Sabtu, 18 Februari 2017

Kertha Gosa, Bangunan Balenya Sungguh Unik dan Menarik

Sebagai pusat kota Kabupaten Klungkung, Kota Semarapura mempunyai beberapa obyek wisata yang dapat dikunjungi oleh para wisatawan, salah satunya Kertha Gosa. Tempat ini berada dekat dengan Patung Kanda Pat Sari disebelah timur laut, Pasar Klungkung disebelah timur, dan Monumen Puputan Klungkung disebelah utara. Selepas berfoto-foto ria didepan Patung Kanda Pat Sari, Ane langkahkan kaki masuk kedalam.



Untuk memasuki Kertha Gosa Ane diharuskan membeli tiket masuk sebesar 12k. Sesampainya didalam suasananya cukup sepi, hanya ada beberapa pengunjung saja yang terlihat. Itupun semuanya merupakan wisatawan mancanegara. Sejauh mata memandang, disini terdapat dua buah balai yang berdiri secara terpisah. Sebuah balai cukup besar berada ditengah kolam dan balai lainnya berada di pojok timur laut.


Loket dan candi bentar obyek wisata Kertha Gosa yang berada disisi timur
Harga tiket masuk Obyek Wisata Kertha Gosa

Ane bergerak kearah kanan terlebih dahulu menuju balai yang ada di pojok timur laut tersebut. Balai ini bernama Bale Kertha Gosa. Menurut Ane Kertha Gosa ini cukup unik dan menarik. Selain mempunyai arsitektur bangunan yang indah, juga mempunyai langit-langit bale yang ditutupi dengan lukisan tradisional bergaya Kamasan.



Ane tatapi lukisan-lukisan tersebut satu-persatu. Disetiap bagian langit-langit terlukis lukisan yang berbeda-beda, tentu mempunyai ceritanya masing-masing. Ane cukup lama dalam menatapnya dan lama-kelamaan akhirnya Ane sdikit tahu dengan cerita apa yang ada didalamnya. Ada yang menceritakan tentang kehidupan bahwa betapa sulitnya mencari sumber kehidupan didunia ini, dan adapula yang menceritakan tentang fase kehidupan manusia dari lahir sampai mati.





Puas melihat-lihat lukisan yang ada disini, kemudian Ane bergerak kearah barat mendekati bangunan balai yang satunya lagi. Balai tersebut bernama Bale Kambang. Bale ini letaknya ada ditengah kolam yang ditumbuhi tumbuhan teratai, sehingga untuk sampai di balenya maka Ane harus melewati jembatan yang terbuat dari batu-bata.





Ah, Ane tak bisa langsung melewatinya karena masih ada sepasang pengantin yang melakukan foto prewed disini. Iya, Ane nggak heran dengan aktifitas mereka disini karena memang tempatnya cukup indah dan menarik. Sebelum melewati jembatannya, Ane harus melewati candi bentar terlebih dahulu dan kemudian Ane terhibur dengan patung-patung yang berdiri disamping kanan dan kirinya.


Candi bentar menuju Bale Kambang
Ini patung-patung yang ada disepanjang jembatan menuju Bale Kambang
Nah, itu baru bangunan Bale Kambangnya
Sama seperti langit-langit yang ada di Bale Kertha Gosa, di Bale Kambang ini pun terdapat lukisan-lukisan tradisional bergaya Kamasan, namun dengan cerita yang berbeda. Yang Ane tangkap dari lukisan tersebut adalah diantaranya bertema peperangan dan Kisah Men Brayut yang dikaruniai 18 orang anak sehingga tak ada waktu mengurus hal-hal lainnya yang ada hanyalah mengurus anak mereka saja.






Berdasarkan informasi yang Ane peroleh dari situs www.klungkungkab.go.id bahwa Kertha Gosa yang merupakan obyek wisata andalan Kabupaten Klungkung ini dibangun pada tahun 1686 oleh Dewa Agung Jambe dan dahulu pernah berfungsi sebagai balai sidang pengadilan selama berlangsungnya birokrasi kolonial Belanda di Klungkung (1908-1942) dan sejak diangkatnya pejabat pribumi menjadi kepala daerah kerajaan di Klungkung (Ida I Dewa Agung Negara Klungkung) pada tahun 1929. Sedangkan Bale Kambang sendiri pernah berfungsi sebagai tempat bagi keluarga kerajaan untuk mengadakan upacara agama untuk ritual Manusa Yadnya seperti pernikahan dan upacara potong gigi.



Bangunan Monumen Puputan Klungkung terlihat dari Bale kambang

Sekarang Ane bergerak kearah barat. Disini Ane dapat melihat kori agung dibagian selatan dan setelah melewati tanah lapang yang tidak terlalu luas, Ane dapat memasuki sebuah bangunan museum yang sepertinya cukup penting. Museum tersebut bernama Museum Semarajaya (akan Ane bahas dalam bab tersendiri). Masuklah Ane kedalam museum tersebut.
Let's Go

Jumat, 10 Februari 2017

Patung Kanda Pat Sari (Patung Catur Muka Klungkung) dan Ikan Nila Nyat-Nyat

Selepas dari Pura Agung Besakih, Ane bergerak keselatan melalui jalan dimana yang telah Ane lalui saat berangkat tadi. Ya, tujuan Ane kali ini adalah mengeksplorer Ibukota Kabupaten Klungkung yaitu Semarapura. Jalan yang Ane lalui cukup mulus dan beraspal dengan disamping kanan dan kirinya berdiri rumah-rumah penduduk berarsitektur khas Bali. 40 menit berselang tak terasa kini Ane mulai memasuki Kota Semarapura.


Ada yang menarik dengan kota ini yaitu tampak dikejauhan terlihat sebuah bangunan mirip kubah masjid. Ane kira bangunan tersebut memang benar-benar sebuah masjid, ternyata dugaan Ane salah. Setelah Ane dekati, ternyata bangunan tersebut adalah sebuah Monumen Puputan Klungkung. Bangunan ini berada ditengah-tengah kota. Lalu bagaimanakah dengan Patung Kanda Pat Sari atau biasa disebut dengan Patung Catur Muka Klungkung?

Monumen Puputan Klungkung
Patung Kanda Pat Sari
Patung Kanda Pat Sari sendiri terletak tepat ditengah-tengah kota perempatan jalan antara Jl. Untung Surapati, Jl. Puputan, Jl. Diponegoro, dan Jl. Raya Besakih. Tapi, sebelum sampai dan berfoto-foto di patung tersebut, Ane memilih mampir dahulu disebuah warung makan untuk sarapan pagi. Maklum, perut sudah keroncongan karena dari pagi Ane memang belum makan.
Beruntung, disekitar Patung Kanda Pat Sari ini terdapat sebuah warung makan yang menurut Ane cukup halal. Ntah apa nama warungnya, Ane lupa yang jelas warung makan tersebut menyediakan menu makanan khas berupa ikan nila nyat-nyat. Merasa kurang yakin halal atau tidaknya menu ini, bertanyalah Ane kepada pedagangnya dan ternyata dugaan Ane memang benar bahwa makanan ini dijamin halal.


Setelah memesan paket nyat-nyat seharga 30k dengan mengganti minuman es teh menjadi es degan, kemudian Ane menunggunya. Cukup lama juga Ane dalam menunggu hingga akhirnya semua pesanan yang Ane pesan sudah ada dihadapan Ane. Secara penampilan, masakan ikan nila nyat-nyat ini mempunyai kuah yang kental berbumbu lengkap. Warnanya kuning kaya akan rempah-rempah.

Seporsi paket nyat-nyat dan segelas es degan
Seporsi ikan nila nyat-nyatnya
Ikan Nila Nyat-nyat ini disajikan lengkap dengan nasi putih, sambal matah, plecing kangkung, irisan tomat, dan kol. Kemudian bagaimanakah dengan rasanya? Pertama pada ikan nila nyat-nyat nya. Ikan nilanya sangat empuk sekali dengan rasanya yang tajam khas rempah-rempah sehingga pedasnya cenderung melekat lama dilidah. Kemudian pada plecing kangkungnya, kangkung yang digunakan pun terasa segar dimulut. Lengkap sudah dengan hadirnya sambal matah yang cukup pedas. Dua kata untuk ini semua, "Wuenak tenan, Le Leduk". Untuk itu

Tak habiskan semuanya
Namun sayang, lezatnya ikan nila nyat-nyat ini tidak dibarengi dengan sikap para penjualnya. Terdapat kesalahpahaman antara Ane dengan pedagangnya. Awalnya dia Ok dengan penggantian air minum es teh dengan es degan, tapi begitu Ane membayarnya dia tetap menghitung es teh dan es degannya. Katanya tak bisa es teh manis diganti dengan minuman yang lainnya, karena itu sudah satu paket. Kalau begini caranya seharusnya dia bilang dari awal. Tadi dia bilang bisa, giliran Ane bayar dia bilang tidak bisa. Hufth.
Untuk semuanya, satu paket ikan nila nyat-nyat dengan segelas es kelapa muda (degan) dihargai sebesar 37k. Setelah membayar, Ane keluar dari warungnya dan melihat-lihat Patung Kanda Pat Sari lagi. Biasanya sieh patung ini disebut juga dengan Patung Catur Muka, tapi Ane rasa penyebutan tersebut kurang tepat karena yang Ane lihat disini bukanlah empat muka yang dimiliki oleh Dewa Brahma, yaitu berpenglihatan ke empat penjuru mata angin. Tetapi lebih kepada empat patung yang cukup mirip menghadap masing-masing ke empat penjuru mata angin.

Itu patungnya
Nah, yang ini!
Oke???
Nampaknya pemerintah sendiri telah memberikan perhatian khusus terhadap patung ini, hal ini ditandai dengan adanya lampu yang terpasang dibagian bawah dan payung-payung serta kain-kain khas Bali yang mengelilinginya. Tak pelak jika patung ini merupakan icon dari Kabupaten Klungkung.
Let's Go

Kamis, 02 Februari 2017

Berkunjung ke Pura Besakih, Hati - Hati

Selepas dari ikutan Car Free Day di Taman Kota Gianyar, Ane melanjutkan perjalanan lagi menuju ke sebuah pura yang sangat terkenal di kalangan wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Ya, pura tersebut bernama Pura Besakih yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Ane dari dahulu sangat ingin sekali mengunjungi pura ini. Namun sayang berita yang beredar cukup mengerikan yaitu adanya pungutan liar (pungli) yang diterapkan oleh penduduk setempat.



Jujur saja Ane sangat tidak nyaman dan sekaligus merasa khawatir dengan adanya berita tersebut. Tapi apa boleh buat, pumpung Ane masih berada di Bali berkunjunglah Ane ke tempat itu. Ane pacu kuda hijau Ane kearah timur menuju Kota Klungkung terlebih dahulu. Setelah itu Ane ambil arah ke utara melalui Jl. Raya Besakih dan berlanjut ke Jl. Gunung Agung Besakih hingga kira-kira 30 menit berjalan Ane menemui sebuah pertigaan yang mengarah kekanan menuju Pura Agung Besakih. Nampaknya pertigaan ini adalah pusat keramaian dari Kecamatan Rendang. Hal ini ditandai dengan adanya Kantor Polsek Rendang, Puskesmas Rendang, dan pertokoan-pertokoan yang berdiri disekitar lokasi. Ane ikuti pertigaan ini dan tanpa Ane duga-dua sebelumnya ditengah jalan Ane dicegat oleh dua orang penjaga. Ternyata dua orang penjaga tersebut adalah petugas penarikan retribusi Pura Besakih. Dari sinilah Ane mempersiapkan diri untuk beradu mulut nantinya.



Petugas : Selamat pagi! Masnya dari jauh mau kemana? (Sambil melihat
          plat motor Ane)
Ane     : Selamat pagi juga Pak! Saya mau berkunjung ke Pura Besakih
Petugas : Masnya darimana?
Ane     : Dari Jogja
Petugas : Tujuannya?
Ane     : Hanya jalan-jalan saja Pak!
Petugas : 15 ribu mas!
Ane     : Baik Pak! (Sambil mengambil uang didompet)
Petugas : Terimakasih mas!
Ane     : Lho, la tiketnya Pak?
Petugas : Nanti Masnya bilang saja dengan petugas yang ada diatas
          kalau masnya sudah bayar dibawah. Sudah, nggak apa-apa.
Ane     : Baiklah kalau begitu pak, Terimakasih!
Ane lanjutkan kembali perjalanan Ane. Jalan yang Ane lalui memang cenderung menanjak keatas, namun jalannya sudah cukup bagus. Nampaknya praktek pungli ini sampai sekarang masih berjalan. Tepat didepan samping kanan candi bentar, Ane melihat sebuah pos tempat praktek tersebut dijalankan.


Kurang lebih 150 meter dari plank ini, ada sebuah candi bentar
Inilah candi bentarnya, dan disamping kanannya ada sebuah pos
Sudah ada beberapa orang penjaga yang mangkal disitu. Salah satu dari mereka mencegat Ane. Disinilah mental Ane benar-benar diuji. Tak hanya mental saja, tetapi juga kepandaian dalam berbicara dan bernegosiasi.
Penjaga : Masnya mau berkunjung ke Pura Besakih?
Ane     : Iya Pak, memang ada apa ya Pak?
Penjaga : Sebentar, masnya mampir kesini dulu (sambil mengarahkan
          Ane ke sebuah pos)
Ane tempatkan dahulu kuda hijau Ane dipinggir jalan dan kemudian melangkah mengikuti Sang Penjaga tersebut yang kebetulan seorang bapak-bapak.
Penjaga : Masnya sudah bayar tiket masuknya tadi dibawah?
Ane     : Sudah Pak!
Penjaga : Jadi begini, Pura Besakih ini merupakan pura bersejarah.
          Jadi kalau mau masuk, masnya harus membayar sejumlah uang
          ke kita untuk pemeliharaan pura ini. Nanti masnya kita
          pandu mengelilingi puranya.
Ane     : Eow gitu, berapa ya Pak uang yang harus saya keluarkan?
Penjaga : Kalau wisatawan mancanegara biasanya 200 ribu mas. Tapi
          untuk masnya 100 ribu saja.
Ane     : Baik Pak, tapi saya dapat semacam tiket atau kwitansi kan
          Pak?
Penjaga : Nggak mas, ini sudah ketentuan adat. Jadi itu hanya
          sebatas uang sukarela saja.



Ane     : Lho la terus gimana Pak? kalau tadi ketika dibawah saya
          sudah membayar 15 ribu, masa disini saya disuruh membayar
          lagi. Tanpa bukti apa-apa lagi.
Penjaga : Bukan mas, kalau dibawah sudah bayar, yasudah. Tapi ini
          sudah ketentuan adat, masnya harus bayar dan nanti masuk
          kedalam masnya akan dipandu salah satu dari kami.
Ane     : Gini aja Pak, saya nggak pakai pemandu. Cuman kalau
          sebatas uang sukarela saja akan saya kasih. Tapi ya nggak
          sebesar itu juga. Apakah ini sudah ada peraturannya Pak
          dari pemerintah?
Penjaga : Ini nggak ada kaitannya sama pemerintah mas. Ini ketentuan
                        adat.
Ane     : Eow jadi ini nggak ada kaitannya sama pemerintah tow.
          Gini saja, saya akan bayar 100 ribu rupiah. Tetapi saya
          minta bukti berupa tiket masuk atau semacam kuwitansi.
          bagaimana?
Penjaga : nggak bisa mas, ini kan hanya uang untuk jasa pemandu.
          Jadi nggak ada yang namanya tiket masuk atau semacamnya.
          Yasudah mas, masnya bayar 50 ribu saja. Silahkan masuk!


Ane     : Ini bukan masalah besaran uangnya Pak, tapi ini masalah
          resmi atau tidaknya. Toh misalnya saya disuruh bayar
          tinggi, tidak masalah. Yang penting resmi.
Penjaga : Nggak bisa gitu mas, ini sudah ketentuan adat.
Ane     : Nah, justru itu Pak karena ini sudah ketentuan adat maka
          pasti resmi kan Pak? saya minta deh semacam tiket masuk
          dari ketentuan adat ini.
Penjaga : Nggak bisa mas.
Ane     : Lho kalau tidak bisa, Lalu bagaimana ya Pak ya? berarti
          ini tidak resmi dong Pak?
Penjaga : Yasudah deh mas, masnya masuk saja. Tapi jangan masuk ke
          bagian dalam puranya. Disitu sudah ada jalan setapak yang
          mengelilinginya. Jadi tinggal nurut jalan itu saja.
          Silahkan (dengan mimik muka masam)
Ane     : Baik Pak, saya akan patuhi perintah tersebut. Ini sebagai
          dana sukarelanya (Ane keluarkan uang 10 ribuan dan
          kemudian Ane kasihkan kepadanya).
Penjaga : Baik mas
Ane     : Parkirnya dimana Pak?
Penjaga : Motornya bawa masuk saja, nanti tinggal parkir dibagian
          depan halaman pura saja (masih tetap dengan muka yang
          masam).
Ane     : Baik Pak, terimakasih!
Ane bawa motor masuk ke halaman pura dan tak lama kemudian sampailah Ane dilokasi yang Ane maksud. Tiba-tiba terdengar suara orang pembawa bunga dari depan Ane.


"Saya sematkan bunga ini ke mas, sebagai tanda penyambutan kami", kata seorang pembawa bunga tersebut.
"Tidak mbak, nggak usah", jawab Ane yang sebelumnya Ane ketahui kalau ini nggaklah gratis tetapi harus bayar.
Pergilah dia dengan muka sedikit kecewa. Tak berapa lama kemudian datanglah beberapa orang membawa barang dagangan berupa perlengkapan upacara mendekati Ane. Semuanya berjenis kelamin perempuan.
"Masnya mau masuk kedalam?", tanya salah seorang pedagang kepada Ane.


"Iya mbak, memang ada apa ya?", jawab Ane.
"Masnya harus pakai perlengkapan upacara untuk digunakan nanti didalam. Ini mas saya ada", timpal dia sambil mengulungkan sesuatu kepada Ane.
"Tidak mbak, terimakasih", jawab Ane.
"Tapi mas, masnya harus pakai ini untuk nanti digunakan didalam!", kata salah sorang pedagang lainnya yang berusaha meyakinkan Ane.
"Jadi gini mbak, setahu saya setiap pengunjung yang mendatangi pura tak seharusnya membawa perlengkapan seperti itu. Kecuali kalau memang pengunjung tersebut mau beribadah itu mutlak baginya. Saya sendiri hanya pengunjung biasa, jadi nggak diharuskan saya untuk membeli bunga", jawab Ane dengan sedikit rasa ragu-ragu apakah memang benar ketentuan tersebut ada disini.


"Tapi mas?", kata beberapa pedagang tersebut saling bebarengan.
"Gini saja mbak, kalau memang nanti didalam saya diharuskan untuk melakukan hal demikian, oke deh saya akan kembali dan membeli perlengkapan upacara dari salah satu mbak-mbaknya", jawab Ane dengan memberi sebuah solusi kepada mereka.
Sepertinya mereka semua kecewa dengan jawaban yang Ane berikan tersebut, dan kemudian mereka semua meninggalkan Ane satu persatu. Kini Ane dapat melenggang masuk kedalam area pura dengan aman. Ane sungguh kagum dengan pura ini, puranya begitu tinggi dan besar. Banyak meru-meru menjulang tinggi keatas, hal ini pertanda betapa agungnya pura ini saat itu. Ane tak pernah melihat pura sebesar ini sebelumnya sehingga tak salah bila pura ini dinobatkan sebagai pura terbesar yang ada di Bali sekaligus terbesar di negara kita tercinta Indonesia ini.


Setelah melewati jalan setapak yang ada dibagian sebelah kiri tanah lapang, Ane mulai meniti anak tangga satu persatu. Pertama-tama yang Ane lewati adalah pelataran dengan kondisi yang cukup bersih dan terawat. Kemudian untuk sampai diatas Ane harus melewati anak tangga lagi yang jumlahnya cukup banyak. Disamping kanan dan kiri anak tangga terdapat tanaman bunga dan patung-patung dengan berbagai macam pose.


Halaman bagian depan pura ada dibelakang Ane sono
Sesampainya diatas Ane dapat melihat betapa luasnya pura ini. Iya, pura besakih ini mempunyai areal dalam pura yang cukup luas dengan banyak bangunan pelinggih yang berdiri. Beruntung, sudah ada beberapa orang yang sedang melakukan ibadah disini. Ane sempatkan untuk melihat mereka sebentar dalam beribadah.





Sebenarnya masih ada tempat yang lebih tinggi lagi dari sini, mungkin tempat tersebut merupakan utamaning mandala sehingga Ane tak dapat memasukinya. Keluar dari samping kiri area ini, Ane melihat sebuah jalan setapak yang mengarah keatas. Mungkin inilah jalan setapak yang dimaksud oleh salah seorang penjaga tadi saat Ane masuk. Meski jalannya tak begitu lebar, tetapi cukup bagus.




Ane ikuti jalan ini hingga mentok. Ditengah jalan Ane melihat sebuah pura bernama Pura Catur Lawa Ida Bhatara Ratu Bagus Pande Besakih. Dibagian depannya terpasang sebuah denah lokasi pura dengan informasi banyak pura didalamnya. Ada Pura Pemuputan, Pura Dalem Tegal Penangsaran, Pura Catur Lawa Penataran Pande Besakih, Pura Pesimpenan Ratu Pande Besakih, Pura Penatara Agung Besakih, Pura Gua Raja, Pura Manik Mas, Pura Gelap, Pura Batumadeg, dan Pura Dalem Puri. Disini Ane menyadari kalau Pura Besakih ini tidak hanya terdapat satu pura, tetapi banyak pura.



Berjalan disepanjang jalan ini hawa yang Ane rasakan cukup sejuk, karena pura ini berada di kaki Gunung Agung yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Bali. Disini terdapat petunjuk jalan jalur pendakian menuju puncak gunung tersebut, membaca papan petunjuk tersebut mengingatkan Ane pada aktifitas mendaki yang pernah Ane lakukan sebelum-sebelumnya. Tapi kalau sekarang mendaki, mau dengan siapa? Ah lupakan saja.


Mengikuti jalan setapak ini, tak terasa Ane sampai dibagian atas halaman pura. Ditengah jalan, Ane bertanya kepada salah seorang warga tentang pura ini. Dia sedang menyapu, tanpa Ane duga sebelumnya akhirnya kita terlibat dalam percakapan yang cukup lama. Dia bertanya tentang kamera Ane mulai dari harganya hingga spesifikasinya. Sementara darinya Ane memperoleh beberapa informasi penting, seperti pura yang letaknya paling atas disini dan Pura Besakih ini terdiri dari 1 pusat pura yang diberi nama Pura Penataran Agung Besakih serta terdapat 18 pura pendamping yang mengelilingi pura penataran Agung tersebut. 1 Pura Basukian dan 17 pura lainnya. "Berarti Pura yang pertama kali Ane masuki tadi adalah Pura Penataran Agung Besakih", fikirku.




Ane diberi arahan olehnya tentang jalan menuju ke pura yang terletak dibagian teratas. Ane ikuti arahan dia dan syukur sampai juga Ane disini. Dari sekian pura yang ada, pura inilah yang menurut Ane paling menarik. Bagaimana tidak, selain mempunyai pemandangan yang indah juga terlihat nyeni. Pintu masuk yang biasa berupa candi bentar itu dibuat melengkung. Selain itu disamping kanan dan kiri tangga terdapat sebuah patung naga yang nampak bergerak dari atas kebawah.




Dengan meniti anak tangga tersebut satu persatu, sampai juga Ane diatas. Disini Ane dapat melihat seluruh isi bagian nistaning mandala. Dipojok kanan dan kiri terdapat sebuah menara yang cukup tinggi dengan dilengkapi anak tangga menuju keatas. memasuki area yang kedua yaitu madyaning mandala, Ane melihat sebuah bangunan bale yang digunakan untuk meletakkan seperangkat alat gamelan dan kori agung yang berarsitektur sangat menarik. Tak heran bila pura ini dijadikan sebagai tempat foto prewedding bagi sepasang pengantin.




Disini Ane berada cukup lama, tampak salah seorang pemandu wisata sedang menjelaskan kepada yang dipandunya. Setelah selesai, dia tersenyum ramah kepada Ane. Disini kitapun terlibat percakapan sebentar. Darinya Ane memperoleh sebuah informasi yang cukup penting yaitu tempat ini ternyata sudah pernah diboikot, cukup lama katanya. Belum lama juga pernah ada petugas Pura Besakih yang dilaporkan oleh pengunjung karena merasa diperas. Alhasil, pemerintah setempat pun menegurnya dan bila tindakan ini terus berlangsung bukan tak mungkin pengelolaan Kawasan Wisata Pura Besakih ini akan diambil alih oleh pemerintah setempat.



Iya, sebaiknya sih begitu agar kegiatan kepariwisataan yang ada di Bali ini tidak tercoreng oleh petugas-petugas yang ada disini. Puas menjelajah isi pura ini walau hanya sampai di madyaning mandala, Ane langkahkan kaki menuju kebawah. Sesampainya dibawah, Ane menemui sebuah pertigaan jalan yang Ane lewati tadi.



Sekarang Ane memilih belok kearah kiri. Dibagian samping kanan Pura Penataran Agung ternyata masih ada beberapa bangunan yang cukup kecil dengan nama pedharman. Walau kecil, tempat ini justru banyak dipadati oleh orang yang sedang beribadah. Ada Pedharman yang bernama Arya Kenceng dan adapula Pedharman yang bernama Arya Sukahet. Masing-masing pedharman mempunyai masing-masing pemangkunya baik itu pemangku Gede maupun pemangku serahina.




Kalau tadi begitu Ane masuk Ane langsung menuju ke bagian utama pura, kini Ane keluar lewat samping kanan pura Penataran Agung. Ane sempatkan jalan melangkah kearah kanan sebentar dan ternyata disini terdapat sebuah pura lagi bernama Pura Catur Lawa Ida Ratu Dukuh. Pengunjung yang awalnya sepi kini berubah menjadi cukup ramai. Alhasil tempat parkir yang awalnya belum ada kendaraan kini sudah sangat padat sekali.




Sebelum meninggalkan lokasi, Ane tertarik untuk mengabadikan beberapa moment ulah para pemandu lokal dan pedagang. Mereka tetap saja sama yaitu menyuruh membeli barang dagangan mereka dengan sedikit memaksa. Ane kasihan terhadap salah seorang wisatawan yang sepertinya berasal dari Asia Timur. Dia tak tahu apa-apa dan akhirnya dia membeli barang dagangannya. Ane duga wisatawan ini sebelumnya telah membayar biaya dengan dalih yang dikenakan kepada Ane tadinya yaitu "Ketentuan adat".


Hal ini terlihat dari seorang pemandu lokal yang memandunya. Sayangnya, ditengah Ane mengabadikannya Ane tertangkap pandangan dari pemandu tersebut. Dia tidak suka difoto dan menyuruh Ane untuk menghentikan aktfiftas Ane ini. Dengan terpaksa Ane hentikan dan segera keluar dari kawasan pura yang sangat agung ini. Pura yang sangat agung tidak dibarengi dengan sikap para pengelolanya yang ramah.


Bila praktek-praktek yang tidak baik ini masih tetap saja dijalankan, bukan tak mungkin Pura Besakih ini akan terhapus dari peta kepariwisataan Bali. Ayolah Pak, Buk para pejabat yang berwenang dalam bidang kepariwisataan, kelolalah Kawasan Pura Besakih ini dengan baik sehingga Pariwisata di Bali akan tetap hidup dan tidak tercoreng nama baiknya. Terimakasih!
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me