Selasa, 03 November 2015

Kenangan di Bali dan Masih Banyak yang Terlewatkan

Siapa yang tak kenal Bali? Pulau yang memiliki sejuta pesona keindahan pantai dan budayanya memang selalu mampu menyihir siapa saja yang mengunjunginya. Nama Pulau Bali sendiri sudah dikenal di berbagai penjuru dunia dan bahkan bisa di bilang lebih tenar bila di bandingkan dengan nama negaranya sendiri.


Ane sebelumnya sempat nggak percaya, masa iya sih Bali lebih dikenal dibandingkan dengan nama negaranya sendiri "Indonesia". Setelah searching dan googling sana sini di internet dan membaca beberapa blog khusus blog perjalanan dan tentunya blog milik orang luar barulah Ane merasa memang betul Bali lebih dikenal di dunia dibandingkan dengan negara tercinta Indonesia. Ini menurut pendapat Ane loh ya, bila sobat berpendapat lain yaw monggo. 
Kalau ada seseorang yang mau bertanya pada Ane, "kapan dan dimana peratama kali Ane jatuh cinta pada dunia travelling?", maka jawaban Ane adalah pada akhir tahun 2008 dan Lokasi pertama yang Ane kunjungi adalah Pulau Bali. Kunjungan ke Pulau Bali bukanlah dengan cara backpacker, flashpacker, ataupun touring, melainkan mengikuti study tour yang diadakan oleh pihak sekolah. Pada saat itu Ane masih duduk di kelas XII dan ingat betul berapa biaya yang harus Ane keluarkan untuk mengikuti study tour ini yakni 500k.
Perjalanan dimulai dari Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Berangkat pada malam hari namun sayang Ane lupa kapan tanggal persisnya, yang jelas pada akhir tahun 2008. Pada waktu itu kalau tidak salah jumlah bus yang berangkat sebanyak 4 buah dengan rincian 1 bus buat jurusan IPA dan 3 bus buat jurusan IPS. Ane sendiri menaiki bus jurusan IPA. Perjalanan bisa dibilang cukup panjang, karena dari Yogya menuju ke Bali sendiri diperkirakan memakan waktu sekitar 17 - 19 jam. Selama perjalanan pada jam pertama ngobrol sama sobat - sobat Ane, lama kelamaan tertidur juga namun sesekali Ane terbangun dari tidur dan terasa kurang nyenyak, maklumlah di dalam perjalanan tentu tidak senyenyak bila Ane tidur di rumah. Tak terasa hari pun berganti dan Pada pagi hari sampailah di sebuah pelabuhan yang ada di Banyuwangi, yakni Pelabuhan Ketapang. Perjalanan dilanjut dengan menaiki sebuah kapal feri untuk sampai di Pelabuhan Gilimanuk, Bali dan waktu yang dibutuhkan tidaklah lama hanya sekitar satu jam penyeberangan.


Kesan pertama ketika Ane memasuki Pulau Bali ini adalah sungguh indah dan mengagumkan. Bagaimana tidak di sepanjang perjalanan dari pelabuhan Gilimanuk ke Kota Denpasar kita disuguhi pemandangan pantainya yang memukau dan sawah - sawah penduduk yang tertata rapi dan teratur, pantas saja disini juga dikenal dengan sistem irigasi yaitu subak. Selain itu juga di sepanjang perjalanan kita disuguhi rumah - rumah penduduk yang bergaya arsitektur bali dengan pura - puranya yang menimbulkan kesan damai. Sesekali terselip pemandangan hewan sapi dengan ciri khas berkulit merah dan bertubuh kecil.
Lama perjalanan dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Kota Denpasar yang menjadi Ibu Kota Provinsi Bali ini kurang lebih 4 jam perjalanan. Kondisi jalan yang mulus namun sempit serta berupa tanjakan dan di tambah lagi dengan mulai padatnya arus lalu lintas yang terjadi di jalan raya bagian selatan ini membuat laju kendaraan bus kita tidak bisa bergerak cepat.
4 jam berselang sampailah kita di Kota Denpasar. Ane sempat terhipnotis oleh adanya sebuah bangunan yang bernama Monumen Perjuangan Rakyat Bali "Bajra Sandi" yang ada di kota ini. Tak hanya Ane tetapi juga sobat - sobat Ane pun demikian. Sobat - sobat Ane pun bertanya kapan kita berkunjung ke bangunan tersebut? guru pembina kita pun menjawab kalau kita akan mengunjungi bangunan tersebut pada Hari Ke-4. Ya kita kira langsung berkunjung ke situ. Tak berselang lama ternyata kita sudah sampai di sebuah hotel, tapi Ane lupa apa nama hotel tersebut. Setibanya di hotel kita diberi waktu sekitar 2 jam untuk bersih - bersih diri, sholat dan makan sebelum meluncur ke destinasi pertama kita yakni Pantai Tanjung Benoa.


Suasana Pantai Kuta saat itu
Fasilitas yang ada di hotel cukuplah lengkap. Sebuah kamar dengan kamar mandi dalam terdapat dua buah spring bed dengan dua buah bantal di masing - masing spring bednya, sebuah cermin dan sebuah gantungan handuk yang ada di depan kamar mandi, sedangkan sebuah televisi terpampang di ruang tengah yang terpisah dari ruangan kamar yang dapat kita nikmati bersama - sama.
Mandi sudah, sholat sudah, dan makan pun tidak ketinggalan untuk dilaksanakan, kini saatnya kita semua ditemani oleh seorang guide yang merupakan asli orang Bali menuju ke Pantai Tanjung Benoa sebelum menuju ke Pantai Kuta. Banyak sekali yang dapat kita lakukan disini, seperti berbagai macam permainan water sport, banana boat, parasailing dan bahkan penangkaran penyu di Pulau Penyu pun tersedia disini. Inilah keunikan pantai yang dimiliki Pantai Tanjung Benoa. Namun sayang Ane tidak mengambil gambar disini. sekitar satu jam kemudian perjalanan kita lanjutkan menuju Pantai Kuta.
Pantai Kuta merupakan salah satu destinasi wajib untuk dikunjungi bila datang kesini. Konon ada yang mengatakan, "belum ke Bali kalau belum ke Pantai Kuta". Yawsudahlah Ane hanya mengangguk - angguk saja.
Di tengah perjalanan menuju pantai Kuta kita melihat sebuah gerai toko yang sudah sangat terkenal di Bali yakni Joger. Konon katanya Joger ini hanya ada di Pulau Bali dengan produknya yang sangat inovatif yakni terdapatnya produk yang di dalamnya terdapat kata - kata yang unik. Harga yang terdapat disini terbilang cukup mahal memang bila kita bandingkan dengan sebuah harga kaos yang ada di toko lain. Untuk kenang - kenangan dan ingin juga sebagai pakaian ganti selama di Bali jadilah Ane membeli sebuah kaos yang bergambarkan hati pecah. Bukan karena galau loh yaw, melainkan sebagai kenang - kenangan di Bali dan berat rasanya jika harus pulang meninggalkan Pulau ini, halah ngeles.
Puas berbelanja di Joger, langkah kaki selanjutnya menuju ke Pantai Kuta. Pantainya cukup bersih dengan pasir berwarna putih. Garis pantainya cukup panjang dan terpampang sebuah bendera berwarna merah kuning yang menandakan bahwa Pantai Kuta ini aman untuk berenang. Tak sabar rasanya kita untuk terjun ke air, namun narsis ria dahulu dengan berfoto bersama dan bukan selfie. Yaw pada tahun 2008 mana ada yang namanya selfie, tongkatnya aja mungkin belum di buat, hehe.



Ane tidak menduga sebelumnya bahwa kesampaian juga menginjakkan kaki disini. Anehnya ketika itu Ane terasa asing karena kebanyakan yang berkunjung kesini adalah bule. So, pemandangan orang bule dengan hanya mengenakan pakaian daleman saja sudah menjadi hal yang biasa. Ah, kalau memandang saja tak lengkap rasanya jika belum berfoto langsung dengan salah satu bule. Dengan perasaan ragu - ragu dan takut kalau kalau nantinya bule tersebut marah - marah, dengan bermodalkan bahasa inggris sebisanya akhirnya kita memberanikan diri untuk meminta izin berfoto bersamanya.
Ane     : Excuse me mrs, can I take your picture with us?
Si Bule : Ok, why not
Iyessss bisa juga berfoto dengan bule ini. Tak di duga dan tak dinyana, ew malah ada seorang ibu - ibu yang datang membawa seorang anak nyerobot saja di samping bule. Yawsudah nggak apa - apa, yang penting kita berhasil berfoto bersamanya.



Banyak memang aktifitas yang dapat dilakukan disini seperti berenang, berjemur, jalan - jalan di sekitar pantai, atau hanya duduk - duduk saja menikmati indahnya pantai. Sehubungan hari sudah sore kembalilah kita di hotel dimana kita akan menginap di malam ini.
Di malam hari kita habiskan untuk bercanda tawa dan bercengkrama dengan sobat - sobat Ane sambil menonton televisi. Kita berbicara kesana kemari yang intinya perjalanan di Pulau Bali ini sungguh menyenangkan. Hari larut malam, saatnya kita untuk tidur agar besok badan terasa segar dan fit kembali.
Di hari yang ketiga, tujuan perjalanan kita selanjutnya yaitu menikmati pesona Danau Batur dari Panelokan, Wisata realigi di Pura Ulun Danu Batur, Berbelanja di Pasar Seni Sukawati, menikmati tari barong di Batubulan, dan menikmati Pesona Pantai Sanur.
Sholat, makan, dan selanjutnya siap - siap menuju ke destinasi pertama kita menikmati keindahan Danau Batur dari Panelokan, Kintamani. Dengan ditemani oleh seorang guide kita menuju kesana. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Kintamani dari Kota Denpasar cukup lama yakni sekitar 2 jaman. Di sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan yang cantik sehingga kita tak pernah merasa bosan. Di sela - sela perjalanan menuju Kintamani, seorang guide kita menjelaskan dengan menggunakan pengeras suara mikropon kalau di seberang Danau Batur terdapat sebuah desa yang bernama Trunyan. Keunikan dari desa ini adalah pemakaman jenazah yang tidak di kubur di dalam tanah maupun di bakar (Ngaben) yang mayoritas dilakukan oleh masyarakat bali pada umumnya, melainkan hanya di letakkan begitu saja. Tetapi anehnya jenazah tersebut tidak mengeluarkan bau, kenapa? karena di kuburan tersebut terdapat pohon Taru Menyan yang berdiri tegak di tengah kuburan. Wow keren!!!


Narsis dahulu di kawasan Panelokan
Sesampainya di Panelokan kita langsung terhipnotis oleh pemandangan yang ditawarkan disini sungguh luar biasa indahnya. Banyak para pedagang yang kesana kemari menawarkan barang dagangannya kepada setiap pembeli. Berbagai macam aneka cinderamata khas Bali tersedia, selain itu juga ada jasa pembuatan tatto. Tak sabar rasanya ingin bernarsis ria bersama sobat - sobat di sini, pas kebetulan di pinggir jalan ada pagar pembatasnya, yaw langsung saja berfoto disitu namun sayang pemandangan yang ada di belakang foto kurang begitu terlihat.



Sebenarnya Ane tertarik sih untuk berkunjung ke Desa Trunyan, tapi apalah daya agenda kunjungan ke desa tersebut tidaklah ada dan langsung saja tujuan kita selanjutnya ke Pura Ulun Danu Batur yang lokasinya tidak jauh dari Panelokan ini. Sebelum memasuki pura kita diharuskan memakai pakaian yang sopan, karena Ane ketika itu memakai celana pendek so Ane harus menutupinya dengan pakaian berupa selendang. Tidaklah sulit untuk mencari kain yang Ane perlukan karena di depan pintu Kawasan Pura Ulun Danu Batur banyak terdapat ibu - ibu yang menawarkan jasanya menyewakan selendangnya.
Memasuki kawasan pura mata Ane tertuju pada sekelompok orang yang memakai pakaian serba putih. Nampaknya orang tersebut sedang melaksanakan ibadah dan sebagai tanda bahwa sekelompok orang tersebut sedang melaksanakan ibadah adalah terdapatnya sesajen yang berada di depannya. Sebenarnya Ane ingin langsung narsis di sebuah pura yang didepannya terdapat sesajen tersebut, sehubungan masih di pakai untuk beribadah maka Ane meredam keinginan tersebut dan berkeliling terlebih dahulu sambil menunggu mereka selesai beribadah. Tak lama kemudian selesai sudah mereka beribadah dan inilah yang Ane maksud.


Tak banyak yang dapat kita lakukan disini selain hanya melihat - lihat berbagai macam arsitektur yang ada di Pura. Tujuan selanjutnya kita menuju Pasar Seni Sukawati. Siapa yang tidak kenal dengan pasar ini? namanya tak hanya dikenal di kalangan wisatawan domestik tetapi juga di kalangan wisatawan mancanegara. Mungkin karena harganya yang terbilang cukup ekonomis maka tak heran bila pasar ini dikenal. Berbagai macam oleh - oleh khas Bali tersedia di sini mulai dari pakaian, lukisan dan bahkan pernak - pernik khas bali. Tak lengkap rasanya bila berkunjung kesini tanpa membeli oleh - oleh. Anepun akhirnya membeli oleh - oleh berupa kaos sebanyak 3 buah dan salah satunya yang akan Ane buat ganti di hari esok. Benar saja murah, 3 buah kaos saja hanya dibanderol 42k saja. saking asyiknya belanja waktu tak terasa kalau Ane sudah sekitar sejam berada di pasar ini. Beberapa sobat Ane memanggil kalau kita segera melanjutkan perjalanan lagi, padahal Ane sendiri masih ingin keliling - keliling lagi. Tapi tak apalah di tujuan berikutnya tidak kalah menarik yaitu menyaksikan tari barong di Batubulan. tak sampai 30 menit untuk sampai kesini.


Saat itu Ane kurang tahu tarian apa yang paling terkenal di Bali. Kalau saja waktu itu Ane di suruh memilih antara menyaksikkan tari barong dengan tari kecak, tentulah Ane lebih memilih menyaksikkan tari kecak dan kemudian menyaksikkan tari barong, hehehe. Suruh memilih satu malah tetap saja milih semuanya. Yapz, mau memilih bagaimana la wong kedua tarian tersebut berasal dari Bali dan sudah dikenal wisatawan dan dua duanya memiliki daya tarik tersendiri. Untuk sobat, bila ingin menyaksikan Tarian Barong datanglah kesini, sedangkan tari kecak dapat disaksikan di Uluwatu. Sehubungan baru tari barong saja yang Ane saksikan, lain kali kalau datang ke Bali ingin rasanya menyaksikkan secara langsung Tari Kecak yang biasa dipentaskan di Uluwatu. Ada yang mau ngajak Ane?hehe.
Berbicara mengenai tarian barong sebenarnya ada beberapa jenis tarian barong, diantaranya Barong Ket, Barong Bangkal, Barong Asu, dll. Tarian barong ini mencerminkan kehidupan masyarakat bahwa baik buruk atau positif negatif selalu ada dalam kehidupan manusia. Inti dari cerita tarian Barong sendiri di ambil dari cerita pewayangan hindu terbesar dari India yaitu Mahabarata. Sungguh Ane terkagum - kagum akan pementasan tarian barong yang sedang Ane saksikan ini. Semoga tarian ini bisa tetap terjaga kelesatariannya sampai selama - lamanya.


Selesai melihat tari barong dan hari sudah mulai sore, rombongan kita selanjutnya bergerak ke arah Pantai Sanur yang menjadi destinasi terakhir kita di hari yang ketiga ini. Pantai ini merupakan destinasi yang sangat wajib untuk dikunjungi bila melancong ke pulau ini. Pantainya cukup sepi dan cenderung bersih bila dibandingkan dengan Pantai Kuta, birunya air laut dan berpasir putih serta banyaknya batuan karang di bibir pantai membuat pantai ini semakin eksotis. Sampai - sampai terdapat sebuah batu karang yang cukup besar dan pas untuk mengabadikan moment yang sangat penting ini. 

Gaya dulu deh
Hari memang sudah semakin sore, namun sayang kita tidak dapat menyaksikan sunset di pantai ini. Pantai sanur cocok bila ingin menyaksikan sunrise, sedangkan bila ingin menyaksikan sunset Pantai Kuta lah yang sangat cocok. Ada hal yang paling berkesan bagi Ane terjadi disini yakni kebersamaan Ane dengan sobat - sobat ketika itu bermain bola di sepanjang garis pantai. Hmmm kapan lagi bisa kesini dan bermain bola bersama dengan sobat - sobat.

Santai dulu
Hari pun semakin gelap dan tak mau kemalaman sampai di hotel, akhirnya kita meninggalkan pantai dan menuju ke hotel kita. Sungguh cerita mengasyikkan yang terjadi di hari ketiga ini, berbagai pengalaman baru Ane dapatkan disini.
Di hari keempat dan merupakan hari terakhir kita disini, berbagai macam tempat obyek wisata siap kita jelajahi. Mengunjungi Monumen Perjuangan Rakyat Bali "Bajra Sandhi" yang sempat membuat kita terpesona akan bentuk bangunannya di hari kedua, berkunjung ke Sangeh tempat dimana tinggal para kera, dan terakhir mengunjungi sebuah danau di Bedugul.

Pintu masuk Monumen Perjuangan Rakyat Bali "Bajra Sandhi"
Perjalanan dimulai, lokasi pertama yang kita kunjungi adalah Monumen Perjuangan Rakyat Bali "Bajra sandhi". Bangunan ini didirikan di pusat kota Denpasar dan tepat di depan kantor Gubernur Bali dekat Lapangan Puputan Renon Bali. Monumen ini didirikan dengan maksud untuk menghormati jasa para pahlawan yang telah berjuang dalam dalam mempertahankan kemerderdekaan NKRI dan diharapkan sifat semangat itu tetap tertanam di generasi bangsa.
Memasuki ruangan utama di lantai 2 kita dapat menyaksikan berbagai macam diorama yang menggambarkan peristiwa sejarah perjuangan rakyat Bali.


Puas melihat - lihat diorama yang ada di lantai 2 selanjutnya Ane bergerak menuju ke lantai 3, menurut Ane lebih pantas disebut sebagai menara karena ruangan yang ada tidaklah terlalu besar. Untuk sampai ke atas kita dapat menaiki anak tangga yang berbentuk melingkar atau disebut juga dengan "Tangga Tapak Dara". Sesampainya di atas kita dapat melihat pemandangan kota Denpasar dan sekitarnya dari ketinggian, sungguh pemandangan yang sangat luar biasa indahnya.



Selesai sudah kita berkunjung ke Monumen Perjuangan Rakyat Bali "Bajra Sandhi". Di lokasi kedua yang kita kunjungi yaitu Sangeh. sangeh ini tempat dimana para kera berada. Hembusan angin yang melambai - lambai seolah - olah menyambut kedatangan kita. Di pintu masuk hutan terdapat sebuah patung Kumbakarna dan di samping kiri dan kanan jalan didominasi oleh pohon pala yang tentunya di sepanjang jalan berkeliaran para kera. Kera - kera disini tidaklah nakal, walaupun begitu Ane ketika itu tidak berfoto bersamanya karena masih ragu - ragu dan takut. Lain kali coba lagi dah



Sebenarnya nggak perlu takut untuk berfoto bersamanya karena di sekitar lokasi sudah terdapat beberapa pawang kera yang siap untuk membantu pengunjung bila diperlukan. Di tengah perjalanan di dalam hutan terdapat sebuah pura yang Ane sendiri tidak tahu apa nama dari pura tersebut. Di ujung perjalanan kita dihadapkan pada sebuah pohon yang memiliki keunikan tersendiri yakni "pohon lanang wadon" begitulah masyarakat sekitar menyebutnya. Konon katanya pohon tersebut disebut pohon lanang wadon karena bagian bawah pohon itu berlubang dan menyerupai alat kelamin perempuan, sedangkan di tengah lubang tersebut tumbuh batang yang mengarah ke bawah yang terlihat seperti alat kelamin pria.
Puas mengeksplorer Sangeh, perjalanan kita lanjutkan menuju sebuah danau di Bedugul. Udara yang sejuk terasa ketika Ane Memasuki Bedugul, sayang seribu sayang Ane lupa apa nama danau ini, hmmm.

Sebuah jalan masuk menuju danau
Menurut pengamatan Ane, banyak yang dapat dilakukan di sini mulai dari menyeberang danau dengan menyewa boat, memancing, atau hanya sekedar duduk - duduk saja di pinggir pantai sambil menikmati sejuknya udara di danau. Nampaknya pengelolaan danau ini sangat serius hal ini ditandai dengan adanya berbagai macam fasilitas yang siap digunakan oleh para pengunjung yang datang. Sungguh sip dan benar - benar sip. Ane ketika itu hanya duduk - duduk saja sambil menikmati sejuknya udara yang ada disini. Tak lupa juga untuk selalu narsis, hehe.



Berakhirnya kunjungan kita di danau ini, berakhir pula perjalanan kita di Pulau Bali. Namun begitu masih banyak obyek wisata yang terlewatkan di pulau ini, seperti Obyek Wisata Tanah Lot, Pura Besakih, Desa Trunyan dengan keunikannya, melihat lumba - lumba di Pantai Lovina, menikmati Tari Kecak di Uluwatu, Pura Ulun Danu Beratan yang tergambar di pecahan uang 50k dan masih banyak lagi lainnya yang menarik untuk dikunjungi. Semoga suatu saat nanti bisa berkunjung kesini lagi. Ada yang mau ngajak Ane sekaligus membiayai perjalanannya? oke let's go, hehehe. Pada hari ke-5 sampailah kita di Kota Yogyakarta dimana rumah kita berada.
Demikianlah sebuah catatan kenang - kenangan yang Ane alami di Bali dan semoga bisa berkunjung kesana lagi, Aaaamiiien. Sampai jumpa.

16 komentar:

  1. Betul, wisatawan asing memang lebih mengenal Bali dahulu dari Pada Indonesia. Lucu juga ya..hahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya gak percaya, tapi akhirnya yaw percaya.... lucu memang, kok bisa

      Hapus
  2. Kalau di Bali, aku lebih ingat dengan Bounty Cruiser-nya :-D

    BalasHapus
  3. Kenangan jalan-jalan di Balinya seru bnget mas, biasanya akan menjadi nostalgia yang memiliki kesan tersendiri dalam hidup, tapi trunyan itu lebih unik dan indah dari tempat Bali lainnya mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas,,,,, bener banget dan tak bisa dilupakan,,, tapi sayangnya Trunyan waktu baru diceritain belum berkunjung kesana,,, hehehe

      Hapus
  4. saya sekali dibali, menurut saya itu tempat angker. dimana2 ada sajen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmmm,,,, iya juga sieh kak, cuman itulah kenapa kalau sudah pernah berkunjung ke Bali dan ingin kesana lagi, kangen nyium baunya sesajen,,, hehehe

      Hapus
  5. oh ya, kayaknya warna bagron komentar kurang pas dengan warna tulisan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kak atas masukannya,,, hmmm tapi harus ngubek - ngubek tamplate blog lagi nieh, hehe

      Hapus
  6. Walau perjalanannya sudah lama namun kenangan terhadap perjalanannya tetap manis ya Mas Anis :)

    BalasHapus
  7. wahhhh liburan yang seru awww bulenya mau donk satu haha hadeeehh.... mantap noh kapan ke bali lagi ikut yax

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa, bisa,,,, besok kalau ke sana lagi cari bule yang lebih banyak,,, trus bawa pulang satu, haha

      Hapus
  8. btw mesti datang lagi ke bali. kayanya perjalanan dengan rombongan kurang lepas programnya. soalnya cm ngikut dan nimbrung ngikutin program yang ud ada dan disusun panitia. padahal banyak sekali tempat yang belum didatengin tuh, dan pastinya kalo pake bis wakti tempuhnya bisa 4 kali lipat, belum lagi mesti makan waktu untuk nunggu biar rombongan lengkap baru bisa jalan. ternyata yang ditunggu duduk nyantai berjaman dibawah bis ketiduran :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget itu mas, hahaha
      Pergi sendiri lebih leluasa mau kemana aja, :-)

      Hapus

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me