Minggu, 28 April 2019

Museum Tulang Bawang dan Kampus Megow Pak, Sungguh Memprihatinkan

Museum Tulang Bawang sudah bukan lagi tempat yang asing bagi Ane. Bagaimana tidak setiap kali pergi ke Jogja maupun pulang dari Jogja atau pergi ke Bandar Lampung maupun pulang dari Bandar Lampung Ane selalu saja melewati tempat ini karena letaknya yang berada persis di Jl. Lintas Timur Sumatera tepatnya di Kelurahan Menggala Tengah, Kecamatan Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Sementara rumah Ane ada di Kabupaten Mesuji dan satu-satunya jalan yang mulus dan enak untuk dilalui adalah melalui jalan ini.



Saat melintasi bangunan ini, bangunan ini tak pernah luput sekalipun dari penglihatan Ane. Mungkin hal ini dikarenakan letaknya yang berada tepat di tikungan jalan ataukah timbulnya keinginan yang kuat dari dalam hati Ane bahwa suatu saat nanti Ane harus mengunjunginya. Rumput tetangga lebih hijau, mungkin itulah sebuah ungkapan peribahasa yang tepat untuk menggambarkan perilaku Ane sekarang. Obyek wisata yang dekat dengan rumah tempat kelahiran malah belum pernah Ane sambangi, sementara yang agak jauh malah sudah pernah. "Ya sudah, suatu saat nanti pasti akan ku kunjungi", bisik Ane dalam hati.



Tak lama setelah pulang dari Jogja, rupanya niatan Ane tersebut akan terlaksana lantaran Ane disuruh oleh Ibu Ane untuk mengantarkan beliau periksa ke RSUD Menggala. Kalau sakit parah tentu Ane tak bisa meninggalkan beliau sendiri begitu saja, tapi karena sakit yang dideritanya tidak begitu parah dan dalam batas aman maka sesampainya di RSUD Menggala Ane berencana langsung capcus menuju ke Museum Tulang Bawang.



Pada tanggal 22 November 2017 Ane benar-benar mengantarkan ibu Ane periksa ke RSUD Menggala. Dari rumah, kita berangkat pagi-pagi sekali sekitar pukul 06.15. Sudah menjadi rahasia umum kalau jalan-jalan yang ada ditengah pedesaan yang menghubungkan antar desa satu dengan yang lainnya di Provinsi Lampung itu sebagian besar rusak. Sebenarnya sieh kondisi jalan yang sekarang itu sudah lebih baik bila dibandingkan dengan dahulu. Dahulu jalan masih berupa jalan tanah, sekarang sebagian besar jalan sudah berbatu; Dahulu saat musim hujan tiba jalanan dipenuhi oleh genangan air dan licin saat dilalui, sekarang sudah tidak lagi. Namun, walaupun begitu masih tetap saja kurang nyaman untuk dilalui karena sepanjang perjalanan tubuh ini akan terus bergetar hingga saatnya menemukan jalanan yang terbilang mulus diaspal dengan baik.



Ada 2 cara kita menuju RSUD Menggala, pertama melalui Simpang Asahan Kecamatan Way Serdang. Disini jalannya terbilang luas namun cukup rusak, 20 Km kita harus melewatinya. Sedangkan yang kedua lewat jalan tengah pedesaan di Kabupaten Tulang Bawang Barat. Setelah melewati jalan yang rusak sejauh kurang lebih 5 Km, kita baru bisa melalui jalan yang cukup baik namun sempit. Timbang menimbang akhirnya pilihan kita jatuh pada jalan tengah pedesaan Tulang Bawang Barat.
Sebagai warga lokal tentu kita sudah tahu jalan untuk menuju ke suatu tempat yang kita inginkan, meskipun melewati jalan-jalan yang ada ditengah pedesaan. Tapi kalau bukan warga lokal tentu akan kebingungan soalnya pemandangan yang ada disini rata-rata sama yakni disepanjang perjalanan yang ada hanyalah tanaman pohon karet maupun sawit. Setelah melewati Kecamatan Gunung Agung dan Way Kenanga sampailah Ane di Pasar Unit 2 Tulang Bawang. Dari sini masih ada sekitar 30 Km lagi untuk sampai di RSUD Menggala. Jalan yang Ane lalui berubah menjadi lebih mulus dan cukup lebar karena jalan ini merupakan jalan nasional. Pun demikian dengan pemandangannya yang tergolong cukup bervariasi mulai dari perumahan, pertokoan, perkantoran, hingga bentangan sungai dan rawa-rawa yang cukup luas. Nah, di rawa-rawa ini cukup bisa membuat hati Ane adem. Deretan rumah panggung berdiri di pinggir jalan raya diatas rawa.



3/4 jam dari Pasar Unit 2 atau 2 jam dari rumah, sampailah kita di RSUD Menggala. Ya, rumah sakit ini adalah rumah sakit daerah yang dimiliki Tulang Bawang tapi tidak membawa nama kabupaten melainkan nama ibukota dari kabupaten Tulang Bawang itu sendiri yaitu Menggala. Rupanya sudah banyak pasien yang datang mengantri sehingga ibu Ane pun harus bersabar sedikit dalam hal mengantri baik itu saat pendaftaran pasien hingga proses tahapan selanjutnya. Disini Ane agak jenuh juga, akhirnya Ane berpamitan kepada ibu Ane untuk pergi keluar dan Ane menitip pesan kepada beliau bila sudah selesai urusannya segera menelpon Ane. Beliau pun mengijinkan dan mengiyakan pesan Ane tersebut.
Rencananya, ketika tiba di rumah sakit, Ane langsung capcus menuju Museum. Tapi apa boleh buat begitu keluar dari rumah sakit Ane langsung tergoda oleh sebuah bangunan yang cukup modern dan bangunan apakah itu? Cukup berjalan kaki saja sampailah Ane disini. Ya, bangunan tersebut adalah bangunan Kampus Megow Pak. Bangunan ini cukup unik dan modern, kebanyakan komponen bangunannya terbuat dari kaca seperti kebanyakan bangunan yang terdapat di ibukota Jakarta. Kalau di Jakarta mah bangunan seperti ini sudah biasa tapi kalau di Tulang Bawang ya luar biasa.



Tapi, dibalik ke modernannya itu ada banyak hal yang sangat disayangkan dari kampus ini. Rumput liar tumbuh dimana-mana mulai dari bagian depan hingga belakang kampus dan areal taman hingga parkir tampak tak terwujud karena timbunan rumput liar ini. padahal di beberapa sudut kampus telah terpasang sebuah plank yang bertuliskan "Bersih itu Indah". Hmmmm.




Ane sungguh leluasa melihat-lihat dan mengambil gambar bangunan ini tanpa ada merasa yang terganggu, pasalnya tak ada seorang pun yang sedang berada disini. "Sebenarnya ada mahasiswanya tidak sieh kampus ini?", begitulah fikiran yang terlintas dibenak Ane saat itu. Semisal tidak ada kok dibagian depan terpasang berbagai macam pengumuman tentang perkuliahan dan kalau semisal ada kok tak ada seorang pun yang terlihat? Ah, ntahlah yang jelas kampus ini tidak terawat dengan baik sehingga suasana menjadi horor.



Puas menjelajahi kampus Megowpak, Ane niatkan hati untuk berkunjung ke Museum Tulang Bawang. Awalnya Ane ragu-ragu apakah jadi kesana atau tidak. Masa iya, Ane harus meninggalkan Ibu Ane sendirian di Rumah Sakit gara-gara mengikuti keinginan Ane ini. Tapi berhubung museum ini tidak terlalu jauh dari rumah sakit, hanya sekitar 10 Km saja maka Ane bulatkan tekad untuk tetap mengunjunginya.
Ane kesini tidak mengendarai sepeda motor, tetapi menaiki bus karena kebanyakan bus yang lewat pasti melewati museum ini. Tak lama berselang, sebuah bus datang dari arah selatan (arah Kota Bandar Lampung), naiklah Ane kedalam bus tersebut. 15 menit kemudian sampai juga Ane di tempat yang Ane tuju. Dari RSUD Menggala kesini Ane hanya dikenai tarif sebesar 5k saja.
Sama seperti kondisi sebelumnya, kondisi Museum Tulang Bawang inipun tak kalah horornya. Rumput liar tumbuh hampir di semua tempat dan saat memasuki ruangannya sreng, sreng, sreng, tercium bau kotoran kelelawar. Baunya sangat menyengat sehingga mengganggu kenyamanan bagi para pengunjung. Toh bila museum ini menyimpan barang-barang koleksi yang sangat lengkap tentu akan merasa kapok untuk datang lagi. Ealah, sudah rungkut, bau, tak ada barang koleksi yang di pajang pula alias kosong. Ini museum apa museum? Ane hanya geleng-geleng kepala atas apa yang Ane temui saat ini.



Dilihat dari usianya, Museum Tulang Bawang ini tergolong masih muda karena baru genap berusia 7 tahun pada tanggal 13 Desember 2017 nanti. Hal ini terlihat dari sebuah prasasti yang ada dibagian depan gedung. Tapi kok sudah seperti ini ya? hmmm. Kondisi ini sama seperti gedung yang ada disebelah kanan (timur)nya. Tak ada apa-apa sama sekali didalamnya, sedangkan yang ada hanyalah sebuah kereta kencana yang terparkir di bagian bawah ruangan.







Sebenarnya Museum Tulang Bawang merupakan bagian dari kawasan Sesat Agung dan Nuwo Adat Megou Pak, sehingga tak heran bila Ane menjumpai bangunan-bangunan lain yang berdiri. Kebetulan saat Ane sedang berkeliling-keling di sekitar kawasan, Ane melihat seorang bapak-bapak setengah baya sedang membersihkan ruangan. Tanpa ragu-ragu Ane banyak bertanya kepada beliau. Lupa namanya yang jelas Ane berhasil mendapatkan banyak informasi darinya.




Ada sebuah bangunan museum, nuwo adat (rumah adat), sesat agung, dan musholla, serta 4 buah bangunan cukup kecil yang mengandung makna tentang marga-marga yang mendiami kabupaten ini. Marga-marga tersebut diantaranya Tegamoan, Buai Bulan, Suwai Umpu, dan Buai Aji. Beliau mengatakan bahwa memang beginilah kondisi yang ada. Tak terawat dengan baik serta koleksi-koleksi yang dipajang sama sekali tidak ada, hal ini dikarenakan kurangnya perhatian dari pemerintah. Padahal inikan aset daerah serta kebanggan masyarakat peribumi, tapi ya begini adanya.


Tegamoan
Buai Bulan
Suwai Umpu
Buai Aji
Sebenarnya tempat ini sempat terawat dengan baik pada masa kepemimpinan sebelumnya, tapi setelah berganti kepemimpinan daerah justru keadaan tidak berubah menjadi lebih baik malah sebaliknya. Ane hanya mengangguk-ngangguk saja dan menampung semua informasi darinya. Ntah hanya angin segar atau benar-benar akan terwujud, konon katanya sekitar bulan Maret tahun depan (2018) kawasan ini akan dihidupkan kembali dan ditambah dengan berbagai macam permainan untuk anak-anak. Semoga!



Bila rencana itu benar-benar terwujud, bukan tidak mungkin kawasan ini akan ramai dikunjungi oleh para wisatawan.

2 komentar:

  1. Terlihat sekali mbak banyak rumput liar yang belum dipangkas atau dirawat sama sekali. Harusnya museum seperti ini harus diberikan perhatian khusus agar anak-anak muda mau menghargai sejarahnya. Dibalik sejarah tentu saja ada pesan moral atau hikmah agar manusia yang harus diambil, disamping menghargai kearifan budaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yapz mas, betul sekali dan sangat setuju

      Hapus

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me