Sabtu, 25 Juli 2020

Taman Faiz Way Sido, Sensasi Menikmati Flying Bike di Tulang Bawang Barat

"Seorang anak yang tumbuh mulai menginjak remaja namun cukup mempesona", Ane fikir itulah sebuah kalimat yang pantas disematkan kepada salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Lampung ini. Ya kabupaten tersebut bernama Tulang Bawang Barat atau biasa di singkat dengan Tubaba. Bagaimana tidak, kabupaten yang baru berumur 12 tahun ini dan merupakan pemekaran dari Kabupaten Tulang Bawang telah berhasil mencuri perhatian baik dari warga kabupaten itu sendiri maupun luar kabupaten, tak terkecuali dengan Ane.

Mungkin belum banyak orang yang mengenal tentang kabupaten ini. Kabupaten yang dahulu di pandang sebelah mata, kini mulai diperhitungkan di Provinsi Lampung terutama di kawasan bagian utara. Bahkan kabupaten yang sebelumnya telah ada saja terbilang kalah dengan pamornya. Dalam catatan ini, Ane ingin berbagi pengalaman tentang kunjungan Ane di Tubaba bersama Sang Adik.

Kita asli putra daerah, lahir di bumi yang berjuluk "Sang Bumi Rua Jurai". Namun begitu sebelum berkunjung ke Kabupaten Tubaba ini, Kita tetap mempersiapkan segalanya termasuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang keamanan disana. Kita sadar betul bahwa bumi kelahiran kita ini dikenal luas akan keamanannya yang terbilang buruk, berita kasus pembegalan seolah-olah tak bisa lepas dari bumi ini. Ini sepenuhnya tidak salah, tapi juga sepenuhnya tidak benar. Ada wilayah Lampung yang memang benar-benar aman, tetapi ada juga wilayah Lampung yang memang sangat rawan akan kejahatan. Tapi khusus untuk wilayah Tulang Bawang Barat ini tergolong aman dan terkendali, walaupun begitu persiapan yang matang adalah hal yang tetap wajib kita lakukan.

Kita mengawali rencana perjalanan ini dengan membuat list tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi, kemudian membuat rutenya agar efektif dan efisien dalam memanfaatkan waktu, memperhitungkan waktu yang kita punya, hingga biaya yang kita perlukan. Berhubung rumah kita dengan Kabupaten Tubaba yang akan kita kunjungi tidak terlalu jauh sekitar 95 Km, maka kendaraan yang kita pakai adalah sepeda motor roda dua. Ya punyanya kita ya hanya itu, coba kalau punya kendaraan roda 4 pasti ya Ane gunakan, hehehe. Sepeda motor roda dua yang Ane punya ini berumur cukup tua sekitar 11 tahun namun soal kemampuan Ane tak perlu meragukannya lagi. Rekor tertinggi sudah dua kali Ane gunakan dalam perjalanan Mesuji - Wonosobo, Kota Agung (PP) yang berjarak kurang lebih 275 Km dan sampai sekarang tak ada masalah dengannya.

Kita sengaja melakukan perjalanan sepagi mungkin, ini biasa Ane lakukan saat akan menempuh perjalanan yang cukup jauh. Udara masih segar walau terasa dingin, badan dalam kondisi prima, fikiran jernih sehingga bisa berkonsentrasi selama dalam perjalanan. Rencana awal Ane berangkat pukul 05.15 setelah melakukan ibadah shalat subuh, Tapi apalah daya waktu menjadi ngaret karena Ane harus menunggu adik Ane terlebih dahulu untuk bersiap-siap, maklum cewek jadi persiapannya ya cukup ribet. Hingga akhirnya tepat pukul 05.49 WIB setelah berpamitan kepada kedua orang tua, kita berangkat menuju TeKaPe.

Perjalanan ini memakan waktu sekitar 3 jam (termasuk beli batu kamera dan sarapan pagi). Kita tiba pukul 08.55 WIB, adapun obyek wisata yang pertama kita datangi adalah Taman Faiz yang beralamatkan di Tiyuh (desa) Way Sido, Kecamatan Tulang Bawang Udik, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung. Kita sempat ragu apakah benar tempat yang kita datangi ini benar-benar sebuah tempat yang kita maksud? Pasalnya secara penampilan terlihat dari depan hanya berupa sebuah toko yang cukup sederhana. Tapi kita yakin bahwa disinilah tempat yang kita maksud, karena di bagian depan samping kiri toko tersebut terdapat sebuah tulisan penjelasan berbunyi "Taman-Faiz Way Sido Kalipengacaran". Kalau begitu

Sebuah toko yang menjadi pemandangan pertama yang kita lihat
 
Pintu masuk Taman Fiz Way Sido, ada di sebelah kanan toko
 
"Lalu dimanakah letak pintu masuknya?", tanya Ane dalam hati.

Setelah memperhatikan dengan seksama ternyata pintu masuknya ada di sebelah kanan toko tersebut. Tepat sebelum pintu masuk terdapat loket pembayaran, terpampang dengan jelas tarif tiket masuknya. 

Harga tiket masuk Taman Faiz:

Hari Senin - Jumat   : 10k/orang

Hari Sabtu dan Minggu: 15k/orang

Sepertinya tarif ini belum lama berubah karena dalam tiket tersebut tarif lama diganti dengan tarif yang baru hanya menggunakan sebuah pulpen. Pintar juga ini pengelolanya, apalagi moment ini bertepatan dengan hari libur sekolah jadi ya tepat. Untuk 2 orang dan sebuah sepeda motor, uang yang harus kita keluarkan sebesar 33k.

Tiket sudah ada di tangan. Motor sudah kita parkir, kini saatnya Ane bersama adik Ane menjelajah taman ini hingga ke sudut-sudutnya. Kesan pertama Ane saat melihat taman ini adalah tempat yang cukup rapi dan bersih. Gazebo - gazebo dengan berbagai macam bentuk berdiri menyapa setiap pengunjung yang datang. Namun sayang, belum ada pengunjung yang datang sama sekali, sepertinya Ane bersama adik Ane merupakan pengunjung yang datang pertama kali. Maklum, menurut informasi yang Ane dapat Taman Faiz ini buka dari pukul 09.00 WIB hingga 17.00 WIB. Sementara Ane bersama adik Ane masuk kesini tepat pukul 09.00 WIB.

Konsep Jalan setapak yang terbuat dari paving block bercatkan warna biru muda bercorak bunga menemani setiap langkah para pengunjungnya. Ane cukup kagum dibuatnya, pengelolaan Taman Faiz ini benar-benar serius dan tak main-main. Konsep pembangunannya patut diacungi jempol, berusaha memanjakan setiap pengunjung yang datang. Setiap spot cocok untuk berfoto bersama keluarga. Ane fikir cukup instagramable.

Ada patung spot gajah

Konon kata adik Ane, ini namanya spot love love. Ane hanya manggut - manggut saja. Repot urusannya kalau cewek berbicara itu di bantah,😆😆😆

Berbagai fasilitas permainan anak-anak tersedia disini mulai dari kincir angin bertarifkan 10k/10 menit, kereta mini, kolam pemandian bola bertarifkan 5k/anak, kolam renang untuk anak SD bertarifkan 10k/anak, ayunan, perosotan dan lain sebagainya. Lalu untuk orang dewasa? Tak perlu khawatir karena Taman Faiz ini sudah lumayan lengkap fasilitas permainannya, untuk orang dewasa bahkan bisa juga untuk anak-anak bisa menyewa perahu bebek dan sejenisnya jika ingin sekedar keliling-keliling di sekitaran kolam. Biaya sewanya 20k/perahu selama 20 menit. 1 perahu bisa diisi maksimal 6 orang.

Ane tertarik untuk mencoba salah satu permainan yang tersedia yaitu Flying Bike (sepeda terbang). Dengan membayar 10k, Ane sudah bisa menikmati fasilitas permainan ini. Tak ada durasi waktu yang di patok, namun cukuplah waktu 10 menit bagi Ane untuk menikmatinya. Awalnya sempat ragu-ragu, walau dalam tubuh Ane sudah terpasang sabuk pengaman.

Yang penting bergaya dulu, urusan berani tidak berani itu belakangan!

"Tenang mas tidak apa-apa, tidak kalau jatuh", suara seorang petugas berusaha meyakinkan Ane. 

"Ah, toh kalau jatuh kan di air, bukan di tanah. jadi tak jadi masalah", fikirku.

Penyeberangan dimulai. Dikit demi sedikit sepeda Ane kayuh hingga di tengah-tengah. Tapi tetap saja saat berusaha keras untuk sampai ke ujung ada perasaan ragu-ragu, rasanya ituloh mantul-mantul. Yasudahlah sampai ditengah-tengah saja. Begitu juga dengan adik Ane rasa ragu-ragu dan khawatir menyelimutinya, tak bisa Ia sembunyikan. Terlihat dari mimik mukanya yang kelihatan gelisah tapi gembira. Maklum, Ia tak bisa berenang, jadi Ane harus siap siaga juga kalau - kalau dia jatuh ke bawah. Dia juga hanya sampai ditengah saja tanpa melanjutkan sampai di ujung.


Kalau kesini hanya jalan-jalan saja tak jadi masalah. Melihat-lihat seluruh area taman, ada berbagai macam bunga yang diletakkan didalam terowongan, beberapa hewan seperti monyet yang ditempatkan di dalam kotak yang menyerupai bentuk rumah, atau hanya sekedar duduk-duduk saja diatas kursi terbuat dari betonan di pinggiran kolam. Rindangnya pepohonan membuat suasana di Taman Faiz ini begitu teduh. Terlebih gazebo-gazebo tersebar hampir di semua bagian taman, cocok bila untuk bersantai sejenak kabur dari rutinitas sehari - hari cukup membosankan.

Kira - kira kapan ya bisa berkeliling indonesia?

Duh mumete!

Tak perlu khawatir perut akan keroncongan, karena terdapat beberapa kafe dan warung makan yang menjajakan makanan. Tinggal siapkan saja uangnya. Namun sayang, saat ini hanya beberapa saja yang buka, hal ini mungkin karena Taman Faiz ini belum lama buka pasca Pandemi Korona Covid-19 atau memang belum sepenuhnya warung dan kafe tersebut beroperasi. Ah, ntahlah. Selain itu beragam fasilitas pendukung terbilang cukup lengkap diantaranya ada tong sampah, kamar kecil yang ditempatkan di setiap pojokan taman dan sisi kanan (barat) tempat parkir, bahkan terdapat live song music yang dibawakan oleh penyanyi lokal.

Hari sudah semakin siang, Ane putuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke obyek wisata selanjutnya.

Cara Menuju ke Taman Faiz Way Sido Tubaba:

Tugu Selamat datang ini akan sobat lewati sebelum sampai di Taman Faiz nya

Dari Jalan Lintas Sumatera (tepatnya di Pertigaan Desa Gunung Batin Ilir), belok kearah barat (Kiri dari arah Kota Bandar Lampung atau kanan dari arah Kota Palembang) melalui Jl. Way Abung lurus terus hingga kurang lebih 16,3 Km menemukan Pasar Daya Murni. Maju sedikit ada perempatan.

Tepat di pojok barat laut perempatan tersebut terdapat sebuah masjid bernama Masjid Agung Al-Mustaqim. Beloklah kearah kanan (utara), maju sedikit di sebelah kanan terdapat Kantor Polsek Tulang Bawang Udik. Berarti sobat sudah berada di jalan yang benar. Lurus terus ikuti jalan ini sejauh 4,8 Km hingga menemukan Alfa***t Kartaraharja yang berada di pojok utara pertigaan. 

Sampai disini, beloklah kearah kiri (selatan) sejauh kurang lebih 3 Km hingga sobat membaca papan nama bertuliskan Taman Faiz yang sobat maksud. Letaknya ada di sisi kanan (barat) jalan.

Let's Go

Senin, 29 Juni 2020

Mie Ayam Koga, Inilah Mengapa Begitu Legendaris dan Terkenal di Lampung

Dari sekian banyak warung makan mie ayam yang ada di Bandar Lampung, ada salah satu yang berhasil menarik perhatian Ane sob yakni Mie Ayam Koga karena dalam papan nama tersebut tercantum sebuah tulisan "sejak 1978". Tulisan ini seolah-olah ingin menjelaskan kepada siapa saja yang melihatnya bahwa mie ayam ini sudah lama berdiri dan tak perlu di ragukan lagi soal cita rasa yang ditawarkannya. Memang iya sob, berdasarkan dari pengalaman Ane yang sudah-sudah biasanya kalau warung makan yang sudah lama berdiri itu soal rasa memang benar-benar jos. Pokoknya oke punya lah.


Kondisi Warung Mie Ayam Koga tampak depan
Tapi Ane tidak langsung mampir ke warung ini begitu saja, karena pada sore itu niatan Ane hanya ingin makan di Nasi Uduk Toha. Berhubung rasa penasaran Ane cukup dalam, maka setelah berkunjung ke Nasi Uduk Toha selanjutnya Ane menuju kesini. Loh Nis, apakah masih muat tuh perut? Nah begini sob, kebetulan jarak antara Warung Nasi Uduk Toha dengan Mie Ayam Koga ini terbilang cukup lumayan, ya sekitar 2 Km serta dalam perjalanan itu ada sebuah tempat menarik untuk disinggahi sebentar yakni Taman Tugu Juang sehingga sebelum menuju ke Warung Mie Ayam Koga Ane terlebih dahulu main-main di Taman Tugu Juang ini. Lumayan sambil menikmati sorenya Kota Bandar Lampung, kalau-kalau ada yang nyantol, eh. Baru setelah agak malam Ane berkunjung ke Mie Ayam Koga ini sambil menuju perjalanan pulang ke penginapan.

Suasana Taman Tugu Juang saat sore menjelang malam hari
Warna-warni lampu hias yang aduhai cantiknya menghadirkan suasana yang romantis

Dari Taman Tugu Juang menuju Mie Ayam Koga ini Ane tempuh dengan berjalan kaki sob, awalnya sieh sempat ragu-ragu dan berfikir naik ojek online saja. Akan tetapi jaraknya yang tak begitu jauh bagi Ane sekitar 1,8 Km serta ditunjang dengan hobi Ane yang memang suka berjalan kaki jadi ya tak masalah, hitung-hitung olahraga malam. Tepat pukul 8 malam sampailah Ane di TeKaPe. Mie Ayam Koga yang Ane datangi ini berlamatkan di Jl. Teuku Umar No. 48 Kedaton Bandar Lampung, berseberangan dengan Pasar Koga yang letaknya tidak terlalu jauh. Inilah mengapa mie ayam ini dinamakan dengan Mie Ayam Koga.
Sebenarnya Warung Makan Mie Ayam Koga ini sudah membuka 2 buah cabang di Kota Bandar Lampung, diantaranya di Tansmart Lampung yang beralamatkan di Jl. Sultan Agung Way Halim dan di Lampung Walk yang beralamatkan di Jl. Urip Sumoharjo. Berhubung disini awal mula mie ayam ini ada serta tak sengaja menemukan papan namanya yang berhasil membuat Ane penasaran sehingga tempat inilah yang Ane pilih.
 

Warung makannya tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu sempit, berupa ruko yang memang berdiri diantara ruko-ruko lainnya. Menurut Ane warung makan ini tidak mengutamakan penampilannya dan itu tak masalah bagi para pengunjungnya, tetapi lebih mengutamakan cita rasa. Hal ini terlihat dari pengunjungnya yang datang cukup ramai menempati tempat duduk yang sudah dipersiapkan yakni sistem meja dan kursi. Kalau sobat datang kesini jangan memilih lesehan ya sob karena disini tak ada tempat duduk berupa lesehan. Tapi soal keamanan jangan khawatir karena Warung Makan Mie Ayam Koga ini sudah dilengkapi dengan CCTV baik untuk memantau area dalam ruangan maupun luar ruangan.


Nih kan sob, ada CCTV nya!
Tak ingin berlama-lama melihat setiap detail sudut ruangan, lalu Ane bergegas menuju ke salah satu tempat duduk yang masih kosong. Tak lama kemudian salah seorang pelayannya mendatangi Ane dengan membawa daftar menu. Ada 2 jenis menu yang ditawarkan yaitu menu makanan dan menu minuman. Ane kira warung makan ini hanya menjual menu makanan mie ayam saja dengan berbagai macam variasi olahan, ternyata Ane salah. Selain mie ayam itu sendiri ada berbagai jenis olahan menu makanan lainnya yang ditawarkan diantaranya ada kwetiau, bihun, Cap Cay, bakso, pangsit bahkan nasi goreng.


Namun sayang, tak ada daftar harga yang dicantumkan dalam daftar menu ini yang ada hanyalah gambaran menunya saja dan penegasan kembali bahwa Mie Ayam Koga ini adalah mie ayam No. 1 di Lampung dan untuk kehalalannya di jamin 100% Halal.

Sedangkan untuk menu minumannya ada beraneka macam Es seperti Es Teler, Es Cincau, Es Kacang Merah, Es Shanghai, dan Es Markisa Mutiara; berneka macam jus; dan juga berneka macam kopi seperti kopi hitam, kopi susu, dan Es Coffee Jelly.


Karena menu utama yang spesial disini adalah mie ayam, tentu pilihan Ane jatuh pada mie ayam. Adapun untuk minumannya, Ane memilih es jeruk manis. Tak perlu menunggu lama, pesanan pun datang. Segelas Es jeruk manis, acar timun, semangkok mie ayam dan ada yang berbeda. Tak seperti mie ayam pada umumnya, mie ayam ini disajikan berbarengan dengan semangkok sup tulang ayam. Apakah ini sudah termasuk dalam harga semangkok mie ayam ataukah dihargai terpisah? ntahlah, yang jelas tak sabar rasanya Ane untuk segera mencicipinya.


Ngeksis dulu sebelum makan, mari!
Sekilas mie ayam ini tampak biasa-biasa saja tak ada bedanya dengan mie ayam pada umumnya. Semangkok mie ayam berisi mie dengan tekstur yang lebih kecil dibandingkan dengan mie ayam pada umumnya, cincangan daging ayam, selada, dan pangsit. Lalu bagaimanakah dengan rasanya? Ane Mulai dari kuahnya terlebih dahulu, sruput, sruput, sruput, hmmm rasanya itu cukup gurih dan nikmat. Khas bangetlah pokoknya, bahkan saking nikmatnya nieh ya sob kali ini Ane makan mie ayam tanpa saos dan kecap. Kalau sambal mah masih tetap pakai.



Berlanjut ke mienya, hulala ternyata terasa lembut banget di mulut, kekenyalan pun tak terasa sama sekali seperti kebanyakan rasa mie ayam pada umumnya. Semakin penasaran saja Ane pada cincangan daging ayamnya. Bagaimanakah rasanya? Hola, dagingnya juga tak kalah lembutnya. Lengkap sudah lezatnya dengan kehadiran selada, pangsit dan sop tulang ayamnya. Tak heran bila Mie Ayam Koga ini selalu saja ramai pengunjung, ini Ane saksikan sendiri mulai dari awal kedatangan Ane hingga mau pergi ada saja pengujung yang datang. Untuk itu

Tak habiskan semuanya, kecuali acar timun, bongkahan es, dan tulang ayam yang keras ☺
Puas menikmati semuanya, kini giliran Ane untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan Ane tersebut. Seporsi mie ayam dan segelas es teh manis dihargai sebesar 41k. Didalam struk ini tidak tercantum semangkok sup tulang ayam, berarti semangkok sup tersebut sudah termasuk dalam seporsi mie ayam. Pantas saja seporsi mie ayam dihargai sendiri sebesar 24k, lebih mahal memang bila dibandingkan dengan harga mie ayam pada umumnya, namun sepadan dengan rasa yang ditawarkannya.


Bagaimana sob, penasarankah dengan rasanya? kalau penasaran, silahkan sobat datang langsung ke Mie Ayam Koga ini.

Jam buka: Setiap hari dari Pukul 09.00 WIB hingga Pukul 21.00 WIB.
Sampai Jumpa!
Let's Go

Kamis, 28 Mei 2020

Nasi Uduk Toha Bandar Lampung, Pulen dan Lezat

Hay, hay, hay, Apa kabar? gimana nieh sob kabarnya? semoga baik-baik saja ya walau saat ini kita masih diuji oleh Sang Maha Kuasa karena adanya Covid-19 ini. Mudah-mudahan keadaan ini segera berakhir dan kita bisa menjalani kehidupan seperti sediakala, Amiiieeen. Kali ini Ane mau menceritakan perjalanan kuliner Ane nieh sob di salah satu Kota di negara tercinta kita ini yakni Bandar Lampung.
Apa yang terlintas pertama kali di benak sobat ketika mendengar kata nasi uduk? nasi yang di masak dengan santan kelapa, daun salam, dan serai, ataukah sobat langsung beranggapan kalau nasi uduk tersebut cocok bila disantap dengan menggunakan sambal. Oke, Kalau begitu anggapan kita sama sob. Nah, Di Kota Bandar Lampung ini (kebetulan Ane sedang berkunjung kesini) konon katanya ada sebuah rumah makan yang cukup terkenal karena masakannya yang lezat. Rumah Makan tersebut bernama Nasi Uduk Toha.


Setidaknya ada tiga buah tempat yang tersebar di Kota Bandar Lampung yang bisa dikunjungi oleh para pengunjung untuk bisa merasakan kelezatan dari nasi uduk ini, yaitu:
1. Jl. Kartini No. 156 Tanjung Karang;
2. Jl. Pangeran Antasari No. 96 Tanjung Karang; dan
3. Jl. Diponegoro No. 98 Teluk Betung
Dari ketiga buah tempat tersebut, Nasi Uduk Toha yang beralamatkan di Jl. Kartinilah yang menjadi pilihan Ane. Mungkin karena tempat ini yang menjadi cikal bakal berdirinya rumah makan ini sehingga menarik perhatian Ane untuk berkunjung.
Rumah makan ini terletak di pinggir jalan utama sehingga mudah untuk ditemukan. Bila dari Terminal Rajabasa, lurus terus kearah selatan sejauh kurang lebih 7 Km. Berhubung terletak di jalan searah menuju utara, maka sesampainya di Tugu Juang tidak serta merta bisa langsung menuju ke arah selatan akan tetapi harus putar dahulu melalui Jl. Kota Raja, Jl. Radin Intan, dan Jl. Jenderal Ahmad Yani. Kalau sobat bingung, dari Terminal Rajabasa naik bus kearah selatan, sesampainya di Tugu Juang mintalah untuk berhenti.

Suasana Tugu Juang Bandar Lampung saat sore menjelang malam hari
Selanjutnya sobat bisa meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki kearah selatan kurang lebih sejauh 350 meter. Sampai dah, Nasi Uduk Toha ini terletak di sebelah kiri jalan jadi tak perlu lagi menyeberang jalan. Kalau mau lebih praktis lagi, silahkan sobat naik saja ojek online yang seperti Ane lakukan ini. Sudah banyak kok ojek online yang bertebaran di Kota Bandar Lampung mulai dari Gojek, Grab, hingga maxim. Berhubung saat Ane berkunjung, ojek online maxim lebih murah dibandingkan dengan keduanya jadi ya Ane menggunakan maxim saja. Selisih 2 ribu, 3 ribu lumayan kan sob bisa buat beli es teh :-)
Rumah makannya cukup besar, Ane perkirakan dapat menampung sekitar 70 orang dengan meja dan kursi yang tersusun cukup rapi. Terlihat para pelayannya yang didominasi oleh kaum pria sedang sibuk melayani para tamunya yang datang, ntah itu untuk dimakan di tempat atau di bawa pulang. Pelayannya terbilang cukup rapi dan ramah, memakai seragam warna oranye. Di sela - sela kesibukannya, mereka menyapa kepada setiap pengunjung yang datang tak terkecuali dengan Ane bahkan masih sempat-sempatnya mengajak Ane untuk bercanda.

Suasana Rumah Makan Nasi Uduk Toha saat itu
Suasana tempat duduk yang ada di bagian sisi belakang
Gayanya boleh juga mang, narsis abisss!
"Mau makan pakai apa mas?", tanya salah seorang pelayannya kepada Ane. Tentu kalau sudah masuk kesini tanpa ditanya mau makan apa jawabannya pastilah nasi uduk. Pertanyaan ini langsung to the point kepada lauk-pauknyanya. Ane cukup bingung karena ada banyak pilihan lauk-pauk yang dapat Ane pilih diantaranya ada tahu tempe, telur ayam, ayam, ati ampela, bahkan petai. Kalau mau diapakan tergantung Ane maunya seperti apa. fikir punya fikir akhirnya pilihan Ane jatuh pada ati ampela serta petai goreng.


Setelah pesan, Ane langsung mengambil salah satu tempat duduk. Tak ada tempat duduk berupa lesehan, yang ada hanyalah sistem meja kursi saja. Begitu duduk, salah satu pelayannya menghampiri Ane dengan membawakan menu pendamping diantaranya emping melinjo; lalapan berupa potongan buah mentimun, sawi selada, dan potongan buah tomat; air untuk mencuci tangan; serta segelas teh hangat. Awalnya Ane kira kalau yang dibawa ya nasi uduknya, eh ternyata bukan.


Baru kemudian menu utamanya yang datang yakni sepiring nasi uduk yang diatasnya bertaburkan bawang goreng bersamaan dengan semangkok kecil sambal dan ati ampela beserta petai yang digoreng. Lengkap sudah semuanya. Hulala, dari tampilan dan aromanya cukup menggoda apalagi perut Ane dalam keadaan keroncongan. Lalu bagaimana dengan rasanya? apakah biasa-biasa saja ataukah ada sesuatu rasa yang istimewa? sepertinya Ane sudah tak sabar lagi untuk segera mencicipinya. Yuk Sob kita rasakan bersama-sama.

Menu komplit Nasi Uduk Toha
Tampilan Sepiring Nasi Uduk Toha di lihat dari sisi atas
Tampilan Sepiring Nasi Uduk Toha di lihat dari sisi samping
Nyammm, wow ternyata pada kecapan pertama memang ada sesuatu yang berbeda bila dibandingkan dengan nasi uduk pada umumnya. Hmmm, rasanya cukup pulen dan gurih serta nasinya ituloh cukup terasa lembut di mulut, bah pokoknya lezat sekali deh sob apalagi dicocol dengan sambal berbarengan dengan menyantap emping melinjo serta berlalapkan dengan lalapan yang ada. Pokoke "Wuenak Tenan, Le Leduk". Tak henti-hentinya Ane dalam mengecap. Kecapan demi kecapan Ane lakukan hingga pada akhirnya sepiring nasi uduk yang tersaji:

Tak habiskan semuanya, tinggal menu-menu pendamping saja yang masih tersisa
Urusan makan selesai, kini saatnya Ane membayarnya. Ane cukup kaget ketika menerima struknya, seporsi nasi uduk hanya dibanderol 8k saja. Cuman yang lain-lainnya ituloh malahan lebih mahal yakni ati ampela dan petai goreng masing-masing dibanderol dengan harga 10k. Total uang yang harus Ane keluarkan adalah 31k karena ditambah pajak sebesar 10%. Untuk lalapan, emping melinjo dan segelas teh hangat tak dihitung disini mungkin hitungannya sudah masuk dalam paket sepiring nasi uduk.

Daftar harga menu Nasi Uduk Toha ada di dalam struk pembayaran
Yang Mpunya blog Pengen ngeksis dulu biar tidak dianggap hoax, :-)
Gimana cukup ekonomis dan tidak merogoh kocek terlalu dalam bukan? Apakah disini hanya menjual menu nasi uduk saja? oh tidak, selain nasi uduk yang memang menjadi menu andalan disini juga menjual nasi goreng, mie goreng/rebus, dan nasi putih dengan pilihan lauk yang ada sesuka hati pelanggan.
Sesuka hati tidak berlaku untuk jam bukanya, karena Rumah Makan Nasi Uduk Toha ini buka mulai pada sore hari yakni Pukul 16.00 WIB hingga pagi hari yakni Pukul 02.00 WIB. So, jangan salah waktu ya sob biar tidak kecewa. Sampai Jumpa!

Catatan: Kunjungan ke Rumah Makan Nasi Uduk Toha Ane lakukan 
         sebelum adanya Covid-19
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me