Senin, 11 Januari 2016

Menikmati Sajian Gudeg Bu Tjitro 1925


Pagi ini sebenarnya Ane bingung mau kulineran dimana lagi setelah kemarin merasakan Mie Lethek mBah Mendes. Setelah berselancar di dunia maya kesana - kesini, akhirnya jatuhlah pilihan Ane pagi ini di sebuah restoran yang menjual gudeg kering yakni Gudeg Bu Tjitro. Selain gudeg ini sudah sangat populer dengan gudeg kalengnya, juga karena tempat ini cukup dekat dengan keberadaan Ane. Tanpa ba bi bu lagi meluncurlah Ane saat itu juga. Hanya butuh waktu sekitar 10 menitan saja untuk sampai sini.


Lalu bagaimanakah dengan sobat yang ingin datang kesini?
Berikut rutenya bila sobat datang dari Nol Kilometer Jogja:
Bergeraklah sobat ke arah timur lurus saja melalui Jalan Senopati, Jalan Sultan Agung, dan Jalan Kusumanegara hingga menjumpai Gembira Loka Zoo yang terletak di sebelah kanan jalan. Dari sini masih lurus lagi hingga menemukan perempatan lampu merah. Kemudian beloklah ke kiri (utara) lurus hingga menemukan tikungan jalan ke arah kanan (timur). Kurang lebih 25 meter dari tikungan tersebut Restoran Bu Tjitro 1925 ini berada. Restoran ini juga berada sangat dekat dengan JEC yakni hanya terletak di depannya saja.


Restoran ini berlantai 2 dengan suasana yang cukup sepi dan hanya ada beberapa pengunjung saja yang datang. Tempatnya sangat bersih dan nyaman, maklum saja namanya juga restoran.

Tampak lantai 2 dari lantai 1
Lantai 1
"Mau pesan apa mas?", tanya dari salah satu pegawai saat Ane sudah masuk kedalam. "Gudeg mbak, ma'af ada daftar menunya?", timpal Ane. "Ada mas", jawab beliau sambil memberikan daftar menunya yang berupa sebuah album. "Oke mbak, tunggu sebentar yaw", pinta Ane kepada Sang pegawai tersebut agar beliau bersabar menunggu pilihan apa saja yang akan Ane pesan.

Bagian sampul dari Daftar Menunya
Sebenarnya selain gudeg, beberapa menu juga tersedia loh sob, seperti soup dll. Karena yang spesial dari restoran ini adalah gudegnya, maka fokus Ane hanya pada gudegnya saja. Ada beberapa varian gudeg dengan berbagai macam lauknya. Misalnya saja NGK (Nasi Gudeg Komplit) telur dan kepala, NGK telur dan tahu terik, NGK telur, dll.


Sehubungan terbiasa dengan Nasi Gudeg Telur, maka kali ini Ane mau mencoba menu yang lainnya yakni NGK telur dan kepala. Yaw tambah kepalanya saja, sama aja donk. Ah nggak apa - apa yang penting kan rasa gudegnya itu, yaw nggak sob?. Tak hanya pada gudegnya saja, minumannya pun tersedia berbagai macam varian diantaranya Es teler Janti, Es Teler Shanghai, Kopi, tea, teh poci gula batu dll.


Karena Ane tertarik terhadap sajian yang menggunakan cara kuno yakni bila pesan teh poci tehnya ditempatkan di sebuah wadah berupa kendil kecil yang terbuat dari tanah liat, maka Teh Pocilah yang akhirnya menjadi pilihan Ane.


Tak hanya pada kendilnya saja yang terbuat dari tanah liat, gelas untuk minum pun demikian. "wah pokoknya benar - benar mantab pagi ini", fikirku.


Tak butuh waktu lama Ane menunggu, datanglah pesanan yang Ane pesan dan inilah penampakannya.


Ternyata piring yang digunakan sebagai wadah gudeg dan nasinya pun cukup unik berbeda dengan yang lain yaitu terbuat dari tanah liat. Apalagi piring tersebut dilapisi dengan daun pisang sehingga aroma khas daun pisang menambah kelezatan makanan itu sendiri. Ane benar - benar terkesan atas semua ini sob. Ane pun tertarik untuk mengabadikan moment yang penting ini terlebih dahulu.

Narsis dulu
Mau???
Secara visual gudeg ini sungguh menarik terdiri dari krecek, gudeg itu sendiri, sambal, dan yang menarik menurut Ane terdapatnya areh dan kedelai. Ntah mengapa dari berbagai gudeg yang ada, Ane kok rasa - rasanya suka yang mengandung areh yaw selain enak di pandang mata juga enak di mulut. Tak lupa juga telur dan 2 kepala ayam sebagai lauknya.


Rasanya lumayan manis, enak dan lembut di mulut. Apalagi dengan adanya kedelai dan areh menambah sensasi rasa tersendiri bagi gudegnya. Pokoknya wuenaklah. Namanya juga restoran, menurut Ane nasi yang disediakan tidaklah cukup bagi Ane dan bagi penyuka rasa pedas lombok yang terdapat di dalam gudeg sangatlah kurang. La cuman satu biji saja gimana mau pedas? Tapi terlepas dari itu semua kalau keterkaitan dengan rasa gudeg ini, cukuplah enak dan bisa buat menemani sarapan kita pagi ini.
Cukup lama juga Ane menghabiskan seporsi gudeg dan secangkir teh poci ini, ndak lama gimana la wong kepalanya aja ada dua dan teh pocinya juga dalam keadaan panas sekali. Tapi ada yang Ane suka sob dengan berlama - lama disini, selain tempatnya nyaman juga bisa melihat pemandangan kendaraan yang bersliweran kesana kemari pas di tikungan. Ane sempat membayangkan apabila malam hari, sembari makan gudeg juga bisa menikmati kerlap kerlip cahaya lampu sekitar.


Harganya terbilang cukup mahal buat Ane untuk sekelas gudeg. Seporsi NGK telur dan kepala serta secangkir teh poci dibanderol dengan harga 30,5k. Karena tempat makan ini berbentuk restoran maka dikenai pajak 10%. Jadi uang yang harus Ane keluarkan sebesar 33,5k. Mungkin sobat ada keinginan untuk cari gudeg yang agak murah aja, bisa berkunjung ke Gudeg Permata Bu Pujo yang terletak tidak jauh dari Bakmi Kadin.


Sebenarnya restoran ini terkenal dengan gudeg kalengnya loh sob. Jadi pastilah buat sobat yang ingin membawa pulang sebagai oleh - oleh bisa membeli disini. Ternyata selain gudeg kalengan juga tersedia Paket Gudeg Kendil baik yang super maupun spesial.


So, banyak pilihan bukan untuk bisa menikmati Gudeg Bu Tjitro ini?
Jam Buka Restoran Bu Tjitro dari Pukul 8 pagi hingga 10 malam.

10 komentar:

  1. Mas Anis pasti males banyak recehan di dompet ya makanya biar kembaliannya dipasin :p muehehehe
    sama kitaaaa *tos
    btw, makan gudeg mulu ih masnya iniiiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Loh kok tahu, padahal itu nggak tak ceritain loh mbak Anggi,,, Iyaw di dompet banyak recehannya nie, kemarin habis jaga parkir soalnya, hehehe. Pokoknya salam recehan dah *tos*
      Makan gudeg tiap hari nggak apa - apa mbak, biar kerasa banget Kota Gudegnya, buhahahaha. Mau?

      Hapus
  2. Mas Anis, OOT nih...
    itu kalau mas Anis narsis, yang motoin sapa ya? he he he...
    apa koncone mas Anis atau orang yang sedang lalu lalang siapa aja dipanggil buat moto? ha ha ha...

    Liat gudeg lagi sayah, padahal sampai saat ini belum kesampaian juga mampir ke warung gudeg di sini...jadi makin ngiler pengen makan gudeg..

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah sorry yaw mbak, aku nggak suka narsis ew cuman mengabadikan moment aja mbak (ngeles). Ngaku deh, loh kak sampeyan (kamu) ki bisa bahasa jawa tow? bukannya Palembangan? yaw kadang konco ku, yaw kadang penjualnya, tukang parkir kalau lagi mood dan nggak males pakai tripod. Kadang juga seseorang yang sedang lewat tak panggil kak, kalau nggak mau tak tonjok, wakakakak. Wah kalau begitu biar mbak Monica makin ngiler aja, habis ini masih seputaran gudeg lagi ah. Pokoknya salam gudeg kak

      Hapus
    2. ha ha ha...pokoknya yang penting bisa narsis ya..siapa saja okeh tukang fotonya..
      Yo iso toh yo bahasa Jowo, kalau cuma nulis, baca, denger, kalau sudah ngomong iso tapi ga pantes blass..lah wong aku tinggal di Surabaya 3 thn.
      Ada temenku dulu di Surabaya ngomong, wis mba, sampeyan ojo ngomong jowo, ga pantes blass sampeyan..
      Coba, bahasa jawa tapi logat Palembang, gimana, kebayang ga? ha ha ha...makanya dilarang ngomong jawa..

      Hapus
    3. Hahaha,,, betul mbak. Pokoknya siapa saja yang mau memfoto oke dah mbak. Owalah pernah tinggal di Surabaya tow mbak sampeyan ki. Keren deh berarti takdirnya sampeyan nggak jauh - jauh dari jembatan Suramadu dan Ampera, apalagi ke Batam lengkap sudah ketemu Jembatan Barelang, hehehe. Tapi nggak apa - apa loh mbak, walaupun nggak pantes ngomong jowo dengan logat Palembang lama kelamaan kan bisa, tapi tetap oke lah mbak, bisa memahami bahasa jawa kalau begitu. daripada aku yang nggak ngerti bahasa Palembang :-)

      Hapus
  3. Waaaaah siang-siang buka postingan ini sungguh membuat air liur menetes. Tanggung jawab iki, mas Anis! Hehehe.. ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe,,,, wah, udah kelewat ew, disini udah sore mas Gio. Nggak ah, lariii

      Hapus
  4. Nah, ini dia yang kucari. Makan gudeg dengan piring dari tanah lihat berbungkus daun pisang. Rasanya pasti lebih mantep. Itu posinya lumayan gede, harus kelaperan banget klo mau habisin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak, bener banget kemarin sampai kenyang banget makannya. Tapi untuk sekelas gudeg yaw harganya juga masih mahalan dikit, hehehehe. Kalau masalah mantebe' mah memang mantebe' banget, penyajiannya pun saya suka ada daun pisangnya sebagai pembungkusnya.... :-)

      Hapus

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me