Jumat, 29 Januari 2016

Penuh Perjuangan Menuju Embung Batara Sriten

"Kang, habis ini masa pulang?" tanya adik Ane ketika kita usai keluar dari Warung Gathot dan Thiwul Yu Tum. 
"La memang mau kemana ndok?", jawab Ane dengan santainya. "Ke Pantai yuk kang, Indrayanti apa Drini gituloh", balas adik Ane dengan muka agak memelas dan sedikit memaksa.
"Yawdah yok segera naik, kita segera meluncur Embung Batara Sriten aja", jawab Ane sambil menyuruhnya untuk segera naik di boncengan belakang kuda hijau kita". "Memang dimana itu kang?", timpal dia kembali. "Dah to, naik aja nanti kan lak sampai".


Ane sebenarnya sudah merencanakan kalau sehabis dari Gathot dan Thiwul Yu Tum kita bakalan meluncur ke Embung Batara Sriten ini, cuman adik Ane belum tahu rencana yang ini. Ya biar surprise lah. Tapi dia tahu kalau di Gunung Kidul ini banyak pantai - pantai yang cantik seperti Pantai Indrayanti, Drini, Baron, dan lain sebagainya. Sehubung Ane kurang begitu mood untuk ke pantai ya Ane ajak sajalah menuju embung ini.



Naiklah dia di bagian belakang motor kita. Perjalanan ini bakal panjang, menurut kabar yang beredar kalau akses menuju ke kesana tidaklah semulus jalan biasa apalagi tol dan tak semudah perjalanan kulineran biasa. Bahkan ada yang bilang kalau kesana sebaiknya menggunakan kendaraan roda 4 haruslah hardtop 4 X 4 dan kalaupun motor haruslah bergigi dan bukan matic.
Tapi Ane tak memiliki salah satu di antara keduanya, kita hanya menggunakan motor matic dan itupun yang kita punya. Dengan berbekal 2 botol air minum dan kue secukupnya serta semangat dan tekad yang kuat berangkatlah kita menuju sana.



Kita berangkat dari Kota Wonosari, di mulai dari perempatan lampu merah RSUD Wonosari, Ane arahkan kuda hijau kita menyusuri Jalan Taman Bakti yang berada di sebelah kanan RSUD Wonosari. Jl. Taman Bakti sudah berlalu kini berlanjut ke Jl. Wonosari - Nglipar hingga mentok. Di pentokan ini kita bertemu Kantor Kecamatan Nglipar. Beloklah kita ke arah kiri kurang lebih 30 meteran saja. Tak ada papan petunjuk apalagi papan yang bertuliskan,"Embung Batara Sriten", tentulah tak ada. Disitu ada belokan ke kanan namun jalannya tidak semulus sebelumnya sehingga kita tidak yakin kalau ini benar - benar menuju ke embung. Dengan perasaan ragu - ragu, beloklah kita ke arah kanan. Keragu - raguan kita semakin kuat, pasalnya tak ada seseorang yang berlalu lalang kseini, apakah jalan yang kita tempuh ini sudah benar atau belum. tiba - tiba adik Ane berkata, "Kang mbok tanya loh sama orang". tanpa fikir panjang dan tak mau berdebat dengan sang adik, tanyalah kita pada salah seorang bapak - bapak yang kebetulan sedang berada di warung. Ntah apa yang dibelinya kita tidak tahu, yang jelas seorang bapak tersebut membawa sebuah karung yang di dalamnya terdapat sesuatu.
Ane    : Permisi Pak, Ma'af sebelumnya saya mau tanya, "apa benar ya
         jalan ini menuju Nglipar?
Beliau : Lah ini sudah Nglipar loh mas. Masnya mau kemana?
Ane    : Ow iya ya pak? (Ane baru sadar kalau barusan kita melintasi
         Sebuah kantor Kecamatan Nglipar). Mau ke Embung Batara
         Sriten Pak!



Beliau : Eow, ke embung. Mari mas ikut saya kebetulan saya mau
         pulang dan rumah saya searah dengan menuju embung.
Ane    : Dalam hati Ane berkata,"iyes". Beneran Pak nggak apa - apa?
         nggak merepotkan bapak?
Beliau : Nggak mas, ini saya sekalian mau pulang dan jalan menuju 
         ke embung searah dengan rumah saya. Mari ikut dengan saya
         mas.
Ane    : Baiklah kalau begitu pak, mari.
Hmmm sepertinya rejeki anak soleh yang baik hati dan rajin menabung serta berbakti dengan orang tua, (uwek). Kembalilah Ane ke motor Kita dan segera mengikuti bapaknya yang sudah berada di depan. 20 menit sudah berlalu dan kini sampailah kita di sebuah pertigaan di samping kanan Kantor Kepala Desa Pilangrejo.
Beliau : Ini mas, ikuti jalan ini saja ya mas (sambil menunjuk
         sebuah jalan ke arah masuk). Kalau lelah berhenti ya mas
         (pesan beliau kepada kita).
Ane    : Baik pak (dalam hati sudah merasakan sesuatu yang bakal
         membuat kita menguras energi tentunya). Terimakasih lo Pak
         sudah mau mengantar kita sampai sini. Ma'af ya pak bila
         sudah merepotkan bapak.
Beliau : baik mas. Hati - hati ya mas, saya tak pamit pulang.
Ane    : Iya Pak, silahkan pak, terima kasih.
Jalannya tak seluas sebelumnya, namun cukup meyakinkan kita kalau harus lewat sinilah untuk menuju sana. Bagaimana tidak, di sebuah pertigaan ini sudah terpasang papan petunjuk yang mengarah kesana.



Tanpa berlama - lama disini, masuklah kita kedalam jalan tersebut. walaupun jalannya terbilang sempit, namun cukuplah mulus walau tak semulus kulit wanita seksi. Kebingungan kita terjadi ketika di tengah jalan menemukan sebuah petigaan jalan ke kiri. Berhentilah kita di situ dan melihat - lihat daerah sekitar "barangkali ada sebuah papan petunjuk", fikirku. Benar saja, memang ada sebuah papan petunjuk yang mengarah ke embung walaupun letaknya agak berjauhan dengan pertigaannya.



Sesudah cukup yakin jalan mana yang akan kita lewati bergeraklah kita melanjutkan perjalanan. Tak ada sebuah percabangan jalan lagi yang kita temui yang ada hanyalah rumah penduduk sekitar yang ada di kanan dan kiri jalan. Benar saja, selepas jalan beraspal ini kita memang harus melewati jalan yang menanjak. Kalau menanjak saja nggak masalah asalkan jalannya beraspal dan halus. Disini jalan yang kita lewati sudah menanjak tidak halus pula. Maklum, jalannya bukanlah jalan beraspal, melainkan jalan cor blok terkadang sudah rusak lagi. Disinilah nampaknya kita harus berjuang. Dengan hati - hati kita menaiki jalan yang ada, sesekali ane harus menghela nafas. Tak hanya kita, motor yang kita naikin pun berderit kencang. hal ini menandakan kalau jalanan yang kita tempuh benar - benar ekstrim. Beberapa puluh menit berselang, tantangan kita semakin berat tak hanya jalanan saja yang menanjak dan rusak, kini kita dihadapkan oleh banyak percabangan jalan yang ada. Ane semakin bingung, untuk memastikan bahwa jalan yang kita lalui benar, bertanyalah Ane pada penduduk sekitar dan kebetulan pas di dekat persimpangan jalan yang ada terdapat seseorang anak muda yang sepertinya hendak mau turun. dari keterangan beliau, Ane cukup ngerti dan bergeraklah kita sesuai dengan apa yang masnya bilang. Benar saja, tak lama dari tempat kita bertanya sampailah kita di sebuah pos penarikan retribusi dan untuk memasukinya kita harus merogoh kocek sebesar 8k saja. 2k untuk kuda hijau kita dan 6k untuk tiket masuk kita berdua.



Petugas : Gimana mas perjalanannya? (sambil tersenyum puas)
Ane     : Wah keren pak, pokoknya jalannya memang oke (sambil
          tersenyum menyindir).
Petugas : hahaha (Tertawa sambil melihat wajah Ane yang tampak 
          lelah) ini. apa nanti kesininya nunggu jalannya sudah baik
          saja mas?
Ane     : Hahaha. Berarti saya pulang dulu nieh Pak? (Ane tartawa
          lepas sambil bercanda dengan bapak petugasnya). Kira -
          kira kapan ya pak jalan menuju kesini di bangun?
Petugas : (Bapaknya pun ikut tersenyum). Nanti mas, mungkin tahun
          depan. Do'akan saja ya mas.
Ane     : Pasti pak, moga - moga tahun depan sudah baik jalannya.
          Syukur - syukur lebih cepat.
Petugas : Amiiieeen. La masnya darimana ini?
Ane     : dari Bantul Pak, Kretek.
Petugas : Eow. Tadi dari Bantul ada loh mas, tapi udah pulang. Habis
          Nge camp mereka di atas.
Ane     : Eow. Ini masih berapa ratus meter lagi Pak?
Petugas : 500 meter - 1 Km an lah mas.
Ane     : Okelah pak kalau begitu. Terima kasih ya pak?
Petugas : sama - sama mas.
Selepas dari pos penarikan retribusi, perjalanan pun kita lanjutkan kembali. Tapi apa yang terjadi, jalannya bukan semakin baik malah semakin nggak karuan. Mesin kuda hijau Ane semakin berderit kencang, Anepun tak leluasa mengendarainya. Sesekali Adik Ane harus turun dan berjalan kaki, sementara Ane berkonsentrasi menunggangi kuda hijau kita. Perlahan tapi pasti perjalanan yang begitu melelahkan terbayar sudah dengan pemandangan yang ditawarkan.


Gambar bintang berwarna hijau di pelataran depan Embung
Angkat kaki, eksen
Santai dulu deh
Sebuah embung yang tidaklah begitu luas namun mempunyai pemandangan yang unik dan indah. Tak ada atribut atau papan nama yang menerangkan kalau disinilah Embung Batara Sriten berada tepatnya di Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar, Gunungkidul. Siapa sangka bahwa Embung ini adalah puncak tertinggi di Gunung Kidul sekaligus embung tertinggi di Yogyakarta.
Nampak sudah ada beberapa pengunjung yang datang, ya sekitar 4 - 5 orang saja. Maklum Embung ini tidaklah sepopuler Embung Nglanggeran yang lebih dahulu dikenal atau waduk sermo yang bisa di lihat dari Kalibiru. Namun Ane yakin, suatu saat nanti bila infrastruktur terutama akses jalan sudah baik tentulah banyak para pengunjung yang datang. Tapi Ane yakin juga bila suatu saat kalau sudah ramai, embung yang sekarang bersih bisa saja sampah berserakan kemana - mana. Ah, ntahlah semoga pengelola siap akan semua hal itu tentang sarana dan prasarana dan tentunya memperhatikan keamanan dan kebersihan juga.
Tampak di atas embung ada sebuah bukit yang kelihatannya cukup mampu menggoda iman kita. Tak lantas kita menuju ke sana, kita memilih berhenti sebentar sambil beristirahat memulihkan energi kita yang hilang. Setelah lelah kita hilang dan tenaga kita pulih kembali, barulah kita menuju ke atas.



Perjalanan kita mulai dari arah kanan. Jangankan untuk mandi, bersandar saja tidak boleh. Di pagar pembatas embung sudah terpasang larangan untuk tidak bersandar di pagarnya. Semoga para pengunjung mengindahkan larangan ini dan tidak mengabaikannya. Selain aman untuk mereka, juga menjaga embung ini agar tampak indah bukan?


Tuh lihat
"Di bawah saja sudah indah, apalagi di atas sana?", itulah fikiran kita sambil berjalan. Benar saja, semakin ke atas pemadangan yang ditawarkan semakin indah. Tak henti - hentinya kita mengabadikan moment yang penting ini. Anepun sungguh senang bisa menikmati keindahan embung ini bersama adik Ane tersayang. Di sepanjang perjalanan dia tampak gembira, hal ini terlihat dari mimik mukanya yang selalu saja tersenyum dan mengagumi keindahan yang ada. Tak hanya adik Ane, Sang kakak tak lain adalah Ane sendiri pun mengalami hal yang sama.


Pemandangan terlihat dari undakan pertama
Pemandangan terlihat dari atas sebelum puncak
Pemandangan terlihat dari atas
Benar saja, sampai puncak walaupun masih ada puncak yang lebih tinggi di sebelahnya, pemandangan yang ditawarkan memang indah sekali. Puncak yang menarik dengan dominasi batuan yang berwarna putih. Disini kita dapat melihat berbagai pemandangan yang ada, mulai dari hamparan perbukitan hijaunya, tumbuhan pohon yang berdiri tegak dan tentunya embung Batara Sriten itu sendiri. Disini kita di tuntut untuk berhati - hati, bagaimana tidak di samping puncak terlihat tebing yang begitu curam. Sedikit saja kita melakukan kesalahan, habis sudah semuanya.


Santai dulu deh
Hamparan perbukitan hijau yang indah
Embung Batara Sriten tampak jelas dari puncak bukit
Beranjak dari puncak ini, kita menuju puncak yang lebih tinggi lagi. Terlihat ada sebuah bendera merah putih terpasang disana. Sesampainya disini, kita dikagetkan dengan sebuah makam yang ntah makam siapa. Makam tersebut berada tepat bersebelahan dengan bendera merah putih itu terpasang. tanpa pikir panjang, hormatlah kita pada bendera merah putih tersebut.


Tampak sebuah makam yang tertidur di samping bendera
Hormat grak
Keadaan yang sepi ini, nampaknya dimanfaatkan betul oleh pasangan ntah itu muda mudi atau sudah berkeluarga. Tadi di gazebo di puncak ini ada seorang pasangan kekasih yang sedang bermesraan seolah - olah tidak ada orang yang lewat ataupun menghiraukan kedatangan kita, nah disini kita bertemu lagi dengan pasangan yang masih muda. Sudah nikah? ah belum kelihatannya. Mungkin dalam benaknya terbesit fikiran,"Dunia milik kita berdua dan lainnya numpang". Bikin iri aja nieh pasangan, dengan sekuat tenaga Ane keluarkan jurus Ane supaya mendung berkumpul dan hujan bisa segera turun.


Ah, bikin iri aja nieh orang
Hujan, datanglah! datanglah! datanglah!
Tapi apa boleh buat, hujan pun tak kunjung turun. Puas menikmati puncaknya kitapun segera turun kebawah dengan mengitari embung dengan jalan yang berbeda. Berlawanan dengan arah kedatangan kita tentunya. Sesampainya di gazebo bawah kita beristirahat dan menikmati makanan yang sudah ada yang kita beli baik di dekat kost ataupun di Gathot dan Thiwul Yu Tum dengan harapan bahwa perjalanan pulang tidak kelaparan.



Eh, setelah tadi minta hujan ketika sedang berada di atas, malah hujan beneran ketika pulang. Inikah yang dinamakan senjata makan tuan? ah, nggak apa - apa. Perjalanan pulang pun jalan yang kita lewati agak sedikit berbeda. Tidak menuju Kota Wonosari terlebih dahulu, tetapi langsung menuju ke arah Pertigaan Sambipitu. Tepat pukul 5 sore kita sudah sampai di Kota Jogja.
Cara menuju Ke Embung Batara Sriten:
Dari Kota Jogja bergerak melalui Jl. Wonosari -) Bukit Bintang (bukit pathuk) -) Pertigaan sambipitu (setelah POM Bensin yang ada di kanan jalan, maju sedikit), ambil kearah kiri menuju Nglipar (salah satu nama kecamatan di Kabupaten Gunungkidul) -) perkebunan hutan kayu putih -) Pertigaan sebelum pasar Nglipar ke arah kiri (seinget Ane pertigaan pertama jalan beraspal yang lumayan cukup lebar) -) Jalan Nglipar - Ngawen -) Kedungpoh -) Pertigaan timur kantor kepala desa Pilangrejo tepatnya Jl. Nglipar - Ngawen Km. 6,5 ke kiri -) ikuti jalan ini hingga menemukan pertigaan lagi yang sebelum pertigaan tersebut terdapat sebuah pos ronda kecil, jangan belok tetapi masih lurus -) jalan berganti menjadi cor blok, jangan ragu masih lurus lagi ikuti jalan yang ada hingga mentok -) percabangan jalan ke arah kiri dan kanan, ambillah jalan yang mengarah ke kiri -) semakin dekat semakin banyak percabangan jalan yang ada, tanyalah pada penduduk sekitar bila ragu - ragu. Banyak yang tahu kok, karena dari sini sebentar lagi akan sampai di Embung Batara Sriten.
Dari Kota Wonosari -) RSUD Wonosari -) Jl. Taman Bakti -) Jl.Wonosari - Nglipar hingga mentok -) bertemu Kantor Kecamatan Nglipar, ke kiri sedikit -) ada belokan ke kanan, belok ke kanan mengikuti Jl. Nglipar - Ngawen, lalu ikuti petunjuk yang sudah Ane tuliskan di atas mulai dari Jl. Nglipar Ngawen.

28 komentar:

  1. Waah udah nyampe batara; teman-teman sering ngajakin sepedaan ke sana. Tapi aku belum ada waktu :-(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah aku nggak bisa membayangkan mas kalau pakai sepeda,,,, tapi kalau seperti mas, yakin bisa deh sampai atas,,,

      Hapus
  2. wah keren banget mas pemandangannya.... mantap mas perjuangan ke sana, dua jempol deh...he he he..
    di batam juga ada embung mas, RSUD Embung Fatimah, ha ha ha.... pisss mas...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah itumah untuk orang sakit Mbak Monic,,,, Ya janganlah, masa mau piknik ke tempat Rumah sakit! :-) ,,, terima kasih atas jempolnya mbak :-)

      Hapus
  3. Waah panjang banget postingnya.. bagus ya tempatnya asriii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Laili, bener banget bagus tempatnya, adem ayem :-)

      Hapus
  4. Lokasinya bersih banget, terjaga sekali. senangnya bisa jalan jalan kesana. apalagi kalau bawa pasangan. itu bendungan, danau atau kolam renang. kok ada di atas bukit gitu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah berkenan membacanya kak :-) ,,, hahaha iya bener banget,, heheehe. itu fungsinya semacam penampungan air hujan kak,,, kalau di bilang danau tapi kurang luas, di bilang kolam renang tapi terlalu luas,,, Yapz, bener di atas bukit :-)

      Hapus
  5. Bagus bangat yach embungnya, walaupun akses kesanan nya susah dan karena nga terlalu banyak yang tau jadinya sepi dan asri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Adel, bener banget... tapi lama - kelamaan bakalan ramai kok,,, la bentar lagi mau di bangun akses kesananya :-)

      Hapus
  6. asli yaa view nya kereen banget. liat dari fotonya aja berasa adem banget tempatnya. cocok buat tidur-tiduran sambil baca buku. :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak,,, Apalagi minum kopi di pagi hari sambil menikmati sunrise :-) . Terima kasih kak sudah mau mampir :-)

      Hapus
  7. Eh, aku baru tau loh mas ada embung batara gini ._. aku orang jogja yang gagal deh kayaknya wkwkwk :D

    Tempatnya bersih mas, tapi masih sepi ya? ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh iyo tow mas? Tapi wajar mas, lawong baru sekitar 10 an bulan kok mas tempat ini diresmikan. Jadi wajar. Iya mas bener :-)

      Hapus
  8. wah kalo pas ijo seger ya mas kelihatannya hehe... wah mesti semilir kuwi pas mendung bikin hati silirrr.... jalannya masih mengenaskan dan bikin matic kapok gak mas?? hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas bener,,,, seger, semilir bikin hati silir, ayem tentrem loh jinawi, hehehe. Wah kalau di tanya kapok, iya mas lumayan berat juga pakai matic. La kemarin udah kepalang tanggung, lebih baik yang bergigi mas, lebih enak :-)

      Hapus
    2. bener mas ampun saya juga kapok pake matic ke situu ampun deh....

      Hapus
  9. embung batara sriten memang keren, sekaligus jalan menuju ke sana sangat menandang dan cukup bahaya :)

    saya mengunjunginya beberapa pekan yg lalu:

    http://jarwadi.me/2016/01/09/sunset-di-puncak-tertinggi-gunungkidul-seelok-apa/


    BalasHapus
  10. lokasi menawan, indah dari atas
    bekelnya enak tuh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, bener,,, indah banget tempate. Eh bekel itu apa ya mas? apa saya yang katrok? hehe

      Hapus
  11. mas admin lagi asik nge-selvi nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe,,,, iya nieh mas, lawong terhipnotis ama pemandangan ew mas :-) dan juga ada yang tukang fotonya, jadi deh, selfie :-)

      Hapus
  12. saran saja mas, ini background komentar kok gelap ya, kan susah juga baca komentar lainnya. bikin cerah dong mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia mas,,, inikan tadinya saya belajar mengotak - atik template, jadinya ini. eh pas di otak atik lagi mas bagian kolom komentar udah nggak merespon. Terus sekarang lupa mas caranya, padahal desain sendiri tadinya, hehhee. Terima kasih ya mas atas sarannya dan sudah mau mampir kesini. Suatu saat tak coba mengotak - atiknya mas,,, :-)

      Hapus
  13. Hamparan bukitnya cantik banget yaa... seru jalan-jalannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak,,, bener banget,hehe. Sekarang giliran mbaknya yang kesana :-)

      Hapus
  14. wah petualangannya seru juga mas...
    boleh nih kapan-kapan gabung

    BalasHapus

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me