Senin, 24 Juni 2019

Wisata Cakat Raya, Cantik Tapi Tak Terawat

Sebuah plank bertuliskan "Wisata Cakat Raya (dengan tanda panah mengarah kekanan)", kerap Ane baca saat Ane bertandang ke Kota Bandar Lampung maupun ke daerah-daerah yang ada di sebelah selatan Kabupaten Tulang Bawang. Bagaimana tidak, plank ini terpasang cukup strategis di pinggir Jl. Raya Lintas Timur berjarak beberapa kilometer dari jembatan Sungai Tulang Bawang (FYI: Sungai (Way) Tulang Bawang adalah sungai terbesar di provinsi Lampung). Ane kira tak hanya Ane saja yang kerap membacanya tetapi juga setiap pengendara yang melintasi jalan ini.
Sebagai seseorang yang hobinya travelling tentu dengan kerapnya membaca plank tersebut lama-kelamaan akan dapat mempengaruhi hati dan fikiran Ane untuk mendatanginya. Benar saja pada tanggal 13 Desember 2017 niatan tersebut akhirnya terlaksana. Sebenarnya tujuan utama Ane bukanlah mengunjungi tempat ini, melainkan mengurus sesuatu di Unit 2 Tulang Bawang. Berhubung jaraknya yang hanya sekitar 17 Km maka tak ada salahnya Ane sekalian mengunjunginya



Dari Unit 2 Tulang Bawang Ane arahkan motor Ane menuju selatan melalui Jl. Raya Lintas Timur. Jalan ini searah menuju Kota Bandar Lampung (Ibukota Provinsi Lampung). Sebagai jalan nasional yang berperan penting menghubungkan antar provinsi di Pulau Sumatera, Ane tak heran dengan segala kondisi jalan yang ada. Jalannya terbilang mulus walau tak semulus jalan tol. Banyak kendaraan yang melintas berasal dari berbagai jenis mulai dari kendaraan roda dua, kendaraan mobil pribadi, angkot, bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi), truk biasa, hingga truk gandeng yang memiliki badan cukup besar dan beroda banyak serta variasi pemandangan yang cukup indah.
Ane kendarai motor Ane dengan hati-hati hingga sesampainya di Kantor Samsat Tulang Bawang Ane lambatkan laju motor Ane sambil menengok kearah kiri (timur) jalan untuk melihat plank. Beruntung, plank yang Ane maksud sudah ketemu dan tepat diseberangnya terdapat sebuah jalan masuk cukup kecil. Jalan ini ditandai dengan adanya sebuah gapura berwarna merah jambu cukup tinggi dengan diatasnya terdapat siger khas Lampung berwarna kuning.


Plank sebelah kiri jalan, sedangkan gapuranya ada di sebelah kanan jalan

Sebenarnya ada dua buah gapura yang berdiri berdekatan, yang satu beberapa meter sebelum plank petunjuk dan satunya lagi tepat setelah plank petunjuk. Disini Ane sempat bingung apakah yang ini atau yang itu. Timbang-menimbang akhirnya Ane memutuskan untuk masuk ke jalan tersebut tepat setelah plank petunjuk. Jalannya berupa jalan tanah dan kurang lebih sekitar 200 meter kemudian sampailah Ane di tempat yang Ane maksud.
Nampaknya tempat ini sedang digunakan untuk sebuah acara tampak beberapa petugas sedang berjaga-jaga. Ane ragu apakah Ane boleh masuk atau tidak. Ternyata Ane diperbolehkan untuk masuk dan tak ada pembayaran tiket yang dikenakan kepada Ane. Kesan pertama saat datang kesini adalah area Wisata Cakat Raya ini terbilang cukup luas dengan beberapa rumah adat yang berdiri seolah-olah menyambut setiap para pengunjung yang datang. Setidaknya ada 4 buah bangunan yang berdiri diantaranya bangunan bercirikan khas Bali yang ditandai dengan ornamen khas Bali, rumah adat berbentuk joglo khas Jawa Tengah, Rumah Gadang khas Sumatera Barat, dan sebuah bangunan lagi bukan berbentuk rumah adat melainkan sebuah bangunan yang cukup terkenal di negara tercinta ini yakni miniatur Candi Prambanan. Uhuy, kalau begitu warga Lampung yang ingin melihat Candi Prambanan tak perlu jauh-jauh datang ke Pulau Jawa tetapi cukup datang langsung kesini saja.


Rumah adat berbentuk Joglo khas Jawa Tengah

Rumah Gadang khas Sumatera Barat
Tak ada tempat khusus untuk parkir, terlihat beberapa kendaraan terparkir sembarangan. Walau demikian Ane berusaha parkir di pinggir kawasan supaya terlihat rapi. Setelah memarkirkan motor Ane, kini Ane dapat menikmati kawasan wisata ini dengan sepuas-puasnya. Sangat disayangkan obyek wisata seluas ini tak terawat dengan baik, rumput-rumput hijau liar cukup tinggi dan tak hanya tumbuh di pelataran saja tetapi juga sudah memakan sebagian tubuh bangunan.
Ow, acara TNI tow yang sedang berlangsung disini. Hal ini terlihat dari beberapa tanda yang ada. Prajurit berpakaian dinas TNI berwarna hijau loreng-loreng yang sedang berdiri dan ada juga yang berjalan kesana-kemari, kendaraan mobil-mobil TNI terparkir disekitar kawasan, serta tas-tas berwarna hijau tergeletak cukup rapi di halaman rumah adat. Bangunan bercirikan khas Bali yang paling besar di bangun, sehingga tempat ini yang paling memungkinkan untuk diselenggarakannya suatu acara.



Kebetulan ada beberapa orang petugas yang sepertinya menjaga kawasan wisata ini, tapi Ane lupa namanya. Ane berbincang-bincang dengan mereka cukup banyak. Dari sekian perbincangan yang kita lakukan setidaknya ada beberapa informasi yang Ane dapatkan. Pertama, latar belakang didirikannya Wisata Cakat Raya ini bukan tanpa alasan yaitu dikarenakan Kabupaten Tulang Bawang tak hanya didiami oleh suku Lampung saja tetapi juga merupakan tempat tinggal bagi suku-suku lainnya diantaranya suku Jawa, Bali, Batak, Minangkabau, Sunda, dan lain sebagainya. Kedua, bangunan-bangunan disini sudah tidak lagi komplit. Ada 2 buah bangunan yang sudah roboh, pertama bangunan suku Batak yang terbakar dilalap api beberapa tahun yang lalu dan sebuah bangunan lagi yang tak diingat bapaknya apakah nama bangunan rumah adat tersebut. Terakhir, bangunan-bangunan yang tampak rusak akan segera diperbaiki dan rumput-rumput yang tumbuh secara liar akan dibasmi sehingga diharapkan nantinya kawasan wisata ini akan terlihat cukup cantik dan banyak para pengunjung yang datang.






Ane berpamitan kepada mereka dan meminta izin untuk mengeksplorer sekitar kawasan. Inilah bangunan yang menyerupai Candi Prambanan itu, apakah mirip? sebagai seseorang yang pernah berkunjung kesana, menurut Ane sieh tidak mirip-mirip amat. Tapi, ya cukuplah kalau hanya untuk berselfi ria saja. Apalagi ditambah dengan latar belakang pemandangannya yang cukup cantik, tentu para pengunjung akan betah berlama-lama disini.





Pemandangannya cukup cantik bukan? Tuh, jembatan Kali Cakat terlihat juga
Tak jauh dari keberadaan bangunan menyerupai Candi Prambanan, ada sebuah bangunan yang cukup disayangkan yang sudah Ane ketahui informasi sebelumnya, sebuah bangunan rumah adat suku Batak habis terbakar. Hal ini ditandai dengan adanya sisa-sisa kayu reruntuhan berwarna hitam. Kawasan Wisata Cakat Raya ini memang cukup luas, bergerak kearah barat masih terdapat beberapa bangunan rumah adat dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Rumah adat Krong Bade yang berasal dari Nangroe Aceh Darussalam, Rumah adat Banjar dari Kalimantan Selatan, dan lain sebagainya.


Bangunan rumah adat suku Batak yang habis terbakar
Rumah Adat Krong Bade
Rumah Adat Banjar
Lagi-lagi sungguh sangat disayangkan kondisi bangunan-bangunan yang ada disini. Selain tumbuh rumput-rumput liar juga kotor dan tampak di beberapa bagian bangunan itu rusak serta inilah sebuah bangunan yang bapaknya maksud tadi yakni roboh dan yang tersisa hanyalah sedikit reruntuhan kayu yang rapuh dimakan usia. Hmmm!







Bangunan wisatanya saja tidak terurus, apalagi bangunan kantinnya? Tak ada warung makan atau toko oleh-oleh yang berdiri sehingga setiap para pengunjung yang datang saat lapar bisa keluar dari kawasan Wisata Cakat Raya dan mencarinya di sepanjang Jl. Raya Lintas Timur Sumatera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me