Selasa, 16 Januari 2018

Menyantap Ingkung Ayam Mbah Cempluk Bersama Keluarga

Hai, hai, hai, gimana nieh sob kabarnya? semoga baik-baik saja ya. Nah, kali ini Ane mau bercerita tentang petualangan Ane mencari kuliner di salah satu warung yang ada di Yogyakarta yakni Warung Ingkung Ayam Mbah Cempluk. Alamatnya ada di Dusun Santan, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Sudah lama sieh sob Ane mengetahui keberadaan warung ini, namun karena dalam otak Ane sudah terlanjur menjustifikasi kalau kuliner yang berkaitan dengan ingkung itu masaknya harus utuh maka Ane urungkan niatan Ane tersebut. Baru setelah ada waktu dan moment yang pas jadilah Ane mengunjunginya.
Dikalangan masyarakat Jawa tentu sudah tak asing lagi dengan yang namanya "ingkung". Mendengar kata "ingkung", pasti fikiran kita langsung pada sebuah acara maupun ritual tertentu. Jadi ingkung ini tidak untuk dikonsumsi sehari-hari. Dimana didalam acara tersebut harus ada ingkung, yakni ayam yang dimasak dan disuguhkan secara utuh walaupun pada akhirnya ya dipotong-potong juga. Kini anggapan tersebut dipatahkan oleh warung ini dimana ingkung tak hanya dikonsumsi saat ada acara saja melainkan bisa dijadikan santapan sehari-hari.



Inilah moment yang Ane rasa tepat buat mengunjunginya. Kenapa begitu? karena Ane baru saja diwisuda dari kampus Ane dan dihadiri oleh keluarga. Berita ini adalah berita bahagia bukan? maka dari itu rasa bahagia dan syukur ini Ane rayakan bersama keluarga dengan menikmati olahan berupa ingkung.
Awalnya ide ini muncul dari dalam otak Ane, saat itu Ibu Ane bertanya kepada Ane hendak mau makan apa dan dimana? tanpa fikir panjang Anepun langsung menjawabnya di Warung Makan Ingkung Ayam Mbah Cempluk. Syukur Ibu Anepun langsung menyetujuinya, jadilah kita capcus menuju kesana.
Sesampainya di Perempatan Klodran Bantul, kendaraan kita arahkan kearah kanan hingga sejauh kurang lebih 5 kilometer sampailah kita di TeKaPe. Awalnya Ane mengira kalau disini hanya terdapat satu warung ingkung saja, ew nggak tahunya ada beberapa. Dari kesemua warung ingkung yang ada, justru warung Ingkung Ayam Mbah Cempluk inilah yang menurut Ane paling tersembunyi. Dari jalan beraspal harus masuk lagi melalui jalan berupa blok yang disamping kanan dan kirinya terdapat areal persawahan. So, kalau sobat datang kesini jangan salah ya dan harus cermat. Woke???



Mungkin lagi sepi, sesampainya disini tak ada kendaraan yang sedang parkir padahal tempat parkirnya cukup luas. Tapi sesaat kita masuk, ada dua buah mobil yang berdatangan. Kalau dilihat yang datang adalah rombongan keluarga besar. Ane fikir memang cocok kalau datang kesini bersama keluarga, selain ingkung memang cocok dinikmati lebih dari dua orang juga bisa mempererat tali keluarga.



Ada beberapa tempat yang bisa digunakan oleh para pengunjungnya untuk menikmati menunya sob. Mau dibagian depan, bisa! dan mau dibagian belakang pun sangat bisa karena tempatnya sangat luas sekali. Tempat duduknya berupa lesehan dan struktur bangunannya semua terbuat dari bambu kecuali atapnya yang terbuat dari rumput alang-alang. Sesaat setelah memilih posisi tempat duduk, seorang pelayan pun datang menghampiri kita. Beliau menyodorkan daftar menu yang tersedia. Kita berdelapan sehingga kita memesan dengan sistem paket saja. Satu paket lengkap untuk 6 orang seharga 240k dan ditambah 1 paket murah perorangan seharga 30k. Nah lo, kalau ada paket murah perorangan, kenapa Ane nggak dari dulu saja ya berkunjung kesini?, ah tak apa-apalah. Jadi disini itu kita disuruh memilih mulai dari jenis makanan, minuman hingga nasinya. Mau ingkung ayam goreng atau ayam areh, minumannya apa dan nasinya mau nasi putih atau nasi gurih. Setelah rembukan akhirnya kita sepakat pesan ingkung ayam areh, minumannya es teh dan nasinya nasi gurih. Masa lauknya sudah ingkung tapi nasinya nasi putih, kan kurang afdol, ya nggak sob?.
Cukup lama kita menunggu, ya sekitar 30 menitan lah dan semua pesanan yang kita pesan sudah datang. Awalnya Ane mengira kalau satu paket menu lengkap itu hanya terdiri dari ingkug ayam utuh, nasi gurih dan segelas teh saja. Ternyata tidak, masih ada menu tambahan lainnya yakni sepiring wader krispi, sepiring wader lombok ijo, sepiring tahu dan tempe, lalapan buah mentimun serta urap. Namanya saja ingkung ayam areh, jadi ya ada putih-putihnya gitu.




Seporsi ingkung ayam siap dieksekusi, mantab surantab
Lalu sekarang bagaimanakah dengan rasanya? setelah Ane coba ternyata hulala ingkungnya sangat empuk, mungkin sudah dimasak dalam tempo yang cukup lama. Bumbu arehnya pun terasa gurih di mulut. Sekarang berpindah ke wader krispinya, ternyata rasanya nggak kalah gurih dibandingkan ingkung ayamnya terasa kriuk-kriuk. Tak kalah lezatnya lagi rasa yang ditawarkan oleh wader lombok ijonya, semua urat dalam lidah saya bisa merasakan betapa ndesonya menu ini. Gurih berpadu dengan pedas. Semua pas disajikan bersama nasi gurih yang dimasak secara tepat sehingga pulen. Secara keseluruhan, Ingkung Ayam Mbah Cempluk ini rasanya "Wuenak tenan, Le leduk". Untuk itu tak kasih jempol.




Semuanya ada sisa sedikit. Maklum ibu-ibu, tanpa malu-malu ibu Ane meminta kepada salah satu pelayannya untuk membungkus sisa makanan yang ada dan pelayan tersebutpun dengan senang hati meladeninya. Mantabe'. Berhubung Ane kulineran bersama keluarga, maka semuanya sudah ditanggung oleh orang tua, hehehe.
Jam buka warungnya: 09.00 WIB hingga 21.00 WIB.
Let's Go

Selasa, 11 Oktober 2016

Sajian Unik Warung Makan PWS Dengan Mangut Belutnya

Yogyakarta selalu saja menunjukkan pesonanya, baik itu pendidikan, kebudayaan, sejarah, pariwisata, maupun perkulineran. Soal kuliner di Yogyakarta ini memang surganya para pecinta kuliner baik itu menu yang sudah menjadi legenda atau menu baru, baik itu yang normal - normal saja maupun yang aneh - aneh.



Kita sudah tak asing lagi dengan yang namanya mangut lele bukan? bagaiamana bila sobat mendengar kata "Mangut belut?". Aneh, terkejut, heran, atau malah tambah penasaran? jadi gini sob, biasa lah ya Ane suka searching - searching tentang kuliner - kuliner yang ada di Jogja ini. Dengan sengaja Ane malah menemukan artikel yang membahas tentang mangut belut ini. Sontak Ane heran, belut kok di mangut? lantas yasudah deh Ane masukkan kedalam list. Nah, pada tanggal 3 Mei 2016 kemarin (dah lama juga ya), akhirnya Ane berhasil menyambanginya. Lengkap sudah Ane akhir - akhir ini merasakan olahan yang semuanya tentang belut. Belut di sambal di Warung Makan Pak Suko, belut yang di garang asem di Warung Kebelet Pipis, eh bukan dink tapi di Kebelet Belut. Kali ini balut yang di mangut di Warung Makan PWS yang terletak di Dusun Klaci, Desa Margoluweh, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.


Suasana Warung Makan PWS saat itu
Kondisi bagian dalam warungnya
Letaknya yang tidak terlalu dekat maupun terlalu jauh dari kost Ane membuat perjalanan Ane juga tak terlalu lama dan terlalu cepat. Menyusuri Jalan Godean sampailah Ane disana. Bercat ungu (mungkin nieh warung yang punya penggemar Band Ungu kali ya), cukup luas, dan banyak pilhan menu yang dapat di pilih oleh para pengunjungnya, itulah kesan Ane pertama kali ketika melihat warung ini. Diantara menu - menu tersebut ada satu yang membuat Ane agak heran yaitu hadirnya mangut belut yang mempunyai kuah krem keorange - orangean.
"Mas, silahkan ambil sendiri ya mas", terdengar suara Sang Penjualnya yang mempersilahkan Ane untuk mengambil sendiri pilihan menu yang akan Ane makan.



"Iya Bu, ini mangut belut ya Bu?", tanya Ane kepada beliau sambil menunjuk sebuah wadah yang menurut Ane berisikan mangut belut.
"Iya mas", jawab Sang Ibu dengan singkat.
"Bumbunya sama nggak tow Bu dengan bumbu yang digunakan untuk lele pada umunya?, tanya Ane kembali.
"Nggak tahu ew mas, bukan saya yang masak, itu ada bagiannya sendiri yang masak", jawab Ibunya dengan singkat kembali.
"Yasudah deh mungkin rahasia pabrik jadi nggak boleh orang tahu, kalau begitu langsung aja ngambil nasi dan selanjutnya ngambil mangut belut ini", fikir Ane.



Walaupun pengunjungnya cukup banyak namun dalam hal ngambil - mengambil tak perlu antri atau membutuhkan waktu banyak sob. Nah inilah menu makanan dan minuman yang akan Ane nikmati hari ini sepiring nasi sayur pare, kering tempe, dan tentunya mangut belutnya itu sendiri yang berlumurkan kuah yang agak kental serta didalamnya terdapat semacam cabai merah. Sedangkan minumannya Ane pilih minum air sehat saja, habis selain teh dan jeruk tak ada lagi pilihan menu lainnya.



"Krucuk, krucuk, krucuk", terdengar bunyi - bunyian dari dalam perut yang sepertinya sudah tak bisa lagi di ajak kompromi. Langsung saja deh Ane sikat habis, hmmm menurut Ane kuahnya cukup gurih mirip kuah pada mangut lele dan tak ada yang Aneh dengan olahan masakan mangut ini. Cukup enak, tapi sob belutnya agak kerasan sedikit kurang begitu lembut di mulut dan enaknya kuah ini tak dibarengi juga dengan rasa nasi putihnya yang menurut Ane kurang begitu matang. Pedas? oh ternyata tidak. Walaupun begitu tetap donk,


Ane habiskan
Soal harga masih bersahabat dengan kantong kok sob, Ane makan nasi sayur plus mangut belut 2 potong dan air es hanya dihargai sebesar 13k saja. Gimana cukup membuat sobat penasaran bukan?
Bagi yang belum tahu lokasi persisnya, berikut tak kasih gambaran rutenya:
Dari arah Kota Jogja, jalan menuju Warung PWS ini searah dengan jalan menuju Mie Ayam Goreng Mekaton.



Dari Tugu Jogja, bergeraklah ke arah barat melewati Jl. Diponegoro dan Jl. Kyai Mojo memasuki Jl. Godean hingga perempatan lampu merah besar di Jl. Ringroad Barat. Dari sini masih lurus lagi ke arah barat hingga menemukan pertigaan lampu merah di sekitar Km. 7. Masih lurus lagi hingga menemukan perempatan lampu merah di Pasar Godean. Dari sini beloklah ke arah kanan (utara) melalui Jl. Godean - Seyegan hingga kurang lebih sejauh 1 Km sobat akan menemukan Stadion TGP yang terletak di sebelah kanan (timur) jalan. Nah, Warung Makan PWS ini tepat berada di samping utara stadion tersebut.
Jam buka warung: Senin - Sabtu : Pukul 9 pagi - 7 malam
                 Minggu        : Tutup/Libur
Selamat makan!
Let's Go

Senin, 10 Oktober 2016

Warung Kebelet Belut Yogyakarta

Apa yang terlintas pertama kali di benak sobat bila mendengar kata "kebelet?", pasti konotasinya jelek ya sob, kebelet pipis lah, kebelet buang air besar lah, dan kebelet - kebelet lainnya. Pokoknya punya arti yang begituan lah. Nah, ngomong - ngomong soal kebelet ternyata ada juga lho sob nama warung yang menggunakan kata kebelet. Warung apakah itu? warung tersebut bernama Warung Kebelet Belut yang terletak di Jl. Ipda Tut Harsono No. 42 Timoho Yogyakarta.



Sudah pada tahu kan sob belut itu seperti apa? ituloh yang seperti ular tapi tak mempunyai sisik dan biasanya hidup di sawah. By the way, berbicara tentang belut ini seperti mengingatkanku pada masa - masa kecil Ane sob (duh ketahuan kalau sudah tua saja), saat itu sedang mancing di sawah dan sawahnya itu cukup jauh dari rumah Ane, eh sudah jauh - jauh memancing dari rumah bukannya Ane mendapatkan apa yang Ane inginkan berupa belut malah mendapatkan ular kadutnya. Yasudah pancing Ane, Ane tinggalkan begitu saja bersama ular kadutnya. Di lain hari sahabat Ane mancing eh nggak tahunya malah dia yang mendapatkan pancing Ane dan katanya ular kadutnya sudah mati dan busuk, jadi pancingnya cukup mudah dilepaskan begitu saja (duh jadi malu).



Woke back to topic, jadi gini sob Warung Kebelet Belut ini letaknya cukup dekat dengan kost - kostan Ane, jangankan pakai motor bahkan bila mau dengan jalan kaki saja sudah bisa sampai sini. Sudah bolak - balik Ane melewatinya, setiap lewat disini warung tersebut terkadang ramai terkadang juga sepi. Sementara itu beberapa hari lalu Ane sudah merasakan yang namanya sambal belut di Warung Pak Suko. Secara, rasa belut di sambel itu wuenak tenan. Beberapa hari kemudian Ane dengar - dengar kalau belut yang ada disini itu tak hanya di sambal atau di goreng saja tetapi diolah dengan cara lain seperti di garang asem. Nah, Ane sebagai orang yang suka dengan olahan belut pastinya penasaran donk seperti apakah rasa dari olahan tersebut? enak atau nggak, asing di lidah atau nggak dan seterusnya. Maka dari itulah untuk mengobati rasa penasaran Ane akhirnya Ane bertekad diri untuk mendatangi tempat tersebut.



warungnya cukup luas, begitupula dengan area parkirnya. Di bagian pintu masuk tertulis dengan jelas "Welcome Belut Lovers" Kami ada di dalam. Itu artinya dari tempat parkir ini Ane harus melangkahkan kaki masuk kedalam terlebih dahulu sebelum memilih - milih menu dan kemudian memesan. Warungnya cukup bersih, rapi dan cocoklah sob buat nongkrong. Ada dua jenis tempat duduk yang dapat Ane pilih diantaranya tempat duduk berupa lesehan dan tempat duduk berupa meja - kursi.


Tempat duduk berupa lesehan
Tempat duduk berupa meja - kursi
Di setiap meja sudah tersedia tissue, kecap, dan kerupuk. Sedangkan untuk daftar menunya Ane harus mengambilnya sendiri di bagian kasiernya yang sekaligus digunakan untuk tempat masak - memasak olahan menunya. Lalu, apasaja ya sob pilihan menu yang ada disini? Yuk sob kita buka daftar menunya bersama - sama.



Ternyata ada dua jenis pemesanan menu yang tersedia, yakni sistem paket dan sendiri - sendiri.
Paket I   : Belut elek + Nasi + Es teh, Harga : 25k
Non paket : 20k
Paket II  : Garang asem belut + Nasi + Es teh, Harga : 25k
Non paket : 20k



Paket III : Going + Nasi + Es teh, Harga : 25k
Non Paket : 20k
Going = Belut Goreng Kering
Paket IV  : Bambang/Bejo + Nasi + es teh, Harga : 25k
Non Paket : 20k
Bambang = Belut sambal bawang
Bejo    = Belut Sambal Ijo



Paket V   : Berburu + Nasi + es teh, Harga : 25k
Non paket : 20k
Berburu = Belut bumbu rujak
Paket VI  : Belut teriyaki + Nasi + es teh, Harga : 23k
Non Paket : 20k



Ternyata tak hanya berupa belut saja sob yang dijual, ada Paket Ayam/Lele Hempas (hemat pedas) + Nasi + es teh, Harga 10k. Sedangkan untuk menunya sendiri - sendiri diantaranya ada lalapan yang hanya di banderol 3k, nasi putih 3k, plencing kangkung 7,5k, tahu/tempe goreng 5k, dan lain sebagainya. Sementara untuk minumannya ada aneka jus dan aneka minuman seperti teh, jeruk, lemon tea, kunir asem, dll.




Setelah lihat - lihat daftar menu di atas, Ane masih tetap saja penasaran dengan yang namnya Garang Asem Belutnya sob, so menu inilah yang akhirnya Ane pesan. Singkat cerita hampir seperempat jam Ane menunggu, dan treng teng teng teng datanglah menu makanan yang Ane pesan. Paket 2 dengan belut garang asem, nasi, dan es teh manis.



Secara visual belut garang asem ini nampak seperti belut yang dimasak dengan kuah santan dan diolah bersamaan dengan tomat, bawang merah, lombok hijau dan lombok rawit.
Bagaimanakah dengan rasanya? Hmmm ternyata dugaan Ane salah sob, awalnya Ane menduga kalau masakan ini akan didominasi oleh rasa asam kurang lebih seperti sayur asem. Bukan rasa asam yang mendominasi makanan ini tetapi justru rasa gurih. Sedangkan pada belutnya terasa lembut saat bersentuhan dengan mulut. Satu kata deh sob untuk makanan ini,"Wuenak tenan".


Semangkok belut dalam keadaan penuh
Kini sudah habis semuanya
Soal harga sudah tahu kan sob berapa uang yang harus Ane keluarkan? Yapz 25k saja. So, bila sobat penasaran dengannya bisa langsung datang kesini.



Dari Titik Nol Kilometer Jogja, bergeraklah ke arah timur (belok ke kanan bila dari arah Malioboro) melalui Jl. Panembahan Senopati dan berlanjut ke Jl. Sultan Agung serta Jl. Kusumanegara. Memasuki Jl. Kusumanegara lambatkanlah laju kendaraan sobat, setelah menemukan Mini Market Pamela yang ada di samping kiri (utara) jalan majulah sedikit dan sobat akan menemukan sebuah belokan ke arah kiri (utara) yang cukup besar. Beloklah kedalam belokan tersebut hingga menemukan perempatan lampu merah. Masih lurus lagi ke arah utara hingga tepat sebelum perempatan lagi, lihatlah ke arah kanan (timur). Warung Kebelet Belut ini berada persis sebelum perempatan tersebut.



Jam Buka warung: Pukul 10.00 - 21.00 WIB.
Selamat menikmati!
Let's Go

Jumat, 16 September 2016

Soto Lamongan Hijroh, Kuliner Khas Lamongan yang Ada di Jogja

Dari dulu Ane kalau makan soto ya hanya makan soto khas Jogja dan Solo saja sob, eh nggak dink, bulan lalu Ane dah ngerasain yang namanya Coto Makassar dan cotonya itu cukup membuat Ane kurang menyukainya. Tiba - tiba ide Ane muncul lagi sob, "kalau ada semacam soto lagi yang bolak - balik Ane sering membacanya dan mungkin sobat juga". Ya, Soto tersebut adalah Soto Lamongan. Tapi sekarang permasalahannya adalah dimanakah Soto Lamongan yang enak di Yogyakarta ya? hmmm, setelah baca sana - baca sini akhirnya nemu juga tuh soto. Soto tersebut bernama Soto Lamongan Hijroh yang terletak di Jl. A. M. Sangaji, Yogyakarta.


Oke tanpa fikir panjang berangkatlah Ane menuju ke TeKaPe. Letaknya yang cukup dekat dengan kost Ane membuat perjalanan Ane tak membutuhkan waktu yang cukup banyak, hanya sekitar 8 - 9 menitan saja. Warungnya cukup sederhana dengan meja dan kursi terpasang memanjang dan membujur. Di bagian dindingnya juga terpasang tulisan dari beberapa koran seperti Merapi dan beberapa gambar dengan berbagai macam tema. Nampaknya warung ini cukup dikenal di kota ini dan tentu sangat direkomendasikan buat di coba.


Warung Soto Lamongan Hijroh tampak depan
Kondisi dalam ruangan Warung Soto Lamongan Hijroh
Mendekati Sang Penjualnya, Ane memesan seporsi soto lamongan dan sebagai minumannya Ane pesan segelas es teh manis saja. Dengan lihainya tangan terampil bapaknya meracik soto untuk Ane dan tanpa menunggu terlalu lama, kini pesanan yang Ane pesan sudah ada di atas meja.


Bapaknya yang sedang meracik soto untuk Ane
Ini dia hasil racikannya serta segelas es teh siap menemani Ane
Ada yang beda sob di soto ini, ada sesuatu yang membuat Ane terkejut yaitu terdapatnya semacam parutan kelapa yang biasa digunakan untuk campuran hidangan kalau dalam bahasa jawanya disebut dengan "Krawu". Setelah tanya bapaknya kalau bahan yang Ane maksud tersebut adalah koya yang biasa ada di Soto Lamongan dan berfungsi sebagai penyedap rasa. Apakah sama dengan bumbu penyedap rasa yang dijual di toko? nggak tahu deh, tak cobain dulu ya.



Selain koya, semangkok soto lamongan ini berisi nasi putih, sedikit bihun, kubis, potongan setengah telur, suwiran daging ayam, dan taburan seledri. Berbeda dengan soto khas Jogja dan Solo yang mempunyai kuah bening, soto Lamongan ini memiliki kuah yang sedikit keruh tapi tak sekeruh Coto Makassar yang ada di La Capila Jogja. Oke, langsung saja kita bahas rasanya ya sob.
Rasanya cukup gurih dan khas, sehubungan Ane senang dengan yang pedas - pedas, Ane tambahkan sedikit sambal kedalamnya, tak lupa juga kecapnya. Gurihnya kuah kini berpadu pas dengan pedasnya sambal dan juga sedikit manisnya kecap. Untuk koyanya, menurut Ane rasanya khas dan berbeda dengan bumbu penyedap rasa yang dijual di toko. Lengkap sudah daging ayam yang digunakan adalah ayam kampung serta hadirnya potongan setengah telur. Mantab rasanya, satu kata deh sob untuk soto ini," Wuenak tenan".



Soal harga masih cukup bersahabat kok sob, semangkok soto lamongan dan segelas es teh manis hanya dihargai sebesar 12k saja. Gimana, tertarikkah buat mencobanya?
Bagi sobat yang belum mengetahui lokasi persisnya, mungkin gambaran rute menuju kesininya ini akan sedikit membantu:
Dari Tugu Jogja, bergeraklah ke arah utara melalui Jl. Moh. A.M. Sangaji hingga bertemu perempatan lampu merah. Masih lurus lagi hingga sobat menjumpai sebuah bangunan hotel yang cukup besar dan bangunan tersebut bernama Hotel Tentrem. Nah, Warung Soto Lamongan Hijroh ini terletak persis di depan Hotel Tentrem tersebut.



Jam buka warung : Pukul 06.00 - 14.00 WIB
Tapi bapaknya bilang kalau hari minggu jam 11 pun sudah habis. So, sebaiknya kesini jangan terlalu siang ya sob, agar sobat tak kecewa karena kehabisan.
Sampai jumpa!
Let's Go

Jumat, 09 September 2016

Pagi - Pagi Menikmati Oseng - Oseng Mercon Bu Narmi

Awalnya pas malam - malam ntah kenapa Ane kepingin banget buat ngerasain yang namanya oseng - oseng mercon lagi sob, secara sudah lama Ane tak merasakannya. Saat itu yang Ane coba adalah Oseng - oseng Mercon Bu Narti dan mempunyai rasa yang kurang pedas, kalau masalah enak sieh enak. Nah, berhubung malam itu juga Ane malas untuk pergi keluar ya akhirnya Ane tunda dulu untuk besok aja carinya. Kebetulan ada sebuah warung makan yang bukanya bukan dari sore hingga malam hari, tapi justru dari pagi hingga sore hari. warung makan tersebut bernama Warung Makan Oseng - Oseng Mercon Bu Narmi yang terletak di Jl. Purwodiningratan, Yogyakarta.



Ingat ya sob, Oseng - oseng Mercon "Bu Narmi", bukan Oseng - oseng Mercon "Bu Narti" yang mungkin sebagian dari sobat sudah mengetahuinya, cuman beda huruf saja yakni M sama T. Memang ada hubungan persaudaraan diantara keduanya? ntahlah sob Ane tidak tahu.
Benar saja malam sudah berlalu dan kini pagi pun sudah datang, hal ini ditandai dengan adanya sang mentari yang sudah menampakkan diri di ufuk timur. Tepat pukul 8 pagi Ane arahkan kuda hijau Ane menuju ke TeKaPe.
Singkat cerita sampailah Ane disini, warungnya cukup sederhana bercat hijau dan hanya mempunyai dua buah meja saja yang terpasang. Warungnya tampak sepi hanya ada dua orang saja yang berada disini. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Sang Penjualnya yang sedang sibuk mempersiapkan apa yang harus mereka persiapkan. Sepertinya warungnya baru buka aja.



"Mau pesan apa mas? adanya oseng - oseng mercon saja yang baru matang, sayurnya belum matang", tanya salah satu pejualnya yang kebetulan seorang ibu - ibu sambil memberi tahu kalau baru oseng - oseng merconnya saja yang bisa di pesan.
"Yasudah Bu, oseng - oseng merconnya saja", timpal Ane karena memang itulah mengapa Ane kesini.
"Minumnya mas?", tanya beliau lagi kepada Ane.
"Selain teh dan jeruk apa lagi Bu?", tanya Ane lagi kepadanya.
"Nggak ada mas, adanya cuman teh dan jeruk saja", timpal beliau.
"Yasudah Bu, air putih saja kalau begitu", jawab Ane dengan cepatnya.
"Baik mas", timpal beliau.
Tak perlu menunggu lama kini pesanan Ane sudah ada dihadapan Ane. Nah, inilah sob yang dinamakan oseng - oseng mercon itu.



Secara penampilan oseng - oseng ini seperti daging koyor yang di sambal. Benar sob, oseng - oseng mercon ini memang terbuat dari koyoran daging sapi, kikil, kulit, dan sedikit daging sapi. Terlihat berminyak, hal ini dipengaruhi oleh adanya kandungan lemak yang tinggi. Oseng - oseng mercon ini disajikan dengan potongan buah mentimun. Bila masih kurang pedas lagi, Ane bisa menambahkan sambal kedalamnya. mantab!



Sekarang saatnya Ane melahap habis oseng - oseng mercon ini. Rasanya memang cukup pedas sob, tapi menurut Ane cenderung agak manis. Disinilah Ane semakin yakin kalau oseng - oseng ini memang terbuat dari banyak daging lemak, setelah lama - kelamaan dirasa - rasa ada yang menempel di bibir mirip kalau Ane makan daging sapi bagian gajihnya. Duh kolestrol jadi naik nieh kalau begini. Satu kata deh sob untuk ini,"wuenak tenan'.



Masalah kantong tenang saja sob, untuk seporsi oseng - oseng mercon dan segelas air putih hanya dibanderol dengan harga 15k saja. Cukup bersahabat bukan?
Gambaran rute menuju lokasi warungnya:
Warung ini terletak kurang lebih 600 meter dari titik nol kilometer Kota Jogja. Dari Titik Nol Kilometer tersebut bergeraklah ke arah barat (ke Kanan dari arah Malioboro) lurus melewati pertigaan lampu merah, masih lurus ke arah barat dan pelankan laju kendaraan sobat (bagi yang memakai kendaraan). Perhatikan dengan teliti sebuah plank yang bertuliskan SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta yang terletak di sebelah kanan (utara) jalan sebelum perempatan lampu merah. Plank ini menunjukkan ke arah Jl. Purwodiningratan. Nah, warung ini terletak persis di pintu masuk Jl. Purwodiningratan tersebut.



Jam buka: Pukul 08.00 - 16.00 WIB
Atau barangkali sobat tertarik untuk menikmati jenis koyoran yang lainnya? okelah, kalau begitu klik aja langsung di
Sego Koyor Bu Parman
Sampai Jumpa! 
Let's Go

Jumat, 02 September 2016

Enaknya Siomay Telkom Jogja

Siang - siang begini udah kepingin siomay aja nieh sob. Di Jogja ada siomay yang enak dimana ya? tahu nggak?, ya sudah deh kalau nggak tahu tak searching - searching dulu. Searching, searching, searching eh nemu nieh sob Siomay Telkom letaknya dekat dengan kost Ane yakni di Jl. Juwadi, Kotabaru, sebelah utara Kantor Telkom Yogyakarta. Inimah cuman sekitaran Stadion Kridosono.



Yasudah deh tak langsung ke TeKaPe. Singkat cerita, tak sampai 7 menit sampailah Ane di lokasi. Warungnya cukup sederhana hanya menggunakan sebuah tenda saja, Meja dan kursi tersusun secara rapi memanjang dari barat ke timur mengikuti arah jalan yang ada. Walaupun demikian pengunjungnya terbilang cukup banyak datang dan pergi silih berganti. Ada semacam tempat duduk saja yang bisa Ane tempati yakni berupa meja dan kursi. Tapi bila kehabisan tempat duduk, pegawainya akan sigap menyiapkan lesehan yang menggunakan alas tikar.



Memasuki warungnya Ane langsung diarahkan ke sebuah panci besar yang berisi siomay dan kawan-kawannya seperti kentang, kubis, tahu, telur, dan pare. Setelah Ane mengambilnya, Ane ditanyai oleh salah satu pelayannya apakah mau di goreng atau tidak. Ane pun hanya minta sebiji siomay dan kubis saja yang di goreng. Tak ada biaya tambahan untuk itu. Dengan sigapnya para pelayannya langsung menggorengnya. Eh bentar, itu bukan punya saya, tapi orang lain, maklum sob Ane harus rela mengantri terlebih dahulu. Untuk minumannya sehubungan yang tersedia hanya teh dan jeruk, maka Ane lebih memilih air esnya aja.



Ane lebih memilih menunggu di salah satu tempat duduk yang masih kosong. Beruntung masih ada sebuah tempat duduk yang kosong dan itupun berada di bagian paling belakang. Ane senang, karena bisa mengabadikan moment gambar yang ada sebaik mungkin. Perlu waktu sekitar 7 menit Ane menunggu pesanan yang datang. Kini pesanan Ane yang awalnya berbentuk besar - besar berubah menjadi potongan kecil - kecil berlumurkan bumbu kacang yang tentunya menggoda Ane untuk segera melahapnya.


Duh, jadi nggak konsen nieh!
Menggoda bukan?
Lahapan pertama yang Ane coba adalah siomaynya dan tahu tidak sob rasanya seperti apa? Rasanya hmmm gurih dan daging ikan tenggirinya terasa banget di mulut. Selain pada siomaynya, kelezatan rasa juga terjadi pada kentang, kobis, pare, dan tahu yang di potong - potong dengan lembut berlumurkan sambal kacang. Semuanya serba segar, baik pada kubis maupun parenya. Tapi rasa sedikit pahit mendominasi parenya, tak banyak yang berubah dari rasa bawaan parenya itu sendiri.


Masih penuh
Habis seketika
Soal harga masih cukup bersahabat, untuk semuanya 2 buah siomay, 2 buah kobis, sebuah kentang, tahu, dan pare dihargai sebesar 12k saja. Bila sobat mau kesini, udah tahu belum sob lokasi persisnya? kalau belum tahu tak kasih gambarannya aja deh.
Dari Tugu Jogja, bergeraklah ke arah timur melalui Jl. Jend. Sudirman hingga perempatan lampu merah yang di pojok sebelah kanan terdapat Toko Buku Gramedia. Beloklah ke arah kanan (selatan) melalui Jl. Suroto hingga sebelum mentok ada sebuah Kantor Telkom yang cukup besar. Tepat sebelum kantor tersebut ada sebuah jalan masuk ke arah kiri (timur). Masuklah kedalam jalan tersebut hingga sekitar 20 meter dari belokan ini sampailah sobat di tempat yang sobat maksud.



warungnya ada di sebelah kanan (selatan) jalan. Tenang saja nggak usah khwatir karena tulisan yang menandakan kalau ini Siomay Telkom tertulis dengan jelas di warungnya.
Jam buka: Pukul 09.00 - 18.00 WIB
Atau sobat mau coba siomay yang lain? bisa, silahkan aja klik:
Siomay Kang Cepot dengan sambal kacangnya yang enak sekali
Sampai Jumpa!
Let's Go

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me