Kamis, 07 April 2016

Yuk Belajar Tentang Gempa di Museum Gempa Sarwidi Jogja

Setiap kali Ane melewati Jalan Ringroad Utara selalu saja membaca sebuah plank yang bertuliskan Museum Gunung Merapi. Lama - lama Ane semakin penasaran sob dengan museum tersebut. Tak carilah beberapa informasi mengenai museum itu. Ternyata museum ini terletak di Kawasan Kaliurang yang tak jauh dari Museum Ullen Sentalu yang sebelumnya telah Ane ketahui. Eh nggak tahunya selain Museum Gunung Merapi dan Museum Ullen Sentalu, ternyata masih ada sebuah museum lagi tow yang patut dikunjungi yang ada di Kawasan Wisata Kaliurang ini. Museum apakah itu? yapz, museum tersebut adalah Museum Gempa Prof. Dr. Sarwidi.



Sehubungan ada banyak tempat yang bisa dikunjungi, maka rasa penasaran Ane semakin besar dan pada tanggal 31 Maret 2016 kemarin berangkatlah Ane menuju ke Kawasan Wisata Kaliurang. Sebelum memasuki kawasan wisatanya, Ane diharuskan membayar tiket masuk 3k terlebih dahulu di sebuah gerbang masuk kawasan tersebut. Nampaknya kawasan wisata kaliurang mulai berbenah, dahulu disini tak ada yang namanya gerbang masuk, apalagi tiket masuk tapi sekarang kedua hal itu ada.



Setelah membayar tiket masuknya, Ane pacu kembali kuda hijau Ane dan tak lama kemudian bertemulah Ane dengan perempatan yang ditengahnya terdapat patung (tugu) udang. Berdasarkan informasi yang Ane dapatkan dari situs resmi Museum gempa ini bahwa dari patung udang ini masih lurus lagi ke arah kanan. Oke, dengan mengikuti arah tersebut, sampailah Ane di sebuah perempatan yang ditengahnya terdapat Patung (tugu) kera.



Hati pun terasa tenang dan bahagia karena tak lama lagi dari sini sampailah Ane di lokasi. Benar saja sob kurang lebih sekitar 100 meter sampailah Ane di lokasi yang Ane maksud. Bangunan museumnya cukup unik tak seperti museum - museum pada umumnya. Bentuknya mirip atau bahkan sama dengan bentuk bangunan rumah warga / penduduk dan bila tidak ada papan nama dan sejenisnya yang terpasang, tentu tak ada yang mengira kalau rumah tersebut adalah sebuah museum.



Kunjungan Ane kali ini tak semulus yang Ane harapkan, rumah terkunci dan lampu dalam keadaan masih hidup. Jelas museum ini belumlah buka. Tak mau nyerah begitu saja buat ngelanjutin ke tempat selanjutnya, pergilah Ane ke daerah sekitar. Tepat di depan museum ini ada seorang warga yang sedang berada di rumahnya. Seorang perempuan yang tampak masih muda. Dari dia Ane dapatkan informasi kalau memang museumnya selalu saja tutup dan bagi para pegunjung yang ingin masuk kedalam, bisa langsung menghubungi pengelolanya atau datang langsung ke rumahnya.



Lantas Ane bertanya,"dimanakah rumah pengelolanya itu?" dan beliau memberikan arahan yang cukup jelas kepada Ane, "Setelah ada turunan ke bawah, turunlah dan jangan belok - belok. Lurus aja hingga masnya bertemu dengan rumah yang didepannya terdapat sebuah pendopo, nah itulah rumahnya. Letaknya ada di sebelah kiri jalan".
Dengan mengucapkan terima kasih kepadanya, bergegaslah Ane menuju ke rumah sang pengelola tersebut. Nasib baik sedang hinggap di Ane rupanya, sang pengelola yang Ane cari ternyata ada di rumah. Kalau Ane perkirakan rumahnya sieh tak lebih dari 200 meter dari lokasi museum. Sang pengelola tersebut terlihat kaget dan penuh tanya, ada keperluan apa Ane kesini dan Ane menjelakan kepada beliau bahwa Ane akan berkunjung ke museum. Beliau bernama Bu Dewi, orangnya ramah dan welcome sekali, begitu Ane memberitahukan keperluan Ane, beliau langsung siap - siap dan segera menuju ke lokasi.



Singkat cerita, seusai mengisi buku tamu Ane langkahkan kaki masuk kedalam. Ruangannya cukup luas, namun sepertinya hanya di ruangan inilah semua koleksi berada. Koleksi yang pertama Ane lihat disini adalah sebuah miniatur rumah berpondasi semacam dari botol plastik. Di bagian atasnya tertulis Barrataga. Ternyata Barrataga adalah sebuah akronim dari Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa. Miniatur ini dapat kita mainkan loh sob dengan cara menggerak - gerakkan bagian pegangan yang terbuat dari benang, sehingga miniatur rumah tersebut bergoyang - goyang layaknya terkena gempa.


Miniatur rumah yang bisa dimainkan
Biasanya don't touch, ini malah boleh dimainkan
Menuju ke koleksi berikutnya, ada sebuah miniatur bangunan bertingkat dan miniatur bangunan - bangunan lainnya yang sepertinya menjelaskan bangunan yang seperti apakah yang baik untuk menghadapi gempa. Ane sempat penasaran dengan bangunan yang bertingkat tersebut, apa maksud dari bangunan ini. Tetapi tak banyak informasi yang Ane dapatkan dari beliau (Bu Dewi), beliau bilang kalau beliau bukanlah sang edukator yang menjelaskan kepada setiap para pengunjung tentang semua koleksi yang ada. Sementara edukatornya sedang tidak berada disini. So, apa boleh buat.


Miniatur bangunan bertingkat
Miniatur bangunan - bangunan lainnya
Sebagian besar koleksi yang ada disini menerangkan tentang Barrataga sob, berbagai cara membangun rumah konsep Barrataga di kupas tuntas, mulai dari peralatannya, cara membangunnya hingga bentuk bangunannya. Pokoknya lengkap deh.





Di tengah - tengah Ane mencermati satu - persatu koleksinya, diputarlah sebuah video, bukan video horror, romantis, atau bahkan box office loh ya, tetapi video tersebut adalah video dokumenter yang berkaitan dengan gempa. Di awali dengan gambaran keadaan bumi kita sekarang ini, kemudian macam - macam kejadian gempa seperti tsunami, hingga apa yang harus kita lakukan ketika terjadi gempa.




Ngeri
Dari hasil melihat video dokumenter tersebut dapat Ane petik sebuah pelajaran sob,"gempa bumi seperti terjadinya pergerakan tanah, tsunami, dan gunung api meletus adalah serangkaian proses alam yang terjadi secara alami. Bayangkan aja sob di bagian terdalam dari bumi kita ini punya suhu hingga mencapai 6000 derajat celcius lho. Betapa panasnya suhu tersebut, bahkan biji besi saja sudah bisa meleleh. Ngeri - ngeri sedap kan? So, nggak heran kan kalau bumi kita ini terjadi berbagai bencana tersebut. Mengapa itu harus terjadi? karena bumi kita juga butuh yang namanya keseimbangan.
Satu lagi, kalau ternyata yang menyebabkan bangunan rumah rusak itu ternyata bukan dari seberapa besar SR (Skala Richter) gempa itu terjadi lho, tapi seberapa kokoh bangunan yang dibuat untuk menghadapi gempa.
Nah, ada sebuah pengujian nieh sob mengenai rumah yang tahan gempa atau tidak. Nama alat tersebut adalah Simutaga (Simulasi Ketahanan Gempa). Bangunan yang tahan gempa masih berdiri dengan kokoh, sementara yang tidak tahan terhadap gempa hancur.



Di akhir kunjungan Ane kesini, Ane tak sengaja membaca sebuah buku yang isinya cukup menarik tentang pengetahuan dasar kebencanaan dan kegempaan. Saking menariknya buku tersebut, lalu Ane menanyakan kepada Ibu Dewi apakah buku tersebut di jual atau tidak dan beliau mengatakan kalau buku tersebut boleh untuk di beli dengan mahar sebesar 35k. Tanpa keberatan sedikitpun, akhirnya Ane membeli buku tersebut.



Beliau juga mengatakan kalau beliau meminta ma'af karena sesampainya disini museum ini masih tutup. Dia bilang kalau berkunjung kesini sebaiknya hari sabtu atau minggu saja. Pada hari itu dipastikan museum ini buka. Sedangkan hari senin libur (tutup), dan hari selasa - jum'at museum ini kadang buka kadang tutup tak menentu.
Misalkan sobat datang dan sudah sampai sini, tapi kok tutup. Tenang saja, sobat bisa menghubungi ke nomor beliau yang tertera di bagian depan museum. Berikut No. HPnya: 081578063445 dan 08122940177.
Cara menuju Museum Gempa Prof. Dr. Sarwidi:



Dari Tugu Jogja, bergeraklah ke arah utara melalui Jl. A. Moh. Sangaji dan berlanjut ke Jl. Monjali lurus terus hingga sobat menemukan perempatan lampu merah yang di sebelah barat lautnya ada Monumen Yogya Kembali (Monjali) bentuk bangunannya seperti tumpeng. Dari sini, beloklah ke arah kanan (timur) melalui Jl. Ring road Utara hingga sobat menemukan perempatan lampu merah lagi. Kemudian beloklah ke arah kiri (utara) melalui Jl. Kaliurang hingga di Km. 25 sobat akan bertemu dengan perempatan yang di tengah - tengahnya terdapat patung (tugu) udang. Luruslah ke arah serong kanan hingga sobat menemukan lagi sebuah perempatan yang di tengah - tengahnya terdapat patung (tugu) kera. Dari sini masih lurus serong kanan lagi dan tak lama lagi sobat sampai di tempat yang sobat maksud. Di Kawasan Wisata Kaliurang setidaknya ada 3 buah museum yang patut untuk dikunjungi. Selain Museum Gempa Prof. Dr. Sarwidi, juga ada Museum Ullen Sentalu dan Museum Gunung Merapi. Ada apa sajakah gerangan disana? tunggu cerita Ane selanjutnya ya sob.
sampai jumpa!

18 komentar:

  1. oalah ada lagi museumnya, museum gempa juga ada ya...top deh
    he he he ternyata museumnya tidak selalu buka ya mas, wah mantap neh infonya mas Anis, jadi hari Sabtu n Minggu saja ya mas pasti buka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, bener,,,,
      La museumnya aja milik swasta (pribadi), jadi nggak mungkin kan kalau mau nuntut banyak dengan pihak museum,,,,
      ya cuman berharap aja semoga kedepannya semakin baik, jadi tiap hari bisa buka secara teratur,,,, Amiiieeen, :-)

      Hapus
  2. Banyak juga ya wisata di Jogja yang bernuansa pendidikan. Sayang ngga bisa dapat penjelasan rinci yak dari guidenya. Saya juga pikirnya ini rumah atau museum pas liat foto y. Masuk ke dalam museumnya bayar lagi ngga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak,,,
      Hahaha,,, sama mbak, tadinya aku kira ya rumah, eh nggak tahunya museum...
      Nggak kok mbak, masuknya gratisss, :-)

      Hapus
  3. wah kece juga mas mantap.. kalo bawa anak yg doyan ginian pasti betah nih hehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas,,,,
      membawa anak akan lebih bagus soalnya bisa menanamkan pengetahuan tentang gempa sejak dini pada anak,,,, hehehe, jadi suatu saat tidak kaget lagi kalau ada gempa, :-)

      Hapus
  4. museumnya menarik... pingin jg nnnton videonya...

    BalasHapus
  5. Ternyata di jogja ada museum gempanya juga ya mbak, wis keren banget, jadi pengen kesana, tempatnya juga bagus sekali :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, bener banget,,,,
      jangan lupa mampir mas kalau ke Jogja, hehehe
      Terima kasih sudah mau mampir di blog ini :-)

      Hapus
  6. nice info...
    dari dulu udah sering denger sih musim gempa, tapi masih belum terlalu paham dalemnya, skrng jadi ada gambaran deh...
    maksih mas, salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe,,, syukur mas kalau udah tahu gambaran walaupun sedikit,,,
      Tapi lebih puas lagi kalau datang langsung dan menyaksikannya sendiri, hehehehe
      Sama - sama mas,,, Salam kenal juga
      Terima kasih sudah mau mampir kesini, :-)

      Hapus
  7. Gempa bumi adalah proses alam. Hanya saja mari selalu berharap bahwa gempa tesebut minimal kerusakannya terhadap manusia ya Mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Evi, bener banget dan setuju sekali,,,, :-)

      Hapus
  8. lagi2 yaa.. museum bagus, tapi pengunjung ga bnyk, dan buka tutupnya juga ga menentu saking sepinya :( Sayang juga pas kamu dtg edukatornya ga ada mas.. aku juga penasaran mau bnyk2 tanya ttg gempa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak,,, museumnya bagus tapi sepi pengunjung,,, Nah itu dia mbak, mau protes tapi ini museum di kelola pihak swasta bukan di bawah dinas pariwisata, jadi ya semacam milik pribadi yang diperbolehkan untuk dikunjungi,,,, ya mau nggak mau harus nerima,,,, :-)

      Hapus
  9. Selamat Siang Anis Hidayah dan semua Sahabat Museum yang sudah membaca tulisan Anis Hidayah,

    Saya Pita Educator dari Museum Gempa Proff. DR.Sarwidi (Musega Sarwidi). Musega Sarwidi bertimakasih sekali atas tulisan mengenai Museum Gempa Proff.DR.Sarwidi. Dengan berkunjung dan menuliskan kembali mengenai isi dan pengetahuan dari Musega Sarwidi,maka Visi dan Misi dari Musega Sarwidi sebagai Wisata Edukasi terbantu dalam meneruskan mata rantai Pengetahuan mengenai Kegempaan, Kesiapsiagaan dan Bangunan Rumah Rakyat.
    Kami sampaikan pula bahwa mulai Bulan Agustus 2016 Museum Gempa Proff.DR.Sarwidi (Musega Sarwidi) yang terletak di Kaliurang telah buka setiap Hari Selasa PK.10.00-15.00, Hari Rabu-Minggu Buka Pk. 09.00-15.00, Hari Senin Libur. Jika pengunjung ingin melihat film mengenai Kegempaan, Kesiapsiaga dan Barrataga maka donasi 10.000,- per orang, namun jika hanya ingin melihat koleksi musium dengan senang hati Educator Musega akan memberikan penjelasan tanpa donasi.
    Untuk informasi kami sampaikan beberapa program Musega Sarwidi : 1. Simulasi & Program Siaga Bencana (SSB), 2. Pemutaran Film Penanggulanan Bencana, 3. Permainan Rekayasa Kegempaan & Study Display Dokumen Museum, 4. Sosialisasi & Soft Outbound Pengurangan Resiko Bencana (PAUD-MAHASISWA-UMUM),5. Pelatihan Bangunan Tahan Gempa/Barrataga, 6. Merapi Lava Tour, Jelajah Lava Bantal (Watu Kemloso Merapi) & Pelepasan Burung Emprit sebagai gerakan Save Elang Jawa.Untuk kunjungan Group mohon untuk bisa menghubungi kami di nomor 082227455900 (Pita) minimal 2 hari sebelumnya, agar bisa kami persiapkan dan jika jadwal bisa maka bisa bertemu dengan Proff.DR.Sarwidi sebagai pemilik museum.
    Kami tunggu kedatangan para pengunjung pecinta museum. Salam Tangguh

    Pita
    Educator & Sekertaris Pelaksana Musega Sarwidi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat siang juga mbak Pita!
      Terimakasih kembali,,,,
      Pokoknya penjelasan Mbak Pita sudah lengkap dah dan bisa dibilang merupakan update an terbaru dari Musega Sarwidi, :-)

      Hapus

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me