Selasa, 23 Februari 2016

Museum Tani Jawa Indonesia, Tempat Mengenal Peralatan Pertanian Pak Tani

Negara kita kan negara agraris ya sob, sebagian besar warga kita berprofesi sebagai petani. Nah, Ane nggak sengaja baca - baca artikel tentang museum - museum yang ada di Jogja dan secara tidak sengaja pula Ane menemukan artikel yang membahas tentang Museum Tani Jawa Indonesia yang ada di Jogja tepatnya di Desa Wisata Candran Kebonagung, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Letaknya yang tidak begitu jauh dari kost - kostan Ane membuat Ane semakin penasaran aja. Tak sampai seminggu Ane merencanakannya akhirnya sampailah Ane di museum ini.



Tapi apa boleh buat ternyata museumnya tutup, ya ketika itu tanggal 6 Februari 2016 jam 2 siang. Untung saja di sebuah pintu masuk ini sudah tercantum dengan jelas nomor telpon yang bisa dihubungi 085100865311 atas nama Kristya Bintara. Sepertinya nomor ini adalah nomor petugas yang bertugas di museum ini. Ane catat nomornya dan kemudian Ane hubungi nomor tersebut via sms.
Ane                 : Pak sebelumnya mohon ma'af, saya sudah ada di 
                      depan Museum Tani Jawa, tapi kok museumnya 
                      tutup ya? kira - kira museumnya ada 
                      kemungkinan di buka lagi tidak ya Pak siang 
                      ini? saya mau berkunjung pak.


Ane bersama Pak Kristya Bintara
Tak di duga dan di nyana dengan cepatnya beliau merespon sms Ane dan beliau langsung menelpon Ane.
Pak Krsitya Bintara : Hallo mas, gimana?
Ane                 : Hallo pak, ini benar dengan Bapak Kristya
                      Bintara?
Pak Kristya Bintara : Iya benar, la gimana?
Ane                 : Jadi gini pak, saya mau berkunjung ke Museum
                      Tani, tapi kok tutup ya museumnya? kira - kira
                      ada kemungkinan dibuka lagi tidak ya Pak?
Pak Kristya Bintara : Nggak ada yang jaga po mas disitu?
Ane                 : Tidak ada ew pak, nggak ada orang
Pak Kristya Bintara : Saya lagi rapat ew mas, la gimana ya?
Ane                 : Eow, bapaknya lagi rapat tow pak? kalau begitu
                      besok saja gimana pak? kira - kira besok
                      minggu buka tidak ya?
Pak Kristya Bintara : Iya mas, besok aja gimana? buka mas.
Ane                 : Baiklah pak kalau begitu besok saja ya pak.
Pak Kristya Bintara : Iya mas, besok saja. Tapi sebelumnya sms dulu 
                      ya mas.
Ane                 : Baik pak.
Tut tut tut (telpon mati).



Mau tak mau, pulanglah Ane ke rumah bude Ane. Ya, sebenarnya tujuan Ane selain kesini adalah pulang ke Bantul. 
Hari telah berganti dan siang ini rencananya Ane mau ke Museum Tani Jawa Indonesia yang kemarin batal Ane datangi. Pesan singkat Ane kirimkan ke Pak Kristya Bintara untuk menanyakan kembali apakah hari ini jadi buka atu tidak dan beliau lagi - lagi membalas sms Ane dengan cepat dengan mengatakan,"buka mas". "Baiklah kalau begitu pak, nanti jam 2 siang saya mau kesitu", balas Ane. "Baik mas, ditunggu", balas beliau kembali.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, kini saatnya Ane berpamitan dengan bude Ane untuk pulang ke kost dan sekaligus mampir ke museum ini. Izin sudah di dapat dan kini Ane langsung saja tancap gas menuju ke TeKaPe. Untuk sampai di Museum Tani Jawa dari Rumah bude Ane tidaklah terlalu jauh, sekitar 30 menitan saja waktu yang Ane butuhkan.



Sesampainya di museum, ada banyak bapak - bapak yang sedang mengerjakan sesuatu pekerjaan di depan museum. Ya memang ketika Ane sampai disini sedang ada pengerjaan suatu proyek di bagian depan ini, nampaknya akan dibuat teras, ruang pamer atau semacamnya lah. Diantara mereka, ada seorang bapak - bapak yang menyapa Ane,
seorang Bapak - bapak: Gimana mas?
Ane                  : Ini pak, saya mau berkunjung ke museum.
                       Apakah ini saya dengan Bapak Kristya Bintara?
Seorang Bapak - bapak: Iya mas, saya Pak Kristya (sambil bersalaman
                       dengan Ane)
Ane                  : Saya Anis pak.
Benar, seorang bapak - bapak tersebut adalah Pak Kristya Bintara yang tak lain adalah pendiri dan pengelola daripada museum ini. Beliau beranjak dari tempat duduknya, Ane kira langsung mengajak Ane masuk ke dalam museum, ternyata tidak. Dia malah membuatkan Ane segelas teh hangat terlebih dahulu.
Pak Kristya Bintara  : Monggo diminum dulu tehnya!
Ane                  : Wah, nggak usah repot - repot pak, lawong
                       saya cuman mau berkunjung saja kok pak.
Pak Kristya Bintara  : La iya, ini di minum terlebih dahulu tehnya.
                       Nanti setelah ini kita masuk.
Ane                  : Terimakasih Pak kalau begitu.
Kebetulan pas haus, malah dibuatkan air minum terlebih dahulu. Wokelah singkat cerita setelah selesai Ane meminumnya masuklah kita kedalam museum. Kali ini Ane tak sendiri memutari museum, tapi ditemani oleh seorang pemandu (edukator) yang dipandui oleh Bapak Kristya Bintara sendiri.




Tak ada tiket masuk yang dikenakan kepada pengunjung, yang ada hanyalah dana sukarela yang besarannya tak ditentukan dengan pasti. Ruangan museum tidaklah cukup luas bila dibandingkan dengan museum pada umumnya, ya sekitar 8 X 8 meter persegi saja. Walaupun begitu koleksi yang ada disini sudah lumayan lengkap, tentunya koleksi yang berhubungan dengan alat - alat pertanian. Lalu apasajakah yang ada disini?
perhatian Ane pertama tertuju pada setumpukan caping yang disusun secara vertikal. Tak hanya caping yang polos saja yang terpajang, tetapi juga caping yang diwarnai dengan berbagai warna. Selain itu ada juga berbagai macam jenis biji seperti biji jagung, kedelai dan padi.


Setumpukan caping yang polos
Ini yang berwarna
Berbagai macam jenis biji
Contohnya biji padi
Benihnya sudah ada, kini di tinggal dahulu buat mengolah tanah yang akan ditanami tanaman tersebut. Berbagai peralatan tersedia mulai dari garu, cangkul hingga gosrok. Eh by the way tahu tidak sob, garu itu seperti apa? Garu tersebut terbuat dari kayu yang berbetuk seperti huruf T yang bagian bawahnya terdapat gerigi yang ditarik dengan kerbau atau sapi yang digunakan untuk meratakan tanah.


Narsis dulu
Berangkat ke sawah ah
Gosrok
Setelah semuanya dilakukan, seperti menggaru, mencangkul, menggosrok, dan menanam padinya, nah ketika sudah besar padi yang mulai menguning tentu mendapat ancaman donk terutama dari burung pemakan biji - bijian. Untuk mengatasi hal itu terjadi, berbagai cara dilakukan seperti mengusir burung dengan bunyi - bunyian yang alatnya terbuat dari bambu dan memasang orang - orangan sawah yang diletakkan di tengah sawah.


Alat pengusir burung
Orang - orangan sawah
Dengan bersusah payah penanaman padi dilakukan mulai dari mengolah tanahnya hingga menanamnya. Kini saatnya bapak/ibu tani merasakan hasilnya. Padi yang sudah menguning saatnya untuk di panen. Ada berbagai macam alat yang digunakan untuk memanennya salah satunya Ani - ani. Apakah ani - ani itu? yaitu alat yang mempunyai fungsi yang sama seperti pisau gerigi yang digunakan sebagai pemotong padi saat panen. Alat ini terbuat dari bambu sebagai pegangan yang mempunyai bentuk runcing di bagian bawah dan tengahnya terselip kayu sebagai tempat penaruh besi. Setelah di potong menggunakan Ani - ani, selanjutnya padi yang dihasilkan di gilas dan selanjutnya dijadikan beras. Untuk menjadikannya menjadi beras, alat yang dapat digunakan selanjutnya adalah sepasang alu dan lumpang. Tapi sekarang nampaknya alu dan lumpang ini sudah mengalami alih fungsi ya sob. Alu dan lumpang tersebut yang awalnya menjadikan beras dari padi, sekarang menjadikan tepung dari beras, hmmm.


Ani - ani
Sepasang alu dan lumpang
Dengan berubahnya tampilan padi menjadi beras, kini beras - beras tersebut dapat dinikmati oleh setiap orang. Sebelum menjadi nasi, tentulah beras - beras tersebut diolah terlebih dahulu. Alat yang dapat digunakan untuk mengolah di antaranya kendil, tungku, dan semprong. Seusai di olah kini nasi yang dimasak tersebut dapat kita nikmati bersama. Yuk makan!


Kendil, tungku, dan semprong
Kendil dan tungku
Ceting dan entong
Selain peralatan - peralatan pertanian, ada juga lho sob barang ataupun sesuatu yang lain yang di pajang disini. Salah satunya batu - bata raksasa untuk pembuatan makam raja - raja Imogori. Bahkan ada juga pajangan patung Nini Thowok lengkap dengan tempat sesajinya. Pak Kristya menambahkan bahwa patung ini masih bisa dimainkan sampai sekarang. Hi, seremmm.


Batu - batu raksasa
Patung Nini Thowok
Nah itulah sob cerita Ane mengenai museum ini. Tapi di Desa Wisata Candran Kebonagung ini tak hanya ada museum saja lho sob. Letaknya yang strategis memiliki lahan sawah yang cukup luas dan dekat dengan Kali Opak membuat desa wisata (Deswita) ini semakin berbenah dan layak untuk dikunjungi. Banyak kegiatan yang dapat dilakukan disini, mulai dari naik sepeda keliling desa, naik egrang, naik perahu naga, festival orang - orangan sawah, melihat dan mempraktekkan langsung proses pembuatan emping, pembungkusan tempe, minum kelapa muda, dan lain sebagainya. Aktifitas ini dapat dilakukan dengan cara pemesanan terlebih dahulu. Pak Kristya Bintara mengatakan bahwa semua kegiatan - kegiatan tersebut dapat dinikmati dengan kisaran harga 250 - 300 ribu per orang dan minimal pemesanan 10 orang.


Gambar berbagai kegiatan yang dapat dilakukan disini
Yang sedang menggaru itu cantiknya
Gimana tertarik untuk mengunjunginya? Kalau tertarik dan belum tahu cara menuju ke TeKaPenya, berikut rutenya:
Dari Terminal Bus Giwangan, bergeraklah ke arah selatan melalui Jl. Imogiri Timur hingga mentok menemukan pertigaan. Nah dari sini beloklah ke arah kanan (barat) hingga kurang lebih 500 meter sobat akan menemukan pertigaan lagi ke arah kiri (selatan) yang menyerong. Beloklah ke arah jalan tersebut melalui Jl. Imogiri Siluk. Kurang lebih 700 meter dari pertigaan ini sampailah sobat di jalan masuk kampung dimana Museum Tani Jawa Indonesia ini berada. Disini sudah ada papan petunjuk yang mengarahkan ke arah museum, ikutilah papan petunjuk tersebut hingga sobat sampai di lokasi yang sobat maksud.



Letak museumnya berada di sebelah kanan jalan dekat dengan lahan persawahan.
Jam buka Museum Tani Jawa Indonesia berdasarkan informasi dari Pak Kristya Bintara: Setiap hari mulai pukul 09.00 - 17.00 WIB.
Tapi kenyataannya tidak demikian sob, jam bukanya tidak pasti. Maklum pengunjungnya masih sepi dan sebelum berkunjung kesini sebaiknya sobat hubungi beliau terlebih dahulu, supaya tidak kecilek dan kecewa dengan kenyataan yang ada.

14 komentar:

  1. menarik mas...

    baru tahu aku ada museum tani,

    padahal ya petani sekarang udah gag begitu diperhatikan pemerintah :(

    BalasHapus
  2. mantap mas, ada lagi ternyata museum di Jogja, museum tani juga ada...ck..ck..

    bener mas itu mba yang menggaru kok ayu yo...ha ha ha...lama donk mas ngeliatin foto mba ayu itu..piss ah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kalau yang ini tergolong baru. Berdiri tahun 2000-an. Hahaha, bisa aja ini mbak Monica

      Hapus
  3. Jogja lengkap mantap! Baru tahu kalau ada musium pak tani. Antar aku kesini dong kalau pas main ke jogja haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siaplah, ayok tak antar kesini,, hitung - hitung sekalian kopi darat, ya nggak mas? hehehehe

      Hapus
  4. baru tau ada museum tani, kayaknya ga begitu populer ya mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, kalau ke Jogja jangan lupa mampir ya? terima kasih sudah mau mampir kesini :-)

      Hapus
  5. wah sampeyan bakal makin khas mas karena sering dolan ke museum josh dah mas anis mantape....

    BalasHapus
  6. Jogja lengkap banget museumnya mas, sampai museum tani juga ada di situ,,

    BalasHapus
  7. wah mantap, di lampung juga ada nih museum tani

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tow mas, baru tahu aku. Daerah mana itu?

      Hapus

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me