Jumat, 06 Mei 2016

Embung Nglanggeran, Si Cantik dari Patuk Gunungkidul

Awalnya kita ragu - ragu untuk menuju kesini sob, pasalnya terlihat di atas sana awan mulai menggumpal menjadi hitam pekat. "Sepertinya hujan akan segera turun", begitulah fikirku. Kendaraan Ane pacu dari Museum Kayu Wanagama. Kekhawatiran kita akhirnya benar terjadi, di tengah perjalanan selepas dari pertigaan Sambipitu hujan mengguyur dengan deras sehingga menuntut kita untuk memakai jas hujan.
Terpaksa kita menepi dulu di pinggir jalan. Ku pakai jas hujanku yang Ane taruh di dalam bagasi. Begitu juga dengan sahabat Ane yang harus memakai jas hujan dia. Maklum, jas hujanku tak bisa dipakai untuk dua orang, apalagi tiga orang.


Begitu kita selesai memakainya, perjalanan kita lanjutkan kembali. Beberapa pengendara sepeda motor tampaknya tak menghiraukan tentang kondisi hujan ini. Mereka memacunya dengan kencang. 5 Menit berselang tepat di belokan jalan ke arah kiri, brak, srot, srot, srot, dyar, terjadilah kecelakaan tunggal dari arah berlawanan kita. Kitapun tak bisa menolongnya, pasalnya dari belakang kita banyak terdapat kendaraan yang sedang berjalan. Apalagi di samping kiri kita terdapat jurang dan bibir jalan tak begitu luas "Kalau kita langsung berhenti, malah bisa - bisa kitapun bisa ditabraknya". Ane setengah mengapokkan juga sieh sob, karena sepenglihatan kita motor tersebut dikendarai oleh seseorang pria yang tampak masih muda seperti berandalan dan mengendarainya dengan sangat cepat bahkan ane menduga dia tidak menghiraukan hujan ini yang bisa membuat licin jalan. Apalagi kondisi jalan di Gunungkidul ini naik turun bak jalan menuju ke arah puncak.


Salam roker man!
Ku tengok ke belakang sedikit, ternyata ada beberapa orang yang sedang menolongnya. Yasudah, perjalanan kita lanjutkan kembali. Terbayang - bayang akan kejadian hal itu, membuat Ane semakin berhati - hati. Hujan pun kini berlalu, awan yang tebal berangsur - angsur menghilang dan cuaca berganti menjadi cerah berawan. Matahari pun menyinari bumi ini dengan sangat cerah. Ane tadinya berniat menepi di jalan dan melipat jas hujan, tapi niatan tersebut Ane urungkan soalnya atas saran Hanna kalau ntar hujan lagi biar tidak repot memakainya.
Baiklah, Perjalanan dari Museum Kayu Wanagam ke Embung Nglanggeran ini lumayan cukup jauh dan menuntut untuk selalu berhati - hati. Benar saja di tengah perjalanan hujan pun turun lagi, tapi kini kita sudah memasuki area Patuk. Itu artinya tak lama lagi kita akan sampai di Embung Nglanggeran lokasi dimana yang kita maksud. Lagi - lagi kita dikagetkan oleh kejadian yang tak kita duga - duga sebelumnya sob, seekor ular menyeberang tepat dihadapan kita. Tak tahu datangnya darimana ular tersebut nyelonong begitu saja dan menghindari ban kuda hijau Ane. Sontak tak hanya seekor ular yang kebingungan menghindar, begitu juga dengan kita.



"Nis kita yakin tetep mau kesana? udah hujan ketemu ular lagi", tanya Hanna kepada Ane.
"Yakinlah Han, emang kenapa?", balas Ane sambil tetap memacu kuda hijau Ane.
"Katanya kalau kita ketemu ular itu pertanda buruk lho Nis"!, ujar Hanna sambil membayangkan yang tidak, tidak.
"Ah masa!", kalau Aku mah nggak percaya yang begitu - gituan Han, balas Ane sambil timbul rasa keragu - raguan pada nyali Ane.
"Iya, tapi yaudah deh sekarang terserah kamu aja mau lanjut apa tidak, kata sahabat Ane yang tampaknya memberikan pilihan kepada Ane apakah mau lanjut apa tidak.



Sebenarnya Ane juga ragu - ragu sob apakah tetap melanjutkan perjalanan atau tidak. Keragua - raguan Ane bukan tanpa alasan, yang pertama hujan tetap saja deras dan tak ada tanda - tanda untuk reda, walaupun kita sampai sana tetap saja kita tak bisa menikmati keindahan dari embung tersebut dan yang kedua kita baru saja bertemu dengan seekor hewan reptil yang konon katanya pertanda buruk.
Tapi dengan niat dan tekad Ane, kita tetap saja melanjutkan perjalanan lagi dengan pertimbangan kalau sampai sana tetap saja hujan, kita naik ke atas menunggu hujan reda dan bila sampai sore tak kunjung terang, yaw sudah mau gimana lagi kita terpaksa pulang mungkin belum rejekinya. Untuk kejadian yang bertanda buruk, kita mencegahnya dengan mengendarai kuda hijau Ane dengan sangat hati - hati dan jangan sampai melakukan tindakan yang bodoh.



Ban berputar dikit demi sedikit dan tak lama dari penemuan ular sampailah kita di sebuah Pos dimana Pos ini adalah titik awal bagi para pendaki untuk naik ke Gunung Api Purba Nglanggeran. Disitu kita bertanya kepada salah satu petugasnya yang kebetulan seorang laki - laki yang tampak masih muda.
Ane    : Permisi mas, kalau ke Embung Nglanggeran itu lewat mana ya?
Masnya : Lewat sini mas. Masnya lurus ke arah sana sampai mentok
         kemudian belok ke arah kiri. Ikuti saja jalan itu mas, 
         sudah ada papan petunjuknya kok.
Ane    : Eow gitu, terima kasih ya mas!.
Masnya : Sama - sama
dengan mengikuti arahan yang diberikan olehnya, sampai juga kita di Embung Nglanggeran ini. Jalannya yang Ane kira kurang baik seperti yang terjadi di Embung Batara Sriten ternyata sudah baik walaupun sedikit tidak rata. Sesampainya di pos penarikan retribusi kita dikenai tiket masuk 12k dengan hitungan tiket masuk untuk dua orang dan sebuah sepeda motor.
Untuk sampai di tempat parkir, Ane harus turun ke bawah dulu, sementara Hanna menunggu di tangga naik embung. Dari tempat parkir saja sudah bisa membuat Ane senang. Pemandangannya cukup cantik dengan di samping kanan dan kiri terdapat sebuah bukit yang seolah - olah menyatu. "Apalagi di atas?", begitulah fikirku. Pengelolaan embung ini sudah sangat baik, berbagai macam fasilitas sudah tersedia mulai dari musholla, kamar kecil, warung makan, hingga gazebo - gazebo yang bisa digunakan oleh setiap para pengunjung.




Rupanya Nasib baik menghampiri kita sob. Kondisi langit yang tadinya hitam kini menjadi cerah - mencerah. cuaca yang tadinya hujan kini berganti dengan terik matahari yang cukup menghanguskan kulit kita yang eksotis ini *Wueeek*.
Perjalanan kita belumlah selesai. Untuk sampai di embungnya kita harus menaiki beberapa anak tangga terlebih dahulu. Walau tak begitu tinggi, namun cukup menguras energi kita. Beberapa kali Hanna mengeluh kelelahan, begitupula Ane. Maklum, sudah lama kita tak berolahraga. Eits tunggu dulu, mungkin juga karena faktor usia, tapi ntahlah. Kalau dulu mendaki gunung saja kita masih kuat. Ntah itu Gunung Merbabu yang mempunyai sabana yang sungguh mempesona, Gunung Sindoro yang juga mempunyai pemandangan yang sangat eksotis, Gunung Sumbing yang mempunyai trek lumayan terjal apalagi Gunung Andong yang pas buat santai.
Di sela - sela tangga naik kita di sambut sebuah tulisan yang berbunyi,"Selamat Datang di Embung Nglanggeran". Tak hanya itu masih berada di tempat yang sama, berbagai larangan tertulis di dalamnya. Tanpa di tulis pun, semestinya setiap pengunjung harus sudah menyadarinya. Apalagi ditulis tentulah lebih menyadarinya.


Tuh, benar kan?
Sesaat sebelum sampai di embungnya, ada sebuah tulisan yang sempat membuat kita bingung sob, tulisan tersebut berbunyi "Selamat Datang Kebun Buah Nglanggeran". Lho bukankah ini sebuah embung? bukankah ini Embung Nglanggeran? lalu kenapa kok tulisannya begitu? Kalau benar adanya demikian, lalu dimanakah kita bisa menjumpai buah - buahannya? Sederet pertanyaan tersebut menggelayuti fikiran kita.


Daripada bingung, Tidur dulu ah!
Pada akhirnya kita baru mengetahui jawaban dari sederet pertanyaan tersebut ketika perjalanan pulang. Di sekitar tempat parkir terdapat sebuah papan penjelasan yang menerangkan tentang waduk mini/embung ini. Dari situ diterangkan bahwa pembuatan Embung ini tak lepas dari tanaman buah - buahan terutama buah durian dan kelengkeng. Maklum, di kawasan Gunung Api Purba telah di bangun Agrowisata Nglanggeran yang mengembangkan sentra pemberdayaan tani kebun buah di Dusun Nglanggeran Wetan, Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta. Dahulu sebelum ada embung, tanaman - tanaman tersebut banyak yang mati sehingga untuk mengatasi hal itu dibuatlah sebuah embung yang sekarang kita kenal dengan Embung Nglanggeran ini. Kini nampaknya keberadaan embung tersebut tak hanya berfungsi sebagai pengairan saja tetapi sudah menjadi salah satu destinasi yang cukup menarik bagi para wisatawan.


Angkat kaki, gimana sob indah bukan pemandangannya?
Sesampainya di atas, ternyata sudah ada banyak pengunjung yang datang. Embungnya terbilang kecil tak seluas Embung Batara Sriten. Tepat di dalam pagar embung terpasang lampu - lampu yang seolah - olah tak hanya pada pagi sampai siang hari saja embung ini siap menyambut datangnya para pengunjung, tetapi juga pada malam hari. Yapz, konon katanya embung ini akan cantik di saat hari mulai petang. Di bagian depan pagar embung terpasang sebuah papan larangan yang melarang bagi siapa saja untuk berenang. Tak hanya itu saja sob, di area ini juga dilarang untuk berdagang.


Dilarang berenang, dan juga

Pemandangannya sungguh elok sekali sob. Keelokan ini mengingatkanku pada keelokan Embung Batara Sriten yang juga sama - sama berada di Kabupaten Gunungkidul. Banyak yang dapat kita nikmati disana mulai dari duduk - duduk cantik di gazebo, maju - mundur cantik ala Syahrini juga boleh, sekedar menikmati pemandangan yang ada, atau bahkan berkemah karena di sekitar area embung terdapat tempat yang dikhususkan untuk itu. Begitu juga dengan embung ini.


Gimana, keren kan?
Dari embung ini Ane melihat sebuah jalan kecil menuju ke atas. Rasa penasaran Ane pun timbul sob. Ada apakah gerangan disana? Berangkat dari rasa penasaran melangkahlah kita menuju ke atas. Tak henti - hentinya kita mengabadikan moment ini. Di sepanjang perjalanan kita menjumpai bermacam - macam tulisan yang terukir di sebuah papan. Ntah itu berupa larangan atau sindiran.


Cilup baaa, ciluuup baaa
Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah keindahan dan keindahan. Hamparan hijaunya pepohonan, hamparan batu - batuan yang berserakan, serta kursi - kursi yang terbuat dari batu terpasang di bawah pohon sehingga membuat Ane betah berlama - lama disini. Lengkap sudah dengan hadirnya hembusan angin yang begitu lembut menambah rasa keengganan Ane untuk beranjak dari sini.



Tak sampai disini saja Ane masih saja digelayuti rasa penasaran dengan jalan yang ada di depan kita. Setelah Ane turut jalan tersebut yang Ane temui adalah sebuah persimpangan jalan yang Ane duga bila lurus akan sampai di Gunung Api Purba Nglanggeran, ke arah kanan akan sampai di perkampungan dan ke kiri akan sampai di jalan pulang menuju ke embung.


Gimana sob mau lanjut?
Ah nggak ah, Tak mau melangkah lebih jauh lagi, Ane putuskan untuk putar balik saja. Lagi - lagi Ane kembali menuju kursi yang Ane temui tadi. Ane rasa tempat inilah yang paling cocok dan nyaman dalam menikmati pemandangan embung yang ada. Tak lama kemudian awan yang tadinya cerah kini berubah menjadi hitam lagi. Pertanda hujan pun akan segera turun kembali. Hanna pun mengajak Ane untuk turun saja menuju ke embung dan segera pulang ke rumah. Dengan berbagai pertimbangan Ane pun mengiyakan ajakan tersebut karena tak mau kita basah kuyup lagi di jalan. Apalagi kondisi jalan yang kurang begitu mulus sehingga bila diguyur hujan sedikit saja akan sangat licin.


Yuk turun!
Langkah demi langkah sampai juga kita di parkiran. Anepun berharap hujan akan turun ketika kita sampai di rumah, setidaknya sampai di jalan yang beraspal halus. Harapan Ane ternyata dikabulkan sob, sesampainya di bawah di jalan beraspal mulus tepat dimana kita bertemu seekor ular, turunlah hujan yang sangat lebat. Oh kita baru ngerti, mungkin adanya ular tadi mengisyaratkan kepada kita kalau pas perjalanan pulang kita akan turun hujan begitu kita sampai disini. Dengan terpaksa dipakailah kembali jas hujan kita. Sesampainya di bukit bintang hujan pun kembali reda namun kita tetap saja memakainya sampai Kota Jogja. Kita lantas tak langsung pulang ke kost kita masing - masing, tapi wiskul dulu di sebuah tempat yang membuat kita bener - bener klenger. Perut lapar, masa langsung pulang? kan rugi. Ya nggak sob?
Dimanakah itu? yaitu di Bakso Klenger. ikuti cerita selanjutnya wisata kuliner di Bakso Klenger ini ya sob,


Sampai jumpa!
Cara menuju ke Embung Nglanggeran:
Arah menuju Embung Nglanggeran itu sama dengan arah menuju basecamp pendakian Gunung Api Purba Nglanggeran.
Dari Kota Jogja bergeraklah melalui Jl. Wonosari -) Bukit bintang (Bukit Patuk) -) perempatan yang di sebelah kanan jalannya terdapat Kantor Polsek Patuk -) belok kiri dan ikuti jalan ini melewati tower (menara) berbagai televisi di Desa Ngoro - ngoro hingga menemukan sebuah pertigaan dimana di sebelah kanannya terdapat Puskesmas Patuk II (Puskesma Tawang) -) belok ke arah kanan hingga bertemu basecamp Pendakian Gunung Api Purba Nglanggeran -) belok ke arah kanan hingga bertemu sebuah pertigaan -) belok ke arah kiri hingga sobat menemukan sebuah gapura yang bertuliskan "Kawasan Agrowisata Patra Nglanggeran" di sebelah kiri jalan -) Ikuti jalan tersebut dan tak lama kemudian sampailah sobat di Embung Nglanggeran ini.
Let's Go

Jumat, 29 Januari 2016

Penuh Perjuangan Menuju Embung Batara Sriten

"Kang, habis ini masa pulang?" tanya adik Ane ketika kita usai keluar dari Warung Gathot dan Thiwul Yu Tum. 
"La memang mau kemana ndok?", jawab Ane dengan santainya. "Ke Pantai yuk kang, Indrayanti apa Drini gituloh", balas adik Ane dengan muka agak memelas dan sedikit memaksa.
"Yawdah yok segera naik, kita segera meluncur Embung Batara Sriten aja", jawab Ane sambil menyuruhnya untuk segera naik di boncengan belakang kuda hijau kita". "Memang dimana itu kang?", timpal dia kembali. "Dah to, naik aja nanti kan lak sampai".


Ane sebenarnya sudah merencanakan kalau sehabis dari Gathot dan Thiwul Yu Tum kita bakalan meluncur ke Embung Batara Sriten ini, cuman adik Ane belum tahu rencana yang ini. Ya biar surprise lah. Tapi dia tahu kalau di Gunung Kidul ini banyak pantai - pantai yang cantik seperti Pantai Indrayanti, Drini, Baron, dan lain sebagainya. Sehubung Ane kurang begitu mood untuk ke pantai ya Ane ajak sajalah menuju embung ini.



Naiklah dia di bagian belakang motor kita. Perjalanan ini bakal panjang, menurut kabar yang beredar kalau akses menuju ke kesana tidaklah semulus jalan biasa apalagi tol dan tak semudah perjalanan kulineran biasa. Bahkan ada yang bilang kalau kesana sebaiknya menggunakan kendaraan roda 4 haruslah hardtop 4 X 4 dan kalaupun motor haruslah bergigi dan bukan matic.
Tapi Ane tak memiliki salah satu di antara keduanya, kita hanya menggunakan motor matic dan itupun yang kita punya. Dengan berbekal 2 botol air minum dan kue secukupnya serta semangat dan tekad yang kuat berangkatlah kita menuju sana.



Kita berangkat dari Kota Wonosari, di mulai dari perempatan lampu merah RSUD Wonosari, Ane arahkan kuda hijau kita menyusuri Jalan Taman Bakti yang berada di sebelah kanan RSUD Wonosari. Jl. Taman Bakti sudah berlalu kini berlanjut ke Jl. Wonosari - Nglipar hingga mentok. Di pentokan ini kita bertemu Kantor Kecamatan Nglipar. Beloklah kita ke arah kiri kurang lebih 30 meteran saja. Tak ada papan petunjuk apalagi papan yang bertuliskan,"Embung Batara Sriten", tentulah tak ada. Disitu ada belokan ke kanan namun jalannya tidak semulus sebelumnya sehingga kita tidak yakin kalau ini benar - benar menuju ke embung. Dengan perasaan ragu - ragu, beloklah kita ke arah kanan. Keragu - raguan kita semakin kuat, pasalnya tak ada seseorang yang berlalu lalang kseini, apakah jalan yang kita tempuh ini sudah benar atau belum. tiba - tiba adik Ane berkata, "Kang mbok tanya loh sama orang". tanpa fikir panjang dan tak mau berdebat dengan sang adik, tanyalah kita pada salah seorang bapak - bapak yang kebetulan sedang berada di warung. Ntah apa yang dibelinya kita tidak tahu, yang jelas seorang bapak tersebut membawa sebuah karung yang di dalamnya terdapat sesuatu.
Ane    : Permisi Pak, Ma'af sebelumnya saya mau tanya, "apa benar ya
         jalan ini menuju Nglipar?
Beliau : Lah ini sudah Nglipar loh mas. Masnya mau kemana?
Ane    : Ow iya ya pak? (Ane baru sadar kalau barusan kita melintasi
         Sebuah kantor Kecamatan Nglipar). Mau ke Embung Batara
         Sriten Pak!



Beliau : Eow, ke embung. Mari mas ikut saya kebetulan saya mau
         pulang dan rumah saya searah dengan menuju embung.
Ane    : Dalam hati Ane berkata,"iyes". Beneran Pak nggak apa - apa?
         nggak merepotkan bapak?
Beliau : Nggak mas, ini saya sekalian mau pulang dan jalan menuju 
         ke embung searah dengan rumah saya. Mari ikut dengan saya
         mas.
Ane    : Baiklah kalau begitu pak, mari.
Hmmm sepertinya rejeki anak soleh yang baik hati dan rajin menabung serta berbakti dengan orang tua, (uwek). Kembalilah Ane ke motor Kita dan segera mengikuti bapaknya yang sudah berada di depan. 20 menit sudah berlalu dan kini sampailah kita di sebuah pertigaan di samping kanan Kantor Kepala Desa Pilangrejo.
Beliau : Ini mas, ikuti jalan ini saja ya mas (sambil menunjuk
         sebuah jalan ke arah masuk). Kalau lelah berhenti ya mas
         (pesan beliau kepada kita).
Ane    : Baik pak (dalam hati sudah merasakan sesuatu yang bakal
         membuat kita menguras energi tentunya). Terimakasih lo Pak
         sudah mau mengantar kita sampai sini. Ma'af ya pak bila
         sudah merepotkan bapak.
Beliau : baik mas. Hati - hati ya mas, saya tak pamit pulang.
Ane    : Iya Pak, silahkan pak, terima kasih.
Jalannya tak seluas sebelumnya, namun cukup meyakinkan kita kalau harus lewat sinilah untuk menuju sana. Bagaimana tidak, di sebuah pertigaan ini sudah terpasang papan petunjuk yang mengarah kesana.



Tanpa berlama - lama disini, masuklah kita kedalam jalan tersebut. walaupun jalannya terbilang sempit, namun cukuplah mulus walau tak semulus kulit wanita seksi. Kebingungan kita terjadi ketika di tengah jalan menemukan sebuah petigaan jalan ke kiri. Berhentilah kita di situ dan melihat - lihat daerah sekitar "barangkali ada sebuah papan petunjuk", fikirku. Benar saja, memang ada sebuah papan petunjuk yang mengarah ke embung walaupun letaknya agak berjauhan dengan pertigaannya.



Sesudah cukup yakin jalan mana yang akan kita lewati bergeraklah kita melanjutkan perjalanan. Tak ada sebuah percabangan jalan lagi yang kita temui yang ada hanyalah rumah penduduk sekitar yang ada di kanan dan kiri jalan. Benar saja, selepas jalan beraspal ini kita memang harus melewati jalan yang menanjak. Kalau menanjak saja nggak masalah asalkan jalannya beraspal dan halus. Disini jalan yang kita lewati sudah menanjak tidak halus pula. Maklum, jalannya bukanlah jalan beraspal, melainkan jalan cor blok terkadang sudah rusak lagi. Disinilah nampaknya kita harus berjuang. Dengan hati - hati kita menaiki jalan yang ada, sesekali ane harus menghela nafas. Tak hanya kita, motor yang kita naikin pun berderit kencang. hal ini menandakan kalau jalanan yang kita tempuh benar - benar ekstrim. Beberapa puluh menit berselang, tantangan kita semakin berat tak hanya jalanan saja yang menanjak dan rusak, kini kita dihadapkan oleh banyak percabangan jalan yang ada. Ane semakin bingung, untuk memastikan bahwa jalan yang kita lalui benar, bertanyalah Ane pada penduduk sekitar dan kebetulan pas di dekat persimpangan jalan yang ada terdapat seseorang anak muda yang sepertinya hendak mau turun. dari keterangan beliau, Ane cukup ngerti dan bergeraklah kita sesuai dengan apa yang masnya bilang. Benar saja, tak lama dari tempat kita bertanya sampailah kita di sebuah pos penarikan retribusi dan untuk memasukinya kita harus merogoh kocek sebesar 8k saja. 2k untuk kuda hijau kita dan 6k untuk tiket masuk kita berdua.



Petugas : Gimana mas perjalanannya? (sambil tersenyum puas)
Ane     : Wah keren pak, pokoknya jalannya memang oke (sambil
          tersenyum menyindir).
Petugas : hahaha (Tertawa sambil melihat wajah Ane yang tampak 
          lelah) ini. apa nanti kesininya nunggu jalannya sudah baik
          saja mas?
Ane     : Hahaha. Berarti saya pulang dulu nieh Pak? (Ane tartawa
          lepas sambil bercanda dengan bapak petugasnya). Kira -
          kira kapan ya pak jalan menuju kesini di bangun?
Petugas : (Bapaknya pun ikut tersenyum). Nanti mas, mungkin tahun
          depan. Do'akan saja ya mas.
Ane     : Pasti pak, moga - moga tahun depan sudah baik jalannya.
          Syukur - syukur lebih cepat.
Petugas : Amiiieeen. La masnya darimana ini?
Ane     : dari Bantul Pak, Kretek.
Petugas : Eow. Tadi dari Bantul ada loh mas, tapi udah pulang. Habis
          Nge camp mereka di atas.
Ane     : Eow. Ini masih berapa ratus meter lagi Pak?
Petugas : 500 meter - 1 Km an lah mas.
Ane     : Okelah pak kalau begitu. Terima kasih ya pak?
Petugas : sama - sama mas.
Selepas dari pos penarikan retribusi, perjalanan pun kita lanjutkan kembali. Tapi apa yang terjadi, jalannya bukan semakin baik malah semakin nggak karuan. Mesin kuda hijau Ane semakin berderit kencang, Anepun tak leluasa mengendarainya. Sesekali Adik Ane harus turun dan berjalan kaki, sementara Ane berkonsentrasi menunggangi kuda hijau kita. Perlahan tapi pasti perjalanan yang begitu melelahkan terbayar sudah dengan pemandangan yang ditawarkan.


Gambar bintang berwarna hijau di pelataran depan Embung
Angkat kaki, eksen
Santai dulu deh
Sebuah embung yang tidaklah begitu luas namun mempunyai pemandangan yang unik dan indah. Tak ada atribut atau papan nama yang menerangkan kalau disinilah Embung Batara Sriten berada tepatnya di Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar, Gunungkidul. Siapa sangka bahwa Embung ini adalah puncak tertinggi di Gunung Kidul sekaligus embung tertinggi di Yogyakarta.
Nampak sudah ada beberapa pengunjung yang datang, ya sekitar 4 - 5 orang saja. Maklum Embung ini tidaklah sepopuler Embung Nglanggeran yang lebih dahulu dikenal atau waduk sermo yang bisa di lihat dari Kalibiru. Namun Ane yakin, suatu saat nanti bila infrastruktur terutama akses jalan sudah baik tentulah banyak para pengunjung yang datang. Tapi Ane yakin juga bila suatu saat kalau sudah ramai, embung yang sekarang bersih bisa saja sampah berserakan kemana - mana. Ah, ntahlah semoga pengelola siap akan semua hal itu tentang sarana dan prasarana dan tentunya memperhatikan keamanan dan kebersihan juga.
Tampak di atas embung ada sebuah bukit yang kelihatannya cukup mampu menggoda iman kita. Tak lantas kita menuju ke sana, kita memilih berhenti sebentar sambil beristirahat memulihkan energi kita yang hilang. Setelah lelah kita hilang dan tenaga kita pulih kembali, barulah kita menuju ke atas.



Perjalanan kita mulai dari arah kanan. Jangankan untuk mandi, bersandar saja tidak boleh. Di pagar pembatas embung sudah terpasang larangan untuk tidak bersandar di pagarnya. Semoga para pengunjung mengindahkan larangan ini dan tidak mengabaikannya. Selain aman untuk mereka, juga menjaga embung ini agar tampak indah bukan?


Tuh lihat
"Di bawah saja sudah indah, apalagi di atas sana?", itulah fikiran kita sambil berjalan. Benar saja, semakin ke atas pemadangan yang ditawarkan semakin indah. Tak henti - hentinya kita mengabadikan moment yang penting ini. Anepun sungguh senang bisa menikmati keindahan embung ini bersama adik Ane tersayang. Di sepanjang perjalanan dia tampak gembira, hal ini terlihat dari mimik mukanya yang selalu saja tersenyum dan mengagumi keindahan yang ada. Tak hanya adik Ane, Sang kakak tak lain adalah Ane sendiri pun mengalami hal yang sama.


Pemandangan terlihat dari undakan pertama
Pemandangan terlihat dari atas sebelum puncak
Pemandangan terlihat dari atas
Benar saja, sampai puncak walaupun masih ada puncak yang lebih tinggi di sebelahnya, pemandangan yang ditawarkan memang indah sekali. Puncak yang menarik dengan dominasi batuan yang berwarna putih. Disini kita dapat melihat berbagai pemandangan yang ada, mulai dari hamparan perbukitan hijaunya, tumbuhan pohon yang berdiri tegak dan tentunya embung Batara Sriten itu sendiri. Disini kita di tuntut untuk berhati - hati, bagaimana tidak di samping puncak terlihat tebing yang begitu curam. Sedikit saja kita melakukan kesalahan, habis sudah semuanya.


Santai dulu deh
Hamparan perbukitan hijau yang indah
Embung Batara Sriten tampak jelas dari puncak bukit
Beranjak dari puncak ini, kita menuju puncak yang lebih tinggi lagi. Terlihat ada sebuah bendera merah putih terpasang disana. Sesampainya disini, kita dikagetkan dengan sebuah makam yang ntah makam siapa. Makam tersebut berada tepat bersebelahan dengan bendera merah putih itu terpasang. tanpa pikir panjang, hormatlah kita pada bendera merah putih tersebut.


Tampak sebuah makam yang tertidur di samping bendera
Hormat grak
Keadaan yang sepi ini, nampaknya dimanfaatkan betul oleh pasangan ntah itu muda mudi atau sudah berkeluarga. Tadi di gazebo di puncak ini ada seorang pasangan kekasih yang sedang bermesraan seolah - olah tidak ada orang yang lewat ataupun menghiraukan kedatangan kita, nah disini kita bertemu lagi dengan pasangan yang masih muda. Sudah nikah? ah belum kelihatannya. Mungkin dalam benaknya terbesit fikiran,"Dunia milik kita berdua dan lainnya numpang". Bikin iri aja nieh pasangan, dengan sekuat tenaga Ane keluarkan jurus Ane supaya mendung berkumpul dan hujan bisa segera turun.


Ah, bikin iri aja nieh orang
Hujan, datanglah! datanglah! datanglah!
Tapi apa boleh buat, hujan pun tak kunjung turun. Puas menikmati puncaknya kitapun segera turun kebawah dengan mengitari embung dengan jalan yang berbeda. Berlawanan dengan arah kedatangan kita tentunya. Sesampainya di gazebo bawah kita beristirahat dan menikmati makanan yang sudah ada yang kita beli baik di dekat kost ataupun di Gathot dan Thiwul Yu Tum dengan harapan bahwa perjalanan pulang tidak kelaparan.



Eh, setelah tadi minta hujan ketika sedang berada di atas, malah hujan beneran ketika pulang. Inikah yang dinamakan senjata makan tuan? ah, nggak apa - apa. Perjalanan pulang pun jalan yang kita lewati agak sedikit berbeda. Tidak menuju Kota Wonosari terlebih dahulu, tetapi langsung menuju ke arah Pertigaan Sambipitu. Tepat pukul 5 sore kita sudah sampai di Kota Jogja.
Cara menuju Ke Embung Batara Sriten:
Dari Kota Jogja bergerak melalui Jl. Wonosari -) Bukit Bintang (bukit pathuk) -) Pertigaan sambipitu (setelah POM Bensin yang ada di kanan jalan, maju sedikit), ambil kearah kiri menuju Nglipar (salah satu nama kecamatan di Kabupaten Gunungkidul) -) perkebunan hutan kayu putih -) Pertigaan sebelum pasar Nglipar ke arah kiri (seinget Ane pertigaan pertama jalan beraspal yang lumayan cukup lebar) -) Jalan Nglipar - Ngawen -) Kedungpoh -) Pertigaan timur kantor kepala desa Pilangrejo tepatnya Jl. Nglipar - Ngawen Km. 6,5 ke kiri -) ikuti jalan ini hingga menemukan pertigaan lagi yang sebelum pertigaan tersebut terdapat sebuah pos ronda kecil, jangan belok tetapi masih lurus -) jalan berganti menjadi cor blok, jangan ragu masih lurus lagi ikuti jalan yang ada hingga mentok -) percabangan jalan ke arah kiri dan kanan, ambillah jalan yang mengarah ke kiri -) semakin dekat semakin banyak percabangan jalan yang ada, tanyalah pada penduduk sekitar bila ragu - ragu. Banyak yang tahu kok, karena dari sini sebentar lagi akan sampai di Embung Batara Sriten.
Dari Kota Wonosari -) RSUD Wonosari -) Jl. Taman Bakti -) Jl.Wonosari - Nglipar hingga mentok -) bertemu Kantor Kecamatan Nglipar, ke kiri sedikit -) ada belokan ke kanan, belok ke kanan mengikuti Jl. Nglipar - Ngawen, lalu ikuti petunjuk yang sudah Ane tuliskan di atas mulai dari Jl. Nglipar Ngawen.
Let's Go

Senin, 22 September 2014

Wisata de Waduk Sermo Yogyakarta

Hai sobat petualang, bagaimana kabarnya nieh? tentunya baik-baik saja kan. Kali ini ane mau menceritakan petualangan ane di Yogykarta khususnya di Obyek Wisata Waduk Sermo. Tidak hanya ada Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Pantai Parangtritis saja yang ada di Yogyakarta namun terdapat juga salah satu waduk yang indah ini.
Waduk Sermo ini terletak di Dusun Sermo, Hargowilis, Kokap, Kabupaten Kulonprogo. Pada tahun lalu, ane bersama sobat-sobat ane mengunjungi waduk yang indah ini. Tidak ada acara apa-apa sieh, cuman main-main saja. Kenapa ane katakan indah? karena letak Waduk ini bisa di bilang strategis lo sob, terletak di antara dua bukit dan dikelilingi banyak pohon-pohon yang rimbun yang membuat suasana semakin hidup dan mengakibatkan udara menjadi sejuk.

Foto di ambil dari tempat Parkir Waduk Sermo
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Waduk ini yaitu sekitar kurang lebih satu jam dari Kota Yogyakarta. Mungkin dari sobat-sobat ada yang berfikiran untuk mandi di sini??? Eitz nanti dahulu, di sini di larang madi lo mungkin karena garis waduk nya nggak ada kali yaw?hehe.
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me