Minggu, 12 November 2017

Warung Jerman Bali, Ternyata Namanya Hanya Sebuah Akronim

Semakin lama di Bali tempat yang Ane jelajahi didaftar kunjungan Ane semakin sedikit. Selain obyek wisata berupa wisata alam maupun pura, Bali juga mempunyai tempat wisata kuliner yang khas dan patut untuk dicoba. Salah satunya adalah Warung Jerman yang terletak di Jl. Raya Puputan no.206, Renon, Denpasar. Pertama kali mendengarnya Ane tak langsung percaya kalau warung ini menyediakan berbagai macam menu makanan khas Bali, pasalnya dari namanya saja sudah kelihatan kalau warung ini ada kaitannya dengan Negara Jerman. Tentu menu makanan yang tersedia merupakan makanan khas Jerman atau warung ini milik orang jerman.
Tapi saat Ane mendatangi tempat tersebut secara langsung barulah Ane percaya kalau warung ini benar-benar menyediakan menu makanan khas Bali, sedangkan kata "Jerman" hanyalah sebuah akronim dari "Jeruk Manis" saja. Saat Ane sampai disini, hanya ada beberapa orang saja yang sedang berkunjung, maklum hari masih terlalu pagi dan warungnya baru saja buka. Hal ini terlihat dari pelayannya yang masih sibuk menyiapkan menu makanannya.



Setelah memarkirkan kuda hijau, lantas Ane masuk kedalam. Warungnya tak begitu luas dengan dindingnya terbuat dari setengah batu-bata dan setengahnya lagi kayu yang dipasang tidak rapat. Di kayu-kayu tersebut terpasang berbagai macam menu makanan yang dapat dipesan oleh para pengunjungnya. Ada sager/be jeruk, ayam panggang sambel matah, jukut urap, tipat bungkul, ayam panggang, tum ayam, ayam bakar, tipat kuah ayam, dan nasi campur ayam. Sementara untuk minumannya ada es campur jerman, es jeruk, es daluman, es teh, dan kopi Bali.



Tak hanya itu dibagian dinding ini juga terpasang beberapa buah foto pemilik warung bersama orang-orang terkenal yang pernah mampir kesini. Dari sekian foto tersebut, ada sebuah foto yang membuat Ane merasa tepat berkunjung kesini. Ya, Foto Pak Bondan Winarno yang terkenal akan kata "Mak Nyusss" nya.



Warungnya cukup bersih dan meja serta kursi terpasang dengan rapi. Ane mengambil salah satu posisi tempat duduk didekat pintu masuk. Setelah memikirkan agak lama hendak mau makan apa, akhirnya pilihan Ane jatuh pada tipat kuah ayam. Sedangkan untuk minumannya apalagi kalau bukan jeruk manisnya. Ane maju kedepan untuk pesan menu-menu tersebut.



Tak lama Ane menunggu, tak sampai 15 menit pesanan yang Ane pesan sudah ada didepan semua. Seporsi tipat kuah ayam dan segelas es jeruk manis. Seporsi tipat kuah ayam terdiri dari setusuk sate lilit, tipat (ketupat), setengah butir telur ayam rebus, sambal, ayam goreng, ayam betutu, sayur, dan tum ayam (dalam bahasa jawa sama dengan bothok), serta ada tambahan semangkok sup ayam yang berisi setengah.


Seporsi tipat kuah ayam dan segelas es jeruk manis
Tipat kuah ayamnya

Lalu bagaimanakah dengan rasanya? berhubung menu yang diunggulkan disini adalah minuman jeruk manisnya, maka dari itu minuman ini yang pertama Ane cicipi. Sruput, sruput, sruput, hmmm rasanya sangat manis dan khas. Tidak beda jauh sieh sama minuman jeruk manis pada umumnya, cuman kadar jeruknya saja yang lebih kental. Sekarang pindah pada tipat kuah ayamnya. Sama seperti sate lilit pada umumnya, rasa sate lilit ini cukup lembut dan empuk di mulut. Begitupula dengan daging ayam dan tipatnya. Sayurnya segar dan lengkap sudah dengan hadirnya sambal yang sangat pedas serta ayam goreng yang terasa kriuk-kriuk begitu mendarat di mulut. Tak ketinggalan juga pada sup ayamnya, rasa kuah ayamnya itu mirip dengan rasa kuah pada bakso yang diberi tambahan seledri dan bawang goreng. Untuk dagingnya juga enak dan Dua kata deh sob untuk ini semua,"wuenak tenan, Le Leduk".






Untuk itu tak habiskan semuanya
Rasa yang enak sepadan dengan harga yang harus Ane bayarkan. Semuanya dihargai 37k saja. Gimana, tertarikkah sobat untuk mencicipinya? Warung ini terletak sangat strategis di pusat kota dekat perkantoran sehingga mudah untuk ditemukan. Letaknya tidak jauh dari Patung Kapten Japa di Bunderan Renon, hanya sekitar 100 meter kearah barat saja. Jam buka warungnya dari pukul 8 pagi hingga sore hari jam 6 Wita.
Let's Go

Minggu, 05 November 2017

Suatu Sore di Taman Kota Denpasar

Awalnya Ane kira langit yang mendung ini akan segera turun hujan. Ternyata tidak, sepulangnya dari Pantai Petitenget langit berangsur-angsur cerah kembali. Saat melintasi Taman Kota Denpasar yang berada di Jl. Gatot Subroto Barat tak sengaja Ane melihat keramaian warga disekitar lokasi. Apakah yang terjadi, ada apa gerangan disana? ternyata ada kejadian sebuah truck yang naik di trotoar jalan. Truck ini mengalami kesulitan saat turun kebawah. Yang menjadi pertanyaan Ane adalah bagaimana mungkin truck itu bisa diatas sedangkan trotoar yang ada cukup tinggi. Ah ntahlah, yang jelas 2 tiang listrik patah karenanya.



Truck yang sedang mengalami musibah
Akibatnya 2 tiang listrik patah
Syukur, mobil yang mengalami musibah ini berhasil diselamatkan lantaran dibantu oleh penduduk sekitar. Sebenarnya di Taman Kota Denpasar ini ada tempat khusus parkir kendaraan bermotor yang berada disebelah utara taman, tapi berhubung Ane malas menuju kesana akhirnya Ane parkirkan saja kuda hijau Ane dipinggir taman sebelah barat. Setelah memarkirkan kuda hijau Ane, lantas Ane bergegas masuk ke taman. Taman Kota ini cukup cantik, dipinggir taman sudah dibangun jalan setapak yang terbuat dari semen. Saat Ane disini terlihat banyak warga masyarakat yang sedang melakukan berbagai macam aktifitas olahraga seperti jogging, jalan kaki, dan bersepeda mengelilingi taman ini.



Agak kedalam lagi Ane melihat banyak kursi-kursi cantik yang terpasang menghadap kearah tengah taman. Sedangkan tepat ditengah-tengah taman telah dibangun sebuah kolam yang kegunaannya Ane kurang begitu tahu. Kolamnya tidak terlalu luas kira-kira hanya berdiameter sekitar 15-20 meter saja. Bentuknya bulat lonjong dengan ditengahnya terpasang ratusan pipa besi yang menjulang keatas. Mungkin kolam ini berfungsi sebagai tempat menarinya air mancur sehingga mampu menarik perhatian warga masyarakat.



"Sambil berkeliling, sambil memfoto-foto moment yang terjadi", itulah yang Ane lakukan disini. Dibagian barat pojok selatan suasana diriuhkan dengan beberapa anak muda sedang memegang komputer jinjing. Nampaknya disini telah dipasang wifi, namun sayang Ane tak bisa mencobanya karena HP Ane tak mendukung untuk melakukan hal itu, :-). Tak jauh dari tempat tersebut terdapat sebuah sangkar burung yang cukup besar dan juga beberapa rumah burung.
Ane rasa tempat ini cukup ramah bagi anak-anak. Bagaimana tidak, saat Ane sampai disebelah timur taman Ane melihat banyak peralatan bermain untuk anak-anak. Mulai dari jungkat-jungkit, perosotan, hingga ayunan. Semua anak bisa menggunakan fasilitas ini sepuasnya tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun. Tentu bagi orang tua harus tetap mendampinginya. Tapi tidak usah khawatir akan bosan, bagi orang tua juga disediakan area bermain yang letaknya tidak jauh dari situ. Seperti bentuk pintu yang terbuat dari besi sehingga bisa untuk menggantung (rangen), dan juga peralatan lainnya yang siap untuk dipakai.


Area bermain untuk anak-anak
Ini juga iya
Nah kalau yang ini baru area bermain untuk orang tua
Sebagai Taman Kota tentulah letak ini sangat strategis. Bagi yang sedang tidak ingin berolahraga, menikmati suasananya pun sudah cukup. Dibagian timur laut Ane melihat sebuah pura yang cukup unik. Tidak seperti pura pada umumnya dibangun dari batuan hitam berwarna menyerupai warna semen, pura ini justru dibangun dari batu bata berwarna merah alami. Untuk jenis bangunannya tow sama saja dengan pura-pura lainnya, ada bangunan pelinggih, wantilan, bale, candi bentar, maupun kori agung. Pura tersebut bernama Pura Agung Lokanatha Denpasar.





Semakin sore masyarakat yang datang juga semakin banyak. Beragam aktifitas mereka lakukan disini. Dibagian tengah lapangan Ane melihat banyak anak muda sedang bermain bola. Tapi Ane merasa terhibur ketika tiba-tiba Ane disuguhkan dengan pemandangan yang lucu. Dua orang wanita berusia remaja membawa seekor anjing yang sangat kecil sekali. Ane perkirakan anjing tersebut belumlah lama lahir. Dan bagian lucunya itu adalah saat anjing tersebut berlarian kesan-kemari, larinya ituloh jangkauannya sangat pendek sekali. Rupanya tak hanya Ane saja yang tak bisa menahan gelak tawa, pengunjung lain pun sontak demikian.



Walau hanya berjalan-jalan saja dan mengambil gambar, setidaknya pemandangan ini sudah cukup membuat hati Ane senang dalam menutup perjalanan keliling di Pulau Dewata hari ini.
Let's Go

Sabtu, 28 Oktober 2017

Musholla Al Qomar dan Pantai Petitenget

Jam menunjukkan pukul 12.15 Wita, setelah makan kenyang di Warung Jukut Undis Ane pacu kuda hijau kembali menuju ke sebuah tempat ibadah yang cukup unik di Kota Denpasar. Tempat tersebut bernama Masjid Al Qomar yang terletak di Jl. Pura Demak. Menurut catatan Ane bahwa tempat ini tidaklah jauh dari perempatan jalan antara Jl. Teuku Umar dengan Jl. Imam Bonjol. Ya, kedua jalan tersebut merupakan jalan yang cukup besar di Kota Denpasar dan Ane sering melewatinya selama di Bali. Maka dari itu dengan tekad kuat tanpa ragu-ragu Ane mencarinya.
Tak disangka dan dinyana pencarian Ane berjalan dengan mulus. Ketika Ane menjumpai perempatan jalan antara Jl. Imam Bonjol dengan Jl. Teuku Umar, Ane lurus melewati Jl. Teuku Umar Barat dan ketika menemui jalan kecil mengarah kekanan pada jalan yang kedua, Ane belok saja. Beruntung 100 meter kemudian Ane membaca sebuah papan nama bertuliskan "Musholla Al Qomar". Ane kira tadinya ini adalah sebuah masjid, ternyata bukan.



Area parkirnya tidak begitu luas, kebanyakan para pengunjung yang datang memarkir kendaraannya diluar samping kanan dan kiri gapura masuk. Musholla ini cukup unik, arsitektur bangunannya kental akan budaya Bali. Dibagian terdepan musholla sudah terpasang 3 buah kotak amal, sementara disamping kirinya terdapat beberapa takmir musholla yang sedang berjaga-jaga. Berhubung Ane ingin shalat dzuhur maka Ane harus mengambil air wudhu. Tempat wudhu ada dibagian sisi kanannya.



Ane fikir kurang pas bila tempat ini disebut sebagai bangunan sebuah musholla, bagaimana tidak bangunan ini cukup luas dengan dibagian dalamnya terdapat beberapa saf. Selain itu bangunan ini terdiri atas 2 lantai. Ane rasa tepat bila bangunan ini disebut sebagai bangunan sebuah masjid.



Setelah melaksanakan ibadah shalat Dzuhur, lantas Ane tak langsung pergi. Ane tidur-tiduran dahulu sebentar disini. Disini Ane merasakan betapa susahnya hidup sebagai minoritas, karena sangat susah sekali mencari masjid maupun musholla di Pulau Bali. Walau sebagai minoritas masjid ini terbilang ramai. Tak henti-hentinya Ane melihat pengunjung yang datang melaksanakan ibadah shalat. Selain itu tak hanya sebagai tempat shalat saja, masjid ini rupanya juga mengadakan berbagai macam kegiatan agama seperti tempat mengaji anak (TPA) hingga acara pengajian. Hal ini terlihat dari sebuah papan bor yang bertuliskan materi tentang akhlak kepada orang tua. Sungguh amazing!
Tak terasa Ane hilang kesadaran dan mengantuk. Niatnya hanya leyeh-leyeh saja, eh malah tidur beneran. Hingga akhirnya tepat jam 2 siang Ane terbangun. Syukur barang bawaan Ane semuanya masih ada. Selepas dari sini Ane menuju kebagian utara dari Kota Denpasar. Ya, tempat tersebut bernama Pantai Petitenget.

Pantai Petitenget



Sebenarnya perjalanan Ane kesini terbilang tak direncanakan. Awalnya Ane hanya berniat mencari Pantai Canggu yang ada Pura Batu Bolongnya, tetapi pantai tersebut tidak ketemu. Inilah namanya sebuah perjalanan apa yang sudah direncanakan tidak berjalan dengan baik. Tanpa sengaja ditengah jalan Ane malah melihat sebuah plank yang bertuliskan Pantai Petitenget, entah bagaimana ceritanya tiba-tiba Ane mengikuti plank tersebut. Dan taratata akhirnya Ane sampai dilokasi pantainya.
Memasuki pantainya Ane tidak dikenakan biaya sepeserpun alias gratis. Namun anehnya, setelah meninggalkan lokasi parkirnya terdapat sejumlah petugas parkir datang dan tiba-tiba pengunjung yang datang dibelakang Ane ditariki karcis parkir sebesar 2k. Ah, rupanya hari ini nasib baik bagi Ane. Tanpa berlama-lama langsung saja menuju ke pantainya.



Berhubung jalan yang langsung menuju pantainya sedang diputus karena ada program pembangunan, maka Ane mencari jalan lain. Dari tempat parkir Ane bergerak kearah kanan. Melewati depan pura (sayang puranya sedang dikunci sehingga Ane tak bisa memasukinya) dan sebuah bangunan mirip pendopo, Ane menjumpai sebuah jalan kecil kearah kiri menuju pantainya. Ane masuk kedalam jalan tersebut, sepanjang perjalanan Ane hanya melihat berbagai macam jenis penginapan berdiri.
Dan inilah pesona pantai petitenget itu berada. Pantai yang terletak di Desa Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten badung ini cukup sepi tidak seramai Pantai Sanur maupun Pantai Pandawa. Hampir semua pengunjung yang datang nampak hanya berjalan-jalan saja kesana-kemari. Sejauh mata memandang yang terlihat dipinggir pantai hanyalah banguanan-bangunan tinggi dan pohon-pohon kelapa tumbuh menjulang keatas. Selain itu terdapat juga beberapa gazebo yang siap memanjakan para pengunjungnya.




Pantai ini memiliki ombak yang cukup besar, berpasir putih dengan teksturnya lembut, serta memiliki wilayah daratan yang landai dan luas. Karena segaris dengan Pantai Kuta maupun Legian, cocok bila disini dapat digunakan untuk melihat sunset. Tapi sayangnya, langit mulai mendung dan sepertinya sunset tak akan datang di sore ini. Ane yang tak ingin kecewa lebih dalam akhirnya segera meninggalkan lokasi ini dan pulang ke penginapan Kota Denpasar.



Apakah Ane langsung menuju penginapan? ah ntahlah, siapa tahu ada obyek wisata lagi yang dapat Ane kunjungi tanpa Ane rencanakan.
Let's Go

Minggu, 08 Oktober 2017

Jukut Undis Sanur, Masakan Bali Khas Buleleng

Selepas mengunjungi Pura Langgar, Ane bingung mau kemana lagi. Pasalnya sebagian besar obyek wisata yang ada didekat Pura Langgar tepatnya di Kabupaten Bangli ini sudah Ane kunjungi. Misalnya saja Desa Penglipuran maupun Pura Kehen. Setelah berfikir agak lama akhirnya Ane memutuskan untuk kembali saja ke Kota Denpasar. Tapi, rugi donk sob kalau pulang ke Kota Denpasar langsung menuju penginapan. Secara, hari belumlah siang dan obyek wisata yang ada di Kota Denpasar sendiri belum semua terjelajahi, maka dari itu disini Ane menuju Kota Denpasar untuk melanjutkan petualangan Ane menjelajahi tempat-tempat yang belum Ane jelajahi.
Petualangan selanjutnya yang akan Ane lakukan adalah mencari masakan khas Bali yang khas banget tetapi tetap saja halal karenakan Ane ini muslim jadi ya tetap ingat sama apa yang diperbolehkan atau tak diperbolehkan untuk dimakan menurut agama Ane. Salah satunya Jukut Undis, masakan yang satu ini memang agak sulit untuk ditemukan. Menurut informasi yang beredar bahwa warung yang menyajikan masakan ini ada disekitaran sanur, maka menujulah Ane kesana. Apa yang terjadi saudara-saudara? ternyata zonk. Jangankan Ane, lawong tanya sama petugas parkir Pantai Sanur saja tidak tahu. Yasudah akhirnya Ane cari sendiri tuh warung.


Cukup lama sudah Ane menelusuri Kota Denpasar bagian timur ini. Kurang lebih sekitar 3/4 jam dan syukur, usaha Ane rupanya tak sia-sia. Secara tak sengaja Ane membaca sebuah spanduk yang bertuliskan "Warung Jukut Undis masakan Bali khas Buleleng spesial ayam" disebelah kanan jalan (dari pusat Kota). Mungkin warung ini pindahan dari Sanur yang beralamat di Jl. Hangtuah, karena dalam spanduk tersebut tertera demikian. Sementara warung yang Ane coba sekarang beralamatkan di Jl. Danau Buyan 42 A-Sanur.
Warungnya cukup bersih namun sepi, hanya ada beberapa tempat duduk saja yang tersedia. Terlihat seorang pengunjung sedang menikmati menu masakannya. Dibagian depan warung terlihat sebuah patung ganesha kecil sedang duduk diatas gemerciknya air berhiaskan bunga seolah-olah menyapa setiap para pengunjung yang datang. Setelah memarkirkan kuda hijau Ane, lantas Ane masuk kedalam. Tanpa berfikir panjang langsung saja Ane memesan satu porsi masakan Jukut Undis.


Dengan gesitnya Sang Pelayan pun melayani Ane. Tak sampai 10 menit makanan yang Ane pesan sudah ada dihadapan Ane. Sementara untuk minumannya, sebotol aqua kecil sudah cukup untuk menghilangkan rasa dahaga. Disini Ane bingung, la mana yang dinamakan dengan Jukut Undis? lawong menu yang tersedia hanya berupa nasi campur saja dan semangkok kecil berisi makanan menyerupai kacang tenggelam dalam kuah berwarna kecokelatan.



Ane hanya menduga mungkin semangkok kecil inilah mengapa makanan ini dinamakan dengan Jukut Undis. Tapi sob, Ane tetap saja tidak plong kalau belum tanya kepada pelayannya mengenai mana yang dinamakan dengan Jukut Undis. Ternyata dugaan Ane benar, Sang Pelayan tersebut mengatakan kalau dalam semangkok kecil inilah mengapa makanan ini dinamakan dengan Jukut Undis. "Ini mas yang dinamakan Jukut Undis, kacang undis yang diolah menjadi sup dan diberi bumbu-bumbu", timpalnya.


Tampilannya itu mirip dengan "kacang tholo (dalam bahasa Jawa)", cuman bentuknya saja agak bulat dan besar. Disinilah rasa penasaran Ane muncul, lalu bagaimanakah dengan rasanya ya? ternyata rasanya enak dan lembut dimulut. Pada kuahnya rasanya itu sedikit asin, gurih, dan sedikit asam. Bila dibandingkan dengan kacang tholo maupun kacang tanah, kacang undis ini terasa lebih lembut.


Semakin nikmat lagi semangkuk kecil Jukut Undis ini Ane santap bersamaan dengan nasi campur khas Bali. Untuk nasi campurnya, seporsi nasi camupur ini terdiri dari sambal bongkot, abon ayam, sayur tempe, ayam suwir, ayam bumbu merah, sayur urap, dan bayam. Rasanya hmmm sangat enak sekali. Sambalnya cukup pedas, begitupula daging ayamnya yang cukup lunak. Tak berlebihan bila Ane memberi dua jempol karena ini semua "Wuenak Tenan, Le Leduk".




Selain makanannya yang lezat, juga harganya sangat bersahabat dengan kantong. Seporsi Jukut Undis tentu dengan nasi campur dan sebotol air aqua hanya dibanderol dengan harga 20k saja. Dengan rincian jukut undis dan nasi campurnya seharga 15k dan sebotol aqua seharga 5k.


Gimana sob, tertarikkah buat mencicipinya? hmmm kalau tertarik, sobat bisa langsung capcus menuju kesini. Agar tak kecewa ketika sampai disini mungkin dikarenakan warungnya belum buka atau sudah tutup, sobat bisa menghubunginya terlebih dahulu. Berikut No. Telpnya: 081 239 402 29
Jam Buka : 09.00 - 16.00 Wita
Let's Go

Selasa, 19 September 2017

Yuk, Liburan ke Kota Malang dan Sekitarnya

Sebagai seseorang yang sudah lama tinggal di Pulau Jawa dan mempunyai hobi jalan-jalan, Ane sudah tak asing lagi dengan yang namanya Kota Malang. Tercatat sudah dua kali Ane datang kesini. Pertama pada tahun 2011, saat itu Ane bersama dengan 4 orang sahabat Ane main-main ke Jatim Park 1. Berhubung kita hanya memiliki waktu libur satu hari saja maka tak ada rencana untuk menginap disini. Dan yang kedua saat Ane bersama dengan tiga orang sahabat Ane lainnya, saat itu kita hanya melintasi saja karena hari sudah semakin sore dan tujuan kita hanyalah satu tempat yakni melakukan pendakian ke Gunung Semeru.
Jujur, saat berada di Kota Malang ini suasana menjadi begitu berbeda. Kotanya cukup luas, bersih dengan hawa udara yang cukup fresh. Ane sempat tergoda dengan semua apa yang dimiliki oleh kota ini, tempat-tempat wisatanya yang cukup menarik serta infrastruktur jalannya pun sudah teraspal dengan baik. Tapi apa boleh buat, di dua kali kedatangan ini tak memungkinkan bagi Ane untuk mengeksplorer lebih jauh. So, Ane hanya bisa bermimpi dan berencana agar suatu saat nanti Ane bisa mengunjungi lagi kota ini.
Awalnya Ane berencana hanya mengunjungi beberapa tempat saja yang cukup terkenal dan menarik, tapi niatan Ane tersebut sepertinya pupus karena semakin kesini Kota Malang semakin bersolek dan menampilkan lebih banyak tempat-tempat wisata baru yang tak kalah pamornya dengan tempat-tempat wisata yang sudah mempunyai nama sebelumnya. Berikut tempat-tempat wisata menarik yang ada di Kota Malang dan sekitarnya yang sudah masuk dalam daftar rencana kunjungan wisata Ane.

Jatim Park 1 dan 2

Walaupun Ane sudah pernah datang kesini sebelumnya tetapi Ane masih merasa penasaran dengan tempat yang satu ini. Banyak wahana wisata yang belum Ane coba sehingga tak salah bila Ane memasukkan lagi tempat ini sebagai destinasi yang akan Ane kunjungi lagi. Apalagi datang kesini bersama keluarga tentu akan lebih mengasyikkan lagi karena sepertinya tempat wisata ini memang didesain sebagai tempat berlibur bersama keluarga.

Museum Angkut
Sumber: https://jtp.id/museumangkut/
Saat mencari-cari informasi tentang museum angkut ini ingin rasanya Ane segera menginjakkan kaki disini. Bagaimana tidak, sebagai seseorang yang dilahirkan didaratan Asia tentu ingin rasanya merasakan suasana yang berbeda. Ane sendiri ingin rasanya berada seperti di Eropa maupun di Inggris. Nah, untuk mencapai cita-cita Ane tersebut Ane tak perlu benar-benar pergi ke Benua Eropa maupun negara Inggris tapi cukup mengunjungi Museum Angkut yang ada di Kota Batu ini. Menarik bukan?

Pantai Balekambang
Sumber: www.ombonejagad.com
Tempat-tempat wisata lainnya yang telah berhasil membuat Ane penasaran adalah pesona Pantai Balekambang. Konon katanya pantai ini mirip dengan Tanah Lot yang memiliki pura diatas pulau karang. Apakah benar begitu? ntahlah, yang jelas Ane sudah pernah berkunjung ke Tanah Lot dan ingin rasanya juga berkunjung ke Pantai Balekambang ini.

Taman Rekreasi Selecta
Sumber: www.malang-guidance.com
Taman Rekreasi Selecta terkenal dengan taman bunganya. Disini terdapat banyak sekali bunga-bunga yang beraneka ragam dan macam-macam jenisnya yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Walaupun Ane seorang laki-laki tapi Ane mempunyai sifat penyayang sehingga pas bila datang kesini bersama kekasih. Eh emang ada hubungannya? Enggak juga, hehehe.

Kampung Jodipan
Sumber: www.deska.id
Tempat terbaru yang juga lagi ngehitz sekarang-sekarang ini adalah Pesona Kampung Jodipan. Kampung ini awalnya dikenal sebagai kampung yang kumuh, kini dengan sentuhan seni dari Komunitas Guyspro kampung ini menjadi kampung yang menarik untuk dikunjungi. Warna-warni cat mendominasi kampung ini mulai dari tembok hingga atapnya. Ada banyak spot yang menarik wisatawan untuk mengabadikan momennya mulai dari Jembatan Embong Brantas, Lorong Payung, tangga warna-warni dan lain sebagainya.
Didalam merencanakan liburan, tentu Ane tak hanya fokus pada tempat-tempat wisatanya saja tetapi juga fokus pada akomodasinya. Rugi donk sob kalau berkunjung ke Kota Malang hanya dalam satu hari saja. Untuk itu mulailah Ane hunting tiket pesawat dan hotel. Selama ini kan biasanya terpisah antara memesan tiket pesawat dengan booking hotel sehingga cukup menghabiskan banyak waktu. Setelah cek harga tiket dan hotel sana-sini, ternyata ada lho sob perusahaan yang menyediakan layanan pemesanan tiket dan hotel dalam satu paket yakni Traveloka. Lalu Ane mencoba untuk menggunakan layanan ini, setelah Ane coba ternyata layanan ini cukup mudah digunakan dan menghemat banyak waktu. Tak hanya itu, dalam pembayaran pun harganya lebih murah dibandingkan dengan memesan tiket dan hotel secara terpisah (Kan lumayan sisa uangnya bisa Ane gunakan untuk kulineran atau ditabung buat merencanakan liburan selanjutnya), serta cara pembayarannya pun terbilang cukup mudah karena sudah tersedia banyak metode pembayarannya.


Tidak percaya? sobat bisa buktikan sendiri benefitnya dan untuk lebih jelasnya bisa dilihat disini.
Sampai Jumpa!
Let's Go

Rabu, 30 Agustus 2017

Pura Langgar Bangli, Pura Unik yang Ada Bangunan Mushollanya

Hari masih pagi didukung dengan cuaca yang sangat cerah, Selepas mengunjungi Pura Kehen Ane lanjutkan lagi perjalanan Ane menuju ke sebuah obyek wisata lainnya. Masih berkaitan dengan pura, ada sebuah pura lagi yang cukup unik kedengarannya bagi Ane, mungkin tak hanya Ane tetapi juga bagi siapa saja yang mendengarnya. Pura tersebut bernama Pura Langgar yang terletak di Desa Bunutin, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali.



Sebenarnya sieh ini bukanlah kali pertama Ane mengunjungi pura ini, melainkan sudah kedua kalinya. Saat itu pulang dari Desa Penglipuran Ane mampir sebentar, tapi apa boleh buat Ane tak berhasil memasukinya dikarenakan pemangku yang ada di pura ini sedang tidak berada ditempat. Saking penasaran dengan pura tersebut akhirnya Ane mendatanginya lagi dilain hari dan hari inilah rencana Ane tersebut terlaksana.
Dari Pura Kehen Ane pacu kembali kuda hijau Ane kearah selatan menuju Pura Langgar. Tentulah saat menuju pura tersebut Ane melintasi Kota Bangli. Kesempatan inipun lantas tidak mau Ane lewatkan begitu saja. Ane menyempatkan diri sebentar untuk mengelilingi kota ini. Ya, Kota Bangli ini tidaklah begitu luas, saking tidak luasnya dengan mudah Ane dapat menemukan pusat kotanya. Sebuah lapangan yang cukup luas dengan disamping sisinya berdiri gedung-gedung perkantoran. Selain itu sebuah patung dan monumen berdiri disini. Hari masih pagi sehingga banyak para penduduk yang sedang melakukan aktifitasnya terutama anak sekolah yang sedang berolahraga. Puas bersantai-santai disini, Ane kendarai kuda hijau Ane kembali ke tujuan utama Ane.


Patung yang ada disekitar lapangan
Monumen perjuangan Kapten TNI Anak Agung Gede Anom Mudita

"Pura Dalem Jawa (Langgar)", begitulah sebuah tulisan yang tertera pada papan nama yang Ane baca ketika mendekati lokasi puranya. Dari jalan utama letak pura ini tidaklah jauh, Hanya sekitar 75 meter saja. Melewati perkampungan penduduk akhirnya sampailah Ane dilokasi puranya.
Sama seperti kemarin, pura ini terlihat sepi tanpa penjaga seorang pun. Ane bingung dengan keadaan ini, dijalan utama terlihat dengan jelas kalau pura ini selain sebagai tempat sembahyang juga sebagai obyek wisata. Bukankah setiap obyek wisata itu ada penjaganya? ntahlah yang jelas beginilah suasana yang ada disini. Sepi, tak terlihat seorang penjaga maupun pengunjung pun yang datang, dan terkesan horor.



Tanpa ingin memasuki puranya terlebih dahulu, Ane mencari pengempon/pemangku yang memangku pura ini. Beruntung ditengah jalan Ane bertemu dengan seorang warga sekitar bersama seorang anak sedang mengendarai sepeda motor. Ane bertanya kepada beliau dan tanpa diduga serta dinyana bukanlah sebuah jawaban yang Ane terima tetapi bantuan yang sangat, sangat, sangatlah Ane perlukan untuk saat ini. Beliau parkirkan sepeda motornya dan seorang anak tersebut disuruh menjaganya. Kemudian Ane disuruh mengikuti beliau masuk gang-gang rumah yang cukup sempit, saking sempitnya Ane ragu-ragu memasuki gang-gang tersebut, pasalnya sepanjang gang-gang tersebut terdapat penduduk sekitar yang sedang melakukan aktivitasnya. Setiap kali berpapasan dengan warga sekitar, Bapak ini selalu mengatakan "Om Swastiastu". Mungkin kalau dalam islam sama dengan kata "Assalmu'alaikum Warrahmatullahi wabarakatuh". Hingga akhirnya beliau mengatakan Om Swastiastu tersebut didepan sebuah rumah dengan didepannya sedang ada beberapa orang mengerjakan sesuatu. "Inilah rumah pemangkunya", tukasnya.
Ane kira dari beberapa orang tadi salah satunya adalah seorang pemangkunya, ternyata tidak. Tak lama kemudian muncullah seorang wanita tengah baya dari dalam rumah dan beliau memperkenalkan diri kalau dialah pemangku Pura Langgar, namanya AA Biang Mangku. Sebelum kita menuju ke puranya Ane ditanyai terlebih dahulu beberapa pertanyaan mulai dari asal Ane hingga tujuan Ane mengunjungi Pura Langgar.



Ibunya : Masnya namanya siapa?
Ane    : Anis Hidayah Bu!
Ibunya : Asal dari?
Ane    : Jogja
Ibunya : Sudah berapa lama mas Anis tinggal di Bali?
Ane    : Tepat 2 minggu ini Bu
Ibunya : Eow sudah lama rupanya! Masnya tahu letak pura ini
         darimana?
Ane    : Dari internet Bu, sudah banyak kok Bu yang mengulas tentang
         pura ini.
Ibunya : Lalu tujuan masnya kesini untuk?
Ane    : Wisata saja Bu
Ibunya : Bukan karena tugas dari kampus atau tugas akhir?
Ane    : Bukan Bu, saya kesini murni hanya ingin lihat-lihat keadaan
         pura saja dan tak ada kaitannya dengan kampus.
Ibunya : Baiklah mas, nanti kita bincang-bincang tentang puranya di
         sana saja ya?
Ane    : Baik Bu.
Diapun meminta izin kepada Ane untuk masuk rumah sebentar dan berdandan. Setelah berdandan lantas kita menuju puranya bersama-sama. Ditengah jalan beliau bercerita banyak tentang pura ini. Kebanyakan para pengunjung yang datang kesini berasal dari luar Pulau Bali dan bertujuan ziarah. Selain itu tak jarang pula banyak para mahasiswa yang mendatangi pura ini hanya untuk melakukan penelitian.



Sesampainya di ujung jalan terdapat sebuah jembatan yang membujur melintasi sungai cukup kecil. Sang Ibupun mengatakan kepada Ane kalau kita sebaiknya lewat sini saja. Anepun mengikutinya, lantas setelah melewati sebuah pintu masuk sampailah kita dihalaman dalam pura. Ibunya dengan lincah menjelaskan kepada Ane setiap apa-apa yang ada didalam pura ini.
Bangunan pertama yang dikatakan kepada Ane adalah sebuah bangunan bale berlantai keramik dengan dipojoknya terdapat karpet berwarna hijau. Bangunan ini dapat digunakan oleh setiap para pengunjung yang datang khususnya beragama islam untuk sholat. Nah, inilah salah satu keunikan yang dimiliki pura ini. Biasanya yang namanya pura pastilah hanya diperuntukkan untuk sembahyang bagi pemeluk agama Hindu saja, tetapi disini tidak.



Memasuki area selanjutnya pandangan Ane langsung tertuju pada sebuah bangunan yang cukup besar berdiri ditengah-tengah. Inilah kenapa pura ini dinamakan Pura Langgar. Bentuk bangunannya persegi empat mirip dengan musholla/langgar tempat ibadahnya umat Muslim dan disetiap sisinya terdapat sebuah pintu masuk. Ketika Ane bertanya kepada AA Biang Mangku apakah Ane diperbolehkan untuk memasukinya? jawaban beliau tidak. "Jangankan pengunjung yang datang, seorang warga sekitar pun tak boleh memasukinya kecuali saya", katanya. Alasan mengapa hanya saya saja yang boleh memasukinya? lanjut dia bahwa dia sudah disucikan dengan melakukan serangkaian upacara agama terlebih dahulu.



Dia menjelaskan kalau dia sudah mengurusi pura ini sejak lama dan dia telah mengikuti segala peraturan yang berlaku secara turun-temurun. Salah satu aturan yang Ia lakukan adalah tidak pernah makan daging babi sekalipun karena Ia adalah seorang pemangku pura. "Tetapi kalau daging sapi, diperbolehkan", ucapnya.
Dia bercerita banyak tentang pura ini. Pura ini didirikan sekitar abad ke-16 pada saat itu Raja Bunutin yang bertahta bergelar Wong Agung Wilis. Kala itu pewaris Sang Raja, yakni Ida I Dewa Mas Blambangan mengalami sakit keras yang aneh. Tak ada satupun tabib maupun warga yang mampu mengobatinya. Bertapalah Sang Raja Wong Agung Wilis tersebut, dari hasil pertapaannya itu beliau mendapatkan bisikan berupa perintah untuk membangun pelinggih berbentuk langgar.



Awalnya rencana ini tidak berjalan dengan lancar karena keluarga dan saudara-saudara raja menolak dengan keras. Salah satunya Ibu kandung beliau. Maka dari itu disini dibangulah sebuah bangunan yang diletakkan ditengah kolam. Iya, pura ini dikeliling oleh sebuah kolam yang ditumbuhi banyak teratai. Namun karena Raja Wong Agung Wilis yakin dengan bisikan tersebut, akhirnya dia tetap membangun pelinggih tersebut dan saudara-saudaranya tersebutpun banyak yang meninggalkan Bunutin.



Setelah beliau membangung pelinggih berbentuk langgar, apakah yang selanjutnya terjadi? ternyata penyakit Ida I Dewa Blambangan sembuh. Raja Bunutin pun meyakini bahwa kesembuhannya Ida I Dewa Blambangan karena pelinggih ini. Sejak saat itu pura ini semakin dihormati oleh semua warga. Kendati demikian pelinggih ini tetaplah hanya digunakan untuk keperluan persembahyangan umat hindu saja. Sedangkan kalau umat muslim yang ingin melaksanakan shalat, kita sediakan tempat tadi juga tempat wudhu baginya.
Kalau ini merupakan utamaning mandala, nah yang ini merupakan madyaning mandala. Perbincangan kita semakin menarik, ada keunikan lainnya yang cukup menarik mengenai pura ini. Berbeda dengan pura-pura pada umumnya dalam pelaksanaan pemujaan menggunakan daging babi sebagai sesajennya, tetapi disini tidak. Sesajen yang digunakan di Pura Langgar ini adalah daging ayam dan itik. Selain itu, lanjut dia bahwa pura ini pun melaksanakan pemotongan hewan kurban layaknya pemotongan hewan kurban pada Hari Raya Idhul Adha bagi umat islam. Acara pemotongan ini disebut dengan Titi Mama. Hewan yang akan dikurbankan sebelum disembelih diputar-putarkan terlebih dahulu disekitar pelinggih, dan daging yang sudah disembelih dan dipotong-potong selanjutnya dibagikan kepada warga.



Pemandangan indah dapat Ane saksikan saat turun ke bagian terdepan pura/nistaning mandala. Sebuah bangunan wantilan berdiri kokoh cukup besar, sedangkan dibagian belakang bangunan tersebut terdapat kolam yang cukup luas ditumbuhi banyak tumbuhan teratai dengan ditengah dan diseberangnya ada pelinggih. Cantik bener pura ini.


Bangunan wantilan
Kolam yang ada dibelakang bangunan wantilan
Pelinggih yang ada ditengah kolam
Pelinggih yang ada diseberang kolam
Selama didalam tak satupun Ane melihat kotak amal dengan bertuliskan Dana Punia seperti yang pernah Ane lihat di Pura Agung Jagatnatha. Biang Mangku menjelaskan kepada Ane memang pura ini sengaja tidak dipasang kotak-kotak amal seperti yang ada di pura pada umumnya. "Disini tidak ingin pengunjung yang datang merasa terbebani dengan adanya dana punia tersebut, mau berkunjung saja sudah senang", timpalnya. "Toh misalnya para pengunjung tetap ingin memberi dana punia, saya tidak menolaknya", lanjut dia.
Ane merasa tidak enak hati bila tidak memberi dana punia karena sudah ditemani sekaligus mendapatkan banyak informasi darinya, maka dari itu Ane kasihkan dana punia seikhlasnya dan selanjutnya untuk berpamit pulang. Dia berterimakasih kepada Ane dan memberitahukan kepada Ane kalau ingin datang pada saat upacara, datang saja pas ada acara Titi Mama.
Ane hanya manggut-manggut saja, ntah ntar bisa kesini lagi atau tidak. Yang penting sekarang hanya mengiyakan saja apa yang dikatakannya.
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me