Senin, 25 November 2019

Hobbit House (Rumah Hobbit) Cangkringan Jogja, Desainnya Unik nan Lucu

Momentum wisuda adik, Ane habiskan untuk bersilaturahmi ke keluarga bude dan sekaligus berwisata. Secara Yogyakarta sebagai Kota Budaya dan Pariwisata, rugi kalau sehabis menghadiri wisuda adik Ane langsung capcus pulang ke rumah. Ya nggak sob? Nah, setelah berkunjung ke The Lost World Castle Ane ayunkan kaki menuju ke Hobbit House (Atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Rumah Hobbit). Ini Ane lakukan karena jaraknya itu loh sob sangat menggoda sekali yakni sangat, sangat, sangatlah dekat sekali dan hanya berada didepannya. Ibarat kata nieh ya sob rumah Ane dengan tetangga Ane yang ada didepannya. Jadi, sangat rugi kalau sehabis berkunjung ke The Lost World Castle tanpa mengunjungi Rumah Hobbit ini.



Berhubung masih berada dalam satu kawasan The Lost World Castle, maka Rumah Hobbit ini terletak di Dusun Jambu, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Stttt jangan bilang-bilang orang lain ya sob ya, Ane kasih bocoran sedikit bahwa lahan parkir ketika Ane berkunjung ke The Lost World Castle ya berada tepat didepan pintu masuk Rumah Hobbit ini dan sebuah pos informasi tentang Jeep Lava Tour Merapi. Makanya saat memarkir motor, Ane sempat bingung apakah Ane berkunjung kesini terlebih dahulu karena berada didepan mata ataukah ke The Lost World Catle dahulu yang agak jauh di mata. Fikir punya fikir akhirnya Ane menjatuhkan pilihan kedua untuk berkunjung kesini.


Agar bisa parkir disini, Ane dikenai tarif sebesar 2k (kendaraan motor roda 2). Untuk sampai di Rumah Hobbit Ane diharuskan menaiki anak tangga terlebih dahulu yang jumlahnya tidak seberapa tapi kalau dalam keadaan berpuasa ya lumayan lah. Selain itu sebelum benar-benar masuk ke halamannya, Ane diharuskan membayar tiket masuk sebesar 10k. Biaya ini untuk perawatan dan pengembangan (begitulah sebuah tulisan yang tertulis di tiket masuk).

Tiket parkir kendaraan roda dua
Tiket masuk Rumah Hobbit per pengunjung
Pintu masuk Rumah Hobbit
Anak tangganya lumayan kan?
Salah satu bangunan yang ada di Rumah Hobbit
Tiket sudah ada di tangan, itu artinya Ane diperbolehkan untuk masuk dan menjelajah segala isi yang ada didalam. Ternyata cukup wow juga, desainnya terlihat sederhana namun sangat rapi, disekelilingya terdapat taman dengan rumput hijau yang cenderung menyerupai karpet. Berbagai macam bangunan menyerupai Rumah Hobbit tersebut berukuran cukup besar untuk sekelas Rumah Hobbit. Ane perkirakan dengan tinggi sekitar 2 meter dan lebar sekitar 4 meter. Yang benar-benar seperti Rumah Hobbit yang ada di film "The Lord Of The Rings" sieh menurut Ane hanya ada 2 bangunan, yakni di sebelah kiri dan kanan yang ada di bagian paling depan.


Ayunan dulu biar rileks. Jangan tanya loh ya, mana pasangannya? hihihi
Abaikan orangnya dan lihat yang ada di belakangnya, mirip kan bangunannya dengan yang ada di film itu?
Sekarang Ane mau bertanya sob, "Kira-kira jamur apa yang tidak bisa di makan? Hayo! Hayo! La itu jamur yang ada di Rumah Hobbit ini :-)
Yang lainnya rumah dengan desain cukup kecil namun unik dibuat menyerupai jamur. Justru dengan hadirnya desain seperti inilah Rumah Hobbit ini terlihat hidup dan asri. Coba deh sob, kalau sobat kesini bersama keluarga atau pasangan serta bawa bekal nasi dan sayur-mayur syukur-syukur berlaukkan daging kambing atau sapi, kemudian menggelar tikar di area taman. Pastilah suasana akan terasa hidup dan moment-moment disini tak akan terlupakan. Percaya deh sob!





Eow iya, dari tadi Ane membahas tentang Rumah Hobbit. Sebenarnya kalau boleh Ane bertanya, siapa sieh pemilik Rumah Hobbit dalam film "The Lord of The Rings" itu? tahu tidak sob, hayo. Nyerah ya sob, yakni Bilbo Baggins. Oke kan? jadi setelah berkunjung ke blog Ane, Ane harapkan bertambah wawasannya dan bertambah pandai. Atau malah tambah tiak mengerti? jangan nuw, kalau begitu sia-sia donk Ane menulis ini semua buat sobat.



Woke agar tidak penasaran, sobat bisa langsung angkat ransel dan berkunjung ke Rumah Hobbit ini yang buka setiap hari dari Jam 6 pagi hingga jam 6 sore. Kalau berkunjung kesini, sekalian atuh berkunjung ke The Lost World Castle atau sebaliknya. Biar tidak rugi, seperti peribahasa "Sekali Merengkuh Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampui", tahu tidak sob artinya? kalau belum tahu silahkan sobat searching-searching di internet ya atau baca-baca buku yang memuat informasi tentang peribahasa-peribahasa Indonesia. Sampai Jumpa!
Let's Go

Jumat, 25 Oktober 2019

The Lost World Castle Jogja, Dunia yang Hilang

Apa sieh sob yang pertama kali terlintas di benak sobat ketika mendengar kata Jogja? Kota Budaya kah, Kota Pendidikan kah, atau Kota Pariwisata? Lalu kalau Jogja sebagai Kota Pariwisata, apa sieh sob yang ada di fikiran sobat tentang tempat wisatanya? hanya itu-itu saja kah, jauh dari kata perkembangan atau yang lainnya? Nah, kalau sobat beranggapan seperti itu mulai sekarang rubah yok mindseat sobat.
Sekarang tuh ya Jogja mulai berbenah diri menawarkan obyek - obyek wisata yang menarik dan kekinian, kalau istilah kerennya instagramable dan keren buat di upload di sosial media. Tidak percaya? kalau begitu ikuti cerita Ane disini.


Pada tanggal 28 Juni 2018, jadi sudah setahun lebih yang lalu Ane datang ke Kota Jogja. Kedatangan kali ini tak lain dan tak bukan untuk menghadiri acara wisuda adik Ane di Kampus UPY. Ane datang sendirian karena sebelumnya ibu, bapak dan adik Ane datang duluan. Waktu itu Ane tak bisa bebarengan bersama keluarga dikarenakan urusan pekerjaan. Adik Ane wisuda pada tanggal 30 Juni 2018 dan setelah wisuda rugi donk sob kalau Ane langsung saja pulang. Secara gituloh Jogja sebagai kota pariwisata yang selalu menampilkan obyek wisata yang baru dan menarik. Memang sebelumnya Ane cukup lama tinggal di Jogja, tapi ya itu ada saja obyek wisata yang masih terlewatkan. Salah satunya The Lost World Castle yang ada di bagian utara Kota Jogja, tepatnya beralamatkan di Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman.




Pada tanggal 4 Juli 2018 Akhirnya Ane menginjakkan kaki di The Lost World Castle ini. Sebenarnya di waktu yang bersamaan keluarga Ane ada juga agenda jalan - jalan yakni di Candi Borobudur dan Wisata Kaliurang, berhubung Ane sudah pernah menyambanginya jadi Ane memilih untuk tidak ikut dan jalan-jalan sendiri ke tempat ini. Perjalanan Ane mulai dari Kabupaten Bantul. Masalah jalan, Ane tak menemui sedikit pun kesulitan karena dahulu Ane sering main ke Kawasan Cangkringan. Kawasan ini terbilang cukup jauh, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam 45 menit dari kediaman Bude Ane. Dengan tekad yang kuat sampailah Ane di tempat ini. Awalnya jalannya cukup bagus, tapi begitu mendekati titik point jalannya berubah menjadi berbatu khas pegunungan dan sempat membuat Ane ragu-ragu apakah iya jalan ini benar-benar jalan menuju The Lost World Castle? Sambil melawan rasa keragu-raguan itu ternyata benar jalan berbatu tersebut benar-benar jalan menuju The Lost World Castle. Jalan yang berbatu ini nampaknya memang disengaja dibiarkan begitu saja untuk off road Kaliurang, hal ini terbukti dua tiga mobil jeep sempat berpapasan dengan Ane.






Kesan pertama kali ketika Ane melihat tempat ini yaitu bangunan yang cukup wah dan keren abis. Terdapat tembok yang kokoh mengelilingi tempat wisata, mirip tembok besar China atau Benteng Takeshi. Tak ingin berlama-lama diluar dan semakin penasaran dengan apa yang ada didalam, Setelah memakirkan kendaraan roda dua langsung saja Ane masuk kedalam.
Di loket masuk, Ane diharuskan membayar tiket masuk sebesar 25k (pertengahan tahun 2018). Di loket ini juga terpampang jam buka The Lost World Castle. Berikut informasinya:
Senin - Jumat  : 07.00 - 18.30 WIB
Sabtu - Minggu : 06.00 - 18.30 WIB

Loket pembelian tiket masuk The Lost World Castle

Tiket masuk The Lost World Castle


Begitu masuk ke area utama pemandangan yang Ane lihat adalah terdapat beberapa fasilitas yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk berselfie ria diantaranya sayap bidadari, gerbang surga, dan balon udara. Hari sudah semakin siang, akan tetapi teriknya matahari tak terasa di indra peraba Ane hal ini dikarenakan tempat ini berada di dataran tinggi sehingga suasana cenderung sejuk.

Sayap Bidadari (Kiri), Gerbang Surga (Tengah), Balon Udara (Kanan)
Pemandangan yang ada disebelah barat
Bergerak kearah barat, Ane menuju ke bangunan kastil. Berhubung Ane belum pernah berkunjung ke Tembok Besar China, Ane hanya bisa bertanya-tanya,"apakah iya tembok besar China itu ya mirip seperti ini?", bangunan yang cukup kokoh terbuat dari bongkahan batu kali yang tersusun rapi. Di setiap beberapa meter terdapat bangunan mirip menara. Disinilah "Poin of view"nya, indah memang The Lost World Castle ini. Bagaimana tidak, disekelilingnya terdapat hutan dan nampak dekat pemandangan Gunung Merapi yang menghiasi tempat ini.




Berjalan mengikuti track tembok yang ada, Ane dituntun kearah bawah. Sesampainya dibawah ternyata terdapat lebih banyak spot-spot yang menarik, seperti pohon-pohon sakura. Ane pun tergoda untuk mengabadikan moment disini biar seperti liburan di Jepang, jembatan melengkung diatas sungai serta dua buah meriam yang terpasang mengarah ke bangunan utama kastil.




Namun dibalik keindahan yang dimiliki The Lost World Castle, ada sebuah pemandangan yang semestinya tidak terjadi disini yakni keberadaan seekor sapi yang sedang diikat di sebuah pohon. Menurut Ane seharusnya sapi ini tidak berada didalam tapi diletakkan diluar, agar keindahan The Lost World Castle ini tetap terjaga. Beda cerita kalau di Kebun Binatang misalnya Gembira Loka Zoo, tak ada binatang malah jadi lucu. Ya nggak sob, bagaimana kalau menurut sobat? Samakah dengan opini Ane ini?

Ini sapi sungguhan yang Ane maksud
Nah, kalau ini la binatang kuda, namun hanya sebuah patung
Apalagi menurut Ane tempat ini terbilang cukup asri nan rapi, kan sayang kalau ada sapi disini. Di sepanjang track menuju bangunan utama kastil terdapat kursi-kursi panjang yang terletak di pinggir sehingga bila merasa lelah atau ingin menikmati pemandangan yang ada pengunjung bisa memanfaatkannya. Tepatnya sieh pagi atau sore hari duduk-duduk disini karena saat siang hari tempat duduk ini terasa sangat panas menyengat. Apalagi kalau musim kemarau nyengatnya sungguh luar biasa.





Bergerak ke spot berikutnya terdapat area Wild Wild West yang berisi tenda-tenda khas Suku Indian, patung salah satu jenis dinosaurus beserta telurnya serta seekor kuda yang sedang mengangkat kedua kaki depannya diletakkan diatas pagar tembok. Tak henti-hentinya para pengunjung mengabadikan momentnya disini dengan berbagai pose tak terkecuali dengan Ane.


Telur-telur dinosaurus siap menetas
Tenda khas suku Indian
Bagi yang mau mengabadikan momentnya dengan menggunakan properti khas Indian, bisa karena disini ada penyewaaan untuk itu dan harga sewanya sebesar 10k. The Lost World Castle belum sepenuhnya rampung 100%. Hal ini terlihat masih adanya beberapa pekerja yang sedang menggarap pekerjaannya. Namun begitu, tempat ini sudah bisa menarik perhatian bagi para pengunjungnya, apalagi nantinya jika sudah jadi 100% persen? Hmmmm pasti akan lebih banyak lagi pengunjung yang datang!


Tidak usah takut akan kelaparan maupun haus sob, karena didalam The Lost World Castle ini terdapat area makan atau kalau mau makan diluar ya ada didekat lokasi parkir. Eow iya, setelah ini Ane mau kemana lagi ya? Yuk ikuti cerita Ane berikutnya, Sampai Jumpa!
Let's Go

Selasa, 27 Agustus 2019

Menjelajah Pantai Sari Ringgung, Sensasi Shalat di Masjid Terapung

Salah satu alasan kuat mengapa Ane langsung mengatakan OK ikut tur wisata ini ialah selain karena kewajiban Ane mendampingi anak-anak juga karena obyek wisata yang dituju cukup menarik dan Ane sendiri pun belum pernah mengunjunginya. Ya, obyek wisata tersebut bernama Pantai Sari Ringgung yang terletak di Desa Sidodadi Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran. Kalau masalah tempat wisata yang ada di Provinsi Lampung, Ane banyak yang tahu sob secara inikan tanah kelahiran Ane dan juga hobi namun selama ini Ane banyak menghabiskan waktu di kota Yogyakarta sehingga banyak tempat-tempat wisata yang belum Ane jamah.



Selain Pantai Sari Ringgung, Provinsi Lampung memiliki banyak obyek wisata yang sangat menarik diantaranya Pulau Pahawang, Pulau Kelagian, Teluk Kilauan, Way Kambas, Gunung Krakatau dan sebagainya. Sebenarnya Ane ingin mengunjungi semua itu, tapi berhubung temanya One Day Tour maka Pantai Sari Ringgunglah yang dipilih mengingat jarak tempuh dari Kota Bandar Lampung tidaklah jauh. Ada apa saja ya yang tersuguh disana?
Selepas mengunjungi Museum Negeri Lampung "Ruwa Jurai", bus yang kita tumpangi melesat menuju ke Pantai Sari Ringgung. Hari masih pagi sekitar pukul 09.15 dan hari ini juga adalah hari Jum'at, itu artinya kita bakalan mendirikan shalat Jum'at disana. Iyes, konon katanya di Pantai Sari Ringgung ini ada Masjid Terapungnya dan jamaahnya itu ada yang pernah datang dari luar negeri, dalam hati berkata "Kayaknya asyik tuh kalau nanti pas Shalat Jumat ada di Masjid Terapung tersebut".



Dalam perjalanan menuju lokasi dan dibarengi oleh rasa penasaran yang ada, dalam hati bertanya-tanya,"seperti apakah pantai ini, apa seperti pantai-pantai kebanyakan di Jawa bagian Selatan, di Jawa bagian Utara, ataukah seperti pantai-pantai yang ada di Pulau Bali? Ada apa saja disana dan daya tarik apa yang ditawarkan olehnya?". Tepat pukul 10.15 WIB sampailah kita di obyek wisata yang kita maksud yakni Pantai Sari Ringgung. Jadi, dari Museum Lampung menuju Pantai Sari Ringgung dibutuhkan waktu sekitar 1 Jam saja. Sebelum benar-benar memasuki area utama Pantai Sari Ringgung, kita diharuskan untuk membayar tiket masuk terlebih dahulu di Tempat Penarikan Retribusi (TPR). Untuk besarannya Ane kurang mengetahui secara pasti karena semua biaya akomodasi dan masuk obyek wisata sudah ditanggung oleh EO. Tak lama kemudian, kini rasa penasaran itu akhirnya terjawab sudah. Owalah seperti ini tow pemandangannya.



Turun dari bus, namanya juga peserta orang banyak jadi mulai berpencar. Ada sebagian orang langsung menuju ke kamar kecil untuk mandi dan beberes diri, ada sebagian lagi yang langsung menuju ke pantai, dan bahkan ada juga sebagian lainnya yang lebih memilih berada disekitar bus saja. Lalu Ane? Rugi dong sob kalau jauh-jauh dari Kabupaten Mesuji kesini cuman duduk-duduk manis saja disekitaran bus yang Ane tumpangi. Ane bersama adik Ane jalan-jalan menuju pantai dan mengeksplorer semua sudut yang ada disini.



Pantainya berpasir putih, cukup bersih dengan garis pantai yang cukup panjang. Meskipun hari ini adalah hari Jum'at tetapi wisatawan yang datang sangatlah ramai bak seperti cendol. Wajar saja, pantai ini cukup epik dan memiliki pemandangan yang sangat menarik. Pemandangan pertama yang cukup membuat Ane kagum adalah keberadaan sebuah Masjid Terapung di tengah laut, sekarang Ane percaya kalau Masjid Terapung itu memang benar-benar ada dan tidak berdasarkan katanya.



Tak kalah menarik, ditengah-tengah laut terlihat disana sebuah pulau yang ntah apa namanya tetapi ku ingin menginjakkan kaki disana. Lengkap sudah pemandangan yang ada, keberadaan bukit-bukit yang mengalur menjadi background daripada pantai Sari Ringgung ini. Tiba-tiba "Ayok mas nyeberang naik perahu 250 ribu saja", terdengar suara seseorang menawarkan jasa penyeberangan. "Nanti dulu Pak, kita ingin jalan-jalan saja di sekitar pantai", balasku. Jujur saja, ingin sekali rasanya Ane menyeberang ke pulau itu menggunakan perahu tapi nanti dulu kita kan rombongan siapa tahu diantara sahabat-sahabat rombongan ada juga yang mau menyeberang kesana. "Yasudah mas 200 saja", ucap bapaknya kembali. Nampaknya bapak ini gigih banget ingin Ane dan Adik Ane menggunakan jasanya.



Merasa harga yang ditawarkan oleh bapaknya cukup murah, Ane tergoda untuk menyeberang kesana namun Ane menjelaskan kepada beliau bahwa Ane memberitahu dulu kepada sahabat-sahabat rombongan tentang ini dan jika jadi Ane bisa menghubunginya kembali. Mulailah Ane bersama adik Ane mencari sahabat-sahabat kita. Ternyata sahabat-sahabat kita ada di sebuah pondokan pinggir pantai, letaknya berada tepat didepan prosotan tong air tumpah. Ya, Pantai Sari Ringgung ini memiliki fasilitas bermain yang cukup lengkap sob diantaranya banana boat, kano, JetSki, dan peralatan snorkling. Terlihat kebanyakan yang bermain air adalah anak-anak, kalaupun orang dewasa ya yang sedang mendampingi anak-anak mereka bermain.



Ane masih keukeuh ingin menyeberang ke pulau seberang dan sepulang dari sana nanti jum'atan di Masjid Terapung. Awalnya sahabat-sahabat rombongan tak ada yang mau menyeberang, yasudah Ane ikut mereka bersantai-santai di pondokan. Sekitar 10 menit kemudian, datanglah seorang laki-laki yang terbilang masih muda menawarkan jasa penyeberangan ke pulau seberang. Awalnya meminta 250 ribu, tapi Ane berbisik-bisik kepada Pak Dwi selaku Kepala Sekolah bahwa dengan 200 ribu pun kita sudah bisa menyeberang. Alhasil terjadi kesepakatan harga antara kita dengan mas tersebut yakni 200 ribu. Pak Dwi menawarkan kepada kita semua apakah mau menyeberang atau tidak dengan harga tersebut. Bak Gayung Bersambut, Ane langsung menyetujuinya dan satu dua sahabat-sahabat lainnya Ok. Alhasil Pak Dwi memerintahkan kepada Ane untuk mengakomodirnya.



Mas nya mengatakan kepada kita kalau muatan perahunya maksimal 12 penumpang dan tidak lebih. Oke, dengan cepat Ane mengakomodirnya ternyata yang ikut dalam perahu tersebut pas 12 orang sudah termasuk Ane, Pak Dwi dan adik Ane. Selain itu Pak Likin, Bu Yani beserta suaminya, Bu Reky beserta suaminya, Bu Eni beserta temannya, dan Pak Marijan beserta isterinya. Sebenarnya ada dua lagi yakni anaknya Ibu Yani dan Ibu Reky, tapi oleh supirnya tidak masuk dalam hitungan. Iyalah, lawong anak masih berusia dibawah 7 tahun masa masuk hitungan.



Setelah membayar sejumlah uang sesuai dengan kesepakatan kita, kita berdua belas naik perahu. Kata masnya pulau seberang yang akan kita tuju adalah Pulau Tegal Mas. Saat menuju kesana, kami melewati Masjid Terapung. Mula-mula ombaknya tidak terlalu besar, namun lama-kelamaan ombaknya menjadi tambah besar. Didalam perahu kita bergurau dan bercanda dengan berbagai macam candaan. Dilihat dari garis pantai, Pulau Tegal Mas ini cukup dekat tetapi pada kenyataannya ketika kita sambangi ternyata cukup jauh juga. sesampainya di Pulau tersebut apa sahabat-sahabat yang terjadi? kita tak bisa menginjakkan kaki disana dan hanya melihat dari dekat saja.



Bergaya dulu biar kekinian
"Kalau kita ingin menginjakkan kaki disana, kita harus membayar terlebih dahulu dengan besaran biaya masuk 40 ribu perorang", celetuk mas supir. Kita rombongan rembukan dan akhirnya kita memutuskan untuk tidak masuk ke Pulau Tegal Mas tersebut. Ane mah oke-oke saja, tapi kalau sahabat-sahabat yang lain bilang tidak mau lantas mau bagaimana lagi? Ibarat kata nieh ya sob ada seorang gadis cantik di Kafe sendirian, namun tak bisa diajak kenalan rasanya itukan kecewa. Tapi tak apa-apalah, kalau begitu Ane mau bercerita sedikit tentang pulau ini berdasarkan apa yang Ane lihat.


Pulau Tegal Mas


Pulau Tegal Mas tidaklah terlalu besar namun mempunyai pemandangan yang cukup eksotis, dua buah bukit menjulang keatas dengan di garis pantainya berdiri cottage-cottage cantik. Seru sepertinya kalau main kesitu, tapi apa boleh buat. Mungkin nanti kalau datang kesini lagi, bisa menginjakkan kaki di situ. Waktu menunjukkan pukul 11.40 dan hari ini adalah hari Jum'at, untuk itu tak lama kita memandangi Pulau Tegal Mas tersebut dan segera kembali ke pantai namun shalat Jum'at terlebih dahulu di Masjid Terapung.


Ini nieh penampakan masjid terapungnya

20 menit kemudian sampailah kita di Masjid Terapung ini, yang laki-laki masuk kedalam masjid sedangkan yang perempuan menunggu di teras. Setidaknya rasa kecewa kita terobati karena bisa menginjakkan kaki disini. Masjid Terapung ini benar-benar terapung namanya Masjid Terapung Al-Aminah. Merasakan Shalat Jum'at di masjid ini menjadikan pengalaman Ane yang tak terlupakan. Namanya saja terapung, selama berada didalam masjid yang Ane rasakan adalah mak yut, yut, yut, yut seperti terbawa oleh gelombang laut serta terdengar suara mak kretek, kretek, kretek, kretek. Pokoknya asyik deh sob. Nah, kalau sobat penasaran dengan apa yang Ane rasakan sobat bisa datang langsung kesini.




Kondisi didalam masjid
Shalat jum'at sudah usai, setelah mengambil gambar dan mengabadikan moment seperlunya kita menaiki perahu lagi guna menuju pantai kembali. Sesampainya di pantai, jarum jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB, Segera kita makan, beberes, dan sebagainya selanjutnya kita melanjutkan perjalanan berikutnya. Merasa penasaran dengan murid-murid Ane, Ane bertanya kepada salah satu dari mereka. Ternyata mereka menikmati Pantai Sari Ringgung ini dengan cara menaiki sebuah bukit "Krakatau View".



Tidak apa-apalah yang paling penting mereka senang. Sebenarnya Ane juga ingin menuju kesana, tapi apa boleh buat waktu yang tidak memungkinkan sehingga setelah makan dan beberes kita go ke tempat berikutnya. Tempat apakah itu? yakni Transmart Lampung yang konon katanya ada sebuah menara eiffel mini.
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me