Minggu, 28 April 2019

Museum Tulang Bawang dan Kampus Megow Pak, Sungguh Memprihatinkan

Museum Tulang Bawang sudah bukan lagi tempat yang asing bagi Ane. Bagaimana tidak setiap kali pergi ke Jogja maupun pulang dari Jogja atau pergi ke Bandar Lampung maupun pulang dari Bandar Lampung Ane selalu saja melewati tempat ini karena letaknya yang berada persis di Jl. Lintas Timur Sumatera tepatnya di Kelurahan Menggala Tengah, Kecamatan Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Sementara rumah Ane ada di Kabupaten Mesuji dan satu-satunya jalan yang mulus dan enak untuk dilalui adalah melalui jalan ini.



Saat melintasi bangunan ini, bangunan ini tak pernah luput sekalipun dari penglihatan Ane. Mungkin hal ini dikarenakan letaknya yang berada tepat di tikungan jalan ataukah timbulnya keinginan yang kuat dari dalam hati Ane bahwa suatu saat nanti Ane harus mengunjunginya. Rumput tetangga lebih hijau, mungkin itulah sebuah ungkapan peribahasa yang tepat untuk menggambarkan perilaku Ane sekarang. Obyek wisata yang dekat dengan rumah tempat kelahiran malah belum pernah Ane sambangi, sementara yang agak jauh malah sudah pernah. "Ya sudah, suatu saat nanti pasti akan ku kunjungi", bisik Ane dalam hati.



Tak lama setelah pulang dari Jogja, rupanya niatan Ane tersebut akan terlaksana lantaran Ane disuruh oleh Ibu Ane untuk mengantarkan beliau periksa ke RSUD Menggala. Kalau sakit parah tentu Ane tak bisa meninggalkan beliau sendiri begitu saja, tapi karena sakit yang dideritanya tidak begitu parah dan dalam batas aman maka sesampainya di RSUD Menggala Ane berencana langsung capcus menuju ke Museum Tulang Bawang.



Pada tanggal 22 November 2017 Ane benar-benar mengantarkan ibu Ane periksa ke RSUD Menggala. Dari rumah, kita berangkat pagi-pagi sekali sekitar pukul 06.15. Sudah menjadi rahasia umum kalau jalan-jalan yang ada ditengah pedesaan yang menghubungkan antar desa satu dengan yang lainnya di Provinsi Lampung itu sebagian besar rusak. Sebenarnya sieh kondisi jalan yang sekarang itu sudah lebih baik bila dibandingkan dengan dahulu. Dahulu jalan masih berupa jalan tanah, sekarang sebagian besar jalan sudah berbatu; Dahulu saat musim hujan tiba jalanan dipenuhi oleh genangan air dan licin saat dilalui, sekarang sudah tidak lagi. Namun, walaupun begitu masih tetap saja kurang nyaman untuk dilalui karena sepanjang perjalanan tubuh ini akan terus bergetar hingga saatnya menemukan jalanan yang terbilang mulus diaspal dengan baik.



Ada 2 cara kita menuju RSUD Menggala, pertama melalui Simpang Asahan Kecamatan Way Serdang. Disini jalannya terbilang luas namun cukup rusak, 20 Km kita harus melewatinya. Sedangkan yang kedua lewat jalan tengah pedesaan di Kabupaten Tulang Bawang Barat. Setelah melewati jalan yang rusak sejauh kurang lebih 5 Km, kita baru bisa melalui jalan yang cukup baik namun sempit. Timbang menimbang akhirnya pilihan kita jatuh pada jalan tengah pedesaan Tulang Bawang Barat.
Sebagai warga lokal tentu kita sudah tahu jalan untuk menuju ke suatu tempat yang kita inginkan, meskipun melewati jalan-jalan yang ada ditengah pedesaan. Tapi kalau bukan warga lokal tentu akan kebingungan soalnya pemandangan yang ada disini rata-rata sama yakni disepanjang perjalanan yang ada hanyalah tanaman pohon karet maupun sawit. Setelah melewati Kecamatan Gunung Agung dan Way Kenanga sampailah Ane di Pasar Unit 2 Tulang Bawang. Dari sini masih ada sekitar 30 Km lagi untuk sampai di RSUD Menggala. Jalan yang Ane lalui berubah menjadi lebih mulus dan cukup lebar karena jalan ini merupakan jalan nasional. Pun demikian dengan pemandangannya yang tergolong cukup bervariasi mulai dari perumahan, pertokoan, perkantoran, hingga bentangan sungai dan rawa-rawa yang cukup luas. Nah, di rawa-rawa ini cukup bisa membuat hati Ane adem. Deretan rumah panggung berdiri di pinggir jalan raya diatas rawa.



3/4 jam dari Pasar Unit 2 atau 2 jam dari rumah, sampailah kita di RSUD Menggala. Ya, rumah sakit ini adalah rumah sakit daerah yang dimiliki Tulang Bawang tapi tidak membawa nama kabupaten melainkan nama ibukota dari kabupaten Tulang Bawang itu sendiri yaitu Menggala. Rupanya sudah banyak pasien yang datang mengantri sehingga ibu Ane pun harus bersabar sedikit dalam hal mengantri baik itu saat pendaftaran pasien hingga proses tahapan selanjutnya. Disini Ane agak jenuh juga, akhirnya Ane berpamitan kepada ibu Ane untuk pergi keluar dan Ane menitip pesan kepada beliau bila sudah selesai urusannya segera menelpon Ane. Beliau pun mengijinkan dan mengiyakan pesan Ane tersebut.
Rencananya, ketika tiba di rumah sakit, Ane langsung capcus menuju Museum. Tapi apa boleh buat begitu keluar dari rumah sakit Ane langsung tergoda oleh sebuah bangunan yang cukup modern dan bangunan apakah itu? Cukup berjalan kaki saja sampailah Ane disini. Ya, bangunan tersebut adalah bangunan Kampus Megow Pak. Bangunan ini cukup unik dan modern, kebanyakan komponen bangunannya terbuat dari kaca seperti kebanyakan bangunan yang terdapat di ibukota Jakarta. Kalau di Jakarta mah bangunan seperti ini sudah biasa tapi kalau di Tulang Bawang ya luar biasa.



Tapi, dibalik ke modernannya itu ada banyak hal yang sangat disayangkan dari kampus ini. Rumput liar tumbuh dimana-mana mulai dari bagian depan hingga belakang kampus dan areal taman hingga parkir tampak tak terwujud karena timbunan rumput liar ini. padahal di beberapa sudut kampus telah terpasang sebuah plank yang bertuliskan "Bersih itu Indah". Hmmmm.




Ane sungguh leluasa melihat-lihat dan mengambil gambar bangunan ini tanpa ada merasa yang terganggu, pasalnya tak ada seorang pun yang sedang berada disini. "Sebenarnya ada mahasiswanya tidak sieh kampus ini?", begitulah fikiran yang terlintas dibenak Ane saat itu. Semisal tidak ada kok dibagian depan terpasang berbagai macam pengumuman tentang perkuliahan dan kalau semisal ada kok tak ada seorang pun yang terlihat? Ah, ntahlah yang jelas kampus ini tidak terawat dengan baik sehingga suasana menjadi horor.



Puas menjelajahi kampus Megowpak, Ane niatkan hati untuk berkunjung ke Museum Tulang Bawang. Awalnya Ane ragu-ragu apakah jadi kesana atau tidak. Masa iya, Ane harus meninggalkan Ibu Ane sendirian di Rumah Sakit gara-gara mengikuti keinginan Ane ini. Tapi berhubung museum ini tidak terlalu jauh dari rumah sakit, hanya sekitar 10 Km saja maka Ane bulatkan tekad untuk tetap mengunjunginya.
Ane kesini tidak mengendarai sepeda motor, tetapi menaiki bus karena kebanyakan bus yang lewat pasti melewati museum ini. Tak lama berselang, sebuah bus datang dari arah selatan (arah Kota Bandar Lampung), naiklah Ane kedalam bus tersebut. 15 menit kemudian sampai juga Ane di tempat yang Ane tuju. Dari RSUD Menggala kesini Ane hanya dikenai tarif sebesar 5k saja.
Sama seperti kondisi sebelumnya, kondisi Museum Tulang Bawang inipun tak kalah horornya. Rumput liar tumbuh hampir di semua tempat dan saat memasuki ruangannya sreng, sreng, sreng, tercium bau kotoran kelelawar. Baunya sangat menyengat sehingga mengganggu kenyamanan bagi para pengunjung. Toh bila museum ini menyimpan barang-barang koleksi yang sangat lengkap tentu akan merasa kapok untuk datang lagi. Ealah, sudah rungkut, bau, tak ada barang koleksi yang di pajang pula alias kosong. Ini museum apa museum? Ane hanya geleng-geleng kepala atas apa yang Ane temui saat ini.



Dilihat dari usianya, Museum Tulang Bawang ini tergolong masih muda karena baru genap berusia 7 tahun pada tanggal 13 Desember 2017 nanti. Hal ini terlihat dari sebuah prasasti yang ada dibagian depan gedung. Tapi kok sudah seperti ini ya? hmmm. Kondisi ini sama seperti gedung yang ada disebelah kanan (timur)nya. Tak ada apa-apa sama sekali didalamnya, sedangkan yang ada hanyalah sebuah kereta kencana yang terparkir di bagian bawah ruangan.







Sebenarnya Museum Tulang Bawang merupakan bagian dari kawasan Sesat Agung dan Nuwo Adat Megou Pak, sehingga tak heran bila Ane menjumpai bangunan-bangunan lain yang berdiri. Kebetulan saat Ane sedang berkeliling-keling di sekitar kawasan, Ane melihat seorang bapak-bapak setengah baya sedang membersihkan ruangan. Tanpa ragu-ragu Ane banyak bertanya kepada beliau. Lupa namanya yang jelas Ane berhasil mendapatkan banyak informasi darinya.




Ada sebuah bangunan museum, nuwo adat (rumah adat), sesat agung, dan musholla, serta 4 buah bangunan cukup kecil yang mengandung makna tentang marga-marga yang mendiami kabupaten ini. Marga-marga tersebut diantaranya Tegamoan, Buai Bulan, Suwai Umpu, dan Buai Aji. Beliau mengatakan bahwa memang beginilah kondisi yang ada. Tak terawat dengan baik serta koleksi-koleksi yang dipajang sama sekali tidak ada, hal ini dikarenakan kurangnya perhatian dari pemerintah. Padahal inikan aset daerah serta kebanggan masyarakat peribumi, tapi ya begini adanya.


Tegamoan
Buai Bulan
Suwai Umpu
Buai Aji
Sebenarnya tempat ini sempat terawat dengan baik pada masa kepemimpinan sebelumnya, tapi setelah berganti kepemimpinan daerah justru keadaan tidak berubah menjadi lebih baik malah sebaliknya. Ane hanya mengangguk-ngangguk saja dan menampung semua informasi darinya. Ntah hanya angin segar atau benar-benar akan terwujud, konon katanya sekitar bulan Maret tahun depan (2018) kawasan ini akan dihidupkan kembali dan ditambah dengan berbagai macam permainan untuk anak-anak. Semoga!



Bila rencana itu benar-benar terwujud, bukan tidak mungkin kawasan ini akan ramai dikunjungi oleh para wisatawan.
Let's Go

Sabtu, 30 Maret 2019

Museum Konferensi Asia Afrika, Bangga Menjadi Warga Negara Indonesia

Tugu Asia Afrika, keberadaan tugu ini menegaskan bahwa Bandung itu bukan saja kota yang identik dengan penuh kreatifitas, wisata kuliner, alam maupun belanja tetapi juga Bandung memiliki tempat bersejarah yang tidak boleh dilupakan dan harus dipelajari. Salah satunya Museum Konferensi Asia Afrika yang terletak di Jl. Asia Afrika No. 65 Bandung.



Tugu Asia Afrika
Awalnya Ane ingin mengunjungi museum ini waktu pagi menjelang siang hari, tapi saat itu masih tutup dikarenakan ada acara yang  sedang berlangsung. Alhasil setelah minum kopi di Warung Kopi Purnama Ane kembali menuju kesini dan syukur museumnya sudah buka. Untuk masuk kedalam Ane harus menaiki beberapa anak tangga terlebih dahulu, tapi sebentar Ane ingin membaca papan pengumuman sebentar. Di papan pengumuman tersebut tertulis informasi mengenai jam buka museum.
Selasa - Kamis           : 08.00 - 16.00 WIB
Jum'at                   : 14.00 - 16.00 WIB
Sabtu - Minggu           : 09.00 - 16.00 WIB
Istirahat                : 12.00 - 13.00 WIB
Senin dan Libur Nasional : Libur



Setelah membuka pintu masuk, seorang petugas keamanan gedung (satpam) menyambut Ane dengan ramah. Perlakuan yang sama pun Ia berikan kepada pengunjung-pengunjung lainnya. Sebelum menjelajah semua isi ruangan, Ane diarahkan terlebih dahulu oleh beliau ke meja registrasi yang berada di sisi kiri. Ane kira untuk masuk kedalam museum ini ada biaya yang dikenakan kepada setiap pengunjung, ternyata tidak untuk masuk kedalam pengunjung tak dikenai biaya sepeser pun alias gratis. Hanya saja Ane disuruh mengisi buku tamu yang tersedia cukup menuliskan nama dan asal Ane.
Penjelajahan Ane mulai dari ruang pamer tetap. Hal pertama yang menarik perhatian Ane adalah diorama yang menggambarkan situasi pembukaan Konperensi Asia Afrika 1955 oleh Presiden Soekarno. Walau usia kemerdekaan Indonesia masih terbilang cukup muda tapi betapa hebatnya Indonesia di masa itu karena organisasi bertaraf internasional di gelar di Bandung, tak hanya sebagai penonton saja tapi juga sebagai inisiator.


Ruang pamer tetap Museum Konferensi Asia Afrika

Bergerak ke sisi sebelah kanannya, terdapat peninggalan meja dan kursi yang pernah digunakan saat KAA, berbagai macam alat ketik kuno yang diletakkan didalam tabung kaca berbentuk persegi, serta foto-foto yang menggambarkan saat digunakan alat-alat tersebut. Selain alat-alat ketik kuno, museum ini menyimpan koleksi berupa benda-benda tiga dimensi dan foto-foto dokumenter peristiwa yang melatarbelakangi lahirnya Konperensi Asia Afrika 1955.



Konferensi Asia Afrika adalah suatu babakan baru dalam sejarah dunia, dimana pemimpin-pemimpin bangsa Asia dan Afrika berkumpul dinegerinya sendiri untuk merundingkan dan mempertimbangkan masalah-masalah yang menjadi kepentingan bersama serta untuk menumbuhkan solidaritas Asia Afrika. Konferensi Asia Afrika dilaksanakan ditengah-tengah berkecamuknya antagonis Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Konferensi Asia Afrika pun berlangsung dalam suasana pergolakan dunia yang disebabkan oleh masih adanya penjajahan terutama di belahan bumi Asia dan Afrika, serta politik diskriminasi ras (apartheid) yang masih membayangi Afrika terutama di Afrika Selatan. Ditengah-tengah situasi seperti itulah bangsa Indonesia tampil memprakarsai diadakannya Konferensi Asia Afrika dimana bangsa tersebut baru berusia sepuluh tahun merdeka (Sumber: Sebuah catatan di Museum KAA).
Konferensi Asia-Afrika dihadiri oleh ketua delegasi dari berbagai negara tentu hanya dalam lingkup benua Asia dan Afrika saja. Diantaranya Sardar Mohammad Naim (Menlu Afghanistan), U Nu (Perdana Menteri Birma), Kojo Botsio (Menteri Negara Pantai Emas), Pandit Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), Ali sastroamidjojo (Perdana Menteri Indonesia), dan lain sebagainya.



Tak henti-hentinya Ane membaca setiap tulisan yang ada didalam ruangan ini, Ane sungguh kagum dan bangga menjadi warga negara Indonesia. Betapa tidak bangsa yang kala itu masih berusia muda tapi sudah bisa menjadi pelopor bagi bangsa-bangsa lain didunia. Dari hasil pertemuan Konferensi Asia Afrika yang dilaksanakan pada tanggal 18-24 April di Bandung ini menghasilkan 10 poin yang dikenal dengan Dasasila Bandung. Didalam museum, Dasasila Bandung ditulis kedalam 29 bahasa.


Dasasila Bandung yang ditulis kedalam 29 bahasa
Versi Bahasa Indonesianya
Berbeda dengan alat-alat ketik kuno yang diletakkan dibagian pinggir, alat-alat kuno ini justru diletakkan dibagian tengah museum. Alat-alat tersebut adalah kamera dan alat pencetak foto yang digunakan saat Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Menggemanya konferensi ini tak lepas dari peran awak media yang meliput. Tak hanya menggema di negeri sendiri, konferensi ini juga menggema di negeri orang. Hal ini ditandai dengan adanya surat kabar dari berbagai negara yang memuat tentang keberlangsungan Konferensi Asia Afrika di Bandung.


Enlarger/Alat pencetak foto
Surat kabar dari berbagai negara
Pencahayaan didalam ruangan ini tidak terlalu terang namun disetiap barang pajangan terdapat lampu penerang agar pengunjung dapat melihat dan membaca setiap inormasi yang ada. Museumnya cukup bersih dan rapi sehingga Ane betah berlama-lama disini. Ada banyak informasi yang Ane dapatkan disini, dari sekian banyaknya ada sebuah informasi yang cukup membuat Ane bertambah bangga dengan bangsa ini. Ya informasi tersebut tentang Gerakan Non Blok. Presiden Soekarno bersama 4 pemimpin negara lainnya telah memprakarsai adanya gerakan ini. Presiden Gamal Abdel Nasser dari Mesir, Presiden Kwame Nkrumah dari Ghana, Perdana Menteri Jawaharlal Nehru dari India, dan Presiden Josip Broz Tito dari Yugoslavia. Gerakan Non Blok ini tak hanya meliputi negara-negara di Asia dan Afrika saja, tetapi juga negara-negara Amerika Latin, beberapa negara Eropa dan Pasifik. Mereka dipersatukan oleh kesamaan pandangan untuk tidak memihak pada salah satu blok.


Ruang pamer tetap Museum Konferensi Asia Afrika
Ruang pamer tetap Museum Konferensi Asia Afrika
Foto-foto pemrakarsa Gerakan Non Blok
Ane kira Museum KAA ini hanya sampai disini saja, ternyata tidak. saat hendak ke kamar kecil Ane diherankan oleh beberapa pengunjung kesana kemari. Ada apakah gerangan disana ya? dari kamar kecil Ane langsung menapaki lorong-lorong jalan didalam gedung ternyata owalah ruang aula dimana didalamnya terdapat ratusan kursi yang dibalut busa berwarna merah menghadap ke sebuah podium. Podium tersebut berisi meja panjang lengkap dengan kursinya dan dibagian belakangnya berjajar bendera-bendera dari berbagai negara peserta. Disisi kanan podium terdapat juga sebuah gong yang cukup besar tertempel gambar-gambar bendera dari berbagai negara peserta.



Kebetulan ada seorang penjaga keamanan yang sedang duduk-duduk santai dibelakang. Ane bertanya kepada beliau apakah iya tempat ini yang dahulu digunakan untuk konferensi dan dia mengatakan bahwa memang benar tempat ini masih asli yang dahulu pada tahun 1955 digunakan sebagai tempat berlangsungnya konferensi. Pantas saja berada diruangan ini Ane merasakan betapa kuatnya kepercayaan diri serta visi dan misi bangsa Indonesia yang menembus batas zamannya.
Beruntung diruangan ini suasana masih sepi dan hanya ada Ane dan beberapa pengunjung saja maka dari itu Ane bisa menikmati ruangan ini dengan sangat puas mulai dari duduk-duduk cantik disalah satu kursi (pumpung bisa mungkin 1000 tahun lagi kursi ini sudah tak ada, jika adapun mungkin sudah diganti), narsis didepan meja pimpinan Konferensi Asia Afrika, hingga narsis didepan gong perdamaian Asia Afrika ke-50.


Narsis didepan Meja pimpinan Konferensi Asia Afrika
Narsis didepan Gong perdamaian Asia Afrika ke-50
Berakhirnya kunjungan Ane disini berakhir pula kunjungan Ane di Bandung. Sebelum meninggalkan museum, tepat dibelakang pintu keluar Ane menjumpai sebuah bingkai foto yang cocok dan pas bila digunakan oleh orang yang gemar foto dan update status di social media. Ya, bingkai foto tersebut bertuliskan Museum Konferensi Asia Afrika yang mempunyai like sekitar 18 jutaan. Waow banyaknya.



Meninggalkan museum lantas Ane bergegas menuju Alun-alun Bandung tepatnya di Jl. Dalem Kaum untuk mencari angkot yang menuju ke Stasiun Kiaracondong. Ane harus kesini karena di Jalan Dalem Kaum inilah banyak bersliweran angkot-angkot dari berbagai jurusan. Tepat adzan maghrib berkumandang Ane sampai juga di Stasiun Kiaracondong. Dari Alun-alun Bandung sampai di Stasiun Kiaracondong ini Ane dikenai tarif angkot sebesar 5k saja. Sebenarnya untuk kelas bisnis Ane bisa saja naik dari Stasiun Bandung, tapi karena kesalahan dalam membeli tiket ya Ane mau tidak mau harus naik dari Stasiun Kiaracondong.
Okelah tidak apa-apa, begitu sampai dengan PeDenya Ane langsung check in. Ealah ternyata tidak diperbolehkan oleh petugas dengan alasan ini bukanlah jadwal check in Kereta Lodaya, tapi masih check in untuk kereta sebelumnya. Check in Kereta Lodaya dibuka sebentar lagi. Oke, Ane duduk-duduk santai terlebih dahulu di salah satu kursi yang tersedia di depan loket. Tak sampai 20 menit barulah Ane diperbolehkan untuk check in masuk kedalam.



Suasana masih sepi karena memang jadwal keberangkatan Kereta Lodaya masih sekitar 1 jam lagi. Tapi lama kelamaan banyak juga penumpang yang datang hingga akhirnya penumpang kereta Lodaya masuk gerbong semua. "Selamat tinggal Bandung, mungkin suatu saat nanti Ane datang lagi kesini", begitulah kira-kira bisikan dalam hati Ane. 2 kali sudah Ane menaiki kereta dan kedua-duanya mampu membuat Ane kagum, karena sekarang kereta api datang dan pergi sesuai dengan jadwal alias on time. Indonesia gitu loh, semoga keadaan ini bisa dipertahankan untuk selamanya. Keren!



Dari mobilitas yang Ane jalani, baru pertama kali ini Ane menaiki kereta api dengan kelas bisnis. Dibanding kelas ekonomi kereta api dengan kelas bisnis ini memang lebih nyaman dan fasilitasnya lebih yahuuud. Jarak kursinya ituloh agak berjauhan sehingga sepanjang perjalanan Ane benar-benar merasakan kenyamanan. Iyalah kalau orang jawa bilang "eneng rego eneng rupo" kalau ditranslate kan kedalam bahasa jawa mempunyai arti "Ada harga ada rupa".



Tapi dalam hal tidur senyaman-nyamannya seseorang dalam perjalanan tentu lebih nyaman tidur di rumah sendiri walau dalam kondisi rumah berantakan sekalipun, nyaman akan bau bantalnya dan juga nyaman akan air ilernya, hehehe. Beberapa kali Ane berusaha memejamkan mata tapi ya tidak seenak memejamkan mata di kamar tidur sendiri, beberapa kali Ane harus terbangun. Hingga akhirnya kereta api sampai di Stasiun Yogyakarta sekitar pukul 3 pagi.



Disatu sisi Ane senang disisi lainnya Ane bingung. Senangnya sampai di Kota Jogja dengan selamat, sedangkan bingungnya tak ada yang menjemput. Pasalnya adik Ane suruh Ane jemput, dia tidak berani karena masih terlalu kepagian dan juga pintu gerbangnya masih dalam keadaan terkunci. Alhasil nimbang-menimbang akhirnya Ane memutuskan untuk jalan kaki saja dari Stasiun Yogyakarta ke kost adik Ane sejauh kurang lebih 4,5 Km. Hitung-hitung mengetes daya tahan tubuh apakah masih mampu berjalan dalam jarak yang cukup lumayan. Pernah sieh Ane berjalan kaki sejauh 17,5 Km tapi itu beda berjalannya dalam rangka mendaki gunung yang tentunya berjalan mendaki gunung itu lebih mengasyikkan karena pemandangan yang tersaji sungguh indah. Lha kalau di kota? hmmmm.



Bersyukur Ane sampai di kost adik Ane sekitar jam 5 pagi dengan selamat. Sampai kost ya tidur dan mulai besok Ane menjalankan rutinitas sehari-hari lagi.
Let's Go

Kamis, 28 Februari 2019

Mampir di Warung Legenda Kopi Purnama Bandung

Selepas mengunjungi masjid Al-Imtizaj dan membeli beberapa jenis oleh-oleh di Pasar Baru Trade Center, Ane berjalan kearah selatan melalui Jl. Otto Iskandar Dinata hingga bertemu perempatan jalan antara Jalan Otto Iskandar Dinata dengan Jl. Pasar Selatan serta Jl. ABC. Ane belok kiri (timur) mengambil Jl. ABC, Saat menemui sebuah perempatan jalan lagi antara Jl. ABC dengan Jl. Alkateri Ane belok kearah kanan (selatan) mengambil Jl. Alkateri. Jalan ini searah dengan jalan menuju Alun-alun Bandung. Tak sampai 3 menit berjalan sampailah Ane di tempat yang Ane maksud.


"Warung Kopi Purnama sejak 1930", begitulah sebuah tulisan di papan nama yang terpasang dibagian depannya. "Wow berdiri sudah sangat lama sekali", fikirku. Warung ini ada disebelah kiri (timur) jalan dari arah Pasar Baru, bila dari arah Alun-alun Bandung maka warungnya ada disebelah kanan jalan. Walaupun baru pertama kali Ane menginjakkan kaki disekitar Alun-alun, Ane tak mengalami kesulitan sedikitpun untuk menemukan tempat ini karena Ane membawa sebuah peta yang menerangkan tempat ini. Lokasi Warung Kopi Purnama cukup dekat dengan Alun-alun Bandung tepatnya terletak di Jl. Alkateri No.22 Bandung.


Jujur saja Ane bukanlah termasuk pecinta kopi, walaupun Ane dilahirkan di Lampung yang terkenal akan daerah penghasil kopinya. Pengecualian untuk Warung Kopi Purnama ini, konon katanya kopi yang disajikan disini memiliki citra rasa yang khas dan otentik. Dari sinilah rasa penasaran Ane muncul dan untuk membuktikan kebenarannya masuklah Ane kedalam warung. "Tak ada salahnya sekalian minum kopi juga beristirahat sejenak", Ya kan sob?


Suasana sungguh nyaman dan tenang terasa banget tempo dulunya. Meja terbuat dari batuan marmer dan kursi terbuat dari kayu yang mempunyai kualitas wahid. Hal ini terlihat dari warna dan garitan kayu yang terbentuk secara alami. Dibagian dinding terpasang berbagai macam jenis foto yang dibingkai secara apik. Ada foto-foto kota bandung dimasa lampau, ada foto-foto tentang makanan yang ada disini, serta ada juga foto-foto artikel dan tentunya tentang tempat ini yang pernah dimuat di berbagai macam media cetak.


Ada 2 jenis tempat duduk yang dapat dipilih oleh para pengunjungnya dalam menikmati kopi, sistem meja dan kursi yang ada dibagian depan dan sistem lesehan yang ada di bagian belakang. Ane memilih tempat duduk sistem meja dan kursi saja. Disetiap meja terdapat daftar menu berbagai macam makanan dan minuman. Kopi susu, kopi hitam, kopi tubruk dan kopi telur adalah beberapa contoh dari jenis minuman. Sedangkan roti selai srikaya, roti pindekaas cokelat, roti keju susu, dan roti mentega gula adalah beberapa contoh dari jenis makanan.

Sistem lesehan dapat ditemui setelah melewati pintu itu
Sistem meja dan kursi
Daftar menu makanan Warung Kopi Purnama
Pengunjungnya terbilang sangat ramai, tak henti-hentinya para pengunjung datang dan pergi silih berganti. Kebanyakan para pengunjungnya memang berasal dari orang tua, tetapi kalangan anak muda juga tak mau ketinggalan. Nampak beberapa anak muda sedang menikmati kopi.
Sebenarnya Ane masih kenyang, berhubung tempat ini adalah warung kopi maka Ane hanya memesan minuman kopinya saja. Kopi susu panas cukup menemani Ane santai di waktu siang ini. Sambil menunggu pesanan datang Ane membaca-baca daftar menu ini, dibagian bawah daftar minuman ada tulisan mengenai sejarah singkat berdirinya tempat ini serta beberapa penghargaan yang pernah diraihnya.

Daftar menu minuman Warung Kopi Purnama
Warung ini merupakan warung kopi tertua di Kota Bandung. Didirikan tahun 1930 dengan nama Chang Chong Se (Silakan Mencoba!) dan berubah nama menjadi Warung Kopi Purnama pada tahun 1960-an seiring dengan kebijakan pemerintah yang mengharuskan memakai nama Indonesia. Pendiri Warung Kopi Purnama (generasi ke-1) bernama Jong A Tong yang berasal dari Kota Medan dan merantau ke Kota Bandung pada awal abad ke-20. Saat ini Warung Kopi Purnama dikelola oleh penerus dari generasi ke-4 (Sumber: Bacaan di daftar menu Warung Kopi Purnama).
Beberapa stasiun televisi pernah menayangkannya seperti CNN Indonesia, Metro TV, Trans TV, TVRI, dan NET TV. Berbagai media cetak pun pernah memuatnya diantaranya Jakarta Pos, KOMPAS, Pikiran Rakyat, SINDO, Lion Air Magazine, Citilink Magazine, dan Majalah Kuliner "jalan-jalan". Tak ketinggalan media online juga pernah memuatnya seperti Detik.com, Yahoo!, dan News Singapore. Beberapa penghargaan yang pernah diraihnya masuk dalam buku 200 ikon Bandung "Ieu Bandung Lur" pada saat Kota Bandung berulang tahun ke-200. Dan pada tahun 2016 Warung Kopi Purnama memenangkan penghargaan Bandung Creative Awards CREATIVE and INNOVATIVE CULINARY 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kota Bandung bersama ICA (Indonesian Chef Association) (Sumber: Bacaan di daftar menu Warung Kopi Purnama).


Tepat seusai membaca, pesanan yang Ane pesan pun sudah datang. Secangkir kopi susu panas beralaskan piring kecil dan didiberi sebuah sendok. Secara penampilan kopi ini sama seperti kopi-kopi pada umumnya, berwarna cokelat nan menimbulkan aroma yang menggoda. Lalu bagaimanakah dengan rasanya, apakah biasa-biasa saja? srusupan pertama mendarat di mulut Ane. Ternyata wow rasanya benar-benar cukup khas dan otentik, paduan yang pas antara rasa pahit dan manis.


Lho kok ada pahitnya? iya sob justru kalau murni kopi asli itu rasanya malah pahit. Pengalaman ini Ane dapatkan di Lampung. Pokoknya Kopi Purnama ini top deh. Kopi ini "wuenak tenan, Le Leduk" untuk itu tak habiskan.


Total semuanya secangkir kopi ini dibanderol dengan harga 17k dengan rincian harga aslinya 15k, pajak 10 persen sebesar 1,5k dan service 2,5 persen sebesar 0,375k. Ane sebagai orang desa tow menganggap harga ini cukup mahal, masa secangkir kopi harganya sama atau lebih mahal dari harga makanan di desa. Tapi Ane memaklumi harga tersebut sepadan dengan apa yang Ane rasakan, dan satu lagi tak ada salahnya kita untuk mencoba tow?


Mantab! bagaima sob, tertarikkah untuk mengunjunginya? kalau tertarik sobat bisa langsung menuju ke TeKaPe.
Jam buka: Setiap hari 06.30 - 22.00 WIB.
sampai Jumpa!
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me