Jumat, 11 Desember 2015

Petualangan Kuliner Mencari Mangut Lele Mbah Marto

Akhir - akhir ini ntah kenapa Ane secara tiba - tiba ingin sekali merasakan berbagai macam rasa kuliner yang sudah ngehits di Jogja. Tak terkecuali dengan yang satu ini Mangut Lele Mbah Marto yang terletak di Dusun Nggeneng, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Letaknya yang tersembunyi di tengah - tengah perkampungan penduduk dan tidak ada papan petunjuk yang menunjukkan lokasi warung ini, tak pelak Ane sempat tersesat beberapa kali.


Perjalanan Ane mulai dari kota Jogja menyusuri Jalan Parangtritis dan sesampainya di ISI Ane pelankan laju kuda hijau Ane hingga menemukan sebuah Kantor POS Sewon yang terletak di sebelah kiri jalan. Dari kota Jogja sampai disini tidak masalah. Nah mulai dari sinilah masalah timbul. Ane tak tahu tempat persisnya dimana dan hanya berdo'a saja nantinya Ane ketemu dengan orang yang baik yang bisa mengantarkan Ane ke tempat Mbah Marto dan tidak menyesatkan ketika Ane tanya.
Tepat di seberang kantor pos terdapat sebuah jalan masuk yang mengarah ke arah barat, masuklah Ane. Lurus terus hingga melewati gedung ISI dan kemudian bertemu pertigaan dan beloklah Ane ke kiri ntah sampai mana dan sepertinya Ane tersesat, berbekal informasi yang Ane dapat Warung Mangut Lele Mbah Marto terletak di belakang sebelah barat daya kampus ISI (kampusnya orang - orang seni). Sedangkan saya sudah berada jauh di sebelah barat kampus tapi kok tidak ketemu, agar kesalahan tak berlanjut, tanyalah Ane kepada seorang laki - laki yang sedang menghampiri pacarnya. 
Ane    : Ma'af mas, mau tanya apakah mas tahu Warung Mangut Lele 
         Mbah Marto?
Masnya : Nggak ew mas (jawabnya dengan penuh ragu - ragu)
Tiba - tiba pacarnya muncul dari balik pintu gerbang dan beliau bertanya kepada pacarnya, nampaknya sang pacar pun juga tak tahu dimana warung yang Ane maksud.
Pacarnya : Nggak ngerti ew mas
Ane      : Ow yaudah mbak kalau begitu, terima kasih yaw mbak, mas.
okelah Ane lanjutkan perjalanan Ane dan balik lagi ke pertigaan gedung ISI yang sudah Ane lewati tadi. Disitu ada seorang bapak - bapak yang sepertinya akan pergi ke sawah. Tanyalah Ane kepada beliau dengan bahasa jawa.
Ane      : Nuwun sewu pak, kulo ajeng badhe tanglet, bilih Warung
           Mangut Lele Mbah Marto niku pundi nggeh pak?
           Permisi pak, saya mau tanya dimana Warung Mangut Lele
           Mbah Marto itu ya pak?

Bapaknya : Eow kae mas, pertelon niko belok nengen, terus eneng
           mesjid belok ngiri terus lurus mlebu gang, tekon kunu
           wae mas.
           Eow sana mas, pertigaan sana belok kanan, terus ada
           masjid belok kiri terus lurus masuk gang, tanya situ
           saja mas.

Ane      : Eow nggeh pak, matur nuwun nggeh
           Eow iya pak, terima kasih ya

Bapaknya : Sami - sami mas
           Sama - sama mas

Dari arahan beliau Ane pacu kuda hijau Ane balik ke pertigaan sebelum gedung Kampus ISI dari arah keberangkatan tadi dan kemudian beloklah Ane ke kanan hingga menemukan masjid dan beloklah ke kiri lagi. Ternyata setelah lurus terus, Ane tersesat lagi dan tanyalah Ane kepada seorang bapak yang sedang cari kayu dan kebetulan beliau akan segera pulang ke rumah.
Ane      : Nuwun sewu pak, kulo ajeng badhe tanglet pak, bilih
           Warung Mangut Lele Mbah Marto niku pundi nggeh pak?
           Permisi pak, saya mau tanya pak, dimana warung Mangut
           lele Mbah Marto itu ya pak?

Bapaknya : Kono kae mas, eow melu aku wae yok mas mengko tak duduhi
           ( bukan kuah sayur lo sob), Aku arep balik sisan.
           Sana mas, eow ikut saya aja yok mas nanti tak kasih
           tahu, saya mau pulang sekalian.

Ane dengan senangnya langsung saja mengiyakan ajakan beliau.
Ane      : Nggeh Pak, matur nuwun nggeh, leres niki kulo boten 
           ngrepoti?
           Iya Pak, terima kasih ya, benar ini saya tidak
           merepotkan?

Bapaknya : Nggak mas, iki aku arep bali sisan.
           Tidak mas, ini saya akan pulang sekalian.

Berjalanlah Ane mengikuti bapaknya dan tak lama kemudian beliau menunjukkan sebuah gang dimana Ane sudah maksud bahwa Ane harus masuk ke gang tersebut dan sebentar lagi Warung Mangut Lele Mbah Marto akan Ane temukan. Benar saja, akhirnya Ane temukan juga nieh warungnya. Tarantatata (jingkrak - jingkrak sambil koprol).


Letaknya memang benar - benar di tengah perkampungan, tapi cukup Ane saja yaw sob yang tersesat dan harus beberapa kali Ane bertanya kepada warga sekitar tentang keberadaan warung ini. Agar sobat tidak tersesat ketika datang kesini, berikut Ane kasih rutenya:


Lihat Peta sambil Ane jelaskan ya sob. Dari perempatan Pojok Beteng Wetan, bergeraklah ke arah selatan menyusuri Jalan Parangtritis lurus terus melewati sebuah perempatan lampu merah dimana di sebelah kanan perempatan tersebut terdapat POM Bensin. Masih lurus ke selatan hingga menemukan perempatan lampu merah besar dan masih lurus ke selatan hingga menemunkan kampus ISI. Dari sini pelankan kendaraan laju kendaraan sobat hingga menemukan Kantor POS Sewon yang terletak di sebelah kiri jalan.


Tepat di seberang jalan kantor pos tersebut (sisi sebelah kanan Jalan Parangtritis), terdapat gang kecil namun jalannya masih beraspal, masuklah sobat ke gang tersebut hingga menemukan sebuah tikungan jalan aspal. Tepat di tikungan jalan tersebut ada jalan masuk ke arah kiri (ke barat), jalannya tidak beraspal mulus.



Beloklah sobat ke arah kiri ke jalan tersebut hingga menemukan sebuah masjid yang cukup besar.


Dari masjid tersebut terlihat ada jalan yang lurus dan ada juga belokan ke arah kiri. Ambillah ke arah kiri terus hingga menemukan sebuah pertigaan dimana di samping kanan jalan sebelum pertigaan berdiri sebuah rumah berlantai dua yang ada di gambar berikut.


Masuklah ke jalan tersebut. Nah di jalan ini biasanya kendaraan roda empat terpakir. Bila sobat menggunakan roda dua, kurang lebih 20 meter dari pertigaan ini ada sebuah gang kecil yang mengarah ke arah kiri (barat), ukuran jalan gang ini cukuplah untuk kendaraan bermotor roda dua. Beloklah ke arah gang tersebut lurus terus hingga menemukan sebuah plank yang bertuliskan "Warung Mangut Lele Mbah Marto".


Dah masuk aja dan parkir kendaraan sobat di halaman depan rumah.
Dimana warungnya? kok bentuknya rumah gitu?. Yapz, Warung Mbah Marto ini mengingatkanku pada Warung Pecel Baywatch Mbah Warno yang letaknya sama - sama di Bantul yang menurut Ane lebih cocok disebut sebagai rumah daripada warung. Hanya beberapa meja dan kursi saja yang ada di warung ini. Dua meja dan kursi terletak di teras rumah, dua lagi terletak di ruang tamu, dan sebuah meja kursi terletak di emperan samping rumah.
Nampaknya warung ini sudah cukup tenar, hal ini terlihat dari beberapa foto Mbah Marto bersama beberapa artis yang menghiasi dinding rumah. Ada juga Pak Bondan yang terkenal dengan kata Maknyus ketika mencicipi kuliner nusantara. Apakah Mangut Lele Mbah Marto ini Maknyusss? Tunggu dulu.

Mbah Marto bersama Pak Bondan "Maknyus"


Sesampainya disini Ane bingung karena baru pertama kali ini Ane kesini, Ane kirain setelah sampai duduk manis dan pelayannya akan mendatangi pengunjungnya dan mencatat apa saja yang ingin di pesan. Ternyata dugaan Ane salah, seharusnya pengunjung begitu sampai langsung menuju ke Pawon (dapur) dan langsung saja mengambil apa yang ingin dimakan.

Mangut lelenya terlihat menggoda
Seorang pengunjung yang cantik sedang mengambil mangutnya
Inilah yang Ane suka karena setiap pembeli bisa mengambil nasi sesuka hatinya sesuai dengan isi perutnya. Inilah keunikan yang dimiliki oleh Warung Mangut Lele Mbah Marto. Hal ini mengingatkanku juga pada Gudeg Pawon yang ada di sekitar bekas terminal lama Umbulharjo.


Selain mangut lele, disini ternyata tersedia juga beberapa menu makanan yang bisa dinikmati pembeli, di antaranya:

Opor ayam
Opor jeroan ayam
Opor tahu, tempe dan telur
Krecek
Gudeg daun pepaya
dan juga pepes ayam
Ane tak mungkin mengambil semuanya karena keterbatasan isi perut. Selain itu juga agar ramah di kantong, hehehe. Nasi putih dengan mangut lelenya yang jelas wajib di coba, krecek dan sekaligus gudegnya yang tentu tak boleh dilewatkan begitu saja. Untuk minumannya Ane pesan segelas es teh saja yang cukup melepas dahaga ketika itu.

Santai dulu, narsis dulu deh
Semangkok mangut lele dan segelas es teh manis semanis kamu siap di sikat habis
Secara visual mangut lele ini berselimutkan sambal cabai merah, memang benar rasanya pedas dengan berpadukan rasa gurih dan tidak sangit benar - benar maknyusss, sehingga menambah nafsu makan Ane. Ada yang berbeda dengan gudegnya, tidak seperti pada umumnya gudeg yang terbuat dari nangka muda saja, gudeg di Warung Mbah Marto ini diberi campuran daun pepaya. Apakah rasanya pahit? oh no, tak sepahit yang dibayangkan. Sedangkan kreceknya lumayan pedas sehingga lengkaplah sudah menu makan siang hari ini. 21 menit kemudian

Jreng - jreng
Makan sudah minum pun sudah, saatnya kini Ane membayarnya. Tapi sebelumnya Ane mau membahas masalah dapur dulu dan sekedar tanya - tanya kepada simbahnya.
Pawonnya saja masih tampak tradisional yang masih bertahan sampai saat ini. Wajar jika mangut lele ini diburu oleh para pecinta kuliner baik nusantara maupun lokal, pengolahannya saja masih menggunakan cara tradisional yaitu menggunakan tungku yang terbuat dari batu bata sebagai kompornya dan menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Kebanyakan kalau proses masaknya masih menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakarnya, ntah mengapa hasil masakan yang dihasilkan itu lebih enak bila dibandingkan dengan kompor.



Khusus pada mangut lelenya, mangut lele tersebut diolah menggunakan pelepah daun kelapa. Walaupun demikian mangut lelenya terasa enak dan tidak terasa ada rasa pahitnya.


Ada kejadian aneh sob, tak banyak informasi yang Ane dapatkan dari Mbah Marto. Hal ini dikarenakan Ane yang membawa kamera dan meminta berfoto bersama beliau tapi beliau tidak mau dan memilih meninggalkan Ane pergi ke teras rumah dan berjumpa dengan para pengunjungnya. Ane sempat heran kenapa kok beliau tak mau berfoto dengan Ane dan memilih untuk pergi? Telisik punya telisik baru Ane ketahui kalau beliau tak mau berfoto dengan pengunjungnya bila menggunakan kamera DSLR, prosumer dan sejenisnya. Bila menggunakan HP beliau bersedia untuk berfoto.
Wah, yasudah Ane tak jadi berfoto bersamanya. Mau foto gimana la wong dengan kamera tidak mau, sedangkan HP Ane paling canggih fasilitas FM radio. Ew namanya ada niatan disitu ada jalan, setelah cek dan ricek tak sengaja ada foto Mbah Marto nya yang sedang berjalan keluar dari rumah beliau. Jadi lengkap sudah petualangan kuliner Ane hari ini.


Saatnya Ane membayarnya apa - apa yang telah Ane makan. Soal harga cukup bersahabat, sepiring mangut lele yang berisi nasi putih, seekor lele, krecek dan gudeg serta segelas es teh manis dihargai 25k saja.
Gimana, penasaran dengan Mangut Lele Mbah Marto ini? langsung saja datang dan buktkan sendiri kenikmatan Mangut Lelenya.
saran aja:
- Bila sobat ragu - ragu ketika menuju ke warung ini dan takut
  tersesat, jangan sungkan - sungkan sobat bertanya pada penduduk
  sekitar. Tenang saja penduduk di sekitar Warung Mbah Marto ramah -
  ramah. Ane membuktikan sendiri dari keramahan penduduk tersebut.
- Bila sobat ingin foto bersama simbahnya, sediakan HP jangan
  menggunakan kamera DSLR, prosumer dan sejenisnya yaw sob. Kata
  Simbahnya kalau foto menggunakan kamera DSLR dan sejenisnya bisa 
  membuat beliau pusing. Jadi hormatilah.
- Sebelum makan jangan lupa berdoa
- Setelah makan jangan lupa bayar dan jangan main nyelonong saja
  langsung pulang, hehehe.

20 komentar:

  1. Mantab banget makanannya gan. Kalo ke Yogya wajib dikunjungi nih. Makasih sudah membuatkan sket petunjuk, lumayan membantu.
    salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaw mas, wajib. Sama - sama. Terima kasih sudah mampir di rumah (blog) saya

      Hapus
  2. Ya Allah, ampunilah hambamu yang satu ini. Jadi kangen masakan Indonesia.
    Apalagi langsung ngambil menu sendiri di dapur dan masaknya sama kayu. hadew hadew, sukaan yg ginian, serasa kayak dirumah makannya.

    Ambil nasi sepuasnya ? disitu beneran kayak dirumah. Kayaknya klo ke Jogya, harus sediakan waktu khusus buat badokan alias kulineran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayok pulang - pulang kesini mak,,, jangan makan nasi birani terus di luar sana. Cepetan - cepetan. Pokoknya pemasakannya itu seperti masak sendiri, pakai anglo dan kayu. Rasa masakannya di jamin maknyussss. Wajib kulineran nuw mak kalau pulang. Hehe

      Hapus
  3. wuuuhh hits iki mas hehe....mantap ams anis lanjutkan mas hehe.... saya kemrain masih belum sukses cari yg pecel haha..... nie mangut kalo ada ping google maps wah senneg akuhh hehe... jng lupa di ping mas,... biar hits hehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha,,, siep mas. sebenarnya ini udah lama cukup ngehits kok mas. Tapi baru sekarang - sekarang saja aku nyari - nyari kuliner yang agak blusuk - blusuk mas,,, hehehe

      Hapus
    2. wkwkwkw aku emang nol besar masalah makanan mas haha mantap mas anis

      Hapus
    3. La sampean ki mbolang terus ew mas, dadi nggak sempet kulineran. Aku sebenarnya yaw ingin mbolang mas,,, tapi lagi musim hujan, jadi yaw kulineran saja sambil nunggu musim kemarau lagi,,, hahhaha

      Hapus
  4. Ajiiib... Mangutnya dimasak secara tradisional. Maknyus banget....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas,,, bener - bener maknyus,,,

      Hapus
  5. Waaa nemu blogger jogja lagi :) hihihi salam kenal ya mbak :3

    Tempatnya ndelik-ndelik ya mbak? Sekilas kayak warung gudheg yang dimana itu mbak, kalau makan dipawonnya langsung dan ngantriiiinya panjang banget :D

    Aaah, detail banget kamu reviewnya mbak :)) kereeeen :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas salam kenal juga... Ma'af mas, saya laki - laki, hehehe. Iyap betul mas Febri tempatnya memang agak masuk - masuk, sampai sampai tersesat beberapa kali. Justru itu sensasinya mas. Mungkin yang Mas Febri maksud Gudeg Pawon ya mas,,, iya, makan di gudeg pawon biasanya harus antri. Terima kasih mas, saya hanya menuliskan yang saya tahu mas, hehehe. Terima kasih sudah mampir mas Febri

      Hapus
    2. Duh, ampuuun ._. aku nggak tau kalau laki-laki heheh :D

      Hapus
    3. Kagak apa - apa mas, santai aja dah biasa, hehehe.

      Hapus
  6. Wuaaahhh enak banget. Baru tahu ada yang ginian. Langsung ke pawon uyyy. Jadi pingin ke sini juga.

    BalasHapus
  7. gila komplit bgt ampe ada` petanya ^o^.. aku save dulu ah... Aku prnh dgr sih mas ttg mangut lele ini, cm blm kesampaian coba aja.. pd dasarnya aku ga suka lele, tp aku suka yg pedes2, jd mungkin mangut lele ini bisa cocok... tp btw, emg harus lele ya :D.. ga bs ikan lain gitu ;p?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pumpung tahu mbak,, jadi tak kasih petanya sekalian :-) . Thanks lah kalau di bilang komplit dan monggo kalau mau di save, hehehe. Di coba mbak, pokoknya rasanya gimana gitu. Iyaw, lumayan pedes nieh mangut. Kurang tahu kalau ikan lain di mangut, lupa nggak nanya ama pegawainya Mbah Marto.

      Hapus
  8. kudu nyoba ini kalo ke joggja....

    wajiiib !!!!

    pagi gini baca postingan ini jadi ngiler :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaw mas,,, wajib. Langsung TeKaPe aja :-)

      Hapus

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me