Rabu, 18 Mei 2016

Rumah Makan Legokan Ngancar, Tempatnya Makan Sambil Refreshing


"Dusun Mangir", mungkin sobat - sobat semua belum banyak yang tahu tentang dusun ini, maklum di negara kita ini kan terdapat banyak dusun hingga ratusan ribu jumlahnya. Kita nggak mungkin donk menghapal nama semua dusun - dusun tersebut. Berbicara mengenai Dusun Mangir ini sendiri ternyata keberadaan dusun ini tak lepas dari cerita Ki Ageng Mangir yang konon katanya pernah melegenda di tempat ini lho sob. Hal ini terlihat adanya situs petilasan Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Selain itu sejarah panjang Dusun Mangir dapat kita saksikan melalui berbagai macam peninggalan situs sejarah yang masih dihormati warganya diantaranya ada Situs Lembu Andini, Situs Linggayoni, Situs Batu Lumpang, dan Situs Batu Gilang.



Di balik cerita sejarahnya yang panjang, ternyata ada sebuah tempat yang menawarkan citarasa yang sangat unik dan wajib didatangi bila berkunjung kesini. Ya, nama tempat tersebut adalah Rumah Makan Legokan Ngancar yang terletak tepatnya di Jl. Tempuran Bedog, RT.02, Dusun Mangir Kidul, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.



"Nyaman di Gubug, Enak di Lidah", itulah slogan yang dipakai oleh rumah makan ini. Letaknya yang cukup jauh dari pusat Kota Jogja membuat Ane memerlukan waktu lebih lama untuk sampai sini, ya sekitar 45 menitan. Belum lagi pakai acara kesasar dan bertanya karena memang warung ini terletak agak di tengah perkampungan sehingga hal itu wajar terjadi.
Sesampainya disini, kesan yang Ane rasakan adalah tempatnya yang sejuk, bersih dan cocok buat nongkrong. Ada dua jenis tempat duduk yang bisa digunakan oleh setiap para pengunjung yang datang dalam menikmati menunya, bentuk gazebo dan pendopo. Nampaknya bentuk gazebolah yang menjadi tempat favorit bagi para pengunjung. Hal ini terlihat dari beberapa pengunjung yang sudah datang dan mereka semua menempati gazebo yang ada.


Tempat duduk bentuk gazebo
Tempat duduk bentuk pendopo
Begitupula Ane yang juga lebih suka menempati gazebo yang ada. Banyak yang dapat Ane lakukan disini selain menuggu pesanan yang datang yaitu mengamati aktifitas - aktifitas yang dilakukan oleh warga sekitar, ada yang yang sedang menambang pasir, adapula yang sedang menyalurkan hobinya memancing. Area ini memang cocok buat memancing karena di legokan Ngancar inilah terjadi pertemuan arus dua sungai antara Sungai Progo dengan Sungai Bedog. Bahkan adapula yang sedang santai sambil menikmati kuliner yang ditawarkannya tak terkecuali dengan apa yang sedang Ane lakukan saat ini.




Nambang dulu ah, buat beli sebongkah berlian
Mana ikannya, kok nggak pada nongol - nongol, udah pegel nieh tangan
Tak ingin berlama - lama di gazebo ini karena memang Ane belum pesan, selanjutnya Ane langkahkan kaki masuk kedalam. "Pak Basri", itulah sang pemilik dari rumah makan ini. Beliau orangnya ramah, sesekali Ane berbincang - bincang dengan beliau saat Ane sedang melihat daftar menu yang ada. Benar saja semua menu yang ditawarkan disini berkaitan dengan ikan yang hidup di sekitar aliran sungai ini seperti wader, belut, ikan gabus, lele, udang, gurameh dan sidat. Ikan - ikan tersebut diolah dengan berbagai cara, ada yang di goreng, di buat sambal, di buat rica - rica, di mangut, di bakar, dan bahkan di buat asam pedas/manis. Selain dalam bentuk porsi, menu - menu tersebut juga dapat di pesan berdasarkan jumlah bobot yang akan dibelinya.



Ternyata tak hanya menu - menu berupa ikan hasil tangkapan saja sob yang dijual disini, menu - menu sayuran pun tersedia disini. Menu - menu tersebut diantaranya ada sayur lompong, sayur Ca Kangkung, sayur daun ketela, sayur asam, urap, gudeg manggar, dan ingkung ayam jawa. Untuk sayur lompong, Ca kangkung, dan daun ketela dapat di pesan secara langsung, sedangkan yang lainnya harus pesan terlebih dahulu.
walaupun berada di tengah perkampungan dan agak sulit untuk ditemukan, rumah makan ini sepertinya tak mau tampil seadanya saja sob, hal ini terlihat dengan macam menu minuman yang tersedia yang terbilang cukup banyak diantaranya ada kelapa muda, es teh, fanta, dan lain sebagainya.



Ane       : Semua menu ini masih ada Pak?
Pak Basri : Ada mas, cuman sidatnya aja yang nggak ada.
Ane       : Hehehe, saya cuman sendiri Pak, nggak mungkin saya bisa
            menghabiskannya. Lalu menu yang spesial dari warung ini
            apa pak?
Pak Basri : Biasanya kebanyakan dari para pengunjung pesan mangut
            gabus mas, kalau nggak wader goreng.
Ane       : Eow, yaudah itu aja ya pak ya! terus minumannya es susu
            aja.
Pak Basri : Baik mas, silahkan di tunggu!, masnya duduknya dimana?
Ane       : Baik Pak, saya duduk di pondok kecil bawah saja Pak!
Pak Basri : Baik mas.
Cukup lama sudah Ane menunggu, ya sekitar seperempat jaman lah sob. Sembari menunggu pesanan yang datang, tak henti - hentinya Ane mengamati berbagai aktifitas yang warga lakukan. Setelah lama menunggu, akhirnya datang juga semua pesanan yang Ane pesan. Seporsi wader goreng, seporsi magut gabus, seporsi nasi putih, dan segelas es susu. Untuk mangut gabusnya sendiri disajikan bersama sedikit sambal, dan dua macam lalapan berupa potongan buah mentimun dan daun kemangi. Tak sabar rasanya Ane untuk segera mencobanya.



Mangut gabusnya
Wader gorengnya
Secara penampilan, mangut gabus ini mempunyai kuah santan berwarna kuning. Didalamnya diberi taburan bawang goreng sehingga terlihat lebih menarik. Pada srusupan pertama yang Ane rasakan adalah rasa gurih kurang lebih sama dengan rasa gurihnya santan yang terdapat pada mangut lele Bu Is. Ikan gabusnya juga mempunyai struktur daging yang lembut di mulut dan sedikit gurih sehingga cocok sob dinikmati bersama dengan nasi putih yang masih hangat dan sedikit pulen.



Untuk wadernya sendiri secara penampilan ya sama seperti pada wader goreng pada umumnya. Wader di goreng menggunakan tepung dan tahu tidak sob rasanya seperti apa? renyah banget dan sangat pas di santap dengan pedasnya sambal bawang. Ngomong - ngomong soal ikan gabus dan ikan wader dahulu Ane sering mendapatkannya lho sob, maklum sebagai orang desa kehidupan memancing sudah biasa Ane lakukan. Hal yang paling mengesankan saat itu adalah mendapatkan ikan gabus sampai 2Kg dan niat awalnya mau tak jual ew ndilalah ketahuan sama Ibu Ane jadilah Ane diomeli sampai habis (bahasa anak kecilnya di "seneni"), yasudah akhirnya ngga jadi Ane jual. Nah, masakan ikan gabus ini bisa di bilang kenangan masa kecil yang tak pernah Ane lupakan. Begitu juga dengan ikan wadernya, ini Ane pernah mendapatkanya dari cara menjaring. Pengalaman yang paling mengesankan Ane mmbersihkan kotorannya dari waktu maghrib hingga isya, habis sudah oleh Ibu Ane yang lagi - lagi Ane di "seneni", karena melewatkan waktu Shalat Maghrib. Udah ah malah ngelantur kemana - mana jadinya. Maklum anak laki - laki kalau di marahi apalagi yang menyangkut dengan hobinya pastilah diulangi kembali, hahaha.



Lengkap sudah eksekusi makanan hari ini karena tak hanya menu makanan saja yang enak untuk di santap, tetapi juga dalam memakannya Ane ditemani oleh semilirnya angin sepoi - sepoi dan suara gemercik arus aliran sungai yang ada. Dua kata untuk ini semua, "Wuenak tenan, Le leduk", untuk itu tak kasih


Jempol
Teng tong, habis sudah semuanya
Soal harga masih sangat bersahabat kok sob untuk semuanya dibanderol dengan harga 30k saja dengan rincian Seporsi nasi putih 3k, seporsi mangut gabus 14k, seporsi wader goreng 10k, dan segelas es susu putih 3k. Harga tersebut sebenarnya masih bisa Ane iritkan sedikit sieh sob misalnya hanya pesan wader gorengnya saja atau mangut gabusnya saja. So, harga yang cukup bersahabat bukan?



Sayang, letaknya cukup jauh dari kost Ane sehingga nggak memungkinkan untuk sering kesini. Okelah, kalau sobat tertarik untuk mencobanya dan belum tahu lokasi persisnya, berikut gambaran rutenya.
Dari perempatan lampu merah Plengkung Gading (selatannya Alun - alun Kota Jogja), bergeraklah ke arah barat melalui Jl. MT Haryono hingga menemukan perempatan lampu merah Pojok Beteng Kulon. Beloklah ke kiri (selatan) melaui Jl. Bantul hingga sobat menemukan perempatan lampu merah Dongkelan (petemuan antara Jl. Ringroad Selatan dengan Jl. Bantul). Masih lurus lagi ke selatan hingga sobat memasuki Kota Bantul yang ditandai dengan adanya sebuah gapura masuk. Dari gapura ini masih lurus lagi hingga menemukan perempatan lampu merah yang ke-4 yaitu perempatan lampu merah Palbapang. Kemudian beloklah ke arah kanan (barat) melalui Jl. Srandakan hingga menemukan pertigaan lampu merah yang kedua. Dari sini ada dua cara sob:



Pertama belok ke arah kanan (jalannya menyerong), hingga menemukan Pasar Pijenan Pandak. Masih lurus lagi menyeberangi sungai dan sobat akan menemukan pertigaan. Beloklah ke arah kiri dan ikuti jalan ini hingga sobat melewati gudang Bulog dan menjumpai Kantor Polsek Pajangan di sebelah kiri (selatan) jalan. Nah tepat setelah Polsek Pajangan ada jalan ke arah kiri, ikuti jalan tersebut hingga sobat menemukan Rumah Makan Legokan Ngancar yang sobat maksud ini. Jalannya mula - mula beraspal baik, kemudian beraspal tapi sebagian sudah mengelupas, dan kemudian jalan berupa blok - blokan. Jangan ragu, tetap saja ikutilah jalan tersebut sampai mentok.
Kedua masih lurus lagi melalui Jl. Srandakan, setelah menemukan POM Bensin yang kedua yang terletak di sebelah kanan jalan ada belokan ke arah kanan (barat), beloklah kedalam jalan ini hingga sobat menemukan POS Ronda Siyangan. Disini ada pertigaan belokan ke arah kiri. Beloklah ke arah kiri dan Ikuti jalan ini hingga sobat menemukan tempuran sungai. Rumah makannya terletak setelah jembatan kanan jalan.
Berdasarkan informasi yang Ane dapatkan dari pegawainya bahwa Jam Buka Rumah Makan Legokan Ngancar ini dari jam 10 pagi hingga 7 malam.

10 komentar:

  1. wah sama mas, dulu kecil aku juga suka mancing gabus, biasanya sama temenku, kalau sudah dapet gabusnya, bawa ke rumah temenku, nah ibunya akan masak pindang gabus...lezat dulu itu rasanya... tapi sekarang aku emoh makan gabus, lele dan ikan tawar lainnya, entah kenapa neh...
    jadi kalau ke rumah makan legokan kayaknya aku pesan udang aja sama sayurnya

    hmmm begitu baca ada lalapan kemangi, wes ketebak pasti ga dimakan, bener tak lihat foto di bawah, nyisa kemanginya, ha ha ha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha,,, lho padahal kan anak perempuan lho mbak, kok suka mancing? kan kalau anak laki - laki wajar kalau suka mancing,,,
      Wokelah, woke,,, pesan apasaja tetep enak kok,,,
      Hahaha, Mbak Monic bisa aja,,, Daun kemanginya buat sampean wae mbak, :-)

      Hapus
  2. Mau coba Sidat nya deh, itu per KG yah kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pesan 1 Kg aja juga bisa kok Kak,,, :-)
      Harganya lumayan, tapi dapatnya besar,,, nggak usah pakai nasi kayaknya sudah kenyang kak, hehehe

      Hapus
  3. Ngomong2 soal Dusun Mangir, jadi inget jembatan seseknya. Apa kabar di musim ujan gini ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh,,, aku malah nggak mampir mbak ke Jembatan Seseknya,,,,
      Yuk kita kesana, hehehe

      Hapus
  4. Pemandangannya cakep keren yak, lewat sungai gitu yak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Levina, bener banget,,, hehehe

      Hapus
  5. mas, sidat itu apa yaa? kalo baca blog kulinermu, aku ambil kesimpulan makanan di jogja itu cuma ada enak, dan enak bgt kayaknya :D.. ditambah murah:D.. kgn bgt jogja jadinyaa..

    BalasHapus
  6. Gimana ya mbak ya neranginnya,,, ituloh mbak, ikannya bertubuh panjang berkepala kayak ular,,, tapi memiliki tubuh seperti ikan gabus,,,, Ya begitulah pokoknya,,,
    Hahaha,,, iya mbak bener banget,,, Ayok mbak Fanny segera pulang ke Solo dan mampir di Jogja buat kulineran, hehehe

    BalasHapus

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me