Senin, 14 Desember 2015

Mengenal Lebih Dekat Kelezatan Ayam Goreng Mbah Cemplung

Pada tanggal 11 kemarin Ane sempat mengunjungi salah satu rumah makan yang sudah cukup populer di kalangan para pecinta kuliner khususnya Yogyakarta yakni Rumah Makan Ayam Goreng Mbah Cemplung atau orang biasa menyebutnya dengan kata "Ayam Goreng Mbah Cemplung" saja dan Ane pun lebih suka menyebutnya demikian.
Khusus di Rumah makan ini Ane tak hanya menikmati ayam gorengnya saja tetapi juga mengenal lebih jauh mengenai rumah makannya. Ntah itu dari sejarahnya cara mengolahnya, dll. Tertarik untuk mengikutinya? cekidaut.


Pagi itu suasana cukup cerah, Ane yang kebetulan akhir - akhir ini hobi merasakan masakan yang sudah cukup dikenal masyarakat timbul fikiran untuk menikmati Ayam Goreng Mbah Cemplung. "Pagi cerah, gimana yaw kalau pagi ini Aku habiskan waktu untuk berburu kuliner yang ada di Bantul yakni Ayam Goreng Mbah Cemplung saja", fikirku. "Okelah kayaknya Aku harus kesana dan wajib kesana soalnya ayam goreng tersebut sudah dikenal oleh para pecinta kuliner", fikirku kembali. Dan tak lama kemudian Ane langsung arahkan kuda hijau Ane menyusuri Jalan Bantul ke arah selatan menuju Desa Wisata Kasongan. Loh kok ke Desa Wisata Kasongan? Yapz, ayam goreng ini letaknya tak jauh dari Desa Wisata Kasongan tempat dimana barang - barang seni seperti Gerabah dihasilkan. Tak mengalami kesulitan untuk sampai kesini, bulan lalu Ane sudah melewatinya ketika itu Ane berkunjung ke salah satu tempat wisata kuliner yang terkenal juga yaitu Pecel Baywatch Mbah Warno. Jalan menuju Ayam Goreng Mbah Cemplung sejalan dengan jalan menuju Pecel Baywatch Mbah Warno. Keduanya hanya berjarak kurang lebih 100 meter saja. So, buat sobat yang ingin tahu penjelasan gambar rutenya di bawah ini, bisa langsung di klik Pecel Baywatch Mbah Warno.


Jadi Ayam Goreng Mbah Cemplung ini terletak di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Tidak seperti pada Pecel Baywatch Mbah Warno, Ayam Goreng Mbah Cemplung terletak agak di tengah perumahan penduduk jadi harus masuk ke arah kiri dari jalan utama. Tenang sob, nggak usah khawatir, karena pas di pertigaan tersebut sudah ada papan petunjuknya.


Sesampainya di depannya, Ane bingung yang mana Rumah Makan Ayam Mbah Cemplung karena memang ada dua buah rumah yang saling berhadapan didepannya bertuliskan Ayam "Ayam Goreng Jawa Mbah Cemplung". Satunya terletak di sebelah utara dan satunya lagi terletak di sebelah selatan.

Rumah sebelah selatan
Rumah sebelah utara
Kok Ayam Goreng Jawa Mbah Cemplung? Yapz Rumah makan ini aslinya adalah Ayam Goreng Jawa Mbah Cemplung dan yang diolah disini adalah masakan serba ayam yang berasal dari Ayam Jawa (ayam kampung) dan bukan ayam potong yang biasa kita temui pada umumnya.
Tempatnya cukup sejuk karena di sekitar rumah masih banyak terdapat pohon - pohon yang rimbun. Selain itu parkirannya sangat luas, bahkan lebih luas bila dibandingkan dengan luas warungnya itu sendiri.
Di tengah kebingungan Ane, sebenarnya Ane mau bertanya kepada seseorang, tapi apalah daya tak ada seseorang selain para pegawainya yang sedang sibuk melayani tamunya. Ntar tanya sini yang benar sana dan tanya sana ntar yang benar sini. Ane sebagai orang jawa yang menjunjung sikap riwuh (tidak enakan), dengan tebak menebak dan mengandalkan insting yang kuat, masuklah Ane kedalam salah satu warung tersebut. Warung yang terletak di sebelah selatanlah yang menjadi pilihan Ane. Bimsalabim bab gedabrak, pasien lalu di sembur wuh. Semoga benar
Walau letaknya agak tersembunyi di pertengahan perumahan penduduk bukan berarti rumah makan ini sepi pembeli ya sob. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa pembeli yang sudah memadatinya.



"Mau pesan apa mas", tanya seorang pelayan laki - laki kepada Ane begitu Ane tiba di dalam. "Menunya ada apa saja yaw mas?", timpal Ane. Pelayannya pun menjelaskan dengan lincah dan cepat kalau di warung makan ini tersedia hanyalah spesial ayam goreng saja, jadi tak ada menu lain selain itu. "Okelah Ane pesan Ayam goreng saja yaw mas", jawab Ane. "Untuk minumannya mas?", tanya beliau. "Ada apa saja yaw mas untuk minumannya?", tanya Ane kembali. "Ada es teh dan teh hangat, es jeruk dan jeruk hangat serta es tape dan tape hangat", jawab pelayannya. "Okelah es tape saja ya mas", timpal Ane yang memang Ane saat itu ingin merasakan kesegaran minuman selain es teh. Untuk harganya Ane belum tahu dan cara menentukan harganya seperti apa. Hal ini akan Ane bahas dalam sesi wawancara.


Beberapa saat kemudian Es Tapenya datang, tapi tidak pada ayam gorengnya yang harus Ane tunggu beberapa saat lagi. sambil menunggu Ayam Gorengnya, Ane lihat - lihat sekitar.
Tempatnya cukup bersih dengan meja dan kursi berjajar rapi. Benar, nampaknya warung makan ini sudah cukup dikenal. Hal ini terlihat dengan adanya banyaknya iklan yang terpasang di dinding warung makan. Pemandangan yang sudah biasa di jumpai di setiap tempat makan yang sudah cukup dikenal.
Dan beberapa lama kemudian akhirnya datang juga pesanan Ayam gorengnya yang Ane tunggu - tunggu. Inilah penampakannya.

Ayam goreng tampak samping
Ayam goreng tampak atas
Ayam gorengnya menurut Ane sangat besar sekali. Ane sempat memperkirakan kalau berat ayam tersebut kurang lebih sekitar seperempat Kg. Sungguh wow. Ayam goreng ini tak sendiri, ayam gorengnya disajikan bersama buah mentimun, daun kemangi dan daun kenikir. "Hmmm, sudah lama Ane tak memakan daun kenikir, seperti apa yaw rasanya", fikir Ane.
Selain pada ayam gorengnya, tambahan lain yang tak kalah nikmatnya adalah adanya 2 macam sambal yaitu sambal mentah dan sambal matang. Sambal yang berwarna hijau (mentah) nampaknya sungguh pedas sekali dan berwarna merah (matang) yang sepertinya tidaklah terlalu pedas.


Tentu sebagai orang indonesia belum makan namanya kalau belum makan nasi. Sepiring nasi isinya cukup banyak dan cukup mengenyangkan Ane saat ini.


Dari kesemuannya itu dan inilah penampakan menu makan yang akan Ane sikat habis hari ini kecuali pada tulangnya.


Dimulai pada ayam gorengnya, ayam gorengnya enak sekali bener - bener enak sekali pas di lidah pokoknya. Tidak amis dan bumbunya meresap sehingga terasa gurih. Sebenarnya ayam jawa itu sendiri sudah cukup gurih dan enak sob bila langsung di goreng, tapi Ane cukup bisa membedakan mana gurihnya ayamnya dan ayam yang sudah dibumbui.
Sedangkan pada sambalnya, benar dugaan Ane sambal mentahnya memang sangat pedas sekali (sesekali sambil mengelap keringat), sampai - sampai Ane tak kuat menghabiskannya. Sementara sambal matangnya tidaklah terlalu pedas.
Tak hanya pada ayam gorengnya dan sambalnya saja, nasinya pun terasa enak karena disajikan dalam keadaan mengepul. Sebagai penutup makanannya, Ane meminum segelas es tape yang terasa manis dan tentunya mantab untuk dirasakan. 25,5 menit kemudian

tang tang tang, tinggal tulangnya saja
Nah saatnya Ane membayar apa yang telah Ane habiskan. Seporsi ayam goreng paha dan segelas es tape dihargai 38k. Mahal memang mahal, tapi hal itu setara dengan apa yang telah kita rasakan. Setelah membayarnya Ane iseng - iseng tanya kepada seorang kasir meminta izin untuk sekedar bertanya - tanya saja. Beliau mempersilahkannya dan menyuruhnya untuk bertemu langsung kepada pengelolanya yakni Mbak Ririn (generasi ketiga dari Mbah Cemplung dan orangnya masih terlihat muda). Lantas Ane menamui beliau.
Ane        : Permisi Mbak, perkenalkan nama saya Anis.
Mbak Ririn : Iya, ada apa ya mas?
Ane        : Jadi begini, kalau mbak ada waktu dan saya tidak sedang
             mengganggu bolehkah saya bertanya - tanya kepada mbak
             tentang Rumah Makan yang sedang mbak kelola?
Mbak ririn : Ewo monggo, silahkan.
Ane        : Dari tahun berapa yaw mbak rumah makan ini berdiri? dan
             bagaimana dengansejarahnya?
Mbak Ririn : Begini mas, Rumah makan ini berdiri tahun 1973. Waktu
             itu simbah nggak langsung begini, tetapi jualan kecil -
             kecilan dulu dan lambat laun seperti ini.
Ane        : Lantas mengapa kok Rumah Makan ini dinamakan Rumah
             Makan Mbah Cemplung?
Mbak Ririn : Dulu simbah berasal dari Dusun Cemplung. Dulu simbah
             berjualan disana (sambil menunjukkan suatu tempat tapi
             Ane lupa namanya). Lalu bapak membuatkan tempatnya
             disini. Dulu kecil mas bentuk warungnya masih seperti
             gubuk itu dan di sekitarnya masih ada kolamnya. Lama -
             kelamaan jadi seperti ini.
Ane        : Eow gitu. Lantas kok sepertinya ada dua tempat mbak
             warungnya. Terus yang sebelah utara itu apa masih
             bagian dari rumah makan ini?
Mbak Ririn : Eow itu, benar mas. Dulu situ masih banyak pohon -
             pohon yang rimbun dan lama - kelamaan Alkhamdulillah
             warungnya jadi ramai tow, lantas di tebang dan didiri-
             kanlah bangunan tersebut. Jadi semacam perluasan gitu 
             lo mas.
Ane        : Mulai kapan Rumah makan ini ramai yaw mbak?
Mbak Ririn : Ya mulai dari sejak adanya internet mas. Dulu pernah
             minta tolong seseorang untuk mempromosikan lewat
             internet dan mulai itulah tempat ini jadi ramai.
Ane        : Kan tidak bisa dipungkiri mbak kalau Ayam jawa ini juga
             tak bisa terhindarkan dari namanya penyakit misalkan
             saja penyakit flu burung. Lantas bagaimana suplai ayam 
             jawanya? apakah memelihara sendiri atau bagaimana?
Mbak Ririn : Ayamnya dari mana - mana mas, kadang dari tetangga
             sekitar, Pajangan, Kasihan, bahkan dari Sewon sana mas.
             Jadi nggak memelihara sendiri.
Ane        : Tadi saya sudah merasakan ayam gorengnya mbak, enak
             sekali mbak dan gurih. Kalau boleh tahu gimana sieh
             cara memasaknya?
Mbak Ririn : Itu mas, cara memasaknya ada di dapur. Jadi di masak
             dua kali menggunakan anglo sebagai kompornya dan kayu
             bakar sebagai bahan bakarnya. Ayam di masak dengan cara
             di rebus sebanyak dua kali. Rebusan pertama selama 4
             jam, kemudian ditiriskan selama semalam dan kemudian
             paginya direbus kembali sebelum di goreng. Nah ketika
             pengunjung datang, ayam tersebut bisa digoreng dan
             siap dinikmati.
Ane        : Eow jadi begitu, pantesan enak lo mbak.
Mbak Ririn : (Tersenyum kecil).
Ane        : Boleh mbak saya masuk dan mengambil gambarnya?
Mbak Ririn : Boleh mas, monggo silahkan.
Bau harum tercium ketika Ane memasuki dapurnya. Disinilah pemasakan ayamnya dilakukan. Pemasakan dilakukan menggunakan anglo sebagai kompornya dan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Inilah beberapa foto dapur Rumah Makan Ayam Goreng Mbah Cemplung yang berhasil Ane abadikan.

Terlihat para pegawainya yang sedang sibuk mengerjakan aktifitasnya
Terlihat Anglo yang sedang digunakan untuk memasak sebagai kompornya
Wuih daging ayam jawanya buanyak banget
Ada yang mau???
Memang benar - benar yahud. Ntah mengapa kalau masakan itu dimasak menggunakan kayu bakar sepertinya sesuatu banget rasanya. Lantas Ane keluar dari dapur dan melanjutkan lagi obrolan kita.
Ane        : Eow iya mbak Nama asli dari Mbah Cemplung itu siapa ya?
Mbak Ririn nampaknya kurang begitu tahu dan balik bertanya kepada salah satu pegawainya. Dari keterangan pegawainya diketahui kalau nama asli dari Mbah Cemplung adalah Mbah Reso.
Ane        : Mbak kan tahu kalau rumah Makan ini sudah tenar, ada
             niatan tidak mbak untuk menambah menu lainnya, misalnya
             saja itik atau entok mungkin?
Mbak Ririn : Dulu pernah nyoba mas, tapi kurang begitu di sukai.
             Keluarga kita rembukan dan diputuskan kalau Rumah Makan
             ini hanya menyediakan menu spesial ayam kampung saja.
             Jadi sudah tidak ada niatan lagi untuk menambah atau
             mengganti menu.
Ane        : Tadi saya melihat di dapur mbak itu ayamnya dimasak
             utuh satu ekor. Nah kalau misalkan yang datang kesini 
             itu bergerombol. Apakah satu ekor itu dimasak (di 
             goreng) gitu aja mbak?
Mbak Ririn : Jadi disini ada dua penawaran mas cara menikmatinya.
             Mau di potong - potong atau utuh gitu aja. Kadang ada
             yang minta di potong - potong walupun datang bergerom-
             bol, tapi ada juga yang meminta utuhan gitu aja. Jadi
             tergantung permintaan.
Ane        : Eow. Untuk harganya gimana yaw mbak sistemnya?
Mbak Ririn : Untuk tarifnya: Kepala    : 18k - 30k
                             dada/paha : 25k - 45k
                             1 utuh    : 100k - 180k
                             Nasi      : 4k
             Sedangkan untuk minumannya:
             es teh, es jeruk dan tape    : 3k
             Beras kencur dan wedang uwuh : 5k
             Tergantung besar kecilnya ayam mas tarifnya.
Ane        : Jam buka mbak?
Mbak Ririn : Jam 8 pagi sampai 5 sore.
Ane        : Bisa minta foto bersama dengan mbak?
Mbak Ririn : Nggak mas, kalau mau foto bersama dengan pegawai saya
             aja. Kan berkat mereka - mereka bisa seperti ini dan
             bertahan sampai sekarang. Jadi bukan karena saya.
Ane        : Iya mbak (dengan mimik muka yang agak kecewa), kalau
             begitu terimakasih ya mbak sudah meluangkan waktunya
             bersama saya.
Mbak Ririn : Iya mas, sama - sama.
Ane        : Saya do'akan semoga rumah makan yang sudah ramai ini
             tambah ramai.
Mbak Ririn : Terima kasih mas.
Ane        : Sama - sama mbak.
Nah itulah beberapa pertanyaan yang telah Ane lontarkan kepada Mbak Ririn sebagai pengelola Rumah Makan Mbah Cemplung ini. Dah sampai disini dahulu ya sob cerita Ane semoga bisa memberikan sedikit manfaat bagi sobat semua. Sampai jumpa.

38 komentar:

  1. Rada mahal tapi ketok enak banget. Suka caramu pakai wawancara segala. Banyak blogger yg jepret2 sesukanya lalu upload.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He'em mbak,,, betul sekali. Yaw, kadang iseng - iseng sieh mbak,,, tanya - tanya gitu. Buat pengetahuan juga. Terima kasih mbak Lusi sudah mampir di rumah ini :-)

      Hapus
  2. kriuk2 perutku langsung.. -__-.. aku jg lebih suka makan ayam kampung drpd ayam suntik yg gendut2 itu mas... biar gendut tp dagingnya tawar :D.. ayam kampng lbh manis yaa.. sedih bgt ini tempat jauh bener... palingan baru bisa aku dtgin kalo lagi mudik ke solo :D.. ga gitu jauh kalo mw k sana..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaw sama mbak kalau mbaknya suka makan ayam kampung. Cuman kalau makan Ayam kampung terus yaw kantong bikin bolong mbak. Bukan karena uangnya mbak, tapi karena kantongnya sering kegesek dengan jari - jari tangan. Iyaw mbak dagingnya lebih manis dan gurih. Mbaknya orang Solo ta? wah berarti dekat dengan Jogja. Ntar kalau pulang jangan lupa mampir ke Jogja kak :-)

      Hapus
  3. Balasan
    1. Kalau dagingnya gurih kak... Tapi kalau sambalnya yang Hijau pedas dan yang merah nggak begitu. Tapi tetep enak, hehe

      Hapus
  4. wah uenaaakkkkk, saja juga pernah kesana sama teman-teman blogger di jogja. Jogja juga mas? Salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah asyik nuw kak,,,, lain kali kalau kopdar, atau tehdar, atau ayam kampung dar,,, bolehlah aku ikut gabung. Maklum aku newbie mbak, jadi belum kenal temen - temen. Salam kenal kembali kak Atanasia

      Hapus
  5. Baca ini jadi beneran ngiler deh. Kebayang sih gimana enaknya. Direbus empat jam itu bikin bumbu meresap banget. Duh, gimana ini... jadi pengen ;D

    BalasHapus
  6. Aserehe, maknyus tenan ki mas anis...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah pokoke maknyusss josss gandosss mas, hehehe

      Hapus
  7. makan ayam harus pakai sambel maknyus. namanya unik ya ayam cemplung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak,,, Nah itu dia mbak, tadinya aku kira di sebut ayam cemplung ini karena ayamnya langsung di cemplungin kedalam minyak goreng yang udah mateng,,, ndak taunya penjualnya yang tadinya berasal dari Dusun Cemplung, hehe

      Hapus
  8. wah sampeyan emang bakal hits karena makanan mas hehe.... semoga bisa makan" an sampe mekkah mas aamiin....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amien mas do'akan sampai mekkah, sekalian naik haji,,, hehehe

      Hapus
    2. wah lah itu yg pasti mas aamiin....

      Hapus
    3. Aamiin. Terima kasih mas Angki :-)

      Hapus
  9. Uiiihhh ayam gorengnya menggugah selera. Bisa buat 2 orang tuh kalo porsi saya. Sambelnya luar biasa deh kayanya. Hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaw mbak bener banget,,, soalnya daging ayamnya besar banget kalau utk 1 orang,,, dan di tambah sambelnya yang pedas,,, hehe

      Hapus
  10. Pernah ke situ sekali, dan yang parkir mobil mobilnya banyakan bukan plat AB =,= Itu kok btw aneh banget, generasi ketiga tapi ngga tahu nama mbahnya sendiri?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eow,,, iya mbak,,, kata mbak ririn nya udah darimana - mana yang datang kesitu. Tidak hanya berasal dari wilayah Jogja saja. Nah itu, aku juga merasa ada yang aneh, tapi mungkin mbak Ririn nya lupa. hehe

      Hapus
  11. Aku belum pernah ke sini, padahal banyak teman yang ngajakin ke sini :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah pokoke nyesel mas kalau nggak kesini. Langsung aja ke TeKaPe mas Sitam

      Hapus
    2. Insyaallah diagendakan bareng teman-teman main ke sini :-D

      Hapus
  12. Namanya unik bgt..cemplung, hehehe..

    Mudah2an kapan2 bisa singgah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bang,,, Kalau Ke Jogja wajib mampir, hehehe

      Hapus
  13. Ya ampun ngiler lihat ayam gorengnya. Sepertinya manis ya Mas, sesuai masakan Jawa. Terus lihat yg belum goreng dalam panci, ih kalau seperti di rumah saya, habis tuh seharian hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha,,,, Memang mbak, la kalau itu kemarin boleh tak bawa pulang, langsung tak bawa pulang mbak. Di rumah pasti ludes,,, hehehe

      Hapus
  14. *Glek* ngiler lihatnya. Biasanya ayam kampung rasanya itu lebih enak dari ayam broiler

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe,,, Pasti mbak lebih enak ayam kampung. Dagingnya itu rasanya seperti ada gurihnya gitu

      Hapus
  15. ayam gorengnya nyummy, mba. langsung habis dimakan ya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ma'af mbak sebelumnya,,, Saya laki - laki, hehe. nggak juga lumayan butuh waktu agak lama, soalnya dagingnya agak ulet jadi nggak lunak seperti ayam potong biasa.

      Hapus
  16. Kalau aku ke Jogya ajak daku kesini, ahhhh masakanya masih pakai kayu gitu aku suka banget. lebih endesss. Duh sambel mentahnya lebih pedas dan menggoda. Sayang, perutku rada eror kalau bersentuhan dengan sambel mentah.

    Ayamnya gede gede banget, yum yum

    BalasHapus
    Balasan
    1. La ayok lo mbak,,, masak dari India udah sampai Jogja nggak tak sambut dengan kaki terbuka, eh maksudnya tangan terbuka dink. Segera pulang ke Indo :-) Sambel mentahnya sementara di buang dulu yang dimakan ayamnya saja. hehehe

      Hapus

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me