Selasa, 01 Maret 2016

Museum Affandi, Terselip Sebuah Cerita di Setiap Karyanya

Berbicara mengenai Museum Affandi, Ane teringat oleh sebuah jalan yang ada di Yogyakarta. Ya, jalan tersebut adalah Jl. Affandi yang dahulunya adalah Jl. Gejayan. Perubahan ini terjadi pada tanggal 20 Mei 2007. Apakah nama jalan tersebut berkaitan langsung dengan nama Affandi? jawabannya iya. Nah inilah sob alasan mengapa Ane harus mendatangi museumnya langsung disini.



Affandi lahir di Desa Arjawinangun, Cirebon, pada tahun 1907. Museum Affandi terletak di Jl. Laksda Adisucipto 167 Yogyakarta. Ane sebenarnya sudah lama mengetahui keberadaan museum ini, namun barulah kali ini Ane sempat mengunjunginya. Untuk memasuki museumnya Ane diharuskan membayar tiket masuk terlebih dahulu sebesar 20k. Harga tersebut sudah termasuk soft drink dan mendapatkan sebuah brosur serta dikenakan charge sebesar 20k lagi untuk izin mengambil gambar di dalam.



"Don't Judge a book by its cover", mungkin itulah kata yang pantas buat menilai sebuah museum ini sob. Bila dilihat dari depan gapura masuk, museum ini terlihat cukup kecil. Namun pemandangan yang berbeda bila kita memasukinya yang ternyata cukup membuat Ane kagum betapa luasnya museum ini. Di halaman museum Ane sudah terpesona oleh bangunan - bangunan yang ada. Berbeda dengan bangunan pada umumnya yang menggunakan konsep persegi, persegi panjang dan berbentuk kotak, justru bentuk bangunan yang ada disini adalah spiral lengkung dan bagian atap membentuk pelepah daun pisang.



Secara garis besar museum ini terdiri dari 4 ruang pamer yang dapat dinikmati oleh para pengunjungnya yakni Galeri I, Galeri II, Galeri III, dan Studio Gajah Wong. Tak hanya berupa lukisan saja, ada beberapa bentuk bangunan di halaman museum yang dapat dinikmati keindahannya, bangunan apakah itu?
Pertama adalah Cafe Loteng. dahulu sebelum berubah fungsi menjadi sebuah cafe, bangunan ini merupakan sebuah bangunan tempat tinggal Affandi dan keluarganya. Bentuk bangunannya berupa rumah panggung dengan konstruksi tiang penyangga utamanya terbuat dari beton dan tiang - tiang kayu. Sementara pada atapnya menggunakan bahan sirap yang membentuk pelepah daun pisang. Bangunan ini terdiri dari 2 lantai dimana pada bagian atas digunakan sebagai kamar pribadi Affandi dan bagian bawahnya digunakan sebagai ruang duduk tamu serta garasi mobil pada waktu itu.



Kondisi dalam Cafe Loteng
Kedua adalah Gerobak. Gerobak ini telah dimodifikasi menjadi sebuah kamar lengkap dengan dapur dan kamar kecilnya. Gerobak ini dibangun oleh Affandi atas permintaan isterinya Maryati sebagai tempat istirahat di siang hari dan tempat menyulam karya - karyanya. Ide ini dipilih karena semula isterinya menginginkan "caravan" (yang banyak digunakan masyarakat Amerika sebagai sarana tempat tinggal yang mudah berpindah tempat). Sekarang gerobak ini berfungsi sebagai tempat ibadah untuk keluarga dan para pengunjung di Museum Affandi.


dan yang ketiga adalah sebuah menara pandang yang bisa digunakan untuk melihat pemandangan mulai dari bangunan seluruh museum, Sungai Gajah Wong, hingga lalu - lalang kendaraan. Ketika menaiki menaranya, ew kondisi cuaca kurang menguntungkan jadi ya fotonya terlihat kurang begitu cerah.



Seusai mengeksplorer bagian halaman museum, kini saatnya Ane melangkahkan kaki memasuki bagian dalam museum. Ruangan pertama yang Ane masuki adalah Ruang Galeri I. Ruang ini di bangun oleh Affandi sendiri dan selesai pada tahun 1962 dan diresmikan oleh Dirjend. Kebudayaan Ida Bagus Mantra pada tahun 1974.


Pintu masuk Ruang Galeri I
Kondisi dalam Ruang Galeri I
Disini Ane dapat menyaksikan hasil karya Affandi yang berupa lukisan dari tahun ke tahun hingga akhir semasa hidupnya. Lukisannya berjajar rapi dari utara ke selatan dan di susun secara paralel atas dan bawah. Lukisan bagian atas semuanya didominasi oleh potrait diri namun beliau sudah mahir dalam membuat sebuah lukisan.



Sementara di bagian bawahnya, lukisan pertama yang Ane lihat adalah potrait diri juga. Pada latar belakang wajahnya terdapat bayangan wajah orang tua, Affandi membayangkan itulah wajah ayahnya. Dia tidak mengenal ayahnya karena telah wafat ketika Affandi masih kecil. Melukis potret diri adalah bagian dari objek pembelajaran sejak awal karirnya sebagai pelukis.



Pada mulanya Affandi melukis kehidupan sehari - hari bersama keluarganya baik dengan ibu, ibu mertua, isteri maupun anaknya. Pada saat itu Affandi tidak mampu untuk membayar model. Kekagumannya terhadap tubuh wanita menginspirasi untuk dituangkan dalam kanvas. Maryati sebagai isteri yang baik memahami hasrat suaminya untuk melukis. Dia bersedia untuk dilukis dengan satu syarat wajahnya tidak nampak dalam kanvas, hal ini berlaku pada lukisan jenis nude.


Serasa ingin jadi pelukis aja
Hmmm
Maryati dan anaknya (Kartika)
Kartika memakai Kebaya
Isteri Affandi dan Mertuanya
Affandi tidak pernah melupakan sebuah kejadian dimana dia meninggalkan ibunya untuk belajar di India dan ibunya merasa sedih sekali. Sebagai kompensasinya Affandi membuat lukisan dramatis ini untuk ibunya. Selain itu dia juga melukis sebuah lukisan yang menggambarkan kemarahan seorang ibu ketika itu Sang Ibu mencoba meninggalkannya tanpa mendengarkannya.


Ibunya di dalam rumah
Kemarahan seorang ibu
Tak terbatas pada lukisan diri dan keluarganya, kini Affandi mulai melukis tentang keindahan yang dimiliki oleh alam dan juga budaya. Contohnya suasana malam yang mencekam di Parangtritis, matahari merah dan perahu orang Bali serta tari kecak. Bahkan tak hanya terbatas pada daerah lokal Indonesia saja dia melukis, tetapi juga hingga ke luar negeri salah satunya di Du Tertre, Perancis. Wow keren.


Parangtritis di malam hari
Matahari merah dan perahu orang Bali
Tari kecak
Du Tertre, Perancis
Apakah semuanya yang terpajang disini berupa lukisan saja? ternyata tidak sob, ada dua buah kendaraan sepeda dan sebuah mobil milik beliau dimana khusus pada mobilnya beliau modifikasi menyerupai bentuk ikan. Alasannya simple karena beliau menyukai binatang yang indah dan licin itu. Mobil yang bermerk Mitsubishi Gallant ini adalah mobil kesayangan beliau semasa hidupnya. Pernah suatu ketika setelah Affandi meninggal dunia pihak mitsubishi ingin membeli mobil ini tetapi pihak Museum Affandi tidak menyetujuinya karena selain untuk koleksi museum mobil ini juga merupakan sebuah kenang - kenangan dari Almarhum beliau.



Banyak yang dapat Ane nikmati disini salah satunya tiga buah patung perunggu Affandi di antaranya Affandi dan Kartika (1943), dan 2 buah patung potret diri yang terbuat dari tanah liat dan semen. Affandi memang seorang seniman yang mempunyai banyak prestasi. Sejumlah penghargaan pernah diraihnya baik dari dalam maupun luar negeri mulai dari Universitas Singapura hingga Piagam Tanda Kehormatan dari Presiden Republik Indonesia.
Berbagai tanda penghargaan yang pernah diraihnya
Foto - foto saat menerima berbagai macam penghargaan

Sobat pernah melihat atau bahkan mendengar sebuah poster yang mempunyai slogan "Boeng Ajo Boeng"? Ternyata nieh ya sob ada yang unik lho asal muasal slogan tersebut ada. Begini ceritanya," Bung Karno pada waktu itu meminta Sudjojono untuk membuat sebuah poster untuk membangkitkan semangat pejuang Indonesia. Kemudian Sudjojono memberi tugas kepada Affandi. Ketika mereka sedang berdiskusi tentang gambar dan judul poster, Chairil Anwar datang dan menceritakan kepada mereka bahwa dia baru saja ke rumah pelacuran di Senen. Dia menceritakan kepada mereka ada banyak pekerja seks yang menawari kepada siapa saja laki - laki yang datang dan lewat dengan ungkapan perasaan "Boeng Ajo Boeng" (Come on, Guys). Kemudian itu menjadi legenda poster inspirasi yang mana menggambarkan tentara berotot kuat dengan tangan mengepal ke atas dan pergelangan tangan di belenggu tetapi rantai besarnya rusak terputus. Inspirasi memang dapat datang darimana saja ya, keren!



Meninggalkan Galeri I, selanjutnya Ane memasuki Galeri II. Di antara kedua galeri ini terdapat dua buah makam, ternyata makam tersebut adalah tempat peristirahatan yang terakhir Sang Maestro dan isterinya Maryati. Beliau wafat pada tanggal 23 Mei 1990. Oke, di Galeri yang kedua ini terdapat sebuah penjelasan yang menerangkan bahwa Affandi tampaknya lebih tertarik pada obyek manusia dan kemanusiaan, terutama dari lapisan masyarakat yang terbawah. Affandi membuat gambar - gambarnya tanpa warna dan arsir namun tak mengurangi kesempurnaan gambarnya, bahkan kadang meningkatkan kualitasnya.


Pintu masuk Galeri II
Kondisi dalam galeri II
Lihat - lihat dulu ah
Waow
Keluarga Affandi
Semakin mantap ingin jadi pelukis
Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Banyak lukisan beliau yang juga menggambarkan keindahan alam seperti Pantai Cirebon, sawah di Madura, keindahan kota baik itu di dalam maupun luar negeri seperti Jalan Thamrin, Keindahan Kota Roma, Kapal - kapal di Venesia, dan sebuah sudut di Kota Paris. Setelah dilihat - lihat lukisan yang di pajang di Galeri II ini sedikit berbeda dengan lukisan yang di pajang di Galeri I sob. Pada Galeri I kebanyakan menggunakan Oil on Canvas, sedangkan pada Galeri II ini menggunakan pastel on paper dan Chinese Ink on Paper. Jangan tanya bedanya apa ya sob? soalnya Ane nggak ngerti masalah - masalah beginian.


Pantai Cirebon
Keadaan sawah di Madura 
Jalan Thamrin
Keindahan Kota Roma
Perahu - perahu di Venesia
Sudut Kota Paris
Berbeda dengan Galeri I dan II yang memang dikhususkan untuk menyimpan hasil karya Sang Maestro Affandi, di Galeri III justru digunakan sebagai ruang pamer untuk isteri dan anak - anaknya.
Lukisan pertama yang di pajang adalah milik isterinya, Maryati. Maryati menikah dengan Affandi pada tahun 1933 dan pada tahun 1934 melahirkan anak satu - satunya yaitu Kartika Affandi. Bertahun - tahun dia mengikuti Sang suami pergi kemanapun akhirnya pada tahun 1957 beliau pertama kalinya ikut serta dalam pameran bersama pelukis - pelukis wanita Indonesia lainnya dan dari situlah beliau sering berperan serta dalam pameran - pameran yang pernah diadakan di berbagai tempat. Hasil karya beliau banyak dihasilkan lukisan - lukisan yang berbentuk sulaman. Beliau meninggal dunia pada tanggal 26 Mei 1991 atau setahun setelah suaminya wafat.


Pintu masuk Ruang Galeri III
Kondisi dalam ruang galeri III
Borobudur
OX Cart
Lukisan selanjutnya yang di pajang adalah milik Kartika Affandi. Kartika Affandi lahir pada tanggal 27 November 1934 di Jakarta. Dia adalah putri Affandi buah pernikahan dengan isteri pertama Affandi, Maryati. saat ini, karya - karya beliau yang dipamerkan disini yaitu berupa lukisan dan juga patung. Beberapa lukisan yang belaiu hasilkan di antaranya potret diri sendiri, tsunami dan juga kondisi gunung merapi setelah mengalami erupsi.



Sementara pelukis lainnya yang juga puteri Affandi buah pernikahan dengan isteri kedua Affandi, Rubiyem adalah Rukmini Yusuf Effendi. Beliau lahir pada tahun 1961. Sejak kecil beliau memang suka melukis. Beliau tak pernah mengenyam pendidikan formal melukis, tetapi pada tahun 1990 dia pernah berguru kepada Barli Sasmitawinata seorang pelukis senior di Bandung. Berkat kerja kerasnya kini membuahkan hasil dan hasil karya beliau telah banyak di koleksi oleh para koleksi seni, pengusaha maupun pejabat dari dalam dan luar negeri.



Sedangkan Juki Affandi yang juga masih Anak Affandi buah pernikahan dengan isteri kedua Affandi, Rubiyem juga memiliki karya lukisan yang indah. Salah duanya hasil karya beliau adalah sabung ayam dan Affandi bersama matahari. Pada tahun 1998 dia di tunjuk oleh yayasan Affandi sebagai direktur Museum Affandi hingga sekarang.


Sabung ayam
Affandi dan matahari
Masih ada satu ruang pamer lagi sob, di bangunan terpisah yakni di Studio Gajah Wong, banyak tersimpan hasil karya seni lukisan yang dihasilkan oleh Didit Slenthem. Dia lahir di Yogyakarta pada tanggal 6 Juni 1962. Dia sering dilibatkan aktifitas melukis dengan kakeknya (Affandi), ibunya, dan bibinya. Tak khayal jika beliau mampu menghasilkan banyak lukisan yang tersimpan di ruangan tersendiri. Beberapa hasil karya beliau diantaranya Pohon di Bongkasa, Pegunungan Bromo, Perahu nelayan, Jatiluwih, dan lain sebagainya.


Pintu masuk studio Gajah Wong
Hasil karya lukis cucu Affandi


Nah itulah sob, sebagian lukisan yang ada di Museum Affandi ini. Sebenarnya masih banyak lagi lukisan - lukisan yang lain yang tidak kalah menariknya dengan yang di atas. Nggak mungkin dong Ane tampilkan semuanya disini. Hmmm, haus nieh dan kini saatnya Ane mau nyantai - nyantai dulu di sebuah cafe yang masih berada di Kompleks museum yakni Cafe Loteng. Bukan mau beli makanan berat atau ringan, tapi cuman mau menukarkan kupon minuman softdrink yang sayang jika tidak ditukarkan alias mubadzir. Kan lumayan dapat sebotol minuman atau setusuk ice cream. Eh namanya aja totalitas, di cafe ini juga bisa loh buat sobat yang ingin merasakan langsung menjadi seorang pelukis bak seperti Sang maestro Affandi karena disini disediakan juga semacam alat lukis berupa oil pastel. Tak hanya itu, disini juga kita dapat membaca tentang kehidupan Sang Maestro dari awal kariernya hingga sampai beliau meninggal dunia. Bahkan tulisan - tulisan tangan pun ada loh sob yang beliau tinggalkan, berikut salah satu contohnya.



Gimana sob, tertarikkah untuk mengunjunginya? kalau begitu, bagi yang belum tahu cara menuju kesininya, berikut Ane cantumkan sebuah rute yang mungkin bisa sedikit membantu.



Dari Tugu Jogja, bergeraklah ke arah timur melalui Jl. Jend. Sudirman hingga perempatan lampu merah yang di pojok sebelah kanan terdapat Toko Buku Gramedia. Beloklah ke arah kanan (selatan) melalui Jl. Suroto hingga mentok bertemu dengan jalan yang memutar. Mutarlah sedikit dan begitu ada belokan ke kiri, beloklah ke belokan tersebut dan ikuti jalan tersebut hingga menemukan perempatan lampu merah. Dari sini masih lurus lagi mengikuti jalan satu arah ini hingga sobat menemukan perempatan lampu merah. Beloklah ke arah kanan (timur) melalui Jl. Laksda Adisucipto hingga bertemu pertigaan lampu merah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Masih lurus lagi sedikit dan sekitar 50 meteran sampailah sobat di museum yang sobat maksud. Museumnya terletak di sebelah kiri jalan sebelum jembatan Sungai Gajah Wong.



Jam buka museum: Senin - Sabtu         : 09.00 - 16.00 WIB
                 Minggu dan hari libur : Tutup (kecuali ada janji
                                         sebelumnya)
*Sebagian teks Ane kutip dari sebuah tulisan yang terdapat di setiap obyeknya di Museum Affandi*

10 komentar:

  1. wah keren mas, asli museum Affandi ini bagus banget...
    cukup murah tiketnya ya, untuk menikmati karya pelukis terkenal ini, wah jadi pengen ke sana....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang iya mbak,,, apalagi nongkrong di cafenya, wuih semilir angin terasa banget :-) Iya mbak bener.... museumnya memang benar - benar joszzz :-)

      Hapus
  2. Walau aku bukan penikmat seni, tapi lihat lukisan yang ada disini keren yach. Trus disekitaran museum banyak area terbuka gitu. harusnya foto suasana cafe nya juga ada, hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe,,, la itu mbak udah dari depan foto cafenya,,, ama kondisinya,, :-)

      Hapus
  3. aku justru lihat penampakan museum ini dari jalan raya dan penasaran dengan bangunannya yang menggoda selera

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan - kapan masuk mbak,,, hehehe

      Hapus
  4. bangunan2-nya unik2 dan keren .. jadi kepengen kesini
    btw ... kalau di total nilai semua lukisan yang ada disana .. bisa sampai 100 M kah ?? atau 1 T ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kalau di total ya mungkin bisa nyentuh 100 M an mas,,, lawong lukisan Affandi aja tahun 1978 kalau tidak salah 1 lukisan aja nyentuh 750 ribu rupiah, sekarang dah berapa tuh? berdasarkan hasil baca saya di Cafe Loteng nya. Tapi komitmen keluarga untuk tetap menyimpan hasil karya sang Maestro mas, jadi nggak di jual, gitu. Padahal banyak lho mas sang kolektor yang menginginkan hasil karya seni Affandi... keren dah

      Hapus
  5. wkwkwkw saya ada gretongan alias gratisan masuk situ mas tapi gak tak ambil hahaha panas jeee...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa mas? padahal bagus - bagus lho lukisannya :-)

      Hapus

TENTANG ANE

Anis SobatAnis Sobat
Hello, My Name Is Anis Hidayah. I am no Drinking,Drug, Smoking, and Free sex. But yes Travelling, Touring, Mountaineering, visit the new site and meet by new people. Enjoy my life with my way myself. That's about me