Rabu, 11 Mei 2016

Berwisata Sambil Belajar Sejarah di Kompleks Makam Raja - Raja Mataram Kotagede

Makam Raja - raja Mataram dan Kompleks Masjid Besar Mataram Kotagede, itulah dua papan nama yang saling terpisah terpajang di bagian depan daripada kompleks ini. Letaknya tak jauh dari lokasi Cokelat Monggo dimana tempat yang Ane kunjungi sebelumnya, ya sekitar 100 - 200 meteran sehingga perjalanan Ane dari Cokelat Monggo menuju kesini tak membutuhkan waktu yang lama.




Memasuki area kompleks, Ane disambut oleh jajaran rumah penduduk yang bernuansa jawa dan tertata dengan rapi. Sebelum tiba di bagian dalam masjid, Ane diharuskan untuk memasuki pintu gerbang berbentuk paduraksa yang terbuat dari batu bata yang terlihat sangat tua. Tampak di bagian depan masjid terdapat penjelasan mengenai Masjid Kotagede ini atau juga dikenal dengan sebutan Masjid Gede Mataram Kotagede.





Masjid ini di bangun pada tahun 1511 Jw atau 1589 M Atas prakarsa Panembahan Senapati yang tertuang dalam Babad Momana dan terletak di Desa Jagalan, Kotagede, Yogyakarta. Pada tahun 1919 bangunan masjid ini pernah mengalami kebakaran, setelah itu diperbaiki dan pada tahun 1923 bangunan masjid kembali seperti sedia kala. secara arsitektural bangunan utama masjid terdiri dari 5 komponen ruang, diantaranya:
1. Kuncungan, merupakan akses utama menuju bagian dalam masjid. 
   Bangunan ini memiliki atap tipe kampong dengan dua pilar dari
   struktur bata. Di bagian depannya (atap sisi timur) terdapat
   hiasan kaligrafi serta dua angka tahun yakni 1856 dan 1926.
2. Jagang, merupakan kolam kecil yang mengelilingi serambi di sisi
   utara, selatan dan timur.
3. Serambi, dibedakan menjadi dua yakni serambi bawah yang terdapat
   pagar rendah yang berbatasan langsung dengan jagang dan serambi
   atas yang berbentuk limasan dengan 8 tiang saka dan menyerupai
   sebuah bangunan pendapa.
4. Bangunan induk, juga dibedakan menjadi dua yakni bangunan utama
   (liwan) yang memiliki denah persegi beratap tumpang susun tiga
   dengan 4 buah sakaguru, di bagian liwan ini terdapat mihrab,
   serta bangunan kedua adalah pawestren yang merupakan sebuah ruang
   khusus bagi jemaah wanita.
5. Tempat wudhu yang terletak di sisi utara dan selatan.
(Sumber: Penjelasan yang ada di bagian depan masjid)




Sehubungan waktu dzuhurnya masih lama, Ane putuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi. Di bagian belakang masjid terdapat area Makam Raja - Raja Mataram Kotagede yang merupakan makam peletak dasar kerajaan mataram islam beserta keluarganya. Untuk menuju ke halaman makam tersebut, lagi - lagi Ane harus melewati sebuah gapura berbentuk paduraksa.



Ane duga awalnya begitu memasuki gapura tersebut akan langsung menuju ke areal makamnya. Dugaan Ane ternyata salah, halaman yang pertama Ane temui adalah sebuah bangsal dimana bangsal tersebut bernama Bangsal Duda yang berfungsi sebagai tempat para abdi dalem berjaga.
melewati sebuah gapura lagi, lagi - lagi belum juga Ane bertemu dengan areal makamnya. Disini terdapat 4 buah bangunan bangsal yang saling berhadapan dimana dua buah bangunan berupa bangunan tertutup yang digunakan sebagai tempat kantor kesekretariatan sekaligus tempat digunakannya orang laki - laki dan perempuan berganti pakaian, dan dua buah bangunan lainnya merupakan bangunan terbuka yang dinamai dengan Bangsal Pengapit Ler (bangsal pendamping utara) dan Bangsal Pengapit Kidul (bangsal pendamping selatan). Untuk fungsinya sendiri kedua bangsal tersebut digunakan sebagai tempat beristirahtnya bagi para pengunjung bila lelah. Bagian utara untuk wanita sedangkan kaum pria menempati bagian bangsal selatan.


Kantor Kesekretariatan
Bangsal Pengapit Ler
Bangsal Pengapit Kidul
Sebelum memasukinya, Ane diharuskan mengisi buku tamu terlebih dahulu dan mengisi sebuah kotak amal seikhlasnya. Seusai melakukan kedua hal tersebut, Anepun ditanyai oleh salah seorang abdi dalem tersebut apakah mau masuk kedalama atau tidak. Tanpa fikir panjang Ane memutuskan untuk berkeliling - keliling terlebih dahulu di area makam. Ada apakah gerangan disini? ada sebuah tempat yang sayang bila dilewatkan yakni Sendang Seliran.



Eow iya sob, nampaknya Ane sangat beruntung, karena makam ini hanya buka pada hari - hari tertentu. Tertempel dengan jelas di bagian dinding Kantor Kesekretariatan jadwal jam buka Makam Kotagede ini. Makam Kotagede ini hanya buka pada hari Minggu, Senin, dan Kamis saja dari pukul 10 pagi hingga 1 siang, serta hari Jumat dari pukul 1 siang hingga 4 sore. Sementara untuk hari Selasa, rabu, sabtu dan ramadhan makam ini tutup.



Memasuki area Sendang Seliran, Ane sangat terkejut karena tak hanya sebuah tempat saja yang ada disini tetapi dua buah tempat. Tempat ini terletak di selatan tembok Pasareyan Agung. Di bagian utara bernama Sendang Seliran Lanang yang digunakan oleh kaum pria. Sendangnya berbentuk bak seperti kamar mandi yang bersekatkan dengan sebuah tembok. Airnya tidak jernih, tetapi juga tidak keruh.




Tempatya agak terbuka dan terletak di tengah kawasan. Dahulu digunakan oleh kaum pria yang kemungkinan untuk mandi, sekarang tahu tidak sob untuk apa? Ya, sekarang sendang tersebut dihuni oleh berbagai macam ikan.




Sementara di bagian selatan bernama Sendang Seliran Wadhon yang diperuntukkan untuk kaum wanita. Berbeda dengan Sendang Seliran Lanang yang terkesan terbuka, di Sendang Seliran Wadhon ini justru agak tertutup dan letaknya di pinggir wilayah sendang. sama seperti Sendang Seliran Lanang, dahulu digunakan untuk mandi, sekarang berbagai macam ikan hidup disini. Di sekitar sendang terdapat sebuah bangsal yang bernama Bangsal Kencur.


Suasana Sendang Seliran Wadhon
Kolam yang ada di Sendg Seliran Wadhon
Bangsal Kencur
Menurut berbagai sumber sendang ini dikerjakan sendiri lho sob oleh Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senapati. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa di sebut seliran karena air kolam tersebut berasal dari makam Panembahan Senapati (selira=badan) (Sumber: penjelasan yang ada di bagian depan Sendang Seliran).
Di masing - masing sendang tersebut terdapat sebuah gayung untuk mengambil air. Lantas apakah fungsinya? mungkin sebagai obat awet muda dengan cara mengambil air dalam sendang tersebut dan kemudian untuk mencuci muka, berwudhu atau meminumnya. Ah ntahlah, Ane sendiri tak mempercayai hal - hal semacam itu dan memilih untuk melanjutkan perjalanan lagi karena masih ada sebuah tempat lagi yang wajib untuk di eksplorer.



Tempat tersebut adalah Makam Raja - raja Mataram. Keluar dari area sendang seliran, Ane menuju ke ruang kesekretariatan kembali. Disini Ane harus berganti pakaian terlebih dahulu sebelum memasukinya. Untuk sewa pakaian, Ane dikenakan tarif sebesar 15k. Setelah mengganti pakaian, selanjutnya Ane diarahkan oleh salah satu abdi dalem untuk masuk kedalam makam. Sebelum memasukinya Ane disuruh mengisi kotak kembali dengan besaran seikhlasnya. Dimulai dari sini hati Ane merasa tidak nyaman, pasalnya kotak ini berada di Bangsal Pengapit Kidul yang letaknya hanya beberapa meter dari kantor kesekretariatan. Lalu urgensinya apa? Ah ntahlah. Memasuki areal makam, selain harus mengenakan baju adat jawa juga harus melepaskan alas kaki. Bagi yang suka narsis seperti Ane, disini bukanlah tempat yang ramah untuk itu. Mengapa? karena tak diperkenankan sedikitpun para pengunjung mengambil gambar / foto.
Mau tidak mau Ane harus mentaati peraturan yang berlaku. Di sepanjang perjalanan menuju bangsal, Ane disuguhkan dengan berbagai macam makam yang ada. Makam - makam ini bukanlah makam para raja mataram, tetapi makam para keluarga raja beserta kerabatnya. Sedangkan untuk rajanya sendiri dimakamkan di bagian bangsal utama. Sudah ada beberapa orang abdi dalem yang siap menyambut Ane ketika sampai disini. Salah seorang dari mereka mendampingi Ane memasuki bangsalnya. Disinilah nyali Ane di uji, terdapat banyak makam yang ada disini. Makam - makam tersebut terbuat dari marmer putih yang terbilang cukup bersih dan terawat dengan baik. Sang abdi dalem menjelaskan kepada Ane kalau ada dua makam utama yang ada disini, letaknya ada di bagian utara dari bangsal ini. Makam - makam tersebut adalah Makam Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senapati. Anepun disuruh untuk mengirim do'a terlebih dahulu.
Ingat ya sob, jangan minta berkah dari makam - makam yang ada disini. Tetapi berdoalah mendoakan orang yang sudah tidak ada supaya mereka yang sudah mendahului kita mendapatkan ampunan dari Sang Maha Kuasa. Bagaimanapun Raja - raja Mataram juga manusia, iya kan?.
Seusai mengirim doa, Ane dihampiri lagi oleh sang abdi dalem tersebut. Beliau menjelaskan secara detail tentang sejarah yang ada di kerajaan mataram ini sampai - sampai Ane malah bingung menangkapnya. Tapi dari sekian penjelasan yang Ane terima ada hal - hal pokok yang Ane pahami yakni:
- Secara keseluruhan areal Makam Raja - raja Mataram ini hanya 
  diperuntukkan bagi raja dan keluarga kerajaan mataram islam, 
- Satu - satunya Sultan HB yang disemayamkan disini adalah Sultan 
  HB II, 
- Ada yang unik sob mengenai sebuah makam yang Ane lihat yakni 
  Makam Ki Ageng Mangir. Makamnya itu sebagian terletak di dalam 
  dan sebagian lainnya terletak di luar bangsal. 
- Selain itu pada tiang penyangganya ada sebuah tiang penyangga 
  yang dipagari oleh biji besi. Mengapa demikian? karena pada waktu
  dulu di tempat inilah turunnya sebuah wahyu.
- Kebanyakan makam tak diberi selambu, tapi sebagian yang lainnya 
  diberi selambu. Lantas Ane bertanya mengapa hal itu terjadi? Sang
  abdi dalem tersebut dengan mudah menjawabnya kalau makam yang
  diberi selambu tersebut karena permintaan dari sang keluarga.
- Paku Alam ke-I dimakamkan disini juga, hal ini dikarenakan Paku
  Alam ke-I masih kerabat dekat dengan pihak mataram.
Eksplorer makamnya sudah, kini saatnya Ane balik ke Kantor kesekretariatan lagi. Lagi - lagi disini Ane merasa kurang nyaman sob, mengapa? karena disini Ane disuruh mengisi kotak yang tersedia lagi. Hufth begini tow caranya. So buat sobat yang berniat berkunjung kesini sebaiknya sediakan terlebih dahulu uang receh dan semacamnya.



Kompleks Makam Raja - raja Mataram ini terletak tidak jauh dari Terminal Bus Giwangan. Dari Terminal Bus Giwangan, tinggal lurus saja ke arah utara hingga sobat menemukan pertigaan lampu merah dengan jalan yang cukup besar pertemuan antara Jalan Pramuka dengan Jalan Tegal Gendu. Nah, dari sini beloklah ke arah kanan (timur) melalui Jalan Tegal Gendu hingga menemukan Pasar Kotagede. Sebelum Pasar Kotagede, ada sebuah jalan mengarah ke arah kanan (selatan). Beloklah ke jalan tersebut lurus terus hingga sobat menjumpai dua buah plank yang bertuliskan Kompleks Makam Raja - raja mataram Kotagede dan Masjid Agung Kotagede. Masuklah kedalam dan sampai deh.
Hari sudah semakin siang dan waktu shalat dzuhur telah tiba. Seusai melepas pakaian adat jawa, selanjutnya Ane langkahkan kaki Ane menuju ke Masjid Besar Mataram Kotagede yang sudah Ane lewati tadi.

4 komentar:

  1. sayang sewaktu tinggal di Jogja, gak main ke sini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti ntar kalau ke Jogja lagi bisa main kesini kak, :-)

      Hapus
  2. kita boleh foto pakai baju adat jawanya nya (sebelum atau setelah masuk area makam) gak?

    BalasHapus

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me