Selasa, 22 Desember 2015

Merasakan Ledakkan Oseng - Oseng Mercon Bu Narti


Jogja tak hanya melulu bicara mengenai gudeg, tak hanya berbicara mengenai bakmi jawa atau soto. Ada sebuah warung yang menjajakan menu yang unik yang sudah cukup populer di kalangan para pecinta kuliner. Apa itu? yakni Oseng - oseng Mercon Bu Narti.
Sebenarnya sudah lama Ane merencanakan untuk kulineran disini tapi karena selalu hujan dan hujan terus ketika sore tiba sehingga selalu gagal. Oseng - oseng mercon Bu Narti sendiri buka dari sore hari jam 6 hingga malam hari jam 10.


Kali ini Ane ditemani oleh seorang sahabat Ane Hanna. Dari dialah Ane akhirnya menjejakkan kaki disini. Berulangkali kita janjian untuk berkunjung kesini tapi ketika sore hari tiba, hujan pun ikut tiba jadi yaw akhirnya batal. Nah pada Hari Kamis minggu kemarin suasana ketika itu mendukung akhirnya kita menjejakkan kaki disini.
Lesehan Oseng - oseng Mercon Bu Narti letaknya sangatlah strategis karena terletak di pusat kota tepatnya di Jl. KH Ahmad Dahlan Yogyakarta. Kurang lebih 600 meter dari titik nol kilometer. Buat sobat yang ingin menuju kesini, Dari titik nol kilometer bergeraklah ke arah barat (ke kanan dari arah Malioboro) lurus melewati pertigaan lampu merah, masih lurus ke arah barat dan pelankan laju kendaraan sobat (bagi yang memakai kendaraan). Perhatikan dengan teliti lesehan oseng - oseng mercon ini yang terletak di sebelah kanan jalan, karena bila sobat tidak teliti bisa - bisa sobat salah masuk ke warung lainnya karena di sepanjang perjalanan menuju Oseng - oseng Mercon Bu Narti sobat akan menemui banyak lesehan yang juga menawarkan menu oseng - oseng merconnya.


Warungnya cukup sederhana dengan atap dan dindingnya yang terbuat dari kain yang beralaskan tikar.
Banyak pengunjung yang sudah memadati warung makan ini. Semakin malam bukannya semakin sepi, tetapi malah semakin ramai. Ada yang sedang main HP, ada yang sedang menikmati oseng - oseng merconnya, bahkan tak sadar Ane memotret seseorang yang sedang melihat sorot kamera Ane.


Selain oseng - oseng mercon, banyak pilihan menu yang dapat dipilih oleh pengunjung mualai dari ayam bakar/goreng, puyuh bakar/goreng, lele bakar/goreng, kepala ayam bakar/goreng dll.

Tuh sob oseng - oseng merconnya ada di dalam panci 
Bu Dewi yang sedang sibuk melayani para pembelinya
Pesanlah kita masing - masing seporsi oseng - oseng mercon dengan nasinya dan segelas es teh manis buat Ane dan segelas es jeruk buat sahabat Ane. Tak hanya itu Ane juga pesan seporsi kepala ayam bakar.



Tak butuh waktu lama untuk menunggu pesanan kita, kurang lebih 10 menit saja pesanan kita sudah datang.


Dilihat secara sekilas oseng - oseng mercon ini terlihat seperti sambal semua. Iyapz, namanya juga oseng - oseng mercon pastinya bentuknya seperti sambal. By the way, tahu tidak sob mengapa oseng - oseng ini dinamakan oseng - oseng mercon? menurut KBBI kata mercon sendiri diartikan sebagai peledak berupa bubuk yang dikemas dalam kertas dan sebagainya. Jadi kalau kita runut mengapa oseng - oseng ini dinamakan oseng - oseng mercon karena setelah kita mengkonsumsinya maka lidah dan perut kita akan terasa meledak - ledak karena sensasi pedas yang ditimbulkannya. Istilah sederhananya cabai yang terdapat pada oseng - oseng mercon lebih banyak bila dibandingkan dengan cabai pada oseng - oseng biasanya.

Mau???
Dari teksturnya oseng - oseng ini terdiri dari sedikit daging sapi dan sedikit bagian lemaknya, kulit atau kikil. Bumbu - bumbu yang digunakan seperti bumbu rempah - rempah, cabai rawit dan gula jawa. Oseng - oseng ini berminyak sob, mungkin karena mengandung lemak dan berwarna hijau menyala karena terbuat dari pilihan lombok rawit sehingga membuat Ane semakin semangat untuk segera menyantapnya. Oseng - oseng ini disajikan bersama buah mentimun. Sedangkan Ane juga berpesan kepala ayam bakar, yang disajikan selain dengan buah mentimun juga terdapat daun kemangi dan disandingkan dengan sambal yang berwarna merah yang mempunyai tekstur lebih lembut. Yuk kita segera menyikatnya.


Katanya josss, woke
Yumm yumm yumm, setelah di rasa - rasa memang menimbulkan rasa pedas, tapi kok menurut Ane cenderung agak manis yaw?. Tapi Ane lebih menyoroti kepada rasanya, rasanya menurut Ane memang wuenak tenan. Pokoke mak josss. Mungkin ini sob, rasa enak ini timbul karena selalu terjaga dari pemasakannya yang menggunakan tungku/anglo. Setuju? ah kalau nggak setuju juga nggak apa - apa. Tapi beberapa warung makan yang sudah melegenda rata - rata menggunakan alat ini untuk memasaknya sehingga pemanasan akan merata dan rasa enak akan timbul.


Berpindah ke kepala ayam bakarnya, nah Kalau rasa ayam bakarnya mah biasa - biasa saja dan tidak ada rasa istimewa yang Ane temukan. Samalah dengan pedagang - pedagang pada umumnya yang memperdagangkan masakan kepala ayam. 20 menit kemudian.

Habis semua sudah ledis
Makan sudah, minum pun sudah. Kini saatnya kita membayarnya. Dua buah porsi oseng - oseng mercon, dua porsi nasi putih, segelas es teh, segelas es jeruk dan seporsi kepala ayam bakar dihargai sebesar 48k saja.


Gimana cukup bersahabat bukan? Kalau sobat tertarik langsung saja ke TeKaPe. Selepas membayar, Ane sempat tanya - tanya sedikit kepada ibu Dewi yang merupakan anak kedua dari Bu Narti. 
Ane      : Ma'af bu, apakah ini dengan Ibu Narti?
Ibu Dewi : Bukan mas, saya anaknya
Ane      : Eow. Bu, biasanya ibu menghabiskan berapa Kg Koyoran dan
           cabai rawit untuk membuat oseng - oseng ini?
Ibu Dewi : kalau hari biasa yaw sekitar 60 Kg koyoran dan dicampur 
           dengan 10 Kg cabai mas. Kurang pedas ya mas?
Ane      : Eow, iya bu. Menurut saya kurang pedas.
Ibu Dewi : Besok minggu saya tambah lagi mas cabainya dan akan lebih
           pedas lagi pastinya.
Eow. Jadi sob, bagi yang mau merasakan Oseng - oseng Mercon Bu Narti yang sangat pedas sekali datanglah pada hari minggu. Tapi siap - siap saja yaw nggak kebagian tempat. Soalnya pada hari - hari biasa saja menurutku sudah lumayan padat, apalagi kalau hari minggu? hmmm, nggak kebayang kan gimana padatnya.

Ane bersama Bu Dewi, tidak ada Bu Nartinya bolehlah bersama anaknya
"Bu kapan warung ini mulai berdiri?", tanya Ane. "tahun 1998 mas", jawab beliau. "Eow, bolehkah saya berfoto bersama ibu?", tanya Ane sambil berharap beliau mau. "Boleh, ayok mas tapi tak lipstikan dulu yaw mas biar sedap di pandang", jawab beliau dengan sifat ramah tamahnya. Sepertinya beliau sudah mempersiapkan sebelumnya jikalau ada yang meminta foto bersamanya. waow, ibu ini memang keren. Sambil menunggu beliau sedikit merias, Ane sempatkan memotret - motret masakan - masakan yang ada di sekitar. Nah setelah beliau sudah siap, jadilah Ane berfoto bersamanya.

14 komentar:

  1. Ya ampun, 60 Kg cabe? Masih kurang pedes ya, mba? Keringetan ngebayanginnya. Tapi penasaran mau coba juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang 60 bukan cabe nya mbak, tapi koyorannya. He'em mbak, tapi pas kemarin kurang begitu pedas. Silahkan mbak di coba :-)

      Hapus
  2. wkwkwkw wah kece badai mas suka sama gayanya hehe.. wha bener" makiin pinter nih saya masalah ginian hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha,,,, Maklum mas, orangnya narsis terus, tapi gaya mah seadanya. Wah berarti bermanfaat juga yaw mas, jadi menambah pinter yang membacanya, hehehehe

      Hapus
  3. Kalau masalah makanan saya tidak kuat nahan, bikin perut laper terus,,, Apalagi dengan cabe yang segitu banyaknya,,, Apun dah,,, Laper saya!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, sepertinya kakak ini pecinta rasa pedas nieh :-) ,,, langsung ke TeKaPe aja kak, biar lapernya terobati,,, hehehehe

      Hapus
  4. bikin laper, tapi lihat pedesnya ampuuunnn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.... Nggak pedas kok kak, malah manis gimana gitu, hehehe

      Hapus
  5. Ibunya ngeksis juga yaaa di kamrea...betewe, cabe segitu banyaknya kurang pedeesss?pasti pecinta mercon banget ini eh pedes maksudnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iyaw kak,,, dianya melayani foto bersama pembelinya dengan ramah loh kak. Yaw pedes sieh pede, cuman kurang aja. Iyaw kak, bener pecinta mercon, eh pedes maksud saya, :-)

      Hapus
  6. Jogjaaa :D wkwkwk

    Duh, aku dulu makan oseng mercon di bu narti nggak tahan sama pedesnya -_- ampuuuun wkkw tapi kalau di oseng mercon sebelah sih masih nahan pedesnya :D

    Enaaaak :D bikin keringetan dan nagih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha.... Wah jadi keinget dulu di Jogja tow mas? kesini lagi mas Febri, pumpung oseng - oseng merconnya belum pindah, hehe

      Hapus
  7. Wah menantang nih buat dijajal. Oke punya nih kalo ke Yogya kudu mampir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya bang Alris, kudu mampir pokoke :-)

      Hapus

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me