Senin, 01 Februari 2016

Sate Petir Pak Nano, Level Pedasnya dari SD Hingga Profesor


Hari sabtu memang hari yang menyenangkan bagi Ane karena hari dimana Ane bisa bernafas sejenak dari rutinitas sehari - hari. "Eh hari sabtu gini enaknya ngapain yaw?", kira - kira kalimat itulah yang muncul di benak Ane saat itu. Fikir punya fikir akhirnya Ane mempunyai fikiran untuk wisata kuliner (wiskul) saja dan Ane langsung mengagendakan 2 tempat yaitu di Sego Abang Lombok Ijo Mbah Widji dan Sate Petir Pak Nano.
Apa, Sate Petir? iyaw sate petir. Ternyata nieh yaw sob tak hanya langit saja loh yang punya petir, tetapi satepun ada tow yang punya petir. Sate Petir Pak Nano ini terletak di Jl. Ringroad Selatan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Lumayan jauh juga sieh bila dari tempat Ane, ya sekitar 20 menitan berkendaralah. Bergerak melewati Alun - alun Selatan Kota Jogja dan mengarah ke Jalan Bantul hingga menyusuri Jalan Ringroad Selatan sampailah Ane disini.


Untuk sobat yang ingin datang kesini berikut rutenya:
Dari Alun - alun Selatan kota Jogja, bergeraklah ke arah kanan (barat) menuju Pojok Beteng Kulon (perempatan lampu merah). Dari sini beloklah ke kiri (selatan) melalui Jalan Bantul hingga menemukan perempatan lampu merah yang kedua yaitu Perempatan Dongkelan. Kemudian beloklah ke kanan (barat) hingga menemukan sebuah jembatan. Pelankan laju kendaraan sobat karena sebentar lagi sobat akan menemukan sebuah jembatan lagi. Nah Sate Petir Pak Nano ini berada tepat sebelum jembatan yang kedua tersebut. Jadi bisa di bilang Sate Petir Pak Nano ini di apit oleh dua buah jembatan dan Lokasinya berada di sebelah kiri (selatan) jalan.


Warungnya cukup sederhana hanya ada beberapa meja dan kursi saja yang di pasang memanjang mepet dengan dinding. Ada dua jenis tempat duduk yang bisa di pakai oleh para pengunjung yakni di dalam dan luar ruangan. Khusus di luar ruangan, yaw kurang lebih seperti teras rumah yang di beri meja dan kursi. Disini, kita dihadapkan langsung pada suasana sungai yang membawa kesan sejuk di pandang dan juga bisa melihat berbagai kendaraan bermotor yang melalui Jl. Ringroad Selatan.

Tempat duduk di dalam ruangan
Tempat duduk di luar ruangan
Sehubungan Ane suka yang sejuk dan bersemilirkan angin, maka duduklah Ane di salah satu tempat duduk di luar ruangan. Kebetulan juga masih ada tempat duduk yang kosong, hanya ada dua orang wanita saja yang duduk di sana. Tak lama datanglah salah seorang pegawai menghampiri Ane.
Pegawainya : Mau pesan apa mas?
Ane        : Sate saja mas, yang pedas.
Pegawainya : Minumannya?
Ane        : Es teh, eh ini aja mas, ada teh botol dingin nggak mas?
Pegawainya : Ada mas, itu di kulkas
Ane        : Baiklah kalau begitu, nanti saya tak ambil sendiri mas
Pegawainya : Baik mas
Sambil menunggu pesanan yang datang, Ane mau bercerita sedikit mengenai warung ini sob, Konon katanya warung ini selalu ramai dikunjungi oleh para pengunjung loh sob? Lalu apa yaw yang menyebabkan hal itu terjadi? telisik punya telisik ternyata di warung sate ini menyajikan cara yang berbeda bila dibandingkan dengan warung sate pada umumnya, pengunjung bisa memesan sesuka hati seberapa pedas tingkat level kepedasan yang pengunjung inginkan. Mau masuk SD, SMP, SMA, D3, S1, S2, S3 atau bahkan Professor? ini bukan masalah pendidikan formal yaw sob, dan tak ada kaitannya dengan lembaga pendidikan formal tetapi penamaan tersebut adalah seberapa pedas level yang pengunjung inginkan ketika akan menyantap menu makanan disini. Sebenarnya ada beberapa makanan menu yang tersedia, seperti tongseng, gulai, dan lainnya. Tetapi yang paling banyak di pesan selain pada satenya adalah tongsengnya. Ntar ndak di anggap hoax, okelah Ane tunjukkan penjelasan gambarnya yang terpasang di dinding warungnya.


Waktu yang dibutuhkan disini tidaklah terlalu cepat dan juga tidaklah terlalu lama dan inilah penampakannya.


Ane sengaja tak bilang kepada Pak Nano nya sob mengenai seberapa pedas yang Ane inginkan. Biarlah Pak Nano nya sendiri yang mengira - ira pedas yang Ane inginkan. Setelah datang pesanan Ane, Ane perhatikan dengan seksama seperti apa penampakan satenya. Secara visual, Sate Petir Pak Nano ini tidaklah berbeda jauh bila dibandingkan dengan sate pada umumnya. Seporsi sate berjumlah lima tusuk dengan tusuknya terbuat dari bambu dan berwarna hitam yang nampaknya berasal dari sambal kecap. Sate ini dihidangkan tidak sendiri sob, tapi dihidangkan bersama irisan bawang merah, tomat dan kubis.


Agar sate ini memberikan rasa kenyang, tentulah sepiring nasi mutlak diperlukan, ya walaupun sedikit saja. Lawong kita kan orang Indonesia ya sob, katanya belum makan namanya kalau belum makan nasi. Eow iya, minumannya dimana itu kok belum tersedia di meja? ketinggalan rupanya. Pergilah Ane menuju kulkas dan mengambil sebotol teh dingin dan kini lengkap sudah menu hari ini.


Kini saatnya Ane mengeksekusinya. Mulai dari daginya, menurut Ane daging kambingnya cukup empuk dan cenderung lembut di mulut walaupun sesekali Ane masih menemukan daging berupa gajih. Rasa istimewa terjadi ketika berpadu dengan manisnya kecap dan pedasnya cabai. Ah Ane semakin penasaran aja ama level ini, level apakah yang Ane pesan ini? Ane sempat memperkirakan kalau ini tingkat SMA atau nggak D3, walaupun pedas bagi Ane tidaklah pedas - pedas amat. Ah ntar akan Ane tanyakan ah kepada Pak Nano nya sendiri. Tak hanya itu, dengan adanya tambahan irisan bawang merah, tomat dan kubis ini ternyata menambah sensasi tersendiri bagi makanannya dan pokoknya rasanya wuenak tenan. Tuh buktinya Ane menghabiskannya semuanya, kalau tidak enak mengapa Ane habiskan semuanya. Ya nggak sob?


Habis makan, enaknya bersantai sejenak sambil menikmati pemandangan yang ada dan merasakan sejuknya udara. Begitu beranjak dari tempat duduk dan membayarnya, ternyata soal harga cukup bersahabat loh sob. Seporsi sate kambing yang disajikan bersama sepiring nasi dan sebotol teh dingin hanya dibanderol dengan harga 25k saja dengan rincian 3k untuk sebotol teh dingin dan 22k untuk satenya. Setelah Ane membayarnya, tiba - tiba seorang wanita paruh baya yang tak lain sepertinya isterinya Pak Nano menyeletuk dan dengan logat jawanya akhirnya kita terlibat sedikit percakapan.
Ibunya : Gimana mas rasa satenya, enak tow?
Ane    : enak bu, mantab pokoke rasanya. Eow iya bu, tadi yang saya 
         pesan itu level apa yaw bu?
Ibunya : Itu level SMA mas, gimana pedas nggak?
Ane    : Cukup pedas kok bu. Besok kalau kesini mungkin pesan yang 
         lebih pedas lagi bu, tingkat professor mungkin, hehehe
Ibunya : Siap mas, besok tak bikinkan kalau mas nya kesini lagi
Ane    : Eow iyaw, apakah ini dengan pak nanonya sendiri ya Bu?
Seorang laki - laki yang seumuran dengan ibu tersebut yang sedang sibuk mengipasi olahan yang ada.


Ibunya : Iyaw mas, benar itu Pak Nanonya
Ane    : Nanti saya tak minta foto bersamanya, boleh kan bu?
Ibunya : Eow boleh mas, monggo (silahkan).
Ane    : Sudah dari tahun berapa bu warung ini berdiri?
Ibunya : 1984 mas, sampean (kamu) belum lahir, iyaw kan mas?
Ane    : Hehehe, Iyaw bu benar banget. Saya masih 20 an bu umurnya.
         Bu, sekarang tak minta foto bersama bapaknya ya?
Ibunya : Monggo mas.
Kemudian Ane mendekati Pak Nano nya dan meminta izin ke beliau untuk berfoto bersama Ane
Ane      : Ma'af Pak mengganggu, apakah saya bisa berfoto bersama 
           bapak?
Pak Nano : Silhkan mas
Kebetulan salah seorang pegawai Pak Nanonya ada seorang laki - laki yang masih terbilang muda dan Ane meminta beliau agar Ane difotokan bersama Pak Nano nya.
Ane      : Ma'af mas mengganggu, bisa minta tolong saya difotokan
           bersama dengan bapaknya?
Mas nya  : Bisa mas
dan cekrek, cekrek, inilah hasilnya.

Ane bersama Pak Nano
Ane    : Jam buka warungnya dari jam berapa sampai jam berapa yaw
         Pak?
Bukannya Pak Nanonya yang menjawab, melainkan pertanyaan Ane langsung di sahut oleh ibunya tadi.
Ibunya : Jam 1 siang sampai habis mas
Ane    : biasanyanya habisnya sampai jam berapa bu?
Ibunya : Tidak tentu mas, kadang jam 4 bisa habis, jam 5 bahkan
         menjelang waktu maghrib.
Ane    : Eow. Kalau begitu terima kasih yaw Bu, Pak, ma'af saya
         telah mengganggu bapak dan ibu
Ibunya : Nggak kok mas, nggak mengganggu. Terim kasih mas.
Nah, buat sobat yang pecinta kuliner yang berasa pedas apalagi maniak dengan apa yang namanya rasa pedas, wajib hukumnya untuk menyambangi Warung Sate Petir Pak Nano ini. Level berapakah sobat bisa bertahan?

16 komentar:

  1. Wajib dibookmark sebelum ke sana pekan depan hahhahahah. Akhir pekan nanti masalahnya lagi ada acara diluar kota :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eow,,, Siplah mas, ntar tak tunggu ceitanya,,,, saya pesan mas, kalau pesan yang level profesor aja, pedasnya terjamin,,, hahahaha

      Hapus
  2. jiah...mantep ini mas satenya...jadi ngiler...jadi pengen makan sate, he he he...
    wuih enak kayaknya, sate kecap manis tapi pedes dan pedesnya bisa suka-suka...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener - bener maknyusss mbak,,, hehehe, monggo mbak kalau mau buat, di pasar jangan lupa beli daging kambing :-) ,, di potong kecil - kecil, di tusuk, di kecapin dan di beri bumbu dengan cabai yang banyak, lak pedesnya huh hah huh hah, hehehe

      Hapus
  3. sate petirr... cabenya mengerikan bagi yang tidak tahan pedas kayak saya :D

    BalasHapus
  4. JAdi ngiler nih mas, dikatakan sate petir mungkin krn pedas sekali ya gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas bener banget. Tapi bisa memesan tingkat kepedasan sesuai dengan keinginan kita

      Hapus
  5. Jadi Para "Professor" ini memang maniak pedessss ya. aku SD aja dah, daripada modiarrrrrr

    eh, baru kali ini aku lihat sate dimaem sama kubis, biasanya bawang sam tomat aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Eh udah biasa kali mak sate di ma'em sama kubis,,,, rasanya ya enak dan krenyesss krenyesss. Ntar deh kalau udah balik ke Indo, cobain yang sate pakai kubis :-)

      Hapus
  6. Lucu ya nama level kepedasannya. Wah kalo sanggup makan yang SMA, bener tuh, harus cobain yang profesor hihi. Ga kebayang, kayaknya jadi irisan cabe pake topping sate kali ya, bukan sebaliknya hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha,,,, bisa jadi tuh mbak, aku sebelumnya ya sempet mikir gitu,,, tapi biasanya kalau kepedasan itu kurang enak juga di lidah,,, jadi yang pas, pas aja deh pedasnya :-) ... Terimakasih mbak, sudah mau mampir disini :-)

      Hapus
  7. ini makin lama list warung di jogja yg mau aku datangin kok ya makin panjang :D... butuh nginep brp lama di jgja ya kira2... segala yg pedes2 pokoknya aku suka lah ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha,,, tergantung mbak, kalau sehari bisa datengin 3 tempat ya nggak sampae 10 hari bisa lah, Kelamaan ya? hehehe. Sip deh mbak, ntar kalau pulang ke Solo bisa mampir ke Jogja :-)

      Hapus
  8. artikelnya bagus, ijin share di http://ksmtour.com ya. Terima kasih

    BalasHapus

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me