Minggu, 13 Desember 2015

Ayam Goreng Ninit, Lunak Tulangnya Genit Rasanya


Ini ceritanya santai sob, nggak blusukan seperti kemarin di Mangut Lele Mbah Marto. Bukan karena kapok kalau mau makan kenapa harus yang sulit yaw, tetapi Ane mau santai dulu di kost dengan kulineran yang dekat - dekat saja.
Tak di pungkiri di Jogja ini banyak sekali warung makan yang sudah melegenda dari tahun 60 an ada, 50 an pun ada, bahkan 40 an pun ada. Tapi ada sebuah warung makan dekat kost Ane yang cukup dikenal masyarakat akan kelezatannya, yakni Warung Makan Ayam Goreng Ninit. Ane lebih suka menyebutnya dengan "Ayam Goreng Ninit" saja.



Banyak sieh warung makan yang menjual ayam goreng, tapi banyak yang bilang ayam goreng ini memiliki rasa yang berbeda dan khas. Apakah benar demikian? kita lihat saja nanti. Ane hanya membutuhkan waktu kurang lebih 7 menit saja untuk sampai sini.
Mungkin ada sobat yang bertanya? bagaimanakah cara menuju kesini bila di tempuh dari Malioboro? Oke, arahkan saja kendaraan sobat melewati Jalan Abu Bakar Ali menuju ke Stadiun Kridosono yang ditandai dengan adanya jalan yang memutar (melingkar), kemudian beloklah ke kiri (menuju utara) lurus sampai menemukan perempatan lampu merah. Dari Perempatan ini masih lurus ke utara hingga menemukan bunderan Kampus UGM. Dari bunderan ini arahkan kendaraan sobat ke arah kiri hingga menemukan perempatan lampu merah yang di sisi kiri jalannya terdapat sebuah supermarket Mirota Kampus. Kemudian belok kiri dan pelankan kendaraan sobat sambil melihat sisi kiri jalan. Tak lama kemudian sampailah sobat di Ayam Goreng Ninit. Dilihat dengan cermat yaw sob dalam mencari rumah makan ini karena terletak di antara pohon. Masih bingung? okelah Ane kasih gambarannya.


Rumah Makan Ayam Goreng ini terletak di Jl. C. Simanjutak No. 20 Yogyakarta. Kalau pulangnya nggak usah lewat jalan tadi yaw sob, akan lebih mudah sobat lewat saja Tugu Jogja ke kiri saja.
Warung makannya cukup sederhana dengan arsitektur yang didominasi oleh kayu. Tak hanya pada bangunannya, Meja dan kursi pun terbuat dari kayu yang tertata rapi sehingga tampak natural.


Tak banyak pengunjung yang datang ketika Ane tiba. Memang Ane tiba di waktu yang tanggung pukul setengah sebelas pagi. Konon katanya Rumah Makan ayam goreng ini akan dipadati pengunjung jika waktu makan siang tiba. Bila hal itu benar adanya maka Ane tak heran karena Ayam goreng ini sudah berdiri cukup lama yakni tahun 1984.


Sesampainya disini, Ane langsung menghadap pelayannya dan langsung membayarnya. Jadi begitu datang, ambil ayam gorengnya, dan langsung bayar. Seporsi ayam goreng, seporsi nasi putih dan segelas es teh manis di banderol dengan harga 18k.


Menurut Ane kalau makan disini yang repot adalah pengunjungnya karena ketika kita membayarnya, kita akan dikasih apa yang kita pesan beralaskan nampan yang terbuat dari kayu. "Wah cara cerdas", fikirku. Jadi tak perlu repot - repot pelayannya mengantar.
Tampak sekilas ayam goreng ini tidaklah berbeda dengan ayam goreng pada umumnya, tidak terlalu besar atau kecil jadi bisa di bilang pas, cocok. Begitupula dengan seporsi nasinya yang bisa dibilang cukup pas di perut.
Lalu bagaimana dengan rasanya?, ternyata memang benar, setelah Ane merasakannya sendiri dagingnya memang lunak dan enak serta gurih pokoknya khas deh. Dagingnya sangat mudah dilepaskan dari tulangnya. Ane sempat tertipu sob dengan dagingnya. Ane kira ini daging berasal dari daging ayam kampung, setelah Ane bertanya kepada pelayannya ternyata ayam goreng ini berasal dari ayam potong. Tak butuh waktu lama untuk menghabiskannya, karena Ane saat itu belum sarapan pagi jadi nggak kebayang kan gimana laparnya.


Dengan harga segitu menurut Ane tidaklah mahal karena setara dengan apa yang kita rasakan.
Bagaimana tertarik? kalau tertarik datang saja langsung kesini. Jam buka ayam goreng ninit ini dari pukul 9 pagi hingga 5 sore (informasi Ane dapatkan dari pelayannya secara langsung). Jadi jangan sampai ketinggalan ya sob. Eow iya jangan lupa juga nikmatin sambal bawang atau terasi sehingga menambah nikmatnya dari ayam gorengnya. Tapi sayang, Ane lupa tidak merasakan salah satu di antara sambal tersebut. Jadi kalau enak diceritaiin yaw.
Dah, sekarang saatnya Ane pulang, sampai jumpa.

10 komentar:

  1. Ayam kampung mana boleh seporsi Rp12.000. Minimal Rp20.000 kayak di Mbah Cemplung itu. Dulu aku makan di sini masih Rp9.000 per porsi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaw juga ya mas bro... Aku malah kemarin nggak sampai mikir begitu ew. Tapi bener dagingnya memang bisa menipu koq, hehe

      Hapus
  2. Sekalipun bukan ayam kampung, penampilan ayam gorengnya menggoda, Mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. He'em mbak, walaupun makan kemarin tapi sampai sekarang masih terngiang lezatnya mbak :-)

      Hapus
  3. Balasan
    1. Iyaw mbak,,, tapi kalau dibandingin ayam goreng pada umumnya itu masih tergolong mahal lo kak,,,, Maklum ini di Jogja lo,,, hehe. Eow iya maaf saya laki - laki mbak,,, bukan wanita,,, hehe

      Hapus
  4. Ajiiiib. Alhamdulillah ya mas masih diberi kenikmatan makan enak. Kapan2 hunting kuliner bareng yuk... Tar kita posting barengan juga. Asik tuh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alkhamdulillah iya mas,,, coba kalau lagi diberi cobaan sakit, seenak apapun itu tetep nggak enak. Hayuk mas,,, kapan nieh? hehehe,,,, hitung - hitung kopdar lah mas :-)

      Hapus

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me