Minggu, 08 Maret 2015

NgeTrip Ke Pacitan: Tidak Melewatkan Gua Sodong

Beranjak dari Pura Puncak Jagad Spiritual, kita melanjutkan petualangan ke Gua Sodong. Arahannya dari pura turun secara perlahan - lahan dan sebelum melewati bangunan gedung terdapat jalan belokan ke kiri. Beloklah kita ke kiri sampai mentok. Tak lama kemudian sampailah kita di gua yang kita maksud. Di sebelah kanan jalan terdapat papan nama gua disertai dengan penjelaskan secara singkat. 


Kalimat yang mengatakan bahwa kita melewati jalan ini sampai mentok Ane ralat ya sob. Hal ini disebabkan jalan yang kita lewati ternyata menembus mulut Gua Sodong sehingga tidak memungkinkan kita membawa motor sampai ke dalam gua. Ya kali nanti kalau sudah masuk dan tidak bisa kembali kan repot, hehe. Bentuk mulut Gua Sodong dipengaruhi oleh kekar dan pelapisan batu gamping.

Mulut Gua Sodong
Jalan yang dilewati didominasi jalan batu yang sudah berlumut dan basah sehingga jalan menjadi sangat licin. Tak dapat dipungkiri bila kita berjalan memasuki gua dengan sangat berhati - hati tanpa alas kaki walau sesekali kita terpeleset.
 
Sungguh takjub kita dibuatnya. Di bawah Gua Sodong terdapat sungai bawah tanah yang jernih. Tak heran bila air ini sering dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk berbagai aktifitas seperti mandi dan mencuci pakaian. Hal ini dapat kita lihat terdapat beberapa pancuran yang terbuat dari paralon kecil yang cukup bagi keluarnya air.

Ada sungai bawah tanah dalam gua
Gambar beberapa pancuran yang ada di dalam gua
Berdasarkan informasi yang terdapat di papan penjelasan, pada musim hujan sungai musiman masuk ke dalam gua.
Puas menikmati obyek wisata yang ada di Kawasan Museum Karst Indonesia ini selanjutnya kita melanjutkan perjalanan menuju ke Kabupaten Pacitan yang memang menjadi destinasi utama kita. Sebelumnya kita beristirahat dahulu di sebuah masjid dekat museum untuk melaksanakan kewajiban kita sebagai makhluk Allah.

Sebuah gubuk kecil di depan mulut Gua Sodong
Sampai jumpa.
Let's Go

Jumat, 06 Maret 2015

NgeTrip Ke Pacitan: Tak Lengkap tanpa Mengunjungi Pura Puncak Jagad Spiritual Wonogiri

Beranjak dari Gua Song Gilap, kita lanjutkan lagi petualangan kita menuju Pura Puncak Jagad Spiritual ini. Dalam perjalanan kesini kita dikejutkan oleh situasi dan kondisi yang sangat mencekam sob, banyak anak sekolah yang masih berseragam pada mojok / berpacaran di tempat ini.
Suasana memang sangat mendukung, bagaimana tidak suasana yang sepi, jalan yang sempit namun kurang begitu baik serta semilirnya angin lembut yang nyiur melambai - lambai seolah - olah memanggil kita sehingga menambah suasana menjadi hidup. Tampaknya tempat ini sudah menjadi tempat yang favorit untuk mereka mojok. Ane sempat iseng - iseng tuh sob menghitung berapa pasang yang sedang mojok di sana, hahaha. Alhasil jalan sepanjang kurang lebih 1 Km saja sudah terdapat 5 pasang yang sedang mojok, ckckck.
Seharusnya kewajiban menjadi seorang pelajar adalah belajar, bukan malah mojok di tempat yang sepi. Bukan tidak mungkin hal - hal yang tidak di inginkan bisa terjadi di sini.
Okelah lupakan saja ya sob keterangan di atas, yuk kita serius membahas mengenai Pura Puncak jagad Spiritual saja. Jadi begini sob, pada awalnya tujuan kita bukanlah ke sini melainkan ke Gua Sodong. Ternyata eh ternyata kita kebablasan sampai di atas dan bertemu dengan jalan buntu. Tak di sangka dan di nyana sebelah kanan jalan buntu inilah terdapat Pura Puncak Jagad Spiritual. Tentu sayang dong bila dilewatkan begitu saja. Sesuai kesepakatan kita bersama jadilah kita berkunjung sebentar memasuki area pura tersebut.
Untuk mencapai pura tidaklah sulit karena terdapat tepat kurang lebih 300 meter sebelah barat Museum Karst Indonesia. Jalan yang dilalui cukup baik namun sangat terjal. Suara mesin kuda hijau Ane terasa cukup berat ketika melewati jalan tersebut. Inilah jalan yang Ane maksud.

Selamat datang di Pura Puncak Jagad Spiritual. Pura yang di bangun pada tahun 2010 ini biasa dijadikan sebagai tempat digelarnya ritual piodalan.

Pelataran yang luas dengan bangunan pura yang sangat khas, itulah kesan pertama Ane ketika memasuki area pura. Suasana pun terasa seperti di Bali.



Tidak banyak yang dapat kita lakukan di sini. Hari sudah semakin siang dan masih menyisakan satu destinasi lagi di Kawasan Museum ini yaitu Gua Sodong, maka kita putuskan untuk meninggalkan pura dan menuju ke Gua Sodong.



Sampai jumpa.
Let's Go

NgeTrip Ke Pacitan: Tidak Melewatkan Gua Song Gilap di Wonogiri

Beranjak dari Gua Potro-Bunder selanjutnya kita menuju ke Goa Song Gilap. Jaraknya yang tidak terlalu jauh yakni kurang lebih sekitar 800 meter sebelah tenggara. Arahannya kita kembali ke sebuah pertigaan pertama, selanjutnya mengambil arah ke kanan lurus saja terus sampai menemukan sebuah pertigaan lagi. Dari pertigaan ini kita mengambil arah ke kanan lagi. Tidak lama dari pertigaan tersebut kita menemukan sebuah pertigaan lagi dan beloklah ke kiri. Tidak jauh dari pertigaan inilah kira - kira kurang lebih 75 meter sampailah kita di Goa Song Gilap yang sangat mempesona ini.
Secara administratif gua ini terletak di Dusun Danggolo, Desa Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro masih berada di dalam Kawasan Museum Karst Indonesia.

Sungguh memerlukan perjuangan yang keras untuk sampai sini. Bagaimana tidak, jalan yang dilalui cukup sempit dan kurang begitu baik. Selain itu petunjuk jalan yang mengarah ke gua ini tidak begitu lengkap hanya sampai di pertigaan kedua dari Museum Karst Indonesia mengharuskan kita berkali - kali bertanya pada penduduk sekitar.
Tak lama kemudian sampailah kita di atas sebuah jurang yang menyerupai stadion. Dugaan pertama kita, disinilah terdapat gua yang kita maksud. Setelah kita perhatikan lebih teliti ternyata benar adanya di dalam jurang tersebut nampaknya terdapat sebuah gua yang terletak di sebelah utara. Asyik, lega rasanya setelah mengetahui bahwa di jurang tersebut terdapat gua yang kita maksud.

Permasalahan selanjutnya adalah bagaimanakah cara memasukinya? kita berfikir bila di jurang tersebut terdapat sebuah gua, tentunya ada jalan untuk memasukinya. Benar bahwa setelah kita perhatikan lebih detail terdapat sebuah jalan yang sepertinya jalan setapak di sebelah barat gua.  
Track berupa jalan setapak yang menurun ke bawah harus kita lalui untuk mencapai mulut Gua Song Gilap.
Perjuangan yang keras akhirnya terbayar sudah oleh pesona Gua Song Gilap yang sungguh mempesona. Bentuk gua yang melingkar dengan jajaran batuan karst setinggi kurang lebih 60-an meter dan terdapat berbagai macam pepohonan termasuk tanaman perdu yang tumbuh di bagian tengah gua menambah nilai keindahan tersendiri bagi gua tersebut. Sungguh senang hati Ane bisa menginjakkan kaki di sini.

Mulut Gua Song Gilap
Kondisi di depan mulut gua
Tampak pemandangan gua dari bawah
Bukan mau melakukan olahraga sepak bola, main bulu tangkis, senam lantai, aerobik, atau latihan tinju.


Melainkan mau mengetahui lebih jauh tentang Gua Song Gilap ini. Di sebelah kanan pintu masuk gua terdapat tempat yang menyerupai sebuah ruangan. Ada yang membuat Kita kaget ketika berada di sini. Hayo apa? hayo? okelah Ane kasih tahu, terdapatnya sampah koran bekas yang tergeletak berserakan di tanah. Hal inilah yang membuat kita bertanya - tanya dan menebak - nebak. Fikiran yang negatif sempat menghinggapi otak kita. Apakah gua ini biasa menjadi tempat berbuat maksiat/tidak sepantasnya dilakukan di sini?. Pantas saja di depan mulut gua terpampang sebuah papan peringatan yang bertuliskan:


Permukaan dasar gua yang licin dan basah bercampur tanah, serta jalan yang sempit itulah kenyataan yang harus kita lalui ketika memasuki dalamnya gua. Sesekali kita harus berhati - hati dengan berpegangan batuan yang berada di samping kiri dan kanan jalan.













Menurut berbagai sumber yang Ane baca, panjang gua belum diketahui secara pasti. Ada yang mengatakan panjang gua sekitar 25 meter dan adapula yang mengatakan 28 meter, namun kita berhasil mencapai dalamnya gua dan perkiraan kita panjang gua tersebut kurang lebih 10 meter saja.
Terlepas benar atau tidaknya panjang gua tersebut yang jelas gua ini menawarkan pesona yang sangat indah. Berada di dasar gua serasa berada di dalam sumur dengan mulut sumur yang terbuka lebar.









Menurut berbagai sumber yang ada bahwa di goa ini banyak ditemukan sejumlah artefak berupa tulang belulang hewan seperti tulang tengkorak kera, tanduk rusa, gigi beruang, dan gigi musang. Selain itu ditemukan juga spatula, batu - batu sisa untuk memproses pembuatan alat senjata tajam dari batu, serta lainnya yang usianya diperkirakan ribuan tahun lamanya.
Cukup sampai disini saja ya sob cerita petualangan Ane mengenai gua yang satu ini. Menarik bukan? Ayok segera angkat ransel anda dan segera menuju kesini.





Sampai jumpa
Perjalanan kita selanjutnya yaitu NgeTrip Ke Pacitan: Tak Lengkap Tanpa Mengunjungi Pura Puncak Jagad Spiritual Wonogiri.
Let's Go

Kamis, 05 Maret 2015

NgeTrip Ke Pacitan: Tidak Melewatkan Gua Potro-Bunder Wonogiri

Bergerak dari Museum Karst Indonesia kita melanjutkan perjalanan ke Gua Potro-Bunder. Gua ini berjarak kurang lebih sekitar 600 meter arah barat daya dari museum. arahannya begini, dari Museum bergeraklah kita ke arah selatan sampai menemukan sebuah pertigaan. Bila ke kanan maka akan sampai di Gua Sodong / Pura Puncak Jagad Spiritual, nah kita ambil jalan yang lurus saja sampai menemukan sebuah pertigaan lagi. Dari pertigaan ini, kita mengambil ke arah kanan sampai menemukan gua yang kita maksud yaitu Gua Potro-Bunder yang terletak di sebelah kanan jalan.


Dahulu Gua Potro-Bunder sebenarnya terpisah. Akibat adanya penggalian kalsit di masa lalu terhubung menjadi satu membentuk Gua Potro-Bunder. Gua ini di percaya memiliki nilai spiritual yang tinggi sehingga sering digunakan untuk bertapa. 
Rupanya setelah kita sampai sana sudah ada sepasang pengunjung yang terdiri dari seorang laki - laki dan perempuan yang sedang menikmati gua ini. Tahu tidak sob apa yang dilakukan oleh sepasang pengunjung tersebut yaitu lagi Pacaran. Sepasang pengunjung tersebut berada di pintu masuk gua. Kayaknya perlu disematkan nama baru untuk mereka yaitu manusia gua, hahaha.

Mulut Gua Potro-Bunder
Setelah beberapa langkah memasuki mulut gua, kita berpapasan lagi dengan sepasang pengunjung yang keduanya memakai seragam sekolah SMA muncul dari belakang gua. Ada apakah gerangan? fikiran negatif Ane pun menghinggapi di otak saya. Ane tetap berfikiran positif saja, mungkin dia lagi belajar pelajaran Geografi langsung di lapangan. Wah keren, hahaha. 
Kondisi gua yang sepi pengunjung dan tanpa alat penerangan apapun menjadikan gua ini bisa beralih fungsi dari tempat bertapa / menyepi menjadi memojok.

Kondisi gua di ruang tengah
Gua ini termasuk gua mati / kering. Hal ini ditandai dengan tidak adanya tetesan - tetesan air yang kebanyakan terdapat di gua yang masih hidup. Stalaktit yang terdapat di gua pun terkesan biasa - biasa saja.

Stalaktit yang ada di dalam gua
Dengan adanya stalaktit yang terkesan biasa - biasa saja bukan berarti gua ini tidak menarik untuk dikunjungi. Di bagian belakang gua terdapat dua pintu gua yang sangat eksotis dan sayang untuk dilewatkan begitu saja yang kebanyakan tidak dimiliki oleh gua yang lain. 


Puas sudah kita menjelajah gua ini selanjutnya perjalanan kita lanjutkan menuju Gua Song Gilap.
Let's Go

Rabu, 04 Maret 2015

NgeTrip Ke Pacitan: Mampir Dahulu Ke Museum Karst Indonesia

Beranjak dari Gua Tembus, kita melanjutkan petualangan ke Museum Karst Indonesia yang terletak tidak jauh dari gua tersebut. Sudah membaca postingan Ane sebelumnya yang berjudul, "NgeTrip Ke Pacitan: Tidak Melewatkan Gua Tembus Wonogiri" belum sob? kalau belum silahkan di baca terlebih dahulu yaw sob supaya nyambung ceritanya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke lokasi museum ini, di balik loket penarikan retribusi sudah tampak pemandangan Museum Karst Indonesia yang berdiri gagah sehingga menambah rasa penasaran bagi siapa saja yang melihatnya. Setelah memarkirkan kendaraan bermotor kita selanjutnya menuju ke dalam gedung dari museum tersebut.



Museum Karst Indonesia terletak di Desa Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Pertama kali memasuki museum kita ditakjubkan dengan poster Hasta Bratha, salah satu filosofi yang merupakan kearifan lokal masyarakat jawa, khususnya Kabupaten Wonogiri. Filosofi ini berisikan wejangan yang harus dilaksanakan seseorang dalam menjalani kehidupannya di dunia agar memperoleh kesempurnaan budi seperti yang terkandung dalam cerita pewayangan.
"Wow keren banget pokoknya", itulah kesan Ane ketika memasuki ruangan museum ini, apalagi petugas yang jaga masih seusia kita dan sangat ramah sekali.



Sebelum mengeksplorer lebih jauh isi museum kita diwajibkan mengisi buku tamu terlebih dahulu. Mari kita jelajahi bersama isi museum ini, yuk.


Museum Karst Indonesia sendiri memiliki tiga lantai utama. Lantai pertama yang kita eksplorasi adalah Lantai 1 Kars untuk Ilmu Pengetahuan. Fasilitas yang ada di dalam ruangan museum sangatlah lengkap, mulai dari LCD TV yang menggambarkan kejadian tiap objek tertentu dan petunjuk arah dalam mengeksplorer museum.



Di lantai 1 ini menampilkan panel poster dan peragaan koleksi museum. Panel poster menjelaskan tentang kronologi proses pembangunan Museum Karst.




Berbagai macam stalaktit terdapat di sini sehingga menambah keindahan museum.





Di lantai ini terdapat juga penemuan manusia prasejarah di Gua Liang.



Puas menikmati museum di lantai 1, kita langkahkan kaki menuju Lantai Dasar. Sebelumnya kita tergoda oleh sebuah tangga yang menuju ke lantai atas yang tentunya kita tidak mengetahui sebelumnya, ada apakah gerangan di sana? setelah di cek, ternyata eh ternyata hanya berupa ruangan seperti auditorium yang di dalamnya terdapat kelengkapan perangkat tata suara, proyektor dan layar yang dapat digunakan untuk rapat, presentasi dan pemutaran film. Kita kira seperti ruangan sebelumnya, ternyata bukan.


Tidak berlama - lama di lantai atas karena tidak banyak yang dapat kita lakukan, kita bergerak menuju ke Lantai Dasar atau Ruang Kars untuk kehidupan.


Di Lantai Dasar ini ruang peragaan divisualisasikan diorama kondisi sosial budaya, kehidupan masa lalu dan masa kini di kawasan karst, serta dilengkapi dengan maket - maket kawasan karst. Inilah beberapa gambar yang berhasil Ane abadikan di ruangan ini.




Puas sudah mengeksplorasi seluruh isi museum ini. Banyak hal yang dapat di pelajari di sini terutama ilmu pengetahuan tentang karst. Tak heran bila museum karst ini dinilai sebagai museum terbesar dan terunik di Indonesia bahkan Asia Tenggara.


Museum Karst ini di bangun pada tahun 2008 dan di resmikan oleh Presiden RI ketika itu pada tanggal 30 Juni 2009 serta mulai efektif menjadi tempat wisata pada tahun 2010.



Terima kasih atas kunjungan Anda di Blog Ane (thank you for your visit in my blog). Selanjutnya kita bergerak ke Gua Potro-Bunder.
Let's Go

Selasa, 03 Maret 2015

NgeTrip Ke Pacitan: Tidak melewatkan Gua Tembus Wonogiri

Beranjak dari Warung Makan Bu Tiwi Tan'Tlogo, Kita menuju ke arah Pacitan. Jalan yang dilalui masih mulus dan lebar karena masih merupakan jalan nasional. Jalan mulai berubah menjadi berlubang ketika memasuki Kecamatan Pracimantoro.
Tak di duga - duga di tengah perjalanan kita menemui sebuah plank di sebelah kanan yang bertuliskan Museum Karst Indonesia. Di dorong rasa ingin tahu dan penasaran, masuklah kita ke tempat tersebut. Sebenarnya obyek wisata ini bukanlah menjadi destinasi utama kita, karena letaknya yang berada tidak jauh dari jalan utama akhirnya kita memutuskan untuk memasukinya. Mungkin sobat dalam hati bertanya mangapa kok ke Museum Karst Indonesia bukan ke Gua Tembus? Apa korelasinya? Okelah Ane kasih tahu, " Gua Tembus ini sendiri berada di Kawasan Museum Karst Indonesia". Jadi, untuk ke Gua Tembus harus menuju ke Kawasan Karst tersebut. Jarak antara jalan utama dengan Kawasan Museum Karst ini kurang lebih 400 meter saja.


Untuk memasuki Kawasan Karst ini ternyata harga tiketnya cukup murah, hanya 2K saja per orang plus 1K untuk parkir sepeda motor. Selain itu pengunjung yang datang sudah mendapatkan asuransi lagi. Di sini Ane sangat kaget, karena dengan harga 2K tersebut sudah dapat menikmati Kawasan Karst yang terdapat banyak obyek wisata, di antaranya Museum Karst Indonesia, Gua Potro-Bunder, Gua Song Gilap, Pura Puncak Jagad Spiritual, Gua Sodong, Gua Sapen, dan Gua Tembus itu sendiri.



Tujuan pertama yang kita kunjungi di Kawasan Karst ini adalah Gua Tembus, karena letaknya yang berdekatan dengan loket Penarikan retribusi yakni di sebelah timur loket. Di sini kita kebingungan untuk menaruh kuda hijau Ane karena di depan gua hanya terdapat sedikit pelataran yang menyatu dengan jalan aspal. Petugas memberikan saran kalau Motornya tidak apa - apa di taruh saja di depan Goa, lalu kita mengikutinya. Di depan mulut goa terdapat sebuah papan nama yang cukup menjelaskan secara singkat mengenai gua ini. Berdasarkan penjelasan yang terdapat di papan nama tersebut, gua ini terbentuk karena proses karstifikasi yang terjadi setelah batu gamping terangkat dari dasar laut yaitu sekitar 1,8 juta tahun lalu. Wow, keren! mbah - mbah kakek buyut kita saja tentu belum lahir bukan?, hahaha.

Mulut gua bagian depan / sebelah utara
Gua Tembus memiliki panjang mendatar sekitar 75 meter yang menembus pematang bukit batu gamping. Mulut gua yang sempit namun tidak pada bagian dalamnya yang terasa lebar dan besar. Di bagian depan gua tidak ada stalaktit yang istimewa. Walaupun begitu, rupanya gua ini sangat diperhatikan akan fasilitasnya. Hal ini terbukti terdapat beberapa alat penerangan berupa lampu yang cukup untuk menerangi bagian gua. Jadi bila sobat datang kesini, jangan takut lupa atau memang tidak membawa alat penerangan sendiri.

Stalagtit bagian depan gua
Stalagtit yang masih di bagian depan gua
Berbeda dengan bagian depan gua, di bagian tengah ini kita dihadapkan pada pemandangan yang sangat bagus dan tentunya sayang untuk dilewatkan begitu saja.


Pemandangan gua di bagian tengah
Pemandangan gua yang masih di bagian tengah
Stalaktit yang ada di bagian belakang atau sebelah selatan gua tidak kalah cantiknya dengan yang ada di bagian tengah.

Pemandangan gua di bagian belakang
Pemandangan gua masih di bagian belakang
Berbeda dengan kebanyakan gua yang tidak memiliki dua pintu baik yang berada di bagian depan maupun belakang, sesuai dengan namanya Gua Tembus ini memiliki dua pintu yakni di bagian depan dan belakang gua, unik bukan?

Mulut gua bagian belakang / sebelah selatan
Menurut berbagai sumber yang Ane baca bahwa gua ini termasuk yang dikeramatkan dan sering digunakan untuk "nyepi atau bertapa". Sejumlah orang yang bertapa di gua ini merasa sering ditemui kadang berupa wanita cantik, raksasa, atau ular besar.
Terlepas dari itu semua, Gua Tembus ini memiliki keunikan tersendiri dan patut untuk dikunjungi.
Cukup sampai disini saja ya sob mengenai petualangan kita di Gua Tembus ini, selanjutnya kita bergerak menuju ke Museum Karst Indonesia yang ada di sebelah barat daya gua tersebut. Sampai jumpa.
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me