada area yang juga cukup menghibur lho sob, yakni area menyusui anak kambing atau kalau orang jawa menyebutnya dengan cempe, sedangkan disebelah barat area menyusui pedet ada area Taman Kelinci. Sayang beribu sayang, kedua area ini belum ada petugas yang melayaninya sehingga loket masih dalam keadaan tertutup. Ane hanya bisa melihat-lihat secara visualnya saja. Nampaknya berbagai macam area yang ada di sisi barat ini memang didesain agar kita selalu menyayangi hewan. Coba saja kita menyusui pedet maupun cempe tentu rasa sayang kita terhadap hewan akan meningkat. Ya nggak sob?




Kembali lagi ke titik awal, ternyata pengunjung yang datang semakin ramai. Dari semua aktifitas yang ada, aktifitas berkuda keliling padang rumputlah yang paling banyak digemari oleh para pengunjung baik orang dewasa maupun anak-anak. Untuk 1 X putaran dikenakan biaya sebesar 25k/orang. Khusus buat anak yang ketakutan naik kuda cukup besar, ada kuda pony yang memang cocok sesuai dengan ukuran tubuhnya dengan tarif yang sama. Tarif tersebut sudah termasuk peminjaman vest dan topi ala cowboy, keren kan?




Selain aktifitas yang berhubungan dengan hewan, di De Ranch ini juga masih ada banyak wahana permainan yang dapat dilakukan diantaranya flying fox, delman, the gold hunter, fun boat, trampolin, kuda ayun, balon air, riding out, dan masih banyak lagi lainnya. Pokoknya lengkap deh. Niat awal Ane kesini ya hanya nyobain kuda tunggangnya saja, tapi pas setelah puas jalan-jalan dengan berjalan kaki tiba-tiba langit mulai mendung dan rintik-rintik hujan mulai jatuh. So, Ane urungkan niatan Ane tersebut.



Ane teringat dengan voucher minuman yang Ane punya. Sembari menunggu cuaca reda Ane tukarkan voucher tersebut dengan segelas susu segar. Layaknya sebuah tempat obyek wisata yang sudah terkelola dengan baik, fasilitas yang ada di De Ranch ini sudah sangat komplit mulai dari tempat parkir, foodcourt yang menjual beraneka ragam makanan dan minuman, hingga kamar kecil dengan kebersihannya yang terjaga.




Pokoke cukup wuoke dah!
Let's Go

Selasa, 08 Mei 2018

Ceritanya Backpacker ke Bandung

Terhitung, sudah dua kali Ane menginjakkan kaki di Kota Kembang. Ya, pertama saat Ane pulang ke kampung halaman Ane di Lampung dengan menggunakan kuda hijau dan mampir disini dan yang kedua belum lama ini Ane laksanakan karena ada suatu kepentingan yang harus Ane kerjakan. Ya namanya saja anak yang suka travelling, walaupun ada hal penting yang harus dikerjakan didaerah baru, tetap saja meluangkan waktunya buat keliling-keliling didaerah tersebut.
Kebetulan hal penting yang harus Ane kerjakan itu ada di Kota Kembang, Bandung. Jadi, selain mengerjakan hal penting tersebut juga ada waktu yang Ane gunakan khusus untuk mengeksplorer lebih jauh tentang kota ini. Nggak usah Ane ceritakan ya sob tentang hal penting apa yang harus Ane kerjakan itu, soalnya terlalu pribadi sieh, hehehe. Sekarang Ane ceritakan saja tentang pengalaman Ane menjelajah kota ini.



Waktu sudah Ane tentukan kira-kira tanggal berapa Ane harus pergi kesana. Ya, tanggal 13 Oktober 2017 Ane harus sudah ada di Kota Bandung. Awalnya Ane sempat bingung hendak naik apaan untuk sampai sana. Pasalnya selain kereta api, juga ada bus, travel, dan pesawat terbang yang bisa Ane gunakan. Satu demi satu Ane lakukan analisis terhadapnya. Pertama, Ane langsung mengeliminasi pesawat terbang dan travel karena harganya yang terbilang cukup mahal. Nah, sekarang tinggal kereta api dan bus. Disini cukup membingungkan Ane karena harga tiket kereta api kelas bisnis dengan tiket bus eksekutif berbeda tidak jauh bahkan hampir sama. Keduanya sama-sama enak dan nyaman, setelah mempertimbangkan berbagai hal akhirnya jatuhlah pilihan hati Ane pada kamu, iya kamu. Eh maksudnya kereta api tapi dengan kelas ekonomi, why? tak lain dan tak bukan karena harganya yang terbilang cukup ekonomis.
Masalah tiket Ane tangguhkan terlebih dahulu. Berhubung sudah ada kepastian hari apa Ane hendak kesana maka dari itu Ane searching-searching dahulu tentang penginapan mana yang akan Ane singgahi. Mulai dari berbagai situs booking online hingga cerita-cerita sahabat blog yang sudah pernah kesana. Dari sini Ane dapatkan sebuah informasi kalau ada sebuah penginapan yang cukup ekonomis dan terletak tidak jauh dari Stasiun Kiaracondong. Tak hanya berupa alamat dan harganya saja yang Ane dapatkan, tetapi juga nomor teleponnya. Untuk mematiskan kebenaran informasi tersebut langsung saja Ane hubungi nomor tersebut. Jreng, jreng, jreng, ternyata benar tentang apa semua yang tertera didalam internet tersebut. Nama penginapan itu bernama "Paksoma Homestay", letaknya sekitar 1,3 Km dari Stasiun Kiaracondong. Mengetahui kebenaran dari informasi tersebut, Ane langsung membookingnya untuk 2 hari. Check in tanggal 12 dan check out tanggal 14.



Masalah penginapan sudah selesai. Sekarang tinggal beli tiket di Stasiun Lempuyangan. Loh kenapa harus di stasiun nis beli tiketnya? kan secara online bisa dan bayarnya di indomaret, alfamart, kantor pos atau bank. Iya, semua itu memang benar Sob. Berhubung Ane sering wara-wiri kesana-kemari melewati stasiun ini jadi ya sekalian mampir dan beli disini. Enaknya setelah beli tiket bisa langsung mencetaknya. Alhasil mampirlah Ane disini. Tapi apa sob yang terjadi? ternyata Ane harus gigit jari lantaran loket yang melayani pembelian tiket jarak jauh sudah tutup, yang buka hanya loket yang melayani pembatalan tiket saja. Ane kira pelayanan tiket tutupnya sampai malam, ternyata tidak. Pelayanan tiket jarak jauh di Stasiun Lempuyangan ini mulai di buka pada jam 9 pagi hingga tutupnya jam 4 sore. Informasi ini Ane peroleh dari Cutomer Service (CS). Ane pun disarankan oleh pegawai CS tersebut untuk datang besok pagi atau tidak beli saja secara online. Sebagai seseorang yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung, Weeeeek, manutlah Ane.
Pada keesokan harinya walaupun pada kenyataannya siang hari, berangkat lagi Ane menuju stasiun. Kali ini Ane bisa bernapas lega, loketnya sudah buka dan sebelum membelinya Ane diharuskan mengambil nomor antrian terlebih dahulu dan mengisi formulir yang sudah disediakan. Hulala, ternyata Ane mendapatkan nomor antrian yang cukup besar sehingga Ane harus menunggu dalam waktu yang cukup lama. Satu jam sudah Ane menunggu dan akhirnya nama Ane dipanggil. Ane serahkan saja KTP Ane dan formulir yang sudah Ane isi. Tak lama kemudian Ane mendapatkan selembar kertas putih yang berisi kode booking. Beranjak dari loket ini kemudian Ane menuju tempat pencetakan tiket. Seperti inilah alat pencetakan tiket tersebut.


Sekarang mah canggih dan lebih ketat lagi, tidak seperti dulu. Dulu begitu beli langsung mendapatkan tiket dan tanpa menggunakan nomor identitas, sekarang mah harus mencetak sendiri dan membelinya harus menggunakan nomor identitas. So, okelah. Setelah Ane masukkan kode booking, keluarlah sebuah tiket yang sesuai dengan nama dan identitas Ane.


Mantab, tiket sudah ada di genggaman. Sehari menjelang keberangkatan, sesampainya di rumah, Ane mempersiapkan segalanya mulai dari pakaian, dokumen apa yang harus dibawa hingga berbagai macam peralatan yang penting untuk nantinya.
Hari yang Ane tunggu-tunggu sudah tiba, 11 Oktober 2017. Ane berangkat dari Jogja pada sore hari menjelang petang pukul 18.15. Ane sengaja memilih waktu ini dikarenakan dengan kunjungan yang singkat tapi bisa mengeksplorer banyak tempat serta hal yang paling penting yaitu hemat, hehehe. Dengan melakukan perjalanan malam hari, tentu Ane sudah tak dipusingkan lagi dengan biaya penginapan, ya nggak sob? Sesampainya disana Ane berencana langsung keliling seharian full mengelilingi Kawasan Wisata Lembang dengan cara menyewa sepeda motor.
Dari rumah bude Ane, Ane menuju ke tempat kost adik Ane terlebih dahulu sebelum menuju Stasiun Lempuyangan. Hari itu kebetulan jam kuliah adik Ane cukup padat sampai sore hari jam setengah lima. Tapi okelah, itu tak masalah bila Ane harus menunggu. Setelah dia menyelesaikan urusan kuliahnya barulah dia mengantarkan Ane ke stasiun.
Jarak dari kost adik hingga stasiun tidak terlalu jauh hanya memakan waktu sekitar 20 menit saja dalam keadaan normal. Sesampainya disana Ane menyarankan kepada adik Ane untuk langsung pulang saja karena takut kemalaman. Diapun menuruti perkataan Ane tersebut dan kini petualangan siap dimulai. Dengan niat baik, Ane langkahkan kaki untuk check in.


Pintu masuk pemeriksaan tiket Stasiun Lempuyangan Yogyakarta

Disini dilakukan pemeriksaan oleh petugas, apakah tiket sudah sesuai dengan identitas atau tidak? setelah clear sesuai, Ane diperbolehkan untuk masuk. Masih ada waktu sekitar tiga perempat jam lagi Ane menunggu kereta datang. Ane gunakan waktu ini sebaik mungkin untuk melihat-lihat apa yang ada didalam. Maklum, walaupun dekat dengan kediaman Ane tapi Ane sangat jarang sekali pergi-pergi menggunakan kereta. Pernah sieh Ane pergi menggunakan kereta, tapi itu dulu sekitar tahun 2011-an. Dahulu stasiun ini cukup sederhana dan terkesan jauh dari kata nyaman, kini stasiun ini berubah menjadi begitu bagus dan nyaman. Ada banyak kursi yang dapat digunakan oleh penumpang sembari menunggu kereta datang, selain itu para pedagang asongan yang dahulu terkesan bebas dan semrawut, kini sudah tidak ada lagi dan sekarang digantikan dengan kios-kios penjual makanan dan minuman yang sudah tertata dengan rapi. Cukup baguslah kemajuannya.



Tiga perempat jam sudah berlalu, berdecak kagum Ane dibuatnya dengan kedatangan kereta yang dahulu in time sekarang menjadi on time. Sesuai jadwal, tepat pukul 18.15 kereta yang Ane tunggu sudah tiba. Begitu tiba para penumpang mulai memasuki gerbong kereta sesuai dengan nomor tempat duduk. Lagi-lagi Ane dibuatnya terpesona, dahulu yang namanya kelas ekonomi itu tidak ada AC nya serta penumpang belum tentu kebagian tempat duduk. Eh lakok sekarang biar dikata kereta api kelas ekonomi tapi ada AC nya dan tak ada seorang penumpang pun yang harus berdiri alias tidak kebagian tempat duduk.



Berarti perubahan ini sungguh sangat luar biasa. Satu lagi dahulu para pedagang asongan bebas kesana-kemari berjualan didalam kereta sekarang sudah tidak ada lagi. Sekarang digantikan oleh penjual tetapi penjual tersebut memakai seragam dan tidak memaksa. Top markotop. Kereta berjalan mulai meninggalkan stasiun, di Stasiun Tugu kereta ini tidak berhenti melainkan lanjut lagi. Tidak berapa lama, seorang pedagang datang menghampiri para penumpang. Dia menawarkan bantalnya yang bisa disewa dengan harga 7k saja. Didalam perjalanan ini Ane sehemat mungkin dalam mengeluarkan duit, maka Ane tak mau menyewanya. Coba, penyewaan bantal ini sudah termasuk didalam tiket tentu akan beda ceritanya, hehehe.
Agar tak bosan, didalam kereta ini Ane gunakan untuk mengobrol dengan penumpang lain disebelah kursi Ane. Pria lanjut usia, berambut putih dan berpakaian agak luset. Namun begitu, dia sungguh teman yang menyenangkan untuk di ajak bicara. Ada banyak hal yang kita obrolkan hingga tak terasa Ane terlelap ketiduran. Ya, namanya tidur didalam kendaraan pasti tidak selelap tidur dirumah sendiri atau hotel. Beberapa kali kereta yang Ane naiki ini berhenti sebentar di stasiun-stasiun. Walaupun demikian tepat pukul 3 pagi kereta ini berhenti di Stasiun Kiaracondong.



Sesuai dengan tujuan Ane, turunlah Ane dari kereta. Ane sempat bingung, apakah Ane langsung menuju penginapan atau berhenti dahulu sembari menunggu pagi. Ane duduk sebentar sebelum keluar dari stasiun. Tak sengaja, saat duduk-duduk santai Ane bertemu dengan adik angkatan Ane saat mengenyam di bangku kuliah namanya Ardi. Kita sempat ngobrol-ngobrol sebentar, diujung cerita Ane mengajak dia untuk menginap di penginapan yang sudah Ane booking sebelumnya. Apakah dia mau atau tidak? ternyata dia tidak menolaknya.



Sebagai konsekuensinya kita langsung menuju keluar dan berjalan kaki menuju tempat penginapan, karena letak penginapan sendiri tidak terlalu jauh dari stasiun jadi tidak masalah. Begitu keluar, kita langsung belok kanan menelusuri jalan Jend. Ibrahim Adjie hingga sejauh kira-kira 900 meter. Begitu menemukan Jl. Soma yang mengarah kearah kanan, kita belok kearah kanan. Kurang lebih 300 meter setelah melewati sebuah jembatan kecil, ada belokan jalan yang mengarah kearah kanan. Disamping itu, terpasang sebuah plank tepat di sisi kiri jalan yang menunjukkan letak Masjid Al Multazam. Beloklah kita kearah jalan tersebut. Setelah melewati masjid, ada 2 gang yang kita temui, gang yang kedualah penginapan yang akan kita inapi itu berada. Namanya "Paksoma Homestay".
Gang yang kedua ini ada pintu gerbangnya. Namun sayang beribu sayang pintu gerbangnya masih dalam keadaan terkunci. Maklum, jam masih menunjukkan pukul 4 pagi dan adzan subuh pun belum berkumandang. Jadi mau tidak mau kita harus menunggu sampai pagi hari tiba. Sembari menunggu, kita pergi ke masjid terlebih dahulu buat mendirikan shalat subuh. Tak sengaja seusai shalat subuh kita bertemu dengan sang pemilik homestay. Jadi setelah sampai di penginapan, kita langsung dibukakan ruang kamar yang masih kosong.
Ada 2 kamar yang masih kosong, 1 kamar berada di lantai bawah dan 1-nya lagi berada di lantai yang ke-2. Kita disuruh memilih dan akhirnya kita putuskan untuk menempati kamar yang berada di lantai yang kedua saja. Seharusnya kita check in minimal jam 12 siang, tetapi kita check in jam 5 pagi. Kita kira tidak ada biaya tambahannya. Eh ternyata tidak, kita dikenakan biaya tambahan sebesar 50 persen. Kalau sendiri tarifnya 80k per malam, berhubung berdua jadi 100k per malam. So, uang yang harus kita bayarkan sebesar 150k saja.



Penginapan ini cukup sederhana. Didalam ruangan hanya terdapat beberapa fasilitas saja yang tersedia seperti meja dan kursi, spring bed yang dilengkapi dengan 2 buah bantal, kamar mandi dalam, dan sebuah televisi dengan model lama. Selain sebagai tempat penginapan, Paksoma Homestay ini juga menyediakan menu makanan yang dapat dipesan oleh penghuni penginapan. Tapi dengan menu yang terbatas seperti sarden dan telur dadar. Serta setiap penghuni dapat menyewa kendaraan baik mobil ataupun motor disini. Nah inilah sob alasan mengapa Ane menginap disini, selain letaknya yang dekat dengan Stasiun Kiaracondong juga menyediakan alat transportasi yang dapat disewa oleh penghuni.
Pagi itu sebenarnya mata masih sayup-sayup efek tidak nyenyaknya tidur di perjalanan. Disini Ane bingung antara tidur sebentar atau mau jalan. Kalau tidur sebentar tentu Ane tidak bisa mengeksplorer banyak tempat, sementara kalau langsung jalan mata masih terasa sayup-sayup. Rencana dari awal memang begitu sampai di Bandung, Ane menyewa motor dan langsung berkeliling-keliling Kota Bandung. Timbang-menimbang akhirnya sesuai dengan rencana awal yakni langsung berkeliling-keliling Kota Bandung.
Ane turun tangga dan langsung menemui Sang Pemilik penginapan, apakah masih ada motor yang dapat Ane pakai? syukur, ternyata masih ada sisa 1 motor yang dapat Ane pakai walaupun motor ini terbilang boros yakni motor yamaha mio model lama. Untuk biaya sewanya per hari sebesar 70k. Ane harus meninggalkan identitas diri Ane seperti KTP elektronik dan kartu alumni. Ane tak masalah, karena disini waktu adalah uang juga tak ada niatan Ane untuk berbuat jahat. Semakin lama di Kota Bandung tentu akan semakin besar pula kost yang akan Ane keluarkan. Begitu Ane membayarnya, Ane langsung dikasih kunci motor, STNK dan jas hujan berbahan plastik sangat tipis.



Begitu mendapatkan sepeda motor, Ane dan sahabat Ane langsung menuju ke sebuah mesin ATM BRI karena nasib kita sama yakni uang yang ada di dompet sudah menipis. Setelah mencarinya, ternyata mesin ATM yang terdekat ada didekat Pasar Kiaracondong tepatnya ada didepannya. Uang sudah diambil dan kita sepakat untuk kembali ke penginapan. Awalnya sieh mampir ke warung makan, tapi karena belum ada yang buka jadi ya langsung pulang saja. Sebelumnya tentu Ane mengisi bahan bakar bensin terlebih dahulu karena bensin yang ada didalam tank motor sudah mulai habis berada di garis merah.
Sahabat Ane ini menanyakan apakah iya Ane akan langsung jalan-jalan sementara kondisi masih dalam keadaan demikian? tanpa ragu-ragu Ane langsung menjawab,"iya, saya akan langsung saja jalan-jalan dengan tujuan mengeksplorer Lembang". Mendengar jawaban Ane tersebut dia langsung terdiam dan berpesan agar selalu hati-hati. Badan masih lengket, sebelum pergi Ane mandi terlebih dahulu. Langsung nyesss, ternyata beginilah kondisi air bandung sedikit lebih dingin dibandingkan Jogja.
Seusai mandi, langsung memakai pakaian dan langsung capcus memulai petualangan menjelajah Kota Bandung. Yeah, tujuan pertama Ane adalah Gedung Sate. Dari dahulu Ane sangat, sangat ingin sekali menginjakkan kaki disini, ntah apa yang merasuki fikiran Ane yang jelas sangat ingin sekali menginjakkan kaki disini. Permasalahannya adalah, dimanakah letak Gedung Sate itu? ternyata ada dibagian utara Kota Bandung tepatnya di Jl. Diponegoro No.22 Citarum, Bandung. Dengan berbekal hardcopy, memperhatikan plank jalan dan menggunakan insting akhirnya ketemu juga tempat yang Ane cari walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa Ane juga harus blusukan kesana-kemari seperti orang linglung.



"Gedung Sate", begitulah papan nama yang terpasang dibagian gedung tersebut. Gedung ini cukup luas dengan arsitektur bangunan yang cukup menarik bergaya Indo-Eropa. Bangunan ini cukup unik dan khas karena dibagian menara gedung tersebut terdapat ornamen yang mirip tusuk sate pada menara gedung sentral. Dibagian depan terdapat air mancur buatan yang cukup indah. Beberapa pohon terawat dengan rapi disini. Sebenarnya Ane ingin segera memasukinya, tapi apa boleh buat Ane tidak diperkenankan untuk memasukinya. Salah seorang satpam yang sedang berjaga-jaga didepan berucap bahwa tak sembarangan orang boleh memasukinya. Pupus sudah harapan untuk masuk dan akhirnya Ane hanya mengambil gambar sekedarnya saja di bagian depan.



Berkenaan dengan satpam, Ane sungguh mengapresiasi kinerja dari satpam ini sob. Tak henti-hentinya mereka bekerja, bahkan setiap  penyeberang jalan dia siap sedia membantu menyeberangkannya tanpa diminta. Disini Ane sempat bercakap-cakap sebentar dengan salah seorang satpam. Dari keterangan beliau Ane mendapatkan sebuah informasi kalau Gedung Sate ini adalah sebuah landmark Kota Bandung, ibaratnya white housenya Kota Bandung. Diseberang jalan bagian depan Gedung Sate terdapat tanah lapang yang cukup luas dengan nama Lapangan Gasibu. Apakah kata "Gasibu" itu sebuah akronim/singkatan kata? ternyata tidak, Gasibu ya Gasibu. Ibaratnya sebuah altar Provinsi Jawa Barat.



Lapangan ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan yang cukup tinggi, warna putih mendominasinya. Disebelah utara berdiri sebuah tiang, nampaknya tiang ini berfungsi untuk mengibarkan bendera Sang Saka Merah Putih bilamana ada acara upacara yang digelar disini. Sementara di sebelah barat laut berdiri sebuah perpustakaan cukup kecil yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang menginginkannya. Rupanya tak banyak yang memanfaatkan akan keberadaan perpustakaan ini, hal ini terlihat dari bagian depan hanya ada beberapa pemuda saja yang sedang duduk-duduk santai membelakanginya. Hmmm



Beragam aktiftas yang sedang dilakukan oleh para pengunjung disini, mulai dari lari-lari kecil mengitari Lapangan Gasibu, duduk-duduk santai dipinggir lapangan, hingga jepret sana-jepret sini selfie seorang diri yang juga sedang Ane lakukan ini, hehehe. Dari sekian banyak aktiftas tersebut Ane kira pas bila lapangan ini digunakan untuk berlari-lari kecil mengelilinginya. Alasannya cuman satu yakni Lapangan Gasibu ini sudah dilengkapi dengan jalur lintasan untuk para pelari. Sehingga setiap pelari bisa merasa nyaman dan tubuh menjadi bugar kembali.




Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Dihari ini tak hanya di Gedung Sate dan Lapangan Gasibu saja tujuan Ane, tapi ada tujuan utama yang lebih hot yang akan Ane tuju. Tujuan tersebut adalah mengeksplorer Lembang lebih jauh. Seperti apa ceritanya? tunggu saja ya sob cerita Ane selanjutnya. Sampai Jumpa!
Let's Go

Selasa, 24 April 2018

Santai Sejenak di Taman Tugu Tani Mesuji

Kabupaten Mesuji merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Lampung yang minim akan obyek wisata. Satu-satunya obyek wisata yang sangat terkenal di Kabupaten Mesuji adalah Taman Kehati, itupun baru seumur jagung. Tapi hal itu lantas tidak membuat warga sekitar putus asa untuk berbahagia. Ya, untuk sekedar refreshing warga Kabupaten Mesuji punya cara tersendiri yaitu dengan cara mengunjungi Taman Tugu Tani yang terletak tepat di pertigaan Simpang Asahan, Kecamatan Way Serdang, Kabupaten Mesuji, Lampung.


Letak Taman Tugu Tani ini sangatlah strategis karena selain terletak di pertigaan juga terletak di pintu gerbang "Selamat Datang Kabupaten Mesuji". Ane sendiri bila datang dari Yogyakarta atau sebaliknya selalu saja melewati tempat ini. Pasalnya untuk sampai kerumah Ane, dari Jalan Lintas Timur (Jalintim) harus masuk kedalam melalui pertigaan ini. Tadinya Taman Tugu Tani ini belum ada karena belum dibangun, barulah pada tahun 2015 Tugu Tani ini selesai dibangun. Ketika pembangunannya selesai tempat ini selalu saja ramai dikunjungi oleh warga sekitar terutama pada saat sore hari. Ya walaupun kebanyakan dari mereka adalah kawula muda.



Pintu gerbang "Selamat Datang Kabupaten Mesuji"
Dari dahulu rasanya ingin sekali Ane mampir ke tempat ini, tetapi tidak jadi-jadi terus. Nah, barulah pada tanggal 23 Agustus 2017 kemarin akhirnya Ane bisa menyempatkan diri mampir sebentar disini. Itupun sehabis mengurus sesuatu di DISDUKCAPIL. Lalu ada apa saja ya yang ada disini? berikut ulasannya.
Taman Tugu Tani, bila seseorang melewati Jalintim dari Kota Bandar Lampung ke Kota Palembang atau sebaliknya pasti melewati tempat ini. Meskipun dibangun tidak terlalu besar dan tinggi namun cukup menarik perhatian. Tugu dibangun dengan corak khas Mesuji. Dua buah patung terletak diatasnya. Sebuah patung merupakan patung Pak Tani dan satu lainnya merupakan patung Bu Tani. Patung Pak Tani mempunyai karakteristik mengenakan celana panjang dan baju berlengan panjang serta mempunyai ciri khas menaruh cangkul dipundaknya. Sedangkan patung Bu Tani mempunyai karakteristik yang berbeda yakni mengenakan pakaian kemben kebaya dengan ciri khas membawa rinjing bambu di pinggangnya. Meskipun terdapat perbedaan, tapi kedua patung tersebut mempunyai persamaan diantaranya sama-sama memakai capil gunung dan sama-sama melambaikan tangan.


Kalau boleh Ane mempresentasikan bahwa patung-patung inilah merupakan lambang dari kemakmuran. Tujuan awal dibangunnya Taman Tugu Tani ini sebenarnya untuk rest area tapi berhubung tempatnya yang cukup apik maka tak hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan saja tetapi juga sebagai tempat rekreasi. Sebagai tempat rest area tentu tempat ini memiliki beberapa fasilitas penunjang diantaranya mushalla, kios-kios penjual makanan serta kamar kecil. Namun ada yang sangat disayangkan dari tempat ini, yakni fasilitas-fasilitas penunjang tersebut tidak berfungsi secara optimal. Contohnya saja kamar kecil dengan kondisi yang kotor serta kran macet tidak ada air yang keluar. Bahkan untuk mencegah kamar kecil tersebut tetap digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab maka didepan pintunya diberi suatu penghalang. Luar biasa!!!


Kamar kecil yang diberi penghalang
Ane berharap kepada pemerintah setempat agar selalu memperhatikan keamanan dan kenyamanan tempat ini karena kini Taman Tugu Tani ini tidak hanya berfungsi sebagai rest area saja tetapi juga sudah menjadi salah satu icon Kabupaten Mesuji yang menjadi kebanggaan warga mesuji. Memang merawat itu lebih sulit dibandingkan dengan membangun, tapi bila ada kemauan yang keras maka sesulit apapun itu pasti ada jalannya (pesan untuk pemerintah setempat).
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me