Rabu, 03 Februari 2016

Mengenal Lebih Dekat Bapak Pendidikan Nasional di Museum Dewantara Kirti Griya

Ini ceritanya sedang kangen museum sob, sudah lama Ane tak main ke museum. Padahal banyak museum yang berdiri di Kota Jogja, namun apa boleh buat karena rutinitas yang ada jadilah tak ada waktu untuk mengunjunginya. Nah kali ini Ane mau bercerita mengenai kunjungan Ane ke Museum Dewantara Kirti Griya. Museum Dewantara Kirti Griya ini terletak di Jl. Tamansiswa no. 31 Yogyakarta. Jaraknya cukup dekat dengan kost Ane, tak sampai 15 menit perjalanan saja untuk sampai sini.


Namanya saja museum ya sob, yang ada hanyalah sepi, sepi dan sepi. Tak ada pengunjung yang datang sama sekali, yang ada hanyalah beberapa anak sekolah yang sedang nongkrong di sekitar lokasi. Jangankan pengunjung, lawong petugasnya aja tak ada yang sedang berjaga. Untuk memasukinya tak dikenakan tiket masuk, hanyalah sebuah kotak yang bertuliskan



Oke, Setelah memasukkan uang secukupnya, kemudian Ane mulai mengeksplorer semua isi yang ada di dalam museum ini. Setidaknya ada 6 buah ruangan yang ada disini. Ruang apa sajakah gerangan? penasaran? penasaran? kalau begitu yuk kita sama - sama mengeksplorernya.
Ruangan pertama yang akan kita eskplorer adalah Ruang Keluarga. Begitu kita memasukinya pastilah menuju ruangan ini. Ruang keluarga ini menurut Ane kalau di rumah kita itu seperti ruang tamu sob, yang letaknya biasanya paling depan sendiri. Tak ada yang bisa kita eksplorer lebih banyak lagi disini.



Ruangan berikutnya adalah Ruang Tamu Utama. Disini kita bisa melihat berbagai benda peninggalan Ki Hadjar Dewantara seperti meja dan kursi tamu, Patung Ki Hadjar Dewantara, proyektil mortir 160, dan berbagai piagam milik Ki Hadjar dewantara. Ada yang menarik sob pada Proyektil mortarnya, ketika Ane membaca penjelasannya yang ada di bawahnya ternyata Tamansiswa ini pernah di tembak lho oleh Belanda. Tapi apa yang terjadi? satu dari dua tembakan mortir Belanda tersebut meledak di halaman pendapa tanpa korban dan kerusakan. Keren!!!




Selain benda - benda tersebut, di ruangan ini juga terdapat beberapa foto koleksi Museum. Mulai dari Foto Ki dan Nyi Hadjar Dewantara, kegiatan di Pendapa Taman Siswa, hingga sekolah Taman Siswa berkembang di Indonesia. Tahu tidak sob nama asli dari Bapak Pendidikan Nasional kita Ki Hadjar Dewantara? hayo ngaku, pasti lupa nieh atau malah tidak tahu? kalau begitu sama Ane pun sebelumnya tidak tahu dan disini di terangkan bahwa nama asli beliau adalah Soewardi Soerjaningrat. Beliau juga adalah salah seorang cucu dari Paku Alam ke III.



Sementara pada ruangan yang ketiga (sebelah utara Ruang Tamu Utama), terdapat Ruang Kerja Ki Hadjar Dewantara yang didalamnya tentulah benda - benda yang berkaitan dengan bidang pekerjaan beliau mulai dari meja kerja, kumpulan buku - buku beliau, bahkan piano pun ada. Piano yang Ia miliki adalah "GEBRS JUNG" buatan Jerman tahun 1937. Wah ternyata Pak Ki Hadjar Dewantara ini punya hobi main piano rupanya.
Foto Piano Ki Hadjar Dewantara
Nampak Lambang Taman Siswa
Buku karya beliau
Sejumlah buku yang masih tersimpan dengan baik
Di sebelah timur Ruang Kerja Ki Hadjar Dewantara, terdapat ruang pribadi beliau bersama isterinya, apalagi kalau bukan Kamar tidurnya. Yapz di kamar ini terdapat sebuah dipan lengkap dengan kelambunya dan berbagai barang milik mereka yang tak cukup banyak.



Tak jauh dari kamar tidur Ki dan Nyi Hadjar Dewantara, Kamar tidur putri mereka pun tampak sederhana namun dengan koleksi yang terkesan lebih wah. Hal ini ditandai dengan adanya beberapa barang antik yang terpajang di dalamnya. Disini sebenarnya ada hal yang membuat Ane bertanya - tanya sob, kenapa ya di atas dipan putri mereka yang tanpa kelambu ini ada semacam bundaran? Ane mau bertanya, tapi kepada siapa? lawong petugasnya saja tidak ada. Ane hanya menerka - nerka saja kalau bundaran tersebut untuk memayungi lampu tidur yang ada.



Ada sebuah ruangan lagi sob yang letaknya tidak di dalam, melainkan di bagian depan sebelah kanan museum. Ruangan ini cukup membuat Ane penasaran ketika pertama kali datang kesini. Begitu Ane sudah ada di depan pintunya, tercantumlah nama ruangannya, "Ruang Tidur Khusus Ki Hadjar Dewantara". Lagi - lagi Ane tak mengetahui apa fungsi dari ruangan ini. Padahal kan sudah ada ruang tidur bersama isteri beliau, tapi kok ada ya ruang tidur lagi? apakah ruangan ini digunakan ketika Ki Hadjar Dewantara sedang berseteru dengan isterinya dan kemudian beliau tidak boleh tidur bersama isterinya lalu Ki Hadjar Dewantara tidur disini. ataukah bagaimana?. Ah Anis ini bikin gosip aja. Ya Ane mah hanya menerka - nerka saja sob, berfikiran positif ajalah bahwa kamar tidur ini didirikan mungkin dengan maksud tidak mau mencampur adukkan antara benda - benda yang ada di kamar mereka dengan benda - benda yang bersifat pribadi. Pasalnya ada dua buah surat yang tersimpan disini yang berkaitan dengan Ki Hadjar Dewantara dan menurut beliau surat - surat tersebut penting. Selain itu ada dipan yang dilengkapi dengan kelambu, mesin ketik manual bermerk Simplex, sebuah almari dan peralatan - peralatan lainnya yang dipakai oleh Ki Hadjar Dewantara.


Surat - surat yang ada di dalam kamar
Mesin ketik manual

Nah udah tahu kan sob kalau museum ini bercerita tentang Ki Hadjar Dewantara. Jadi gini sob, pada awalnya lokasi museum ini merupakan tempat tinggal Ki Hadjar Dewantara. Pada tahun 1915 mulailah bangunan museum mulai di bangun dan pada akhirnya tahun 1970 tepatnya pada tanggal 1 Mei museum tersebut diresmikan.


Keadaan teras museum bagian depan
Nama Museum Dewantara Kirti Griya sendiri berasal dari:
1) Dewantara di ambil dari nama lengkap Ki Hadjar Dewantara,
2) Kirti, Kritya dari bahasa Sansekerta yang berarti pekerjaan, dan
3) Griya berarti rumah.
Jadi Dewantara Kirti Griya berarti rumah (tempat) kerja Ki Hadjar Dewantara (Sumber: Gambar penjelasan yang terpasang di depan museum).


Keadaan teras museum bagian samping

Di dalam museum tersebut tersimpan benda - benda sejarah Taman Siswa dan peninggalan Ki Hadjar Dewantara yang sudah kita saksikan tadi didalamnya. Untuk lebih lengkapnya sobat bisa datang kesini dan lihat satu persatu secara detail.
Lalu bagaimanakah dengan sobat yang belum pernah kesini dan mau datang kesini tetapi belum tahu tempatnya? berikut Ane kasih gambaran rutenya ya sob.



Dari Nol Kilometer Jogja, bergeraklah ke arah timur melalui Jl. Senopati hingga menemukan perempatan lampu merah. Masih lurus lagi hingga melewati Jembatan Sayidan dan bertemu perempatan lampu merah yang di sebelah tenggara terdapat superindo. Masih lurus lagi hingga melewati Puro Pakualaman yang terletak sebelah kiri (utara) jalan dan kemudian sobat akan bertemu perempatan lampu merah lagi yang di pojok sebelah kanan terdapat POM Bensin. Dari sini beloklah ke arah kanan (selatan) melalui Jl. Tamansiswa hingga kurang lebih 330 meter sobat akan menemui Museum Dewantara Kirti Griya ini yang berada di sebelah kiri (timur) jalan.

10 komentar:

  1. Walau lokasinya dekat, tapi aku belum pernah masuk ke sini. Dulu hanya mampir di halaman karena ada acara sepedaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kasihan museumnya mas,,, masa mampir cuman di depannya saja, tanpa memasukinya,,,, sekali - kali mampir mas :-)

      Hapus
  2. Museum memang kurang banyak menarik perhatian untuk dijadikan tempat wisata ya, Mas.
    Disini pun ada museum tapi pengunjungnya minim sekali.
    Tapi favorit di Bangka ada museum peninggalan tempat tinggal Bung Karno. Tempatnya bagus sekali :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak betul sekali, museum minim pengunjung dan sepi. Wah iya tow mbak? kapan - kapan kalau ke Bangka tak ke situ dah. Tapi mbak kalau museumnya cocok untuk anak muda la, baru ramai. Seperti Museum Angkut, dll. hehehe

      Hapus
  3. walah mas, seru juga liputan kali ini, mengunjungi museum...
    wah itu beneran mas ga ada penjaganya sama sekali? padahal barang-barangnya banyak gitu...paling ga kan ada yang ditanyain tentang bundaran di atas dipan itu kan?
    wah keren...banyak ternyata ya info dan barang peninggalan Ki Hadjar Dewantara...belum pernah ke sana sih saya...btw thanks ya liputannya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak daripada ngelangut di kost, hehehe. Tapi setibanya di museum malah nggak ada yang jaga, yawes langsung masuk aja. Bener mbak, sampai sekarang masih penasaran dengan yang bundaran ituloh mbak, tapi yasudahlah. Yapz, secara mbak bapak pendidikan, peninggalannya banyak bukunya, tapi mau membaca jadi males (penyakit yang nggak ada obatnya), hehehe. Sip deh mbak, sami - sami mbak

      Hapus
  4. saya malah senang ke museum yang sepi. Lebih tenang melihat koleksinya. Walaupun kalau museumnya suram, kayaknya rada spooky juga :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah benar, setuju banget mbak. Tapi kalau sepi menandakan museumnya kurang menarik ya mbak? coba kalau Museum Angkut atau nggak Museum Kata Andrea Hirata, pasti ramai. Hehehee... Iya bener, apalagi barang - barangnya kan peninggalan masa lalu, barangkali ada penunggunya, hahahaha

      Hapus
  5. nambah ilmu banget berkunjung ke museum, saya paling suka, apalagi yang banyak peninggalan sejarahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget mas,,, kita sama *tosss* :-)

      Hapus

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me