Selasa, 19 Januari 2016

Iseng - iseng Mengintip Menu di The House Of Raminten

Kalau sobat orang Jogja pasti tahu dong mengenai tempat makan yang satu ini? eh nggak dink, nggak semuanya. La wong Ane tahu tempat ini saja belum lama. Ketika itu sobat Ane bercerita kalau Ia habis saja makan di tempat ini, namun ketika itu Ane kurang ngeh dan belum ada hasrat untuk mendatanginya. Nah barulah pada bulan - bulan kemarin, setiap kali Ane lewat didepan restorannya selalu saja diherankan oleh kedatangan para pengunjung yang membludak memadatinya. Nggak hanya sekali dua kali saja sob Ane lewat didepannya, tapi berkali - kali.
Semakin lama Ane kok semakin merasa penasaran saja yaw, akhirnya Ane browsing tempat itu dan ternyata The House Of Raminten ini sudah dikenal oleh para pecinta kuliner baik domestik Jogja maupun luar Jogja. Berangkat dari rasa penasaran itulah Ane akhirnya menginjakkan kaki disini.


Cukup dekat tempat ini dari kost Ane, yaw kurang lebih hanya sekitar 3 Km saja. Lalu bagaimana dengan sobat - sobat semua yang ingin berkunjung kesini? Berikut caranya.
Dari ujung utara Jalan Malioboro Jogja, bergeraklah ke arah timur hingga menemukan perempatan lampu merah. Dari sini masih lurus lagi melewati bawah jembatan rel kereta api dan melalui Jl. Abu Bakar Ali hingga mentok menemukan Stadiun Kridosono yang ditandai dengan adanya jalan memutar yakni Jl. Yos Sudarso. Jelas sobat harus mutar kekiri. Nah pada belokan yang kedua, beloklah ke arah kiri (utara) dan lurus terus hingga menemukan perempatan lampu merah yang dipojok kiri perempatan terdapat Toko Buku Gramedia. Dari sini beloklah ke kiri (barat) dan kemudian sobat akan menemukan pertigaan lampu merah. Masih lurus sedikit, sebelum Jembatan Gondolayu sobat akan menemukan belokan ke arah kiri (selatan). Beloklah ke arah tersebut lurus terus hingga sobat akan menemukan tempat makan ini di pojok perempatan sebelah kanan.
Akan lebih mudah lagi bila sobat datang dari Tugu Jogja, tinggal lurus ke arah timur melalui Jl. jenderal Sudirman. Setelah melewati Jembatan Gondolayu, beloklah ke arah kanan (selatan) lurus terus hingga menemukan tempat makan ini di pojok perempatan sebelah kanan.



Kesan pertama ketika Ane memasuki ruangan ini adalah ramai, nuansa jawa yang masih kental dan beraroma bau menyan yang menusuk hidung. Saking ramainya restoran ini mempunyai ruang tunggu tersendiri dengan deretan kursi yang memanjang sehingga begitu datang sobat tak langsung bisa menempati meja makan yang ada. Tapi mendaftar terlebih dahulu ke waiters nya dan pada gilirannya akan di panggil dan sobat bisa menempati salah satu meja makan yang tersedia.


Para pengunjung yang sedang menunggu di ruang tunggu

Ada yang khas disini sob yakni pada para pegawainya. Setiap pegawainya itu memakai seragam semuanya dengan tampilan yang rapi dan apik. Di bagian bawahnya mereka memakai jarik bermotif batik, sedangkan di bagian atasnya memakai kaos putih yang dipadukan dengan rompi berwarna hitam.



Cukup lama sudah Ane menunggunya yaw sekitar 30 menitan. Setelah Ane dipanggil dan di suruh masuk barulah Ane mengerti kenapa kok tadi di waitersnya ditanya orang berapa. Ternyata tempat duduk yang disediakan disesuaikan dengan jumlah anggota yang akan menikmati hidangannya. Ada meja untuk satu atau dua orang, ada yang untuk 3 atau 4 orang, 5 atau 6 orang bahkan ada yang untuk 8 orang. Jadi setiap pengunjung yang hadir dipastikan mendapat tempat duduk yang ada.


Ini bisa ditempati 1 atau 2 orang
Kalau yang ini bisa 3 atau 4 orang
Nah di tempat duduk inilah Ane mulai memikirkan apa - apa saja yang akan Ane pesan. Sebenarnya Ane sudah membaca - baca juga sieh di ruang tunggu tadi, tapi yaw tetap saja masih bingung menu apa yang akan Ane pesan. Soalnya banyak banget sieh pilihan menunya. Ada apa sajakah gerangan di sana?


Tampilan depan sampul daftar menunya
Masih di bagian depan sob
Pertama ada kupat tahu, bubur ayam kelas woro, rawon, Nasi putih polos dan ayam koteka. Ada yang menarik di halaman ini yaitu pada ayam kotekanya. Pada dasarnya ayam koteka ini dibuat dari potongan daging ayam dan telur di taruh di dalam sebuah wadah bambu kemudian di panggang dan disajikan dengan sambal cabai hijau.



Kedua ada sego kucing, sego liwet, sego gudeg, maheso selo gromo, dan sego goreng. Siapa lo yang tidak kenal sego kucing, bahkan bila sobat ke Kota Jogja rasanya kok belum afdol ya kalau belum menikmati makanan yang satu ini. Disini Ane heran sob, kan sekarang rata - rata sego kucing itu harganya sudah 1,5k per bungkus, tapi kok disini masih ada yaw harga 1k saja sudah bisa mendapatkan sebungkus sego kucing yaw walaupun tanpa telor (tante) sih. Keren!



Ketiga ada kremes - kremesan, ayam geprek kremes, sate lilit, sego ijo, pecel raminten, bakmi jawa, cap cay, tempe telur pacikeran, garang asem, dan mangut lele. Dari menu yang ada ini, Ane sempat asing dengan namanya tempe telur pacikeran eh nggak tahunya sama saja dengan penyetan. wokelah. dan satu lagi pada sego ijonya, tapi kok segonya (nasinya) nggak berwarna hijau yaw tapi berwarna yang lainnya. ckckck. Tapi ini dalam gambar sob, ntah ntar kenyataannya.



Sedangkan pada lauknya, ada tempe mendoang, pepes telur asin, pepes ikan tuna, telur asin, tempe krispi, nasi bakar, tahu pong pung, singkong salju dan pas stel. Mendoang? ini salah ketik atau gimana sieh? hmmm nggak tahulah.



Lalu apa saja yang ada disini mengenai minumannya? Pokoknya banyak banget deh minumannya, ada es tenda (terong belanda), Es Kacang Abang, Es carica, es krim, melonkolis, es buah raminten, es krim bakar, es purworukmi, salad buah, es teller, prawan tancep, seger sumyah, ponconiti, dan monster. Disini fokus Ane kok berubah yaw sob pada prawan tancepnya, baru kali ini Ane menemukan menu minuman yang beginian. Ini masalahnya yang baca Ane seorang laki - laki yang normal dan terkadang juga di panggil mbak sieh, hehehe. Tapi yawsudahlah ntar tak pesan ini kayaknya menarik (dengan berfikiran secara liar).



Okelah nggak usah lama - lama ngebahas perawan tancepnya, nanti malah jadi berfikiran yang iya iya. Lanjut ke bagian yang lain, masih tetap di menu minumannya yaw sob dan wow banyak banget minuman yang tersedia. Silahkan di baca sendiri yaw, males Ane menulis satu persatunya. Eh bentar dulu sob, ada satu menu minuman lagi nieh yang sudah tak asing melihatnya (iyaw la wong di atas Ane sudah melihatnya). Ada satu menu minuman yang masih berkaitan dengan perawan loh, yakni susu perawan tancep. Di benak Ane timbul pertanyaan,"terus apa bedanya kalau tidak pakai kata "susu" yaw? kayaknya Ane berganti pilihan ke yang ini. Habis agak gimana gitu.



Masih lagi di menu minumannya, tapi sekarang disebut dengan wedang sob. Sobat suka wedang?, ngopi - ngopi?, beer, atau minuman sehat putih bening? disini ada kok, nggak usah khawatir. Yaw masih tetep ada kata Perawan Tancepnya. Ah jadi males membahasnya.



Terus makanan ringannya ada apa aja sob? Tak mau kalah dengan menu makanan berat dan minumannya, disini juga makanan ringan atau disebut dengan panganan enteng tersedia cukup banyak. Tak mungkin juga Ane disini menulisnya semuanya. Silahkan dibaca sendiri yaw sob.



Lalu apalagi yang tersedia disini? udah, cuman itu saja kok (cuman kok banyak sekali) yang tersedia disini. Sekarang tutup daftarnya, yok kita pulang. Ow iya, Ane belum makan ya? saking seriusnya mikir nieh sob sampai - sampai Ane lupa mau ngapain disini. Okelah, sekarang saatnya merenungkan kembali apa - apa saja yang akan Ane pesan.


Tampilan belakang sampul daftar menunya
Eow iya The House of Raminten ini terletak di Jl. FM. Noto No. 7 Kotabaru Yogyakarta, dekat dengan lokasi Museum Sandi Negara. Kalau ingin tahu juga museumnya, silahkan di klik.
"Loh memang nggak ada pegawainya yang langsung mendatangi setiap para pengunjung kok masih sempat - sempatnya lihat menu per menu dan bisa merenungkan kembali apa - apa yang akan di pesan?", Nah inilah sob yang membuat Ane agak bosan juga, udah aroma bau menyan yang menyengat juga masih juga menunggu mungkin kalau sobat bawa bola, sambil nunggu bisa main bola duluan jadi biar terasa cepat.
Benar sob, kurang lebih 35 an menit Ane menunggunya, barulah sang pegawai menghampiri Ane. Cukup cantik sob, lumayan lah cukup menghibur hati Ane yang kesepian ini. Malah curhat.



Ane kok membayangkan seperti mendreng (maklum ilat jawa) yaw?, ntahlah apa tulisannya, ituloh yang menagih hutang kepada ibu - ibu karena ibu - ibu tersebut berhutang barang dagangan kepadanya. Debt Collector? bukan, bukan yang ini. Mbaknya itu persis seperti itu, lawong di bagian pinggangnya terdapat tas pinggangnya kok. Tapi walaupun begitu mbaknya tetep cantik. Dah, padamu dah mbak, hehe.
Okelah nggak usah di bahas lebih mendalam yaw sob. Nah pada restoran ini menurut Ane cukup unik, karena begitu datang, antri, kemudian masuk kedalam dan menunggu pegawai yang datang serta pembayarannya secara langsung di tempat dimana pengunjung makan.


Dari kesemuanya menu yang ada, akhirnya pilihan Ane jatuh pada sego kucing karena kok masih ada ya? yang seharga 1k saja dan ingin membandingkannya dengan sego kucing yang di jual - jual pada umumnya. Nasi ijo, ini Ane pilih karena sebelumnya Ane belum pernah ngerasainnya, dan ayam koteka dengan keunikan yang sudah Ane bilang di atas sebagai makanannya. Sedangkan pada minumannya Ane lebih memilih jus purworukmi yaw karena pingin aja. Susu Perawan, eh maksudnya susu perawan tancep lain kali saja deh soalnya pas mau pesan mbaknya kelihatan jutek jadi nggak jadi deh. Emang ada hubungannya jutek dengan pesan menunya? enggak sieh. Untuk semuanya Ane harus merogoh kocek 38k saja. Gimana menurut sobat murahkah? relatif lah yaw. Kalau anak kost seperti Ane yaw terbilang lumayan mahal juga.


Menunggu lagi dan menunggu lagi. "Setelah sekian lama aku menunggu", kata bang haji Rhoma, akhirnya datang juga pesanan yang Ane pesan.

Seporsi nasi kucing, nasi ijo dan ayam koteka, lalu minumannya?
Itu dia minumannya
Udah lama - lama menunggu kok nggak narsis? narsis dulu donk biar eksis. Biarin dibilang narsis, noraklah, ndesolah, kan yang penting ku nggak merugikan kamu. walaupun lama menunggu, ku tetap

Acungi jempol
Secara umum menu ini (nyata) miriplah dengan gambar menu yang ada di daftarnya. Pertama pada nasi ijo terdapat nasi yang tentu berwarna ijo (di daftar menunya malah sepertinya warna yang lain) dengan rawon daging sapi di atasnya, irisan telur dadar, keripik singkong, bergedel, dan juga sambal.


Sedangkan pada nasi kucingnya terlihat berbeda sob. Biasanya kan kalau nasi kucing itu di bungkus dengan daun pisang yang beralaskan koran pada bagian luarnya, nah di House of Raminten ini tidak demikian adanya. Dengan adanya sedikit kreasi nasi kucing ini disajikan dengan menggunakan piring yang berbentuk persegi (walaupun nggak persegi - persegi banget sieh). Masalah isinya tow kurang lebih sama apa yang biasanya di jual di angkringan. Jadi dengan hitungan kalau sobat makan 6 buah disini maka Ane rasa akan lebih murah bila dibandingkan dengan di angkringan.


Pemandangan yang berbeda pada ayam koteka nya. Adanya bambu menambah kesan unik tersendiri bagi Ane. Ayam kotekanya disajikan bersama irisan buah tomat, buah mentimun, daun kemangi dan juga sambal.


Dan yang terakhir pada jus Purworukmi yang berisi jus melon, yogurt, topping es krim, dan topping strawberry. Wah pasti sudah nggak kebayang kan enaknya seperti apa?.



Lalu dari kesemuanya itu bagaimanakah dengan rasanya? Yapz, dimulai pada sego ijonya. Walaupun sego (nasi) ijonya berwarna hijau, tapi ya rasa masih sama seperti nasi putih pada umumnya. Begitu pula dengan yang lainnya. Sedangkan pada sego kucingnya, masakannya terbilang cukup enak dan agak berbeda dengan di angkringan. Tapi ada kurangnya yakni nasinya kurang banyak, jangan bilang siapa - siapa yaw, hehehe.
Rasa istimewa menurut Ane timbul dari ayam kotekanya. Rasanya cukup lezat dan Ane menyukainya. La wong nggak enak gimana isinya aja potongan daging ayam dan telur kemudian di panggang. Untuk minumannya sendiri jus purworukmi, kayaknya Ane nggak usah membahas ini lebih mendalam deh sob soalnya yaw enak banget.
Pokoknya secara keseluruhan makanan ini semua "Wuenak Tenan, Le leduk". Tuh buktinya Ane habis semua. Nggak percaya? yasudah.


Dah sampai disini dahulu yaw sob cerita Ane mengenai petualangan kuliner di House of Raminten ini. Pokoknya kalau datang ke Jogja jangan lupa deh mampir kesini, Bukanya 24 jam non stop sob jadi silahkan saja sobat mau datang jam berapapun kesini. Kalau mau ajak Ane, okelah yang penting di gratisin ya, hehehe. Ane mau pulang dulu, apakah mengantri pulangnya? nggak, kalau mau pulang mah pulang aja nggak usah nunggu antrian. Disini boleh nyelonong kok pulangnya, iya lawong sudah bayar di depan. Sampai jumpa.

14 komentar:

  1. wah tempat ini masih menjadi mistis mas buat saya hehe pizz.... waitersnya saja sdh menggoda iman hadeeeh hehe pizz....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha,,, bener juga mas, pokoknya terasa banget deh mas suasananya, antara kejawaan dan kemistikan,,,, Iya loh, mas, sambil nunggu sambil lihat waitersssnya, jadi nggak kerasa nunggu lamanya, hehehehe pizzzzz juga

      Hapus
  2. okey deh postingan mas Anis kali ini selain memang tentang info kuliner, juga sebagai hiburan...asli baca ini senyum2 sendiri, untung ga ada yang lihat...
    jadi penasaran dengan tempat ini dan tentunya tempat2 lain di Jogja, duh kapan ke Jogja....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa iya mbak? lawong yang nulis aja orangnya serius, nggak bisa ngelucu. Walaupun ngelucu jadinya garing. Ah ya syukur mbak, kalau nggak ada orang ntar ndak dikira gimana gitu. Nah disempatkan ke Jogja kak, tempatnya eksotis loh. Ntar tak berkunjung balik dah ke Palembang eh Batam apa Palembang kak? :-)

      Hapus
  3. Beberapa kali ke Jogja, saya selalu gagal ke House Raminten, ngga kuat sama antriannya. Kebetulan pas ke yogya selalu tanggal merah. Dan antriannya ngga nahan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak bener, antriannya panjang banget. Apalagi libur kak, lawong nggak pas hari libur aja antriannya bejibun. Ya ntar kalau Kak Vika ke House Of Raminten, jangan pas hari libur (tanggal merah) kan antriannya nggak terlalu puanjang :-)

      Hapus
  4. Udah lama nggak ke sini aku hahahhaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, langsung TeKaPe aja dah mas,,,, Hahahaha,

      Hapus
  5. Mistis itu kaeran si mbaknya yang sexy itu lho Nis :) Murah murah ya.

    Aku penasaran sama Nasi Koteka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, beneran itu mbaknya mistis banget,,,,, mau kenalan ama minta no.hp nya, tapi nggaklah soale jutek kelihatannya, mendung mimik mukanya. Senyum pun nggak lho mak. Ntar kalau ke Jogja bisa nyoba tuh kotek nya mak,,, eh maksudnya ayam kotekanya

      Hapus
  6. aku prnh ngereview resto ini juga pas outing kantor ke jogja 2 thn lalu ;p... dan sukaaaa... sumpah ga ngerti knpa ini resto penuhnya ampun2an yaa... aku dtg kesana jam 1 pagi mas! dan kita dpt no antrian berapaa gitu... jam 1 pagi loh!!! dan nyesel bgt ga bawa uang banyak, krn mikirnya makanannya biasa... trenyata enak ;p.. aku jg pesen purworakmi wkt itu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sudah kedahuluan ternyata, hehehehe. Nah itu mistisnya mbak,,, tapi aku kurang sukanya ama bau menyannya mbak agak gimana gitu di perut :-) , Buseeet dah jam 1 pagi aja pakai ngantri? kalau siang mah wajar mbak,,,, ini pagi hari, hmmm wuedan tenan ya mbak. wah sama kita berarti Purworukmi *tossssss*

      Hapus
  7. Setelah baca dari awal sampai akhir, rumah makannya keren juga ya...... makanan tradisional di kemas dengan sangat elit.
    apalagi untuk sekelas rumah makan, masih ada menu dengan harga segitu itu keren banget. gak heran juga sih kalau antriannya bisa sampe bejibun gitu. Worth it lah... (y)
    jadi pengen nyoba kalau pas lewat....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yupz, bener banget kak...
      Silahkan dicoba deh kalau kakak ini lewat, :-)

      Hapus

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me